• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII

RISIKO DAN MITIGASI RISIKO

Sebagai sebuah usaha baru, maka pendirian Rumah Produksi Bersama memiliki risiko yang perlu diidentifikasi dan disusun mitigasinya. Praktek usaha Rumah Produksi Bersama belum banyak berkembang sehingga belum banyak usaha sejenis yang dapat menjadi contoh. Walau demikian, dari model bisnis yang akan dijalankan, dapat diidentifikasi potensi risiko yang akan timbul.

Berikut beberapa risiko yang mungkin timbul dalam usaha Rumah Produksi Bersama dan mitigasi risikonya.

Tabel 16. Risiko dan Mitigasi Risiko RISIKO KEMUNGKINAN

Besar Besar • Sosialisiasi, edukasi dan pemasaran sejak awal

• Pemberian insentif bagi UKM pioneer dan tenant besar

• Pengelola rumah produksi bersama ikut sebagai tenant dengan maksimal tertentu

• Operasional rumah produksi bersama akan berjalan dengan kapasitas mini-mal tertentu (Minimini-mal 73%)

Pelanggan keluar

atau mundur Sedang Besar • Tenant sebaiknya anggota koperasi jika rumah produksi bersama dikelola oleh koperasi, atau pemegang saham jika berbentuk PT

• Dibuat mekanisme pemberitahuan mundur minimal 3 bulan sebelumnya Pelanggan gagal

bayar Sedang Besar • Dibuat mekanisme adanya deposit

atau uang muka

• Pemberlakukan pembayaran secara angsuran

• Fasilitasi ke Lembaga pembiayaan Pelanggan yang

semakin men-dominasi kapasi-tas produksi

Sedang Besar • Dibuat mekanisme pembatasan peng-gunaan kapasitas misal: maksimal 50 persen

RISIKO KEMUNGKINAN

TERJADI DAMPAK MITIGASI

Kendala oper-asional seperti mesin rusak

Sedang Besar • Dilakukan perawatan secara rutin

• Disiapkan mekanisme mesin cadangan di lokasi lain, missal Kerjasama dengan UKM sejenis

Persaingan den-gan pelaku usaha lain

Besar Besar • Mempertahankan dan meningkatkan kualitas dan menjaga biaya produksi yang efisien sehingga harga dapat ber-saing

• Menjadikan pesaing sebagai mitra un-tuk mengembangkan brand Bersama atau melakukan upaya kolaborasi, baik dalam hal produksi maupun pemasa-ran

1. Pelanggan/tenant kurang sehingga kapasitas yang terpakai sedikit.

Risiko ini peluang terjadinya besar karena sebagai model bisnis yang baru, belum banyak pelaku UKM yang mengetahui adanya model bisnis rumah produksi bersama ini. Selain itu, tidak semua pelaku UKM yang tahu model bisnis rumah produksi bersama ini langsung berani mengambil keputusan untuk menjadi pelanggan atau tenant rumah produksi bersama. Jika risiko ini terjadi, dampaknya akan besar akan mengancam keberlanjutan bisnis rumah produksi bersama. Sebagian UKM mungkin akan bersikap wait and see, artinya mereka akan melihat dulu bagaimana praktek rumah produksi bersama. Jika ternyata sukses, maka mereka akan ikut menjadi tenant.

Untuk mengantisipasi terjadinya risiko tersebut, maka perlu langkah-langkah mitigasi sebagai berikut:

• Sosialisiasi, edukasi dan pemasaran sejak awal. Sosialisasi dapat dilakukan melalui penyebaran brosur atau melalui presentasi kepada calon tenant.

• Pemberian insentif bagi UKM pioneer dan tenant besar. Misalnya memberikan diskon kepada UKM yang mendaftar pertama dan memberi diskon kepada tenant yang mengambil kapasitas produksi lebih dari 30%

• Pengelola rumah produksi bersama ikut sebagai tenant dengan maksimal tertentu. Untuk mengurangi risiko kurangnya kapasitas yang terpakai, maka pengelola rumah produksi bersama juga dapat menjalankan bisnis sebagai tenant.

• Operasional rumah produksi bersama akan berjalan dengan kapasitas

minimal tertentu (dalam hal ini 73%). rumah produksi bersama dapat juga memulai operasional tanpa harus menunggu full capacity, tetapi juga dapat memulai misalnya pada kapasitas minimal 73%. Ini dilakukan supaya para tenant tidak menunggu terlalu lama untuk dapat berproduksi via rumah produksi bersama.

2. Pelanggan keluar atau mundur.

Risiko ini peluang terjadinya sedang karena sebagai tenant, pelaku UKM tidak mengeluarkan biaya investasi, sehingga mereka mudah masuk sebagai tenant, namun mudah juga untuk keluar karena risikonya kecil. Namun risiko ini dampaknya besar jika terjadi karena akan mengganggu operasional rumah produksi bersama.

• Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah mitigasi sebagai berikut:

• Bentuk badan usaha yang mengelola rumah produksi bersama dapat berbentuk koperasi atau PT. Jika berbentuk koperasi, maka diutamakan yang menjadi tenant adalah anggotanya. Jika berbentuk PT, maka yang diutamakan menjadi tenant adalah pemegang saham. Oleh karena itu, komposisi pemegang saham dapat dibuat menyebar sehingga dapat dimiliki oleh banyak orang. Hal ini akan mudah dilakukan jika rumah produksi bersama didirikan oleh komunitas atau organisasi massa. Dengan menjadi anggota koperasi atau pemagang saham, maka akan timbul rasa memiliki terhadap rumah produksi bersama. Tidak sekedar hubungan bisnis antara rumah produksi bersama dan tenant.

• Namun jikapun terjadi tenant yang mundur atau keluar, maka harus dibuat mekanisme di mana tenant yang akan mundur harus memberitahukan beberapa waktu sebelumnya (misal 1 bulan sebelumnya) sehingga pengelola rumah produksi bersama memiliki waktu yang cukup untuk mencari tenant pengganti.

3. Pelanggan gagal bayar.

Risiko ini akan berpotensi terjadi pada semua jenis bisnis. Risiko ini kemungkinan terjadinya sedang, namun dampaknya besar karena akan mengganggu operasional rumah produksi bersama. Untuk itu diperlukan Langkah-langkah mitigasi risiko sebagai berikut:

• Dibuat mekanisme adanya deposit atau uang muka

• Pemberlakukan pembayaran secara angsuran

• Fasilitasi ke Lembaga pembiayaan

4. Pelanggan yang semakin mendominasi kapasitas produksi.

Rumah produksi bersama dibangun agar dapat dimanfaatkan oleh UKM yang menghadapi kendala untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produknya. Oleh karena itu, idealnya dapat dinikmati oleh banyak pelaku UKM. Jika ada pelaku UKM yang terlalu dominan dalam penggunaan kapasitas produksi, maka akan mengurangi pelaku UKM lain untuk memanfaatkan rumah produksi bersama.

Kemungkinan terjadinya risiko ini adalah sedang namun dampaknya besar karena akan menghambat pencapaian tujuan rumah produksi bersama. Oleh karena itu, Langkah mitigasinya adalah dengan membuat mekanisme pembatasan penggunaan kapasitas misal: maksimal 50 persen.

5. Kendala operasional seperti mesin rusak.

Dalam model bisnis Rumah produksi bersama, pelaku UKM sepenuhnya mempercayakan proses produksinya kepada rumah produksi bersama. Untuk itu, kualitas mesin yang baik dan tidak mudah rusak merupakan sebuah keniscayaan.

Jika hal ini terjadi, dapat merugikan tenant dan merusak kepercayaan tenant terhadap rumah produksi bersama. Kemungkinan terjadinya sedang dan dampak risikonya besar karena dapat mengganggu bisnis tenant dan merusak kepercayaan terhadap rumah produksi bersama. Oleh karena itu, diperlukan Langkah-langkah mitigasi risiko sebagai berikut:

• Dilakukan perawatan secara rutin

• Disiapkan mekanisme mesin cadangan di lokasi lain, missal Kerjasama dengan UKM sejenis

6. Persaingan dengan pelaku usaha lain.

Dalam sebuah bisnis, persaingan adalah sebuah keniscayaan. Demikian pula untuk Rumah Produksi Bersama. Dia akan bersaing dengan pengelola rumah produksi bersama lain atau pelaku UMKM sejenis. Untuk dapat eksis dan terus berkembang di tengah persaingan, diperlukan langkah-langkah mitigasi risiko sebagai berikut:

Mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk serta menjaga biaya produksi pada tingkat yang efisien sehingga harga produk tetap bersaing.

Menjadikan pesaing sebagai mitra untuk mengembangkan brand bersama atau melakukan upaya kolaborasi, baik dalam hal produksi maupun pemasaran.

BAB IX

KESIMPULAN

Dokumen terkait