PERKAWINAN A. Putusnya Perkawinan
2. Kedudukan Harta Bersama setelah Putusnya Perkawinan
Masalah harta bersama telah diatur secara singkat oleh UndangUndang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan, Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. 99 Isi pasal tersebut dimana istri maupun suami mempunyai hak yang sama bila terjadi perceraian.
Pasal 39 dan pasal 40 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan :
Pasal 39 berbunyi :
a. Perceraian hanya dapat dilakukan didepan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
97 Ibid.
98 Ibid.
99 Republik Indonesia, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Pasal 37.
b. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri.
c. Tatacara perceraian didepan sidang Pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.
Pasal 40 berbunyi :
a. Gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan.
b. Tatacara mengajukan gugatan tersebut pada ayat (1) pasal ini diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.
Dari bunyi pasal di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perceraian hanya terjadi dengan sah jika gugatannya diajukan kepada Pengadilan, untuk yang beragama Islam dapat mengajukan kepada Pengadilan Agama, sementara agama yang lain ke Pengadilan Negeri.
Hukum acara perdata adalah rangkaian peraturan-peraturan yang membuat cara bagaimna orang harus bertindak terhadap dan di muka pengadilan dan bagaimanacara pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata.100Perkara perdata adalah perkara yang baik mengandung sengketa maupun yang tidak mengandung sengketa dan tugas hakim dalam perkara perdata adalah menyelidiki apakah suatu hubungan hukum yang menjadi suatu dasar gugatan benar-benar ada atau tidak.101Tuntutan hak adalah tindakan yang bertujuan untuk memperoleh perlindungan hukum yang diberikan oleh pengadilan untuk mencegah tindakan eigenrichting atau tindakan menghakimi sendiri. Tindakan menghakimi sendiri merupakan tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendaknya sendiri yang bersifat sewenang-wenang,
100 Wirjono Projodikoro, Hukum Acara Perdata di Indonesia, (Bandung : Sumur, 1994), h. 13.
101 Retno Wulan & Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata Dalam Praktek, (Bandung : Alumni ,1993), h. 53.
tanpa persetujuan pihak lain yang berkepentingan, sehingga akan menimbulkan kerugian.102
Mengenai pembagian harta bersama pasca perceraian, M. Yahya Harahap berpendapat bahwa barang kali sekurang-kurangnya pembuat Undang-Undang masih ragu-ragu tentang apa yang benar-benar hidup dalam soal perceraian dan pembagian harta kekayaan. Sebenarnya kalau terjadi keraguan dalam soal ini dirasa keraguan itu kurang tegas sebab kalau terdapat keraguan dalam cara pemecahannya tentu juga dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam meletakkan lembaga harta bersama itupun pembuat Undang-Undang kalau begitu masih ragu-ragu.103 Keraguan dalam menetapkan aturan hukum yang berlaku dalam bidang harta bersama ini tentu akan menimbulkan kesulitan dalam penyelesaiannya, apabila perkawinan itu putus baik karena perceraian maupun karena kematian.
UU Perkawinan tidak mengatur secara tegas merumuskan hukum yang berlaku dalam pembagiannya karena diserahkan pembagian tersebut kepada hukum masing-masing. Hal ini tercantum dalam ketentuan Pasal 37 UU Perkawinan yang menyatakan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Yang dimaksud hukum masing-masing ini ialah hukum agama, hukum adat dan hukum lainnya.
Pembagian menurut hukum masing-masing ini yang akan menjadi benturan dalam penggunaan hukum yang berlaku yang dikenal dengan conflict of law karena pengaturan harta benda perkawinan dan pembagian harta bersama pasca
102 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit., h. 55.
103 M. Yahya Harahap. Op. Cit., h. 125.
perceraian menurut hukum agama dan hukum adat berbeda yang memiliki aturan masing-masing.104
Mahkamah Agung pada tanggal 20 Agustus 1975, mengeluarkan Surat Nomor M.A/Pemb/0807/1975 tentang Petunjuk-Petunjuk M.A. mengenai Pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 1974 dan PP Nomor 9 Tahun 1975, di mana pada sub 4 dikatakan bahwa tentang harta benda dalam perkawinan ternyata tidak diatur dalam PP Nomor 9 Tahun 1975 karenanya belum dapat diperlakukan secara efektif dan dengan sendirinya untuk hal-hal itu masih diperlakukan ketentuan-ketentuan hukum dan perundang-undangan lama.
Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 120 K/Sip/1960 tanggal 9 April 1960, bahwa sudah menjadi Yurisprudensi Mahkamah Agung RI bahwa harta pencaharian harus dibagi sama rata antara suami istri jika terjadi perceraian.105 Pembagian harta bersama menurut KUHPerdata, apabila perkawinannya dengan persatuan harta benda, maka menurut Pasal 232 pembagiannya harus dilakukan menurut cara-cara seperti tersebut dalam Bab Keenam. Pasal 128 KUHPerdata menentukan, bahwa harta benda kesatuan dibagi dua antara suami dan istri, dengan tidak memperdulikan dari pihak mana asalnya barang-barang tersebut.
Keadaan ini akan memungkinkan orang yang tadinya miskin, mungkin akan mendadak jadi kaya raya setelah ia menikah dengan orang yang hartawan dan kemudian cerai dengannya.
104 Wahjono Darmabrata dan Surini Ahlan Sjarif, Hukum Perkawinan dan Keluarga di Indonesia ( Jakarta : Universitas Indonesia, 2004). h. 123.
105 Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, (Bandung :. Mandar Maju,1992), h. 213.
Pasal 232 ayat (1) KUHPerdata menentukan, bahwa apabila kemudian terjadi kawin ulang antara keduanya, maka segala perhubungan antara mereka dikembalikan kepada keadaan sebelum ada perceraian perkawinan, dan dianggap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara mereka. Karena itu harta kekayaan yang diperoleh oleh pihak yang mendadak kaya karena perceraian tadi, tidak boleh diselewengkan dan harus dikembalikan pada harta perkawinan mereka kembali.106
Merujuk pada hukum Hukum Perdata yang menjadi acuan sebagai perbuatan hukum yang menjadi‟ penyebab timbulnya‟ harta keduanya adalah
“Perkawinan, sebagaimana telah diatur pada pasal 126 “Kitab Undang-Undang Hukum Perdata”. Disamping itu merujuk pada pasal 119 KUHper mengenai harta bersama pada dasarnya bahwa “terhitung sejak saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum terjadilah persatuan bulat harta kekayaan suami dan istri sejauh tidak diadakan perjanjian perkawinan tentang hal tersebut”. Mengenai aturan ini menyatakan bahwa harta antara pihak suami-istri yang sebagaimana dimaksud adalah Persatuan Harta yang telah diperoleh sejak semasa melakukan perkawinan.
Keputusan Pengadilan tentang pemecahan harta persatuan maka harta tersebut siap untuk dibagi antara suami dan istri. Antara waktu sesudah keputusan Pengadilan mengenai perpecahan dan pelaksanaan pembagian, persatuan harta tersebut menjadi persatuan yang “mati”. Dengan akibat bahwa karena persatuan tersebut sudah mati, maka suami istri sebagai yang berhak atas persatuan tersebut, tidak dapat lagi mengikatkan persatuan tersebut kepada pihak ketiga. Jika suami
106 H.M. Djamil Latif, Aneka Hukum Perceraian di Indonesia, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1982), h. 91-92.
melakukan tindakan-tindakan atas nama persatuan tersebut, maka tindakannya tidak sah lagi dan karenanya hanya mengikat dirinya secara pribadi. Sesudah persatuan itu “mati”, sesudah ada pemecahan harta persatuan, istri memperoleh kembali hak beheer -nya.
Jika suatu perkawinan putus karena perceraian dan tidak ada perjanjian perkawinan yang dibuat sebelum melangsungkan perkawinan, maka harta tersebut diatur menurut hukum masing-masing. 185 Dalam UU No. 1/1974, KHI, KUH Perdata, dan sejalan dengan putusan Mahkamah Agung RI No. 424.K/SIP/1959, yang mengemukakan bahwa apabila perkawinan putus, baik karena perceraian atau karena kematian, maka harta bersama suami dan istri yang diperoleh selama perkawinan berlangsung dibagi dua untuk masing-masing suami dan istri.
Dalam praktik peradilan, hal tersebut tidaklah mudah dan sederhana.107 Beberapa hal yang terkait dengan aturan tentang harta benda tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kondisi sosial dalam masyarakat yang telah berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan tersebut terlihat dalam berbagai bentuk, baik dalam bidang komunikasi, informasi dan hal-hal yang menyangkut dengan sosial budaya, seperti pihak istri bekerja tidak hanya sebatas menjadi ibu rumah tangga, tetapi juga ikut serta dalam mencari nafkah. Atau sebaliknya, pihak istri bekerja dan mempunyai penghasilan tetap, sementara suami bekerja serabutan dan tidak mempunyai penghasilan tetap. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap pembagian harta bersama apabila terjadi perceraian.
107 Baiq Santi Sulistiorini, Problematika Eksekusi Putusan Harta Bersama di Atas Tanah Adat (Studi di Desa Lebah Sempaga Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat), Jurnal Pasca Sarjana IAIN Mataram. Vol.8 No. 2 Desember 2019, pp 35-46, E-ISSN : 2579-5287.
Mataram, 2019.
Pembagian harta bersama bagusnya dilakukan secara adil, sehingga tidak menimbulkan ketidakadilan antara mana yang merupakan hak suami dan mana hak isteri. Menurut Erna Wahyuningsih dan Putu Samawati menjelaskan bahwa cara mendapatkan harta bersama, sebagai berikut : Pembagian harta bersama dapat diajukan bersamaan dengan saat mengajukan gugat cerai dengan menyebutkan harta bersama dan bukti-bukti bahwa harta tersebut diperoleh selama perkawinan dalam “posita” (alasan mengajukan gugatan). Permintaan pembagian harta disebutkan dalam petitum (gugatan). Pembagian harta bersama diajukan setelah adanya putusan perceraian, artinya mengajukan gugatan atas harta bersama. Bagi yang beragama Islam gugatan atas harta bersama diajukan ke pengadilan agama di wilayah tempat tinggal isteri. Untuk non-Islam gugatan pembagian harta bersama diajukan ke pengadilan negeri tempat tinggal termohon.108
Konsep pembagian harta bersama berdasarkan kontribusi dalam perkawinan memberikan ruang bagi hakim untuk menggali nilai-nilai keadilan di masyarakat dan membuat putusan yang merefleksikan nilai-nlai keadilan substantif yang merupakan salah satu pesan konstitusi dalam menegakkan prinsip keadilan dalam proses peradilan. Hakim tidak hanya “la bauche de la loi” (corong undang-undang), hakim harus menggali dengan pikirannya untuk menemukan
108 Bernadus Nagara, Pembagian Harta Gono-Gini atau Harta Bersama Setelah Perceraian Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, ( Jurnal Lex Crimen, Vol. 5, No. 7, 2016), h. 2
hukumnya dalam menangani kasus yang ditanganinya, sehingga dapat memutus dengan putusan yang adil.109
Berdasarkan teori keadilan commucatief, dimana keadilan tersebut menyebutkan bahwa memberikan sama banyaknya kepada setiap orang tanpa membedabedakan prestasinya, dalam hal ini bearti pembagian harta bersama tersebut haruslah di bagi sama rata yaitu ½ untuk isteri dan ½ siapapun yang menghasilkan harta bersama tersebut. Pembagian harta bersama yang sama rata tersebut apabila suami isteri memiliki kontribusi yang sama dalam menghasilkan harta bersama maka hakim dalam suatu kasus dapat memutuskan pembagian harta bersama tersebut sama rata antara suami dan isteri.
109 Kholil Nawawi, Harta Bersama menurut Hukum Islam dan Perundang-Undangan di Indonesia,( Jurnal Ilmu Syariah, Vol. 1, No. 1, Juni 2013), h. 7.
BAB IV
PERTIMBANGAN HAKIM TENTANG KEDUDUKAN HARTA BAWAAN