BAB IV KEDUDUKAN AKTA KETERANGAN KEPEMILIKAN
B. Kedudukan Akta Keterangan Kepemilikan Yang Dibuat Di
UUD 1945 ditegaskan bahwa negara Republik Indonesia berdasarkan atas hukum (rechststaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machstaat).
Ini berarti bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, menjunjung tinggi hak asasi manusia, dan menjamin semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan serta wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.135
Penguasaan menurut Satjipto Rahardjo mempunyai unsur faktual dan adanya sikap batin. Artinya secara faktual adanya hubungan nyata antara seseorang dengan barang (tanah) yang ada dalam kekuasaan, sehingga pada saat itu ia tidak memerlukan legitimasi lain kecuali bahwa barang itu ada di tangannya. Sedangkan sikap batin artinya adanya maksud untuk meng sai atau menggunakannya. Penguasaan atas suatu barang merupakan modal yang
135 Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm.1.
72
penting dalam kehidupan manusia dan juga kehidupan masyarakat. Oleh arena itu tidak bisa diabaikan oleh hukum. Sekalipun soal penguasaan yaitu bersifat faktual, namun hukum pun dituntut untuk memberikan keputusan mengenai hal itu. Apabila hukum mulai masuk maka ia harus memutuskan apakah seseorang akan mendapat perlindungan ataukah tidak. Apabila ia memutuskan untuk memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap penguasaan seseorang atas suatu barang, maka ia akan melindungi orang tersebut dari gangguan orang-orang lain.136
Jika pemegang hak tidak dapat menyediakan bukti kepemilikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997, baik yang berupa tertulis maupun bentuk lain yang dapat dipercaya maka Pasal 24 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997 memberikan ketentuan yang memberikan jalan keluar. Penjelasan pasal 24 ayat (2), pembukuan hak dapat dilakukan tidak berdasarkan bukti kepemilikan akan tetapi berdasarkan bukti penguasaan fisik yang telah dilakukan oleh pemohon dan pendahulunya. Syarat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1. Bahwa penguasaan dan penggunaan tanah yang bersangkutan dilakukan secara nyata dan dengan itikat baik selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut.
2. Bahwa kenyataan penguasaan dan penggunaan tanah tersebut selama itu tidak diganggu gugat dan karena itu dianggap diakui dan dibenarkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan.
136 Satjipto Rahardjo, Op.Cit, hlm 104
73
3. Bahwa hal-hal tersebut diperkuat oleh kesaksian orangorang yang dapat dipercaya.
4. Bahwa telah diberikan kesempatan kepada pihak lain untuk mengajukan keberatan melalui pengumuman sebagaimana dimaksud Pasal 26.
5. Bahwa telah diadakan penelitian juga mengenai kebenaran hal-hal yang disebutkan di atas.
6. Bahwa akhirnya kesimpulan mengenai status tanah dan pemegang haknya dituangkan dalam keputusan berupa pengakuan hak yang bersangkutan oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik dan oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik.
Kedudukan notaris sebagai suatu fungsionaris dalam masyarakat sebagai seorang pejabat yang dapat diandalkan oleh masyarakat. Pasal 15 ayat (2) UUJN menyatakan bahwa notaris berwenang untuk membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan, dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-Undang.137
137 Daniar Ramadhan, Op.Cit, hlm 685-696
74
Kedudukan notaris adalah sebagai pejabat umum dalam hal ini dikarenakan kedudukan jabatan Notaris dalam kapasitas sebagai pembuat akta autentik ataupun sebagai pembuat akta tanah, diangkat dan diberhentikan oleh Pemerintah dalam hal ini kementerian terkait. Notaris dalam kewenangannya yang diberikan oleh Undang-Undang yang memiliki peran sangat penting dalam membuat akta autentik, yaitu notaris menyimpan akta, menjamin kepastian tanggal dan memberikan grosee, salinan dan kutipan.138
Notaris mempunyai kedudukan sebagai pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta Autentik dan kewenangan lainnya yang diatur dalam UUJN. Notaris sebagai pejabat umum berwenang membuat semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perUndang-Undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta Autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-Undang.
Selain itu, notaris berwenang dalam hal :
1. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus. Ketentuan ini merupakan legalisasi terhadap akta di bawah tangan yang dibuat sendiri oleh orang perseorangan atau oleh para pihak di atas kertas yang bermaterai
138 J.A. Suparman dan S. Putrawan, Kekuatan Pembuktian Akta Dibawah Tangan Yang Telah Dilegalisasi Oleh Notaris, Kertha Semaya: Journal Ilmu Hukum, Vol. 4 No. 3, 2018, hlm. 3
75
cukup kemudian didaftarkan dalam buku khusus yang disediakan oleh notaris.
2. Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus.
3. Membuat copy dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.
4. Melakukan pengesahan kecocokan dan foto copy dengan surat aslinya.
5. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta.
6. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan.
7. Membuat akta risalah lelang.139
Kedudukan notaris bukan pejabat negara karena notaris bukan pegawai negeri akan tetapi notaris ketika dipangil oleh penyidik sebagai saksi harus ada dak demikian. Untuk itu sebagai negara hukum (rechtsstaat) sebagaimana bunyi Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan “Negara Indonesia adalah negara hukum”; maka negara harus menjamin persamaan setiap orang di hadapan hukum serta melindungi hak asasi manusia. Persamaan di hadapan hukum memiliki arti bahwa semua orang memiliki hak untuk diperlakukan sama di hadapan hukum (equality before the law). Persamaan perlakuan di hadapan hukum bagi setiap orang berlaku dengan tidak membedabedakan latar belakangnya (ras, agama, keturunan, pendidikan atau tempat lahirnya), untuk memperoleh keadilan melalui lembaga peradilan. Oleh karena itu kedudukan
139 Kusbianto, dkk, Kesadaran Hukum Masyarakat Tentang Pentingnya Akta Autentik Yang Dibuat Oleh Notaris, Volume 1 Nomor 2 Edisi Juli 2020, hlm 171-172
76
notaris sebagai pejabat umum perlu dikaji apakah sudah mencermikan persamaan dimata hukum atau tidak.140
Surat keterangan hak tidak memenuhi syarat-syarat untuk dianggap sebagai surat pernyataan penguasaan fisik bidang tanah, apabila tidak memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Bahwa pemohon telah menguasai secara nyata tanah yang bersangkutan selama 20 (dua puluh) tahun dan digunakan sendiri oleh pihak yang mengaku atau secara nyata tidak dikuasai tetapi digunakan pihak lain secara sewa atau bagi hasil, atau dengan bentuk hubungan perdata lainnya atau telah memperoleh penguasaan itu dari pihak atau pihak-pihak lain yang telah menguasainya, sehingga waktu penguasaan pemohon dan pendahulunya tersebut berjumlah 20 tahun atau lebih.
2. Bahwa penguasaan tanah itu telah dilakukan dengan itikad baik;
3. Bahwa tanahnya sedang/tidak dalam keadaan sengketa;
4. Bahwa penguasaan itu tidak pernah diganggu gugat, dan karena itu dianggap diakui dan dibenarkan oleh hukum adat atau Desa/Kelurahan yang bersangkutan;
5. Bahwa apabila penandatangan memalsukan isi surat pernyataan atau tidak sesuai dengan kenyataan, bersedia dituntut dimuka hakim secara pidana maupun perdata karena memberikan keterangan palsu;
6. Keterangan dari Kepala Desa/Lurah dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang saksi yang kesaksiannya dapat dipercaya.
140 Edwar, dkk, Op.Cit, hlm 182
77
Akta-akta yang dibuat oleh notaris sesuai dengan kewenangannya antara lain minuta akta, grosse akta (misalnya pengakuan utang), salinan akta, kutipan akta, akta originali (misalnya pembayaran uang sewa, bunga, dan pensiun, penawaran pembayaran tunai, proses terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimanya surat berharga, akta kuasa, keterangan kepemilikan, serta akta lainnnya berdasarkan peraturan perUndangUndangan), selain itu notaris juga memberikan jasa hukum secara cuma-cuma bagi orang yang tidak mampu, serta membuat akta dari objek yang dinilai mempunyai fungsi sosial (misalnya akta pendirian yayasan, akta pendirian sekolah, akta tanah wakaf, akta pendirian rumah ibadah, atau akta pendirian rumah sakit). Notaris dalam melaksanakan fungsi atau kewenangan tersebut, notaris harus bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan para pihak.141
Notaris memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan peraturan perUndang-Undangan, yakni harus sesuai dengan Undang-Undang Jabatan Notaris, kecuali ada alasan tertentu untuk menolaknya. Alasan menolaknya di sini adalah alasan yang mengakibatkan notaris tidak berpihak, seperti adanya hubungan darah atau semenda dengan notaris sendiri atau dengan suami/istrinya. Notaris juga harus merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta, hal ini dilakukan untuk melindungi kepentingan para pihak yang terkait dengan akta tersebut sehingga adanya kepastian hukum.
141 Ibid, hlm 172
78
Surat keterangan tanah merupakan alat bukti tertulis di bawah tangan yang kekuatan pembuktiannya tidak sekuat akta autentik, namun karena Surat keterangan tanah tersebut merupakan surat-surat yang dikategorikan alas hak atau data yuridis atas tanah yang dijadikan syarat kelengkapan persyaratan permohonan hak atas tanah sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan pertanahan, maka Surat keterangan tanah tersebut merupakan dokumen yang sangat penting dalam proses penerbitan sertipikat hak atas tanah.
Surat keterangan tanah hanya memiliki kedudukan dan kekuatan dalam melakukan perbuatan hukum untuk proses pendaftaran hak dalam hal dokumen tanah tidak lengkap. Pasal 23 dan 24 PP. No. 24 Tahun 1997 telah sangat jelas membedakan antara bukti hak-hak baru dan juga bukti hak-hak lama. Kedudukan notaris sebagai pejabat umum, dalam arti bahwa kewenangan yang ada pada Notaris tidak pernah diberikan kepada pejabatpejabat lainnya, selama spanjang kewenangan tersebut tidak menjadi kewenangan pejabat-pejabat lain dalam membuat akta autentik dan kewenangan lainnya, maka kewenangan tersebut menjadi kewenangan Notaris.142
Pasal 15 ayat (2) UUJN menyebutkan “Notaris berwenang pula membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan”. Dalam ketentuan tersebt tidak dijelaskan mengenai akta yang berkaitan dengan pertanahan yang merupakan kewenangan dari Notaris. Demikian pula dalam penjelasan dari
142 Habib Adjie, (1) Hukum Notaris Indonesia, Op.Cit, hlm 40
79
ketentuan tersebut, tidak menjelaskan mengenai dimaksud dengan akta-akta yang berkaitan dengan pertanahan.
Ketentuan mengenai kedudukan sebagai pejabat umum dapat dilihat pada Pasal 1 angka (1) UUJN di sana dinyatakan bahwa notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik. Dengan demikian ditugaskan untuk menjalankan kekuasaan pemerintah, notaris memperoleh kekuasaan tersebut dari eksekutif, artinya notaris diberi kekuasaan langsung sebagian hak dan wewenang eksekutif.
Notaris mempunyai kedudukan sebagai pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya yang diatur dalam UUJN. Notaris memberikan kepastian hukum bagi para pihak dari akta yang dibuatnya.
Pasal 37 ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997 ditetapkan bahwa “peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang, hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Kemudian pada Pasal 103 ayat (2) huruf c PMNA/KBPN No. 3 Tahun 1997, ditentukan bahwa akta yang dibuat oleh PPAT merupakan salah satu dokumen yang diperlukan untuk keperluan pendaftaran peralihan hak atas tanah. Akta PPAT merupakan salah satu sumber data utama bagi pemeliharaan data
80
pendaftaran tanah.143 Dibuatnya akta PPAT berupa penyerahan kekuasaan secara nyata, barulah kemudian akta digunakan sebagai dasar juridische levering (penyerahan secara hukum) dalam hal peralihan hak atas tanah yang masuknya hak menguasai tanah oleh negara untuk menolak ataupun menerima permohonan tersebut.144
Kedudukan hukum surat keterangan tanah berdasarkan Pasal 76 ayat (3) Permenag No.3 tahun 1997 ialah sebagai syarat salah satu dokumen penyertipikatan tanah dalam permohonan pendaftaran tanah secara sporadik, yang mana dalam permohonan tersebut harus menyertakan dokumen-dokumen sah sebagaiman yang diuraikan pada Pasal 60 ayat (2) jo Pasal 76 ayat (1) Permenag No. 3/1997 untuk membuktikan hak atas tanah yang bersangkutan.
Namun, dalam praktiknya terkadang masyarakat memiliki dokumen yang tidak lengkap bahkan tidak ada sama sekali, hal tersebut bisa terjadi dikarenakan hak yang ingin didaftarkan ada hak-hak lama, yang biasanya dimiliki oleh masyarakat adat atau desa, maka dari itu, dalam rangka memperkuat pembuktian haknya pada Pasal 76 ayat (2) Permenag No.3 tahun 1997 memberikan mekanisme untuk mengakomodir masyarakat tersebut dengan cara pemohon membuat surat pernyataan berisi pernyataan dari yang bersangkutan dan keterangan yang dapat dipercaya dari sekurangkurangnya 2 (dua) orang saksi dari lingkungan masyarakat setempat yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan yang bersangkutan sampai derajat kedua baik dalam kekerabatan vertikat maupun horizontal.
143 Made Putri Saraswati, Kedudukan Hukum Akta Ppat Setelah Terbitnya Sertipikat Karena Peralihan Hak Atas Tanah, Jurnal Acta Comitas, 2018, hlm 35
144 Ibid
81
C. Akta Keterangan Kepemilikan Yang Dibuat Di Hadapan Notaris Sebagai Dokumen Pendukung Dalam Permohonan Pendaftaran Tanah Seseorang dan atau badan hukum dapat memperoleh atau memiliki/
menguasai tanah menurut hukum positif di Indonesia melalui beberapa cara yaitu: pertama, melalui lembaga konversi (baik cara penegasan hak maupun pengakuan hak), kedua melalui lembaga pemberian (Penetapan) Hak oleh Pemerintah yaitu untuk tanah yang dikuasai langsung oleh negara (berasal dari Tanah Negara), dalam hal ini tentunya termasuk juga melalui Pembukaan Tanah (Ontgeining). Ketiga yaitu melalui lembaga Pemindahan-tangan (levering/beschiken) yang sering disebut peralihan hak. Khususnya cara pertama dan kedua merupakan suatu cara yang mempunyai perbedaan yang mendasar, baik dalam konsep maupun proses perolehannya.
Penetapan jenis-jenis penguasaan tanah dimasing-masing-masing daerah (bekas) wilayah adat yang dapat dikategorikan sebagai hak milik, merupakan suatu ketentuan yang mendasar dan sangat diperlukan dalam rangka penerapan secara tepat ketentuan hukum konversi bekas tanah hak-hak adat. Penyempurnaan ketentuan konversi sebagaimana diatur dalam PMNA/Ka. BPN No. 3/1997, hanya mensyaratkan keikutsertaan Ketua Adat secara pasif dalam bentuk kesaksian secara menyeluruh, dan belum sepenuhnya mengimplementasikan norma tentang keberlakuan hukum adat secara aktif selama belum ditetapkannya undang-undang hak milik. 145
145Muchtar Wahid, Memaknai Kepastian Hukum Hak Milik Atas Tanah, Jakarta, Republika, 2008, hlm.91.
82
Alas hak diartikan sebagai bukti penguasaan hak atas tanah secara yuridis dapat berupa alat-alat bukti yang menetapkan atau menerangkan adanya hubungan hukum antara tanah dengan yang mempunyai tanah, dapat juga berupa riwayat pemilikan tanah yang pernah diterbitkan oleh pejabat pemerintah sebelumnya maupun bukti pengakuan dari pejabat yang berwenang. Alas hak secara yuridis ini bisanya dituangkan dalam bentuk tertulis dengan suatu surat keputusan, surat keterangan, surat pernyataan, akta autentik maupun surat dibawah tangan lain-lain.146
Kedudukan hukum surat keterangan tanah berdasarkan Pasal 76 ayat (3) Permenag No.3 tahun 1997 ialah sebagai syarat salah satu dokumen penyertipikatan tanah dalam permohonan pendaftaran tanah secara sporadik, yang mana dalam permohonan tersebut harus menyertakan dokumen-dokumen sah sebagaiman yang diuraikan pada Pasal 60 ayat (2) jo Pasal 76 ayat (1) Permenag No. 3 tahun 1997 untuk membuktikan hak atas tanah yang bersangkutan. Namun, dalam praktiknya terkadang masyarakat memiliki dokumen yang tidak lengkap bahkan tidak ada sama sekali, hal tersebut bisa terjadi dikarenakan hak yang ingin didaftarkan ada hak-hak lama, yang biasanya dimiliki oleh masyarakat adat atau desa. Maka dari itu, dalam rangka memperkuat pembuktian haknya pada Pasal 76 ayat (2) Permenag No.3/1997 memberikan mekanisme untuk mengakomodir masyarakat tersebut dengan cara pemohon membuat surat pernyataan berisi pernyataan dari yang bersangkutan dan keterangan yang dapat dipercaya dari sekurangkurangnya 2
146 Muhammad Yamin Lubis dan Abdul Rahim Lubis, Op.Cit, hlm 237
83
(dua) orang saksi dari lingkungan masyarakat setempat yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan yang bersangkutan sampai derajat kedua baik dalam kekerabatan vertikat maupun horizontal.
Pasal 32 ayat (1) PP No.24 Tahun 1997 disebutkan bahwa: sertipikat merupakan surat tanda bukti yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan, sedangkan dalam Penjelasan Pasal 32 ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997 menyatakan bahwa sertipikat merupakan tanda bukti hak yang kuat, dalam arti bahwa selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya data fisik dan data yuridis yang tercantum didalamnya harus diterima sebagai data yang benar. Ketentuan Pasal 19 Ayat (2) UUPA menegaskan bahwa pemberian surat tanda bukti hak (sertipikat) yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat, ini sesuai pula dengan penjelasan atas UUPA Bab IV alinea 2 yang menyebutkan pendaftaran tanah yang bersifat rechtkadaster yang artinya bertujuan menjamin kepastian hukum.147
Notaris diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk menjalankan profesinya sebagai pejabat negara yang dapat membuat akta autentik.
Pemberian kewenangan ini termasuk dalam pemberian dengan cara atribusi.
Notaris telah mendapatkan kewenangan yang diberikan di dalam Pasal 15 UUJN. Kewenangan yang diperoleh ini harus dijalankan dengan baik dan dengan cara yang profesional. Adanya Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN yang
147 Irawan Soerodjo, Op.Cit, hlm 85
84
menjadi suatu perdebatan diantara kalangan profesi notaris itu sendiri, menjadikan UUJN sebagai produk peraturan perundang-undangan yang tidak sehat. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat mengenai ketidak jelasan kewenangan pada Notaris yang berwenang dalam pembuatan akta pertanahan.148
Akta tanah yang dibuat oleh Notaris merupakan akta yang sah dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sebagai akta autentik, karena akta tanah Notaris memenuhi unsur sebagai akta autentik, dan Notaris sendiri menurut UUJN, berwenang untuk membuatnya. Namun dilihat dari produk Pejabat Pembuat Akta Tanah yang berupa akta Pejabat Pembuat Akta Tanah maka Pejabat Pembuat Akta Tanah merupakan Pejabat Umum yang diberi wewenang untuk mengkonstantir suatu perbuatan hukum hak atas tanah antara para pihak ke dalam akta. Notaris yang tidak merangkap sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah tidak mempunyai kompetensi untuk membuat perjanjian pemindahan hak atas tanah. Akta tanah yang dibuat oleh Notaris juga tidak dapat dijadikan dasar untuk pendaftaran tanah di BPN, karena dilihat dari konsideran UUJN, maka Notaris bukanlah partner kerja dari BPN dalam urusan pertanahan.149
Notaris bertugas untuk membuat akta autentik. Notaris berwenang untuk membuat adanya alat bukti yang menentukan dengan jelas hak dan kewajiban seseorang sebagai subjek hukum dalam masyarakat. UUJN menentukan bahwa akta harus dibuat antara lain di hadapan atau oleh pejabat
148 Denico Doly, Op.Cit, hlm 282
149 Ibid
85
umum, dihadiri saksi, disertai pembacaan oleh notaris dan sesudahnya ditandatangani oleh para pihak. Notaris adalah pejabat umum yang mempunyai wewenang untuk membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan sejauh pembuatan akta autentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya atau diminta oleh para pihak yang membuat akta. Akta autentik sesuai dengan Pasal 1868 KUHPerdata yaitu: “Suatu akta autentik adalah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat.”
Akta Keterangan Kepemilikan Tanah Yang Dibuat Dihadapan Notaris Sebagai Alas Hak Atas Tanah kaitkan dengan pendaftaran tanah. Akta Keterangan Kepemilikan Tanah yang dibuat dihadapan notaris adalah satu satu akta autentik dimana maksud akta autentik yaitu akta yang dibuat dihadapan pejabat yang berwenang, yang bentuknya diatur oleh undang-undang. Dimana akta keterangan pemilik dibuat di hadapan notaris berdasarkan keterangan para pihak dan data-data kepemilikan alas hak tanah. Akta keterangan kepemilikan tanah sebagai bukti kepemilikan tanah yang belum mempunyai status hak (tanah Negara) yang kedudukannya sama seperti Surat Keterangan Tanah yang dibuat oleh camat atau pejabat setaranya yang berwenang untuk membuatnya.
Bila dikaitan dengan pendaftaran tanah, akta keterangan kepemilikan merupakan dokumen pendukung untuk memperoleh status hak atas tanah pada
Kantor Pertanahan.150
150 Hasil wawancara dengan Dewi, selaku Notaris di Stabat
86
Sertipikat hak atas tanah sebagai hasil akhir proses pendaftaran tanah berisi data fisik (keterangan tentang letak, batas, luas bidang tanah, serta bagian bangunan atau bangunan yang ada di atasnya bila dianggap perlu) dan data yuridis (keterangan tentang status tanah dan bangunan yang didaftar, pemegang hak atas tanah dan hakhak pihak lain, serta beban-beban lain yang berada di atasnya). Dengan memiliki sertipikat, maka kepastian hukum berkenaan dengan jenis hak atas tanah, subjek hak dan objek haknya menjadi nyata.151
Akta keterangan kepemilikan tanah yang dibuat dihadapan notaris sebagai alas hak atas tanah kaitkan dengan akta keterangan kepemilikan termasuk pengakuan, penegasan, konversi; Akta Keterangan Kepemilikan Tanah yang dibuat dihadapan notaris dalam kaitannya dengan pendaftaran tanah adalah merupakan penegasan. Yang mana penegasan tersebut dapat dilihat dari isi dari akta keterangan kepemilikan tersebut. Dalam akta
Akta keterangan kepemilikan tanah yang dibuat dihadapan notaris sebagai alas hak atas tanah kaitkan dengan akta keterangan kepemilikan termasuk pengakuan, penegasan, konversi; Akta Keterangan Kepemilikan Tanah yang dibuat dihadapan notaris dalam kaitannya dengan pendaftaran tanah adalah merupakan penegasan. Yang mana penegasan tersebut dapat dilihat dari isi dari akta keterangan kepemilikan tersebut. Dalam akta