6) Peran Kesempatan
5.3 Kebijakan Pergulaan Indonesia
adalah sebesar 3,4 persen. Jika dilihat per kota, fluktuasi harga berbeda antar wilayah. Hingga 31 Januari 2011, produksi gula nasional sebesar 55.051,2 ton. Stok fisik GKP di gudang sebesar 707.209 ton (67% milik pedagang; 27,7 % milik PG dan 5,3% milik petani). Harga gula dunia terus naik karena permintaan yang tinggi dari Indonesia, Rusia, Belarusia dan Kazahktan, serta pasokan yang berkurang dari Australia dan Brasil.
Untuk bulan Mei tahun 2011 adalah bulan dengan harga gula domestik terendah pada tahun tersebut. Adapun secara rata-rata nasional, fluktuasi harga gula pada bulan Mei 2011 relatif stabil yang diindikasikan oleh perubahan rata-rata harga bulanan adalah sebesar 3,4 persen. Harga gula domestik mengalami penurunan yang didukung faktor-faktor antara lain: tingkat rendemen tebu lebih tinggi dari tingkat rendemen tahun lalu,luas areal lahan tebu diperkirakan meningkat 15.000 hektar menjadi 445.000 ton dan harga tender gula mengalami penurunan. Harga gula dunia mengalami penurunan dikarenakan produksi gula di Meksiko naik sebesar 13 persen dibanding periode yang sama tahun kemarin.
5.3 Kebijakan Pergulaan Indonesia
Pemerintah merupakan elemen terpenting dalam pengembangan industri gula Indonesia. Pada kontribusinya dalam industri gula nasional, pemerintah telah banyak menerapkan instrumen kebijakan dalam industri tersebut. Kebijakan industri gula Indonesia sangat luas dimensinya, mulai dari sektor input, produksi, distribusi, hingga harga gula. Adapun kebijakan pergulaan Indonesia yang dijelaskan adalah kebijakan pergulaan Indonesia yang ada pada satu setengah dekade kebelakang yaitu medio tahun 1997 hingga tahun 2011.
Padamedio tahun 1997 hingga 1998, ketika terjadi resesi ekonomi, perekonomian Indonesia banyak dikendalikan oleh International Moneter Fund (IMF). Sebagai salah satu persyaratan dalam Letter of Intent (LoI) IMF dan pemerintah Indonesia adalah membebaskan perdagangan pangan termasuk gula yang selama itu dipegang oleh Bulog. Untuk memenuhi tuntutan itu, maka pemerintah melakukan reformasi di bidang tataniaga gula dengan mengeluarkan Keppres No. 45/11/1997 yang membatasi wewenang Bulog hanya untuk komoditas beras dan gula. Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Inpres No.
53 5/1997, yang bertujuan untuk mengoptimalkan sinergi dan peran tebu rakyat, perusahaan pekebunan, dan koperasi dalam pengembangan industri gula. Hal ini dilakukan karena pada saat itu kinerja pergulaan nasional mengalami penurunan, dari segi areal lahan, produktivitas, maupun produksi.
Pada tahun 1998, pemerintah mengeluarkan lagi Keppres No. 19/1/1998 yang membatasi wewenang Bulog hanya untuk komoditas beras. Keppres tersebut ditindaklanjuti oleh Kepmen Perindustrian dan Perdaganangan No. 25/1/1998 dan No. 505/10/1998 yang mengatur tataniaga impor gula menurut mekanisme pasar dan oleh importir umum. Pada setahun Inpres No. 5/1997 itu diterapkan, kemudian dicabut dan digantikan dengan Inpres No. 5/1998 yang menghentikan program pengembangan tebu rakyat dengan alasan untuk membebaskan petani menanam komoditas yang paling menguntungkan sesuai dengan UU No.12 Tahun 1996. Hal ini menurunkan minat petani untuk menanam tebu dan beralih ke komoditas lain yang lebih menguntungkan, seperti tanaman pangan.
Pada Mei tahun 1999, pemerintah mengeluarkan Peraturan No.282/Kpts-IX/1999 mengenai penetapan harga provenue gula pasir produksi petani sebesar Rp.2.500/Kg dan menyediakan dana talangan sebesar Rp.456 milyar. Kebijakan ini mengatur tataniaga gula pasir yang bertujuan untuk menghindari kerugian petani dan mendorong peningkatan produksi tebu. Pada bulan Juni tahun 1999, pemerintah mencabut Kepmen Perindustrian dan Perdagangan No. 505/10/1998 dengan alasan untuk menciptakan iklim perdagangan yang berorienrasi pasar. Selanjutnya pada bulan Agustus di tahun yang sama pemerintah melalui Menteri Perindustrian dan Perdagangan mengeluarkan Peraturan No. 364/MPP/Kep/VIII/1999 mengenai tataniaga impor gula, dimana impor gula hanya dapat dilaksanakan oleh pabrik gula di Jawa sebagai impor produsen (IP) melalu perijinan. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi beban anggaran melalui impor gula oleh produsen. Dalam waktu empat bulan, kebijakan itu dicabut kembali melalui Kepmen Perindustrian dan Perdagangan No. 717/12/1999 yang memberlakukan impor gula oleh importir umum. Pada waktu yang bersamaan, pemerintah juga mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 568/12/1999 yang meberlakukan tarif bea masuk impor sebesar 20 persen untuk gula tebu dan 25 persen untuk gula bit yang diberlakukan sejak 1 Januari 2000.
54 Akan tetapi kebijakan ini belum mampu menahan masuknya gula impor, sehingga kemudian pada tahun 2000 pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan penetapan harga provenue gula pasir dengan Kepmen Kehutanan dan Perkebunan No. 145/6/2008. Kebijakan ini dilakukan untuk menghindarkan kerugian petani tebu dan meningkatkan gairah menanam tebu dan taraf hidup petani serta menjaga kepentingan konsumen. Kebijakan ini meningkatkan harga provenue gula petani menjadi sebesar Rp.2.600/Kg dengan menyediakan dana talangan sebesar Rp. 859 milyar. Dana tangan tersebut hanya diberikan dalam periode dua tahun, sementara itu masih terdapat banyak gula impor yang masuk, khususnya raw sugar, melalui fasilitas keringanan bea masuk 0 persen yang ditetapkan SK Menkeu No. 301/2000.
Selanjutnya pada tahun tersebut juga pemerintah mengeluarkan Keppres No. 109 Tahun 2000 tentang Dewan Gula Nasional. Kebijakan yang merupakan awal terbentuknya Dewan Gula Nasional, yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas inudstri gula serta pemberdayaan petani gula memiliki dayasaing di pasar global. Pemerintah memasukkan unsur petani, perusahaan gula, lembaga konsumen, penyalur, pekerja, perguruan tinggi, dan pemerintah dalam pembentukan Dewan Gula Indonesia.
Pada tahun 2002, pemerintah mengeluarkan peraturan No. 456/MPP/Kep/VI/2002 yang merupakan kebijakan tataniaga impor gula kasar (raw sugar) dikarenakan adanya peningkatan impor gula kasar yang melebihi kebutuhan industri dalam negeri. Kebijakan ini bertujuan untuk mengatur tataniaga impor gula kasar dalam rangka perlindungan konsumen dari konsumsi gula kasar. Selain kebijakan tatniaga impor, pada tahun 2002 pemerintah juga mengeluarkan Peraturan No. 324/KMK.01/2002 yang berisikan perubahan tarif bea masuk atas impor gula yang merupakan kebijakan tataniaga gula impor yang meliputi gula kasar, gula kristal putih, dan gula rafinasi. Hal ini dikarenakan dalam rangka mendukung program restrukturisasi industri gula nasional dengan tetap memperhatikan kepentingan petani tebu dan konsumen gula, sehinnga dipandang perlu mengubah tarif bea masuk atas impor gula.
Pada tahun 2004, pemerintah mengeluarkan Peraturan No. 61/MPP/Kep/II/2004 yang berisikan perdagangan gula antar pulau. Kebijakan ini
55 dilatarbelakangi oleh momentum dalam menunjang pelaksanaan tata niaga impor gula serta untuk menjamin pasokan dan stabilitas harga gula, perlindungan terhadap industri gula dalam negeri, petani tebu dan konsumen, perlu mengatur perdagangan gula antar pulau. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menunjang pelaksanaan tata niaga impor gula serta untuk menjamin pasokan dan stabilitas harga gula, perlindungan terhadap industri gula dalam negeri, petani tebu dan konsumen. Pada bulan Mei tahun 2004, peraturan No. 61/MPP/Kep/II/2004 diubah degnan menggunakan Peraturan No. 334/MPP/Kep/V/2004. Perubahan ini dikarenakan untuk encapai tujuan dan sasaran pengaturan perdagangan gula antar pulau sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 61/MPP/Kep/2/2004 tentang Perdagangan Gula Antar Pulau dan untuk lebih memudahkan pendistribusian gula sesuai dengan penggunaan dan atau pemanfaatannya, dipandang perlu mengubah beberapa ketentuan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri dimaksud. Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan dan sasaran pengaturan perdagangan gula antar pulau dan untuk lebih memudahkan pendistribusian gula sesuai dengan penggunaan dan atau pemanfaatannya.
Selain pemerintah mengatur perdagangan gula antar pulau, pada tahun 2004 pemerintah juga mengeluarkan Peraturan No.57/2004. Peraturan tersebut merupakan kebijakan yang terkait dengan penetapan gula sebagai barang dalam pengawasan. Kebijakan ini didasarkan karena gula merupakan komoditas yang mempunyai nilai strategis bagi ketahanan pangan dan peningkatan pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia sehingga diperlukan kebijakan yang bersifat pengawasan terhadap Komoditas tersebut. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan program pemerintah untuk menciptakan swasembada gula dan meningkatkan pendapatan petani tebu.
Pada tahun tersebut terjadi kasus pengadaan gula yang berasal dari impor secara tidak sah dan telah menimbulkan kerugian yang sangat besar pada pendapatan petani tebu/produsen gula dalam negeri. Sehingga pemerintah harus mengeluarkan kebijakan terkait penanganan gula impor yang tidak sah. Kebijakan tersebut adalah Peraturan No.58/2004 yang berisi penanganan gula yang diimpor secara tidak sah, bertujuan untuk mewujudkan program swasembada gula dan
56 meningkatkan pendapatan petani tebu. Selain adanya peraturan mengenai penanganan gula impor yang tidak sah, pada tahun 2004 pemerintah juga mengeluarkan Peraturan No. 527/MPP/Kep/IX/2004 yang berisikan ketentuan impor gula.
Kebijakan ini didasari oleh momentum pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan dan peningkatan pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia serta menciptakan swasembada gula dan meningkatkan daya saing serta pendapatan petani tebu dan industri gula, sehingga perlu diambil upaya untuk menjaga pasokan gula sebagai bahan baku dan konsumsi yang berasal dari impor. Terjadi perubahan sebanyak dua kali untuk peraturan ini yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan No. 02/M/Kep/XII/2004 dan Peraturan No.18/M-DAG/PER/IV/2007. Pada Peraturan No. 02/M/Kep/XII/2004 berisikan perubahan dari Peraturan No. 527/MPP/Kep/IX/2004, alasannya adalah dalam rangka mewujudkan efektivitas kebijakan serta kelancaran pelaksanaan importasi gula, khususnya berkenaan dengan importasi gula kristal putih (Plantation White Sugar), dipandang perlu untuk lebih memperhatikan kondisi dan kelaziman yang berlaku di bidang pergulaan internasional yang menyangkut perhitungan bilangan ICUMSA atas gula kristal putih (Plantation White Sugar). Untuk itu perlu dilakukan perubahan bilangan ICUMSA Gula Kristal Putih (Plantation White Sugar) yang dapat diimpor sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 7 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 527/MPP/Kep/9/2004 tentang Ketentuan Impor Gula.
Kemudian pada tahun 2007 pemerintah mengeluarkan Peraturan No. 18/M-DAG/PER/IV/2007 yang mengubah Peraturan No. 527/MPP/Kep/IX/2004 dengan alasan bahwa terjadi perkembangan harga gula Kristal putih di luar negeri saat ini cenderung menurun. Dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan baik petani tebu, industri pengguna gula sebagai bahan baku/penolong maupun masyarakat selaku konsumen gula, maka dipandang perlu dilakukan perubahan atas Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 527/MPP/Kep/IX/2004 tentang Ketentuan Impor Gula yaitu penetapan harga Gula Kristal Putih (Plantation White Sugar) di tingkat petani dengan Peraturan Menteri Perdagangan.
57 Kemudian pada tahun 2008, pemerintah kembali mengubah Peraturan No. 527/MPP/Kep/IX/2004 dengan Peraturan No.19/M-DAG/PER/V/2008. Hal ini dilakukan karena adanya kenaikan harga bahan bakar minyak menyebabkan kenaikan biaya produksi GKP di dalam negeri sehingga harga gula di tingkat petani sebesar Rp.4.900, sebagaimana tercantum pada Peraturan Mendag No.18/M-DAG/PER/4/2007 dipandang tidak sesuai lagi. Untuk melakukan penyesuaian harga di tingkat petani perlu mempertimbangkan upaya efisiensi dan produktivitas (rendemen gula) sesuai dengan program revitalisasi industri gula di dalam negeri. Dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan baik petani tebu, industri pengguna gula maupun masyarakat selaku konsumen, maka dipandang perlu dilakukan perubahan atas Keputusan Menperindag No. 572/MRP/Kep/9/2004 tentang ketentuan impor gula.
Pada tahun 2010, pemerintah mengeluarkan Peraturan N0. 11/M-IND/PER/1/2010 yang berisi perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 116/M-Ind/Perl10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Gula. Latar belakang kebijakan ini adalah pencapaian pengembangan klaster industri gula sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 116/M-IND/PER/10/2009, perlu menyempurnakan Rencana Aksi Revitalisasi Industri Gula sebagaimana dimaksud dalam Peta Panduan yang ditetapkan dengan mengubah Peraturan Menteri dimaksud. Tujuannya adalah untuk mencapai pengembangan klastr industri gula dalam peta panduan. Pada tahun yang sama, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan No.12/M-IND/1/2010 mengenai tim pelaksana rencana aksi revitalisasi industri gula dengan dimensi kebijakannya adalah on farm dan off farm.
Hal ini didasari oleh pelaksanaan Rencana Aksi Revitalisasi Industri Gula sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor. 116/MIND/PER/10/2009 tentang Peta Panduan Klaster Industri Gula yang diubah dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 11 IM-IND/PERI 1 12010 serta evaluasi, pengkajian dan perumusan Peta Panduan dimaksud sesuai dengan ketentuan Pasal 6 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2008, perlu membentuk Tim Pelaksana.
58 Selain Peraturan No.12/M-IND/1/2010, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan No. 20/M-DAG/PER/5/2010 yang berisikan penetapan harga patokan petani gula kristal putih. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh pertama, dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, menciptakan swasembada gula dan meningkatkan daya saing serta pendapatan petani tebu dan industri gula perlu dilakukan upaya untuk menjaga persediaan dan stabilitas harga Gula Kristal Putih. Kedua, untuk melaksanakan ketentuan Pasal 7 ayat (5) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 527/MPP/Kep/9/2004 tentang Ketentuan Impor Gula dan memperhatikan surat Menteri Pertanian selaku Ketua Dewan Gula Indonesia Nomor 97/PP.2010/M/3/2010 tanggal 3 Maret 2010 perihal Usulan Besaran HPP Gula Petani Tahun 2010, perlu menetapkan Harga Patokan Petani (HPP) Gula Kristal Putih (Plantation White Sugar). Ketiga, dalam Penetapan HPP perlu mempertimbangkan upaya peningkatan efisiensi dan produktivitas (rendemen gula) sesuai dengan program revitalisasi industri gula di dalam negeri.
Pada tahun 2011, pemerintah mengeluarkan Peraturan no.19 tahun 2011 yang berisi pengesahan International Sugar Agreement tahun 1992. Peraturan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kerja sama internasional yang berkaitan degan pergulaan dunia dan isu-isu yang terkait dengan gula, serta dalam rangka memajukan industri gula nasional. Kemudian, selain peraturan No.19 tahun 2011 tersebut, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan terkait Penetapan Harga Patokan Petani (HPP) Gula Kristal Putih (Plantation White Sugar) dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, menciptakan swasembada gula, dan meningkatkan daya saing serta jaminan pendapatan petani tebu dan industri gula, perlu dilakukan upaya untuk menjaga persediaan dan stabilitas harga Gula Kristal Putih (Plantation White Sugar).
59