• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.2 Identifikasi Masalah

2.1.4 Kecerdasan Emosional

2.1.4.1Pengertian Kecerdasan

Menurut Howaard Gardner, kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan atau menciptakan sesuatu yang bernilai bagi budaya tertentu. Sedangkaan Alfred Binet dan Yheodore Simon mengemukakan kecerdasan terdiri dari tiga komponen: (1) kemampuan mengarahkan pikiran dan atau tindakan, (2) kemampuan mengubah arah tindakan jika tindakan tersebut telah dilakukan, dan (3) kemampuan mengkritik diri sendiri. Buzan mendefinisikan kecerdasan pribadi itu menyangkut pengetahuan dan pemenuhan diri, terutama tentang pemahaman

diri sendiri tentang model atau peta mental diri yang baik dan jujur, dan mampu belajar dari pengetahuan tersebut (Efendi 2005: 83).

Definisi kecerdasan lain dikemukakan oleh Piaget yang mengatakan bahwa “Intelligence is what you use when you don’t know what to do”. Yang artinya kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan.

Sedangkan D. Wechsler dalam Soeparwoto (2007: 83) mengartikan bahwa intelegensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak terarah atau bertujuan, berpikir secara rasional, serta dapat menghadapi lingkungannya dengan efektif.

Menurut Sternberg dalam Efendi (2005: 86) menjelaskan kecerdasan sebagai serangkaian keterampilan berfikir dan belajar yang digunakan dalam memecahkan masalah akademis dan sehari-hari, yang secara terpisah dapat di diagnosa dan diajarkan.

Dari urain diatas, dapat disimpulkan kecerdasan merupakan serangkaian kemampuan yang dimiliki seseorang dalam berpikir, bertindak dan dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

2.1.4.2Pengertian Emosi

Para psikolog menyebutkan bahwa emosi merupakan salah satu dari trilogi mental (kognisi, emosi, dan motivasi). Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalam “e” untuk memberi arti “bergerak menjauh”. Artinya bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal yang mutlak dalam emosi (Efendi 2005:176).

Oxfort English Dictionary mendefinisikan emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Menurut Goleman (2005: 411) menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Ada ratusan emosi, bersama dengan campuran perasaan, variasi, mutasi, dan nuansanya.

Menurut Chaplin dalam Safaria dan Saputra (2012: 12), emosi didefinisikan sebagai suatu keadaan terangsang dari organisme, mencakup pengalaman yang disadari yang bersifat mendalam, dan memungkinkan terjadinya perubahan perilaku. Sedangkan menurut James dalam Safaria dan Saputra (2012: 11) emosi adalah keadaan jiwa yang menampakkan diri dengan sesuatu perubahan yang jelas pada tubuh.

Definisi lain menurut Poerbakawatja dalam Rifa’i dan Chatharina (2011: 51), menyebutkan bahwa emosi adalah suatu respon (reaksi) terhadap suatu perangsang yang dapat menyebabkan perubahan fisiologis, disertai dengan perasaan yang kuat, biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus.

Emosi berhubungan dengan motif. Emosi dapat berfungsi sebagai motif yang dapat memotivasi atau menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar individu dapat berbuat atau bertingkahlaku. Tingkah laku yang ditimbulkan emosi tersebut bisa bersifat positif maupun negatif. Misalnya timbul rasa simpati, terharu terhadap korban bencana alam ataupun timbulnya rasa marah, jengkel saat grup sepakbola yang diidolakan kalah dalam pertandingan.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan suatu respon yang kuat dari luar, perasaan dan pikran-pikiran khasnya, suatu keadaan

biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan yang perubahannya tampak jelas pada tubuh, biasanya keadaan seperti ini dapat merangsang keadaan mental yang kuat dan meluap-luap.

Safaria dan Saputra (2012: 16-7) menjelaskan bahwa emosi mempunyai keunggulan, di antaranya sebagai berikut:

1) Emosi adalah bentuk komunikasi yang dapat memengaruhi orang lain. Guratan ekspresi yang terlihat pada raut muka seseorang adalah bagian dari emosi. Sejak dahulu sampai sekarang guratan ekspresi merupakan bentuk komunikasi seperti kata-kata, bahkan lebih cepat dari kata-kata.

2) Emosi dapat mengorganisasi dan memotivasi tindakan.Emosi secara teoritis dapat memotivasi perilaku. Pada situasi tertentu, emosi dapat bereaksi mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi situasi tersebut. Emosi akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk melewati rintangan yang ada dalam pikiran kita.

2.1.4.3Golongan Emosi

Goleman (2005: 411-2) mengelompokkan emosi dalam golongan- golongan besar, yaitu sebagai berikut:

1) Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, dan barangkali yang paling hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis.

2) Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis, depresi berat.

3) Rasa takut: cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri, takut sekali, kecut sebagai patologi, fobia dan panik.

4) Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, dan batas ujungnya mania. 5) Cinta: penerimaan, persahabatan kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti,

hormat, kasmaran, kasih.

6) Terkejut: terkejut, terkesiap, takjub, terpana.

7) Jengkel: hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.

8) Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. Adapun menurut Paul Ekmal dan Seymour dalam Goleman (2005: 414- 21) beberapa ciri pikiran emosional sebagai berikut:

Pertama, respon yang cepat tetapi ceroboh. Pikiran emosional (emotional mind) jauh lebih cepat dari pikiran rasional (rational mind). Keunggulan pikiran emosional adalah dapat membaca realitas emosi dalam sekejap. Pikiran emosional juga dapat membuat penilaian singkat secara naluriah, sehingga bisa menunjukkan apa yang perlu dicurigai, siapa yang harus dipercaya, siapa yang menderita. Dengan demikian, pikiran emosional dapat menjadi radar terhadap bahaya.

Kedua, perasaan dan pikiran. Emosi itu mendahului pikiran. Reaksi emosional gerak cepat lebih menonjol dalam situasi-situasi mendesak yang mendahulukan tindakan penyelamatan diri. Keputusan ini, menyiapkan kita dalam sekejap untuk siap siaga mengahadapi keadaan darurat. Perasaan-perasaan kita

yang paling dasyat merupakan reaksi-reaksi diluar kehendak, kita tidak dapat memutuskan kapan perasaan itu akan muncul seperti cinta, amarah dan takut.

Ketiga, realisasi simbolik. Logika emosional itu bersifat asosiatif. Menganggap bahwa unsur-unsur yang melambangkan suatu realitas, atau memicu kenangan terhadap realitas itu, merupakan hal yang sama dengan realitas tersebut. Ada banyak segi dimana akal emosional mirip perilaku kanak-kanak, semakin mirip kanak-kanak semakin kuatlah tumbuhnya emosi tersebut. Cara mirip kanak- kanak ini bersifat menegaskan diri sendiri, dengan menekan atau mengabaikan ingatan atau fakta yang akan menggoyahkan keyakinan dan memanfaatkan ingatan serta fakta yang mendukung.

Keempat, memposisikan masa lampau sebagai masa sekarang. Akal emosional bereaksi terhadap keadaan sekarang seolah-olah keadaan itu adalah masa lampau.

Kelima, realitas yang ditentukan oleh keadaan. Bekerjanya akal pikiran sebagian besar ditentukan oleh keadaan. Bagaimana orang bertindak pada saat romantis, bagaimana berperilaku jika kita sedang marah atau ditolak.

2.1.4.4Pengertian Kecerdasan Emosional

Menurut Salovey dan Mayer dalam Soeparwoto (2007: 101) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.

Cooper dan Sawaf dalam Efendi (2005: 172) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai berikut “Emotional Intelligence is the ability to sense,

understand, and effectively apply the power and acumen of emotions as a source

of human energy information, connection, and influence”.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif mengaplikasikan kekuatan serta kecerdasan emosi sebagai sebuah sumber energi manusia, informasi, hubungan, dan pengaruh.

Sedangkan menurut Goleman (2005: 45) kecerdasan emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan mengahadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan kecerdasan emosional adalah (a) kemampuan memahami, mengenali, merasakan, mengelola, dan memimpin perasaan diri sendiri dan orang lain, (b) kemampuan dalam memahami, mengenali, meningkatkan, mengelola, dan memimpin motivasi diri sendiri dan orang lain untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan yang dikehendaki.

Dokumen terkait