• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Politik Perburuhan Tahun 1970-1990

Dalam dokumen Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990 (Halaman 42-48)

VAKUMNYA GERAKAN SERIKAT BURUH TAHUN 1970-AN

3.1. Latar Belakang Kebijakan Politik Perburuhan Nasional

3.1.1. Kebijakan Politik Perburuhan Tahun 1970-1990

24

Pertimbangan sosial politik dan sosial ekonomi tidak dapat dilepaskan jika berbicara tentang gerakan serikat buruh. Banyak penulis atau pengamat gerakan buruh dalam politik Indonesia selalu mengaitkan gerakan serikat buruh dengan kondisi sosial politik dan sosial ekonomi yang sedang berkembang. Kondisi sosial

Mulai masa inilah seikat burh profressif yang diwakilkan SOBSI di Sumatera Utara diberangus. Sementara korban yang selamat menjadi korban stigma buruk masyarakat dan mengalami ketakutan untuk bangkit lagi.

3.1.1. Kebijakan Politik Perburuhan Tahun 1970-1990

23

Suara independent, Edisi September 1997. 24

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

politik dan sosial ekonomi yang dimaksud adalah pertimbangan lingkungan buruh dalam berbangsa dan bernegara. Pada umumnya, munculnya kegiatan-kegiatan protes buruh merupakan cerminan bahkan reaksi atas kepincangan/ketidakadilan yang mereka alami.

Rezim orde baru yang dijalankan dengan mengutamakan terciptanya stabilitas nasional yang kondusif untuk melaksanakan pembangunan mendorong munculnya tindakan-tinakan represif dari negara. Kondisi ini memberikan kesempatan kepada orde baru untuk melakukan penjarahan politik besar-besaran terhadap hak-hak politik rakyat Indonesia

Pemerintah orde baru yang menjadikan pembangunan sebagai panglima menjadi alat yang digunakan untuk melegitimasi segala tindakan-tindakannya. Untuk keberhasilan pembangunan dan kelancaran proses pembangunan, stabilitas politik dipulihkan dan birokrasi diperketat. Meskipun itu harus mengabaikan hak-hak politikndan ekonomi rakyat serta hak-asasi manusia.

Kebijakan pembangunan ekonomi ini yang diterapkan orde baru mengacu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak disertai dengan pemerataan ekonomi. Kebijakan ini banyak melahirkan ketidakpuasan bagi masyarakat khususnya kelas buruh. Masyarakat kelas bawah sering menjadi korban dari kebijakan pembangunan rezim orde baru, seperti penggusuran-penggusuran, sistem kerja yang mengikat dan memaksa dengan upah rendah sering dialami mereka.

Tidak adanya pemerataan pembangunan yang dilakukan pemerintah orde baru menyebabkan keberhasilan pembangunan hanya dinikmati oleh segelintir orang terlebih yang dekat dengan sumber kekuasaan. Kondisi seperti ini mempertajam

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

tingkat kesenjangan sosial dalam masyarakat. Pembangunan telah menjadi instrumen strategis negara untuk menguasai masyarakat yang secara terus-menerus dipropagandakan di sepanjang fase kekuasaannya. Pembangunan yang dicitrakan sebagai sukses kuantifikasi ekonomi, simbol-simbol fisik yang didasari paradigma pertumbuhan dengan trickle down effect-nya telah gagal menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Sebaliknya justru melahirkan pemusatan modal pada sekelompok elit. Sistem ini berkembang secara terus-menberus karena didukung oleh bekerjanya mekanisme Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) dengan semangat anti demokrasi. Tidak mengherankan jikalau pembangunan juga berhasil menghadirkan ketidakadilan sistem ekonomi dan politik. Isyarat ini tampak dengan munculnya ketimpangan sosial dan politik. Angka kemiskinan yang terus meningkat secara tajam dari tahun ke tahun.

Orde baru di masa Soeharto mengkombinasikan dua strategi yaitu menciptakan stabilitas keamanan dan memacu pertumbuhan ekonomi. Upaya yang dilakukan untuk mencapai ini dengan menempatkan militer sebagai aktor utama. Atas nama pembangunan orde baru aktif mengkampanyekan stabilitas nasional sebagai upaya pencegahan (prefentif) untuk mengamankan hasil-hasil pembangunan dan kekuasaaan politiknya. Konsentrasi kekuasaaan semua lembaga penyelenggara pemerintahan yang dipimpin oleh Soeharto. Sistem seperti ini mengakibatkan terpusatnya keuasaan pada presiden Soeharto dengan sistem pemerintahan yang menoreh kepada otoritarisme.

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Kekuasaaan yang sentralistik dan terlalu besar di tangan eksekutif telah mendorong terjadinya pengerasan (ossification) kekuasaaan dan penyumbatan bagi penyaluran aspirasi yang wajar. Osifikasi kekuasaan pada ujungnya membuat elit politik sama sekali tidak sensitif terhadap perubahan dan dinamika politik dalam masyarakat, tetapi sebaliknya memunculkan tendensi dan pempribadian (personalization) kekuasaan. Karena itu elit menjadi tidak refleksif terhadap kondisi yang ada. Sehingga daya imajinasi dan kreatifitas dalam pengelolaan politik termasuk menejemen konflik, intimidasi, serta ekslusif dalam menyelesaikan konflik lebih disukai ketimbang dialog, persuasi ataupun tindakan-tindakan antisipatif dan preventif.

Upaya-upaya sistematis dan konstitusional yang dipergunakan untuk merampas peran serta rakyat dalam mengelola pemerintahan dengan sengaja diciptakan. Pemasungan hak-hak berpolitik rakyat dapat dilihat dengan diberlakukuannya paket 5 undang-undang politik pada tahun 1985 yang merampas

kedaulatan rakyat. Lembaga-lembaga penyelenggara pemerintahan semakin tidak berfungsi dengan diterapkannya paket 5 undang-undang politik tersebut. Dewan

Perwakilan Rakyat (DPR) yang semestinya berfungsi sebagai lembaga kontrol terhadap pemerintah (eksekutif) tidak dapat menjalankan fungsinya dan hanya menjadi alat yang digunakan pemerintah Soeharto untuk melegitimasi seluruh keinginannya.

Otoritarianisme negara, ketiadaan iklim demokrasi serta meningkatnya kesenjangan sosial menjadi karakteristik politik Indonesia pada pemerintahan orde

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

gan kebijakan pemerintah berusaha untuk diredam, bahkan kalau tidak dihilangkan sama sekali tidak ada tempat untuk oposisi. Kebebasan pers juga tidak akan dijumpai pada masa rezim ini. Pers yang mencoba melakukan kritikan atau pemberitaan yang dianggap menyudutkan pemerintah harus berhadapan dengan sikap represif pemerintah dan tidak jarang terjadi pembredelan terhadap media massa.

Dalam pemerintahan orde baru, negara mengambil kebijakan pengkamplingan politik (political segregation) terhadap kelompok-kelompok masyarakat baik pada tataran simbolik maupun sebagai alat kontrol korporatisasi dan kooptasi pada tataran kelembagaan. Pengkaplingan inilah yang kemudian menghasilkan wacana-wacana, kebijakan-kebijakan dan praktek-praktek politik diskriminatif terhadap warga negara sehingga hak-hak asasi politik mereka terabaikan. Contoh-contoh pengkaplingan yang paling kasat mata adalah pelarangan, pembatasan-pembatasan dan eksekusi terhadap mereka yang telah dicap radikal atau membahayakan kepentingan nasional. Hal ini dilakukan terhadap individu maupun kelompok seperti bekas tokoh partai terlarang (PKI, Masyumi, PSI dan lain-lain).25

Kombinasi dari pemusatan kekuasaan yang berlebihan dan kegagalan lembaga-lembaga politik untuk menunaikan fungsinya sebagai pelindung dan pemenuhan kepentingan masyarakat luas mendorong buruh untuk bangkit melakukan perlawanan. Kegagalan Dewan Perwakilan Rakyat untuk mengartikulasi

Ketidakberdayaan rakyat sebagai akibat operasi politik, hukum dan sistem ekonomi telah mendorong semakin akutnya persoalan sosial.

25

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

ketidakpuasan sosial masyarakat merupakan penyebab munculnya gerakan buruh pada era 1990an.

Dalam dunia buruh, sistem politik yang cenderung represif menyebabkan buruh mencari format baru untuk mewadahi kegiatan mereka. Era ini mencatat pembentukan kelompok buruh alternatif, lembaga swadaya masyarakat dan komite-komite aksi. Berbeda dengan kemunculan organisasi buruh tunggal SPSI, kelompok-kelompok ini muncul karena organisasi formal tidak dapat menarik minat buruh untuk terlibat secara aktif, sedangkan wadah-wadah alternatif tersebut memberikan kesempatan kepada buruh yang sadar politik untuk berpartisipasi.

Sementara itu penghancuran gerakan komunis oleh militer pada tahun 1965-1966 mendapatkan respon yang sangat positif dari negara-negara Barat. Tahun 1967 dalam pertemuan Paris Meeting beranggotakan yang beranggotan Jepang, Jerman Barat, Australia, Amerika Serikat, Perancis, Italia, Belanda, Inggris, Swiss dan Selandia Baru melakukan penjadwalan ulang hutang Indonesia sebesar US$ 2,4 Milyar dimana separuhnya adalah hutang ke negara-negara Barat sementara separuh adalah hutang ke negara Eropa Timur dan Uni Soviet. Hutang tersebut sedianya harus dibayarkan pada tahun 1968, namun keputusan pertemuan tersebut menunda pembayaran hingga tahun 1979.

Pada 10 Januari 1967 pemerintah menetapkan berlakunya undang-undang nomor 1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing. Hal ini dilanjutkan dengan pembentukan badan pertimbangan penanaman modal asing pada 19 Januari 1967. sedangkan sebagai kelanjutan pertemuan Tokyo pada bulan September 1966 maka dilakukan lagi pertemuan di Amsterdam pada tanggal 23-24 Februari 1967 untuk

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

membentuk sebuah badan pemberian pinjaman yang dikenal dengan sebutan Inter governmental Group for Indonesia (IGGI). Dalam pertemuan ini juga disepakati pemberian bantuan sebesar US$ 325 juta kepada Indnesia.26

1. Gerakan buruh harus sama sekali lepas dari kekuatan politik apapun

Sejak masuknya pinjaman dan investasi swasta asing ke Indonesia, maka dibukalah kawasan-kawasan industri di darah-daerah. Tentu saja berbagai penghargaan positif kepentingan kapitalis ini menuntut realisasi stabilitas kehidupan politik sehingga pemerintah melakukan hal-hal sebagai berikut:

Dalam dokumen Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990 (Halaman 42-48)

Dokumen terkait