• Tidak ada hasil yang ditemukan

volatile food (VF), sedangkan inflasi kelompok inti relatif stabil

3.1.3 Koordinasi dengan Pemerintah

Pada triwulan I-2016, koordinasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan pemerintah pusat dan daerah difokuskan pada upaya pembenahan logistik pangan guna mendukung pencapaian ketahanan pangan dan terjaganya stabilitas harga. Hal ini dilandasi kenyataan bahwa gejolak inflasi di daerah antara lain disebabkan oleh kualitas sistem logistik, terutama kondisi infrastruktur, biaya bongkar muat, dan skala ekonomi yang belum optimal. Langkah pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, khususnya infrastruktur konektivitas, memberikan optimisme untuk mengatasi berbagai persoalan distribusi dan logistik. Namun, upaya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur tersebut memerlukan komitmen dan sinergi kebijakan yang erat antara berbagai elemen pemangku kebijakan di tingkat pusat dan daerah.

Kegiatan Koordinasi Pengendalian Inflasi Triwulan I-2016

Pada triwulan I-2016, kegiatan koordinasi pengendalian inflasi yang dilakukan Bank Indonesia melalui Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) dan Kelompok Kerja Nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah (Pokjanas TPID) mencakup beberapa kegiatan. Pertama, finalisasi Laporan Pelaksanaan Tugas Tahun 2015 TPI - Pokjanas TPID. Kedua, penyusunan rekomendasi kebijakan stabilisasi harga sebagai tindak lanjut arahan Presiden dalam Rakornas VI TPID 2015. Ketiga, diskusi terkait arah kebijakan harga BBM menjelang triwulan II-2016. Keempat, Rapat Koordinasi Bank Indonesia, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Untuk meningkatkan koordinasi dan pengelolaan inflasi nasional dan daerah, laporan pelaksanaan tugas TPI dan Pokjanas TPID didokumentasikan dalam satu buku yang memuat pencapaian sasaran inflasi 2015, outlook inflasi 2016, pelaksanaan tugas TPI dan Pokjanas TPID Tahun 2015, serta Rencana Kerja Tahun 2016.

Dalam Rakornas VI TPID Tahun 2015, Presiden RI memberi arahan mengenai pengembangan pasar lelang komoditas pangan dan penguatan kebijakan stabilisasi harga, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Terkait dengan hal itu, pada triwulan I-2016, TPI dan Pokjanas melaksanakan serangkaian diskusi untuk penyusunan awal rekomendasi tersebut. Penyusunan rekomendasi diperkuat pula dengan kunjungan kerja ke Pasar Lelang Komoditas Agro Provinsi Jawa Barat di Bandung dan diskusi dengan TPID Provinsi Jawa Barat. Kajian awal tersebut telah dibahas dalam rapat TPI tingkat eselon 2 dan akan dilanjutkan dalam pembahasan di tingkat eselon 1 yang direncanakan pada triwulan II-2016. Pada triwulan I-2016, tekanan pelemahan Rupiah mereda sejalan dengan membaiknya sentimen ekonomi domestik dan global. Bank Indonesia menginisiasi Rapat Koordinasi yang melibatkan Bank Indonesia, pemerintah pusat dan daerah dengan fokus pada perbaikan sistem logistik dan ketahanan pangan.

Terkait dengan kelanjutan reformasi subsidi energi, pada triwulan I-2016, TPI menyelenggarakan diskusi dengan narasumber Kementerian ESDM dan Pertamina. Berdasarkan Permen ESDM No. 39 Tahun 2015, pemerintah akan menyesuaikan harga BBM (premium dan solar) sesuai dengan harga keekonomiannya setiap triwulan. Untuk Januari, berdasarkan Kepmen ESDM No 2K/12/MEM/2016, harga bensin dan solar turun sebesar Rp500 per liter, masing-masing menjadi Rp6.950 perliter (bensin non jamali) dan Rp5.650 per liter (solar). Sesuai dengan Permen tersebut, penyesuaian harga selanjutnya adalah pada April 2016. Mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia yang terus menurun pada periode tersebut, maka TPI menyelenggarakan diskusi mengenai kepastian kelanjutan kebijakan penyesuaian harga tersebut dalam rangka menyusun outlook inflasi 2016.

Rapat Koordinasi Bank Indonesia dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang dilaksanakan secara triwulanan merupakan forum penyampaian pandangan dan diskusi antara Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia, menteri, dan kepala daerah. Pada triwulan I-2016, rakor dilaksanakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 12 Februari 2016 dengan mengangkat tema “Mempercepat Perbaikan Sistem Logistik untuk Memperkuat Ketahanan Pangan”.

BOKS

BOKS

Mempercepat Perbaikan Sistem Logistik untuk Memperkuat Ketahanan Pangan

Pada triwulan I-2016, Bank Indonesia menginisiasi forum Rapat Koordinasi (Rakor) yang melibatkan Bank Indonesia, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah di Kupang, Nusa Tenggara Timur3. Rakor tersebut mengusung tema “Mempercepat Perbaikan Sistem Logistik untuk Memperkuat Ketahanan Pangan”. Rakor yang dipimpin Gubernur Bank Indonesia bersama seluruh Anggota Dewan Gubernur itu diikuti oleh pimpinan pemerintah daerah dan sejumlah pejabat tinggi dari kementerian/lembaga terkait.

Para peserta berasal dari Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Pertanian. Dari unsur pemerintah daerah yang hadir antara lain Gubernur Nusa Tenggara Timur, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Wakil Gubernur Bali dan pejabat pemerintah daerah kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Rapat koordinasi menyepakati beberapa kesepakatan penting yang akan diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang konsisten dan bersinergi untuk stabilisasi harga maupun pengembangan ekonomi daerah, yakni:

1. Memfokuskan koordinasi pengendalian inflasi daerah pada upaya :

a. Memastikan ketersediaan pasokan pangan pokok bagi masyarakat. Penyaluran pasokan pangan pokok yang berasal dari pengadaan luar negeri perlu dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan diutamakan untuk daerah yang mengalami defisit produksi pangan. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden RI yaitu membuat rakyat cukup pangan,

BAB III Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia

BOKS

menurunkan kemiskinan, membuat petani lebih sejahtera, membuat produsen pangan dalam negeri semakin memiliki andil yang besar untuk mencukupi kebutuhan pangan, dan membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semakin efektif untuk menyejahterakan rakyat. b. Mengoptimalkan penggunaan kapal ternak, termasuk potensi penambahan

armada hingga 5 unit, sebagai sarana untuk meminimalkan perbedaan harga antara tingkat konsumen dan peternak (daerah sentra).

2. Memperkuat intensifikasi pertanian, untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Hal ini dilakukan antara lain melalui upaya khusus seperti pendampingan kelompok tani, pengaturan pola tanam, dan modernisasi sarana pertanian. Upaya-upaya tersebut telah diinisiasi oleh Kementerian Pertanian, terutama di daerah yang merupakan sentra produksi pangan. Dari 34 provinsi di Indonesia, 17 di antaranya merupakan daerah sentra produksi utama, sedangkan daerah lainnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau mengalami defisit.

3. Menetapkan lembaga yang bertanggungjawab terhadap manajemen logistik pangan sesuai amanat Undang-Undang Pangan, dengan memperluas kewenangan terhadap komoditas pangan yang perlu dijaga stabilitas harganya. Dalam kaitan ini, penguatan peran Bulog perlu segera dilakukan dengan perluasan cakupan komoditas yang dapat ditangani oleh Bulog.

4. Mempercepat perbaikan sistem logistik infrastruktur pangan untuk menekan biaya dan meningkatkan efisiensi perdagangan antar daerah melalui :

a. Penguatan komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menyelaraskan rencana pengembangan sistem transportasi nasional (Sistranas), guna mendukung penurunan rasio biaya logistik terhadap PDB. b. Mempercepat implementasi paket kebijakan dalam rangka meningkatkan

efisiensi logistik, antara lain melalui pengembangan usaha jasa penyelenggaraan pos komersial, penyaluran pembayaran jasa kepelabuhan secara elektronik (single billing), sistem pelayanan terpadu kepelabuhanan secara elektronik, sinergi BUMN, dan penggunaan uang Rupiah.

c. Menyediakan infrastruktur pendukung logistik pangan secara memadai dan terintegrasi (multimoda), termasuk optimalisasi tol laut dalam bentuk penyediaan rute dan armada perintis, percepatan pembangunan pelabuhan, serta pembangunan gudang penampungan sebagai cikal bakal pengembangan pusat distribusi regional.

d. Mempercepat pembangunan infrastruktur penunjang produksi pangan sebagai bagian dari proyek strategis nasional untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi pertanian, seperti 7 waduk di NTT (Raknamo, Rotiklot, Kolhua, Temef, Mbay, Napunggate, Manikin), 5 waduk di NTB (Nila, Tanju, Bintang Bano, Rababaka, Mujur), dan 2 waduk di Bali (Telagawaja, Sidan) yang didukung oleh pembangunan irigasi teknis.

e. Dalam kaitan ini, pemerintah daerah memberikan dukungan dengan mempercepat penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk lahan pertanian lestari, pembebasan lahan, dan perizinan untuk pembangunan infrastruktur pertanian seperti waduk, irigasi dan sarana produksi lainnya.

BAB III Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia

BOKS

5. Mendorong pembenahan rantai tata niaga komoditas pertanian dengan memotong rantai distribusi guna menyeimbangkan keuntungan yang diterima di tingkat pedagang dan petani. Langkah yang dilakukan antara lain dengan mempercepat pengembangan Pusat Distribusi Regional (PDR) dan mengoptimalkan Pasar Lelang Komoditas dan Sistem Resi Gudang (SRG) sebagai model bisnis yang terintegrasi.

6. Mendorong berkembangnya diversifikasi pangan, terutama dengan peningkatan konsumsi pangan lokal melalui berbagai program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Terkait hal ini, Kementerian Pertanian akan mendukung peningkatan produksi pangan lokal.

7. Memperkuat komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menekan inflasi daerah, terutama dengan mengintensifkan peran TPI dan TPID, serta penetapan program stabilisasi harga (Roadmap Pengendalian Inflasi) sebagai bagian dari Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Terkait hal ini diperlukan penguatan aspek dasar hukum forum koordinasi TPID.

8. Mengoptimalkan penyerapan belanja kementerian/lembaga dan penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan disertai langkah-langkah untuk memperkuat kapabilitas pengelolaan keuangan di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

9. Mempercepat pembangunan pembangkit listrik di daerah, terutama di daerah yang masih mengalami defisit listrik seperti di NTB dan NTT. Rencana ini perlu didukung penyediaan lahan oleh pemerintah daerah dan harmonisasi regulasi yang diperlukan untuk pelaksanaan Perpres No. 4 Tahun 2016 mengenai Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan sebanyak 35.000 megawatt listrik dan 46.000 km jaringan transmisi.

10. Mendukung penyaluran KUR melalui penyiapan daftar calon debitur KUR oleh pemda bekerja sama dengan perbankan dan kementerian terkait yang selanjutnya akan masuk dalam Sistem Informasi Debitur (SID) KUR. Terkait hal ini, pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah akan mengintensifkan sosialisasi mengenai KUR guna mencapai target penyaluran yang ditetapkan. Target KUR 2016 meningkat dari Rp30 triliun menjadi Rp100 triliun. Target penerima KUR diperluas untuk usaha produktif mencakup Tenaga Kerja Indonesia (TKI), UMKM, pekerja magang, dan pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Adapun suku bunga KUR ditetapkan sebesar 9% per tahun yang penyelenggaraannya melibatkan 19 bank.

Pokok-pokok hasil pembahasan pada Rakor tersebut sejalan dengan tema besar koordinasi pengendalian inflasi daerah. Terkait percepatan pembangunan infrastruktur pendukung logistik dan peningkatan kapasitas produksi pangan, tema ini akan dibahas secara khusus dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah (Rakornas TPID) VII 2016.

Selain menegaskan perlunya percepatan pembangunan infrastruktur untuk stabilitas harga, Kelompok Kerja Nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah (Pokjanas TPID) terus memperkuat koordinasi antara pusat-daerah melalui penguatan fungsi kesekretariatan. Selain itu, Pokjanas TPID melakukan upaya untuk memperluas kerja

BAB III Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia