• Tidak ada hasil yang ditemukan

(UPB) dan Soil

3.3.1. Kebijakan Sistem Pembayaran

Bank Indonesia secara berkesinambungan terus berupaya memperkuat dan mengembangkan infrastruktur sistem pembayaran untuk menjaga dan meningkatkan kelancaran, keamanan, keandalan dan efisiensi sistem pembayaran. Bank Indonesia juga terus menempuh kebijakan dan menyempurnakan ketentuan dalam rangka meningkatkan kualitas layanan. Selain itu, Bank Indonesia konsisten dalam memperluas akses penggunaan instrumen pembayaran nontunai dengan tetap mendorong penyelenggara sistem pembayaran untuk memperhatikan aspek perlindungan konsumen jasa sistem pembayaran.

Selama triwulan I-2016, Bank Indonesia menempuh kebijakan sistem pembayaran sebagai berikut:

a. Pengembangan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) Generasi II Tahap II

Selama periode laporan, Bank Indonesia telah melakukan evaluasi kegiatan pengembangan SKNBI Generasi II tahap II Modul Bulk Payment yang meliputi pengujian, distribusi patching aplikasi, dan industrial test, termasuk performance test. Bank Indonesia juga telah melakukan kegiatan pelatihan terhadap seluruh Peserta SKNBI dan instalasi Sistem Sentral Kliring yang mulai digunakan sejak 5 Februari 2016. Sementara itu, implementasi SKNBI Modul Bulk Payment dijadwalkan mulai dilaksanakan pada 2 Mei 2016 dengan kepesertaan hanya mencakup bank umum saja. Demikian juga dengan Penyelenggara Transfer Dana, selain bank umum masih belum dapat menjadi Peserta SKNBI.

b. Penggunaan Central Bank Money (CeBM) untuk Setelmen Dana Transaksi Surat Berharga di Pasar Modal

Sebagai tindak lanjut pengembangan penggunaan CeBM Tahap Hybrid I, yaitu penggunaan CeBM untuk setelmen dana transaksi Surat Berharga Negara (SBN) maupun Non-SBN oleh Bank Kustodian di pasar modal, Bank Indonesia telah mengimplementasikan Tahap Hybrid II mulai 28 Maret 2016. Tahap Hybrid II melengkapi implementasi Tahap Hybrid I dengan transaksi SBN dalam denominasi Rupiah oleh Perusahaan Efek (PE). Pelaksanaan implementasi penggunaan CeBM Tahap Hybrid II berjalan dengan lancar yang tercermin dari kesesuaian data antara setelmen transaksi efek yang menggunakan CeBM pada Account Balance Monitoring (ABM) dengan data setelmen transaksi efek yang tercatat pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) (Tabel 3.5). Bank Indonesia mengarahkan kebijakan untuk menjaga dan meningkatkan keamanan, efisiensi, kelancaran, dan keandalan sistem pembayaran. Tabel 3.5

Tahapan Pengembangan CeBM

                                            ­  ­€     ‚‚          ƒ „   ‚…†

Tahapan Pengembangan Penggunaan CeBM untuk Setelmen Transaksi Efek di Pasar Modal

Selama periode laporan, Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI telah melaksanakan rapat koordinasi. Ketiga lembaga sepakat bahwa pelaksanaan implementasi penggunaan CeBM hanya akan dilaksanakan sampai dengan Tahap Hybrid III (Full CeBM), yaitu melengkapi implementasi Tahap Hybrid I dan II dengan transaksi Non-SBN dalam denominasi Rupiah oleh PE.

Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia terus meningkatkan koordinasi dengan Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal, yaitu PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dan KSEI. Koordinasi itu bertujuan untuk memperoleh solusi optimal, terutama terkait isu-isu yang terjadi dalam implementasi Full CeBM. Isu-isu itu antara lain kebutuhan intraday facility untuk PE, window time untuk pelaksanaan distribusi hasil kliring di pasar modal, remunerasi dana mengendap, biaya transaksi yang timbul dari perubahan proses bisnis, dan isu terkait lainnya.

c. Penerbitan Ketentuan Sistem Pembayaran yang Diselenggarakan oleh Bank Indonesia

Bank Indonesia telah menerbitkan ketentuan/aturan sebagai payung hukum dalam pelaksanaan kegiatan lelang Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana dan penatausahaan SBN6. Penerbitan aturan itu dalam rangka meningkatkan keamanan, efisiensi, dan kelancaran maupun untuk meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian, stabilitas moneter, dan stabilitas sistem keuangan nasional, Adapun pokok-pokok perubahan ketentuan dimaksud adalah sebagai berikut :

a. Pengajuan penawaran pembelian obligasi negara pada lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam Rupiah dan lelang SUN dalam valuta asing oleh dealer utama untuk dan atas nama diri sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain selain Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pengajuan tersebut dilakukan melalui cara penawaran pembelian kompetitif (competitive bidding) dan/atau penawaran pembelian non kompetitif (non-competitive bidding).

b. Pengajuan penawaran pada lelang SUN tambahan dibatasi paling banyak sebesar penawaran pembelian non-kompetitif (non-competitive bidding) dalam lelang masing-masing seri SUN yang ditawarkan.

d. Penyelenggaraan Sistem Bank Indonesia Government–electronic Banking dan

Sub Registry

Sistem Bank Indonesia Government – electronic Banking (BIG-eB) adalah suatu sarana elektronik dan online yang disediakan untuk pemilik rekening giro dalam rangka melakukan transaksi keuangan dan memperoleh informasi keuangan. Dalam hal ini, pihak yang dapat menggunakan Sistem BIG-eB adalah pemilik rekening giro di Bank Indonesia yang memperoleh persetujuan dari penyelenggara untuk menggunakan Sistem BIG-eB. Pada triwulan laporan, Bank Indonesia telah melakukan penyempurnaan penyelenggaraan Sistem Bank Indonesia Government–electronic Banking dan Sub Registry melalui penerbitan ketentuan/aturan yang dapat dijadikan sebagai payung hukum dalam penyediaan layanan jasa perbankan kepada nasabah Bank Indonesia, beberapa penyempurnaan ketentuan yaitu:

6 SE No. 18/1/DPSP tanggal 5 Januari 2016 perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 17/32/DPSP tanggal 13 November 2015 perihal Tata Cara Lelang Surat Berharga Negara di Pasar Perdana dan Penatausahaan Surat Berharga Negara.

a. Penyempurnaan Tata Kelola penyelenggaraan Sistem Bank Indonesia

Government – electronic Banking7

Penyusunan ketentuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan tata kelola penyelenggaraan sarana elektronik dan meningkatkan kualitas layanan jasa perbankan oleh Bank Indonesia. Selain itu, ketentuan diharapkan dapat mengakomodasi kepesertaan BIG-eB yang saat ini menjadi multi-institusional sekaligus sebagai dasar pengaturan bagi peserta Sistem BIG-eB dalam menggunakan Sistem BIG-eB. Adapun materi pengaturan dalam ketentuan dimaksud meliputi antara lain tugas dan tanggung jawab para pihak, tata cara menjadi peserta, hak akses peserta, penatausahaan rekening dan kode transaksi, serta layanan Sistem BIG-eB.

b. Penyempurnaan pengaturan layanan Sub-Registry Bank Indonesia

Bank Indonesia telah menerbitkan ketentuan untuk mengatur pelaksanaan kegiatan penyediaan layanan Sub-Registry Bank Indonesia kepada pemerintah daerah Republik Indonesia dalam rangka konversi penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) dan/atau Dana Alokasi Umum (DAU) dalam bentuk nontunai berupa SBN. Konversi penyaluran DBH dan/atau DAU adalah penyaluran dana kepada daerah yang memiliki uang kas dan simpanan di bank dalam jumlah tidak wajar, diberikan dalam bentuk nontunai melalui penerbitan SBN.

Dalam hal ini, SBN dapat berbentuk Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan/atau Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPNS). Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 235/PMK.07/2015 tentang Konversi Penyaluran Dana Bagi Hasil dan/atau Dana Alokasi Umum dalam Bentuk Nontunai. Pada pelaksanaanya, Bank Indonesia tidak mengenakan biaya atas layanan Sub-Registry yang diberikan kepada nasabah SBN Konversi. Adapun pengaturan dalam ketentuan dimaksud antara lain adalah layanan Sub-Registry Bank Indonesia dalam penatausahaan SBN konversi, kewajiban nasabah SBN konversi, tata cara menjadi nasabah SBN Konversi Sub-Registry Bank Indonesia, dan biaya.

e. Perluasan Penggunan Instrumen Pembayaran Nontunai

Bank Indonesia senantiasa mendukung perluasan penggunaan instrumen pembayaran nontunai di masyarakat. Hal tersebut tercermin dari berbagai upaya dan kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dalam mengembangkan dan mengenalkan instrumen pembayaran nontunai.

Pada triwulan laporan, Bank Indonesia memfasilitasi Pemda DKI dalam pengembangan konsep kartu Jakarta One. Konsep yang ditawarkan kartu Jakarta One adalah pengembangan integrasi Kartu Tanda Penduduk (KTP) warga DKI sehingga dapat berfungsi sebagai instrumen pembayaran nontunai, khususnya uang elektronik dan kartu ATM/debet. Selain itu, pada Maret 2016, Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) bekerjasama dengan PT Jasa Marga meluncurkan pembayaran elektronik untuk jalan tol. Kerjasama itu memungkinkan seluruh uang elektronik anggota Himbara dapat digunakan di jalan tol.

Pada triwulan I-2016 Bank Indonesia juga telah bekerjasama dengan penyelenggara jasa sistem pembayaran menyelenggarakan Sosialisasi Gerakan Cinta Rupiah dan Gerakan Nasional Nontunai di Kupang. Kerja sama ini untuk lebih mengenalkan instrumen pembayaran nontunai, khususnya kepada masyarakat Kupang.

Pada kesempatan itu, Bank Indonesia memberikan edukasi secara lebih intensif mengenai jasa sistem pembayaran di Indonesia dan peran Bank Indonesia sebagai otoritas di bidang sistem pembayaran. Bank Indonesia juga berupaya untuk mendorong preferensi masyarakat Kupang menggunakan instrumen pembayaran nontunai khususnya uang elektronik. Selain itu, Bank Indonesia juga berupaya meningkatkan rasa cinta rupiah agar masyarakat terus menggunakan rupiah untuk setiap transaksi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsistensi Bank Indonesia dalam mengembangkan dan mengenalkan instrumen pembayaran nontunai diharapkan dapat memperluas penggunaan instrumen pembayaran nontunai.

f. Peraturan terkait Kebijakan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Pada triwulan I-2016, Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Dewan Gubernur tentang Kerangka Kebijakan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah8. PDG tersebut mengatur mengenai pedoman perumusan dan pelaksanaan kebijakan sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah yang didukung oleh kebijakan kegiatan layanan uang untuk fungsi terkait di internal Bank Indonesia. Hal ini diperlukan dalam rangka mewujudkan kebijakan sistem pembayaran, pengelolaan uang rupiah, dan kegiatan layanan uang yang kredibel dan memenuhi prinsip akuntabilitas publik.

g. Pengaturan dan Pengawasan Penyelenggaraan Sistem Pembayaran

Dalam rangka melaksanakan tugas mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, Bank Indonesia berwenang antara lain untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh penyelenggara jasa sistem pembayaran yang telah memperoleh izin dari Bank Indonesia. Objek pengawasan meliputi penyelenggaraan sistem pembayaran yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan oleh industri yaitu penyelenggara APMK, uang elektronik, transfer dana (TD), dan kegiatan usaha penukaran valuta asing bukan bank (KUPVA BB). Agar dapat melakukan pengawasan secara menyeluruh, pengawasan terhadap TD dan KUPVA BB dilakukan secara desentralisasi oleh masing-masing kantor perwakilan berdasarkan wilayah kerja. Pengawasan dapat dilakukan melalui pemeriksaan tidak langsung (offsite) berdasarkan laporan yang disampaikan oleh penyelenggara dan/atau pemeriksaan langsung (onsite).

Secara umum, ruang lingkup pemeriksaan terhadap penyelenggara sistem pembayaran adalah kepatuhan penyelenggara terhadap ketentuan, penerapan prosedur, termasuk penerapan APU dan PPT, dan pengendalian internal. Pada triwulan laporan telah dilakukan onsite terhadap penyelenggara APMK,TD BB dan KUPVA BB.

Selain itu, Bank Indonesia melakukan pemeriksaan bersama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang dilakukan sesuai dengan Nota Kesepahaman9. Objek pemeriksaan dilakukan kepada penyelenggara KUPVA Bukan Bank yang memiliki eksposur transaksi tinggi.