• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alternatif Baru Guna Mengangkat/ Menyampaikan Informasi Publik

3.2. Metode Pengumpulan Data

3.4.3 Kebutuhan Media Alternatif

Media, apapun bentuknya, baik media konvensional - seperti media cetak, radio, televisi - hingga media

baru (online) seperti blog, wiki, social media, sifatnya menjadi sangat penting dibutuhkan oleh masyarakat

karena melalui media-lah masyarakat dapat memperoleh informasi. Jadi, selama masyarakat masih membutuhkan informasi, maka media masih akan dibutuhkan.

Media mainstream dapat mempengaruhi banyak hal di beragam bidang, seperti mempengaruhi

pembuatan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial. Dibandingkan media mainstream, social media belum

dapat berpengaruh sedahsyat itu. Namun memang perannya secara bertahap mulai melebar, seperti kampanye untuk mendukung pembebasan Prita Mulyasari dan Bibit Candra. Namun masih sebatas untuk menggalang dukungan saja.

Semakin banyak media, sejelek apapun, akan tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Informasi yang salah lebih baik daripada tidak ada informasi. Masyarakat kan nggak bodoh.

wawancara, 13/01/2012)

Agar dapat bertahan (sustainable), sebuah media tentu membutuhkan biaya untuk menutupi kebutuhan

operasional sehari-hari. Kalau kita lihat, hampir sebagian besar media mainstream versi cetak saat ini

juga sudah memiliki versi onlinenya. Sementara itu media-media lokal di daerah sudah mulai jenuh,

terutama media lokal yang tidak publik, lagi-lagi karena masalah pembiayaan (modal). Kejenuhan yang

terjadi mengakibatkan masyarakat terpapar oleh isu yang cenderung sama, perluasan kanal ke online

yang dilakukan oleh media-media mainstream semata hanya untuk membuka pasar baru, bukan untuk

menyediakan alternatif konten/informasi. Media-media lokal yang inovatif pun banyak yang tidak dapat

bertahan dalam kompetisi dengan media mainstream. Media alternatif dibutuhkan sebagai pelengkap

informasi yang telah tersedia di media mainstream.

Di Indonesia, hampir sebagian besar media besar dimiliki oleh grup-grup besar. Sudah susah untuk mencari yang independen. Jadi, dalam konteks ini, media alternatif sangat dibutuhkan sebagai suara alternatif dimana orang bisa menyerap informasi-informasi yang berbeda dari

yang disuarakan di media mainstream. Jadi bisa ada pemberitaan dari sisi yang lain (Budi Putra,

Director of Indonesia and Southeast Asia Viki.com, wawancara, 25/02/2012)

Adanya jurnalisme warga menjadi tantangan tersendiri bagi media mainstream. Ke depannya bisa

jadi jurnalisme warga, yang tentu saja tidak memiliki sensor, akan mendominasi media mainstream.

Masyarakat mengharapkan media mainstream dapat melaporkan cerita-cerita yang relevan dan

informatif tentang lingkungan sekitar mereka, tidak hanya isu-isu politik dan ekonomi yang terkadang maknanya sulit ditangkap. Jurnalisme warga bisa berperan di sini, yaitu dengan memberikan lebih

banyak informasi yang berbeda dari yang kebanyakan dimuat di media mainstream. Dari sudut

pandang media, selalu ada peluang untuk membuat media baru sebagai salah satu alternatif pilihan di samping media yang sudah ada.

Selama bisa menangkap potensi bahwa masih ada celah, banyak sekali angle yang bisa

dimainkan. Detikcom dengan kecepatannya, Vivanews dengan in-depth-nya, selalu ada satu need

yang kemudian bisa dijadikan ciri khas. Bahkan sekarang sudah muncul media yang baru-baru

seperti Merdeka.com, Beritasatu, yang mencari-cari need sendiri, pada akhirnya nanti punya

pasar sendiri (Edi Taslim, Vice Director Kompas.com, wawancara, 13/03/2012)

Kehadiran media alternatif diharapkan dapat menjadi penyeimbang (balancing power), mengimbangi

arus informasi yang masuk ke masyarakat. Masyarakat ingin mendapatkan sesuatu yang baru,

tidak hanya berita-berita hiburan atau iklan yang dibuat untuk mengembangkan korporasi (media

corporation), tetapi masyarakat juga membutuhkan informasi bermutu yang mengandung muatan edukasi dan pendidikan. Saat ini masih sedikit sekali media, khususnya televisi, yang menyiarkan konten bermuatan edukasi, Sebagian besar konten yang disiarkan di televisi adalah yang bersifat

hiburan/gaya hidup masyarakat perkotaan semata, reality show, kuis, lawak dan/atau sinetron. Tidak

heran jika pola pikir masyarakat di daerah menjadi Jakarta-sentris karena televisi telah mengkonstruksi pikiran dan mempengaruhi kehidupan mereka. Padahal jika dilihat, satu-satunya media yang saat ini mampu menjangkau seluruh pelosok daerah adalah televisi. Artinya, televisi sebenarnya menjadi sebuah media yang berperan penting dalam menyebarkan informasi secara massal.

Kalau kita lihat, media mainstream khususnya televisi sangat minim sekali muatan edukasi,

kecerdasan, atau muatan untuk mendorong needs of achievement. Karena bagi mereka (media-

red) ini tidak menguntungkan. Media menciptakan ketergantungan, sehingga diciptakanlah ‘keinginan untuk populer’. Orang ingin populer, ingin tampil di media, ingin eksis di media. Ini

dikontruksi oleh media mainstream, yang pada akhirnya mereka menciptakan budaya yang

populer. Orang digiring untuk antusias dalam hal yang dangkal-dangkal ini, menjadi populer dengan kemampuan seadanya (Yasraf Piliang, Dosen dan Rektor Kepala Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, wawancara, 02/03/2012)

Centre for Innovation Policy and Governance

174

Masalahnya sekarang adalah terdapat ketidakberimbangan dalam hal karakter medianya. Wajah pertelevisian di Indonesia semakin memprihatinkan. Televisi tidak lebih dari sebuah media kapitalis untuk mengeruk keuntungan, tak lebih dari sekedar alat untuk memenuhi kepentingan komersil

pemiliknya. Hampir semua media menjadi komersil dan mendasarkan diri pada rating. Semakin

tinggi rating tentu semakin besar pula profit yang akan didapatkan. Konten yang disajikan semata-

mata hanya untuk mendapatkan rating yang tinggi, atau menggunakan berbagai nilai yang memikat, misalnya: perempuan cantik itu selalu diindentikkan dengan berkulit putih dan bertubuh langsing. Nilai-nilai tersebut akhirnya diadaptasi oleh masyarakat. Bayangkan jika dalam diri anak kecil sudah ditanamkan nilai-nilai itu sejak kecil.

Wajar saja mereka menjual yang dangkal-dangkal karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin penonton. Nah, kita tidak berimbang karena media itu hanya media komersil. Meski ada TVRI, tetapi ternyata tidak berperan sama sekali. Pada akhirnya, fungsinya hanya menghibur,

membuat acara talkshow, sinetron, dan mengikuti media komersil lain (Yasraf Piliang, Dosen dan

Rektor Kepala Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, wawancara, 02/03/2012)

Kompas TV mencoba untuk menjadi berbeda dari televisi komersil yang ada. Stasiun televisi swasta

terestrial berjaringan di Indonesia80 yang mulai mengudara sejak September 2011 ini, memposisikan

diri sebagai stasiun televisi yang mendidik. Konten yang ditayangkan antara lain berupa News, Talk

Show, Adventure, Knowledge/Science. Beberapa program acara yang kontennya dianggap kurang sesuai tidak akan ditayangkan. Walaupun demikian, Kompas TV juga memiliki acara hiburan namun bukan sinetron ataupun komedi.

Membuat sebuah alternatif tidak semudah yang dibayangkan. Bagaimanapun, berita (news) akan tetap

menjadi komoditi karena semua orang ingin mendapatkan informasi. Karena itu, konten menjadi hal

yang sangat penting; dan untuk membuat konten yang baik, konten harus berani segmented (bermain

di segmentasi tertentu). Teknologi hanya sebagai medianya saja.

3.4.3.1 Karakteristik Kebutuhan Media Alternatif

Adalah wajar jika adanya konglomerasi media menimbulkan ketakutan tersendiri di kalangan masyarakat, karena masyarakat melihat pemilik media tersebut mungkin saja punya kepentingan lain

karena mereka politikus atau pebisnis. Masyarakat mungkin mulai jengah dengan media mainstream

yang ada, sehingga muncul keinginan untuk menemukan sesuatu yang baru, tidak hanya berita, hiburan dan iklan, namun informasi yang bermutu, dekat dengan kehidupan mereka dan mengandung edukasi. Keinginan tersebut dapat diakomodir dengan membuat sebuah media alternatif, yaitu sebuah

media (bisa berupa radio, koran, televisi, majalah, film, online) yang menyediakan informasi alternatif

selain yang ada di media mainstream dalam konteks tertentu.

Media alternatif umumnya dibuat untuk menantang kekuasaan yang ada, mewakili kelompok-

kelompok marjinal dan memupuk hubungan horizontal antara komunitas81. Mereka yang mendukung

media alternatif berpendapat bahwa media mainstream bias dalam pemilihan dan framing berita

serta informasi. Sementara sumber media alternatif juga bisa menjadi bias, namun diklaim secara

signifikan biasnya berbeda dengan media mainstream karena nilai-nilai, tujuan, dan kerangka kerjanya

berbeda. Oleh karena itu media ini memberikan sudut pandang “alternatif”, informasi yang berbeda

dan interpretasi terhadap dunia yang tidak dapat ditemukan di media mainstream. Dengan demikian,

jurnalisme advokasi cenderung menjadi komponen dari banyak outlet alternatif82.

Blog, Facebook, Twitter, YouTube dan situs jejaring sosial sejenis lainnya, meskipun awalnya bukan dibuat sebagai media informasi, kini layanan itu semakin banyak digunakan untuk menyebarkan

80 Tweet Kompas TV, https://twitter.com/kompastv/status/106619131771629568

81 Downing, John. (2001). Radical Media. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

82 Interface: a journal for and about social movements (2010). Special issue “Voices of dissent: activists’ engagements in the creation of alternative, autonomous, radical and independent media”

berita dan informasi. Layanan tersebut berpotensi sebagai media alternatif karena memungkinkan warga biasa untuk membagi informasi dan perspektif yang dianggap penting. Namun perlu dibedakan,

kegiatan yang dilakukan di situs social media bukanlah jurnalisme, meskipun kadang-kadang breaking

news pertama kali muncul disana kemudian diangkat di media mainstream. Lalu, seperti apakah kriteria

yang diharapkan dari sebuah media alternatif?

Dari Sisi Konten 1. Hyperlocal

Kriteria yang diharapkan ada pada media alternatif online adalah hyperlocal. Tren media ke depannya

nantinya akan semakin mengarah ke lokal. Artinya, media alternatif tersebut diharapkan dapat memberikan informasi dengan topik/isu tertentu, misalnya cerita atau informasi yang dianggap menarik oleh masyarakat di area/daerah tertentu. Konten lokal sepertinya masih menjadi salah satu yang banyak dicari di Internet saat ini. Informasi yang ditawarkan seharusnya informasi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Bisa jadi segmentasinya adalah wilayah lokal tertentu.

Berbeda dengan media mainstream, media alternatif online yang berbasis hyperlocal tidak akan

bergantung pada wartawan professional untuk mengisi konten media tersebut. Model jurnalisme yang

nantinya akan dipakai pada situs hyperlocal adalah dengan melibatkan pembaca dan warga lokal dalam

proses jurnalistik.

Sampai sejauh ini, belum ada definisi tunggal yang menjelaskan tentang jurnalisme hyperlocal,

tetapi karakteristik hyperlocal seringkali ditandai dengan fokus pada wilayah geografis tertentu atau

topik khusus (Foust, 2009). Istilah hyperlocal pun kini sudah dipakai untuk penamaan media untuk

menandakan ciri khas lokal dari media mereka seperti Washington Post dan New York Times, organisasi jurnalistik dan nirlaba seperti VoiceofSanDiego.com dan MinnPost.com; blog lokal seperti BaristaNet. com dan WestSeattleBlog.com.

Jadi mungkin bisa per region. Nanti bisa cari orang-orang yang independen. Namun mindset-nya harus

kita ubah, bukan mengalahkan media mainstream tapi memberikan media alternatif (Budi Putra,

Director of Indonesia and Southeast Asia Viki.com, wawancara, 25/02/2012)

AOL, CNN dan eBay adalah beberapa perusahaan yang sudah mulai melirik dan mengembangkan

bisnis untuk segmen lokal ini. Tahun 2009, AOL membeli dua startups lokal yaitu Patch Media (sebuah

situs berita dan informasi lokal untuk masyarakat yang berbasiskan komunitas), dan Going Inc.(sebuah

platform untuk berbagi informasi tentang peristiwa-peristiwa lokal) 83.

Saingan terbesar AOL, MSNBC, bahkan mengakuisisi situs news aggregator hyperlocal EveryBlock. Di

lain sisi, CNN menginvestasikan US$7 juta untuk news aggregator Outside.in, sebuah situs berita dan

informasi dari blogger lokal. Pada tahun 2009, Clarity Media Group yang investor utamanya adalah

miliarder Philip Anschutz, juga mengakuisisi NowPublic, salah satu situs citizen journalism yang

kontributornya berasal dari berbagai negara. Demikian halnya dengan pendiri eBay Pierre Omidyar,

berinvestasi membuat layanan berita online lokal untuk Hawai.

Khusus di Indonesia, media-media berbasis hyperlocal saat ini mulai bermunculan. Salah satu contohnya

adalah radio komunitas, yaitu stasiun siaran radio yang dimiliki dan dikelola oleh komunitas atau warga untuk melayani kebutuhan informasi warganya. Karena dikelola oleh komunitas/warga, maka keterlibatan komunitas/warga di sini sangat penting. Menurut Wikimedia, radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2000. Saat ini terdapat lebih dari 300 radio komunitas di Indonesia. Radio-radio komunitas tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang sebagian di antaranya telah mengorganisasikan diri dalam oraganisasi Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), Jaringan

83 The Guardian. Trends 2010: Hyperlocal. Retrieved on June 20, 2012 from http://www.guardian.co.uk/media/pda/2009/dec/23/trends-2010-hyperlocal-media

Centre for Innovation Policy and Governance

176

Independen Radio Komunitas (JIRAK CELEBES), Forum Radio Kampus Bandung, Jaringan Komunitas Jaringan Lampung, dan lain-lain.

Selain radio komunitas, juga sudah mulai bermunculan situs-situs dengan konten lokal di Indonesia

meskipun belum menjamur. Situs http://www.infogadinggroup.com misalnya, yang menyebutkan

dirinya sebagai media online komunitas. Di sini kita bisa mendapatkan informasi lokal dari beberapa

kawasan tertentu seperti Depok, Sunter, Kebayoran, Bekasi, Cibubur, Bogor, dan lain-lain. Ada pula Yogyes.com, yang memuat informasi tentang Yogyakarta. Dan Jogjastreamers, salah satu situs penyedia

jasa live streaming untuk stasiun-stasiun FM radio di kota Yogyakarta dan sekitarnya, di mana setiap

radio tersebut memiliki berbagai macam format siaran mulai contemporary hit radio, news, dangdut,

budaya jawa, oldies music, dan lain sebagainya.