Ardhanary Institute Sri Agustine
3. Temuan dan Diskus
Untuk menggali implikasi perkembangan industri media dan kebijakan media di Indonesia, dari kacamata pemenuhan hak-hak warga dalam mengakses media (terutama dalam hal ini adalah kaum LGBT), Ardhanary Institute melakukan kegiatan pencarian data berikut ini:
Centre for Innovation Policy and Governance
100
a. Bagaimana akses LGBT terhadap informasi serta sarana dan prasarana untuk mengakomodasi kebutuhan informasi.
b. Realitas berita/liputan/artikel yang diangkat oleh media mengenai LGBT, apakah sesuai dengan faktanya dan bernilai edukatif dalam kerangka HAM?
c. Ruang bagi LGBT untuk menyuarakan hak-haknya melalui media.
d. Pemenuhan hak warga (terutama) atas media menyangkut hak warga atas informasi yang terpercaya, infrastruktur media, dan pembuatan kebijakan secara partisipatif.
3.1. Profil Narasumber
No Nama Posisi Media Massa
1. Yuke Mayaratih (on air) atau Nata Ayu Mayaratih (legal
formal) Produser Berita AN TV
2. Azat Syaiful Rahmat Produser Berita MNC
3. Ahmad Junaidi Teaches Editor Director The Jakarta Post
4. Petty. S. Fatimah Pemimpin Redaksi, Chief Community Officer Femina
5. Dimas Harry Caprijanto Sekretaris Jendral Yayasan Duta Kresna Sanubari Jakarta
6. Sri Agustine Direktur Ardhanary Institute Sanubari Jakarta
3.2. Hasil Temuan
Keberadaan media massa dari hasil pengamatan dokumentasi yang dilakukan oleh Ardhanary
Institute secara online sangatlah dekat dengan masyarakat, karena media memiliki kemampuan untuk
memberitahukan kepada masyarakat atau khalayak tentang isu-isu tertentu yang dianggap penting. Melalui informasi yang disebarkan itulah media berkomunikasi dengan masyarakat yang tidak hanya mempelajari dan memahami isu-isu tersebut tetapi juga menilai isu atau topik yang diangkat tersebut. Dan penilaian masyarakat ini tentunya sangat besar dipengaruhi oleh cara media memberikan penekanan terhadap isu tersebut. Misalnya saja pemberitaan yang mengangkat ungkapan Ali Mochtar Ngabalin anggota DPR dari Fraksi Bulan Bintang di harian Nasional Kompas Online pada 30 Oktober
2008 dengan judul “Ngabalin Tegaskan Homoseksualitas Perilaku Menyimpang”11. Bahasa komunikasi
yang provokatif ini berhasil menggiring komentar pembaca mendukung ungkapan Ngabalin bahwa homoseksualitas adalah perilaku yang menyimpang karenanya harus dilawan dan diperangi dengan Undang-undang Pornografi.
Mengapa media tertarik menggunakan komunikasi provokatif dalam memberitakan LGBT? Apakah ada kebijakan yang mengatur hal ini?
Berikut adalah hasil wawancara dengan narasumber dari ANTV, MNC Group, Majalah Femina dan koran The Jakarta Post.
3.2.1. Akses LGBT terhadap Informasi Serta Sarana dan Prasarana untuk Mengakomodasi Kebutuhan Informasi
Akses dan kebijakan media secara khusus dalam mengakomodasi kebutuhan LGBT terhadap informasi
11 http://nasional.kompas.com/read/2008/10/30/13484438/Ngabalin.Tegaskan.Homoseksual.Perilaku. Menyimpang#komentar
serta sarana dan prasarana menurut narasumber dari ANTV, MNC Group dan Femina tidak ada. Karena informasi yang disampaikan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keyakinan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat. Sulit bagi sebuah media untuk mengangkat isu LGBT jika bertolak-belakang dengan nilai-nilai yang diyakini dan dikembangkan karena akan memunculkan resistensi masyarakat. Alasan lainnya menurut beberapa narasumber, isu LGBT biasanya akan diangkat jika ada peristiwa atau kejadian hangat terkait LGBT.
Kebijakan ANTV menyangkut akses terkait informasi yang akan diberitakan harus menyangkut kepentingan banyak publik. Karena tujuan media adalah memberikan informasi kepada publik dan memberikan alternatif supaya masyarakat tahu mereka harus melakukan apa berdasar informasi yg kita sampaikan. Termasuk untuk informasi soal LGBT, misalnya mencuat isu pembunuhan yang dilakukan oleh gay dari situ kita lihat kebutuhan masyarakat apa untuk mengetahui persoalan tersebut. Misal jika kebutuhan masyarakat adalah terkait dengan identitas gay kenapa sampai melakukan pembunuhan, dari sini kita mencoba melihat faktanya seperti apa, untuk itu kita menggali informasi lebih dalam wawancara dengan psikolog dan kaum gay itu sendiri. Salah satu contohnya saat liputan dengan Mujianto, kita lihat dari berbagai aspeknya (Yuke Mayaratih, ANTV)
Jika masyarakat membutuhkan informasi seputar LGBT maka kita akan mengangkatnya berdasarkan kebutuhan masyarakat. Tetapi isu yang kontroversial biasanya kita angkat berdasarkan kejadian yang sedang hangat. Misal untuk kasus LGBT, kita akan angkat ketika masyarakat membutuhkan informasi mengenai isu tersebut (Drajat Syaiful Rahmat, MNC Group)
Femina adalah majalah wanita yang bersifat umum (general-service magazine for women segment)
sehingga isu yang ditampilkan amat beragam. Suatu isu diangkat biasanya karena ada kejadian tertentu dalam masyarakat (dalam arti luas, secara langsung maupun tidak langsung) yang menjadi concern bagi Femina dan penting diketahui wanita. Hal ini juga berlaku untuk isu LGBT. Note: Saya lampirkan beberapa contoh artikel di Femina yang membahas isu ini pada 3 tahun terakhir sebagai tambahan perspektif bagi anda (Petty S Fatimah, Femina)
Sedangkan narasumber dari koran The Jakarta Post mengatakan bahwa akses dan kebijakan serta sarana dan prasarana bagi kelompok LGBT terkait informasi ada dalam kebijakan di The Jakarta Post.
Di Jakarta Post ada kebijakan untuk memberikan akses kepada isu-isu terkait dengan human
rights bagi kelompok-kelompok yang termajinalkan, dan isu demokrasi. Jadi isu LGBT kita angkat
dalam perspektif HAM dan demokrasi. Jika sedang ada event penting LGBT misalnya International
Days Against Homophobia maka berita yang diangkat mengenai LGBT berada dihalaman muka/
depan (Ahmad Junaedi, The Jakarta Post)
3.2.2. Realitas Berita/Liputan/Artikel yang Diangkat oleh Media Mengenai LGBT
Sesuai dengan fungsinya sebagai sarana penyebar informasi akurat/benar dan edukatif maka media massa secara tidak langsung memberikan fungsi pendidikan pada pembacanya. Ini bisa dilihat dari
materi isi seperti news/berita liputan, artikel, feature dan lain-lain. Yang menjadi pertanyaan adalah
terkait dengan berita/liputan/artikel yang diangkat oleh media massa mengenai LGBT apakah sudah diangkat sesuai fungsinya media? Apakah warga pada umumnya selama ini mendapatkan informasi
yang benar menyangkut LGBT? Agar konstruksi atas ‘image’ kaum LGBT tidak hanya sekadar menjadi
kelompok yang dilihat dari sudut sempit melulu sebagai ‘menyimpang secara seksual’, pelaku tindakan kriminal dan pandangan negatif lainnya namun dihargai sebagai satu pribadi manusia yang penuh. Karena dalam hal ini, jelas peran media menjadi penting sebagai alat komunikasi bagi LGBT untuk merubah pandangan masyarakat.
Centre for Innovation Policy and Governance
102
dicapai. Artinya setiap kegiatan komunikasi (termasuk penyelenggaraan penyiaran) bertujuan pula untuk mengubah perilaku orang lain melalui penyajian program-program informasinya (Drs. Tommy Suprapto, M.S. “Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi, hal 144, Media Pressindo 2009)
Dari hasil wawancara, keempat narasumber dalam hal ini sepakat mengatakan bahwa media harus memberikan informasi yang benar mengenai sebuah peristiwa, walau diakui bahwa perspektif yang digunakan oleh setiap media dalam mengangkat sebuah kasus yang sama kemungkinan akan berbeda- beda.
Buat saya, media sudah cukup fair memberikan info kepada masyarakat, saya rasa sudah
ya, tapi menyangkut perspektif masing-masing, kita enggak tahu ya. Tapi, di media saya, kita
cukup fair memberitakan tentang isu-isu LGBT, terlihat dari bagaimana kami mengemas berita
tersebut dengan menghadirkan dua sisi, dari pihak LGBT dan pihak lainnya. Pandangan saya terhadap teman-teman LGBT, menurut saya sekarang sudah banyak keterbukaan, meskipun masih ada yang malu-malu, takut dengan sanksi sosial, itu terlihat beberapa kali saya melakukan wawancara, mereka tidak mau menunjukkan identitas, tapi ada juga yang mau seperti Mas Hartoyo, yang siap dengan sanksi sosial, dan tidak semua teman-teman siap dengan stigma yang ada. Tapi sejauh ini sudah cukup terbuka dengan adanya Ardhanary, Our Voice, dll. Cuma sayangnya banyak mereka yang tidak berbicara apa adanya, tidak mengemukakan perasaan mereka, atau banyak juga media yang tidak mau ya? (Yuke Mayaratih, ANTV)
Pada dasarnya sama ya semua media harus mengangkat berita sesuai faktanya, informatif dan edukatif. Apa sih berita yang menarik itu, apa sih berita yang pantas untuk diangkat itu, apa sih berita yang berdampak itu, pada intinya pasti semua pembuat berita akan berpatokan sama
newsjudgement (Drajat Syaiful Rahmat, MNC Group)
Media-media besar dengan visi kerja yang baik saya kira memberitakan tema ini dengan baik dari sudut perspektif gender maupun isu sosialnya. Tapi karena media di Indonesia begitu banyak, memang hal ini belum merata. Apalagi masyarakat kita sangat heterogen dari segala segi (suku, agama, tingkat pendidikan dsb). Namun gambaran LGBT di media menurut saya seringkali digambarkan sebagai sosok kreatif, unik, ‘berbeda’. Dari sisi negatif, kadang-kadang menjadi sumber kelucuan/olok-olok, kehidupan LGBT tidak jarang didramatisir berlebihan (Petty S Fatimah, Femina)
Ketika mengangkat isu LGBT, kita di Jakarta Post menggali dari banyak sumber, dan perspektif yang diangkat sesuai dengan kebijakan kita yaitu dari fakta human rights, bahwa semua orang tidak boleh didiskriminasi atas ras, suku, orientasi seksual. Itu perspektifnya. Yaitu fakta
diversity. Namun, kalo saya amati selama ini, saya melihatnya masih ada banyak media yang melakukan diskriminasi, masih ada perspektif yang enggak pas. Misalnya muncul dari berita- berita penggunaan kata-kata yang salah, pengunaan persepsi yang salah, seperti mengaitkan
AIDS dengan homoseksual. Masih ada homophobic. Saya tidak terlalu sepakat dengan berita-
berita yang membuat lelucon waria, transgender kan masih banyak kita temukan di TV, di koran. Justru itu membuat stereotipnya lebih kuat (Ahmad Junaedi, The Jakarta Post)
3.2.3. Ruang Bagi LGBT untuk Menyuarakan Hak-haknya Melalui Media
Mengenai ruang bagi LGBT untuk menyuarakan hak-haknya melalui media, keempat narasumber mengatakan hal senada bahwa belum ada ruang bagi LGBT untuk menyuarakan hak-haknya secara khusus. Pandangan bahwa isu hak-hak LGBT adalah isu yang sensitif serta masih adanya ketakutan masyarakat bahwa LGBT akan semakin menyebar, menurut 2 narasumber menjadi alasan mengapa tidak ada ruang di media bagi LGBT.
komunitas LGBT ini akan menyebar dan mengancam, misalnya, menyebar, semakin besar, semakin diterima, jadi ada beberapa orang yang ketakutan tentang isu itu. Jadi gagasan supaya LGBT bisa diterima secara luas, saya rasa enggak, tapi LGBT adalah fakta yang ada disekitar kita dan diterima dan diberikan hak-haknya, itu iya. Caranya menyampaikannya adalah jika adanya
news pack-nya, kayak ada hari AIDS nasional atau hari AIDS sedunia, maka dimunculkan isu itu. Tapi kalo ujuk-ujuk misalnya menyuarakan kepentingan lesbian, kayaknya enggak ya (Yuke Mayaratih, ANTV)
Jika yang dimaksud adalah gagasan atau pandangan LGBT mengenai LGB relatif ya. Bagaimana pun harus diakui tema LGBT masih dianggap sensitif bagi sebagian masyarakat (Petty S Fatimah, Femina)
Sedangkan dua narasumber lainnya mengatakan bahwa tidak adanya ruang bagi LGBT untuk menyuarakan hak-haknya terkait dengan tujuan media tersebut, pengambilan keputusan tentang pemberitaan yang akan dan layak diangkat serta manajemen yang dikembangkan.
Kalo saya sih lebih kepada siapa yang memberikan kriteria karena itu tadi, semua peristiwa di sekitar kita menarik untuk diangkat, pada prinsipnya itu. Tapi kenapa enggak diangkat, kembali lagi siapa, karena apa sih isu sosial yang menarik untuk diangkat, menurut saya semua menarik untuk diangkat, tapi berbeda pertimbangannya dengan redaksi, misalnya redaksi punya kebijakan sendiri. Misalnya isu sosial yang menarik di Jakarta banyaknya rakyat miskin di pinggir jalan. Di sisi lain, hal ini dianggap enggak harus diberitain, kita enggak punya durasi waktu untuk bahas itu, jadi siapa yang nentuin ya selain kepentingan redaksi, tapi di setiap tim produksi, ada yang namanya rapat? Proyeksi. Di rapat itu ditentuin ini pantas enggak diangkat dan di rapat itu hadir manager produksi, produser, dan yang lainnya. Jadi siapa yang menentukan berita
tersebut ya pimpinan redaksi(Drajat Syaiful Rahmat, MNC Group)
Tidak cukup ruang menurut saya, dan sebenarnya tidak hanya LGBT, saya kira semua kaum minoritas tidak punya cukup ruang bersuara di media, minoritas suku, minoritas yang lain, perempuan yang saya bilang cukup minoritas juga secara politis tidak punya suara juga di media. Pertama karena kurangnya perspektif pengelola media bahwa berita itu ya tentang oramg-orang terkenal, politik, hiburan. Perspektif mereka itu ya berita itu, itu. SBY ngomong ya berita, memang
betul itu tapi itu kan hanya basical Anda belajar di komunikasi, itu kan basic journalism, padahal
enggak cuma itu. Enggak hanya LGBT, perempuan-perempuan juga enggak ada suaranya. Suara di Kompas itu enggak muncul lagi, muncul pun semu dan letaknya di belakang. Itu perempuan,
apalagi LGBT, lebih kecil lagi di media (Ahmad Junaedi, The Jakarta Post)
3.2.4. Pemenuhan Hak Warga Terutama atas Media Menyangkut Hak Warga atas Informasi yang Terpercaya
Peranan media massa dalam menyebarluaskan informasi yang diperlukan masyarakat telah diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Dalam pasal 6 ayat (1) undang-undang tersebut dinyatakan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui dan lembaga pers berperan memenuhinya. Tidak hanya itu, hak masyarakat untuk memperoleh informasi dijamin pula dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak asasi Manusia (HAM), sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 14 ayat (1) ”Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya”.
Berdasarkan hak-hak tersebut, menurut narasumber hal tersebut diketahui oleh semua media dan media berusaha untuk memenuhinya misalnya dengan bersikap netral di dalam pemberitaan.
Centre for Innovation Policy and Governance
104
seberani Tempo, tapi sikap kita sikap netral aja. Misalnya kasus Ahmadiyah dan FPI, sebenarnya dalam kacamata umat muslim, mungkin Ahmadiyah itu sesat atau tidak, tapi lepas dari itu mereka juga makhluk hidup yang punya kebebasan untuk hidup dan ancaman, nah di mana keberpihakan media? (Yuke Mayaratih, ANTV)
Pada intinya, sederhana aja, kaidah jurnalistik kan ada di dunia, tapi enggak semua tahu secara leterer. Tapi prinsipnya nulis berita itu kita harus dua arah. Atau secara berimbang, kalo wawancara orang jangan menghakimi dan kalo berita itu enggak boleh bohong. Apa yang kamu dapat, itu yang kamu beritain. Itu yang harus dipegang semua penulis berita. Diluar itu semua
ada kaidah penlisan dan pasti semua penulis tahu. Jadi, yang paling penting itu cover two sides,
enggak meng-cover suatu kepentingan, dan baiknya tidak satu arah, jadi wawancara yang lain
yang sama seperti saya. Jadi tidak satu pihak saja. Jangan subjektif (Drajat Syaiful Rahmat, MNC Group)
3.5.2. Media Baru
Apakah perkembangan teknologi informasi membuka peluang baru demokratisasi media. Sejauh mana perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyuarakan suara kelompok/organisasi?
Berdasar pengalaman Ardhanary Institute bekerjasama dengan Kresna Duta Foundation membuat film LGBT berjudul “Sanubari Jakarta” yang targetnya ditonton oleh masyarakat Indonesia, media baru membuka peluang baru dalam mensosialisasikan hak-hak LGBT kepada publik.
Film “Sanubari Jakarta” ditayangkan serentak di bioskop 21 seluruh Indonesia pada tanggal 12 April 2012 dan bertahan di beberapa bioskop di kota besar hingga 21 hari dengan dipenuhi penonton. Sinopsis “Sanubari Jakarta” ini mengangkat realitas kisah cinta LGBT warga Jakarta. Bagaimana perasaan cinta datang, bagaimana mereka merasa, bagaimana mereka menjalani kehidupannya di tengah masyarakat yang menolak LGBT. Cinta adalah Cinta, begitu film “Sanubari Jakarta” menggambarkannya. Sinopsis film diangkat oleh 16 media massa nasional secara positif termasuk media-media religius seperti
Republika12.
Respon penonton tentunya sangat beragam, tetapi mayoritas mengatakan bahwa menonton film ini seperti membuka lembaran demi lembaran kepahaman mereka akan kehidupan LGBT yang selama ini nampak gelap bagi mereka. Tak kenal maka tak sayang, begitulah respon penonton. Selain itu, selama tayang di bioskop, tidak ada protes dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama untuk menolak film ini.
Faiza Mardzuki, playwright, producer, dan direktur Institut Ungu mengatakan bahwa film “Sanubari
Jakarta” berhasil mengajak publik untuk sejenak melihat dan memahami LGBT tanpa perlu merasa
terancam. Faiza juga meyakinkan bahwa judulnya sangat friendly dan tidak provokatif, sehingga
masyarakat tidak takut untuk melihat dan mendekat.