• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alternatif Baru Guna Mengangkat/ Menyampaikan Informasi Publik

3.2. Metode Pengumpulan Data

3.4.1. Tren Perkembangan Media di Indonesia

Perkembangan Information and Communication Technology (ICT) di Indonesia begitu pesat dalam

beberapa tahun belakangan ini. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa fakta di sekeliling kita. Sebagian besar masyarakat yang kita jumpai sehari-hari sudah sangat akrab dengan perangkat teknologi, seperti

bermain game, chatting, mendengarkan musik lewat ponsel, berselancar di Internet melalui tablet,

laptop atau smartphone.

Khususnya Internet, Internet di Indonesia berkembang pesat sejak tahun 1994, terutama sejak

IndoNet (Internet ServiceProvider/ISP komersial pertama) mulai beroperasi di Indonesia untuk umum.

Pertumbuhan pengguna Internet pun melonjak dari tahun ke tahun, walaupun jumlahnya tidak dapat diukur secara pasti. Menurut prediksi Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang juga telah disetujui oleh Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo), jumlah pengguna Internet di

Indonesia tahun 2010 adalah 45 juta (diakses dari komputer dan ponsel)74. Data lain yang diperoleh

dari Internet World Stat menunjukkan jumlah pengguna Internet sudah mencapai 55 juta pengguna

per 31 Desember 2011, dengan penetrasi 22,4 persen75.

Seiring meningkatnya jumlah pengguna Internet, pola konsumsi masyarakat terhadap media juga mulai

bergeser yaitu dari cetak ke online. Hasil riset Yahoo! - TNS tentang tren pengguna Internet di Indonesia

pada tahun 2010 menyebutkan bahwa jumlah pembaca berita online sudah mencapai 45 persen pada

2010, sementara pembaca media cetak mulai mengalami penurunan. Perubahan pola konsumsi media ini rupanya segera ditangkap oleh pemilik modal di media massa, dengan ikut merambah ke bisnis

media online. Kini hampir sebagian besar pemilik media massa (terutama cetak) sudah membuat portal

berita online.

Laporan Tahunan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) 2011 yang berjudul “Menjelang Sinyal Merah” menyebutkan bahwa bagi media di Indonesia, aura yang dirasakan dalam beberapa tahun ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Ini pernah juga dirasakan 10 tahun lalu, saat bisnis dot com sedang

booming, yang kelak dikenal dengan istilah “the dot com bubble”. Di Indonesia, penanda era dot com dimulai dengan bermunculannya portal berita. Antara lain Satunet.com, Lippostar.com, Eramuslim. com, Cipinang.com, Astaga.com, Kopitime.com, Newsproperty.com, Catcha.com – selain Detik.com dan Tempointeraktif.com yang sudah ada lebih dulu. Portal berita itu mempromosikan keunggulannya dalam soal kecepatan berita, jauh di depan suratkabar yang baru bisa mengabarkan peristiwa pada keesokan harinya.

Namun, euforia dot com itu berakhir cepat. Masih menurut Laporan AJI 2011, sejumlah perusahaan dot com di Amerika dilaporkan kehabisan modal sehingga akhirnya dilikuidasi. Apa yang terjadi dengan bisnis dot com di Amerika Serikat juga tercermin di Indonesia. Sejumlah perusahan portal berita, yang sebagian besar mengandalkan pemasukannya dari iklan, bernasib sama. Portal berita yang muncul pada tahun 2000, seperti Kopitime, Astaga.com, Satunet, Catcha.com akhirnya menjadi sejarah. Upaya

bertahan dilakukan dengan sejumlah cara, seperti melakukan merger untuk merampingkan organisasi

dan mempertajam segmentasi pembaca. Namun, upaya demikian tidak menyelamatkan portal-portal berita itu. Di antara portal-portal media tersebut, yang bisa bertahan dan sukses hanya Detik.com–

serta sejumlah media online yang menjadi bagian dari suratkabar mainstream. Pengalaman pada tahun

2000 itu memang tidak membuat trauma. Tapi butuh waktu lama juga bagi media di Indonesia untuk melirik kembali bisnis ini secara serius. Bahkan, sampai 2006, ketika tren orang menggunakan Internet di Amerika Serikat tumbuh pesat lagi, media di Indonesia masih belum bersiap-siap menyongsong era digital – meski sejumlah media sudah mulai menapak jalan konglomerasi sebagai alternatif paling mungkin untuk tumbuh dan bisa jadi besar.

Sebagian penentu kebijakan di perusahaan media sudah menentukan pilihan dan memantapkan

keyakinan bahwa masa depan ada di online. Caranya adalah melalui konvergensi. Media tidak lagi

dianggap memadai jika hanya berbasis suratkabar, radio, atau televisi. Mereka pun mengembangkan

sayap bisnis online. Sejumlah industri penerbitan Indonesia telah memilih jalan itu. Tetapi ada juga

yang masih ingin melihat dan menunggu. Sebagian karena tak siap secara modal. Sebagian lainnya

karena masih khawatir mengulang kesalahan pada satu dekade lalu76.

Berbicara soal permodalan, saat ini hampir sebagian besar media di Indonesia sudah dibeli atau dikuasai oleh pemodal besar. Sejumlah media memilih jalan konglomerasi karena dianggap inilah jalan alternatif yang paling memungkinkan untuk bisa tumbuh dan jadi besar.

74 Ardhi Suryadi, Pengguna Internet Indonesia Capai 45 Juta, 2010. Retrieved 25 April 2012 from http://www. detikinet.com/read/2010/06/09/121652/1374756/398/pengguna-internet-indonesia-capai-45-juta

75 Internet World Stats, Indonesia. Retrieved on April 25, 2012, from http://www.internetworldstats.com/ asia.htm#id

Centre for Innovation Policy and Governance

168

Wajar saja seandainya sebuah penerbitan (termasuk online) akhirnya terokupasi oleh pemodal

besar. Karena modal besar biasanya memberikan dukungan organisasi kerja dan kesejahteraan yang lebih layak. Jangan lupa, sebagian kerjaan media juga tumbuh dari bawah, bahkan membangun bisnis dari receh demi receh. Misalnya Kompas Gramedia, Femina, dan Tempo Inti Media. Mereka juga membangun tradisi jurnalistik masing-masing, sekalian membangun bisnisnya (Antyo Renjtoko, Langsat Network, wawancara, 06/03/2012)

Keberadaan pemilik modal mungkin saja memberikan tekanan dan pengaruh karena si pemilik modal mempunyai kepentingan dan memanfaatkan media yang dimilikinya untuk melancarkan kepentingannya. Tetapi tidak serta merta konglomerasi media menyebabkan efek yang buruk. Bisa jadi

sebuah isu tidak diangkat karena memang tidak penting, atau karena keterbatasan resources. Karena

itulah media mainstream dan media baru akan saling membutuhkan.

Terlepas dari siapa pemiliknya, faktor framing individu (orang-orang yang berada di media tersebut)

juga harus dilihat, mungkin si individu tidak melihat sudut pandang lain. Proses di media yang benar adalah semua keputusan ditentukan oleh rapat redaksi, bukan individu. Pada akhirnya akan terjadi seleksi secara alami. Media yang kontennya tidak oke/benar, atau kontennya tidak berguna, cepat atau lambat akan ditinggalkan oleh pembaca.

3.4.2. Era Social Media dan Pemanfaatannya