• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990 (Halaman 65-78)

5.1. Kesimpulan

Secara umum gerakan serikat buruh di Medan antara tahun 1970-1990 telah mengalami kevakuman sepanjang 2 dekade. Hal ini diakui oleh elemen dan pendukung gerakan maupun oleh kalangan yang berada di luar gerakan. Bahkan gerakan serikat buruh dianggap tidak mampu memfungsikan dirinya sebagai wadah perjuangan kaum buruh untuk memperoleh hak-hak ekonomi dan politiknya.

Pandangan ini bisa dibuktikan secara sistematis dan obyektif. Banyak muncul fakta-fakta yang melahirkan dan menguatkan pandangan tersebut. Sejak Orde Baru berkuasa, politik perburuhan didominasi oleh warna korporatis dengan kebijakan-kebijakan perburuhan yang represif untuk mengendalikan serikat buruh yang membuahkan serikat buruh yang kompromis. Meskipun ada dinamika yang memunculkan riak-riak yang berbeda, dan memandang dari permukaan, secara umum hampir sepanjang Orde Baru praktis tak ada yang dapat disebut sebagai kritis dan progresif yang dilakukan oleh serikat buruh. Namun pengamatan yang sedikit lebih mendalam memperlihatkan justru dalam tekanan, bibit-bibit gerakan terus disemai dan tumbuh dan merupakan penyumbang bagi bergeliatnya gerakan serikat buruh di masa-masa setelahnya hingga kini.

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Kebijakan pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi yang bertumpu pada investasi asing dan didukung oleh pengendalian serikat buruh adalah kerangka dominan yang membingkai ruang gerak gerakan serikat buruh selama Orde Baru berkuasa hingga senjakalanya. Ketika rezim Orde Baru berganti, tumpuan pada investasi asing semakin besar meskipun pengendalian terhadap serikat buruh sangat dikendurkan oleh negara akan tetapi secara sistematis dilemahkan oleh modal dengan difasilitasi oleh pemerintah. Dengan kata lain modal adalah penentu utama, bila tidak satu-satunya, pengkondisian arena gerakan serikat buruh di Medan sejak awalnya. Mencermati perkembangan situasi perburuhan selama periode, berikut ini adalah ciri-ciri yang muncul:

Pertama, terjadi penurunan gerakan serikat buruh yang sangat drastis baik

secara kualitas dan kuantitas. Secara kuantitas hampir tidak ada gerakan progresif berupa aksi protes buruh yang secara frontal dan tegas menyatakan ketidakpuasan terhadap setiap pengekangan pemerintah terhadap pelanggaran secara sistematis atas hak ekonomi, sosial dan politik mereka. SPSI Medan sebagai bentukan dan setiran pemerintah orde baru justru lebih bersifat kompromis terhadap pemerintah bahkan hanya berfungsi sebagai mesin pendulang suara bagi Golkar (sehingga sering disebut serikat buruh kuning). Hal ini sangat jauh berbeda dengan gerakan buruh periode sebelum tahun 1970 yang ktitis dan responsif terhadap kebijakan pemerintah dan mempunyai kekuatan politik untuk menentukan kebijakan nasional terutama yang berkaitan dengan perburuhan. Dimana selalu direspon dengan gerakan aksi mogok besar-besaran. Sementara secara kuantitas, tidak ada tuntutan serikat buruh yang

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

terpenuhi karena kuatnya pressure (tekanan) terhadap serikat buruh melalui aksi dan tekanan politik. Kenyataan yang terjadi, serikat buruh justru hanya sebagai organisasi yang patut “dikasihani” dan selalu bersifat menunggu keputusan pemerintah terhadap nasib mereka. Apalagi adanya kondisi yang tidak seimbang antara tripatrit (pemerintah, pengusaha dan buruh, dimana pemerintah selalu berpihak kepada pengusaha daripada kepada buruh. Sikap ini diambil tentunya guna memperlancar investasi dan penanaman modal asing. Pengusaha membutuhkan tenaga buruh yang terampil dan murah.

Kedua, terjadi perubahan orientasi perjuangan serikat buruh. Gerakan

serikat buruh yang dulunya tidak hanya bersifat ekonomi tetapi juga bersifat politik dan mempunyai posisi tawar (bargaining), pada periode 1970-1990 malah berubah ke orientasi ekonomi saja.

Berbagai kebijakan pemerintah sangat mempengaruhi keadaan ini. Terbitnya peraturan seperti Permen (Peraturan Menteri) No. 342/1986 tentang intervensi militer sebagai perantara dalam perselisihan perburuhan, Permen No. 1108/1986 tentang keharusan kalau terjadi perselisihan perburuhan supaya diselesaikan terlebih dulu dengan atasan langsung, sebelum lewat perantara atau P4, Permen No. 1109/1986 tentang pembentukan UK (Unit Kerja) di perusahaan harus melibatkan pengusaha, Permen No. 04/1986 tentang pemberian ijin kepada majikan untuk merumahkan buruh sewaktu-waktu tanpa menunggu P4 sangat melemahkan orientasi gerakan serikat buruh. Masuknya militer dalam struktural serikat buruh juga sangat melemahkan orientasi gerakan serikat buruh ini.

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Kebijakan SPSI sebagai serikat buruh tunggal yang diakui dan didukung oleh pemerintah adalah kebijakan yang sentralistik. Meskipun mempunyai sturuktur hingga ke daerah namun tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar buruh. SPSI Medan tidak berdaya dengan mekanisme ini. Segala ketidakpuasan buruh terhadap pemerintah dan gejala-gejala aksi sudah terlebih dahulu diatur oleh pusat.

Dalam keadaan seperti inilah beberapa elemen masyarakat yang kritis mencoba mencari wadah lain (wasah alternatif) dalam memperjuangkan buruh dan kelas masyrakat yang termarjinalkan di Sumatera Utara. Mereka hadir sebagai solusi lain sekaligus sebagai bentuk protes dan reaksi terhadap SPSI Medan yang dianggap telah gagal menjalankan fungsinya sebagai wadah perjuangan kaum buruh.

Munculnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau biasa disebut juga Organisasi Non Pemerintah (Ornop) memiliki arti penting sebagai sarana penghubung, penyadar, sekaligus sebagai `alat kontrol' dalam proses pembangunan Ornop sendiri muncul karena kesadaran akan arti penting nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab pembangunan. Bila demikian halnya, keberadaan Ornop memungkinkan tumbuhnya kesadaran akan nilai asasi manusia yang didudukan sejajar dengan proses pembangunan. Bantuan pembangunan kepada NGO pada tahun 1970-an ke atas lahir bersamaan dengan mengalirnya bantuan asing dan utang seiring dengan dekade modernisasi dan pertumbuhan ekonomi negara dunia ketiga.

Sebagai Organisasi non pemerintah, lembaga-lembaga ini tentunya mempunyai beberapa keleluasaan bertindak. Hal ini tidak terlepas dari kompossis dan kapasitas orang yang ada di dalamnya, kemandirian dalam hal pendanaan dan kekuatan jaringan secara lokal, nasional bahkan internasional.

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Memang harus diakui, gerakan yang dibangun oleh beberapa LSM di Medan mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Gerakan yang pernah dilakukan tidak sebanding dengan gerakan serikat buruh masa orde lama di Medan terutama yang diperankan oleh SOBSI dan SARBUPRI. Namun, terlepas dari pencapaian yang tidak sebanding itu, ada satu fakta yang tidak dapat disangkal dan dapat dijadika pelajaran adalah bahwa gerakan kritis membela hak-hak ekonomi-politik akan tetap ada serepresif apapun tindakan yan dilakukan untuk menghalanginya. Gerakan itu pada akhirnya akan mencari dan menemukan bentuk-bentuk sebagai alternatifnya.

5.2. Saran

Buruh adalah salah satu elemen masyarakat yang sangat potensial dan sangat menentukan nasib negara ini ke depan. Setiap zaman membuktikan bahwa potensi buruh yang sangat besar ini berpeluang untuk mengubah ataupun mempertahankan

status quo. Pemerintah sebagai perwujudan dari negara benar-benar menyadari ini.

Hal inilah yang mendorong penentuan nasib serikat buruh yang sangat tergantung kepada pemerintah. Iklim politik dan peraturan perundang-undangan tentang hubungan industrial (upah, kebebasan berpendapat dan berserikat dll) yang pernah dibuat sangat menentukan nasib buruh dan serikat buruhnya. Oleh karena itu saya menyarankan:

1. Memulai untuk menulis sejarah-sejarah dengan persfektif yang ilmiah dengan berangkat dari teori-teori dan fakta yang kredibel. Buku-buku sejarah yang diterbitkn harus objektif sehingga proses pelurusan sejarah dapat berjalan dan menghasikan insan-insan yang sadar sejarah serta menghargai sejarahnya.

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Untuk itu perlu sikap jujur dalam mengungkapkan data dan fakta yuan ada pada setiap peristiwa yang diteliti.

2. Memulai penulisan sejarah yan aplikatif dan berdayaguna langsung kepada masyarakat. Dengan kajian perburuhan yang objektif, nasib buruh yang hampir selama 20 tahun yang lalu dan sampai sekarang masih tertindas hak-hak dasar dan normatifnya maka perlu adanya peran negara. Negara harus bertanggung jawab atas matinya dan terabaikannya hak-hak ekonomi dan sosial politik buruh. Perlu adanya pelurusan sejarah sebagai salah satu dasar untuk dapat meninjau ulang peraturan-peraturan perburuhan yang merugikan buruh sampai saat ini.

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Daftar Pustaka Buku

________2002. Jalan Panjang Menuju Demokrasi; Buku Foto Gerakan Masyarakat

Sipil di Indonesia (1965-2001, Jakarta: Yappika.

Cahyono, Edi, 2003. Zaman Bergerak di Hindia Belanda: Mozaik Bacaan Kaoem Buruh Tempo Doeloe, Jakarta: Yayasan Pancur Siwah.

Sepdikbud, 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Jakarta: Balai Pustaka. Edman, Peter, 2005. Komunisme Ala Aidit: Kisah PKI di Bawah Kepemimpinan

D.N. Aidit 1950-1965, Jakarta: Center For Information Analysis.

Gie, Soe Hok, 1990. Di bawah Lentera Merah, Riwayat Sarekat Islam Semarang

1917-1920, Jakarta: Frantz Fanon Foundation.

Gottschalk, Louis, 1985. Understanding History : A Primer of Historical Method, Nugroho Notosusanto ( terj. Mengerti Sejarah), Jakarta : UI Press.

Hasibuan, Syaiful Jalil, 1985. Sejarah Konstitusi ILO dan FBSI, Medan, Fakultas Hukum USU.

Iskandar, Muhaimin, 2004. Membajak di Ladang Mesin, Semarang: Yawas. Kuntowijoyo, 2005. Pengantar Ilmu Sejarah, Yokyakarta: PT. Bentang Pustaka. Luxemburg, Rosa, Pemogokan Massa, Yokyakarta: Gelombang Pasang, 2000.

Markas Besar ABRI, 1991. Bahaya Laten Komunis di Indonesia: Perkembangan

Gerakan dan Penghianatan Komunisme di Indonesia (1913-19480,

Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI.

M.fic, Victor, 2005. Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi, Jakarta: yayasan Obor Indonesia.

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Moestafa, 1981. Sekilas Gerakan Buruh di Indonesia, Medan: Fakultas Hukum USU. Nadia, Ita F, tanpa tahun. Suara Perempuan Korban Tragedi 1965, Yokyakarta,

Galang Press.

Reid, Antoniy, Perjuangan rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera, Jakarta: CV. Muliasari, 1987.

Ricklefts, M.C, Darmono Hardjowidjono (pnj.), 2005. Sejarah Indonesia Modern, Yokyakarta: Gajah Mada University Press.

Sanit, Arbi, 2008. Sistem Politik Indonesia: Kestabilan Peta Kekuatan Politik dan

pembangunan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soekarno,1979. Pembaharuan Gerakan Buruh Indonesia dan Hubungan Perburuhan

Pancasila, Bandung: Alumni.

Sudjana, Eggi, 2000. Bayarlah Upah Buruh Sebelum Keringatnya Kering, Jakarta: PPMI.

Sujono, Imam, 2006. Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, Yokyakarta: Resist Book.

Sudono, Agus, 1981. FBSI Dahulu, Sekarang dan yang akan Datang, Jakarta.

Susetiawan, 2000. Konflik Sosial: Kajian Sosiologis Hubungan Buruh, Perusahaan

dan Negara di Indonesia, Yokyakarta: Pustaka Pelajar.

Tohah, Haliti dan Hari Pramono (ed.), 1987. Hubungan Kerja Antara Majikan dan

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Majalah dan Makalah

1. Berita Yudha, 24 november 1967 2. Prisma 7 Juli 1996 hal. 35.

3. Suara independent, Edisi September 1997.

4. DS, Soegiro dan Edy Cahyono, Gerakan Serikat Buruh: Zaman Kolonial, Hindia Belanda hingga Orde Baru, tanpa tahun terbit

5. Agnes Widanti, "Buruh di Sektor Industri Dalam Perdagangan Global", Semarang, 27 Maret 1997.

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Daftar Pertanyaan Wawancara

1. Apa sebenarnya yang terjadi pada tahun 1965? 2. Bagaimana situasi politik sekitar tahun 1965?

3. Bagaimana dampak peristiwa ini terhadap anggota-anggota PKI Medan serta organisasi kiri lainnya (SOBSI, BTI, Gerwani dan lain-lain)?

4. Bagaimana sebenarnya kebijakan perburuhan nasional sehingga menyebabkan vakumnya gerakan serikat buruh (SPSI) di Medan?

5. Bagaimana latar belakang munculnya LSM yang membela hak-hak normatif buruh di Medan?

Tongam Panggabean : Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990, 2009.

Daftar Informan

1. Nama : Jiman Karo-Karo Usia : 76 tahun

Alamat : Jl. Bunga Ncole, Pancurbatu, Medan Jabatan : Ketua Partindo (Partai Indonesia), Dairi Anggota DPRD Dairi (Ketua komisi C)

2. Nama : Muchtar Pakpahan Usia : 56 tahun

Alamat : Pulo Mas Jakarta Timur

Jabatan : Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Partai Buruh Sosial Demokrat

Partai Buruh

3. Nama : Benget Silitonga Usia : 38 tahun

Alamat : Jl. Air Bersih nomor 42 Medan Jabatan : Aktivis KSAP

Dalam dokumen Gerakan Serikat Buruh Di Medan 1971-1990 (Halaman 65-78)

Dokumen terkait