• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Uji Asumsi

1. Uji Normalitas

Uji normalitas menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov Z yang

bertujuan untuk melihat sebaran data terdistribusi normal atau tidak. Jika

p>0,05 maka dapat dikatakan data terdistribusi normal ( Priyatno, 2012). Hasil

uji normalitas pada skala kepuasan seksual adalah 0,713. Maka sebaran

kecemasan terhadap menopause adalah 0.137. Hal ini berarti sebaran

kecemasan terhadap menopause dapat dinyatakan terdistribusi normal.

Tabel 15

Uji normalitas kepuasan seksual dan kecemasan terhadap menopause

2. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan menggunakan Anova Test of Linierity untuk

melihat apakah kedua sampel berhubungan secara linear atau tidak. Hasil uji

dikatakan linear jika linearity p < 0.05. Berdasarkan hasil perhitungan maka

didapatkan p <0.05. Hal ini berarti hubungan variabel dapat diasumsikan linear.

Tabel 16

Uji Linearitas Variabel

ANOVA Table Sig. Ket

Kecemasan_menghadapi_menopause* Kepuasan_seksual Between Groups (Combined) .000 - Linearity .000 Linear Normality Tests Kolmogorov- Smirnov Z

Sig. Keterangan

Kepuasan Seksual .713 Normal

3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan setelah melakukan uji normalitas dan uji

linearitas. Penghitungan uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan korelasi

Product Momen Pearson dengan menggunakan program SPSS for Windows

versi 15

Hipotesis awal penelitian ini menyatakan bahwa ada korelasi negatif

antara kepuasan seksual dengan kecemasan terhadap menopause, dimana

semakin tinggi kepuasan seksual yang dialami individu maka semakin rendah

kecemasan terhadap menopause yang dirasakan, begitu pula sebaliknya.

Tabel 17

Hasil Analisis Korelasi

Correlations Kepuasan Seksual Kecemasan terhadap Menopause Kepuasan Seksual Pearson Correlation 1 -.457(**) Sig. (2-tailed) .000 N 90 90 Kecemasan Menghadapi Menopause Pearson Correlation -.457(**) 1 Sig. (2-tailed) .000 N 90 90

Berdasarkan hasil analisis, diperoleh koefisien korelasi antara kedua

variabel sebesar r= -0,457 dengan nilai p= 0,00 (signifikasi two-tailed) yang

berarti nilai p lebih kecil dari 0,05 (p<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa

terdapat hubungan negatif antara kepuasan seksual dan kecemasan terhadap

menopause. Hal ini berarti jika kepuasan seksual rendah maka subjek

mempunyai kecenderungan untuk memiliki kecemasan terhadap menopause

yang tinggi, begitu pula sebaliknya. Berdasarkan nilai r= -0,457 dapat diambil

kesimpulan bahwa tingkat korelasi dan kekuatan hubungan variabel berada

dalam tingkat korelasi cukup. Hasil r2 = 0.208 menunjukkan kontribusi

kepuasan seksual sebesar 20,8% terhadap kepuasan menghadapi menopause.

D. Pembahasan

Hasil uji hipotesis dengan menggunakan Product Momen Pearson

menunjukkan ada hubungan negatif yang signifikan antara kepuasan seksual dan

kecemasan terhadap menopause. Hal ini diketahui dari koefisien korelasi sebesar -

0,457 dengan signifikasi 0,000 (p<0,05). Semakin seseorang memiliki kepuasan

seksual tinggi maka kecemasan terhadap menopause yang dialami semakin rendah

dan bila seseorang memiliki kepuasan seksual yang rendah maka akan semakin tinggi

kecemasan terhadap menopause yang akan dialaminya.

Subjek dalam penelitian ini adalah wanita berusia antara 40-55 tahun. Subjek

dibagi menjadi dua kateristik usia. Hal ini berdasarkan menopause dialami di usia

tersebut wanita memasuki gejala awal menopause sampai berakhirnya menstruasi

yang terjadi di awal usia lima puluhan (Santrock, 2002).

Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata subjek memiliki tingkat kepuasan

seksual dalam kategori tinggi dan kecemasan dalam menghadapi menopause dalam

kategori sedang . Kepuasan seksual dalam kategori tinggi menunjukkan bahwa pada

masa menopause, wanita mampu terbuka, menjalin komunikasi yang baik dan

memiliki kedekatan emosional yang baik kepada pasangan terkait masalah yang

dialami saat menopause (Byers, 1999). Hal lainnya menunjukkan bahwa pada wanita

yang memasuki masa menopause memang mengalami kecemasan, namun tingkat

kecemasan dalam kategori sedang dan tidak tergolong tinggi. Hasil penelitian ini

menguatkan pendapat Kartono (2002) bahwa wanita yang menghadapi masa

menopause mengalami perubahan emosi dan hormonal yang menimbulkan

kecemasan diakibatkan menurunnya gairah seksual. Sehingga wanita merasa dirinya

tidak lagi bisa membahagiakan dan melayani suami dengan baik (Mc Carthy, 2006).

Secara umum, subjek dalam penelitian ini memiliki pendidikan yang tergolong

tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang dengan status pendidikan yang lebih

tinggi memiliki tingkat kepuasan seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan

seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah (Areton, 2000). Selain itu,

semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi daya serap terhadap informasi

sehingga informasi yang didapat dapat dipahami dengan baik (Notoatmodjo, 2003).

Wanita yang berpendidikan tinggi akan lebih cepat beradaptasi dengan kondisi

informasi, dan menghasilkan sikap yang positif dalam menghadapi suatu

permasalahan. Selain itu, pengetahuan yang luas dapat membentuk keyakinan dan

perasaan positif terhadap menopause serta pendidikan tinggi membuat individu

menjadi lebih kreatif (Suwarno, 2009). Hal ini juga dikuatkan pada hasil penelitian

Nurningsih (2012) yang menunjukkan wanita yang memiliki pengetahuan yang baik

menghasilkan sikap positif sehingga mengurangi keluhan saat menopause. Oleh

karena itu, status pendidikan yang tinggi dianggap memiliki pengetahuan yang lebih

dalam mengenai seksualitas dan pengetahuan menopause.

Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa secara umum subjek

berstatus menikah. Menurut Byers (1995), status hubungan pasangan menikah

dianggap mampu memuaskan pasangannya dalam hal seksualitas. Selain itu, hasil

penelitian ini menerangkan bahwa sebagian besar subjek memasuki tahap

pramenopause dan sisanya berada pada masa menopause. Hal ini menunjukkan

bahwa pada tahap pramenopause, wanita mengalami masa peralihan antara masa

reproduksi, sehingga wanita mulai mengingkari ketuaannya yang dapat menimbulkan

kecemasan. Selain itu, pada tahap menopause, wanita akan menghadapi fase paling

sulit terkait dengan perubahan hormon dan sejumlah gejala fisik dan psikis yang

menyebabkan menurunnya gairah seksual sehingga muncul rasa cemas (Kartono,

2002). Pada penelitian ini wanita yang menghadapi masa menopause mengalami

penurunan fungsi reproduksi yang disertai menurunnya fungsi seksual yang berkaitan

Pada masa menopause wanita akan mengalami perubahan hasrat seksual yang

dikarenakan munculnya gejala-gejala menopause seperti gejala fisik dan psikologis

yang membuat aktivitas seksual dirasa membutuhkan energi lebih. Masa menopause

juga membuat kecemasan pada wanita yang tidak siap menghadapinya. Hal yang juga

menyebabkan kecemasan adalah saat berakhirnya sifat kewanitaan yang berkaitan

dengan kepuasan seksual. Wanita pada masa menopause merasa cemas kehilangan

jati sebagai wanita yang tidak dapat produktif dalam reproduksi, kehilangan nafsu

dan kemampuan koitus, dan takut akan kehilangan rasa cinta sang suami. Menurut

Prawirohardjo (2009), wanita yang tidak siap dan tidak mampu menghadapi masa

menopause akan mengalami kecemasan yang dapat berakibat pada hubungan

seksualnya. Apabila tidak tercapainya keselarasan hubungan seksual maka akan

membuat salah satu pasangan atau keduanya merasakan ketidakpuasan seksual yang

berimbas pada tidak harmonisnya rumah tangga (Sadarjoen, 2005).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan seksual

berkorelasi dengan kecemasan terhadap menopause. Pada penelitian ini, semakin

rendah kepuasan seksual yang dialami maka semakin tinggi kecemasan dalam

menghadapi masa menopause. Sebaliknya semakin tinggi kepuasan seksual yang

dialami pada masa menopause maka semakin rendah kecemasan terhadap masa

67

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa hipotesis peneliti

diterima. Artinya, ada korelasi negatif antara kepuasan seksual dan kecemasan

terhadap masa menopause dengan koefisien r= -0.457, p=0.000 yang berarti p<0.05.

Semakin tinggi kepuasan seksual yang didapat maka semakin rendah kecemasan dalam

menghadapi masa menopause yang dirasakan dan semakin rendah kepuasan seksual

yang di dapat maka semakin tinggi pula kecemasan terhadap masa menopause yang di

alami.

B. Saran

1. Bagi wanita yang sedang memasuki masa menopause, baik itu pramenopause

maupun menopause dengan mengetahui kecemasan dan kepuasan seksual mereka.

Kranya perlu memaksimalkan potensi yang ada pada diri, agar lebih percaya diri,

mampu terbuka, dan memiliki kedekatan emosional yang baik dengan pasangan,

karena selain dapat meningkatkan kualitas diri, hal ini dapat pula mengurangi

kecemasan sehingga dapat memberikan kepuasan seksual dan terciptanya

2. Bagi para wanita dewasa tengah yang akan memasuki masa pramenopause dan

menopause, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi untuk mereka agar

para wanita sedini mungkin mempersiapkan diri dengan mencari informasi

berkaitan dengan menopause sehingga dapat menurunkan kecemasan dalam

menghadapi masa menopause.

3. Bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan hasil penelitian ini dengan lebih

mendalam menggunakan metode penelitian kualitatif mengenai kepuasan seksual.

Selain itu, peneliti yang akan meneliti tentang kepuasan seksual agar

memperhatikan pendekatan dan rapport yang baik agar subjek lebih terbuka. Hal

ini dikarenakan seksualitas merupakan hal yang sensitif dan sebagian orang masih

mengganggap seksualitas sebagai hal yang tabu dan sangat privacy.

4. Bagi peneliti agar dapat mencari variabel lainnya yang dapat menurunkan

kecemasan terhadap menopause seperti pengetahuan tentang menopause karena

peneliti merasa pengetahuan seseorang tentang menopause perlu untuk kesiapan

memasuki masa menopause sehingga dapat mengurangi kecemasan terhadap

menopause.

C. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan pada penelitian ini yaitu sistem pengacakan aitem yang kurang

tepat sehingga setelah seleksi aitem banyak aitem yang gugur. Peneliti selanjutnya

69

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, 2014. Wanita Berselingkuh Bukan karena Ingin Cerai Melainkan. Kompas. Com. Di unduh 8 Maret 2015 pukul 19.57 WIB.

Aprillia, Isyana. N. 2007. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan Pada Wanita Perimenopause. The Indonesian Journal of Public Health. Vol. 4. No.1. Hal 35-42

Atkinson, R.I, Atkinson, R.C., & Hilgard, E.R. 1991. Pengantar Psikologi. Jakarta : Erlangga

Areton, L.W. 2002. Factors in the sexual satisfaction of obese women in relationships.

Electronic Journal of Human Sexuality, Vol 5, Jan. 15

Azwar, Saifuddin. 2010. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, Saifuddin. 2012. Penyusunan Skala Psikologi, Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Azwar, Saifuddin. 2011. Reliabilitas dan Validitas, Edisi 3. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Badan Pusat Statistik. 2012. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta : Kementerian PPN/ Bappenas. UNFPA.

Barrienttos, J. E., & Paez, D. 2006. Psychological variabels of sexual satisfaction in chile. Journal of sec & marital therapy, 32: 351-368. DOI: 10.1080/00926230600834695

Baziad, A. 2003. Endokrinologi Ginekologi. Jakarta : Media Aesculapis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Baziad, Ali. 2009. World Menopause Day 2009 : Terapi Hormon Ringankan Gejala Menopause. Bisnisnews.com. Di unduh tanggal 15 April 2015 pukul 21.25 WIB.

Butzer, B., & Campbell, L. 2008. Adult attachment, sexual satisfaction, and relationship satisfaction : a study of married couples. Personal relationships, 15 : 141-154

Byers, E.A & Demmons. S. 1999. Sexual Satisfaction and Sexual Self- Disclosure Within Dating Relationship. The Journal of sex research. Vol 36. No. 2. h180-189

Cheung, M. W. K., Wong, P.W.C., Liu, K. Y., Yip, P.S.F., Fan, S. Y.S., Lam, T. H. 2008. A study of sexual satisfaction and frequency of sex among hongkong Chinese people. Journal of sex research, 45(2), 129-139.

Dahlan, A. 1978. Wanita antara Menarche dan Menopause. Jakarta : PT. Pustaka Antara

DailyNews. 2013. Women most likely to have affairs, study reveals. Diunduh 2 Mei 2015 pukul 19.39 WIB

Davidson, K. D., Darling, C. A., & Norton, L. 1995. Religiosity and the sexuality of women: Sexual behavior and sexual satisfaction revisited. The Journal of Sex Research, 32(3), 235-243.

Daradjat, Z. 1990. Kesehatan Mental. Jakarta : PT Gunung Agung

Departemen Kesehatan RI. 2005. Terjadi Pergeseran Umur. Jakarta: Depkes

DetikNews, 2012. Waspada Usia 40 Tahun Rentan Selingkuh. Diunduh 2 Mei 2015 pukul 20.08 WIB

Dolinska-Zygmunt, G., & Nomejko, A. 2011. Sexual satisfaction’s contribution to a sense of quality of life in early adulthood. Polish Journal of Applied Psychology. 9(1), 65-73

Feist & Feist. 2010. Teori Kepribadian. Edisi 7 Buku1. Jakarta : Salemba Humanika. Greendale, G. A., Lee, N. P., & Arriola, E.R. 1999. The Menopause. The Lancet. Vol.

353, 571-580.

Hawari, D. 2006. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta :BP FKUI

Hurlock, E. B. 1990. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendeketan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga

Holt, A., & Lyness, K. P. 2007. Body image and sexual satisfaction: implications for couple therapy. Journal of couple & relationship therapy, Vol. 6(3).

Irawan, Ikrob Didik. 2010. Keterbukaan di Ranjang Kunci Kebahagian keluarga. Joglosemar. Di unduh 23 Mei 2015 pukul 20.41 WIB.

Kanedi, M & Sutyarso. 2014. Effects of sexual dysfunction on female teachers performance. American Journal of Public Health Research. 2(6), pp 244- 247. DOI : 10.12691/ajphr-2-6-5.

Kartono, K. 2002. Psikologi Wanita. Jilid 2. Wanita sebagai Ibu dan Nenek. Bandung: Penerbit Alumni.

Kasdu, D. 2002. Kiat sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Puspa Swara : Jakarta. Khotari, P. 2001. Common Sexual Problems and Solution. Jakarta : PT Gramedia

Pustaka Utama.

Kuntjoro, Z.S. 2002. Menopause Kategori Lanjut Usia. E-Psikologi. Diunduh 8 Maret 2015 pukul 20.32 WIB.

Kurniati & Rostiana. 2009. Kecemasan Wanita Menghadapi Menopause. Jurnal Psikologi. Vol. 3. No. 1.

Kusumadewi. 1998. Hubungan antara Kesulitan Makan pada Anak Usia Prasekolah dengan Kecemasan Ibu di Posyandu. Jiwa, Indonesia Psychiatry Quarter.

Vol. XXXI. No.4, Hal. 309-320.

Kusumawardani, Devina. 2007. Kecemasan pada Wanita Menopause Ditinjau dari Dukungan Sosial Suami. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Semarang : Universitas Katolik Soegijapranata.

Litzinger, S., & Gordon, K.C. 2005. Exploring relationships among communication sexual satisfaction, and marital satisfaction. Journal of sex & marital therapy. 31: 409-424. DOI : 10.1080/00926230591006719

Mappiare, A. 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya : Usaha Nasional

Maspaitella,M.L. 2006. Mengatasi Gangguan Emosional Pada Wanita Menopause. Jakarta : PERMI

Melaniani, Sunarnatalina. 2007. Faktor yang mempengaruhi Aktivitas Seksual pada Wanita Permenopause Studi di Kelurahan Renon Kecematan Denpasar Selatan. The Indonesian Journal of Public Health. Vol. 3. No. 3. Hal 87-93. McCarthy, T. 2006. The Prevalence of symptoms in menopausal women in the Far

East.: Singapore Segment. Maturitas.Vol 19. No 191-197.

Murdi, D. 2013. Antara Seks dan Kejujuran. Kompas.com. Diunduh 24 April 2015 pukul 20.46 WIB.

Notoadmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nugraha, B.D. 2004. Seks Kunci Keharmonisan Keluarga. Pdpersi.co.id. Diunduh 9

Mei 2015 pukul 16.46 WIB.

Nurningsih, 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan Menopase dengan Keluhan Wanita Saat Menopause di Kelurahan Cijantung Kecematan Pasar Rebo Jakarta Timur. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Jakarta : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Nusya, Z. S. 2003. Hubungan Antara Kepuasan Perkawinan dengan Intensi Melakukan Selingkuh pada Suami. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia

Offman, A., & Mattheson, K. 2005. Sexual Compatibility and sexual functioning in intimate relationships. The Canadian journal of human sexuality, 14, 31-39 Pakasi, S. L. 2002. Menopause : Masalah dan Penanggulangannya. Jakarta : Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia

Palupi, Puspita. 2010. Pengalaman Seksualitas Perempuan Menopause di Wilayah Kerja Puskesmas Kecematan Pasar Rebo Jakarta Timur. Tesis. Tidak Diterbitkan. Depok: Universitas Indonesia.

Papalia, D. E., Olds, S. & W. Feldman D. R. 2008. Human Development : Psikologi Perkembangan Edisi ke 9. Jakarta : Kencana.

Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Priyatno, D. 2012. Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 20. Yogyakarta : Penerbit Andi

Poerwandari, K. E. 2009. Pendekatan Kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Rachmawati, evi. 2006. Menopause Siapa Takut. Kesehatan.com. Di unduh 8 Maret 2015.

Renaud, C., Byers, E.S. Pan, S. 1997. Sexual and Relationship Satisfaction in Mainland China. The Journal of Sex Research. Vol. 34. No. 4. H399-410

Rini, Kartika & Retnaningsih. 2008. Keterbukaan diri. Jurnal Psikologi. Vol 1. No.2 Rosen, RC., & Bachmann, G.A. 2008. Sexual well being, happiness, and satisfaction

in women : the case for a new conseptual paradigm. Journal of sex and marital therapy, 34: 291-197. DOI : 10.1080/00926230802096234

Sadardjoen, S.S. 2005. Konflik Marital Pemahaman, Konseptual, Aktual & Alternative Solusinya. Bandung : Refika Aditama

Santrock. J. W. 2002. Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Sari, Novika. 2006. Hubungan antara Kepuasan Seksual Terhadap Perselingkuhan pada Pasangan Suami-Isteri. Skripsi. Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia

Smart, A. 2010. Bahagia di Usia Menopause. Yogyakarta: A+ Plus Books.

Spencer A. Rathus, Jeffrey S, Nevid, Lois Fichner Rathus. 2008. Human Sexuality in World of Diversity. Boston : Pearson Education, Inc

Spencer, C. P., Godsland, I. F., Stevenson, J.C. 1991. Is there a menopausal metabolic syndrome?. Journal of Gynaecol Endocrinol. Vol. 11: p. 341-355.

Sprecher, S., & McKinney, K. 1993. Sexuality. United State of America: Sage Publications.

Stuart, G. W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Stuart, G. W. & Laraia, M.T. 2001. Prinsip dan Praktik Keperawatan Psikiatrik. Jakarta : EGC

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R n D. Bandung : Penerbit Alfabeta

Sulianti, A. 2007. Buka Tabir Permasalahan Hubungan Intim pada Wanita Menopause. Skripsi. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Suwarno, W. 2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media. Takdare, M.S.A. 2009. Hubungan antara Dukungan Sosial Suami terhadap Tingkat

Kecemasan Isteri dalam Menghadapi Masa Menopause. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

Thallis, F. 1992. Mengatasi Rasa Cemas. Jakarta : Arca.

Walgito, B. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset.

Zasri, Y. Y. 2012. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Kecemasan terhadap Menopause pada Ibu Usia 45-50 tahun Di Kemukiman Bebesen Kecematan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah Tahun 2012. Fakultas Kebidanan.

STIKES U’Budiyah Banda Aceh.

75

LAMPIRAN I

Dokumen terkait