BAB II LANDASAN TEORI
C. Kecemasan Terhadap Menopause
1. Kecemasan
bahaya-bahaya nyata yang berasal dari dunia luar. Pada wanita yang
menghadapi masa menopause, kecemasan yang dialami yaitu pengaruh kondisi
fisik dan psikologis yang berubah karena masa ini. Sehingga, timbul rasa cemas
dalam berhubungan seksual, kurang percaya diri, terganggunya hasrat seksual,
dan takut tidak mampu mencapai orgasme yang berpengaruh pada kepuasan
seksual.
2). Kecemasan neurosis, yaitu kecemasan karena tidak terkendalinya naluri-
naluri yang berasal dari dalam diri yang bisa mendatangkan hukuman. Rasa
cemas yang timbul akibat bahaya yang tidak diketahui. Perasaan sendiri berada
pada ego, tetapi muncul dari dorongan-dorongan id. Pada wanita menopause
kecemasan terutama berhubungan dengan pemenuhan insting seksual.
Kecemasan berkembang karena adanya harapan untuk memuaskan impuls Id
tertentu. Selain itu, kecemasan terjadi bila insting tersebut dipuaskan.
3). Kecemasan moral, yaitu kecemasan yang timbul akibat tekanan super ego
atas ego individu yang telah atau sedang melakukan tindakan yang melanggar
moral. Pada wanita yang menghadapi masa menopause, kecemasan yang
dialami berkaitan dengan mitos dan budaya, dan lingkungan sosial yang
tidak dapat melayani suami dengan sempurna yang mengarah pada kepuasan
seksual dan hal ini mendorong munculnya kecemasan.
Berdasarkan uraian diatas, jenis-jenis kecemasan dalam penelitian ini
yaitu kecemasan realistis, kecemasan neurosis, dan kecemasan moral.
Kecemasan realistis pada wanita menopause merupakan kecemasan yang
dialami akibat pengaruh kondisi fisik dan psikologis. Sedangkan, kecemasan
neurosis pada wanita menopause merupakan kecemasan yang muncul terkait
pemenuhan insting seksual, serta kecemasan moral pada wanita menopause
berkaitan dengan mitos dan budaya, serta tidak mendapatkan dukungan sosial.
c. Respon Terhadap Kecemasan
Stuart (2001) mengemukakan bahwa respon terhadap kecemasan terdiri
dari respon perilaku, emosi, fisiologis, dan kogniitif.
a). Respon Perilaku
Respon perilaku adalah reaksi dalam bentuk perilaku manusia terhadap
bahaya atau ancaman meliputi rasa gelisah, bingung, dan ketegangan fisik.
b). Respon Emosi
Respon emosi merupakan suatu perasaan dimana individu secara terus-
menerus khawatir akan bahaya yang mengancam meliputi kekhawatiran,
cemas, mati rasa, dan takut.
Respon fisiologis merupakan reaksi tubuh akan bahaya seperti jantung
berdebar, rasa ingin pingsan, tekanan darah menurun, tekanan darah meningkat,
sesah napas, insomnia, gelisah, mondar-mandir, wajah tegang, tungkai lemah,
kehilangan nafsu makan, mual, diare, berkeringat, rasa panas dan dingin pada
kulit, dan sebagainya.
d). Respon Kognitif
Respon kognitif adalah respon yang timbul akibat pikiran individu,
misalnya sulit berkonsentrasi, ketidakmampuan membuat keputusan, mudah
putus asa, sulit tidur, kreativitas menurun, produktifitas menurun, dan takut
kehilangan kendali.
d. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan
Menurut Atkinson (1991) faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan
meliputi konflik, frustasi, ancaman fisik dan ancaman harga diri, serta adanya
tekanan untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan diri. Thalis (1992)
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan, yaitu:
a). Faktor Internal
Kecemasan yang muncul sebab individu mengalami hambatan dalam
mendapatkan kebutuhannya, sehingga individu merasa tidak mampu, rendah
diri, bersalah, kurang percaya diri, dan merasa tidak memiliki tujuan. Selain itu,
pusat pengatur suhu yang menyebabkan gangguan fungsi beberapa organ tubuh
(Stuart, 2001).
b). Faktor Eksternal
Kecemasan muncul berkaitan dengan dukungan emosional yang rendah
dari orang lain dan tidak memberikan kebutuhan yang diharapkan individu
sehingga individu merasa tidak dicintai, tidak memiliki kasih sayang, tidak
memiliki dukungan, dan timbulnya penolakan serta kritikan yang mengancam.
Berdasarkan iuran di atas, dalam penelitian ini faktor yang
mempengaruhi kecemasan adalah faktor yang berasal dari diri individu dimana
individu merasa cemas dengan perubahan yang terjadi dalam tubuhnya yang
turut membuat individu merasa kurang percaya diri. Selain itu, faktor dari luar
individu, dimana lingkungan, budaya dan mitos yang ada mempengaruhi
kecemasan individu.
e. Gejala-gejala Kecemasan
Hurlock (1990) menyatakan bahawa kecemasan ditandai dengan
adanya rasa khawatir, gelisah, dan perasaan yang tidak menyenangkan, dan
seseorang menjadi tidak mampu menemukan penyelesaian terhadap masalah.
Selanjutnya, Daradjat (1990), mengemukakan bahwa gejala kecemasan terdiri
dari :
Gejala fisik yang dialami seperti ujung jari yang terasa dingin, detak
jantung yang cepat, berkeringat, tidur tidak nyenyak, pencernaan terganggu,
kepala pusing, dan sesak napas. Berikutnya gejala fisik pada kecemasan yaitu
sakit dan nyeri otot, muka merah atau pucar, merasa lemas, perasaan ditusuk-
tusuk, jantung berdebar-debar, nyeri didada, sesak nafas, rasa tertekat atau
sempit didada, sulit menelan dan perut kembung. Selain itu, gejala fisik yang
terjadi meliputi, sering buang air kecil, tidak datang bulan (tidak ada haid),
darah haid berlebihan, darah haid sedikit, masa haid pendek, haid beberapa kali
dalam sebulan dan menjadi dingin (Hawari, 2006).
2). Gejala Psikologis
Gejala psikologi ini seperti rasa takut, cemas, firasat buruk, perasaan
akan bahaya, tidak mampu memusatkan perhatian, tidak berdaya, rendah diri,
kurang percaya diri, dan selalu ingin lari dari kenyataan. Selain itu, gejala
psikologis pada kecemasan meliputi perasaan mudah tersinggung, merasa
tegang, lesu, tidak bisa beristirahat dengan tenang, mudah terkejut, mudah
menangis, gemetar, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, murung, serta
perasaan berubah-ubah sepanjang hari (Hawari, 2006).
Berdasarkan uraian di atas, gejala kecemasan dalam penelitian ini
meliputi gejala fisik dan psikologis. Gejala fisik seperti berkeringat, tidur tidak
nyenyak, nyeri badan, jantung berdebar, pernapasan dan pencernaan terganggu,
kurang percaya diri, mudah tersinggung, dan perasaan-perasaan yang tak
menentu.