BAB III. DAYA TARIK WISATA BATU KATAK
3.2. Potensi Wisata yang Ditawarkan
3.2.3. Wisata Budaya
Budaya lokal merupakan salah satu daya tarik wisata karena biasanya para wisatawan asing selain ingin menikmati keindahan alam yang ada di lokasi wisata. Para wisatawan asing ini juga terkadang ingin mengetahui budaya lokal setempat. Mereka ingin mengetahui budaya masyarakat lokal mengingat perbedaan budaya di tempat tinggal mereka berbeda dengan budaya lokal masyarakat di tempat wisata yang di kunjungi.
Melalui divisi kebudayaan, pihak pengelola wisata Batu Katak sering melaksanakan sebuah pertunjukan kesenian. Pertunjukan kesenian yamg ditampilkan berupa tari-tarian khas Suku Karo seperti tari roti manis, tari piso surit dan tari terang bulan. Tarian Suku Karo di pilih karena mayoritas suku yang mendiami wilayah objek Wisata Batu Katak adalah Suku Karo. Pertunjukan ini dilaksanakan di penginapan maupun sebuah pendopo yang ada di lokasi wisata Batu Katak.
Gambar 5. Wisatawan Asing
Sumber: Dokumentasi Bapak Ngalemi (Informan)
Gambar di atas merupakan hasil dokumentasi dari Bapak Ngalemi Sinuraya. Dimana pada foto itu terlihat Bapak Ngalemi (yang berbaju hitam) berfoto dengan para wisatawan asing dan di belakang mereka adalah para penari cilik yang merupakan anak-anak yang tinggal di wilayah sekitar wisata Batu Katak. Dari gambar di atas pula dapat disimpulkan bahwa antusiasme wisatawan asing dalam mengetahui budaya setempat tergambar dengan jelas. Mereka tidak sungkan untuk mengenakan pakaian adat dan belajar tarian Suku Karo.
Peminat pertunjukan tari ini biasanya adalah wisatawan asing yang berkunjung ke lokasi wisata Batu katak. Biaya yang dikenakan kepada para wisatawan asing yang ingin melihat pertunjukan biasanya tergantung kesepakatan para wisatawan dengan bagian divisi kebudayaan. Para wisatawan asing ini harus membayar para penari dengan bayaran sebesar Rp. 50.000,- sampai dengan Rp.
100. 000,- per satu orang penari.
Pertunjukan tari ini selain disuguhkan kepada para wisatawan asing.
Biasanya pertunjukan juga diadakan untuk menyambut para pejabat pemerintahan baik daerah maupun pemerintahan pusat. Biaya tidak dikenakan kepada tamu penting tersebut berbeda jika itu adalah wisatawan asing yang berkunjung dan memang ingin adanya sebuah pertunjukan kesenian.
Pertunjukan tarian tersebut di adakan dalam satu satuh sekali, biasanya di pertengahan bulan September. Pertunjukan seni tari karo biasanya permintaan oleh pengunjung wisatawan asing, biasanya wisatawan asing yang mengadakan pertunjukan tarian tersebut. Seni tari yang dilakukan biasanya di aula wisata Batu Katak.
2. Kuliner Lokal
Beragamnya suku yang ada Indonesia membuat beragam pula kuliner yang ada. Setiap suku yang ada tentunya memiliki kuliner khasnya. Kuliner ini juga menjadi sebuah hal yang menarik minat wisatawan dalam berkunjung.
Kuliner lokal sering dicari oleh para wisatawan karena kuliner lokal yang ada dilokasi wisata tidak terdapat di daerah tempat tinggal wisatawan tersebut.
Pengelola wisata Batu Katak khususnya pihak restaurant dan penginapan juga menyediakan makanan khas daerah. Akan tetapi tidak semua restauran dan penginapan yang menyediakan makanan khas yang ada disana. Karena mayoritas suku yang ada disana adalah Suku Karo maka makanan khas yang disediakan pula adalah makanan khas Suku karo.
Salah satu kuliner khas daerah ini adalah tasak telu. Tasak Telu memiliki arti masak tiga atau tiga masakan. Masakan ini merupakan ayam kampung yang
dipanggang atau direbus tanpa bumbu kemudian dicincang. Ayam tersebut disajikan dengan 3 kuliner lain yaitu sup kaldu, cipera, getah dan daun singkong goreng lalu di taburi parutan kelapa. Itulah yang membuat masakan ini dinamakan ayam masak tiga. Getah yang dimaksud disini yaitu masakan yang terbuat dari darah ayam, asam jawa, cabai, bawang, dan garam. Namun darah ayam juga dapat diganti dengan menggunakan hati atau ampela ayam.
Selain tasak telu, ada kuliner khas lain yang di ada di lokasi wisata ini.
Kuliner tersebut adalah cipera. Cipera merupakan makanan pendamping tasak telu, terbuat dari tepung yang berasal dari bulir jagung tua yang dimasak seperti bubur, dicampur kari dan kulit ayam. Cipera memiliki tekstur yang lebih kental dari bubur biasanya dan memiliki rasa gurih seperti kari. Ada juga olahan cipera yang diberi potongan ayam, biasanya disebut dengan cipera manuk.
Selain dua makanan khas tadi, ada juga kue yang biasa dibuat oleh masyarakat Suku Karo yaitu cimpa. Cimpa adalah kue yang terbuat dari beras ketan sebagai bahan utamanya, sebagai isinya menggunakan gula merah yang dicampur dengan kelapa parut, dan sebagai pembungkusnya digunakan daun singkut maupun daun pisang.
3. Obat-obatan
Gambar 6. Tempat Pengobatan Tradisional
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Wisata Batu Katak juga menawarkan jasa pengobatan tradisional. Jasa pengobatan ini dikelola oleh masyarakat setempat dimana ada beberapa jenis obat-obatan dan sistem atau cara pengobatan pengobatan yang ditawarkan.
Tempat pengobatan tersebut dikelola dan dinaungi oleh divisi tanaman obat.
Nama tempat pengobatan tersebut adalak kelompok demplot pulungen tawar yang mana diketuai oleh Ibu Ingan Malem Br. Sembiring. Tempat ini menawarkan jasa pengobatan di antaranya sebagai berikut:
Sembur Mbeltek
Sembur mbeltek (Sembur Perut) adalah salah satu metode pengobatan tradisional masyarakat suku Karo yang dilakukan dengan cara menyeburkan obat atau ramuan ke bagian tubuh yang sakit. Bahan-bahan yang digunakan untuk pengobatan ini yaitu beras, jahe, lada, jerangau, pala, dan akar-akaran dari
tanaman obat. Hal ini seperti yang di sampaikan oleh Ibu Ingan Malem (64 tahun) berikut.
“Cara pengobatan sembur mbeltek disembur. Disemburnya itu ke bagian tubuh yang sakit. Bahannya sendiri biasanya dari beras, jahe, lada, jerangau, pala, sama akar-akaran macem akar brutowali, akar alang-alang”. Jelas Ibu Ingan Malem.
Bahan-bahan tersebut diolah dengan cara digongseng yang mana kemudian ditumbuk kasar. Setelah ramuan jadi, kemudian disemburkan oleh sang penyembuh ke bagian tubuh yang sakit.
“Cara buatnya itu di gongseng, siap digongseng baru di tumbuk.
Terus barulah disemburkan ke bagian yang sakit”. Lanjut Ibu Ingan Malem.
Pengobatan sembur bermanfaat untuk mengobati berbagai penyakit.
Biasanya digunakan untuk mengobati antara lain masuk angin, sakit kepala dan sakit perut. Metode yang sama juga digunakan untuk mengobati memar yaitu dimana sebelumnya sang penyembuh mengunyah bulung mbertik (daun papaya).
Biaya yang dikenakan untuk mendapatkan obat sembur ini adalah Rp. 50.000,- per bungkus.
Tawar Mentar
Tawar Mentar adalah obat tradisional khas Karo yang bermanfaat untuk
menyembuhkan berbagai jenis penyakit ringan. Tawar Mentar terdiri dari dua suku kata, yaitu tawar yang berarti obat atau jamu dan mentar yang berarti putih.
Tawar mentar merupakan obat tradisional masyarakat tradisional Suku Karo.
Pengetahuan mengenai obat ini telah di turunkan dari para leluhur terdahulu yang mana masih tetap di pertahankan oleh masyarakat Suku Karo sampai saat ini.
Tawar mentar terbuat dari bahan dasar tepung beras yang dicampur
dengan berbagai rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe merah, temu-temu, kencur, kuning pagit, jingo bengle, kengkuyan, asam cengkala, silimbut pinggan. Hal ini seperti yang jelaskan oleh Ibu Ingan Malem berikut ini.
“Bahannya itu dari tepung beras yang di campur sama bawang putih, bawang putih, jahe merah, temu-temu, kencur, kuning pagit, jingo bengle, kengkuyan, asam cengkala, silimbut pinggan”. Jelas Ibu Ingan Malem.
Cara pembuatannya sendiri cukup sederhana, yaitu menghaluskan terlebih dahulu ramuan rempah-rempah yang telah tersedia. Setelah rempah-rempah digiling halus, kemudian dicampurkan dengan tepung beras, serta kemudian ditambahkan dengan air secukupnya. Kemudian di aduk sampai rata, maka campuran rempah-rempah dan tepung beras tersebut akan tampak seperti adonan kue. Tawar mentar yang berupa adonan ini kemudian dibulat-bulati sebesar kelereng, dan setelah selesai dibulati kemudian dikeringkan. Hal ini seperti yang di jelaskan oleh Ibu Ingan Malem berikut.
“Cara buatnya, pertama halusin bahan rempah-rempah tadi, trus kalau udah halus campur sama tepung beras baru tambah air. Terus aduk sampai rata. Kalau udah rata baru bentuk bulat-bulat. Terus di jemur sampai kering baru bisa di pakai untuk obat”. Jelas Ibu Ingan Malem.
Setelah proses pengeringan selesai dilakukan, maka tawar mentar sudah siap untuk digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit, seperti penyakit gatal-gatal, demam ringan, pegal-pegal, masuk angin, penyakit lambung, dan penyakit ringan lainnya. Cara penggunaan tawar mentar sendiri dapat dilakukan
dengan air putih, kemudian dioleskan pada bagian kulit yang terasa gatal. Hal ini juga dilakukan ketika tawar mbentar ditujukan untuk mengobati penyakit demam ringan, yaitu diolesi pada bagian kepala, dibagian perut ketika masuk angin, serta mengoleskan tawar mentar pada bagian perut ketika masuk angin. Cara penggunaan kedua tawar mentar dapat langsung dimakan dan hal ini ditujukan untuk mengobati berbagai penyakit dalam, seperti penyakit lambung dan lain sebagainya. Harga untuk tawar mentar yaitu Rp. 125.000,- per botolnya.
Oukup
Oukup merupakan sebuah pengobatan tradisional dengan memanfaatkan uap hasil rebusan rempah-rempah. Ada beberapa manfaat yang dirasakan setelah melakukan oukup atau mandi uap antara lain mengurangi stres, relaksasi, meredakan nyeri otot, terapi jantung dan paru-paru agar nafas menjadi lega.
Ramuan oukup terdiri rempah-rempah, sebagian besar masih dapat dijumpai di pajak (pasar-pasar tradisional). Sedangkan sebagian lain harus dicari di alam Tanah Karo, tempat di mana rempah-rempah tersebut berasal. Oukup yang ada di lokasi Wisata Batu Katak ini menggunakan bahan rempah-rempah yang bersal dari dalam hutan. Biasanya para warga setempat masuk kedalam hutan yang ada di kawasan wisata untuk mencari tanaman-tanaman untuk bahan oukup. Berikut nama rempah-rempah yang terdapat dalam rebusan oukup:
1. Daun Pariz 12. Kemangi 23. Kayu putih
2. Rengas 13. Pirawas 24. Lada
3. Saledri 14. Kulit Manis 25. Sirih liar 4. Pegagan 15. Bawang putih 26. Ciak-ciak
5. Nira 16. Umbi 27. Citrus
6. Akar 17. Bawang merah 28. Jeruk mungkur purut 7. Pinang 18. Gundera 29. Jeruk nipis
8. Benalu 19. Rambun 30. Cekala
9. Rotan 20. Senduduk 31. Jahe merah 10. kopi/suri dan kopi 21. Pala 32. Pandan wangi
11. Runtih 22. Cengkeh
Beberapa rempah-rempah oukup tersebut sering dijumpai dan banyak diketahui oleh masyarakat pada umumnya. Namun, sebagian lainnya masih belum familiar dan hanya orang-orang yang berkecimpung di pengobatan herbal non medis yang paham betul nama-nama rempah khas Karo beserta khasiatnya tersebut. Adapun biaya yang dikenakan jika ingin merasakan oukup ini ialah Rp.
150.000,- sampai dengan Rp. 200.000,- per orang.
Dari ketiga wisata yang di tawarkan di atas, pengelola memanfaatkan seluruh potensi yang ada di wisata Batu Katak, baik Wisata Alam, Wisata Hutan, dan Wisata Budaya menjadi daya tarik wisata kepada pengunjung. Seluruh potensi yang ada di dalam Wisata Batu Katak, pihak pengelola memanfaatkan untuk menjadi daya tarik Wisata tersebut.