Konflik sosial tokoh maryam dalam novel Maryam karya Okky Madasari: kajian sosiologi sastra.

143  33 

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Sipayung, Margaretha Ervina. 2016. Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari: Kajian Sosiologi Sastra. Skripsi Strata Satu (S1). Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini mengangkat topik konflik sosial yang dialami oleh tokoh Maryam dalam novel Maryam. Konflik merupakan dilema sosial ketika orang-perorangan atau kelompok manusia yang ingin memenuhi tujuannya dengan cara menentang pihak lawan yang disertai ancaman dan kekerasan. Tujuan penelitian ini (i) menganalisis dan mendeskripsikan struktur novel Maryam yang meliputi tokoh dan penokohan, alur, dan latar, (ii) menganalisis dan memaparkan bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam dalam novel Maryam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian struktural dan pendekatan sosiologi sastra dengan teori konflik sosial Soerjono Soekanto. Kajian struktural digunakan untuk menganalisis struktur novel dan untuk melihat permasalahan yang berhubungan dengan tokoh Maryam. Kajian sosiologi sastra digunakan untuk menganalisis bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam yang meliputi konflik karena perbedaan orang-perorangan dan konflik karena perbedaan kebudayaan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik, yaitu, teknik studi pustaka, teknik baca, dan teknik catat. Sementara itu, dalam metode analisis data, menggunakan metode berdasarkan isi laten dan isi komunikasi. Selanjutnya, dalam metode penyajian data, menggunakan deskriptif analisis.

Hasil kajian dalam novel ini dibagi menjadi dua, yaitu analisis struktur novel dan sosiologi sastra. Struktur novel berisi tokoh dan penokohan, tokoh protagonis dalam novel ini adalah Maryam, Umar, Pak Khairuddin, dan Zulkhair; dan tokoh antagonis yaitu Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, dan Gubernur. Maryam adalah tokoh yang memiliki permasalahan sosiologis. Alur yang digunakan, yaitu: tahap penyituasian, tahap pemunculan konflik, tahap peningkatan konflik tahap klimaks, dan tahap penyelesaian. Latar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu latar tempat (Lombok, Gerupuk, Gegerung, dan Gedung Transito), latar waktu (tahun 1999, tahun 2001, tahun 2003), dan latar sosial (segi kebiasaan hidup, segi tradisi, segi cara berpikir dan bersikap).

(2)

ABSTRACT

Sipayung, Margaretha Ervina. 2016. Social Conflicts that Experienced in Maryam Novel by Okky Madasari: Literature Sociology Study. An Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Indonesian Literature Study Program. Faculty of Letter, Sanata Dharma University.

This research raised theme of social conflict that experienced by Maryam in Maryam novel. Conflict is a social dilemma when the individuals or human groups who wants to meet objectivies in away against the opposition with the threats and violence. Research purposes (1) analyzing and describing the structure of Maryam novel includes character and characterization, plot, and background, (ii) analyzing and to exposing forms of the sosial conflicts that experienced by Maryam in Maryam novel. This research using structural approach and sociology approach with Soerjono Soekanto’s social conflict theory. Structural approach is using to analyze the novel structure and to see of problems associated with Maryam. Literature sociology approach is using to exposing forms of the social conflicts that experienced by Maryam which including conflicts due to difference of individuals and conflicts due to cultural differences. The technique of using literature review technique, reading technique, and writting tchnique. Meanwhile, the techniques to analyze data using the method based on laten contents and communication contents. After that, the method of data presentation using the descriptive analysis.

The resut of the study in this novel is divided into two parts, analysis of novel structure and literature sociology. The novel structure contains about character and charaterization, the protagonists character in this novel are Maryam, Umar, Pak Khairuddin, dan Zulkhair; while the antagonist figure are Alam, Ibu Alam, Pak Haji, Pak RT, dan Gubernur. Maryam is a character who has a sociology problems. The plot used are situation phase, generating circumstances phase, rising action phase, climax, and denouement phase. Background is divided into three parts, place (Lombok, Gerupuk, Gegerung, dan Gedung Transito), time (1999, 2001, 2003), and social (aspect of common life, aspect of tradition, aspect of fashion, and aspect thought and attitude).

(3)

i

KONFLIK SOSIAL TOKOH MARYAM DALAM NOVEL MARYAM

KARYA OKKY MADASARI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Tugas Akhir

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Margaretha Ervina Sipayung NIM: 124114024

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

vi

PERSEMBAHAN

Pertolongan-Mu begitu ajaib

Kau telah memikat hatiku disaat aku tak sanggup lagi

Disitu tangan-Mu bekerja

(Citra Scholastika)

Karya sederhana ini kupersembahkan kepada: Bapakku T. Sipayung, Mamaku E. BoruTurnip, Abang pertamaku Antonius Sipayung, Abang keduaku Albertus Ronitua Sipayung,

Kakak perempuanku Tio Maria Sipayung, Adik perempuanku Tiodora Panca Sipayung,

(9)

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya hadiratkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya tugas akhir ini yang berjudul “Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam karya Okky Madasari: Kajian Sosiologi Sastra”

dapat diselesaikan dengan baik dan merupakan salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana S1 Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Dalam penyusunan laporan penyelesaian skripsi ini juga tidak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. selaku dosen pembimbing I yang telah bersedia memberikan bimbingan, waktu, masukan, dukungan, dan kesabaran, sehingga tugas akhir ini dapat berjalan dengan baik.

2. Drs. B. Rahmanto, M.Hum. selaku dosen pembimbing II yang telah mendampingi dan memberikan waktu serta kesabarannya dalam menyelesaikan tugas akhir.

3. Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum. selaku Dekan Fakultas Sastra dan Dosen Pembimbing Akademik yang tak pernah berhenti memberikan dukungan dan mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan tugas akhir ini. 4. Seluruh staf pengajar Jurusan Sastra Indonesia S.E Peni Adji, S.S., M.

(10)

viii

Sudarsono, M.A. yang telah memberikan dukungan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir.

5. Seluruh staf dan karyawan perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dalam menyediakan buku-buku referensi yang dibutuhkan oleh penulis.

6. Orangtuaku tercinta yang telah memberikan motivasi paling kuat, selalu mendoakan penulis, dan membiayai penulis dalam menyelesaikan kuliah dan tugas akhir ini.

7. Keempat saudara saya: Antonius Sipayung, Albertus Ronitua Sipayung, Tio Maria Sipayung, Tiodora Panca Sipayung yang telah mendukung dan memberikan semangat kepada penulis.

8. Ibu Agnes Triana Sulistyaningsih yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir.

9. Mba Bety dan Kakak A. Ria Puji Utami yang selalu memberikan doa dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

10. Teman-teman Sastra Indonesia Angkatan 2012: Bella, Roby, Gaby, Dorce, Patrick, Silvy, Shanty, Carlos, Wily, Lina, Ovi, Venta, Peng, dan Mei atas kebersamaannya dari tahun 2012 dan turut memberikan dukungan pada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

(11)
(12)

x

ABSTRAK

Sipayung, Margaretha Ervina. 2016. Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari: Kajian Sosiologi Sastra. Skripsi Strata Satu (S1). Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini mengangkat topik konflik sosial yang dialami oleh tokoh Maryam dalam novel Maryam. Konflik merupakan dilema sosial ketika orang-perorangan atau kelompok manusia yang ingin memenuhi tujuannya dengan cara menentang pihak lawan yang disertai ancaman dan kekerasan. Tujuan penelitian ini (i) menganalisis dan mendeskripsikan struktur novel Maryam yang meliputi tokoh dan penokohan, alur, dan latar, (ii) menganalisis dan memaparkan bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam dalam novel Maryam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian struktural dan pendekatan sosiologi sastra dengan teori konflik sosial Soerjono Soekanto. Kajian struktural digunakan untuk menganalisis struktur novel dan untuk melihat permasalahan yang berhubungan dengan tokoh Maryam. Kajian sosiologi sastra digunakan untuk menganalisis bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam yang meliputi konflik karena perbedaan orang-perorangan dan konflik karena perbedaan kebudayaan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik, yaitu, teknik studi pustaka, teknik baca, dan teknik catat. Sementara itu, dalam metode analisis data, menggunakan metode berdasarkan isi laten dan isi komunikasi. Selanjutnya, dalam metode penyajian data, menggunakan deskriptif analisis.

Hasil kajian dalam novel ini dibagi menjadi dua, yaitu analisis struktur novel dan sosiologi sastra. Struktur novel berisi tokoh dan penokohan, tokoh protagonis dalam novel ini adalah Maryam, Umar, Pak Khairuddin, dan Zulkhair; dan tokoh antagonis yaitu Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, dan Gubernur. Maryam adalah tokoh yang memiliki permasalahan sosiologis. Alur yang digunakan, yaitu: tahap penyituasian, tahap pemunculan konflik, tahap peningkatan konflik tahap klimaks, dan tahap penyelesaian. Latar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu latar tempat (Lombok, Gerupuk, Gegerung, dan Gedung Transito), latar waktu (tahun 1999, tahun 2001, tahun 2003), dan latar sosial (segi kebiasaan hidup, segi tradisi, segi cara berpikir dan bersikap).

(13)

xi

ABSTRACT

Sipayung, Margaretha Ervina. 2016. Social Conflicts that Experienced in Maryam Novel by Okky Madasari: Literature Sociology Study. An Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Indonesian Literature Study Program. Faculty of Letter, Sanata Dharma University.

This research raised theme of social conflict that experienced by Maryam in Maryam novel. Conflict is a social dilemma when the individuals or human groups who wants to meet objectivies in away against the opposition with the threats and violence. Research purposes (1) analyzing and describing the structure of Maryam novel includes character and characterization, plot, and background, (ii) analyzing and to exposing forms of the sosial conflicts that experienced by Maryam in Maryam novel. This research using structural approach and sociology approach with Soerjono Soekanto’s social conflict theory. Structural approach is using to analyze the novel structure and to see of problems associated with Maryam. Literature sociology approach is using to exposing forms of the social conflicts that experienced by Maryam which including conflicts due to difference of individuals and conflicts due to cultural differences. The technique of using literature review technique, reading technique, and writting tchnique. Meanwhile, the techniques to analyze data using the method based on laten contents and communication contents. After that, the method of data presentation using the descriptive analysis.

The resut of the study in this novel is divided into two parts, analysis of novel structure and literature sociology. The novel structure contains about character and charaterization, the protagonists character in this novel are Maryam, Umar, Pak Khairuddin, dan Zulkhair; while the antagonist figure are Alam, Ibu Alam, Pak Haji, Pak RT, dan Gubernur. Maryam is a character who has a sociology problems. The plot used are situation phase, generating circumstances phase, rising action phase, climax, and denouement phase. Background is divided into three parts, place (Lombok, Gerupuk, Gegerung, dan Gedung Transito), time (1999, 2001, 2003), and social (aspect of common life, aspect of tradition, aspect of fashion, and aspect thought and attitude).

(14)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... x

ABSTRACT ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Tinjauan Pustaka ... 8

1.6 Landasan Teori ... 10

1.6.1 Kajian Struktural ... 10

1.6.1.1 Tokoh ... 11

1.6.1.2 Penokohan ... 15

1.6.1.3 Alur atau Plot ... 20

1.6.1.4 Latar atau Setting ... 22

(15)

xiii

1.6.3 Konflik Sosial Menurut Soerjono Soekanto ... 26

1.7 Metode Penelitian ... 34

1.7.1 Pendekatan ... 35

1.7.2 Metode Pengumpulan Data ... 35

1.7.3 Metode Analisis Data ... 36

1.7.4 Metode Penyajian Data ... 36

1.8 Sumber Data ... 37

1.9 Sistematikan Penyajian ... 37

BAB II STRUKTUR NOVEL MARYAM KARYA OKKY MADASARI 2.1 Pengantar ... 39

2.2 Tokoh dan Penokohan ... 39

2.2.1 Tokoh Protagonis dalam Novel Maryam ... 39

2.2.1.1 Tokoh dan Penokohan Maryam ... 40

2.2.1.2 Tokoh dan Penokohan Umar ... 47

2.2.1.3 Tokoh dan Penokohan Pak Khairuddin ... 49

2.2.1.4 Tokoh dan Penokohan Zulkhair ... 52

2.2.2 Tokoh Antagonis dalam Novel Maryam ... 54

2.2.2.1 Tokoh dan Penokohan Alam... 54

2.2.2.2 Tokoh dan Penokohan Ibu Alam ... 57

2.2.2.3 Tokoh dan Penokohan Pak RT ... 59

2.2.2.4 Tokoh dan Penokohan Pak Haji... 61

(16)

xiv

2.3 Alur atau Plot ... 66

2.3.1 Tahap Penyituasian (Tahap Situation) ... 66

2.3.2 Tahap Pemunculan Konflik (Tahap Generating Circumstances) ... 67

2.3.3 Tahap Peningkatan Konflik (Tahap Rising Action) ... 71

2.3.4 Tahap Klimaks (Tahap Climax) ... 75

2.3.5 Tahap Penyelesaian (Tahap Denouement) ... 76

2.4 Latar atau Setting ... 78

2.4.1 Latar Tempat... 78

2.4.2 Latar Waktu ... 82

2.4.3 Latar Sosial ... 84

2.5 Rangkuman ... 86

BAB III BENTUK-BENTUK KONFLIK SOSIAL TOKOH MARYAM DALAM NOVEL MARYAM 3.1 Pengantar ... 89

3.2 Konflik karena Perbedaan Orang-perorangan ... 92

3.2.1 Perbedaan Antara Individu dengan Individu ... 92

3.2.2 Perbedaan Antara Indivu dengan Kelompok ... 97

3.2.3 Perbedaan Antara Kelompok dengan Kelompok ... 100

3.3 Konflik karena Perbedaan Kebudayaan ... 105

(17)

xv

3.3.2 Kebudayaan Khusus Atas Dasar Agama ... 110

3.3.3 Kebudayaan Khusus Atas Dasar Kelas Sosial ... 113

3.4 Rangkuman ... 117

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 120

4.2 Saran ... 123

DAFTAR PUSTAKA ... 124

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat, ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Maka dari itu, sastra menampilkan gambaran kehidupan. Gambaran kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan-antarmasyarakat, antara masyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Hal inilah yang menjadi pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat (Damono, 1978: 1).

Karya sastra selalu berusaha menemukan dimensi-dimensi tersembunyi dalam kehidupan manusia, dimensi-dimensi yang tidak terjangkau oleh kualitas evidensi empiris. Tujuan karya sastra adalah melukiskan konfigurasi struktur perilaku, struktur ide, dan berbagai kecenderungan sosial (Ratna, 2003: 214).

(19)

Novel mampu menghadirkan perkembangan satu karakter, situasi sosial yang rumit, hubungan yang melibatkan banyak atau sedikit karakter, dan berbagai peristiwa ruwet yang terjadi beberapa tahun silam secara lebih mendetail. Ciri khas novel ada pada kemampuannya untuk menciptakan satu semesta yang lengkap sekaligus rumit (Stanton, 2007: 90).

Kita dapat menemukan keunikan-keunikan dalam novel karangan siapa pun. Keunikan tersebut dapat berupa prinsip-prinsip etnis, konflik-konflik, tipe-tipe latar, karakter-karakter, dan tindakan. Elemen-elemen tersebut merupakan dunia ‘pengarang’ (Stanton, 2007: 106).

George Lukacs adalah tokoh sosiologi sastra yang mempergunakan istilah “cermin” sebagai ciri khas dalam keseluruhan karya. Mencerminkan menurut dia,

berarti menyusun sebuah struktur mental. Sebuah novel tidak hanya mencerminkan “realitas” melainkan lebih dari itu memberikan kepada kita

“sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik” yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak

hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup melainkan lebih merupakan sebuah “proses yang hidup.” Sastra tidak mencerminkan realitas

seperti fotografi, melainkan lebih sebagai bentuk khusus yang mencerminkan realitas (Endraswara, 2013: 89).

(20)

Maryam digambarkan sebagai tokoh wanita yang mengalami banyak konflik, khususnya konflik sosial yang dialami oleh dirinya untuk bisa berusaha melawan ketidakadilan yang ia dapat selama hidupnya sebagai seorang wanita yang terlahir dari Ahmadiyah. Maryam merupakan seorang wanita yang cerdas, ramah, taat beribadah. Namun dari itu semua, Maryam justru mendapatkan pertentangan dari keluarga sang suami dan lingkungan sekitarnya yang menilai bahwa ia merupakan seorang yang terlahir dari Ahmadiyah yang dinilai sesat, karena memiliki ajaran sendiri dengan menganggap nabi terakhir adalah Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi Muhammad s.a.w. meskipun sebenarnya ia merasa bahwa dirinya beragama Islam, hal tersebut tidaklah menutup hati mereka (bukan kelompok Ahmadiyah atau kelompok penentang) untuk bisa berdamai dengan dirinya.

Hal ini juga disampaikan oleh pengarang novel Maryam, Okky Madasari, yang mengungkapkan pendapatnya akan pengusiran warga penganut Islam Ahmadiyah oleh kelompok penentangnya dari Nusa Tenggara Barat, Lombok. Jemaah Ahmadiyah dianggap bertentangan karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi mereka, sedangkan menurut Islam secara umum menganggap bahwa nabi terakhir mereka adalah Nabi Muhammad s.a.w. sehingga membuat kelompok bukan Ahmadiyah atau kelompok penentang pun memusuhi dan menjauhi kelompok Ahmadiyah dengan melarang dan menganggap kelompok Ahmadiyah bukanlah Islam.

(21)

berontak terhadap tata nilai keluarga, berontak terhadap perilaku masyarakat yang beragama, dan berontak atas ketidakberdayaan rasa aman terhadap negaranya akibat banyaknya pertentangan-pertentangan sehingga menimbulkan konflik.

Menurut Coser melalui Saifuddin (1986: 7), konflik adalah gejala yang wajar terjadi dalam setiap masyarakat yang selalu mengalami perubahan sosial dan kebudayaan. Menurut Nurgiyantoro (2007: 124), konflik sosial merupakan konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia.

Menurut Boulding (1962: 166), yang paling menarik dari konflik adalah ketika mereka berada dalam satu pihak, menganggap bahwa adalah orang-perseorangan dan pihak lain adalah kelompok atau organisasi. Konflik seperti itu timbul di mana peran yang dikenakan pada individu dengan alasan keanggotaannya dalam kelompok atau organisasi berbeda dari beberapa peran atau pola perilaku yang ia suka dan berpikir mampu melakukannya. Untuk beberapa konflik ini tak terelakkan lagi; mereka diciptakan oleh fakta keanggotaan individu dalam suatu kelompok atau organisasi pembentukan yang tidak bisa dikendalikan. Saling berhubungan antara individu, kelompok, dan organisasi.

Penelitian konflik sosial dikembangkan oleh Soerjono Soekanto. Ia lahir di Jakarta, 30 Januari 1942. Ia menamatkan Sarjana Hukum di Universitas Indonesia, M.A. di Universitity of California, Berkeley, dan memperoleh gelar Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia dengan disertasi “Kesadaran Hukum

(22)

Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan pidato pengukuhan “Faktor-faktor

yang Mempengaruhi Penegakan Hukum” (Soekanto, 1982: tanpa halaman). Sejak lahir di dunia, dia sudah berhubungan dengan orang tuanya misalnya, dan semakin meningkat usianya, bertambah luas pula pergaulannya dengan manusia lain di dalam masyarakat. Dia juga menyadari, bahwa kebudayaan dan peradaban dewasa ini, merupakan hasil perkembangan masa-masa yang silam. Sosiologi merupakan suatu ilmu yang masih muda usianya, walaupun telah mengalami perkembangan yang cukup lama. Sejak manusia mengenal kebudayaan dan peradaban, masyarakat manusia sebagai proses pergaulan hidup telah menarik perhatian (Soekanto, 1982: 1).

Penelitian ini membahas konflik sosial dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan sosiologi sastra merupakan perkembangan dari perkembangan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (Wiyatmi, 2005: 97).

Menurut Ratna (2003: 1), sosiologi adalah mengenai asal-usul, pertumbuhan masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antarmanusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sosiologi meneliti hubungan individu dengan kelompok dan budayawan sebagai unsur yang bersama-sama membentuk kenyataan hidup masyarakat dan kenyataan sosial. Hal ini terlihat pada novel Maryam karya Okky Madasari sebagai cerminan dari pelbagai kehidupannya.

(23)

dengan kenyataan. Karya sastra jelas dikonstruksikan secara imajinatif, tetapi kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar kerangka empirisnya. Karya sastra bukan semata-mata gejala individual, tetapi juga gejala sosial (Ratna, 2003: 11).

Novel Maryam karya Okky Madasari menarik untuk diteliti karena adanya beberapa alasan. Pertama, novel ini memaparkan sebuah kisah perjuangan seorang perempuan yang menghadapi kehidupan yang penuh lika-liku dan mengharukan. Terlihat pada perjuangan Maryam yang berusaha melewati masa hidupnya yang merasa gagal dalam membina rumah tangga. Kedua, novel Maryam karya Okky Madasari menceritakan tragedi pengusiran yang dilakukan oleh kelompok bukan Ahmadiyah (kelompok penentang) sehingga mengharuskan kelompok Ahmadiyah untuk mengungsi. Ketiga, novel ini menyajikan berbagai konflik sosial yang dialami oleh tokoh Maryam itu sendiri dalam novel Maryam karya Okky Madasari yang cocok dikaji dengan kajian sosiologi sastra.

(24)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1.2.1 Bagaimanakah struktur novel Maryam karya Okky Madasari?

1.2.2 Bagaimana bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam dalam novel Maryam karya Okky Madasari?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut.

1.3.1 Menganalisis dan mendeskripsikan struktur novel Maryam karya Okky Madasari. Hal ini akan dipaparkan dalam Bab II.

1.3.2 Menganalisis dan memaparkan bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam karya Okky Madasari. Kajian tentang konflik sosial tokoh Maryam karya Okky Madasari akan dibahas dalam Bab III.

1.4 Manfaat Penelitian

(25)

1.4.1 Manfaat Teoretis

Penelitian ini bermanfaat sebagai contoh penerapan kajian struktural yang meliputi tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Serta kajian sosiologi sastra untuk memahami konflik sosial yang dialami oleh tokoh Maryam karya Okky Madasari dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Soerjono Soekanto.

1.4.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan tentang karya sastra dan pemahaman tentang novel Maryam karya Okky Madasari. Selain itu, melalui penelitian ini diharapkan pengetahuan pembaca mengenai sosiologi sastra yang lebih luas sehingga ilmu yang dirasakan bermanfaat bagi pembaca dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

1.5 Tinjauan Pustaka

Novel Maryam merupakan novel ketiga Okky Madasari. Sebelumnya Okky Madasari menulis novelnya yang berjudul Entrok. Novel Entrok ini merupakan novel pertamanya yang mengkisahkan pertentangan keyakinan antara dua generasi dan kesewenangan militer pada masa Orde Baru (Orba). Novel ketiganya adalah novel yang dibahas oleh penulis, yaitu Maryam. Novel ini mengkisahkan tentang pengusiran terhadap Ahmadiyah yang dipandang sebagai “aliran sesat.” Orang-orang ini mengalami diskriminatif dari kumpulan kelompok

(26)

Novel Maryam ini pernah dikaji oleh Susi Lailatul Musarrofah (2013) seorang mahasiswa Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dalam pendekatan sosiologi sastra, dengan judul “Konflik Sosial Dalam Novel Maryam Karya Okky

Madasari.” Sementara itu, topik permasalahan “konflik sosial” juga dikaji oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Mereka diantaranya ialah: Lucia Intan Suharti (USD-2006). Penelitian yang berjudul Konflik Sosial Antar Tokoh Novel Berjuta-juta dari Deli Satoe Hikajat Koeli Contract Karya Emil W.

Aulia: Suatu Pendekatan Sosiologi Sastra. Permasalahan yang akan dibahas

dalam penelitian Lucia Intan Suharti adalah (1) Bagaimana tokoh dan penokohan, alur, dan latar serta keadaan sosial novel Berjuta-juta dari Deli Satoe Hikajat Koeli Contract karya Emil W. Aulia: Suatu Pendekatan Sosiologi Sastra, (2)

Bagaimana konflik sosial novel Berjuta-juta dari Deli Satoe Hikajat Koeli Contract karya Emil W. Aulia.

Penelitian yang dilakukan oleh Maria Yuliana Kusrini (USD-2003). Penelitian yang berjudul Konflik Sosial dalam Novel Orang-orang Malioboro karya Eko Susanto Pendekatan Sosiologi Sastra. Penelitian tersebut membahas

masalah (1) Bagaimana tokoh dan penokohan serta keadaan sosial dalam Orang-orang Malioboro karya Eko Susanto, (2) Bagaimana konflik sosial yang ada

dalam Orang-orang Malioboro karya Eko Susanto.

(27)

mengkaji “Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam karya Okky Madasari dengan Kajian Sosiologi Sastra.”

1.6 Landasan Teori

Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi (i) kajian struktural, (ii) kajian sosiologi sastra, (iii) bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami tokoh Maryam dalam novel Maryam karya Okky Madasari. Kajian struktural digunakan untuk menganalisis tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Kajian sosiologi sastra digunakan sebagai pendekatan yang digunakan penulis. Kajian konflik sosial menggunakan teori yang dikembangkan oleh Soerjono Soekanto dalam memahami bentuk-bentuk konflik sosial yang dialami oleh tokoh Maryam.

1.6.1 Kajian Struktural

Dalam penelitian ini, kajian struktural dibatasi pada tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Untuk kepentingan adanya tokoh dan penokohan, alur, dan latar akan digunakan penulis untuk dapat lebih mengenal dan memahami tokoh Maryam serta konflik sosial yang dialaminya dalam novel Maryam karya Okky Madasari.

(28)

Kajian struktural karya sastra dalam fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur instrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Setelah dicoba jelaskan bagaimana fungsi masing-masing unsur itu dalam menunjang makna keseluruhannya, dan bagaimana fungsi masing-masing unsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas kemaknaan yang padu (Nurgiyantoro, 2007: 37).

Dalam penelitian ini, penulis menganalisis masalah tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Ketiga analisis ini sangat penting bagi penulis karena berperan penting pada perkembangan konflik.

1.6.1.1Tokoh

Menurut Abrams melalui Nurgiyantoro (2007: 165), tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Menurut Stanton melalui Nurgiyantoro (2007: 165), tokoh (character) menyarankan pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan sebagai sikap, ketertarikan, keinginan, emosi, dan prinsip moral yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut.

Tema ‘karakter’ biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama,

(29)

emosi, dan prinsip moral dari invidu-individu tersebut. Sebagian besar cerita dapat ditemukan satu ‘karakter utama’ yaitu karakter yang terkait dengan semua

peristiwa yang berlangsung dalam cerita (Stanton, 2007:33).

Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Keadaan ini dapat berakibat kurang menguntungkan para tokoh cerita itu sendiri dilihat dari segi kewajarannya dalam bersikap dan bertindak. Tokoh cerita seolah-olah hanya sebagai corong penyampai pesan atau bahkan mungkin merupakan refleksi pikiran, sikap, pendirian, dan keinginan-keinginan pengarang (Nurgiyantoro, 2007: 167-168).

Walaupun tokoh cerita “hanya” merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia

haruslah merupakan seorang tokoh yang hidup secara wajar, sewajar bagaimana kehidupan manusia yang terdiri dari darah dan daging, mempunyai pikiran dan perasaan. Kehidupan tokoh cerita adalah kehidupan dalam dunia fiksi, maka ia harus bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan cerita dengan perwatakan yang disandangnya (Nurgiyantoro, 2007: 167).

(30)

tokoh yang dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama secara langsung (Nurgiyantoro, 2007: 177-178).

Berdasarkan fungsi penampilan tokoh, dibedakan ke dalam tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang selalu menjadi tokoh yang sentral dalam cerita. Ia bahkan menjadi pusat sorotan dalam kisahan. Protagonis juga ditentukan dengan memperhatikan hubungan antar tokoh. Protagonis berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, sedangkan tokoh-tokoh itu sendiri tidak semua berhubungan satu dengan yang lain (Sudjiman, 1987: 18). Menurut Altenbernd dan Lewis melalui Nugiyantoro (2007: 178), tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi yang salah satu jenisnya secara populer disebut hero, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan pembaca, harapan-harapan pembaca. Tokoh protagonis mewakili yang baik dan terpuji karena biasanya menarik simpati pembaca.

(31)

kekuatan yang lebih tinggi, dan sebagainya. Hal ini dapat dikatakan sebagai kekuatan antagonistis (Nurgiyantoro, 2007: 179).

Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam tokoh sederhana (simple atau flat character) dan tokoh kompleks atau tokoh bulat (complex atau round character). Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja. Tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadiannya, dan jati dirinya (Nurgiyantoro, 2007: 182-183).

Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan, tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam tokoh statis atau tokoh tak berkembang (static character) dan tokoh berkembang (developing character). Tokoh statis adalah

tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan (dan perubahan) peristiwa dan plot yang dikisahkan (Nurgiyantoro, 2007: 188).

(32)

lembaga, atau seorang individu sebagai bagian dari suatu lembaga yang ada di dunia nyata (Nurgiyantoro, 2007: 190).

Dalam penelitian novel Maryam karya Okky Madasari, jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh cerita, penulis manganalisis tokoh cerita tersebut dalam tokoh protagonis dan antagonis.

1.6.1.2Penokohan

Menurut Jones melalui Nurgiyantoro (2007: 165), penokohan adalah gambaran tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Menurut Nurgiyantoro (2007: 166), istilah dari “penokohan” lebih luas pengertiannya daripada “tokoh” dan “perwatakan” sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa

tokoh cerita, bagaimana perwatakan, bagaimana penempatan, dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menyaran pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita. Dengan demikian, istilah penokohan ini sekaligus terkandung dalam dua aspek, yaitu: isi dan bentuk.

(33)

1.6.1.2.1 Teknik Ekspositori

Teknik ekspositori sering juga disebut sebagai teknik analitis. Pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kehadirannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan juga ciri fisiknya (Nurgiyantoro, 2007: 195).

Deskripsi kedirian tokoh yang dilakukan secara langsung oleh pengarang akan berwujud penuturan yang bersifat deskriptif pula. Artinya, ia tak akan berwujud penuturan yang bersifat dialog, walau bukan merupakan suatu pantangan atau pelanggaran jika dalam dialog pun tercermin watak para tokoh yang terlibat (Nurgiyantoro, 2007: 197).

1.6.1.2.2 Teknik Dramatik

Teknik dramatik atau pelukisan tokoh cerita yang dilakukan secara tidak langsung. Artinya, pengarang tak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi (Nurgiyantoro, 2007: 198).

(34)

Wujud penggambaran teknik dramatik, penampilan tokoh secara dramatik dapat dilakukan dengan sejumlah teknik. Dalam sebuah karya fiksi, biasanya pengarang mempergunakan berbagai teknik itu secara bergantian dan saling mengisi, walau ada perbedaan frekuensi penggunaan masing-masing teknik. Berbagai teknik yang dimaksud sebagian di antaranya akan dikemukakan di bawah ini.

(a) Teknik Cakapan

Percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita biasanya juga dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan. Tidak semua percakapan mencerminkan kedirian tokoh atau tidak mudah untuk menafsirkannya sebagai demikian. Namun, percakapan yang baik, yang efektif, yang lebih fungsional, adalah yang menunjukkan perkembangan plot dan sekaligus mencerminkan sifat kedirian tokoh pelakunya (Nurgiyantoro, 2007: 201).

(b) Teknik Tingkah Laku

(35)

(c) Teknik Pikiran dan Perasaan

Bagaimana keadaan dan jalan pikiran serta perasaan, apa yang melintas di dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh, dalam banyak hal akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya juga. Perbuatan dan kata-kata merupakan perwujudan konkret tingkah laku pikiran dan perasaan. Dengan demikian, teknik pikiran dan perasaan dapat ditemukan dalam teknik cakapan dan tingkah laku. Artinya, penuturan itu sekaligus untuk menggambarkan pikiran dan perasaan tokoh (Nurgiyantoro, 2007: 204).

(d) Teknik Arus Kesadaran

Teknik arus kesadaran berkaitan erat dengan teknik pikiran dan perasaan. Menurut Abrams melalui Nurgiyantoro (2007: 206), arus kesadaran merupakan sebuah teknik narasi yang berusaha menangkap pandangan dan aliran proses mental tokoh, ketika tanggapan indera bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, perasaan, ingatan, harapan, dan asosiasi-asosiasi acak.

Aliran kesadaran berusaha menangkap dan mengungkapkan proses kehidupan batin, yang memang hanya terjadi di batin, baik yang berada di ambang kesadaran maupun ketidaksadaran, termasuk kehidupan bawah sadar (Nurgiyantoro, 2007: 206).

(e) Teknik Reaksi Tokoh

(36)

Bagaimana reaksi tokoh terhadap hal-hal tersebut dapat dipandang sebagai suatu bentuk penampilan yang mencerminkan sifat-sifat kediriannya (Nurgiyantoro, 2007: 207).

(f) Teknik Reaksi Tokoh Lain

Reaksi tokoh lain dimaksudkan sebagai reaksi yang diberikan oleh tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar, dan lain-lain. Pendek kata: penilaian kedirian tokoh (utama) cerita oleh tokoh-tokoh cerita yang lain dalam sebuah karya (Nurgiyantoro, 2007: 209).

(g) Teknik Pelukisan Latar

Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagai teknik yang lain. Keadaan latar tertentu, dapat menimbulkan kesan yang tertentu pula di pihak pembaca. Pelukisan keadaan latar sekitar tokoh secara tepat akan mampu mendukung teknik penokohan secara kuat walau latar itu sendiri sebenarnya merupakan sesuatu yang berada di luar kedirian tokoh (Nurgiyantoro, 2007: 210).

(h) Teknik Pelukisan Fisik

(37)

dilukiskan, terutama jika ia memiliki bentuk fisik khas sehingga pembaca dapat menggambarkan secara imajinatif (Nurgiyantoro, 2007: 210).

1.6.1.3Alur atau Plot

Menurut Stanton (2007: 26), alur merupakan rangkaian peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain dan tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya.

Alur merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-elemen lain, alur dapat membuktikan dirinya sendiri meskipun jarang diulas panjang lebar dalam sebuah analisis. Alur memiliki hukum-hukum sendiri, alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinkan dan logis, dapat menciptakan bermacam kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan (Stanton. 2007: 28).

Dua elemen dasar yang membangun alur adalah ‘konflik’ dan ‘klimaks’.

Setiap karya fiksi setidak-tidaknya memiliki ‘konflik internal’ yang hadir melalui

hasrat dua orang karakter atau hasrat seorang karakter dengan lingkungannya (Stanton, 2007: 31).

(38)

Tahap penyituasian merupakan tahapan yang berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahapan ini merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain yang terutama berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya (Nurgiyantoro, 2007: 149).

Tahap pemunculan konflik merupakan tahapan ketika masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Tahapan ini merupakan tahapan awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya (Nurgiyantoro, 2007: 149).

Tahap peningkatan konflik merupakan tahapan konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita bersifat semakin mencengkam dan menegangkan (Nurgiyantoro, 2007: 149-150).

Tahap klimaks merupakan tahapan-tahapan konflik dan atau pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang dilakui dan atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh-tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama (Nurgiyantoro, 2007: 150).

(39)

1.6.1.4Latar atau Setting

Cerita berkisah tentang seorang atau beberapa orang tokoh. Peristiwa-peristiwa dalam cerita tentulah terjadi pada suatu waktu atau suatu rentang waktu tertentu dan pada suatu tempat tertentu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacungan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra membangun alur cerita (Sudjiman, 1987: 44).

Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bulan, dan tahun), cuaca, atau satu periode sejarah (Stanton, 2007: 35).

Menurut Abrams melalui Nurgiyantoro (2007: 216), latar atau setting disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Unsur latar dapat dibedakan menjadi tiga unsur, yaitu tempat, waktu, dan sosial. Ketiga unsur ini walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

(40)

1.6.1.4.1 Latar Tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan berupa tempat-tempat dengan nama tertentu atau inisial tertentu, dan lokasi tertentu tanpa nama jelas. Tempat-tempat yang bernama adalah tempat yang dijumpai dalam dunia nyata (Nurgiyantoro, 2007: 227).

Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan atau paling tidak tak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan. Deskripsi tempat secara teliti dan realistis ini penting untuk mengesankan pembaca seolah-olah hal yang diceritakan sungguh-sungguh ada dan terjadi, yaitu di tempat (dan waktu) seperti yang diceritakan itu (Nurgiyantoro, 2007: 227).

Latar tempat berfungsi untuk menjelaskan tempat terjadinya cerita dalam novel Maryam dengan demikian memudahkan penelitian. Latar tempat memberikan gambaran mengenai keadaan suatu tempat, wilayah, dan keadaan masyarakat. Setelah mengetahui dengan jelas latar tempat, maka akan membantu dalam menganalisis proses yang terjadi dalam novel Maryam.

1.6.1.4.2 Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa -peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut

(41)

sejarah. Segala sesuatu yang menyangkut hubungan waktu, langsung atau tidak langsung, harus berkesesuaian dengan waktu sejarah yang menjadi acuannya (Nurgiyantoro, 2007: 231).

Menurut Genette melalui Nurgiyantoro (2007: 231), masalah waktu dalam karya naratif bermakna ganda di satu pihak menyaran pada waktu penceritaan, waktu penulisan cerita, dan di pihak lain menunjuk pada waktu dan urutan waktu yang terjadi dan dikisahkan dalam cerita.

Latar waktu berfungsi untuk menjelaskan kapan terjadinya peristiwa dalam novel Maryam, sehingga penulis dapat dengan mudah menganalisisnya. Latar waktu dapat memberikan gambaran waktu terjadinya cerita karena waktu terjadinya peristiwa sangat membantu.

1.6.1.4.3 Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual seperti dikemukakan sebelumnya (Nurgiyantoro, 2007: 233-234).

(42)

1.6.2 Kajian Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra berkembang dengan pesat sejak penelitian-penelitian dengan memanfaatkan teori strukturalisme dianggap mengalami kemunduran, stagnasi, bahkan dianggap sebagai involusi (Ratna, 2013: 332).

Menurut Swingewood melalui Faruk (2005: 1), sosiologi sastra merupakan studi ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses sosial.

Menurut Gebstein melalui Endraswara (2013: 25), mengungkapkan konsep tentang sosiologi sastra, yaitu: (i) karya sastra tidak dapat dipahami selengkapnya tanpa dihubungkan dengan kebudayaan dan peradaban yang menghasilkannya, (ii) gagasan yang ada dalam karya sastra sama pentingnya dengan bentuk teknik pelukisannya, (iii) karya sastra bisa bertahan lama pada hakikatnya adalah suatu prestasi, (iv) masyarakat dapat mendekati sastra dari dua arah: pertama, sebagai kekuatan atau faktor material istimewa, dan kedua, sebagai tradisi.

Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan ini oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra. Istilah itu pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan sosio sastra, pendekatan sosiologis atau pendekatan sosiokultural terhadap sastra. Sosiologi sastra dalam penelitian ini mencakup pelbagai pendekatan, masing-masing didasarkan pada sikap dan pandangan teoritis tertentu (Damono, 1978: 2).

(43)

bahwa sastra merupakan cermin proses sosial-ekonomis belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor-faktor di luar sastra untuk membicarakan sastra, sastra hanya berharga dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar sastra itu sendiri. Dalam pendekatan ini, teks sastra tidak dianggap utama, ia hanya merupakan epiphenomenon (gejala kedua). Kedua, pendekatan yang mengutamakan teks

sastra sebagai bahan penelaahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis teks untuk mengetahui strukturnya, untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang di luar sastra.

Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra dengan landasannya adalah sebagai gagasan bahwa sastra merupakan cermin jamannya. Pandangan ini beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari pelbagai segi struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal ini, tugas ahli sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayali dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal-usulnya. Tema dan gaya yang ada dalam karya sastra yang bersifat pribadi itu, harus diubah menjadi hal-hal yang sosial sifatnya (Damono, 1978: 8-9).

1.6.3 Konflik Sosial Menurut Soejono Soekanto

(44)

Walaupun konflik merupakan suatu proses yang disosiatif, akan tetapi konflik sebagai salah satu bentuk proses sosial mempunyai fungsinya bagi masyarakat. Dalam artian, mempunyai akibat-akibat yang positif. Apakah suatu konflik membawa akibat-akibat yang positif atau negatif, tergantung dari persoalan yang dipertentangkan dan juga dari struktur sosial di mana konflik menyangkut suatu tujuan, nilai-nilai atau kepentingan-kepentingan. Salah satu faktor yang dapat membatasi akibat-akibat negatif dari suatu konflik adalah sikap toleransi yang institutionalized. Dalam kelompok-kelompok di mana warga-warganya dalam frekuensi yang tinggi mengadakan interaksi sosial kemungkinan terjadinya konflik dapat ditekan (Soekanto, 1982: 95).

Asal struktural konflik sosial terletak pada relasi-relasi hirarkis berupa kuasa/wewenang, yang berlaku di dalam kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi sosial. Tiap kesatuan itu menunjukkan pembagian yang sama, yakni antara sejumlah orang yang berada di dalam posisi memegang kuasa dan wewenang, dan sejumlah besar lain yang berada di posisi bawahan (Veeger, 1992: 93).

Teori konflik bukanlah suatu teori terpadu atau komprehensif. Mungkin karena alasan inilah, istilah “teori konflik” merupakan suatu istilah yang tidak

(45)

Teori konflik menerangkan kehidupan sosial dengan mengambil dampaknya struktur-struktur kekuasaan dan kepentingan kelompok sebagai masalah pokok. Prinsip dasar yang menerangkan kehidupan sosial ialah dominasi pihak kuat atas pihak lemah. Penekanan hidup rakyat, manipulasi pendapat umum, intimidasi, dan penindasan merupakan mekanisme-mekanisme yang diharapkan membawa “kestabilan”. Akan tetapi, masyarakat sebenarnya pada dasarnya

bersifat goyah karena menjadi arena persaingan dan penabrakan kepentingan yang berbeda-beda. Misalnya, pelapisan sosial yang dimengerti sebagai akibat objektif dari dominasi pihak kuat (Veeger, 1992: 31).

Soekanto memandang konflik terjadi pada perilaku pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok manusia yang menyadari adanya perbedaan-perbedaan yang dapat mengakibatkan perbedaan-perbedaan tersebut menjadi suatu pertentangan atau pertikaian atau kita juga sering menyebutnya sebagai konflik. Perasaan memegang peranan yang penting dalam mempertajam perbedaan-perbedaan sedemikian rupa, sehingga masing-masing pihak berusaha untuk saling menghancurkan. Perasaan tersebut biasanya berwujud amarah dan rasa benci yang menyebabkan dorongan-dorongan untuk melukai atau menyerang pihak lain, atau untuk menekan dan menghancurkan orang perorangan atau kelompok manusia yang menjadi lawan (Soekanto, 1982: 94).

(46)

kebudayaan, (iii) konflik karena perbedaan kepentingan, dan (iv) konflik karena perubahan-perubahan sosial.

1.6.3.1Konflik karena Perbedaan Orang-perorangan

Perbedaan orang-perorangan merupakan perbedaan pendirian dan perasaan yang akan setiap orang biasanya menjadi pemicu utama dalam konflik soisal. Sebab dalam menjalin hubungan sosial yang baik, seseorang tidaklah selalu sejalan dengan kelompoknya. Perbedaan ini mampu menimbulkan konflik sosial (Soekanto, 1982: 94).

Di dalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, agaknya paling penting adalah rekasi, entah yang berwujud pujian atau celaan yang kemudian merupakan dorongan bagi tindakan-tindakan selanjutnya dalam memberikan rekasi tersebut ada suatu kecenderungan manusia untuk memberikan keserasian dengan tindakan-tindakan orang-orang lain (Soekanto, 1982: 110).

Kelompok-kelomok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karena adanya hubungan antara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut kaitan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling tolong menolong (Soekanto, 1982: 111).

(47)

Konflik karena adanya perbedaan orang-perorangan akan dibagi oleh penulis dalam penelitian ini menjadi beberapa bagian, yakni: (i) perbedaan antara individu dengan individu, (ii) perbedaan antara individu dengan kelompok, dan (iii) perbedaan antara kelompok dengan kelompok.

1.6.3.2Konfik karena Perbedaan Kebudayaan

Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sansekerta buddhayah yang

merupakan bentuk jamak dari kata “buddhi” yang berarti budi dan akal. Dengan

demikian, kebudayaan dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan

budi dan akal.” Dengan kata lain, kebudayaan mencakup kesemuanya,

kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perikelakuan normatif, yaitu mencakup segala cara-cara atau pola-pola berpikir, merasakan dan bertindak (Soekanto, 1982: 166-167).

Konflik karena adanya perbedaan kebudayaan merupakan perbedaan kepribadian dari orang-perorangan yang tergantung dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan serta perkembangan kepribadian tersebut. Seseorang secara sadar maupun tidak sadar, sedikit banyaknya akan terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya (Soekanto, 1982: 94).

(48)

mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi. Dalam suatu masyarakat yang mempunyai jumlah anggota yang besar serta menempati daerah yang luas, biasanya terdapat perbedaan-perbedaan kebudayan dalam beberapa bidang (Soekanto, 1982: 168).

Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam-macam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota-anggota masyarakat, seperti misalnya kekuatan alam di mana dia bertempat tinggal, maupun kekuatan-kekuatan lainnya di dalam masyarakat itu sendiri, yang tidak selalu baik baginya. Kecuali daripada itu, manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik di bidang spiritual maupun bidang materiil (Soekanto, 1982: 172).

Konflik karena adanya perbedaan kebudayaan akan dibagi menjadi beberapa bagian oleh penulis melalui penelitian tersebut, yakni: kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan, kebudayaan khusus atas dasar agama, dan kebudayaan khusus atas dasar kelas sosial.

1.6.3.3Konflik karena Perbedaan Kepentingan

Bentrokan-bentrokan kepentingan individu-individu maupun kelompok-kelompok manusia merupakan sumber lain dari pertentangan. Kepentingan tersebut dapat bermacam-macam perwujudannya, misalnya kepentingan dalam bidang ekonomi politik, dan lain sebagainya (Soekanto, 1982: 94).

(49)

mempengaruhi pihak lain yang dapat dinamakan kekuasaan, sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang, yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat (Soekanto, 1982: 260).

Adanya kekuasaan cenderung tergantung dari hubungan antara yang berkuasa dan yang dikuasai, atau dengan kata lain, antara pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dari pihak lain yang menerima pengaruh ini dengan rela atau karena terpaksa (Soekanto, 1982: 259-260).

Adanya wewenang hanya dapat menjadi efektif bila didukung dengan kekuasaan yang nyata. Acapkali terjadi letaknya wewenang yang diakui oleh masyarakat dan letaknya kekuasaan yang nyata, tidak di satu tempat atau tidak di dalam satu tangan. Dalam masyarakat kecil dan susunannya sederhana, pada umumnya kekuasaan yang dipegang oleh seseorang atau kelompok meliputi bermacam bidang, sehingga terdapat gejala yang kuat, bahwa kekuasaan itu lambat laun diidentifikasikan dengan orang yang memegangnya (Soekanto, 1982: 260).

(50)

1.6.3.4Konflik karena Perubahan Sosial

Perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat, untuk sementara waktu merubah nilai-nilai dalam masyarakat dan menyebabkan terjadinya golongan-golongan yang berbeda dari pendiriannya mengenai reorganisasi dari sistem nilai-nilai yang sebagai akibat perubahan-perubahan sosial menyebabkan suatu disorganisasi dalam masyarakat (Soekanto, 1982: 95). Perubahan-perubahan di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perikelakuan, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial, dan lain sebagainya (Soekanto, 1982: 304).

Perubahan-perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak zaman dahulu, namun dewasa ini perubahan-perubahan tersebut berjalan dengan sangat cepat, sehingga seolah-olah membingungkan manusia yang menghadapinya, sehingga di dalam masyarakat-masyarakat di dunia ini sering terjadi perubahan-perubahan atau suatu keadaan ketika perubahan-perubahan-perubahan-perubahan tersebut berjalan secara konstan (1982: 305).

Konflik karena perubahan sosial ini terdiri dari: (i) perubahan-perubahan yang terjadi secara lambat dan cepat, (ii) perubahan-perubahan yang pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar, dan (iii) perubahan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.

(51)

dalam hidupnya, yakni: (i) pertama, konflik karena perbedaan orang perorangan yang terdiri dari: perbedaan antara individu dengan individu, perbedaan antara individu dengan kelompok, dan perbedaan antara kelompok dengan kelompok, (ii) kedua, konflik karena perbedaan kebudayaan yang terdiri dari: kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan, kebudayaan khusus atas dasar agama, dan kebudayaan khusus atas dasar kelas sosial, (iii) ketiga, konflik karena perbedaan kepentingan yang melibatkan adanya bentrokan-bentrokan kepenntingan yang terdiri dari: kekuasaan dan wewenang, (iv) keempat, konflik karena perubahan sosial yang terdiri dari: perubahan-perubahan yang terjadi secara lambat dan cepat, perubahan-perubahan yang pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar, dan perubahan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.

Berdasarkan gagasan di atas, penulis hanya memfokuskannya pada dua teori konflik, yaitu konflik karena perbedaan orang-perorangan dan konflik karena perbedaan kebudayaan. Alasan penulis tidak memasukan perbedaan kepentingan dan perubahan sosial ke dalam Bab III, yakni: pertama, konflik karena perbedaan kepentingan, penulis memasukkannya menjadi satu bagian ke dalam konflik karena perbedaan orang-perorangan, kedua, konflik karena perubahan sosial, penulis menempatkan konflik perubahan tersebut ke dalam konflik karena perbedaan kebudayaan.

1.7 Metode Penelitian

(52)

1.7.1 Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tentang Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari adalah pendekatan

struktural dan pendekatan sosiologi sastra.

Pendekatan struktural merupakan pendekatan yang bertumpu pada karya sastra dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2007: 37). Dalam pendekatan struktural tersebut, penulis akan membatasi pendekatan tersebut pada kajian yang terdiri dari: tokoh dan penokohan, alur, dan latar.

Pendekatan sosiologi sastra adalah pendekatan yang menganggap karya sastra sebagai milik masyarakat dengan menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu (Ratna, 2013: 59). Dalam penelitian ini, pendekatan sosiologi sastra lebih sesuai untuk menganalisis bentuk-bentuk konflik sosial dalam novel Maryam karya Okky Madasari.

1.7.2 Metode Pengumpulan Data

Penulis menggunakan metode pengumpulan data melalui studi pustaka. Metode ini dipakai untuk mendapatkan data pada novel Maryam, buku-buku referensi, artikel, dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan objek tersebut.

(53)

digunakan untuk mencatat hal-hal yang dianggap sesuai dan mendukung penulis dalam memecahkan masalah.

1.7.3 Metode Analisis Data

Pada tahap analisis data, penulis menggunakan metode analisis isi untuk menganalisis data-data yang telah dikumpulkan. Isi dalam metode analisis isi terdiri atas dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi. Isi laten adalah isi yang terkandung dalam dokumen dan naskah, sedangkan isi komunikasi adalah pesan yang terkandung sebagai akibat komunikasi yang terjadi. Isi laten adalah isi yang dimaksudkan oleh penulis, sedangkan isi komunikasi adalah isi sebagaimana terwujud dalam hubungan naskah dengan konsumen. Analisis terhadap isi laten akan menghasilkan arti, sedangkan analisis terhadap isi komunikasi akan menghasilkan makna (Ratna, 2013: 48).

Dasar pelaksanaan metode analisis isi adalah penafsiran. Oleh karena itu, metode analisis isi dilakukan dalam novel Maryam karya Okky Madasari untuk memaknakan isi pesan komunikasi dalam novel sehingga dapat mendukung penelitian ini.

1.7.4 Metode Penyajian Data

(54)

Metode deskriptif analisis digunakan oleh penulis untuk mendeskripsikan hasil penelitian tentang tokoh dan penokohan, alur, dan latar, serta kajian sosiologi sastra dalam novel Maryam karya Okky Madasari.

1.8 Sumber Data

Sumber data terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder.

1.8.1 Sumber Data Primer Judul Buku : Maryam Pengarang :Okky Madasari

Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2012 Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tebal Buku : 275 halaman

1.8.2 Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder yang mendukung penulis berupa kumpulan buku-buku cetak perpustakaan, artikel-artikel dari internet, dan sumber-sumber lain yang akan menjadi sasaran yang berhubungan dengan objek penelitian.

1.9 Sistematika Penyajian

(55)

Latar belakang dalam penelitian ini menguraikan analisis penulis melakukan penelitian terhadap novel Maryam karya Okky Madasari dengan teori konflik sosial. Rumusan masalah menjelaskan beberapa permasalahan yang ditemukan dalam penelitian ini. Tujuan penelitian mendeskripsikan tujuan dalam penelitian ini. Manfaat penelitian memaparkan manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian ini. Landasan teori berisi teori-teori yang digunakan dalam landasan penelitian ini. Metode penelitian ini berisi tentang pendekatan, metode pengumpulan data, metode analisis data, metode penyajian data, sumber data yang digunakan penulis dalam penelitian ini. Sistematika penyajian menguraikan urutan hasil penelitian dalam penelitian ini.

(56)

BAB II

STRUKTUR NOVEL MARYAM KARYA OKKY MADASARI

2.1 Pengantar

Pada bab ini, penulis akan menganalisis struktur novel Maryam karya Okky Madasari yang akan difokuskan pada tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Alasan penulis menganalisis struktur novel tersebut karena berhubungan dengan konflik sosial pada tokoh Maryam dengan melihat bagaimana keadaan para tokoh cerita, bagaimana peristiwa itu dibangun, dan bagaimana latar dalam cerita tersebut.

2.2 Tokoh dan Penokohan

Dalam novel Maryam, terdapat banyak tokoh dalam penelitian ini. Penulis hanya akan memfokuskan pada tokoh Maryam, Umar, Pak Khairuddin, Zulkhair, Alam, Ibu Alam, Pak RT, Pak Haji, Gubernur. Dalam novel ini, akan dibahas tokoh dan penokohan yang memfokuskan penulis pada tokoh protagonis dan tokoh antagonis.

2.2.1 Tokoh Protagonis dalam Novel Maryam

(57)

protagonis dalam novel Maryam adalah Maryam, Umar, Pak Khairuddin, dan Zulkhair.

2.2.1.1 Tokoh dan Penokohan Maryam

Maryam merupakan gadis yang sangat cantik di daerah itu. Kulitnya yang sawo matang, matanya yang bulat dan tajam, alis tebal, dan bibir agak tebal, rambutnya yang lurus dan hitam. Namun, dari kecantikannya itulah ia tak juga mempunyai pacar. Meskipun banyak laki-laki yang menyukainya. Justru banyak dari mereka memandang Maryam sebagai perempuan yang sombong dan tak suka bergaul dengan orang lain. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:

(1) Maryam memiliki kecantikan khas perempuan dari daerah timur. Kulit sawo matang yang bersih dan segar. Mata bulat dan tajam, alis tebal, dan bibir agak tebal yang selalu kemerahan. Rambutnya yang lurus dan hitam sejak kecil selalu dibiarkan panjang melebihi punggung dan lebih sering dibiarkan tergerai. Di luar segala kelebihan fisiknya, Maryam gadis yang cerdas dan ramah. Apalagi yang kurang ketika semuanya telah dibungkus dalam kesamaan iman?

(Madasari, 2012: 24) (2) Karena itu, sampai tamat SMA di pulau kelahirannya, Maryam tak pernah punya pacar. Ia sudah tahu mana orang yang sejalan dengannya, mana yang bukan. Sejak awal ia membatasi diri ketika ada laki-laki yang berbeda darinya mulai mendekati. Maryam yang ketus, Maryam yang sombong, Maryam yang tak mau bergaul. Begitu pikir laki-laki yang mencoba merayunya. Tapi ketika ada laki-laki Ahmadi mendekatinya, ternyata sikap Maryam pun tak jauh berbeda. Ya, laki-laki Ahmadi tak ada yang terlihat menarik di matanya.

(Madasari, 2012: 21)

(58)

telah lulus SMA pada tahun 1993. Setelah ia lulus SMA, ia sangat ingin sekali kuliah demi menggapai cita-citanya. Ia memilih kota Surabaya sebagai perguruan tinggi yang ia inginkan. Maryam pun tinggal bersama saudaranya yang tak lain adalah Pak dan Bu Zul, teman dekat ayahnya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:

(3) Lulus SMA pada tahun 1993, Maryam berangkat ke Surabaya. Mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi negeri. Ia diterima di Universitas Airlangga Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi. Ia tinggal bersama keluarga yang sudah seperti saudara, kenalan orangtuanya. Sama-sama Ahmadi. Pasangan suami-istri dengan dua anak yang masih SMA dan SMP, Pak dan Bu Zazuli, yang kemudian biasa dipanggil Maryam dengan sebutan Pak dan Bu Zul. Keduanya berasal dari pulau yang sama dengan Maryam, hanya beda kampung. Tepatnya dari Praya, hampir dua puluh kilometer di sebelah utara rumah keluarga Maryam. Pak Zul teman bapak Maryam. Mereka satu sekolah sampai SMP. Lulus SMP Pak Zul merantau ke Surabaya, menumpang hidup pada keluarga Ahmadi yang mau membiayainya sekolah sampai lulus SMA. Bapak Maryam juga mendapat tawaran serupa. Tapi ia enggan. Memilih tetap tinggal di kampung, di antara ikan-ikan. Toh keduanya sama-sama berhasil. Pak Zul yang disekolahkan di Sekolah Pendidikan Guru menjadi guru SD di Surabaya. (Madasari, 2012: 21) (4) Begitu juga Maryam. Tinggal di kota besar justru makin menguatkan iman. Ia kuliah dan bergaul dengan teman-teman seperti biasa tiap hari. Tapi begitu pulang, hari-harinya dipenuhi dengan ibadah, pembicaraan-pembicaraan tentang keyakinan bersama Pak dan Bu Zul, lalu pengajian di rumah salah satu keluarga Ahmadi seminggu sekali.

(Madasari, 2012: 22)

(59)

Maryam semakin merasa terpukul dalam kesedihannya. Mendengar Gamal telah pergi dari rumahnya, membuat Maryam semakin tak henti-hentinya menangisi kepergian Gamal, kekasihnya itu. Ia tak mengetahui kepergian Gamal. Namun ia memikirkan kembali akankah ia melupakan Gamal begitu saja dan mencari penggantinya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:

(5) Semua orang di pengajian terdiam mendengar cerita bapak dan ibu Gamal. Beberapa orang ikut menangis. Di balik punggung Bu Zul, air mata Maryam tak berhenti mengalir. Ia kemudian berlari ke kamarnya. Membenamkan muka di bantal hanya untuk meredam tangisnya. Maryam kehilangan semua harapannya. Kehilangan orang yang dicintainya. Tapi ia tak tahu harus bagaimana. Ia hanya ingin menangis.

(Madasari, 2012: 29) (6) Sesekali Bu Zul masuk ke kamar Maryam, mengelus punggung Maryam

dan berbicara lembut. Berulang kali ia mengatakan agar Maryam mengikhlaskan Gamal. Jangan terus bersedih, jangan patah hati terlalu lama, jangan pula sampai marah pada Tuhan. Kata Bu Zul, inilah bagian dari ujian keimanan. Mendengar itu, air mata Maryam pelan-pelan mengalir. Tapi ia buru-buru menghapus, memalingkan wajah, menahan suara isakan agar Bu Zul tak mendengarnya.

(Madasari, 2012: 30) (7) Maryam merindukan Gamal dengan ragu. Tak tahu apakah rasa seperti ini masih boleh dipelihara sementara Gamal sendiri entah di mana. Tak tahu apakah rasa rindu ini punya wujud nyata, atau hanya serupa godaan-godaan kecil yang datang saat ia dalam sepi. Apakah ia berhak merawat cintanya setelah Gamal terang-terangan menanggalkan iman? Maryam tak pernah mendapatkan jawaban dari segala kerisauan, sebagaimana ia juga selalu gagal menyingkirkan rasa rindunya pada Gamal. Bayangan Gamal senantiasa menyertainya. Mimpi-mimpi tentang Gamal menjadi hiburan tidurnya. Bayangan tentang kepulangan Gamal yang telah menemukan kembali iman menjadi doa-doanya. Maryam tak tahu lagi bagaimana ia bisa mendapatkan rasa yang serupa pada orang lain. Ia ingin, tapi tak pernah bisa.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...