• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. HIDUP SANTO FRANSISKUS ASSISI DAN SEMANGAT

D. Kedinaan Santo Fransiskus dan Saudaranya, serta Allah Yang

1. Kedinaan Santo Fransiskus dan Para Saudaranya

Tuhan sendiri telah menjadi hina dina, maka Fransiskus merasa bahwa dia harus juga menjadi dina. Karena Tuhan sendiri telah merendah dan merunduk, maka tidak ada lagi alasan bagi Fransiskus untuk tidak merendah dan merunduk seperti Tuhan. Hidup Kristus yang dihayatinya membawa perubahan besar bagi diri Fransiskus. Dia menjadi dina dan bebas bagi semua mahluk dan sesama. Ini jualah yang diungkapkan dalam penghayatannya.

Kepada para pengikutnya, Fransiskus sangat tegas menekankan sikap rendah hati ini. Ini dengan jelas dikatakan dalam Surat kepada seluruh Ordo artikel (untuk selanjutnya disingkat dengan SurOr) 28: Saudara-saudara, pandanglah perendahan diri Allah itu dan curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; rendahkanlah dirimu, agar kamu ditinggikan oleh-Nya (SurOr 28). Jadi, alasan utama Fransiskus memilih kemiskinan dan kedinaan adalah Tuhan sendiri. Dalam

Anggaran Dasarnya ia mengatakan bahwa Tuhan sendiri telah membuat diri-Nya menjadi miskin di dunia ini bagi kita. Melihat, menyadari, mengagumi dan mengalami kerendahan Tuhan itu merupakan, bagi Fransiskus, suatu penemuan harta karun yang sangat berharga. Dan setelah ditemukan, maka ia ingin memilikinya, dan untuk itu perlu merendahkan diri dan melepaskan segalanya.

a. Kedinaan Santo Fransiskus

Santo Fransiskus telah menggali dan menemukan kerendahan dan kedinaan. Karena itulah ia menyebut dirinya sebagai hamba yang kecil. Hamba dan bawahan, hamba semua orang, hamba yang kecil dan ternista dalam Tuhan Allah, orang yang hina dan rapuh, hamba yang kecil, dan makhluk Tuhan yang tak pantas, orang yang paling kecil dari antara para hamba Allah.

Fransiskus memilih kemiskinan dan kedinaan karena Tuhan sendiri telah ‘merendah’ dan ‘merunduk’. Fransiskus berkata: “Tuhan sendiri telah membuat diri-Nya menjadi miskin di dunia ini bagi kita” (AngBul VI, 3). “Saudara-saudara, pandanglah perendahan diri Allah itu dan curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; rendahkanlah dirimu juga, agar kamu ditinggikan oleh-Nya” (SurOr 28). Kristus Yesus yang berwujud Allah tidak mau berpegang teguh pada kemuliaan-Nya yang setara dengan Allah. Ia menghampakan diri dengan mengambil keadaan hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Flp 2:6-7).

Fransiskus merasa wajib untuk melayani semua orang, menaati mereka, berada di bawah kaki orang lain, mencuci dan mencium kaki para saudara. Agar tetap sadar akan dan melaksanakan kerendahan ini, Fransiskus selalu ingat akan

dirinya sebagai orang lemah dan pendosa. Ia tidak lupa akan hal itu agar ia tidak menjadi sombong. Seperti Rasul Paulus, Fransiskus hanya dapat berbangga atas kelemahannya. Untuk mempertahankan kerendahan inilah maka Fransiskus dulu tidak mau ditahbiskan menjadi imam, ia mau tetap tinggal sebagai diakon. Juga karena alasan itulah maka Fransiskus dulu melarang saudaranya menceriterakan kemartiran saudara yang pertama, agar jangan dengan itu mereka mencari pujian dan kemuliaan.

Dalam doa di depan Salib, Fransiskus memohonkan kerendahan yang mendalam. Ia mau memusatkan perhatian pada kerendahan itu dan tidak mau memikirkan yang lain. Kerendahan kelahiran Yesus dan kasih penderitaan-Nya selalu hadir dalam benaknya. Setiap hari ia mengingat dan merenungkan kerendahan Putra Allah itu serta contoh-contoh kerendahan itu dan dari situ ia menemukan kelembutan, kemurahhatian Kristus, kemanisan dan penghiburan. Kerendahan itu adalah jalan injili yang disingkapkan oleh Allah sendiri kepada Fransiskus, si Miskin itu. Dalam Wasiatnya, ia mengakui bahwa Yang Mahatinggi sendirilah yang mendorong dia untuk merendah dan merunduk untuk menemui dan mencium orang kusta.

Kedinaan, tidak menginginkan kuasa, melainkan menempatkan diri di bawah semua orang, sering dikaitkan oleh Fransiskus dengan sikap rendah hati. Tentang kerendahan hati dikatakan berazaskan kebenaran, para saudara melihat yang baik dan yang buruk ada dalam diri secara objektif, tepat sebagaimana Allah melihat. Sebab, seperti apa nilai seseorang di hadapan Allah, begitulah nilai orang itu dan tidak lebih” (Pth 19). Saudara membawakan dirinya sebagaimana adanya

(Pth 23); “nilai manusia itu hanyalah sekadar nilainya di hadapan Allah, dan tidak lebih dari itu” (St. Bonaventura, Riwayat Hidup Fransiskus: Kisah Besar, VI:1). Seperti Fransiskus, saudara merasa sedih bila ia melihat dirinya dihormati sebagai orang kudus (Cermin Kesempurnaan 45).

Saudara ingin menerima koreksi dari para saudara dan bersedia membuka diri kepada mereka seraya memahami kelemahan masing-masing. Ini didorong oleh cinta akan kebenaran: “Berbahagialah hamba, yang menerima peringatan, tuduhan dan teguran, yang disampaikan orang lain, dengan begitu sabarnya seperti kalau dari dirinya sendiri datangnya. Berbahagialah hamba, yang menerima dengan rela bila ditegur, menurut dengan hormat, mengakui kesalahan dengan rendah hati, dan mengadakan pemulihan dengan senang hati” (Pth 22:1-2). Fransiskus mengajarkan: “Kita tidak pernah boleh ingin berada di atas orang lain, tetapi sebaliknya kita harus menjadi hamba dan bawahan semua orang karena Allah” (2SurBerim 47).

b. Kedinaan para Saudaranya

Kerendahan yang diterima dari Tuhan sendiri, di situlah Santo Fransiskus mendirikan ordonya. Kerendahan itu menjadi batu padas di mana Santo Fransiskus membangun persaudaraannya. Kerendahan adalah dasar di mana Santo Fransiskus membangun Ordonya. Santo Fransiskus, begitu gigih mengikuti kerendahan Tuhan, begitu ter-resapi oleh kerendahan itu sendiri. Kerendahan itu telah menyebar, menjalar dan menjangkiti seluruh sisi hidupnya: dalam berpakaian, dalam kata dan bahasa, dalam tubuh, dalam setiap langkah, dalam

setiap aksi, di mata, di telinga, dalam pikiran, atau seluruh dirinya telah diresapi oleh kerendahan itu: seluruh hati dan karyanya. Selain untuk dirinya sendiri, Santo Fransiskus juga meminta para saudaranya (pengikutnya) dari berbagai jenis tugas dan kedudukan mereka agar berusaha merendahkan diri dalam segalanya: “Aku mohon dengan sangat kepada semua saudaraku; baik pengkhotbah, pendoa, pekerja, rohaniwan dan awam, agar mereka berusaha merendahkan diri dalam segalanya” (AngTBul XVII, 5).

Fransiskus mengajak para pengikutnya agar mengikuti dalam segala hal contoh kerendahan dan kemiskinan Putra Allah (2 Cel 148). Jadi, dengan ini, Fransiskus telah menempatkan diri dan persaudaraannya dalam perendahan yang permanen. Mereka siap dengan gembira dan rela menjadi rendah, sekalipun kerendahan itu “pahit” pada mulanya, tetapi menjadi “manis” akhirnya. Kekuatan cinta Tuhan sendirilah yang mengajarkan hal itu kepada Fransiskus dan para saudaranya. Fransiskus memeluk hidup minor dan humilis bukanlah atas inisiatifnya sendiri, tetapi diwahyukan Allah kepadanya. Dalam memandang dan mengalami Allah, ia terpusat pada minoritas, humilitas (Situmorang, 2014:5).

Allah itu, yang nyata dalam sejarah keselamatan. Bagi Fransiskus, Allah itu adalah yang merendah, yang miskin dan hina dina. Karena minoritas dan humilitas Allah itu, maka Santo Fransiskus merasa terperangkap dan tak bisa berbuat lain lagi selain menjadi minor dan humilis. Dia dan saudaranya adalah Saudara Dina (Fratres Minores), dan Ordonya adalah OFM: Ordo Fratrum Minorum.

Santo Fransiskus mengajak para saudaranya untuk mengikuti kerendahan Tuhan dengan menghayati kedinaan, ia mengajak para saudara untuk meninggalkan kuasa: Saudara-saudara hendaknya jangan bertindak sebagai penguasa atau tuan, khususnya di antara mereka sendiri; mereka harus saling mencuci kaki. Sebagai tanda kedinaan, ia mengajak para saudara untuk menghayati kerendahan hati:

Semua saudara di mana pun mereka tinggal untuk mengabdi dan bekerja pada orang lain, janganlah menjadi bendaharawan atau pengelola kekayaan atau pemegang jabatan kepala di rumah, tempat mereka mengabdi; tetapi hendaklah mereka menjadi yang lebih rendah dan tunduk kepada semua orang yang tinggal di rumah itu; para saudara harus bersukacita apabila mereka hidup di tengah orang-orang jelata dan yang dipandang hina, orang miskin dan lemah, orang sakit dan orang kusta serta pengemis di pinggir jalan.

Santo Fransiskus mengajarkan: “supaya para saudara tidak pernah boleh ingin berada di atas orang lain, tetapi sebaliknya harus menjadi hamba dan bawahan semua orang karena Allah” (2SurBerim 47). Kerendahan hati adalah ciri khas cinta kristiani seturut ajaran Santo Paulus (Rm 12:10; Flp 2:3). “Kerendahan hati yang suci mengacaubalaukan kesombongan serta semua manusia dari dunia ini, demikian juga segala sesuatu yang dari dunia ini” (SalKeut 12).

Dokumen terkait