BAB II STRUKTUR NOVEL MARYAM KARYA OKKY MADASAR
2.2 Tokoh dan Penokohan
2.3.2 Tahap Pemunculan Konflik
Pada tahap pemunculan konflik dalam novel Maryam, menceritakan perjalanan kembalinya Maryam kepada orangtuanya. Penyesalan Maryam pun semakin mendera. Mengetahui orangtuanya telah diusir dari kampungnya sendiri, ia merasa sedih dan merasa telah menyakiti hati kedua orangtuanya. Kepulangan
Maryam dimaksudkan bukan untuk menolong jemaahnya melainkan menebus rasa bersalahnya terhadap ibunya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut: (56) Maryam memang malu. Malu karena tak tahu apa-apa yang terjadi pada
keluarganya. Malu karena tidak melakukan apa-apa, ketika keluarganya terusir karena mempertahankan iman. Maryam juga menyesal. Menyesal atas semua yang dilakukannya demi Alam. Menyesali segala keputusannya untuk menikah dengan Alam, tanpa memedulikan apa yang dikatakan orangtuanya. Tapi entah kenapa, Maryam sama sekali tak malu dan menyesal telah jauh meninggalkan keimanannya. Ia juga tak tahu kenapa tak ada ruang lagi dalam hatinya untuk kembali meyakini apa yang sejak kecil diperkenalkan, yang beberapa tahun lalu telah ia tinggalkan. Ia pulang sama sekali bukan untuk iman. Ia pulang hanya untuk keluarganya. Ia terharu, ia bangga, ia menitikkan air mata atas kegigihan dan kekokohan keluarganya mempertahankan iman. Ia marah, ia dendam, ia tak bisa memaafkan orang-orang yang merongrong keluarganya karena dianggap tak benar. Tapi tidak, Maryam sama sekali tak pulang untuk iman.
(Madasari, 2012: 77-78)
Tidak hanya diusir dari rumah saja. Orang-orang telah berpikir bahwa nama Pak Khairuddin sudah tak ada lagi. Setelah mendengarkan cerita Zulkhair, Maryam memikirkan apa yang diungkapkan oleh laki-laki bernama Jamil. Laki- laki yang pernah bekerja menjadi bawahan Pak Khairuddin. Mereka menjadikan Pak Khairuddin dan keluarganya sebagai keluarga yang mengundang aib untuk kampung mereka sehingga akan menjadi malapetaka untuk orang-orang yang tinggal di daerah tersebut. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(57) Mendengar cerita Zulkhair seperti melanjutkan potongan kisah yang terpenggal dari Jamil. Yang diketahui Jamil berakhir seiring laju roda pikap meninggalkan Gerupuk. Begitu pikap menghilang di tikungan jalan, lenyap pula segala yang diketahui Jamil tentang keluarga Maryam. Pak Khairuddin dan keluarganya telah dianggap tidak ada. Tak seorang pun berani mneyebut tentang keluarga itu. Pak Khairuddin dan keluarganya seperti telah menjadi aib Gerupuk yang harus ditimbun dalam-dalam.
Pak Khairuddin bukanlah orang yang sembarangan. Dalam kesehariannya Pak Khairuddin dipandang sebagai orang yang peduli terhadap sesama. Ia merupakan orang terpandang secara ekonomi dari sebagian jemaah lainnya. Maryam mempertanyakan apa yang menyebabkan orang-orang berubah menjadi beringas dengan seenaknya mengusir keluarganya dari rumah yang dimiliki dari kakeknya dan tanah yang dibeli dari hasil bekerja. Ia tidak pernah melihat ini sebelumnya namun saat mengetahui orangtuanya diusir, ia bisa merasakan kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh keluarganya. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(58) Maryam mengangguk-angguk mengerti. Di pulau ini, orang-orang Ahmadi yang berhasil secara ekonomi bisa dihitung dengan jari. Dan bapaknya adalah satu-satunya Ahmadi dari desa yang punya usaha dan selalu punya kelebihan rezeki. Orang-orang Ahmadi lain yang mampu tinggal di pusat kota ini. Tak ada kerusuhan di kota. Tak ada satu pun orang Ahmadi di kota yang terusir. Maryam bertanya penuh keheranan, kenapa tidak semua tempat bisa damai seperti ini?
(Madasari, 2012: 70) (59) Maryam menarik napas panjang. Ia menggerutu dalam hati. Memaki-maki orang-orang desa yang mau dibodohi. Tidakkah mereka bisa berpikir sejenak, menimbang-nimbang mana yang benar dan mana yang hanya hasutan? Tapi Maryam kemudian disadarkan oleh kata-kata Zulkhair. “Kalau di pusat kota seperti ini kebanyakan orang-orangnya lulus sekolah. Punya pekerjaan. Tak ada waktu mengurus begituan,” kata Zulkhair. Lalu Maryam bertanya, kenapa tiba-tiba orang-orang desa bisa berubah beringas seperti itu? Sejak lahir ia tinggal di Gerupuk, kata Maryam, tak pernah seorang pun yang meributkan soal keyakinan keluarganya. Semua rukun, semua damai, bahkan tak pernah peduli kenapa keluarga Khairuddin tak pernah ikut salat di masjid mereka. Zulkhair tak menjawab. Ia hanya mengangkat pundaknya, seolah ingin berkata, “Entahlah.”
Mendengar cerita Zulkhair, Maryam merasa malu. Ia tahu akan perkataan Zulkhair yang menyinggung tentang dirinya, ketika Zulkhair berusaha meyakinkan Maryam bahwa iman orang-orang Ahmadiyah, tak bisa dikalahkan hanya sekadar oleh penderitaan. Namun, ia sendiri tidak merasakan sedikit penyesalan meninggalkan keimanannya. Baginya, ia kembali bukan untuk iman melainkan untuk keluarganya. Ia bisa merasakan ketangguhan keluarganya menghadapi peristiwa ini. Ia kembali menitikkan air mata dan bangga. Hal tersebut seperti dalam kutipan berikut:
(60) “Meski demikian, dalam segala keputusasaan, tak ada satu pun yang berpikir untuk meninggalkan keimanan,” kata Zulkhair. Ia mengulang kalimat itu berkali-kali. Ada nada syukur dan bangga. Seolah ia ingin meyakinkan pada Maryam bahwa iman orang-orang Ahmadi tak bisa dikalahkan hanya sekadar oleh penderitaan. Tapi dalam telinga Maryam, pengulangan itu seperti sindiran. Ia merasa Zulkhair sedang membicarakan dirinya, ingin membuatnya malu dan menyesal atas apa yang dilakukan. Maryam memang malu. Malu karena tak tahu apa-apa yang terjadi pada keluarganya. Malu karena tidak melakukan apa-apa, ketika keluarganya terusir karena mempertahankan iman. Maryam juga menyesal. Menyesal atas semua yang dilakukannya demi bersama Alam. Menyesali segala keputusannya untuk menikah dengan Alam, tanpa memedulikan apa yang dikatakan orangtuanya. Tapi entah kenapa, Maryam sama sekali tak malu dan menyesal telah jauh meninggalkan keimanannya. Ia juga tak tahu kenapa tak ada ruang lagi dalam hatinya untuk kembali meyakini apa yang sejak kecil diperkenalkan, yang beberapa tahun lalu telah ia tinggalkan. Ia pulang sama sekali bukan untuk iman. Ia pulang hanya untuk keluarganya. Ia terharu, ia bangga, ia menitikkan air mata atas kegigihan dan kekokohan keluarganya mempertahankan iman. Ia marah, ia dendam, ia tak bisa memaafkan orang-orang yang merongrong keuarganya karena dianggap tak benar. Tapi tidak, Maryam sama sekali tak pulang untuk iman. Kesadaran itu membuat Maryam mendapatkan kembali seluruh kepercayaan dirinya. Kata-kata Zulkhair tak lagi terdengar seperti sindiran. Ia kembali menyimak cerita Zulkhair sepenuhnya, merekam dalam ingatannya, ia ingin menyimpan semuanya, seolah-olah ia sendiri ikut melihat dan mengalaminya.
Dalam novel Maryam, tahap pemunculan konflik menceritakan perjalanan pulang Maryam yang ingin mencari kedua orangtuanya. Saat tahu keluarganya diusir dan telah dianggap aib di kampung itu, tak ada seorang pun yang berusaha mempertahankan keluarga Pak Khairuddin untuk tidak diusir. Mengetahui hal itu, Maryam dari dulu tak pernah tahu akan kejadian ini sebelumnya namun saat mengetahui orangtuanya diusir, ia bisa merasakan kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh keluarganya. Meskipun Maryam bisa merasakan penyesalan yang mendalam tak mengalami kejadian yang menimpa keluarganya yang bisa menahan penderitaan dan kesakitan ia tak pernah menyesal yang pernah meninggalkan iman.