• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Pengembangan Ekspor Hasil Perikanan Indonesia

VI PENERAPAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN DI UNI EROPA DAN PENGARUHNYA TERHADAP EKSPOR UDANG INDONESIA

6.3. Kebijakan Pengembangan Ekspor Hasil Perikanan Indonesia

Kebijakan pemerintah dalam pengembangan ekspor hasil perikanan harusnya bertumpu pada kebijakan pengembangan mutu dan keamanan pangan. Meskipun menurt Painthe (2008) perlu juga dilakukan kebijakan pengembangan produk dan pasar yang berorientasi pada “market base development” melalui diversifikasi produk dan pasarnya, namun dalam hal pengembangan pasar ekspor hasil perikanan, Sub Direktorat Pengembangan Ekspor pada tahun 2010 telah menetapkan target pencapaian pasar ekspor baru hingga tahun 2014. Target pasar yang akan ditambah dalam ekspor hasil perikanan Indonesia diantaranya: Uni Emirat Arab, Ceko, dan Ukraina pada tahun 2010; Slovakia, Turki, dan India pada tahun 2011; Mesir, New Zealand, dan Islandia pada tahun 2012; Bahrain, Venezuela, Brazil, dan Papua Nugini pada tahun 2013; Oman, Peru, Kroasia, Afrika Selatan, dan Lithuania pada tahun 2014.

Untuk pencapaian pengembangan pasar sesuai target yang ditetapkan, langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan ekspor hasil perikanan di Indonesia adalah perlunya mengetahui prosedur umum ekspor barang (lampiran 1), alur prosedur ekspor hasil perikanan (lampiran 2), dan dokumen yang harus dimiliki dalam perdagangan hasil perikanan (lampiran 3). Ketiga hal tersebut menjadi dasar yang harus diketahui dan dimiliki oleh seluruh pelaku ekspor agar dapat mengembangkan pasar ekspor hasil perikanan.

Menjawab tantangan peraturan negara-negara importir utama hasil perikanan seperti Uni Eropa yang memiliki persyaratan yang cukup ketat mengenai standar mutu dan keamanan pangan, pemerintah mempunyai tanggung jawab dan peran penting untuk menghasilkan produk perikanan yang sehat, aman, dan bermutu baik. Dalam melaksanakan tanggung jawabnya, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah membangun Sistem Perkarantinaan Ikan dan Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Sistem tersebut merupakan suatu sistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir untuk memberikan jaminan terhadap produk hasil perikanan yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha sejak praproduksi sampai dengan pendistribusian agar dapat

60 memenuhi persyaratan kesehatan ikan dan aman untuk dikonsumsi manusia. Sebagai upaya pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit ikan karantina serta penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.15/MEN/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan, Menteri Kelautan dan Perikanan membentuk Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) yang kemudian ditunjuk sebagai otoritas kompeten dalam pengendalian.

Peraturan lainnya untuk meningkatkan mutu dan keamanan hasil perikanan Indonesia, (BKIPM, 2012 ) yaitu:

1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.

2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009.

3) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2002 tentang Karantina Ikan.

4) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.

5) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.05/MEN/2005 tentang Tindakan Karantina Ikan untuk Pengeluaran Media Pembawa Hama dan Penyakit Ikan Karantina.

6) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.20/MEN/2007 tentang Tindakan Karantina Untuk Pemasukan Media Pembawa Hama dan Penyakit Ikan Karantina dari Luar Negeri dan dari Suatu Area ke Area lain di dalam Wilayah Republik Indonesia.

7) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.26/MEN/2008 tentang Kewenangan Penerbitan, Format dan Pemeriksaan Sertifikat Kesehatan dibidang Karantina Ikan dan Sertifikat Kesehatan dibidang Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan.

8) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.15/MEN/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan.

61 9) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.19/MEN/2010

tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. 10) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.11/MEN/2011

tentang Instalasi Karantina Ikan.

11) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.25/MEN/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan.

12) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.53/MEN/2010 tentang Penetapan Tempat Pemasukan dan Pengeluaran Media Pembawa Hama dan Penyakit Ikan Karantina.

13) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.03/MEN/2010 tentang Penetapan Jenis-jenis Hama dan Penyakit Ikan Karantina, Golongan, Media Pembawa dan Sebarannya.

14) Peraturan Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan selaku Otoritas Kompeten Nomor PER. 03/BKIPM/2011 tentang Pedoman Teknis Penerapan Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan.

15) Keputusan Kepala Pusat Karantina Ikan Nomor KEP.209/PKRI/VIII/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK).

Selain kebijakan yang ditetapkan pemerintah dalam pengembangan ekspor hasil perikanan Indonesia, berlandaskan pada kebijakan Uni Eropa dalam pemberlakuan ketentuan zero tolerance terhadap residu antibiotik tertentu pada udang seperti chloramphenicol, nitrofuran dan furazolidone yang dapat mengakibatkan pada pemusnahan produk udang di port of entry Uni Eropa, maka Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, KKP menetapkan mekanisme pelaksanaan NRCP (National Residu Control Plan) sebagai berikut (KKP, 2011):

1) Pelaku Usaha

Pelaku usaha bertanggung jawab untuk melakukan identifikasi dan dokumentasi segala informasi terkait produk perikanan budidaya yang

62 dihasilkan, sekurang-kurangnya satu langkah ke depan dan satu langkah ke belakang.

Tindakan yang diambil saat risiko teridentifikasi adalah (1) segera menarik produk yang terdeteksi mengandung residu atau terkontaminasi dari pasar, dan bila diperlukan segera melaporkannya kepada Dinas Perikanan setempat/otoritas kompeten; dan (2) Segera memusnahkan produk yang terdeteksi tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan pangan dan segera melaporkannya kepada Dinas Perikanan setempat/otoritas kompeten. 2) Dinas Perikanan di Provinsi dan Kabupaten/Kota

Dinas perikanan di provinsi bertanggung jawab untuk (1) melakukan monitoring pada setiap tahapan proses produksi dan distribusi produk perikanan budidaya untuk memastikan sistem traceability berjalan sesuai persyaratan; dan (2) emberlakukan sanksi berupa penalti pada perusahaan atau pembudidaya yang tidak mampu memenuhi persyaratan traceability.

Tindakan yang diambil saat risiko teridentifikasi adalah (1) memastikan bahwa pelaku usaha memenuhi kewajibannya dalam penerapan traceability; (2) melakukan tindakan yang memadai dalam menjamin pelaksanaan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan; dan (3) menelusuri risiko sepanjang rantai produksi; dan (4) menginformasikan kepada otoritas kompeten bila terjadi ketidaksesuaian.

3) Kementerian Kelautan dan Perikanan/Otoritas Kompeten

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bertanggung jawab dalam hal: (1) menerbitkan peraturan yang diperlukan terkait traceability; dan (2) melakukan inspeksi secara berkala untuk memastikan pelaku usaha memenuhi standar keamanan pangan termasuk penerapan traceabality.

Tindakan yang diambil saat risiko teridentifikasi adalah (1) memberikan peringatan dini kepada seluruh provinsi tentang adanya risiko ketidaksesuaian; (2) meminta informasi lengkap dari pelaku usaha untuk dapat dilakukan traceability dan penanganan secara terkoordinasi baik di dalam maupun antara kementerian terkait; dan (3) bilamana perlu mengeluarkan kebijakan pembatasan ekspor dan impor.

Dokumen terkait