• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. DAYA TARIK WISATA BATU KATAK

3.6. Pengaruh Objek Wisata Terhadap Kondisi Sosial Masyarakat

3.6.3. Kebudayaan

Kebudayaan (Koentjaraningrat, 2009:114) adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan merupakan sebuah hal yang bersifat kompleks dimana terdapat berkaitan dengan unsur bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, kesenian.

Berkaitan dengan ke tujuh unsur kebudayaan tersebut, dimana budaya masyarakat di Lokasi Wisata Batu Katak sedikit banyaknya telah terpengaruh oleh

budaya yang dibawa oleh wisatawan. Penggunaan bahasa misalnya, masyarakat lokal disana masih tetap menggunakan Bahasa Karo ketika berkomunikasi antar sesama mereka. Sedangkan ketika berkomunikasi dengan wisatawan bisanya mereka menggunakan Bahasa Indonesia kepada wisatawan local dan menggunakan Bahasa Inggris kepada wisatawan asing yang berkunjung.

Tentunya sudah ada beberapa masyarakat ataupun pemuda yang sudah mengerti berbahasa inggris, salah satunya Joe karo-karo, sangat sudah paham berbahasa inggris, karena beliau salah satu gaid di wisata Batu Katak. Seperti yang di kataan beliau kepad saya penulis, syarat salah satu menjadi gaid ialah harus paham berbahasa inggris. Beliau juga menyatakan dia dulunya jiga hanya masyarakat biasa, namun setelah adanya wisata Batu Katak beliau berfikir ingin menjadi gaid dan beliau belajar selama tiga tahun, juga mengikuti pelatihan di tangkahan.

Berkaitan dengan sistem pengetahuan, masyarakat disana juga membagikan pengetahuan yang berupa kearifan lokal mereka. Seperti di jelaskan di atas bahwa ada satu divisi yang khusus menangani masalah pengetahuan obat tradisional Karo. Masyarakat Karo cukup terkenal dengan pengobatan tradisionalnya untuk itu pihak Lembaga Pariwisata Batu Katak mencoba memanfaatkan kearifan lokal tersebut menjadi salah satu bagian Wisata Batu Katak.

Berkaitan dengan sistem mata pencarian hidup, masyarakat disana mulai melirik potensi dari adanya objek pariwisata batu katak. Pada saat sekarang ini mereka tidak hanya berfokus pada hasil pertanian saja. Akan tetapi mereka juga

dapat melihat potensi lain misalnya ada yang membuka usaha dengan menjual barang kebutuhan wisatawan, ada yang menyewakan ban untuk rafting, bahkan mereka juga terlibat dalam lembaga pengelolaan destinasi pariwisata ini.

Dari ke tujuh unsur kebudayaan yang di atas, hanya beberapa unsur saja yang sudah dilakukan di Batu Katak, misalnya seperti unsur sistem pengetahuan, organisasi sosial, seperti Lembaga wisata Batu Katak, juga sistem pencaharian hidup, bertambahnya lapangan pekerjaan, dan kesenian, seperti tarian tradisional karo.

BAB IV

PENGELOLAAN WISATA BATU KATAK

4.1. Lembaga Pariwisata Batu Katak

Seperti yang telah di jelaskan sedikit di bagian sejarah, pengelolaan wisata ini sendiri dikelola oleh lembaga yang dibentuk masyarakat setempat. Lembaga ini bernama Lembaga Pariwisata Batu Katak. Menurut Burkart dan Medlik (1981:

50) dan Holoway (1985: 81) kegiatan pokok yang dapat dilakukan oleh suatu organisasi pariwisata di antaranya adalah:

 Melakukan koordinasi dalam menyusun strategi pengembangan dan

perencanaan pemasaran pariwisata di daerahnya dengan melibatkan pihak-pihak terkait dengan kegiatan pariwisata di daerah itu.

 Mewakili kepentingan daerah dalam pertemuan-pertemuan yang menyangkut

kepentingan pengembangan pariwisata, baik itu di tingkat nasional, maupun internasional.

 Mendorong pembangunan fasilitas dan kualitas pelayanan yang sesuai dengan selera wisatawan yang terdiri dari bermacam-macam segmen pasar.

 Menyusun perencanaan pemasaran dengan mempersiapkan paket-paket wisata

yang menarik bersama dengan para perantara, meningkatkan kualitas pelayanan dan menyebarluasan informasi kepada wisatawan secara periodik.11 Lembaga Pariwisata Batu Katak bekerjasama dengan lembaga pariwisata Tangkahan dan Bukit Lawang. Lembaga ini banyak belajar dari lembaga tersebut

11 Oka A. Yoeti, Perencanaan Strategi pemasaran Daerah Tujuan Wisata (Jakarta: PT. Pradnya

dalam mengelola wisata. Anggota dari Lembaga Pariwisata Batu Katak merupakan masyarakat yang ada disekitar lokasi tersebut. Pendiri awal merupakan para tokoh masyarakat yang dituakan disana. Para tokoh masyarakat ini memanfaatkan sumberdaya manusia disana untuk masuk kedalam lembaga ini.

Secara bersama-sama mereka mengelola potensi wisata yang ada membentuk lembaga dan mengelola wisata Batu Katak ini. Lembaga ini bukanlah lembaga pengelola pariwisata yang profesional karena memang belum lama berdiri. Akan tetapi mereka terus berusaha untuk menjadi lembaga yang lebih baik lagi.

“Kalau sekarang ini lembaga yang kami kelola itu masih belum profesional. Beda jauhlah dari lembaga yang ada di Tangkahan sama Bukit Lawang sana. Kami sadar juga, lembaga kami ini masih baru. Tapi kami selalu berusaha untuk memperbaiki dan belajar untuk jadi lebih baik lagi. Kami juga kadang diskusi sama orang Tangkahan dan Bukit Lawang”. Ungkap Bapak Ngalemi Sinuraya.

4.1.1. Struktur Organisasi

Di setiap yang namanya suatu lembaga pastilah memiliki struktur organisasi, tujuan dari struktur organisasi tersebut berguna sebagai pengatur berjalannya suatu lembaga atau suatu organisasi. Struktur organisasi sendiri merupakan suatu susunan dan hubungan antar tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan yang diharapkan dan diinginkan.

Struktur organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang siapa melapor kepada siapa, jadi ada satu pertanggung

jawaban apa yang harus dikerjakan. Adapun Struktur organisasi lembaga Wisata Batu Katak adalah sebagai berikut.

Gambar 16. Struktur Organisasi

Sumber:Pengelola Wisata Batu Katak

Struktur ini beberapa kali telah berubah dan mengalami pergantian kepengurusan. Hanya ketua yang masih bertahan dari mulai berdirinya lembaga ini sampai dengan sekarang. Untuk perangkat yang lain yang ada pada struktur

tersebut telah beberapa kali berganti. Seperti wakil ketua, seketaris, bendahara dan perangkat lainnya telah mengalami pergantian. Untuk para anggota di bagian divisi lingkungan, divisi pemandu, divisi budaya dan divisi tanaman obat tidaklah tetap. Para anggota divisi tersebut sewaktu-waktu bisa bertambah maupun berkurang hal ini berdasarkan keperluan di divisi itu sendiri.

Dalam struktur organisasi di atas tentu sudah pasti dalam setiap bagiannya memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Struktur paling atas adalah ketua. Ketua merupakan sosok terpenting dalam sebuah struktur ini. Hal ini dikarenakan ketua yang mengatur seluruh bagian lain dalam struktur ke pengurusan lembaga wisata batu katak. Tugas lain dari ketua yaitu menyetorkan uang dari hasil tiket yang di dapatkan ke Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Langkat. Untuk wakil ketua sendiri, tugasnya sama dengan ketua akan tetapi yang menjadikan perbedaan yaitu kekuasaan ketua lebih tinggi dan ketua yang memutuskan segala hal terkait dengan pengelolaan wisata batu katak.

Sekretaris merupakan orang yang membantu tugas dari ketua terutama dalam bidang admistrasi. Dalam struktur lembaga wisata batu katak sekretaris bertanggung jawab atas administrasi baik itu pembuatan surat hingga proposal yang akan ditujukan kepihak-pihak tertentu guna mendapatkan dana dari pihak tersebut. Bendahara bertugas dalam mengatur manajeman keuangan Lembaga Pariwisata Batu Katak ini. Baik dalam hal pengeluaran maupun pemasukan lembaga ini.

Pada Lembaga Pariwisata Batu Katak ini ada 4 divisi yang berbeda. Ke empat divisi ini memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Divisi

lingkungan bertugas menata dan menjaga kondisi lingkungan tempat wisata batu katak. Menurut Bapak Ngalemi, beberapa kali ada aksi penanaman pohon yang dilakukan oleh kelompok pecinta lingkungan maupun lembaga pendidikan. Dalam aksi tersebut divisi inilah yang bertanggung jawab untuk mencari lokasi penanaman pohon tersebut. Jika pihak yang melakukan hal tersebut meminta lembaga pariwisata ini untuk menyiapkan bibit pohon maka itu juga bagian dari tugas divisi ini.

Divisi pemandu memiliki tugas utama yaitu sebagai pemandu wisata.

Anggota divisi ini kebanyakan para remaja yang tinggal di lokasi wisata. Dalam memandu wisatawan, para anggota harus selalu mengingatkan dan meyampaikan beberapa aturan yang dibuat seperti tidak boleh meninggalkan sampah di lokasi dan menyampaikan areal terlarang di dalam hutan yang dilalui oleh wisatawan.

Para pemandu juga dibekali kemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris.

Akan tetapi tidak seluruh anggota divisi ini yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Dalam hal ini mengingat wisatawan yang berkunjung tidak hanya berasal dari dalam negeri saja. Beberapa wisatawan asing terkadang hadir dan berkunjung ke lokasi wisata ini untuk itu kemampuan berbahasa asing sangatlah mutlak dimiliki oleh pemandu wisata yang ada di batu katak.

Divisi seni budaya memiliki tugas utama yaitu menyiapkan pertunjukan kesenian masyarakat yang ada di lokasi serta menjelaskannya kepada para wisatawan yang berkunjung. Tugas divisi ini hanya tergantung dari permintaan wisatawan. Jika ada wisatawan tertentu yang meminta adanya sebuah pertunjukan kesenian biasanya berupa tarian adat. Maka divisi inilah yang bertugas

menyiapkannya. Anggota divisi tidak tetap seperti yang ada di bagan hal ini mengingat permintaan yang berasal dari wisatawan itu sendiri. Biasanya wisatawan asing yang memesan atau membuat permintaan kepada pihak pengelola untuk mengadakan pertunjukan kesenian. Selain itu, pertunjukan seni juga terkadang diadakan untuk menyambut tamu yang berasal dari pemerintahan baik itu pusat maupun daerah.

Divisi tanaman obat merupakan divisi baru yang di bentuk oleh lembaga pariwisata ini. Kebanyakan para anggota divisi ini merupakan kaum ibu yang tinggal di lokasi. Tugas utama dari divisi ini adalah menyiapkan pesanan tanaman obat yang di pesan oleh wisatawan. Selain itu, divisi ini juga mengajarkan pengetahuan lokal tenteng obat-obatan yang berasal dari tumbuhan kepada para wisatawan. Sama halnya dengan divisi kesenian, divisi ini juga bekerja tergantung dengan permintaan wisatawan. Jika wisatawan yang berkunjung ingin mengetahui tentang pembuatan obat tradisional masyarakat disana maka divisi ini yang turun tangan untuk mengajarkan pengetahuaannya kepada wisatawan.

4.1.2. Peran Lembaga

Lembaga adalah salah satu pihak yang mengetahua segala sesuatu dengan wisata Batu Katak, pihak lembaga yang telah mengelola wisata Batu Katak.

Lembaga tentunya memiliki struktur keorganisasial yang memiliki ketua dan keanggotaannya. Seperti susunan struktur organisasi yang di atas tentunya sudah di ketahui siapa-siapa saja dan sistem susunan keanggotaan. Dimana lembaga tentunya pasti mempunyai peran dan kegiatan yang di lakukan dalam pengelolaan

wisata Batu Katak. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan oleh lembaga dalam per devisa yang sudah di tentukan, yaitu :

1. Ketua lembaga, yaitu mempunyai kegiatan merekrut anggota disini wewenang ketua sangat kuat, ketua wajib mengetahui dan mengatur segara gerakan anggotanya per devisi.

2. Sekertaris tentunya juga mempunyai kegiatan yaitu mencatat segala pemasukan dan melengkapi segala pembukuan. Pembukuan harus jelas sebab dalam suatu keorganisasian apabila pembukuan tidak maka lembaga tidak kuat, pastinya ada unsur ketidak saling percayaan.

3. Bendehara ialah salah satu mempunyai kegiatan dan tanggung jawab yang berat, sebab bendehara yang mengetahui dan memegang uang pemasukan contohnya uang rettribusi yang di setor pihak pos penjaga. Kemudian uang retribusi yang sudah di setor ke bendahara, kemudian bendehara menyetor ke ketua, lalu ketua menyetor ke pemerintah dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam perbulan.

4. Devisi lingkungan mempunyai kegiatan mengontrol sampah di lingkungan wisata. Apabila sudah banyak sampah maka pihak devisi lingkungan wajib menggerakkan anggotanya dan melapor kepada ketua, supaya di gerakkan seluruh anggota lembaga untuk mengutip dan membersihkan lingkungan, biasannya itu dalam sebulan sekali.

5. Devisi pemandu mempunyai kegiatan untuk menjadi gaid apabila ada pengunjung ingin melakukan traking, jubing, dan rafting. Setiap gaid bergiliran apabilang pengunjung ingin melakukan traking, rafting dan

jubing. Yang sudah telah melakukan gaid maka tentunya bergantian dengan anggota gaid lainnya supaya tidak terjadi unsur konflik, seperti itulah aturannya.

6. Devisi Seni Budaya mempunyai kegiatan yaitu apabila ada pengunjung lokal dan mancanegara ingin melakukan kegiatan menari. Biasanya devisi seni yang mengatur seluruh persiapan dan mengajarinya menari. Tentunya tidak hanya suku karo saja yang melatih nari, suku jawa yang sudah lama tinggal di lokasi wisata yang sudah lama beradaptasi dengan suku karo, sudah ikut dalam melatih pengunjung apabila ada kegiatan menari.

7. Ketua lembaga, yaitu mempunyai kegiatan merekrut anggota disini wewenang ketua sangat kuat, ketua wajib mengetahui dan mengatur segara gerakan anggotanya per devisi.

8. Sekertaris tentunya juga mempunyai kegiatan yaitu mencatat segala pemasukan dan melengkapi segala pembukuan. Pembukuan harus jelas sebab dalam suatu keorganisasian apabila pembukuan tidak maka lembaga tidak kuat, pastinya ada unsur ketidak saling percayaan.

9. Bendehara ialah salah satu mempunyai kegiatan dan tanggung jawab yang berat, sebab bendehara yang mengetahui dan memegang uang pemasukan contohnya uang rettribusi yang di setor pihak pos penjaga. Kemudian uang retribusi yang sudah di setor ke bendahara, kemudian bendehara menyetor ke ketua, lalu ketua menyetor ke pemerintah dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam perbulan.

10. Devisi lingkungan mempunyai kegiatan mengontrol sampah di lingkungan wisata. Apabila sudah banyak sampah maka pihak devisi lingkungan wajib menggerakkan anggotanya dan melapor kepada ketua, supaya di gerakkan seluruh anggota lembaga untuk mengutip dan membersihkan lingkungan, biasannya itu dalam sebulan sekali.

11. Devisi pemandu mempunyai kegiatan untuk menjadi gaid apabila ada pengunjung ingin melakukan traking, jubing, dan rafting. Setiap gaid bergiliran apabilang pengunjung ingin melakukan traking, rafting dan jubing. Yang sudah telah melakukan gaid maka tentunya bergantian dengan anggota gaid lainnya supaya tidak terjadi unsur konflik, seperti itulah aturannya.

12. Devisi Seni Budaya mempunyai kegiatan yaitu apabila ada pengunjung lokal dan mancanegara ingin melakukan kegiatan menari. Biasanya devisi seni yang mengatur seluruh persiapan dan mengajarinya menari. Tentunya tidak hanya suku karo saja yang melatih nari, suku jawa yang sudah lama tinggal di lokasi wisata yang sudah lama beradaptasi dengan suku karo, sudah ikut dalam melatih pengunjung apabila ada kegiatan menari.

13. Devisi Obat-obatan tentunya mempunyai kegiatan untuk menyediakan perlengkapan obat-obatan. Apabila wisata yang berkunjung memesan dan ingin membeli obat-obatan. Maka pihak devisi yang menyediakan syarat-syarat obat obatan tersebut.

Devisi Obat-obatan tentunya mempunyai kegiatan untuk menyediakan perlengkapan obat-obatan. Apabila wisata yang berkunjung memesan dan ingin membeli obat-obatan. Maka pihak devisi yang menyediakan syarat-syarat obat obatan tersebut.

4.1.3. Pengelolaan Keamanan dan Kebersihan

Fasilitas yang ada di lokasi wisata ini dikelola langsung oleh Lembaga Pariwisata Batu Katak. Dalam pengelolaannya tentu juga berkaitan erat dengan beberapa hal antara lain menyangkut keamanan, ketertiban dan kebersihan lokasi wisata. Pengelolaan ini terbagi kedalam beberapa aspek antara lain sebagai berikut:

1. Keamanan

Keamanan dan kenyamanan merupakan aspek penting yang harus ada di lokasi wisata. Wisatawan yang berkunjung tentu tidak ingin barang bawaannya hilang dilokasi wisata. Selain itu, jika masyarakat yang berada dilokasi wisata sangat ramah tentu akan membuat wisatawan yang berkunjung menjadi nyaman.

Dalam menjaga keamanan dan kenyamanan, pihak Lembaga Pariwisata Batu Katak sering melakukan diskusi maupun sosialisasi tentang keamanan di lokasi serta sikap ramah tamah terhadap wisatawan yang berkunjung.

Menurut keterangan dari Bapak Ngalemi Sinuraya masyarakat yang ada di lokasi tersebut dibina dan di ingatkan selalu agar jangan mengambil barang bawaan wisatawan dan jangan mengganggu kenyamanan wisatawan itu sendiri.

Berdasarkan pengalaman penelitian saya juga melihat bahwasannya para pemuda disana cukup ramah dalam menyambut kedatangan wisatawan. Ketika penelitian

ini berlangsung pemuda setempat juga tidak menggangu jalannya proses wawancara. Walaupun wawancara ini beberapa kali dilakukan di warung kopi yang notabennya sangat ramai. Pemuda setempat juga cukup antusias ketika saya mewawancarai beberapa dari mereka. Walaupun keamanan tersebut sudah di tangani oleh pihak pengelola namun pihak pengelola tentu saja wajib melapor dan meminta bantuan kepada pemerintah khusunya pihak Babinsa dan Babinkaptimnas, supaya keamanan lebih terjaga dan tidak legal.

2. Kebersihan

Pengelolaan kebersihan merupakan sebuah hal yang sangat penting dilakukan. Hal ini agar kondisi lingkungan yang ada sebuah di lokasi wisata tetap terjaga kebersihannya. Dalam menjaga kebersihan lokasi wisata batu katak di bantu oleh sebuah yayasan. Yayasan tersebut bernama yayasan hutan untuk anak.

Yayasan tersebut bersama dengan masyarakat setempat dalam sebulan sekali melakukan aksi untuk mengutip dan mengumpulkan sampah yang ada di lokasi wisata. Nantinya sampah yang telah dikutip kemudian di buang ke lokasi yang telah ditentukan. Lokasi pembuangan akhir sampah ini cukup jauh, masyarakat biasanya membuangnya ke dalam jurang.

Selain itu, yayasan tersebut juga membagikan karung-karung yang nantinya dijadikan tempat sampah. Karung tersebut di letakkan di beberapa lokasi yang ada di tempat wisata ini. Tempat sampah yang ada masih sangat sederhana karena hanya terbuat dari karung bekas yang dikaitkan di atas besi. Di lokasi tempat pembuangan sampah ini juga terdapat plang yang bertuliskan yayasan hutan untuk anak, Batu Katak bersi dan barang-barang yang dapat dibuang ke

tempat sampah tersebut seperti batu kaca dan kaleng. Beberapa plang tersebut telah hancur dikarenakan faktor alam serta bahan pembuatan plang yang tidak dapat bertahan lama.

Gambar 17. Tempat Sampah yang Ada di Lokasi Wisata

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dalam menjaga kebersihan juga, pengelola wisata ini membuat beberapa himbauan agar pengunjung selalu menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada karung-karung yang telah di sediakan pengelola. Sedangkan untuk menjaga kebersihan toilet, pihak lembaga pariwisata Batu Katak yang melakukannya secara mandiri.

Setiap titik ataupun didepan pondok yang disediakan pengelola, pengelola juga menyediakan tempat sampah yang berbentuk tahanannya besi dan dibentang goni untuk tempat menampung sampah, supaya pengelola tidak begitu sulit untuk menganggkat sampah-sampah ke tempat pembuangan akhir.

Gambar 18. Himbauan Dalam Menjaga Kebersihan

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Lokasi wisata Batu Katak cukup bersih hal ini dikarenakan pihak pengelola wisata ini sangat serius dalam menjdaga kebersihan objek wisata ini.

Hanya ada beberapa sampah plastik maupun kaleng yang ditemukan dilokasi wisata ini. Beberapa dari wisatawan lokal yang berkunjung, sering kali kedapatan membuang sampah secara sembarangan. Membuang sampah sembarangan sepertinya sudah menjadi sebuah kebiasaan dari masyarakat kita. Sampah-sampah yang berserakan ini nantinya akan di kutip dan dikumpulkan oleh pengelola untuk dibuang ke lokasi yang telah ditentukan.

Walaupun sudah ada himbauan untuk menjaga kebersihan seperti gambar di atas, kadang masih ada juga beberapa pengunjung yang mash membuang

sampah di sekitar wisata, namun itu tidak menjadi patah semangat oleh pengelola, pastinya pengelola selalu memberikan himbauan dengan cara menegor wisatawan, sebagian pengelola juga selalu memasang himbauan mengenai kebersihan di beberapa titik seperti yang tergambar di atas.

Sengaja himbauan untuk kebersihan di buat kelihatan indah dan menarik, supaya pengunjung terfikir untuk tidak membuang sampah sembarangan, maka dari itu pihak pengelola membuat himbauan seperti gambar di atas kelihatan indah, supaya pengunjung langsung melihat dan pastinya membaca himbauan tersebut.

4.1.4. Pengelolaan Lembaga Dalam Tata Ruang Wisata

Dalam menata ruang wilayah tempat kehidupan dan penghidupan, Indonesia menganut konsep ruang wilayah yang terdiri atas elemen wisma, karya, marga, suka, dan penyempurnaan, disingkat dengan WKMSP. Wisma adalah ruang wilayah permukiman, karya adalah ruang wilayah pekerjaan., Marga adalah ruang wilayah pergerakan/mobilitas, Suka adalah ruang wilayah bagi fasilitas yang mencakup rekreasi dan Pariwisata, dan penyempurna adalah ruang wilayah bagi fasilitas sosial-budaya lainnya termasuk tempat ibadah.

Dalam Suwardjoko P. Warpani (2007 :3: 4) dijelaskan menetapkan arah kebijakan pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional, antara lain sebagai berikut :

1. Mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang aktif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah, serta memerhatikan

penataan ruang, baik fisik maupun sosial sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah

2. Mempercepat pembangunan perdesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat terutama petani dan nelayan melalui penyediaan prasarana pembangunan sistem agrobisnis, industri kecil, dan kerajinan rakyat, pengembangan kelembagaan, penguasaan teknologi, dan pemanfaatan sumber daya alam

3. Meningkatkan kualitas sumber daya alam manusia di daerah sesuai dengan potensi dan kepentingan daerah melalui penyediaan anggaran yang memadai

4. Meningkatkan pembangunan di seluruh daerah, terutama di kawasan Timur Indonesia, daerah perbtasan, dan wilayah tertinggal lainnya dengan berlandaskan prinsip desentralisasi dan otonomi daerah.

Koordinasi dalam tata rung wilayah dijelaskan daerah/kota tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi dengan daerah/kota lainnya dalam jaringan kegiatan ekonomi, sosial budaya yang amat rumit. Elemen WKMSP di daerah/kota membentuk suatu jaringan saling ketergantungan karena itu harus di tata secara terkoordinasi dalam suatu satuan tata ruang wilayah. Koordinasi tidak hanya

Koordinasi dalam tata rung wilayah dijelaskan daerah/kota tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi dengan daerah/kota lainnya dalam jaringan kegiatan ekonomi, sosial budaya yang amat rumit. Elemen WKMSP di daerah/kota membentuk suatu jaringan saling ketergantungan karena itu harus di tata secara terkoordinasi dalam suatu satuan tata ruang wilayah. Koordinasi tidak hanya

Dokumen terkait