BAB II KEBIJAKAN PUBLIK DALAM PENDIDIKAN KEAGAMAAN
C. Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam di Indonesia
Memperhatikan definisi kebijakan publik pada pembahasan sebelumnya, yakni keputusan negara atau pemerintah sebagai strategi untuk mencapai cita-cita negara. Cita-cita-cita Indonesia sebagaimana dalam pembukaan UUD Negara RI 1945 di antaranya adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemudian, memperhatikan definisi pendidikan keagamaan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan keagamaan adalah berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama, maka dapat diartikan bahwa kebijakan pendidikan keagamaan Islam adalah keputusan negara atau pemerintah berkaitan untuk mempersiapkan
44
Ibid., h. 27-28.
45
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, Edisi I, (Jakarta: Kencana, 2012), Cet. I, h. 69.
peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama Islam dan/atau menjadi ahli ilmu agama Islam.
Kebijakan pendidikan keagamaan Islam di Indonesia mengalami dinamika yang luar biasa mengalami tantangan. Dinamika dan perubahan itu dapat dilihat dalam sejarah Indonesia, yaitu: masa penjajahan, pascakemerdekaan yang terdiri dari: masa pemerintahan orde lama, masa pemerintahan orde baru, dan masa pemerintahan orde reformasi.
1. Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam pada Masa Kolonial Belanda.
Pada akhir abad ke-16 (1596) organisasi perusahaan dagang Belanda (VOC) merapatkan kapalnya di pelabuhan Banten, Jawa Barat. Maksudnya semula untuk berdagang, namun kemudian haluannya berubah untuk menguasai kepulauan Indonesia.46
Ketika bangsa Belanda pertama kali menginjakkan kakinya di Nusantara yang dimulai dengan melakukan monopoli kegiatan perniagaan di bawah sebuah badan bernama VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), tahun 1602-1799 lalu diikuti masa penjajahan pemerintahan kolonial Belanda mulai tahun 1799, tidak dapat disangkal, bahwa kegiatan dan misi keagamaan golongan Kristen telah jalan barsama, baik dilakukan oleh pejabat VOC atau pejabat pemerintahan kolonial, oleh Zendig (Kristen Protestan) dan Misionaris (Katolik).47
Pemerintahan kolonial Belanda pada masa penjajahannya dalam mengkristenkan penduduk pribumi terlihat dari kebijakan pemerintahan kolonial Belanda. Kegiatan Zendig dan Misionaris yang telah berjaya di masa VOC semakin leluasa menancapkan kukunya di beberapa kawasan Indonesia Timur. Juga di kawasan Barat.48
46
Mohammad Daud Ali, Hukum Islam dan Peradilan Agama (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), Cet. II, h. 192.
47
Marwan Saridjo, Pendidikan Islam dari Masa ke Masa, (Jakarta: Yayasan Ngali & Penamadani, 2010), Cet. I, h. 49.
48
Ketika mulai memikirkan, merencanakan, dan mencari model pendidikan bagi penduduk pribumi, pejabat dan pemerintah kolonial Belanda, lebih memilih sekolah-sekolah yang didirikan oleh Zendig dan Misionaris untuk diadopsi menjadi model pendidikan bagi penduduk pribumi. Mereka tidak menjadikan sistem pendidikan pesantren/diniyah dan madrasah sebagai model, karena mereka menilai sistem pendidikan pesantren/diniyah dan madrasah terlalu buruk. Di dalamnya hanya diajarkan agama, bahasa Arab, dan al-Qur‟an. Di pesantren dan madrasah tidak diperkenalkan huruf latin. Guru-gurunya pun tidak bisa membaca dan menulis huruf Latin. Padahal, sekolah-sekolah Zendig dan Misionaris, pendidikannya juga agama dan guru-gurunya juga tidak profesional di bidang pendidikan, melainkan pendeta dari tamatan lembaga pendidikan keagamaan Kristen.49
Berdasarkan hal tersebut, menurut Marwan Saridjo, “Terlihat bahwa alasan menolak untuk mengadopsi pesantren dan madrasah sebagai bentuk dan model pendidikan penduduk pribumi, di samping alasan teknis adalah alasan politik dan alasan keagamaan.”50
Pada tahun 1882 M, pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam yang disebut Pristerraden. Atas nasihat dari badan inilah maka pada tahun 1905 M, pemerintah mengeluarkan peraturan yang isinya bahwa orang yang memberikan pengajaran harus minta izin lebih dahulu,51 kebijakan ini disebut Ordonansi Guru tahun 1905. Selanjutnya, pada perkembangan berikutnya Ordonansi Guru tahun 1905 itu akhirnya dicabut karena dianggap tidak relevan lagi.52 Maka, pada tahun 1925 M, pemerintah mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi terhadap pendidikan agama Islam, yaitu tidak semua orang (Kyai) boleh 49 Ibid., h. 52. 50 Ibid., h. 53. 51
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004), Cet. VII, h. 149.
52
Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), Cet. I, h. 35.
memberikan pelajaran mengaji, kebijakan ini disebut Ordonansi Guru tahun 1925. Pada tahun 1932 M, keluar pula peraturan yang dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah yang disebut Ordonansi Sekolah Liar (Wilde School Ordonante).53
Jika dikaitkan dengan setting sosial-politik pada masa pemerintahan kolonial Belanda, menurut Nurhayati Djamas:
Dikeluarkannya ketentuan Ordonansi Guru tampak jelas dilatarbelakangi oleh kekhawatiran pemerintah Belanda terhadap penyelenggaraan pendidikan Islam dan sepak terjang guru agama yang akan memperluas pengembangan agama Islam melalui pendidikan. Dengan perluasan itu, pemerintah Belanda juga mengkhawatirkan implikasinya, yaitu makin meluasnya “sentimen antipenjajahan” dan anti terhadap pemerintahan Belanda yang disuburkan dengan sentimen keagamaan.54
Berdasarkan penjelasan di atas, maka kebijakan pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan keagamaan Islam sangat tidak mendukung, bahkan berupaya untuk meruntuhkan pendidikan Islam, termasuk pendidikan keagamaan Islam
2. Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam pada Masa Kolonial Jepang
Jepang menjajah Indonesia setelah mengusir pemerintah Hindia Belanda dalam perang Dunia ke II. Mereka menguasai Indonesia pada tahun 1942, dengan membawa semboyan: Asia Timur Raya untuk Asia
dan semboyan Asia Baru.
Jepang di Indonesia juga mencari kepentingan untuk mencari kekuatan untuk menghadapi perang Pasifik, perang Asia Timur Raya. Kekuatan yang diharapkan itu adalah jumlah mayoritas umat Islam.
53
Zuhairini, loc.cit.
54
Sehingga, untuk mendapatkan simpati dari umat Islam, Jepang mengeluarkan kebijakan yang kelihatannya mendukung umat Islam.55 Pemerintahan Kolonial Jepang mengizinkan untuk membuka sekolah-sekolah yang pernah diasuh Belanda. Bahkan Jepang juga mengizinkan untuk membuka sekolah-sekolah yang diasuh badan-badan swasta, termasuk di antaranya sekolah-sekolah Islam.56
Kebijakan Jepang yang berkaitan dengan pendidikan Islam, di antaranya sebagai berikut:
a) pondok pesantren yang besar-besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang.
b) pemerintah Jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakir, dan Bung Hatta.57
c) mendirikan organisasi guru Islam yang diberi nama Pergaboengan Goeroe Islam Indonesia.58
Walaupun Jepang memberikan kebijakan tersebut, tetapi umat Islam dipaksa untuk kepentingan perang mereka. Sehingga, dunia pendidikan secara umum terbengkalai, karena murid-murid sekolah setiap hari hanya disuruh gerak badan, baris berbaris, bekerja bakti (romusha), barnyanyi, dan lain sebagainya. Agak beruntung adalah madrasah-madrasah yang berada dalam lingkungan pondok pesantren yang bebas dari pengawasan langsung pemerintah Jepang. Pendidikan dalam pondok pesantren masih dapat berjalan dengan agak wajar.59
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemerintahan Jepang saat itu tidak mengebiri pendidikan Islam, seperti yang dilakukan pemerintahan Belanda, karena Jepang saat itu disibukkan dengan persiapan perang mereka.
55 Haidar, op.cit., h. 37. 56 Ibid. 57 Zuhairini, op.cit., h. 151. 58 Haidar, op.cit., h.38. 59 Zuhairini, op.cit., h. 152.
3. Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam pada Masa Pemerintahan Orde Lama.
Indonesia telah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi musuh-musuh Indonesia tidak diam, bahkan berusaha untuk menjajah kembali. Pada bulan Oktober 1945 para ulama di Jawa memproklamasikan perang jihad fisabilillah terhadap Belanda/sekutu.60 Kebijakan dan politik pendidikan setelah kemerdekaan tidak lagi mengandung nuansa pengawasan ketat yang mengebiri pendidikan Islam, seperti yang berlaku pada masa pemerintahan Belanda. Dalam kebijakan pendidikan pascakemerdekaan, ada upaya mengakui pendidikan Islam sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang berhak mendapatkan fasilitas dari pemerintah seperti pengadaan guru.61
Empat bulan setelah proklamasi, yaitu tepatnya tanggal 29 Desember 1945. BKNIP (Badan Komite Nasional Indonesia Pusat) mengusulkan kepada Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K) untuk selekas mungkin mengusahakan pembaruan pendidikan dan pengajaran dengan menggunakan pokok-pokok usaha pembaruan yang pada prinsipnya sama dengan rancangan yang lahir bersama dengan UUD 1945, yaitu pendidikan agama dan kebudayaan, pendidikan untuk rakyat, sekolah partikular swasta, kurikulum, susunan persekolahan, bahasa Indonesa. Salah satu di antara usulan BKNIP adalah tentang pengajaran agama. BKNIP mengusulkan pengajaran agama hendaklah mendapat tempat yang teratur seksama dan mendapat perhatian yang semestinya dengan tidak mengurangi kemerdekaan golongan-golongan yang berkehendak mengikuti kepercayaan yang dipeluknya. Dengan terbentuknya Kementerian Agama, maka madrasah dan pesantren berada di bawah binaan Kementerian Agama, sedangkan pengajaran agama di sekolah-sekolah umum diatur dengan peraturan bersama Menteri P dan K
60
Ibid.
61
dan Menteri Agama.62 BKNIP juga mengusulkan agar madrasah dan pesantren mendapat perhatian dan bantuan nyata dengan berupa tuntunan dan bantuan dari pemerintah.63
Berdasarkan usulan BKNIP mengenai pendidikan, maka Menteri P dan K kedua, Mr. Suwandi membentuk Panitia Penyelidik Pengajaran yang diketuai Ki Hajar Dewantara (mantan Menteri P dan K), dengan tugas, “(1) merencanakan rumusan persekolahan baru untuk semua tingkat dan jenis. (2) menetapkan bahan-bahan pengajaran dengan memperhatikan keperluan praktis dan tidak terlalu berat bagi murid-murid. (3) menyiapkan rencana pelajaran untuk tiap tingkat dan jenis sekolah yang diperinci tiap kelas.”64
Hasil kerja Panitia Penyelidik Pengajaran yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan keagamaan Islam adalah pesantren dan madrasah harus dipertinggi mutunya, dan tidak perlu bahasa Arab.65
Kemudian untuk melaksanakan usulan dari BKNIP dan Panitia Penyelidik Pengajaran, maka didirikanlah Kementerian Agama pada tanggal 3 Januari 194666 dengan Penetapan Pemerintah No. 1/SD tanggal 3 Januari 1946 untuk mengurus masalah pendidikan agama dan masalah urusan agama lain.67
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pertama yang dikeluarkan pemerintah setelah kemerdekaan, yakni UU RI No. 4 Tahun 1950, belum secara spesifik memberikan ketentuan khusus dalam pengaturan terhadap lembaga pendidikan Islam. Meskipun demikian, undang-undang ini telah memberikan pengakuan terhadap kedudukan sekolah agama, yakni seperti yang tercatum dalam Pasal 10 ayat (2) undang-undang tersebut, bahwa “belajar di sekolah agama yang telah
62
Marwan Saridjo, op.cit., h. 70-71.
63 Ibid., h. 74. 64 Ibid., h. 72. 65 Ibid., h. 74. 66
Abdul Rachman Saleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi, dan Aksi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), h. 285.
67
mendapatkan pengakuan dari Menteri Agama dianggap telah memenuhi kewajiban belajar”. Sebelum ditetapkannya undang-undang tersebut, Menteri Agama telah mengeluarkan ketentuan yang memberikan pengakuan terhadap madrasah sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam, yakni Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1946 yang ditetapkan pada tanggal 19 Desember tahun 1946 tentang pemberian bantuan dan subsidi terhadap madrasah.68
Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1946 kemudian disempurnakan dengan Peraturan Menteri Agama No. 7 Tahun 1952 yang berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Peraturan ini membagi madrasah menjadi tiga tingkatan, yaitu Madrasah Rendah yang kemudian menjadi Madrasah Ibtidaiyah dengan masa belajar 6 tahun; Madrasah Tingkat Lanjutan Pertama yang kemudian menjadi Madrsah Tsanawiyah dengan masa belajar selama 3 tahun dan diikuti oleh lulusan madrasah rendah; dan Madrasah Lanjutan Atas yang kemudian menjadi Madrasah Aliyah dengan lama belajar 3 tahun dan diikuti lulusan Madrasah Tsanawiyah.69
Peneliti berpendapat bahwa penyebutan nomenklatur lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan pesantren dalam peraturan perundang-undangan sangat penting. Karena, dengan penyebutan
nomenklatur madrasah dan pesantren dalam peraturan perundang-undangan akan menperjelas kedudukan madrasah dan pesantren. Jika hanya sekadar penyebutan “sekolah agama” hanya akan menimbulkan pemahaman yang berbeda, sehingga tujuan dari suatu keputusan itu tidak dapat berjalan semestinya.
Penyebutan sekolah agama tersebut dapat dilihat pada pasal 2 ayat (1) UU No. 4 Tahun 1950 Jo UU No. 12 Tahun 1954, tidak menyebutkan kata madrasah atau pesantren melainkan sekolah agama, sebagaimana disebutkan: “Undang-undang ini tidak berlaku untuk pendidikan dan
68
Nurhayati Djamas, loc.cit.
69
pengajaran di sekolah agama dan pendidikan masyarakat”. Lalu, pada ayat (2) disebutkan: “Pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah agama dan pendidikan masyarakat masing-masing ditetapkan dalam undang-undang lain”. Sayangnya, sampai undang-undang ini diganti, undang-undang organik itu tidak kunjung terlaksana. Selanjutnya, penyebutan sekolah agama juga terdapat pada pasal 10 ayat (2) disebutkan: “Belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dan Menteri Agama dianggap telah memenuhi kewajiban belajar”.70
Kebijakan pemerintah untuk madrasah diniyah sebagai bagian dari pendidikan keagamaan Islam adalah Peraturan Menteri Agama No. 13 Tahun 1964. Pada PMA tersebut, madrasah diniyah dibagi dalam tiga jenjang, yakni madrasah diniyah awwaliyah/ula (4 tahun); madrasah diniyah wustha (3 tahun); dan madrasah diniyah „ulya (3 tahun). Madrasah yang dibentuk tersebut hampir tidak memiliki efek terhadap kelanjutan studi dan pengembangan profesi lulusan, sehingga hanya sedikit peserta didik yang meminta ijazah formal dari institusi pendidikan ini.71 Karena, kebijakan tersebut hanya sekadar menjelaskan jenjang madrasah diniyah, bukan menjelaskan kedudukan madrasah diniyah dalam sistem pendidikan nasional.
4. Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam pada Masa Pemerintahan Orde Baru.
Lahirnya Orde Baru ditandai dengan lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966. Pemerintahan Orde Baru bertekad sepenuhnya untuk kembali kepada UUD 1945 dan melaksanakannya secara murni. Pemerintah dan rakyat akan membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya, yakni membangun bidang rohani dan jasmani untuk kehidupan yang baik, di dunia dan
70
Abdul Rachman Saleh, op.cit., h. 285-286.
71
Abd. Halim Soebahar, Kebijakan Pendidikan Islam dari Ordonansi Guru sampai UU Sisdiknas, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), Cet. I, h. 74.
akhirat sekaligus (simultan). Oleh karena itu, Orde Baru disebut juga sebagai Orde Konstitusional dan Orde Pembangunan.72
Marwan Saridjo berpandapat bahwa:
Pada masa ini ada ide untuk menyatukan pendidikan yang di bawah naungan kementerian pendidikan dengan pendidikan yang di bawah kementerian agama dalam satu atap. Karena, ada anggapan bahwa dua macam lembaga pendidikan persekolahan di bawah dua kementerian yang berlainan bidang statusnya, dapat mengakibatkan adanya dualisme Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.73
Pada tahun 1972, pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No. 34 Tahun 1972 tentang kewenangan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan di bawah satu pintu, yaitu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, termasuk di dalamnya penyelenggaraan pendidikan agama. Keputusan Presiden tersebut diikuti oleh Inpres No. 15 Tahun 1974 tentang Pelaksanaan Keputusan Presiden tersebut. Keppres dan Inpres tersebut mendapatkan tantangan yang sangat keras dari kalangan Islam. Kedua keputusan itu dipandang sebagai langkah untuk mengebiri tugas dan peran Kementerian Agama dan bagian dari upaya sekularisasi yang dilakukan pemerintah Orde Baru. Melihat reaksi kalangan Islam yang menolak Keputusan Presiden tersebut akhirnya pada sidang kabinet terbatas yang dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 1974, berkaitan dengan hal tersebut Presiden Soeharto memberikan petunjuk sebagai berikut:
a) karena tujuan pembangunan nasional adalah untuk mencapai kemajuan materiil dan spiritual yang seimbang, maka harus ada keseimbangan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. b) pembinaan pendidikan umum adalah tanggung jawab Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan pendidikan agama berada di bawah tanggung jawab Menteri Agama.
c) untuk melaksanakan Keppres No. 34 Tahun 1972 dan Inpres No. 15 Tahun 1974 dengan sebaik-baiknya perlu ada kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Agama.74
72
Zuhairini, op.cit., h. 155.
73
Marwan Saridjo, op.cit., h. 107.
74
Tindak lanjut dari hasil sidang kabinet itu dibentuklah sebuah tim yang anggota-anggotanya wakil dari Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, dan lembaga-lembaga terkait untuk merumuskan konsep keputusan bersama yang kemudian dikenal dengan SKB 3 Menteri, yaitu Menteri Agama (Mukti Ali), Menteri Dalam Negeri (H. Amir Mahmud), dan Menteri Pendidikan dan Kebudyaan (H. Syarif Thayeb). Judul SKB itu adalah “Peningkatan
Mutu Pendidikan Madrasah”.75
Berdasarkan SKB 3 Menteri Tahun 1975, Bab I Pasal I, menyebutkan: “Yang dimaksud dengan madrasah dalam Keputusan Bersama ini ialah: Lembaga Pendidikan yang menjadikan mata pelajaran agama Islam sebagai dasar yang diberikan sekurang-kurangnya 30%, di samping mata pelajaran umum”.76
Pengertian madrasah yang pada awalnya adalah lembaga pendidikan Islam yang memberikan pengajaran agama Islam 100%, setelah SKB tersebut berubah hanya memberikan pengajaran agama Islam 30%. SKB 3 Menteri tersebut menjadi pergeseran istilah madrasah menjadi sekolah umum berciri khas Islam. Lembaga jenis itu bukanlah menjadi lembaga pendidikan keagamaan Islam lagi. Karena, pendidkan keagamaan Islam adalah pendidikan yang memberikan pengajaran agama Islam lebih banyak daripada yang umum. Maka, madrasah yang murni memberikan pengajaran agama Islam disebut madrasah diniyah yang merupakan bagian dari pendidikan keagamaan Islam. Tetapi, pada saat itu statusnya hanya sebagai pendidikan non formal atau pelengkap saja.
Terkait dengan pesantren, Menteri Agama Mukti Ali tahun 1974 telah mengeluarkan kebijakan mengenai pendidikan keterampilan di pondok pesantren. Kebijakan ini timbul atas kritik beliau terhadap pondok pesantren salafi yang sepenuhnya agama. Mukti Ali menilai hal
75
Marwan Saridjo, op.cit., h. 113.
76
tersebut terlalu mementingkan kepandaian otak (menghafal) dan penonjolan keutamaan akhlak (tasawuf), tetapi kurang memerhatikan keterampilan tangan sebagai bekal untuk hidup setelah terjun di masyarakat. Menurutnya secara ideal seorang santri harus mampu menyerasikan antara otak (head), akhlak (heart), dan keterampilan tangan (hand). 77
Kebijakan pemerintah tentang pesantren lainnya adalah PMA No. 3 Tahun 1979 yang mengenai pengklasifikasian pondok pesantren menjadi empat tipe, keempat tipe dalam peraturan tersebut bukan keharusan untuk dimiliki pondok pesantren, karena varian pondok pesantren memang sangat beragam.78
Kebijakan pemerintah tentang pesantren hanya terkait untuk menjelaskan jenis-jenis pesantren, bukan bagaimana status pesantren dalam sistem pendidikan nasional. Sama halnya juga dengan madrasah diniyah.
Pada masa Orde Baru lahirlah UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tersebut menjadi undang-undang kedua tentang sistem pendidikan nasional. Menurut Nurhayati Djamas, UU No. 2 Tahun 1989 tersebut merupakan perwujudan dari misi pemerintah dalam rangka mengatur tentang penyelenggaraan madrasah dan pendidikan agama diarahkan pada konvergensi dan pengintegrasian dualisme sistem pendidikan ke dalam satu sistem pendidikan nasional yang menjadi acuan penyelenggaraan seluruh jenis dan jenjang pendidikan.79
Penyebutan nomenklatur madrasah dan pesantren pada UU No. 2 Tahun 1989 tidak dijumpai, yang diatur adalah ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan keagamaan sebagai salah satu jenis pendidikan menengah pada pasal 15 ayat (2). Pada pasal 2 ayat (6) disebutkan: “Pendidikan Keagamaan merupakan pendidikan yang
77
Abd. Halim Soebahar, op.cit., h. 53.
78
Ibid., h. 46-47.
79
mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan”. Bentuk dari pendidikan keagamaan yang semestinya diatur dengan Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Keagamaan sebagai disebut dalam pasal 15 ayat (4) seperti halnya undang-undang organik dari UU No. 4 Tahun 1950 Jo No. 12 Tahun 1954, juga tidak terselesaikan.80 Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti berpendapat bahwa kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap pendidikan keagamaan Islam belum mampu membuat posisi pendidikan keagamaan Islam diakui dengan peraturan perundang-undangan yang jelas. Adapun kebijakan yang ditetapkan hanya sekadar bagaimana pelaksanaan madrasah dan pesantren.
Sejak pemerintah Orde Baru berkuasa dari tahun 1966 hingga ditetapkannya UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tidak ada kebijakan yang menjelaskan bagaimana posisi pendidikan keagamaan Islam dalam sistem pendidikan nasional. Lahirnya UU No. 2 Tahun 1989 yang diharapkan mampu memposisikan pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional ternyata belum juga mampu memposisikannya dalam sistem pendidikan nasional. Walaupun ada penyebutan pendidikan keagamaan sebagai pendidikan menengah, tetapi penjelasan yang disebutkan dalam undang-undang tersebut tidak menggambarkan pengakuan terhadap pendidikan keagamaan Islam, bahkan peraturan pemerintah untuk memperjelas pendidikan keagamaan pun tidak ada sampai lahirnya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
5. Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam pada Masa Pemerintahan Orde Reformasi.
Berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto tahun 1997, dan digantikan oleh Wakil Presiden B.J. Habiebie menjadi Presiden menandai lahirnya
80
era reformasi. Lahirnya era reformasi itu disambut dengan sikap euforia oleh komponen bangsa yang telah lama menginginkan perubahan, baik masyarakat umum, kalangan birokrasi/eksekutif, legislatif, dan yudikatif.81
Hasil pemilu tahun 1999 menghasilkan pemerintahan baru di bawah pimpinan Gus Dur alias K.H. Abdurrahman Wahid. Di antara gebrakan Gus Dur adalah melakukan perubahan nama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Kementerian Pendidikan Nasional. Hal itu dimaksudkan Gus Dur untuk menyatukan penyelenggaraan dan pembinaan pendidikan yang ada di Indonesia di bawah satu atap atau dalam satu tangan.82 Tetapi, gagasan Gus Dur tersebut tidak dapat direalisasikan. Sebelum masa pemerintahannya yang formal habis, ia telah dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden Indonesia. Maka, dengan lengsernya Gus Dur, ide untuk menyatukan pembinaan dan pengelolaan madrasah di bawah Kementerian Pendidikan Nasional masih tetap sebagai wacana saja.83
Masa pemerintahan Orde Reformasi ini lahirlah UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tersebut merupakan undang-undang pertama yang telah mengakomodir pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional. Prof. Husni Rahim menyatakan bahwa dengan UU RI No. 20 Tahun 2003 pendidikan Islam yang awalnya belum diakui sudah diakui, madrasah dan pendidikan keagamaan sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional.84
RUU RI No. 20 Tahun 2003 untuk disahkan menjadi undang-undang tidak berjalan dengan mulus. Muncul perdebatan dikalangan anggota DPR. Perbedaan pola pikir dan kepentingan masing-masing golongan di DPR yang ingin diakomodasi dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, termasuk soal pendidikan agama (pendidikan keagamaan).