B. Pengaruh Konsentrasi kapang Trichoderma reesei dan
3. Kecernaan Mannan
Pengukuran hasil degradasi mannan dilakukan untuk melihat sampai sejauh mana proses fermentasi dapat menurunkan kandungan mannan BIS.
76 Demikian pula halnya dengan kecernaan BIS maupun BISF pada ayam pedaging. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah ada perbedaan kecernaan atau tidak, antara BIS dengan BISF. Hasil degradasi mannan pada BIS dan BISF disajikan pada Tabel 28.
Tabel 28 Degradasi dan kecernaan mannan pada BIS dan BISF
No Uraian Perubahan kandungan mannan
(ppm) (%)
1 Degradasi mannan pada fermentasi 703.16 45.83
2 Kecernaan mannan BIS 127.68 8.33
3 Kecernaan mannan BISF 255.36 30.68
Berdasarkan data pada Tabel 28 terlihat bahwa kandungan hasil degradasi mannan BIS pada proses fermentasi adalah 703.16 ppm atau terjadi penurunan kandungan mannan BIS sebanyak 45.83%. Proses penurunan ini disebabkan terdegradasinya komponen polisakarida mannan oleh kapang Trichoderma reesei menjadi komponen oligosakarida yang lebih sederhana. Hal ini sesuai dengan pendapat Sabini et al. (2000) yang menggunakan kapang Trichoderma reesei untuk mendegradasi mannan ternyata bahwa mannan yang belum terdegradasi memiliki bentuk morphologi platelet dengan kontur yang jelas, dimana crystal masing-masing individu memiliki rata-rata diagonal terpanjang 0.8 µm dan bagian yang terpendek 0.4 μm. Setelah terdegradasi kontur permukaan tidak jelas namun masih memperlihatkan bentuk yang memanjang. Nattorp et al. (1999) melakukan pengukuran mannan yang terdegradasi dengan memberikan perlakuan suhu (160-220 oC) pada mannan dalam larutan. Parameter yang diukur cukup detail meliputi derajat polimerisasi terhadap 6 atom karbon. Selanjutnya dibuat persamaan matematis yang meliputi dua tahap, pertama hidrolisis secara acak pada ikatan-ikatan glikosidik, kedua degradasi dan pengurangan pada molekul yang masing-masing membutuhkan energi aktivasi 5 460 kal/mol dan 4 407 kal/mol.
Kecernaan mannan BIS pada ayam pedaging cukup rendah yakni mencapai 8.33%. Hal ini berarti bahwa ayam pedaging tidak cukup mampu untuk mendegradasi mannan pada BIS sehingga penggunaan BIS pada ayam pedaging ini jumlahnya sedikit karena keterbatasan nilai kecernaan mannan nya. Lebih jauh, unggas memiliki keterbatasan karena tidak mempunyai enzim yang mampu menghidrolisis polisakarida mannan dalam saluran pencernaannya.
Proses fermentasi BIS dengan kapang Trichoderma reesei ternyata mampu meningkatkan nilai kecernaan mannan nya. Hal ini terlihat dengan nilai kecernaan mannan BISF yang mencapai 30.68%. Meskipun tidak terlampau tinggi, akan tetapi jauh lebih baik apabila kita bandingkan dengan nilai kecernaan mannan dari BIS yang tidak difermentasi. Peningkatan nilai kecernaan mannan ini bukan disebabkan ayam mampu mencerna polisakarida mannan dalam tubuhnya, akan tetapi perlakuan selama proses fermentasi yang membuat nilai ketersediaan karbohidrat yang lebih baik. Hal ini bisa dilihat dari nilai total gula terlarut dan nilai energi metabolisme sejati (TME) yang meningkat akibat proses hidrolisis pada mannan BIS terjadi dengan baik. Kecernaan mannnan yang meningkat menyebabkan ketersediaan biologis yang meningkat.
4. Energi Metabolisme Sejati
Faktor yang mempengaruhi kandungan energi metabolisme suatu pakan adalah kandungan pati, serat kasar, lemak dan protein. Selain dari bahan makanan yang banyak mengandung vitamin B kompleks, kandungan energi metabolismenya akan meningkat karena vitamin B terlibat dalam proses metabolisme energi (Amrullah 2003).
Nilai rataan beberapa peubah dalam pengukuran energi metabolisme disajikan pada Tabel 29.
Tabel 29 Nilai rataan beberapa peubah dalam pengukuran energi metabolisme Jenis sampel
Peubah yang
dihitung BIS BISF
Energi bruto pakan (kkal/kg) 3 968 ± 145.60 b 4 100 ± 201.80 a Berat ekskreta (g) 22.77 ± 2.29 a 23.11 ± 2.52 a Energi bruto ekskreta (kkal/kg) 3 433 ± 285.60 a 3 436 ± 72.20 a Energi metabolisme semu
(kkal/kg)
1 730.65 ± 331.91 b 1 836.96 ± 201.30 a Energi metabolisme semu
terkoreksi nitrogen (kkal/kg)
3 117.87 ± 148.21 b 3 276.29 ± 144.80 a Energi metabolisme sejati
(kkal/kg)
1 824.13 ± 205.81 b 1 930.44 ± 43.10 a Energi metabolisme sejati
terkoreksi nitrogen (kkal/kg)
1 816.72 ± 208.27 b 1 924.69 ± 40.90 a
Tabel 29 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kandungan energi bruto pakan BISF nyata lebih tinggi (p<0.05) dari energi bruto BIS. Demikian pula halnya kandungan energi metabolisme semu, energi metabolisme semu terkoreksi N dan energi metabolisme sejati, baik yang terkoreksi N maupun
78 tidak, ternyata pada BISF lebih tinggi bila dibandingkan dengan BIS. Hal ini membuktikan bahwa dengan fermentasi menggunakan kapang Trichoderma reesei mampu meningkatkan kandungan energi metabolisme semu maupun energi metabolisme sejati. Berdasarkan hasil penelitian Chong et al. (1998) kandungan TME pada BIS yang diperoleh dengan screw pressed adalah 2 900 Kkal/kg, sedangkan yang BIS diperoleh dengan solvent extracted adalah 2 874 Kkal/kg. Terdapat hubungan yang positif antara kandungan energi metabolisme sejati dengan total gula terlarut. Semakin tinggi kandungan TME suatu bahan pakan, maka kandungan total gula terlarutnya pun tinggi.
5. Retensi Nitrogen Semu
Berdasarkan hasil uji t test, ternyata protein kasar feses pada ayam yang diberi BISF (33.67%) lebih tinggi dibanding BIS (28.54%), demikian pula halnya dengan konsumsi protein ayam yang diberi BISF (11.79 g) lebih tinggi dari ayam yang diberi BIS (9.99 g). Namun ekskresi protein terkoreksi, retensi protein terkoreksi, pada ayam yang diberi BISF jauh lebih tinggi dibanding dengan ayam yang diberi BIS sehingga mempengaruhi terhadap retensi nitrogen semu, yaitu pada ayam yang diberi bahan pakan BISF memberikan nilai retensi nitrogen semu yang lebih rendah dibanding ayam yang diberi BIS. Secara lengkap data retensi nitrogen dan peubah yang mendukung lainnya disajikan pada Tabel 30.
Tabel 30 Nilai rataan beberapa peubah dalam retensi nitrogen semu Perlakuan
Peubah yang
dihitung BIS BISF
Protein kasar feses (%) 28.54 ± 0.06 a 33.67 ± 0.01 b
Konsumsi protein (g) 9.99 ± 2.16 b 11.79 ± 0.47 a
Ekskresi protein endogenus (g/ekor) 2.42 ± 0.17 a 2.42 ± 0.17 a Ekskresi protein terkoreksi (g/ekor) 4.45 ± 0.85 a 5.85 ± 1.08 a Retensi protein terkoreksi (g/ekor) 7.96 ± 0.35 a 8.36 ± 0.08 a
Konsumsi nitrogen (g) 1.60 ± 0.14 a 1.89 ± 0.17 a
Ekskresi nitrogen endogenus (g) 0.39 ± 0.35 a 0.39 ± 0.35 a
Ekskresi nitrogen (g) 1.10 ± 0.12 a 1.32 ± 0.23 a
Retensi nitrogen semu (%) 55.63 ± 6.35 a 50.79 ± 7.42 b
Menurunnya nilai retensi nitrogen mengindikasikan semakin banyak nitrogen yang tertahan di dalam tubuh ayam atau banyaknya nitrogen endogenous yang terbuang lewat ekskreta. Diduga bahwa meskipun BISF tinggi protein kasarnya namun sulit dicerna karena protein kapang tinggi nukleotidnya.
Selain dari itu pada proses fermentasi digunakan larutan nutrien untuk pertumbuhan kapang. Salah satunya adalah NH4NO3 sebanyak 0.5%. Diduga bahwa NH4NO3 yang diberikan dalam bentuk larutan tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan oleh kapang Trichoderma reesei sehingga terdapat residu NH4NO3 yang pada analisa proksimat termasuk kedalam protein kasar padahal sebetulnya adalah non protein nitrogen (NPN). Hal ini terlihat dari nilai retensi nitrogen yang lebih rendah, karena memang ayam pedaging tidak dapat memanfaatkan NPN.
Penelitian Tahap IV : Pengaruh Tingkat BIS dan BISF dalam Ransum terhadap Penampilan Ayam Pedaging
Penelitian ini dimulai pada umur ayam 7 hari. Selama 1 minggu pertama dilakukan masa adaptasi dengan menggunakan ransum komersial dan secara bertahap dilakukan pencampuran dengan ransum penelitian, yang sesuai perlakuan mulai dari 25% : 75%, 50% : 50% dan 75% : 25%. Adapun ransum komersial yang diberikan adalah ransum Superfeed kode MR-1 berbentuk crumble yang diproduksi oleh PT. Cheil Jedang Superfeed, Serang Banten. Adapun komposisi ransum starter sebagai berikut : kadar air 12%, protein kasar 22%, lemak kasar 6%, serat kasar 4%, abu 6.5%, calsium 0.9 -1.2%, phosfor 0.7-0.9%.