• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam menghadapi beragam permasalahan, seorang pemimpin diharuskan membuat pertimbangan kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan publik yang beragam dan kompleks.

Permasalahan publik yang beragama dan kian kompleks, lebih membutuhkan perhatian ekstra pemerintah, untuk memilah mana permasalahan rutin dan klasis, serta mana permasalahan publik yang yang tidak lazim/fenomenal menantang program pelaksanaan pembangunan.

Menghadapi permasalahan yang tidak lazim/fenomenal, pemerintah dituntut secara ―cepat‖ dan dengan ―kecermatan‖ untuk mengidentifikasi dan menganalisa setiap permasalahan, untuk selanjutnya menentukan ketepatan metode yang bisa digunakan dalam hal menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Analisa kebijakan permasalahan yang dilakukan secara cepat dan cermat, akan melahirkan solusi kebijakan yang tepat juga.

Masyarakat merupakan lahan/basis kepentingan secara individu maupun kelompok. Dalam konteks ini, Bourdieu menggunakan istilah dengan sebutan ―arena‖. Pada arena ini, setiap agen tidak bertindak dalam ruang hampa, melainkan di dalam situasi sosial riil yang diatur oleh seperangkat relasi sosial yang obyektif. Pembentukan relasi sosial apapun, selalu distrukturkan melalui rangkaian ―arena‖ yang terorganisasi secara hirarkis (arena ekonomi, arena pendidikan, arena politik, arena kultur dll). Setiap ―arena‖ memiliki defenisi, struktur dan berbagai kaidah dengan tujuan dan fungsi masing-masing dengan relasi kekuasaannya sendiri. Bourdieu mendefinisi ―arena‖ adalah suatu konsep dinamis di mana perubahan posisi agen mau tak mau menyebabkan perubahan struktur ―arena‖. Dalam ―arena‖ apapun, agen-agen yang menempati berbagai macam posisi yang tersedia (atau yang menciptakan posisi-posisi baru), terlibat di dalam kompetisi

67 memperebutkan kontrol kepentingan dan sumber daya yang khas dalam ―arena‖ bersangkutan46.

Pemerintah dalam relasi negara dan masyarakat harus menempati posisi keberpihakan pada masyarakat. Posisi pemerintah menjadi sangat penting, karena kedaulatan rakyat telah dititipkan kepada pemerintah dan mengakibatkan pemerintah memiliki ―kekuasaan dan kewenangan‖. Kekuasaan adalah kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimiliki seseorang atau kelompok orang untuk memengaruhi pihak lain, sehingga pihak lain (yang dipengaruhi) berprilaku sesuai dengan kehendak atau keinginan pihak yang memengaruhi ini.47 Di sinilah, terletak perbedaan yang cukup mendasar antara kekuasaan (power) dan kewenangan (authority). Jika setiap kemampuan untuk memengaruhi pihak lain dinamakan kekuasaan, maka kewenangan lebih menekankan pada legalitas dari pengaruh yang ada pada diri seseorang atau kelompok orang tersebut. Kewenangan lebih diartikan sebagai kekuasaan yang melekat pada diri seseorang atau sekelompok orang yang telah mendapat dukungan dari masyarakat yang dikuasainya (legalized power)48. Dalam setiap situasi dan hubungan kekuasaan, terdapat tiga unsur yang terlibat di dalamnya, yaitu: pertma, tujuan dari kekuasaan; kedua, cara penggunaan sumber-sumber pengaruh; dan ketiga, hasil penggunaan sumber-sumber pengaruh. Adapun ciri-ciri kekuasaan yang merupakan penjabaran dari ketiga unsur ini di antaranya adalah: 1) kekuasaan adalah hubungan antar manusia (interaksi sosial); 2) pemegang kekuasaan memengaruhi pihak lain; 3) pemegang kekuasaan bisa seorang individu, sekelompok orang, kelompok sosial, kelompok budaya, atau juga pemerintah; 4) sasaran kekuasaan (yang dipengaruhi) bisa berupa individu, kelompok atau pemerintah; 5) seorang yang mempunyai sumber-sumber kekuasaan, belum tentu mempunyai kekuasaan. Hal ini tergantung pada penggunaan sumber-sumber ini; 6)

46 Arena Reproduksi Kultural - Sebuah Kajian Sosiologi Budaya (judul asli: The Field of Cultural

Production) Essay on Art and Literature – Colombia University Press, 1993. Penulis : Pierre Bourdieu. Diterjemahkan oleh: Yudi Santoso cetakan keempat, November 2016. Kreasi wacana Perum Sidorejo Bumi Indah.hlm.xvii.

47 Dasar-dasar ilmu politik, Ramlan Surbakti. Surabaya, Airlangga University Press 1984.hlm.34. 48 Sosiologi Suatu pengatar. Soerjono Soekanto. edisi kedua Jakarta Rajawali Pers,1986,hlm,242.

68

penggunaan sumber-sumber mungkin melibatkan paksaan, konsensus, atau kombinasi, hal ini tergantung dari; (a) prespektif moral, apakah tujuan kekuasaan yang hendak dicapai itu baik atau buruk; (b) hasil penggunaan sumber-sumber itu dapat meng-untung-kan seluruh masyarakat, atau hanya meng-untung-kan sekelompok kecil masyarakat, hal itu tergantung pada, ada tidaknya distribusi (pembagian) kekuasaan yang relatif merata dalam masyarakat; (c) pada umumnya kekuasaan ada yang bersifat politis yang mempunyai makna bahwa sumber-sumber itu digunakan dan dilaksanakan untuk masyarakat umum, dan ada pula bentuk kekuasaan yang bersifat pribadi yang cenderung digunakan untuk kepentingan sebagian kecil masyarakat; (d) kekuasaan yang beraspek politik adalah penggunaan sumber-sumber untuk memengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik49.

Dari konsep tersebut, dapat diketahui bahwa penggunaan kekuasaan selalu identik dengan kekerasan dan pemaksaan.

Penentu kebijakan publik

Secara umum, istilah ―kebijakan‖ atau ―policy‖ digunakan untuk menunjuk perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok, maupun suatu lembaga pemerintah) atau sejumlah aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu. Menurut Charles O. Jones, istilah kebijakan (policy term) di samping digunakan dalam praktik sehari-hari, juga digunakan untuk menggantikan kegiatan atau keputusan yang sangat berbeda. Istilah sering dipertukarkan dengan tujuan (goals), program, keputusan, (decision), standard, proposal, dan grand design. 50

Robert Eyestone mengatakan bahwa ―secara luas‖, kebijakan publik dapat didefinisikan sebagai ―hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya‖. Thomas R. Dye mengatakan bahwa kebijakan publik adalah ―apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan‖. Dalam bukunya:

49 Ramdan Surbakti, Op, cit., hlm. 34,35.

50 Kebijakan Publik Era Globalisasi oleh Budi Winarno, CAPS (center of Academic Publising

69 ―What Government Do, Why They Do It, What difference It Maker, Dye dengan tegas mengatakan bahwa kebijakan publik

adalah― studi tentang apa yang dilakukan oleh pemerintah, mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut, dan apa

akibat dari tindakan tersebut‖? Pendapat Dye ini selaras dengan

yang dilakukan oleh Heidenheimer, at, al., 1930 : 1), bahwa

kebijakan publik merupakan studi tentang ―bagaimana, mengapa,

dan apa konsekwensi dari tindakan aktif (action) dan pasif (in- action) pemerintah‖.

Richard Rose menyarankan bahwa kebijakan hendaknya dipahami sebagai ―serangkaian kegiatan yang sedikit banyak berhubungan beserta konsekwensi-konsekwensi-nya bagi mereka yang bersangkutan, ketimbang sebagai suatu keputusan tersendiri‖. Definisi ini sebenarnya bersifat ambigu, namun definisi ini berguna karena kebijakan dipahami sebagai arah atau pola kegiatan dan bukan sekedar suatu keputusan untuk melakukan sesuatu.51

Carl Friedrik, ia memandang kebijakan sebagai

―suatu arah tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok

atau pemerintah, dalam suatu lingkungan tertentu, yang memberikan hambatan-hambatan dan peluang-peluang, terhadap kebijakan yang diusulkan, untuk menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan, atau merealisasikan suatu

sasaran, atau suatu maksud tertentu‖.

Amir Santoso dengan komparasi berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli, yang menaruh minat dalam bidang kebijakan publik, menyimpulkan bahwa pada dasarnya pandangan mengenai kebijakan publik dapat dibagi dalam dua wilayah kategori. Pertama, pendapat ahli yang dapat menyamakan kebijakan publik dengan tindakan-tindakan pemerintah. Para ahli dalam kelompok ini cenderung menganggap bahwa, semua tindakan pemerintah dapat disebut sebagai kebijakan publik. Kedua, para ahli yang tergabung dalam pandangan ini juga terbagi dalam dua kubu, yakni mereka yang memandang kebijakan publik sebagai keputusan-keputusan pemerintah yang mempunyai tujuan dan maksud-maksud tertentu, dan

51 Kebijakan Publik Era Globalisasi oleh Budi Winarno, CAPS (center of Academic Publising

70

mereka yang menganggap kebijakan publik memiliki akibat-akibat yang bisa diramalkan. Para ahli yang termasuk dalam kubu yang pertama melihat kebijakan publik dalam tiga dominan, yakni; perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan dan penilaian. Dengan kata lain, menurut kubu ini kebijakan publik secara ringkas dapat dipandang sebagai proses perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan. Ini berarti, bahwa kebijakan publik adalah ―serangkaian instruksi dari para pembuat keputusan kepada pelaksanaan kebijakan yang menjelaskan tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut‖. Sedangkan kubu kedua lebih melihat kebijakan publik terdiri dari ―rangkaian keputusan dan tindakan‖. Kubu kedua ini diwakili oleh Presman dan Wildavsky yang mendefinasikan kebijakan publik sebagai suatu hipotesis yang mengandung kondisi-kondisi awal dan akibat- akibat yang bisa diramalkan.52

Membangun dan menghargai yang lokal

Dengan mudahnya masyarakat diyakini dengan ungkapan dan pernyataan-pernyataan; ―masyarakat seharusnya berswadaya‖, ―seharusnya ada lebih banyak pemberdayaan pada tingkat akar rumput‖, atau ―rakyat seharusnya mampu menentukan masa depan mereka sendiri‖. Tetapi mungkin mudah menyatakan retorikan tersebut, gagasan itu sendiri ketika ditempatkan ke dalam praktik adalah sangat radikal, dan bagi banyak orang membutuhkan suatu perubahan cara berpikir yang besar (Salleh, 1997). Gagasan itu berlawanan dengan banyak pandangan dominan yang diterima sekarang yang inheren dalam pembuatan kebijakan dalam manejemen program, terutama dalam tradisi barat53.

Para pekerja masyarakat menghadapi godaan yang lazim terjadi pada semua pekerja layanan kemanusiaan: mereka mengasumsikan bahwa entah bagaimana mereka adalah ―para ahli‖ dengan pengetahuan khusus untuk dibawa kepada masyarakat, dan digunakan

52 Kebijakan Publik Era Globalisasi oleh Budi Winarno, CAPS (center of Academic Publising

Service) Yogyakarta 2016.hlm. 20,21.

53 Community Development: Alternatif pengembangan Masyarakat Di Era Globalisasi. Jim Ife dan

Frank Tesoriero (penerjemah Sastrawan Manulang dkk). Pustaka Pelajar Yogyakarta 2016.hlm.242.

71 untuk ―menolong‖ dengan suatu cara. Ke-ahli-an khusus, di antara segalanya, merupakan satu-satunya klaim atas keabsahan yang dapat dimiliki para pekerja masyarakat. Tidak ada keraguan bahwa para pekerja masyarakat seringkali benar-benar mempunyai pengetahuan spesialis, tetapi mengistimewakan pengetahuan ini, dengan demikian mendevaluasi pengetahuan lokal masyarakat adalah antitesis dari pengembangan masyarakat. Menghargai pengetahuan lokal adalah sebuah komponen esensial dari setiap kerja pengembangan masyarakat, dan ini dapat dirangkum dengan frasa ―masyarakat yang paling tahu‖. Masyarakat lokal-lah yang memiliki pengetahun, kearifan dan keahlian ini, dan peran pekerja masyarakat adalah, untuk mendengar dan belajar dari masyarakat, bukan mengajari masyarakat tentang problem dan kebutuhan mereka (Holland & Blackburn 1998).

Patut disayangkan, biasanya bukan para anggota masyarakat lokal yang tampaknya memiliki ―keahlian‖. Gagasan menjadi seorang ahli biasanya lebih diterapkan kepada orang yang telah menjalani kursus pendidikan formal tertentu, yang memiliki gelar atau yang merupakan anggota dari suatu kelompok profesi yang dikenal (Chambers, 1993). Faktor lain yang memberi kontribusi pada penurunan nilai pengetahuan lokal adalah cara ―pengetahuan‖ dimengerti dalam lingkup wacana arus utama. Paradigma positivisme, yang menghargai pengetahuan yang objektif, ilmiah, dapat diuji dan diukur, telah dominan dalam banyak disiplin akademik, sampai tingkat yang seringkali tidak dipertanyakan, dan ini berarti pengetahuan yang bebas dari konteksnya, dapat diterapkan secara universal dan sah secara universal (Fey 1975). Orang-orang pribumi dari seluruh dunia terus menerus menekankan kepentingan bentuk-bentuk lain dari ―pengetahuan‖—spiritualitas, kekuatan gaib, kecantikan, alam, dongeng dan pengetahuan tentang wilayah (Knudston & Suzuki, 1992)—dan hal ini juga menggema dengan pengalaman intuitif dari banyak non pribumi, yang menyadari bahwa; musik, seni, teater, puisi, gunung-gunung, laut, hutan, binatang, tarian, cinta, tawa, permainan

72

dan cerita rakyat, dapat menjadi pembawa ―pengetahuan‖ yang penting, dengan cara yang menentang penyimpanan digital54. Visi versus mimpi realita tersembunyi dalam diri manusia

Dua hal yang terkadang membingungkan masyarakat dalam menggunakan istilah visi dan mimpi. Dalam penggunaan kedua kata, visi dan mimpi, orang lebih suka menggunakan visi, khususnya pada lingkaran manusia yang memiliki status sosial yang jauh lebih baik dari mereka yang status sosialnya dianggap jauh dari konteks kehidupan modern. Pada manusia yang lingkaran hidupnya berada pada lingkaran sosial yang jauh dari kehidupan modern, ide-ide mereka lebih cocok disebut sebagai mimpi.

Penulis mencoba mencocokan pengertian dua istilah ini (visi dan mimpi) berdasarkan penjelasan KBBI, ditemukan bahwa: visi merupakan ―kemampuan melihat pada inti persoalan, atau apa yang tampak dalam ―khayal‖ yang berhubungan dengan ―penglihatan‖ dan ―pengamatan‖, sementara mimpi merupakan sesuatu yang ―terlihat‖ atau ―dialami‖ di ―tidur‖, bisa juga disebut ―angan-angan‖, dari kata dasar ―mimpi‖ jika diberi awalan ―ber‖ menjadi ―bermimpi‖ maka pengertiannya akan menjadi ――melihat‖ atau ―mengalami‖ sesuatu di ―mimpi‖ dan atau ―berkhayal‖‖.

Memperhatikan perbedaan kedua istilah tersebut, visi lebih menunjukan pada ―kemampuan melihat pada inti persoalan‖, sementara mimpi lebih menunjukan pada sesuatu yang ―terlihat‖ atau ―dialami‖ di ―tidur‖. Sementara yang membuat kedua istilah tersebut menjadi sama adalah visi masih tetap mendapat kejelasan sebagai kemampuan melihat pada inti persoalan yang masih berupa khayalan atau asumsi, bukan pada sesuatu yang sudah pasti. Hal ini pun sama dengan mimpi yang memberi penekanan pada kemampuan melihat dalam khayalan atau asumsi pula.

54 Community Development: Alternatif pengembangan Masyarakat Di Era Globalisasi. Jim Ife dan

Frank Tesoriero (penerjemah Sastrawan Manulang dkk). Pustaka Pelajar Yogyakarta 2016.hlm.247.

73 Berangkat dari kedua istilah tersebut, secara prinsip masing- masing memiliki perbedaan, namun ada pula kesamaan, karena itu, penggunaannya dalam mewakili kumpulan ide-ide tidak bisa diklaim sepihak, bahwa visi hanya milik kelompok para elitisme dan mimpi hanya menjadi bagian dari masyarakat adatis yang jauh dari sentuhan modernisasi.

Zamaan modernisasi orang lebih condong mengakomodir pikiran-pikiran para elit yang memiliki status sosial terpandang. Wacana mereka tentang pembangunan seakan dipandang merupakan solusi tanpa kendala, bahkan solusi yang mereka tawarkan selalu diberi label ―visi‖. Sementara kumpulan pandangan kaum jelata (tokoh adat dan masyarakat lokal) pemilik negeri dan wilayah adat terkadang dipandang tidak memiliki konsep pembangunan terhadap negerinya sendiri, dan karena itu label kemasan pikiran mereka lebih cocok diberi label ―mimpi‖.

Ada alasan, mengapa pikiran kedua kelompok tersebut diberi label berbeda, hal ini disebabkan karena, label ―visi‖ selalu dihubungkan dengan status sosial (jabatan, pengaruh, strata pendidikan dan dll) dan dianggap pikiran mereka dianggap jauh lebih tauh soal pembangunan. Sementara kumpulan pikiran yang diberi label ―mimpi‖ tidak diakomodir dan diberi ruang selayaknya pada mereka yang memiliki status sosial terpadang. Tanpa disadari dengan danya penggunaan istilah untuk membedakan dua kelompok yang memiliki tujuan yang sama, maka dengan penuh kesadaran manusia dalam satu wilayah pembangunan telah dikotak-kotakkan. Konetks ini pada akhirnya akan memunculkan gesekan konflik dan saling klaim diri menurut label simbol yang dipakaikan kepada mereka.

Pertanyaan dalam konteks ini adalah: apakah masyarakat lokal tidak boleh bervisi dan hanya boleh bermimpi? Sesungguhnya, ber- ―visi‖ atau ber-―mimpi‖, tentu kedua-duanya memiliki tujuan yang sama, namun terkadang orang tidak melihat substansi dari ―visi‖ dan ―mimpi‖. Yang dilihat orang adalah ―siapa‖ maka rujukannya ada pada individu dan kelompok pribumi, bukan yang dilihat pada ―mengapa‖, sebagai dasar rujukan mereka memimpikan sesuatu.

74

Bertolak dari gambaran tersebut, ditemukan beragam konsep pembangunan yang selalu diagung-agungkan sebagai program yang bisa menjawab permasalahan sosial masyarakat misalnya: untuk program pembangunan skala kabupaten, muatan ―visi‖ pemerintahan selalu didengung dengan simbol spirit ―membangun dari kampung‖. Konotasi ―visi‖ seperti ini hendak menjelaskan tujuan pembangunan harus dimulai dari kampung menuju wilayah perkotaan. Artinya, ada keinginan para elit dalam birokrasi untuk menjawab sejumlah masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat kampung yang berhubungan dengan buta aksara, kesehatan dan ekonomi rakyat. Tetapi hingga saat ini, pembangunan yang dimulai dari kampung ternyata belum mampu menjawab permasalahan tersebut.

Terlepas dari spirit ―membangun dari kampung‖, ditemukan pula istilah ―wilayah Indonesia timur dan Indonesia barat‖ dalam skala nasional. Awal mula penggunaan istilah ini hanya bertujuan memberi penjelasan di mana seseorang atau sekelompok orang berada dalam sebuah wilayah.

Dalam penggunaan istilah Timur dan Barat, ternyata penggunaan istilah tersebut mengalami pergesaran pemaknaan secara negatif. Wilayah timur dikonotasikan sebagai wilayah tertinggal, kurang modern, kebanyakan bermimpi, tempat yang tidak kondusif, dan terkesan barbar. Sementara untuk wilayah barat dikonotasikan sebagai wilayah yang memiliki infrastruktur modern, jauh dari anggapan kekolotan, manusianya ramah, iklim HANKAMNAS (Pertahanan Keamanan Nasional)-nya kondisif,

Samuel P. Hungtinton dalam bukunya ―the clash of civilizations and the remaking of word order‖ (benturan antar peradaban dan masa depan politik dunia) menjelaskan, bahwa polarisasi budaya dan peradaban dunia telah menimbulkan berbagai prasangka dan stereotip yang seringkali menimbulkan konflik. Pembagian dunia menjadi Timur dan Barat juga menambah rumitnya persoalan tentang di mana sebenarnya kita berpijak. Karena, kategori Timur dan Barat ternyata tidak hanya ditentukan oleh tempat dan letak geografis, tetapi juga

75 oleh pandangan dunia, aliran politik, peradaban dan kebudayaan yang kita miliki55.

Dalam terminologi hukum alam, kebijakan pemerintah akan dianggap bersifat absah, sejauh masih berorientasi dan sejalan dengan kepentingan umum. Tinjauan normatif di atas jika disinkronisasikan dengan realitas sosial yang ada di tiap daerah di Indonesia, maka tafsiran terahadap ruang sosial yang ada harus diproporsikan dan diperhatikan secara maksimal dan kontinyu, tanpa harus dilakukan dengan pemaksaan kehendak. Artinya, pemikiran serta pandangan yang ideal untuk kemajuan bukan bersifat sempit, terbatas, atau sektoral. Dalam upaya melakukan perubahan dan perombakan sosial, masyarakat diharuskan untuk bertindak secara kolektiv (collective action), baik dalam level konsolidasi pemikiran, sampai pada konsolidasi sikap dan tindakan56.

Sikap konsolidasi yang dilakukan sangatlah beralasan, karena masyarakat secara individu dilahirkan dalam struktur keluarga, suku dan lingkungan yang berlainan, begitupun masing-masing lingkungan memiliki sistem keteraturan sosial, hal ini tercermin dalam sistem nilai, kepercayaan, norma, etika, budaya, moralitas, serta peraturan adat dan pemerintah. Latar belakang pendidikan, profesi, dan lingkungan, juga berperan dalam menentukan karakter individu, masing-masing lingkungan akan memberikan perbedaan terhadap beragam individu tersebut (Firmanzah, 2007:188-189).

Perlu dipahami bersama, bahwa budaya lokal dengan sejumlah simbol adat yang masih bertahan (survive) hingga saat ini, haruslah dipahami memiliki harapan-harapan dan nilai-nilai tentang masa depan yang terus dinantikan keterwujudannya. Kondisi ini membuat cara pandang masyarakat adat, selalu berbeda dengan cara pandang pemerintah dan masyarakat luar (logis versus nir logis). Walaupun ada perbedaan, tetapi tidak harus menimbulkan ketegangan yang

55 Narasi Demokrasi (Refleksi atas Kebudayaan, Relasi Kebudayaan dan Polemik Politik Lokal).

Amas Mahmud Litera Buku Yogyakarta. 2011.hlm.52.

76

mengakibatkan konflik, apalagi memunculkan hegemoni kekuasaan dan ekspansi terhadap pihak yang lain.

Dalam aspek politik, terganggunya budaya lokal disebabkan telah merajalelanya gaya hidup western, dengan sajian instan dan topeng dengan paradigma politik para praktisi politik yang materialistik. Contoh konkritnya, masyarakat kita telah dimanjakan dengan praktek politik uang yang tidak mendidik, budaya lokal masyarakat adat mulai dirongrong dan terganggu akibat dominasi kaum primodial. Budaya masyarakat lokal tidak mendapat porsi yang utama dalam konteks pembangunan yang direncanakan oleh pemerintah hingga daerah- daerah. Semestinya juga kita ingat, bahwa berdirinya negara ini, tidak hanya sebatas dengan doa dan kerja, dalam konteks budaya yang penuh dengan kemistisannya, masyarakat adat turut memainkan peran mistis yang dimiliki untuk mengusir penjajah, tetapi sekarang kemistisan budaya lokal seolah dianggap kotor dan tidak bisa diberi perhatian dalam konteks pembangunan. Sadar atau tidak, pemalangan dengan menggunakan simbol adat memberi tanda bahwa demokrasi dalam ranah masyarakat adat mulai bangkit dan menuju identitas keasalannya dalam alam demokrasi Indonesia.

Konflik sebagai simbol integritas

Dalam pandangan banyak orang konflik diidentikkan dengan upaya memecahbelah suatu kekuatan, baik yang berhubungan dengan persekutuan marga, suku, organisasi hingga keutuhan hidup berbangsa. Dari pandangan ini, maka berbagai upaya dilakukan agar konflik dapat dihilangkan. Tetapi dalam kenyataannya konflik tidak bisa dihindari.

Dari berbagai teori konflik yang dibangun oleh para ahli ada teori yang mengatakan, inti dari konflik ialah ―bagaimana hubungan masyarakat dapat berjalan sesuai dengan tujuan bermasyarakat‖. Dalam hal ini, pertikaian dan konflik dilihat sebagai bagian dari sistem sosial yang tidak dapat dihindari, yang bisa dilakukan adalah konflik hanya bisa diminimalisir melalui beberapa konsensus yang disepakati bersama. Selain itu, konflik menunjukan bahwa di dalam hubungan atau relasi sosial masyarakat terdapat dominasi, koersi, serta kekuasaan. Hal itu menjadi salah satu pemicu terjadinya konflik. selain itu teori

77 konflik melihat bahwa terjadinya konflik karena ada otoritas yang berbeda-beda yang menghasilkan situasi super-ordinasi dan sub- ordinasi. Perbedaan antara super-ordinasi dan sub-ordinasi dapat memicu konflik akibat adanya perbedaan kepentingan57.

Lewis A. Coser memandang konflik dapat direkayasa untuk menciptakan kohesi atau keteraturan sosial. Pada paradigma ini, konflik tidak dilihat dari dinamika negatif, karena itu juga dapat bermakna positif, terutama sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan serta adaptasi dari kelompok dan interaksi sosial. Fungsi positif konflik, sebagaimana dianalisis oleh Lewis A. Coser dapat dilihat dalam ilustrasi satu golongan yang sedang mengalami konflik dengan pihak lain. Sebagai contoh, pengesahan pemisahan gereja kaum tradisional yang mempertahankan praktek-praktek ajaran Katolik sebelum konsili vatikan II dan gereja Anglo-Katolik. Perang yang terjadi selama bertahun-tahun di Timur Tengah telah memperkuat identitas kelompok negara-negara Arab dan Israel. Konflik dapat bermakna negatif ketika dipandang sebagai pemicu atau masalah yang

Dokumen terkait