Hipotesis H 1 , yaitu:
KEDINAMISAN INKLUS
KEDINAMISAN AKTIF KEDINAMISAN INOVATIF
Skore: 25-59 Skore 60-79 Skore: 80-100
Kriteria: • KUBE dengan struktur organisasi, keanggotaan sudah terbentuk • Intensitas pertemuan terbatas • Produksi sudah mulai berjalan tetapi masih bersifat rutin
• Pendapatan sudah ada tetapi relatif terbatas
• Jaringan kerja mulai dirintis
• UKS belum berjalan lancar Kriteria: • Aspek kelembagaan (struktur, keanggota, pembukuan, program) sudah berjalan • Intensitas pertemuan sedang
• Produksi sudah lancar
• Pendapatan sudah meningkat
• UKS sudah mulai berjalan
• Jaringan kerja sudah mulai berjalan
• Inovasi sudah mulai diperkenalkan
Kriteria:
• Aspek kelembagaan sudah berjalan baik
• Intensitas pertemuan tinggi
• P oduksi tinggi
• P endapatan stabil dan relatif besar
• UKS berjalan baik
• Jaringan kerja lancar
• Inovasi usaha tinggi
Didasarkan pada konsep pengkategorian kedinamisan KUBE di atas, sebanyak 85,2 persen KUBE berada pada kategori aktif (Gambar 26). Peubah- peubah yang dijadikan indikator dalam pengukuran kedinamisan KUBE mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Slamet (2001) yaitu: tujuan kelompok, struktur kelompok, fungsi tugas kelompok, pembinaan kelompok, kekompakan kelompok, ketegangan kelompok, keefektivan kelompok, kepemimpinan yang
diterapkan dalam kelompok dan bagaimana kepuasan yang dirasakan oleh anggota KUBE. Hasil ini sangat relevan dengan kenyataan-kenyataan lapangan di mana ditermukan hanya ada beberapa KUBE yang termasuk kategori inovatif dan kategori inklusi.
Keberhasilan KUBE
Tingkat keberhasilan KUBE merupakan sesuatu hal yang perlu dikaji untuk melihat sejauh mana keberhasilan KUBE. Keberhasilan KUBE dalam penelitian ini dilihat dari dua aspek yaitu keberhasilan yang berkaitan dengan aspek sosial dan keberhasilan yang berkaitan dengan aspek ekonomi. Sejak tahun 1983 hingga sekarang Departemen Sosial sudah menjadikan KUBE sebagai suatu pendekatan dalam rangka menangani permasalahan fakir miskin. Diperkirakan semenjak tahun 1983 hingga tahun 2003 sudah sekitar + 35.000 KUBE yang diberdayakan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air , hanya saja keberhasilannya kurang membanggakan (Balatbangsos, 1998 dan 1999).
Banyak faktor yang mempengaruhi eksistensi dan keberhasilan KUBE. Selama masa kurun waktu 1983 hingga tahun 1997 proses pemberdayaan yang dilakukan terhadap fakir miskin kurang mencerminkan kebutuhan kelompok sasaran. Beberapa kelemahan yang dapat diidentifikasi, antara lain: (a) Jumlah kelompok diwajibkan harus 10 KK dan tidak boleh kurang dan tidak bole h lebih. Ini sangat terkait dengan perta nggung jawaban administrasi yang harus diselesaikan. (b) Modal yang diberikan harus dalam bentuk barang karena harus dilakukan melalui pengadaan pihak ketiga dan besar bantuan sudah given. (c) Jenis bantuan kurang mencerminkan kebutuhan kelompok sasaran, tetapi lebih pada pertanggung jawaba n administrasi yang sudah dianggarkan. (d) Memberikan tekanan yang lebih besar pada proses pendampingan, sementara pelatihan kepada anggota KUBE sangat terbatas, (e) Diterapkannya otonomi daerah, sementara apresiasi sebagian pemerintah daerah terhadap hal-hal yang sifatnya non-PAD kurang mendapat perhatian - karena dianggap sebagai sektor yang konsumtif- sehingga perhatian terhadap KUBE menjadi sangat terbatas. Karena faktor-faktor ini banyak terjadi kegagalan terhadap KUBE dan tidak sedikit yang gulung tikar.
Untuk me lihat gambaran bagaimana tingkat keberhasilan KUBE baik aspek sosial maupun aspek ekonomi disajikan berikut ini. Kriteria jawaban responden dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu: tidak berkembang, kurang berhasil, sedang dan sangat berhasil. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 95,1 persen keberhasilan KUBE berada pada kategori kurang berhasil, dan hanya 4,9 persen keberhasilan KUBE berada dalam kategori cukup. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa KUBE belum dapat dikategorik berhasil. Bila ditelusuri lebih mendalam faktor penyebab ketidakberhasilan ini lebih banyak dikarenakan faktor aspek ekonomi belum berjalan sesuai dengan yang diharapakan (akan bahas lebih lanjut). Sedangkan faktor aspek sosial relatif lebih baik sekalipun hanya pada tingkat keberhasilan kategori cukup. Nampaknya, proses pemberdayaan dalam bidang aspek ekonomi masih perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Untuk melihat gambaran perbandingan keberhasilan masing-masing aspek (KUBE, Sosial dan Ekonomi) disajikan pada Gambar 28. Selanjutnya, untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilan masing-masing aspek sosial dan aspek ekonomi dipaparkan berikut ini.
0 0 3,3 4,9 0 91,8 4,9 95,1 4,9 95,1
Tidak berhasil Kurang berhasil Sedang Sangat berhasil
KUBE Sosial Ekonomi
Gambar 28: Tingkat Keberhasilan KUBE
Pengelompokan aspek sosial dan aspek ekonomi dalam anlisis ini tidak bertujuan untuk mendikotomikan antara aspek sosial dan aspek ekonomi. Namun, hanya bertujuan untuk mempertajam analissis bagaimana tingkat keberhasilan dari masing-masing kedua aspek tersebut. Kedua aspek ini dipandang sebagai satu
kesatuan yang mempunyai hubungan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya, seperti dua sisi mata uang yang menyatu. Aspek sosial tidak akan dapat berlajalan dengan baik bila tidak didukung dengan aspek ekonomi yang kuat, seperti usaha yang berkembang, pendapatan yang meningkat, tabungan, dan lain- lain. Sebaliknya, aspek ekonomi tidak akan berarti apa-apa bila tidak didukung dengan kegiatan-kegiatan sosial yang baik, seperti kerjasama di antara mereka, keperdulian, rasa tolong-menolong, keperdulian, tingkat pendidikan anak dalam keluarga yang semakin meningkat dan lain-lain. Karena itu, pengembangan kedua aspek ini perlu disejajarkan, tidak menempatkan salah satu menjadi yang terpenting. Pemisahan kedua aspek ini akan menjadikan pemberdayaan KUBE menjadi tidak optimal. Bagaimana eksistensi dan keberhasilan aspek sosial dan aspek ekonomi dijasikan pada analisis berikut ini.
Keberhasilan Aspek Sosial
Pengukuran aspek sosial ini berkaitan dengan pengembangan sikap dan perilaku yang berkaitan dengan pendekatan Bloom terhadap tiga aspek perilaku manusia yang meliputi: ranah afektif, ranah kognitif dan ranah psikomotorik. Didasarkan pada pendekatan ini, aspek sosial yang diukur pada KUBE juga berkaitan langsung dengan tiga ranah dimaksud. Adapun indikator-indikator yang diukur dalam aspek sosial meliputi: bagaimana kerjasama yang terjadi di antara sesama anggota, bagaimana kesediaan anggota dalam memberikan pertolongan, bagaimana kemampuan dalam mengatasi masalah, bagaimana tingkat partisipasi anggota, bagaimana keberanian mengahadapi risiko, bagaimana kemampuan dalam perencanaan usaha, bagaimana pemanfaatan sumber yang dilakukan, dan bagaimana inovasi usaha yang sudah dikembangkan. Dalam pengukuran ini tidaklah mudah mengklasifikasikan semua indikator yang disebutkan dalam penggolongan Bloom. Karena itu, dalam pembahasan ini penggolongan indikator tidak dilakukan secara individual tetapi pembahasannya dilakukan secara global. Dari hasil yang diperoleh, sebanyak 3,3 persen berada dalam kategori kurang berhasil, dan 91,8 persen keberhasilan aspek sosial KUBE berada dalam kategori sedang dan hanya 4,9 % persen berada dalam kategori sangat berhasil. Dilihat dari data ini dapat dikatakan bahwa keberhasilan aspek sosial KUBE masih perlu
ditingkatkan. Diperlukan usaha-usaha kerja keras untuk le bih meningkatkan keberhasilan aspek sosial. Pencapaian keberhasilan aspek sosial merupakan hal yang penting dalam proses kehidupan KUBE karena KUBE merupakan usaha kerja sama dari sekelompok orang yang di dalamnya bagaimana mereka harus saling tolong menolong, saling perduli satu sama lain, dan saling bantu membantu dalam berbagai kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Usaha kerja sama ini bukanlah hanya mengejar target pencapaian keberhasilan aspek ekonomi tetapi kesetaraan dengan keberhasilan aspek-aspek sosial.
Tabel 26: Tingkat Keberhasilan Aspek Sosial KUBE menurut Provinsi Kategori (%)
Propinsi Sangat
Rendah Kurang Sedang Tinggi
Total Jawa Timur 0 (0.0) 8 (36.4) 14 (63.6) 0 (0.0) 22 (100) Kalimantan Timur 0 (0.0) 15 (57.7) 11 (42.3) 0 (0.0) 26 (100) Sumatera Utara 0 (0.0) 6 (46.2) 7 (53 .8) 0 (0.0) 13 (100) Jumlah 0 (0.0) 29 (47.5) 32 (52.5) 0 (0.0) 61 (100)
Ket: ( ) = persen wilayah
Secara umum gambaran keberhasilan aspek sosial sudah dipaparkan di atas, selanjutnya bagaiamana gambaran keberhasilan aspek sosial menurut wilayah provinsi. Pengkajian ini merupakan hal yang penting untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilan KUBE di masing-masing wilayah karena akan dijadikan sebagai bahan acuan dalam pengembangan KUBE di masing-masing wilayah. Hasil menunjukkan bahwa KUBE yang ada di Provinsi Jawa Timur merupakan KUBE yang paling berhasil dibandingkan dua wilayah provinsi lainnya, kemudian diikuti dengan Sumatera Utara dan Kalimantan Timur. Kondisi ini dapat terjadi karena tingkat homogenitas masyarakat sangat tinggi (yang pada umumnya adalah masyarakat Jawa) bila dibandingkan dengan dua provinsi lainnya yang lebih heterogen dan juga budaya kehidupan masyarakat sehari-hari lebih senang hidup bersama. Kalimantan Timur banyak dipengaruhi ole h migrasi penduduk yang datang dan ke luar daerah tersebut sehingga lebih heterogen. Sejauh mana keberhasilan KUBE di masing-masing wilayah disajikan dalam Tabel 26.