• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BENTUK-BENTUK KONFLIK SOSIAL TOKOH MARYAM

3.3 Konflik karena Perbedaan Kebudayaan

3.3.3 Kebudayaan Khusus Atas Dasar Kelas Sosial

Menurut Soekanto (1986: 185), kebudayaan khusus kelas sosial di dalam setiap masyarakat akan dijumpai lapisan-lapisan sosial oleh karena setiap masyarakat mempunyai sikap menghargai terhadap bidang kehidupan tertentu. Dengan demikian, kita mengenal lapisan sosial yag tinggi, rendah dan menengah. Himpunan orang-orang yang merasa dirinya tergolong pada lapisan sosial tertentu, hal mana diakui masyarakat, itu dinamakan kelas sosial.

Maryam tak tahu-menahu tentang pengusiran yang terjadi padanya dan keluarga lainnya. Ia menganggap bahwa tanah di wilayah itu merupakan tanah milik kakeknya. Ia bisa berpura-pura ikhlas dan tak menangis dihadapan orangtuanya meskipun ia tak bisa terima akan pengusiran yang terjadi oleh kelompok penentang. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:

(27) Pikiran Maryam langsung menerawang ke masa-masa ia masih tinggal di Gerupuk bersama keluarganya. Masa-masa jauh sebelum ia datang ke Jakarta, dan jauh sebelum keluarganya terusir dari rumah yang telah puluhan tahun mereka tinggali. Semuanya berulang dalam kepalanya. Seperti rekaman video yang sewaktu-waktu bisa diputar ulang. Ada yang membuat Naryam tertawa, ada bagian yang membuatnya terharu, lalu ada bagian lain yang kembali menghadirkan rasa bersalah. Ketika yang hadir adalah gambaran pengusiran yang didapatnya dari Jamil, amarah Maryam menggelegak. (Madasari, 2012: 169-170)

(28) “Rumah itu milik kakekku. Dibangun dengan uangnya sendiri. Tanahnya warisan dari buyut-buyutku. Lalu diwariskan ke bapakku. Dibangun sampai bisa seperti yang sekarang dari hasil keringat bapak. Aku dan Fatimah lahir dan besar di sana. Dan sekarang kami diusir begitu saja?” gugat Maryam. Suara Maryam bergetar. Air matanya jatuh. Ia terisak. Umar kaget dan bingung. Ia tak menyangka emosi Maryam bisa berubah begitu cepat. Digenggamnya tangan Maryam. Dielusnya. Sambil dari mulutnya keluarkan desis “ssssh”. “Sabar, Maryam...” katanya.

“Aku masih tak terima. Tapi harus pura-pura ikhlas karena Bapak dan Ibu pun sudah merelakannya. Tak mau mengungkit-ungkit karena itu akan membuat mereka sedih,” kata Maryam dengan suara lebih keras dan nada lebih tegas. Tapi air matanya masih tetap mengalir.

(Madasari, 2012: 170) (29) “Kita semua marah,” kata Umar. “Kita semua tak terima. Tapi apa gunanya sekarang? Yang penting bagaimana kita kedepannya bisa hidup lebih baik. Lebih aman.”

“Aku masih tak bisa menerima orangtua dan adikku pernah hidup di pengungsian. Sementara rumah yang dibangun susah payah tak boleh digunakan...” Suara Maryam mulai memelan. Isakannya juga melemah. Maryam terlihat sudah lebih tenang. Tangan kiri Umar menggenggam erat tangan istrinya sementara tangan kanan terus mengendalikan setir.

(Madasari, 2012: 170-171) (30) “Namanya juga cobaan. Bagian dari ujian iman, Maryam. Juga bukti bahwa kita memang benar...” kalimat Umar terdengar menggantung. Ia ingin menenangkan Maryam dengan cara terbaik. Meredam kemarahan dan menumbuhkan keikhlasan. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Sepanjang umurnya, inilah pertama kalinya Umar bicara tentang iman dengan begitu bijak. Umar seorang Ahmadi. Beribadah bersama-sama orang Ahmadi. Mengaji bersama orang-orang Ahmadi. Ia hafal di luar kepala tentang sejarah keyakinannya. Tapi tak satu alasan pun baginya untuk menjadi bagian dari Ahmadiyah selain karena memang sejak lahir ia telah dijadikan seorang Ahmadi oleh kedua orangtuanya. Karenanya ketika tiba-tiba saja kata-kata tentang iman keluar dari mulutnya, ia sendiri menjadi ragu atas apa yang dikatakannya. Apalagi yang baru ia katakan sebenarnya hanya pengulangan atas apa yang dikatakan orang-orang Ahmadi lainnya atas kepedihan yang telah mereka alami.

Berdasarkan kutipan (27), (28), (29) dan (30) terlihat jelas bahwa Maryam merasakan kesakitan atas derita yang ia dan keluarganya alami. Ia tak bisa menerima pegusiran yang terjadi di waktu itu. Ia memang dilahirkan dari bagian Ahmadiyah oleh kedua orangtuanya. Di sisi lain, Maryam juga berusaha menyembunyikan kesedihannya dari kedua orangtuanya. Namun, ia sama sekali tak bisa menerima pengusiran itu.

Kebudayaan kelas sosial selanjutnya berada pada tempat pengungsian yang terjadi pada anak-anak yang tak bersekolah, langsung dinikahkan di tempat mereka tinggal. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut:

(31) Gedung Transito kian hari terasa kian sesak. Barang-barang bertambah: baju dan aneka perkakas. Kamar sempit yang disekat dengan kain itu kini terlihat penuh tumpukan barang. Enam bayi telah lahir di pengungsian ini. Anak-anak bertambah besar. Beberapa anak remaja yang remaja yang sudah di bangku SMP dikirim ke Surabaya dan Kuningan. Tinggal bersama keluarga Ahmadi dan disekolahkan seperti anak sendiri. Ada yang masih betah sampai sekarang. Ada yang minta pulang setelah tiga bulan. Di pengungsian ini juga, pemuda-pemudi yang sudah tak sekolah langsung dikawinkan. Berumah tangga dan tinggal di sini juga. Lalu lahirlah lagi generasi-generasi baru Ahmadi. Ada yang lahir, ada yang pergi. Selama di pengungsian ini, empat orang telah meninggal. Pak Khairuddin salah satunya.

(Madasari, 2012: 266)

Berdasarkan kutipan (31) terlihat jelas bahwa kelas sosial yang terjadi semenjak pengusiran dan pengungsian itu terjadi. Tidur dalam kamar yang sempit, anak-anak yang bertumbuh remaja, tak dapat bersekolah lagi. Anak-anak ini pun dinikahi di tempat ini. Sampai pada akhirnya melahirkan anak dan menjadikan anak tersebut sebagai Ahmadiyah. Namun, tak sedikit dari mereka dapat bertahan hidup akibat hidup dalam kesesakan yang dipenuhi banyak pengungsi di tempat tersebut dan kurangnya kebutuhan sehari-hari mereka untuk bisa bertahan hidup.

Kegigihan Maryam membulatkan tekadnya untuk menghentikan ketidakadilan yang ia alami selama ini. Berusaha meminta keadilan atas tindakan pengusiran yang dilakukan oleh kelompok penentang kepadanya. Dengan berusaha menulis sebuah surat agar dapat diterima dan dapat membantunya keluar dari kejahatan kelompok penentang. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut: (32) Ini surat ketiga yang saya kirimkan ke Bapak. Semoga surat saya kali ini

bisa mendapat tanggapan.

Hampir enam tahun keluarga dan saudara-saudara kami terpaksa tinggal di pengungsian, di Gedung Transito, Lombok. Selama itu kami berbagi ruangan dengan membuat kamar-kamar bersekat kain. Lebih dari dua ratus orang hidup bersama di situ.

(Madasari, 2012: 273) (33) Bapak yang terhormat, kami tidak meminta lebih. Hanya minta dibantu agar bisa pulang ke rumah dan hidup aman. Kami tidak minta bantuan uang atau macam-macam. Kami hanya ingin hidup normal. Agar anak- anak kami juga bisa tumbuh normal, seperti anak-anak lainnya. Agar kelak kami juga bisa mati dengan tenang, di rumah kami sendiri.

Sekali lagi, Bapak, itu rumah kami. Kami beli dengan uang kami sendiri, kami punya surat-surat resmi. Kami tak pernah melakukan kejahatan, tak pernah mengganggu siapa-siapa. Adakah alasan yang bisa diterima akal, sehingga kami, lebih dari dua ratus orang, harus hidup di pengungsian seperti ini?

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?

(Madasari, 2012: 274-275)

Berdasarkan kutipan (32) dan (33) terlihat jelas bahwa Maryam tak tahan lagi dengan hidupnya yang diharuskan mengungsi di tempat yang benar-benar tak luas karena banyaknya mereka diusir dari rumah mereka. Meskipun mereka membeli rumah itu dengan usaha dan hasil kerja keras mereka, Maryam sungguh tak bisa menerima perbuatan ini. Maryam sangat membutuhkan bantuan dari atasan supaya bisa membantunya keluar dari ketidakadilan, kejahatan, dan

penderitaan ini. Maryam tahu perbuatannya ini sudah tak bisa ditolerir lagi karena ia juga sudah tak bisa bersabar lagi.

3.4 Rangkuman

Berdasarkan analisis di atas, terlihat bahwa konflik sosial dalam novel Maryam mencakup perbedaan orang-perorangan dan perbedaan kebudayaan. Pertama, perbedaan orang-perorangan yang terdiri dari: (i) perbedaan antara individu dengan individu, (ii) perbedaan antara individu dengan kelompok, dan (iii) perbedaan antara kelompok dengan kelompok. Kedua, perbedaan kebudayaan yang terdiri dari: (i) kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan dan (ii) kebudayaan khusus atas dasar agama, dan (iii) kebudayaan khusus atas dasar kelas sosial.

Ahmadiyah merupakan aliran keagamaan yang berjuang mempertahankan eksistensinya dari dunia Islam. Ahmadiyah sendiri dapat dikatakan sebagai aliran yang merupakan agama tersendiri yang berbeda dari lingkungan agama Islam. Dikatakan sebagai agama baru, oleh karena Ahmadiyah percaya akan kedatangan seorang nabi sesudah Muhammad s.a.w. Oleh karena itu, Ahmadiyah mengingkari status Muhammad s.a.w. sebagai penutup kenabian.

Perbedaan antara individu dan individu terjadi antara: (i) Maryam dengan Ibu Alam disebabkan karena Maryam merupakan anak yang dilahirkan oleh keluarga Ahmadiyah yang dinilai ‘sesat’, (ii) perbedaan antara Maryam dan Alam disebabkan karena adanya perkelahian antara keduanya, (iii) perbedaan antara Maryam dengan Tuan Guru Ahmad Rizki disebabkan karena Tuan Guru Ahmad

sebagai penghasut warga Gerupuk, dan (iv) perbedaan antara Maryam dengan Gubernur disebabkan karena Gubernur datang membawa kabar yang tak menyenangkan hati dari keluarga-keluarga Ahmadiyah.

Perbedaan orang-perorangan yang terjadi adalah perbedaan antara individu dengan kelompok terjadi antara: (i) Perbedaan antara Maryam dengan dua laki-laki disebabkan karena kedatangan Maryam ke rumah teman lamanya, Nur mengundang kemarahan pada dua laki-laki yang bernama Rohmat sebagai Pak RT dan satunya Pak Haji, (ii) perbedaan antara Maryam dengan Warga Gerupuk disebabkan karena kebencian dan kemarahan pada Maryam. Mereka tak bisa menerima bapak Maryam, Pak Khairuddin, dimakamkan di wilayah itu.

Perbedaan antara kelompok dengan kelompok terjadi pada perbedaan antara kelompok Ahmadiyah dengan kelompok penentang yang menyebabkan kemarahan kelompok penentang yang terlalu tak menyukai kelompok Ahmadiyah.

Perbedaan selanjutnya berada pada perbedaan kebudayaan yang terdiri dari: (i) kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan dijumpai kepribadian yang berbeda dari individu-individu yang merupakan anggota suatu masyarakat tertentu, (ii) kebudayaan khusus atas dasar agama mempunyai pengaruh yang besar untuk membentuk kepribadian seorang individu, dan (iii) kebudayaan khusus kelas sosial dijumpai lapisan sosial oleh karena masyarakat memiliki sikap menghargai terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.

Dapat dipahami bahwa Maryam mengalami konflik sosial yang berat. Maryam berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan keadilan yang ia harapkan. Ia ingin lepas dari penderitaan yang menimpanya. Ia memberikan sebuah tulisan surat yang berisikan permintaan kepada pemerintah supaya bisa lebih memperdulikan keluarga Ahmadiyah supaya tak terusir dari kampung halamannya sendiri. Mereka dapat hidup dengan usaha mereka diwaktu itu. Itulah yang benar-benar diharapkan Maryam. Tak ada lagi yang dapat membeda- bedakan agama baik Islam Ahmadiyah maupun bukan Islam Ahmadiyah, karena yang kita tahu akan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Studi ini membahas Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam dengan menggunakan pendekatan struktural dan pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan struktural berkaitan dengan tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Pendekatan sosiologi sastra berkaitan dengan bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami oleh tokoh Maryam.

Penulis menyimpulkan bahwa dalam struktur novel berdasarkan fungsi penampilan tokoh dalam cerita yang terdapat dalam novel Maryam karya Okky Madasari, dibedakan menjadi dua bagian, yaitu, tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Pada tokoh protagonis terdapat empat tokoh, yaitu: Maryam, Umar, Pak Khairuddin, dan Zulkhair. Keempat tokoh tersebut merupakan tokoh yang dapat disikapi sebagai tokoh protagonis yang dilihat dari tokoh-tokoh tersebut yang memberikan rasa simpati dan empati serta melibatkan dalam berbagai permasalahan konflik sosial.

Tokoh Maryam digambarkan sebagai tokoh wanita yang memiliki kecantikan khas dari daerah timur. Selain itu, ia merupakan seorang yang cerdas, ramah, dan taat beribadah. Di sisi lain, Maryam mempunyai kesalahan di masa lalunya terhadap kedua orangtuanya. Ia terhasut oleh Alam, mantan suaminya untuk meninggalkan keimanan yang dipelajarinya sejak kecil dari ayahnya. Maryam pun meninggalkan orangtuanya dan tak pernah kembali. Setelah beberapa tahun meningglkan keluarganya, Maryam pun kembali mencari

orangtuanya. Ia menyadari perbuatannya yang menjadi anak pemberontak yang tak pernah mendengarkan nasihat orangtua.

Tokoh Umar digambarkan sebagai seorang suami yang baik. Ia sangat bersikap lembut pada Maryam, istrinya. Meskipun ia tahu, Maryam adalah seorang janda. Tokoh Pak Khairuddin merupakan seorang kepala keluarga yang mampu bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ia merupakan seorang bapak yang tegas terhadap anak-anaknya. Ia berusaha mencarikan laki-laki yang terbaik untuk anaknya dengan mencari laki-laki yang seiman yaitu sama-sama Ahmadiyah. Tokoh Zulkhair digambarkan seorang ketua organisasi yang bertanggung jawab. Selain itu, ia merupakan sahabat dari bapak Maryam. Ia membantu keluarga Pak Khairuddin untuk bisa kembali ke rumahnya dulu.

Untuk tokoh antagonis, terdapat lima tokoh antagonis dalam novel Maryam karya Okky Madasari, yaitu Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, dan Gubernur. Tokoh Alam merupakan mantan suami dari Maryam. Alam digambarkan sebagai seorang yang sama sekali tidak bisa bertanggung jawab pada keluarganya. Ia rela berpisah dengan Maryam dan memilih hidup bersama ibunya. Tokoh Ibu Alam merupakan ibu mertua dari Maryam. Ibu Alam sangat tak menyukai kehadiran Maryam dalam rumah mereka. Ia benar-benar sangat membenci Maryam. Ia berusaha memisahkan anaknya dari Maryam yang dinilainya sesat.

Tokoh Pak RT atau Rohmat merupakan seorang laki-laki yang bersikap angkuh sekali. Sebagai RT, ia sama sekali tak bersikap ramah pada kedatangan Maryam yang hanya ingin mengunjungi kampung halamannya dulu. Tokoh Pak Haji merupakan seorang yang datang bersamaan dengan Rohmat. Dengan penampilan yang menunjukkannya dirinya seorang Haji. Ia mengikuti tingkah Rohmat dengan ikut-ikutan mengusir Maryam dari kampung Gerupuk tersebut. Tokoh Gubernur merupakan seorang pemimpin yang tak bisa bertanggung jawab dan tak bisa berpegang pada ucapannya. Ia menganggap tak ada urusannya terhadap orang-orang yang diusir yang mengungsi di tempat pengungsian. Ia sama sekali tak membantu Maryam dan jemaah lainnya untuk bisa kembali ke rumahnya masing-masing.

Teknik pelukisan tokoh yang digunakan dalam novel Maryam karya Okky Madasari adalah teknik ekspositori dan teknik dramatik. Teknik ekspositori digunakan untuk menggambarkan tokoh Maryam, Umar, Pak Khairuddin, Zulkhair, Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, dan Gubernur. Namun, beberapa penggambaran fisik para tokoh diperjelas dengan penggambaran dramatik. Sementara penggambaran keadaan psikis dan sosialnya, pengarang menggunakan teknik dramatik. Hal ini terlihat pada penggambaran tokoh Maryam.

Kajian sosiologi sastra dalam studi ini difokuskan pada bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam. Dari keseluruhan cerita dalam novel Maryam karya Okky Madasari dengan kajian sosiologi sastra dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapatnya konflik sosial tokoh Maryam. Konflik merupakan dilema sosial ketika orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk

memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Konflik yang mencakup dua aspek permasalahan, yaitu, konflik karena perbedaan orang perorangan dan konflik karena perbedaan kebudayaan.

Okky Madasari mengangkat sebuah persoalan yang sensitif dan kompleks dalam masyarakat Indonesia. Konflik Ahmadiyah merupakan konflik yang tidak mudah diatasi oleh pemerintah.

4.2 Saran

Semua permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini telah dibahas. Namun, masih ada beberapa saran yang dapat diajukan perihal penelitian yang bersumber pada novel Maryam karya Okky Madasari. Penelitian dengan sumber data novel Maryam masih dapat diteliti jauh dengan sudut pandang yang berbeda, misalnya dengan kajian psikologi sastra, kajian kritik sosial, kajian kritik feminisme, dan kajian kritik psikoanalisis.

Kajian-kajian dengan perspektif tersebut dapat memperkaya pemahaman kita terhadap perjuangan Maryam dan kaum Ahmadiyah dalam menegakkan eksistensi kemanusiaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Badry, Hamka Haq. 1981. Koreksi Total terhadap Ahmadiyah. Jakarta: Yayasan Nurul Islam

Boulding, Keneth A. 1962. Conflict and Defense A General Theory. Michigan: Torchbooks

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra; Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra (Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: CAPS

Faruk. 2005. Pengantar Sosiologi Sastra dari Struturaisme Genetik sampai Post- Modernisme. Jakarta: Pustaka Jaya

Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. (Terjemahan: Robert M. Z. Lawang). Jakarta: Gramedia

Kusrini, Yuliana Maria, 2003. “Konflik Sosial dalam Novel Orang-orang Malioboro Karya Eko Susanto: Pendekatan Sosiologi Sastra.” Skripsi: Yogyakarta: Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Madasari, Okky. 2012. Maryam. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Musarrofah, Susi Lailatul. 2013. Konflik Sosial dalam Novel Maryam. (http://www.susinyainal.blogspot.co.id). diunduh pada tanggal 22 Januari 2016, pukul 13.30

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Denpasar: Pustaka Pelajar

. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Denpasar: Pustaka Pelajar

Saifuddin, Achmad Fedyani. 1986. Konflik dan Integrasi; Perbedaan Faham dalam Agama Islam. Jakarta: Rajawali

Santosa, Heru Wijaya dan Sri Wahyunngtyas. 2011. Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pustaka

Soekanto, Soerjono, 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sudjiman, Panuti. 1987. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya Suharti, Lucia Intan. 2006. “Konflik sosial antar tokoh Novel Berjuta-juta dari

Deli Satoe Hikajat Koeli Contract Karya Emil W. Aulia: Suatu Pendekatan Sosiologi Sastra.” Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-Daerah, Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, Universitas Sanata Dharma

Susetyo, D.P.B. 2010. Stereotip dan Relasi Antarkelompok. Yogyakarta: Graha Ilmu

Tania, Ulfa Rahma. 2012. “Kajian Feminisme dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari.” Skripsi. Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayattulah Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Dunia

Pustaka Jaya

Veeger, K.J. 1992. Pengantar Sosiologi: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Wiyatmi. 2005. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publishing

Sumber Internet:

http://www.andreasharsono.net/2010/02/ahmadiyah-dan-hakasasi_18.html. diunduh pada 2 Maret 2016, pukul 13:57

http://www.duniabaca.com/asal-usul-sejarah-ahmadiyah-di-indonesia.html. diunduh pada 6 Juni 2016, pukul 10:05

PROFIL PENULIS

Margaretha Ervina Sipayung lahir di Batu Langka, 24 Juni 1994. Mengawali pendidikan tingkat Sekolah Dasar Negeri I Dwi Warga Tunggal Jaya, Lampung, Tulang Bawang, pada tahun 2000-2006. Ia melanjutkan studi ke tingkat Sekolah Menengah Pertama di Sekolah Lentera Harapan Banjar Agung, Lampung, Tulang Bawang, pada tahun 2006-2009. Kemudian, melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Sekolah Lentera Harapan Banjar Agung, Lampung, Tulang Bawang, pada tahun 2009-2012. Pada tahun 2012 menempuh gelar Sarjana di Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Pada tahun 2012, menjadi pengurus “Bengkel Sastra” periode 2012-2013.

Selama masa aktifnya, ia terlibat dalam acara pementasan drama “Bunga Rumah

Makan” Produksi Bengkel Sastra Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra,

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Sanggar Babaran Segara Gunung. Proses produksi berlangsung pada 10 September 2013 - 3 Desember 2013 yang di sutradarai oleh Untung Basuki.

Pada tahun 2016, ia mengakhiri masa studinya dengan menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari: Kajian Sosiologi Sastra.”