BAB IV. PENGELOLAAN WISATA BATU KATAK
4.2. Peran Pemerintah
Pemerintah melalui Undang Undang No. 10 Tahun 2009, Tentang Kepariwisataan yang di tetapkan pada tanggal 16 Januari 2009 telah mengatur tentang kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, keseluruhan kebijakan penyelenggaraan kepariwisataan di Indonesia harus mendasarkan diri pada prinsip dan kaidah yang tertuang dalam Undang Undang kepariwisataan terebut.
Dalam Bambang Sunaryo (2013:100) dijelaskan bahwa penyelenggaraan kepariwisataan di Indonesia harus berdasarkan prinsip-prinsip yang tertuang dalam UU No.10 Th. 2019 berikut ini:
1. Menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia dan hubungan antara manusia dan lingkungan
2. Menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragaman budaya dan kearifan lokal
3. Memberi manfaat untuk kesejahtraan rakyat, keadilan, kesetaraan dan proporsionalitas
4. Memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup 5. Memberdayakan masyarakat setempat
6. Menjamin keterpaduan antar sektor, antar daerah, antar pusat dan daerah yang merupakan kesatuan satu kesatuan yang sistemik dalam kerangka otonomi daerah, serta keterpaduan antar pemangku kepentingan
7. Mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakataan internasional dalam bidang pariwisata
8. Memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan Repoblik Indonesia.
Dalam Bambang Sunaryo (2013:103) dijelaskan bahwa pemerintah Kabupaten/Kota disamping mempunyai sejumlah kewenangan untuk melaksanakan pendaftaran, pencatatan pendaftaran usaha pariwisata, memfasilitasi dan melakukan promosi destinasi dan produk pariwisata yang ada di wilayahnya, serta memfasilitasi melestarikan daya tarik wisata baru, juga mempunyai kewenangan untuk menyusun rencana induk pembangunan kepariwisataan Kabupaten/Kota dan menetapkannya dengan peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Melalui peraturan daerah, Pemerintah Kabupaten Langkat mengatur retrebusi untuk tiket masuk ke setiap objek wisata yang ada di Langkat. Peratutran tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupeten Langkat (Perda Kabupaten Langkat) No. 02 Tahun 2012 Tentang Retrebusi Jasa Usaha. Adapun peraturan tentang retrebusi pengusahaa rekreasi dan hiburan tertuang dalam Perda Kabupaten Langkat No. 02 Tahun 2012 Pasal 28 yang menjelaskan tentang tiket masuk untuk dewasa sebesar Rp. 3.000,- per orang dan anak-anak Rp. 1.000,- per orang.
Menurut keterangan dari Bapak Ngalemi Sinuraya bahwa tiket masuk yang ada di lokasi wisata Wisata Batu Katak ini berasal dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Langkat. Uang dari hasil penjualan tiket sebagian akan di setorkan kedinas tersebut. Dari harga tiket sebesar Rp. 5.000.- per orang, Rp.
3.000.- nya akan di setorkan ke dinas. Pihak pengelola akan menyetorkan hasil penjualan tiket sekali dalam sebulan.
4.2.2. Pembangunan Infrastruktur
Pembukaan wisata ini juga membuat pemerintah daerah Kabupaten Langkat melakukan pengaspalan jalan menuju ke lokasi wisata ini. Tetapi pengaspalan ini telah lama dilakukan. Pada saat penelitian ini dilakukan kondisi jalan telah rusak dan aspal telah mengelupas. Perbaikan jalan belum dilakukan kembali. Padahal kondisi jalan juga mempengaruhi jumlah pengunjung yang akan berkunjung yang datang.
Pemerintah Kabupaten Langkat juga telah membuat anggaran untuk mendirikan pos jaga di lokasi Wisata Batu Katak. Hal ini seperti yang di ungkapkan Bapak Junaidi Jusaf (39 tahun) berikut ini.
“Pada tahun 2019 ini dinas sudah mengeluarkan anggaran ke Wisata Batu Katak untuk pembangunan infrastruktur pos jaga dan saat ini sudah dalam pelaksanaan”. Jelas Bapak Junaidi Jusaf
Sebelum pembangunan pos jaga di wisata Batu Katak, pada tahun 2019 ini yang lagi sedang dilaksanakan pembangunanya, sebelumnya juga pemerintah dinas pariwisata sudah pernah membangun jalan setapak di wisata Batu Katak.
Dimana seperti pembangunan pos tersebut program pemerintah yang kedua kalinya sudah terlaksanakan.
Pembangunan pos jaga yang sedang berjalan pada saat ini di wisata Batu Katak termasuk dana APBD yang di keluarkan oleh pemerintah dinas pariwisata, namun untuk pelaksanaan dan penggambaran pembangunan pos jaga di wisata Batu Katak yang melaksanakan pihak pemerintah PU Kabupaten Langkat. Jadi pihak pemerintah pariwisata dan pihak pemerintah PU Kabupaten Langkat memiliki saling kerja sama.
4.2.3. Pengadaan Asuransi Jiwa
Mengutip dari laman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Langkat (disparbud.langkatkab.go.id). Dalam meningkatkan perannya terhadap pariwisata di daerahnya. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten melakukan kerjasama dengan Jasa Raharja Putera Cabang Medan terkait dengan pertanggungan asuransi pelayanan umum bagi pengunjung objek wisata di Kabupaten Langkat. Dalam perjanjian kerjasama tersebut PT. Jasaraharja Putera memberikan jaminan pertanggungan kepada pengunjung objek wisata atau ahli warisnya yang mengalami kecelakaan di empat objek wisata Langkat, yaitu Bukit Lawang (Bahorok), Ekowisata Tangkahan (Batang Serangan), Pemandian Alam Batu Katak (Bahorok) dan Pemandian Pangkal Namu Sira-Sira (Sei Bingei).
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari hasil wawancara dengan Bapak Junaidi Jusaf dimana dana asuransi di dapatkan oleh pengunjung jika mengalami kecelakaan di lokasi Wisata Batu Katak. Adapun dana yang di dapatkan oleh pengunjung jika mengalami luka-luka Rp. 2.500.000,- per orang, cacat permanen Rp. 15.000.000,- per orang dan meninggal dunia Rp. 15.000.000,- per orang. Berikut adalah kutipan wawancara dengan Bapak Junaidi Jusaf.
“Kalau asuransi itu memang ada. Pihak dinas bekerja sama dengan pihak asuransi Jasaraharja Putera. Setiap bulannya dinas ini menyetor ke pihak asuransi Rp. 1000,- dari hasil satu tiket.
Nantinya jika pengunjung mengalami kecelakaan seperti luka-luka akan dapat Rp. 2.500.000, cacat permanaen Rp. 15.000.000 dan meninggal akan dapat Rp. 15.000.000”. Luka-luka yang dimaksud disini tentunya luka luka yang sangat patal dan parah, penyesuaiannya nanti akan di tentukan pihak asuransi sendiri layak apa tidak untuk mendapatkan asuransi. Namun untuk luka-luka tergores atau lecet itu tidak bisa kita pastikan untuk mendapatkan asuransi ini. Jelas Bapak Junaidi Jusaf.
Proses pencairan dana asuransi dapat dilakukan dengan cara melaporkan peristiwa kecelakaan yang dialami pengunjung ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
“Cara pencairan dana asuransi dilakukan di dinas ini. Pengunjung yang mengalami kecelakaan. Melapor dan mengisi formulir yang disediakan setelah itu pihak dinas melaporkan ke pihak asuransi untuk pencairan dana korban kecelakaan”. Lanjut Bapak Junaidi Jusaf.
Pengelolaan Wisata Batu Katak ini tidak hanya di bantu oleh pemerintah.
Akan tetapi juga di bantu oleh Yayasan Hutan Untuk Anak. Yayasan ini berperan dalam mempromosikan destinasi wisata dan dalam hal pengelolaan kebersihan lokasi wisata. Hal ini seperti yang telah di jelaskan di bagian pengelolaan kebersihan di atas.