• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. HIDUP SANTO FRANSISKUS ASSISI DAN SEMANGAT

A. Hidup Fransiskus Assisi

4. Semangat Kedinaan Santo Fransiskus Assisi

Fransiskus mengajukan anggaran dasarnya ke Paus sebagai kelompok Minor. Dalam kamus Latin, istilah minor artinya kecil. Kata minor bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah dina. Dalam konteks semangat Fransiskan, minor artinya dina, rendah, hina, tidak setara dengan lain. Fransiskus menjadikan hidupnya fratrum minorum yang artinya saudara dina. Fransiskus dalam anggaran dasar tanpa bulla mengatakan: "Tidak seorang pun boleh disebut ‘prior’, tetapi semuanya mesti disebut ‘saudara dina’. Dan mereka harus saling mencuci kaki" (AngTBul 6:3). Fransiskus menyebut ordonya adalah frater minor. Minores adalah Assisi sedangkan Mayor diidentik dengan kota Perugia (Groenen, 2000: 35-37).

Kedinaan atau Dina adalah merupakan suatu sikap atau cara untuk berada di hadapan Allah Yang Mahatinggi (Iriarte, 1995: 111). Dalam Anggaran Dasar Tanpa Bulla (AngTBul) disebutkan bahwa kedinaan berarti, “Menjadi yang lebih rendah dan tunduk kepada semua orang” (AngTBul 7:2). Selain itu dina juga bisa diartikan sebagai kekecilan dan ketelanjangan di hadapan Allah. Ketelanjangan sama dengan ungkapan kemiskinan yang paling luhur di hadapan Allah (Kelana, 2007: 11-13). Dan Thomas Celano menuliskan dina sama dengan rendahan, dan tunduk pada orang lain, dengan selalu mencari tempat kerja yang dipandang hina, dan melakukan tugas yang hina (1 Cel XV, 38), yang berarti mengarah pada suatu bentuk atau corak pelayanan pada sesama. Jadi konsep kedinaan ini bila dikaitkan dengan pelayanan sebagai saudara, kerendahan hati dan sifat tunduk. Pendorong semua itu adalah cinta, seperti dalam diri Kristus, yang datang bukan untuk

dilayani tetapi untuk melayani (Mat 20:28). Karena itu, diperlukan sikap, “menyangkal diri” (AngTBul No. 4).

Kedinaan juga mengandung makna sikap sederhana, rendah hati, jujur, tidak pongah atas keutamaan besar atau usaha dan upaya luhur. Terutama sekali tidak memandang diri sendiri lebih sempurna dari orang lain. Tentang dirinya Fransiskus berkata ‘orang yang tak layak, lemah, hina dan hamba dari semuanya’. Dalam surat-suratnya kepada seluruh ordo (SurOr) terbaca bagaimana dia menempatkan diri pada ‘kaki’ orang, ‘mahluk Tuhan Allah yang tak pantas’ (SurOr No. 47; dan AngTBul No. 7); ‘kami tidak terpelajar dan menjadi bawahan orang’ (Was 19).

Dina adalah nama kelompok pertapa dari Assisi, tapi Fransiskus merasa tidak tepat juga dengan sebutan itu bagi ordonya. Dalam hal ini Fransiskus sungguh terinspirasi dengan bacaan dari Injil Matius tentang “gila hormat tapi, enggan untuk melayani” (bdk. Mat 23:6-11).

Mengenai asal mula pemberian nama ini dikatakan: Sudah dari awal Fransiskus ingin menyebut para pengikutnya sebagai saudara dina (minor) sehingga langsung dituliskannya dalam Anggaran Dasar (AngBul 1:1). Makna dari "kedinaan" ialah "menjadi bawahan semua orang" (Was 19). "Mereka menjadi 'dina' dengan tunduk kepada semua orang. Mereka mencari tempat terakhir; melakukan pekerjaan dina dan bersedia menanggung kekerasan majikan. Ini mereka lakukan dengan tekad menempatkannya atas dasar-dasar yang mantap kerendahan hati sejati bangunan rohani, yang menggumpal pada satu arkitektur bahagia dari bermacam keutamaan" (1 Cel 38). "Kedinaan" ini sangat erat

hubungannya dengan "kerendahan hati". Puncak dari pengalaman kerendahan hati ini diungkapkan Fransiskus:

Sebagai superior saya mengadakan kapitel dan memberikan pengarahan dan mengutarakan pandangan. Dan pada akhirnya orang berkata: 'Engkau tak perlu lagi bersama kami, sebab engkau tidak terpelajar, tak memiliki bakat bicara, tak berbudaya, engkau dina'. Saya diusir dengan kasar, diejek di mana-mana. Saya berkata, sekiranya saya tidak sanggup menerimanya dengan tabah, dengan kegembiraan batin serta tetap bertekad mengusahakan kekudusan, saya sama sekali bukan lagi Saudara Dina (LM 6:5).

b. Latar Belakang Pemilihan Nama Ordo

Cara hidup Fransiskus menarik perhatian banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat dan mereka mau mengikuti Fransiskus dan hidup seperti dia, dalam persaudaraan Injili Fransiskus.

Setiap hari bertambahlah jumlah orang yang mengikuti Fransiskus. Maka ditulisnyalah sebuah aturan hidup yang disebut dengan Anggaran Dasar bagi dirinya sendiri pun bagi saudara-saudara yang telah ada sekarang dan yang akan datang secara sederhana dan singkat (1 Cel, XIII, 32).

Fransiskuslah yang pertama-tama menyebut dan memberikan nama Ordo Saudara Dina pada persaudaraan yang selama ini ia bangun. Dalam anggaran dasar yang ditulisnya: “Dan mereka hendaklah menjadi rendahan atau sama dengan dina’, dan mereka sungguh-sungguh adalah dina, yang tunduk pada orang lain, selalu mencari tempat kerja yang dipandang hina, dan melakukan tugas yang hina dan tidak diperhitungkan oleh orang lain (1 Cel, XV, 38).

Dengan menekankan keutamaan kesederhanaan dan kerendahan hati, Fransiskus memutuskan bahwa pengikutnya harus disebut “Ordo Saudara Dina”. Fransiskus berkata:

“Ordo Saudara Dina adalah kawanan kecil, yang tentang Putra Allah telah memohon kepada Bapa Surgawi dengan berkata, ‘Bapa Aku menghendaki agar Engkau sudi membentuk dan memberikanku orang-orang baru dan rendah hati pada masa terakhir ini, yang tidak akan serupa dengan pendahulu mereka dalam kerendahan hati dan kemiskinan dan hanya senang memiliki Aku saja’. Bapa berkata kepada Putra terkasih, Anakku, terjadilah seperti yang Kau minta” (Dister, 2000: 95).

Demikianlah, Fransiskus yang terberkati itu menyakini bahwa Allah sungguh berkenan bahwa mereka harus disebut sebagai saudara-saudara dina. Maka pada tahun 1209, Fransiskus bersama beberapa saudara berangkat ke Roma untuk bertemu dengan Paus Innosensius III guna mendapatkan pengesahan dan persetujuan dari tahta suci tentang cara hidup Anggaran Dasar.

Setelah menjelaskan cara dan bentuk hidup yang mau mereka hidupi, akhirnya Paus menyetujui cara hidup dan anggaran dasar secara lisan. Maka pada tahun 1210 lahirlah ordo Fransiskus dari Assisi dengan Anggaran Dasar yang Tanpa Bulla dengan disingkat ‘AngTBul’. Fransiskus mengusulkan kepada pengikutnya supaya menamakan diri Saudara-saudara Dina (Frater Minores) (Groenen, 2000: 33-35).

c. Dasar Biblis sebagai Pilihan Kedinaan

Berkat kesaksian hidup Fransiskus, banyak orang yang mau mengikutinya. Namun ia mulai bingung dengan saudara baru itu. Maka ia dan saudara baru pergi ke gereja Santo Nikolaus untuk menanyakan kepada Tuhan perihal hidup mereka. Lalu Fransiskus membuka Injil tiga kali, dan menemukan ayat-ayat berikut ini: Kalau kamu hendak sempurna, pergilah dan juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang miskin (Mat 19:21). Kemudian Fransiskus membuka

Injil lagi dan menemukan ayat dengan bunyinya: Janganlah membawa apa-apa dalam perjalanan (Luk 9:3). Serta untuk yang ketiga kali, Fransiskus menemukan: Siapa hendak mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya lalu mengikut Aku, (Mat 16:24) (Marpaung, 2009: 32).

Secara biblis, Fransiskus menetapkan Injil Matius 10:7-10 sebagai pedoman dan arah hidup guna meneruskan cita-citanya. Mewartakan Kerajaan Surga sudah dekat. Dalam Injil ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya bahwa mereka harus pergi mewartakan Kerjaan Allah, namun mereka dilarang untuk membawa uang, tongkat atau memakai sepatu (Marpaung, 2009: 30). Dalam kutipan Injil tersebut jelas dikatakan bahwa Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk mentahirkan orang kusta. Ini sangat cocok dengan apa yang dicari dan dirindukan oleh Fransiskus.

Untuk memahami dasar biblis dari kedinaan, Fransiskus memandang dan menghadap Allah. Fransiskus sungguh menghayati keluhuran dan kemuliaan Allah. Di hadapan Allah yang mahakuasa, dan mahatinggi Fransiskus merasa kecil, takluk bahkan takut. Katanya: “Allah yang Mahakuasa, Mahatinggi, Mahakudus dan Mahamulia, Tuhan, Raja surga dan alam, kami bersyukur demi Engkau sendiri” (AD 1221, 23). Dalam pandangan Fransiskus tampak perpaduan yang sempurna antara kebesaran dan kebaikan Allah.

Secara konkret kebaikan Allah hadir dalam Putra yang menjelma menjadi manusia bahkan hidup di tengah-tengah manusia. Fransiskus melihat Allah melalui Yesus Kristus, tidak membedakan di dalam Kristus itu keallahan dan kemanusiaan-Nya. Peristiwa inkarnasi menjadi tanda kebaikan-Nya

mendatangkan sikap hormat, kagum bahkan ia mencintai Kristus. Kristus yang dimaksud Fransiskus sebagaimana tertera dalam Injil bahkan seluruh Perjanjian Baru yakni Kristus sebagaimana Ia nyata sebagai Putera Allah yang menjadi manusia, tetap Allah dan tetap manusia. Kristus adalah penampakan Allah (Groenen, 1970: 47-48).

Diri Kristus itu, Kristus dari Injil, meresap seluruh jiwa dan hidup Fransiskus, sehingga ia nampak kepada orang sezamannya sebagai Kristus yang lahir (I Cel. 112). Diri Kristus sebagai kebaikan Allah dirangkum oleh Fransiskus lewat Kitab Suci terutama tulisan Paulus kepada Jemaat di Filipi yang mengatakan bahwa Kristus “yang mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba. Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib" (Flp 2:7-8).

Tindakan pengosongan diri bermula dari kerelaan menjadi manusia rendah yang mengambil wujud sebagai manusia. Peristiwa pengosongan diri Kristus menjadi dasar kedinaan yang patut dihayati dalam hidup secara konkret. Kepada para pengikutnya, Fransiskus berkata:

Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan mati di salib (Flp 2:4-8) (2 Cel 18).

Dalam kesempurnaan-Nya, Kristus rela menghampakan diri-Nya sebagai manusia biasa. Ia yang adalah Putra Bapa, menjadi serupa dengan manusia tanpa memperhitungkan harga diri-Nya. Ia rela menghamba, menjadi terbatas seperti

manusia yang memuncak pada misteri salib (O’Collins dan Farrugia, 1996: 138- 139). Misteri ini biasa disebut misteri pengosongan diri Kristus atau “Kenosis”.

Sekalipun peristiwa kenosis tidak semata berdimensi kristologis, namun juga tidak lepas dari perananRoh Kudus. Kenosis, sehubungan dengan kodrat manusia, berarti seruan terus menerus kepada Roh Kudus danpenyangkalan diriterhadap hasrat dan kehendak pribadi. Berkenaan denganKristus, pengosongan diri (kenosis) dariPutra Allahberupa suatu perendahan diri dan pengorbanan untuk penebusan dan keselamatan semua umat manusia.Manusia juga dapat berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah melalui suatu proses transformasi yang bertujuan menjadiserupa dengan Allah(theosis), yakni menjadikudusdengan pertolongan rahmat Allah.

Oleh karena itu kenosis merupakan suatuparadoksdanmisterikarena "mengosongkan diri" sebenarnya berarti mengisi diri seseorang dengan anugerah ilahi dan menghasilkan baginya persatuan dengan Allah. Sebagai inti pokok dari

kehidupan berimannya, bagi Fransiskus peristiwa kenosis menjadi peristiwa yang

perlu dilakukan secara terus menerus sampai pada tindakan menyerupai Kristus.

Dokumen terkait