TESIS
Oleh
AZMI HARDIANSYAH FITRAH 177011219/ MKn
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh :
AZMI HARDIANSYAH FITRAH 177011219/ MKn
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
Nama : AZMI HARDIANSYAH FITRAH Nomor Pokok : 177011219
Program Studi : Magister Kenotariatan Fakultas Hukum USU
Judul Tesis : KEDUDUKAN HUKUM HARTA BAWAAN YANG DIPEROLEH SETELAH PUTUSNYA PERKAWINAN (STUDI PUTUSAN NO. 491/ PDT/ 2015/ PT. SMG)
Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan plagiat, apabila dikemudian hari diketahui tesis saya tersebut plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberikan sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan saya tidak akan menuntuk pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan,
Yang membuat pernyataan
Azmi Hardiansyah Fitrah NIM : 177011219
i
Azmi Hardiansyah Fitrah4
Perkawinan mengakibatkan suatu ikatan hak dan kewajiban, salah satu akibat perkawinan adalah harta benda perkawinan. Harta bersama akan menjadi persengketaan jika perceraian berlangsung. Adapun dalam penelitian ini perceraian yang terjadi antara Nyonya MS dan Tuan SW telah hidup serumah layaknya suami dan istri tanpa adanya ikatan perkawinan, dan melakukan usaha bersama yaitu Lunpia Espres pada tahun 2004 lalu 2007 mereka melakukan perkawinan dan tanggal 17 Juli 2014 mereka resmi bercerai. Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut akan dianalisa pertimbangan hakim tentang kedudukan harta bawaan yang diperoleh setelah putusnya perkawinan berdasarkan studi putusan No. 491/Pdt/2015/PT.SMG.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif. Data penelitian menggunakan data sekunder dan didukung oleh data primer.
Data dikumpulkan dengan menggunakan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan metode analisis kualitatif.
Kedudukan harta bawaan yang diperoleh dari usaha bersama sebelum perkawinan berdasarkan UU No. 1 Tahun 1974 tidak mengatur bahwa usaha bersama sebelum perkawinan termasuk dalam harta bersama. Maka kedudukannya sebagaimana SHM dan disebut sebagai harta bawaan sipemilik. Putusan MA RI No.
424.K/SIP/1959, menyebutkan harta bersama yang diperoleh selama perkawinan dibagi dua hal ini sesuai dengan keadilan communicatief. Adapun kedudukan harta yang diperoleh berdasarkan usaha bersama sebelum perkawinan sebagai perjanjian usaha bersama antara Ny. MS dan Tn SW tanpa adanya perjanjian tertulis (tidak ada perjanjian perkawinan). Akibatnya harta yang diperoleh sebelum perkawinan menjadi harta bawaan. Pemilikan terhadap harta bawaan (harta pribadi) dijamin keberadaannya secara yuridis oleh UU perkawinan. Berdasarkan penelitian diatas saran peneliti dengan Usaha bersama sebelum perkawinan kiranya harus tertulis mengenai hak dan kewajiban di antara para pihak, ketika melangsungkan perkawinan lebih baiknya membuat perjanjian perkawinan dan dicatatkan oleh Pejabat Umum yaitu Notaris guna memberikan keadilan dan kepastian hukum terhadap para pihak sehingga tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari jika terjadi perceraian.
Kata Kunci : Harta Bawaan, Perkawinan, Perceraian.
1 Ketua Komisi Pembimbing.
2 Dosen Pembimbing Kedua.
3 Dosen Pembimbing Ketiga.
4 Mahasiswa Pasca Sarjana Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
ii
Azmi Hardiansyah Fitrah4
Marriage results in a bond of rights and obligations, one of the consequences of marriage is the property of marriage. Joint property will be a dispute if the divorce takes place. In this study, the divorce that occurred between Mrs. MS and Mr. SW had been living together like a husband and wife without any marital ties, and doing business together namely Lunpia Espres in 2004 and then in 2007 they had a marriage and on July 17, 2014 they officially divorced. Based on the background of the research will be analyzed the judge's consideration of the position of property obtained after the breakup of marriage based on the study of the verdict No. 491 / Pdt / 2015 / PT. Smg.
This research was conducted using normative legal research methods.
Research data uses secondary data and is supported by primary data. Data is collected using literature studies. Data analysis is done by qualitative analysis method.
The position of property obtained from joint ventures before marriage under Law No. 1 of 1974 does not regulate that joint ventures before marriage are included in the common property. Thus its position as SHM and referred to as the property of the owner. The decision of MA RI No. 424.K/SIP/1959, mentions the common property obtained during marriage is divided into two things in accordance with communicatief justice. The position of property obtained by joint venture before marriage as a joint venture agreement between Mrs. MS and Mr. SW without a written agreement (no marriage agreement). And Allah is All-Hearing, All-Knower.
Ownership of property (personal property) is guaranteed its existence juridically by the Law on Marriage. Based on the research above the advice of researchers with joint ventures before marriage should be written about the rights and obligations among the parties, when conducting marriage it is better to make marriage agreements and recorded by the Public Official namely Notary in order to provide justice and legal certainty to the parties so as not to cause problems in the future in case of divorce.
Keywords: Property, Marriage, Divorce.
1 Chairman of the Research Advisory Commission..
2 Second Research Supervisor.
3 Third Research Supervisor.
4 Graduate Student of Notarism University of North Sumatra.
iii
rahmatnya, Allah SWT masih memberikan nikmat kesehatan dan kelapangan berpikir kepada penulis, sehingga karya tulis ilmiah dalam bentuk tesis ini dapat selesai dengan baik.
Tesis ini berjudul : “Kedudukan Hukum Harta Bawaan Yang Diperoleh Setelah Putusnya Perkawinan (Studi Putusan No. 491/Pdt/2015/PT.SMG)”. Penulisan tesis ini bertujuan memenuhi persyaratan mencapai gelar Magister Kenotariatan pada Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
Proses penulisan tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan berupa arahan dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1. Orang tua tercinta, ayahanda SUGIANTO dan ibunda JUARIANA yang telah mencurahkan kasih sayang, do’a dan memberikan dukungan moril serta materil yang tiada terhingga. Semoga dengan terselesaikannya tesis ini turut membahagiakan kedua orang tua dan menjadikan penulis sebagai anak yang berkepribadian baik dan selalu bersyukur.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
v
penulis selama menyelesaikan penulisan tesis ini.
5. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A,S.H.,CN,M.Hum Selaku Ketua Pasca Sarjana Magister Kenotariatan USU sekaligus Dosen Pembimbing II yang telah ikhlas dalam membimbing penulis selama menyelesaikan penulisan tesis ini.
6. Ibu Dr. Idha Aprilyana Sembiring S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing III yang telah meluangkan waktu dan penuh kesabaran dalam membimbing penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
7. Ibu Dr. Yefrizawati, S.H.,M.Hum Selaku Dosen Penguji I yang bersedia memberikan kritik dan saran terhadap tesis ini agar penulisan tesis ini menjadi lebih baik.
8. Bapak Dr. Edi Ikhsan, S.H.,M.A selaku Dosen Penguji II yang bersedia memberikan kritik dan saran yang membangun terhadap penulisan tesis ini, sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih baik.
9. Bapak/ Ibu Dosen dan seluruh pegawai staf administrasi di Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara yang senantiasa ikhlas dan sabar membantu penulis demi kelancaran penulisan tesis ini.
10. Adinda, Pipi Indah Lestari S.Ak Terkasih dan Tersayang yang selalu mendampingi terhadap penulisan tesis ini, telah mencurahkan kasih sayang, do’a dan memberikan dukungan moril yang tiada terhingga. Sehingga dapat terselesaikannya Tesis ini dengan baik.
v
Sehingga dapat terselesaikannya Tesis ini dengan baik.
12. Rekan – rekan se-almamater senasib dan seperjuangan pada Pascasarjana Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara yang silih berganti memberikan dukungan dalam menyelesaikan tesis ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga penelitian ini berguna bagi para pembaca dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Medan, 25 Mei 2021 Penulis
AZMI HARDIANSYAH FITRAH
vi Tempat Lahir : Sengon Sari
Umur/ Tanggal lahir : 25 Tahun/ 20-02-1996
Alamat : Dusun II Desa Sengpn Sari Kec. Aek Kuasan Kab.
Asahan Provinsi Sumatera Utara Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki- laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Status : Lajang
Nama Orang Tua Laki- laki : Sugianto Nama Orang Tua Perempuan : Juariana
Anak Ke : 2) dari 4 bersaudara
Pendidikan :Tamat SD N 013826 Sengon Sari (2007) Mts An-Nuur Sengon Sari (2010) SMA N 1 Aek Kuasan (2013) Sarjana Hukum Universitas Asahan (2017) Tahun masuk di Pascasarjana Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan tahun 2017.
vii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ……….. vi
DAFTAR ISI ………...… vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Keaslian Penulisan ... 9
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 12
G. Metode Penelitian ... 21
BAB II KEDUDUKAN HARTA BAWAAN YANG DIPEROLEH DARI USAHA BERSAMA SEBELUM PERKAWINAN BERDASARKAN UNDANG –UNDANG NO. 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN... 26
A. Harta dalam Perkawinan ... 26
1. Perkawinan ... 26
2. Harta Bersama... 30
3. Harta Bawaan ... 35
B. Kedudukan harta Bawaan yang diperoleh dari Usaha Bersama Sebelum perkawinan ... 38
BAB III KEDUDUKAN HARTA SETELAH PUTUSNYA PERKAWINAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN... 43
A. Putusnya perkawinan... 43
1. Putusnya perkawinan... 43
2. Akibat hukum putusnya perkawinan ... 49
B. Kedudukan harta setelah putusnya perkawinan... 53
1. Kedudukan hukumnya ... 53
2. Kedudukan harta bersama setelah putusnya perkawinan ... 58
BAB IV PERTIMBANGAN HAKIM TENTANG KEDUDUKAN HARTA YANG DIPEROLEH SETELAH PUTUSNYA PERKAWINAN STUDI PUTUSAN NO. 491/PDT/2015/PT.SMG. ... 66
viii
2. Di tingkat Pengadilan Tinggi (PT) ... 74
a. Alasan Banding... 74
b. Pertimbangan Hakim... 74
c. Putusan... 79
B. Analisis Putusan... 81
BAB V PENUTUP ... 98
A. Kesimpulan ... 98
B. Saran ... 99
DAFTAR PUSTAKA ……… 101
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Setiap manusia mempunyai naluri atau keinginan untuk memiliki generasi atau keturunan. Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disebut UU Perkawinan) yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 1974 adalah merupakan salah satu bentuk unifikasi dan kodifikasi hukum di Indonesia tentang Perkawinan beserta akibat hukumnya. Perkawinan merupakan suatu ikatan antara seorang pria dan seorang wanita yang diakui sah oleh perundang-undangan negara dan bertujuan untuk membentuk dan membina kehidupan keluarga yang kekal dan abadi.1
Perkawinan mengakibatkan suatu ikatan hak dan kewajiban, juga menyebabkan suatu bentuk kehidupan bersama dari para pribadi yang melakukan hubungan perkawinan itu, yaitu membentuk suatu keluarga atau somah (gezin atau household).2Ikatan hak dan kewajiban suami istri terkait harta benda dalam perkawinan telah diatur dalam Undang-Undang Perkawinan dan Kitab Undang- Undang Hukum Perdata (KUHPer).
Salah satu akibat hukum dari suatu perkawinan yang sah adalah terciptanya harta benda perkawinan. Harta atau kekayaan perkawinan diperlukan guna memenuhi segala keperluan yang dibutuhkan dalam kehidupan berkeluarga.3 Terkait harta bersama, harta tersebut ada yang diperoleh sebelum perkawinan dan
1Soedharyo Soimin, Hukum Orang dan Keluarga Perspektif Hukum Perdata Barat/BW, Hukum Islam, dan hukum adat, Sinar Grafika, Jakarta, 2004, h. 6.
2Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002), h. 244.
3Sonny Dewi Judiasih, Kajian Terhadap Kesetaraan Hak dan Kedudukan Suami dan Istri atas Kepemilikan Harta Dalam Perkawinan, PT.Refika Aditama, Bandung, 2015, h. 23.
1
sesudah dilangsungkannya perkawinan. Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.4 Pengaturan terkait harta benda dalam perkawinan ini perlu guna mencegah adanya perselisihan antara suami dan istri terkait harta benda dalam perkawinan yang selanjutnya juga akan turut merugikan hak seorang anak dalam perkawinan.
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Undang-Undang Perkawinan) telah memuat beberapa pasal tentang harta bersama, tepatnya dalam Bab VII pasal 35 sampai dengan Pasal 37, yaitu:
Pasal 35 Undang-Undang Perkawinan menyebutkan bahwa:
1. Harta benda diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama
2. Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
Pasal 36 Undang-Undang Perkawinan menyebutkan bahwa :
1. Mengenai harta bersama, suami dan istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak;
2. Mengenai harta bawaan masing-masing suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.
4Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa:
Bila perkawinan putus karena perceraian harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.
Aturan-aturan pasal tersebut pada dasarya telah memberikan gambaran cukup jelas, namun secara implisit apabila dianalisis lebih lanjut ternyata ungkapan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan terungkap bahwa yang dimaksud dengan “hukumnnya masing-masing” ialah hukum agama, hukum adat, dan hukum lainnya.5
Menurut M. Yahya Harahap dalam Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan dan penjelasannya, ternyata Undang-Undang Perkawinan ini tidak memberikan keseragaman hukum positif tentang bagaimana penyelesaian harta bersama apabila terjadi perceraian.6 UU Perkawinan tidak menguraikan lebih lanjut mengenai wujud dan ruang lingkup dari harta bersama itu, meskipun demikian, telah tertanam suatu kaidah hukum bahwa semua harta yang diperoleh selama masa perkawinan menjadi yurisdiksi harta bersama.7
Seluruh harta benda suami maupun istri tidak serta merta dipersatukan dan menjadi milik bersama, namun ada ketentuan-ketentuan yang diatur dalam undang-undang yang menyebutkan adanya pemisahan antara harta bawaan dari masing-masing suami istri yang tetap berada di bawah pengawasan masing- masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian
5M. Yahya Harahap, Pembahasan Perkawinan Nasional Berdasarkan Undang- Undang No. 1 Tahun 1974, Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1974, Zahir Trading Co, Medan 1975. h. 125
6Ibid.
7Abdul Manaf, Aplikasi Asas Equalitas Hak dan Kedudukan Suami Istri Dalam Penjaminan Harta Bersama Pada Putusan Mahkamah Agung, Mandar Maju, Bandung, 2006, h.
46.
perkawinan. Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa perkawinan dapat putus karena :
1. Kematian;
2. Perceraian dan
3. Atas putusan pengadilan.8
Harta bersama akan menjadi persengketaan jika perceraian berlangsung.
Lembaga peradilan pun akan cukup berperan dalam proses penyelesaian persengketaan dimaksud, lembaga peradilan akan menjadi media suami istri yang bersengketa untuk menuangkan segala argumentasi mereka, khususnya dalam rangka mewujudkan keinginan masing-masing pihak untuk menguasai harta.
Perceraian merupakan salah satu penyebab putusnya perkawinan. Putusnya suatu perkawinan karena adanya kesepakatan kedua belah pihak antara suami istri untuk mengakhiri perkawinan mereka, oleh karena tidak ada kecocokan diantara mereka sehingga salah satu pihak mengajukan gugatan ke pengadilan. Gugatan cerai diajukan sesuai dengan agama yang dianut. Apabila yang bersangkutan beragama Islam maka gugatan diajukan ke Pengadilan Agama, sedangkan bagi yang tidak beragama Islam mengajukan gugatan perceraiannya ke Pengadilan Negeri, sesuai alasan-alasan cerai sebagaimana yang ditegaskan dalam
Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yaitu :
1. Apabila salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
8Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut- turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
3. Salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat sebelah setelah perkawinan berlangsung;
4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajiban sebagai suami/istri;
6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.9
Adapun terkait dalam penelitian ini berdasarkan studi kasus, Nyonya MS dan Tuan SW telah hidup serumah layaknya suami dan istri tanpa adanya ikatan perkawinan sekitar Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2006 dirumah orang tua MS di daerah Brondongan Kota Semarang, Bahwa pada Tahun 2004 antara MS dan SW sepakat untuk mendirikan usaha LUNPIA EXPRESS, Bahkan ada juga modal secara materi dari orang tua MS sebagai usaha bersama, Orang tua MS bertugas untuk mengolah dan memasak sampai tersajinya Lunpia sedangkan MS sebagai marketing.
Persetujuan tertentu yang dilakukan oleh Nyonya MS dan Tuan SW yang tinggal serumah layaknya suami dan istri tanpa adannya ikatan perkawinan tersebut, dalam hal ini melakukan kerja sama dan mendirikan usaha Lunpia Express, kesepakatan perjanjian kerjsa sama yang dilakukan Nyonya MS dan Tuan SW dalam hal ini telah memenuhi syarat sahnya perjanjian menurut 1320 KUH Perdata, lebih jelas lagi dikatakan dalam pasal 1347 KUH Perdata, hal-hal
9Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang- Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
menurut kebiasaan selamanya diperjanjikan, dianggap secara diam-diam dimasukkan dalam perjanjian, meskipun dengan tidak tegas dinyatakan.10
Sedangkan SW bertindak seolah-olah sebagai pemilik dikarenakan sejak awal berdiri mereka sepakat izin Lunpia tersebut adalah atas nama SW, Pada tahun 2006 hasil dari keuntungan Lunpia tersebut mereka sepakat untuk membeli sebuah rumah seharga Rp. 1.000.000.000, (Satu Milyar Rupiah), Bahwa dikarenakan belum memiliki ikatan suami dan istri maka mereka berdua sepakat nama tersebut dibuat atas nama SW. Jadi hubungan hukum dari tahun 2003 sehingga 2006 antara Nyonya MS dan Tuan SW adalah rekan bisnis usaha Lunpia Express di Kota Semarang.
Usaha Lunpia Espres tersebut, secara umum dapat dikatakan perjanjian kerja sama usaha antara MS dan SW dan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikat dirinya terhadap satu orang atau lebih.11 Suatu perjanjian dapat dilakukan terhadap apa saja yang disepakati sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan norma yang berlaku. Dalam bentuknya perjanjian dapat berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucap maupun ditulis.12
Tanggal 20 Januari 2007 antara MS dan SW melangsungkan perkawinan dan terdaftar di Kantor Dinas Pendaftaran Penduduk dan Catatan Sipil Kota Semarang, Dalam perkawinan mereka tidak ada perjanjian kawin dan pemisahan
10 Wirjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perjanjian, ( Bandung : Sumur, 1993) h.
87.
11 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal 1313.
12 Billy Dicko Stepanus Harefa, Kekuatan Hukum Perjanjian Lisan Apabila Terjadi Wanprestasi ( Studi Putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta Nomor 44/Pdt.G/2015/PN.YYK).
Jurnal Hukum Privat Law Vol. IV No. 2 Juli – Desember 2016, h. 114.
harta, Tahun 2007 sampai dengan Tahun 2013 hasil dari keuntungan Lunpia dibelikan Tanah dan Rumah seharga Rp. 7.000.000.000, (Tujuh Milyar Rupiah), Lima unit Mobil dengan harga total Rp. 2.700.000.000, (Dua Milyar Tujuh Ratus Juta Rupiah), Deposito/Tabungan diperkirakan Rp. 10.000.000.000, (Sepuluh Milyar Rupiah).
Perkawinan antara MS dan Sugianto Winarso pun mengalami permasalahan, awal mula terjadinya ketidak cocokan itu berasal dari adanya tindakan SW yang mengharuskan seluruh keuntungan dari Lunpia tersebut masuk ke Rekeningnya, hal ini pun mengakibatkan perceraian itu terjadi, Tanggal 17 Juli 2014 mereka resmi bercerai berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Semarang.
Berdasarkan uraian diatas, bahwa perkawinan antara Nyonya MS dan Tuan SW awalnya adalah rekan bisnis Lunpia Express di Kota Semarang, hal ini jelas terkait harta adalah kontrak bisnis usaha bersama, namun setelah perkawinan berlangsung timbullah harta bersama.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas menarik untuk diteliti tentang kedudukan hukum harta bawaan yang diperoleh setelah putusnya perkawinan (Studi Putusan No. 491/ Pdt/ 2015/ PT. SMG).
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana kedudukan harta bawaan yang diperoleh dari usaha bersama sebelum perkawinan berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan?
2. Bagaimanakah kedudukan harta setelah putusnya perkawinan berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan?
3. Bagaimana pertimbangan hakim tentang kedudukan harta bawaan yang diperoleh setelah putusnya perkawinan berdasarkan studi putusan No.
491/Pdt/2015/PT.SMG?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan ruang lingkup permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka yang menjadi tujuan penulisan tesis ini yaitu :
1. Untuk mengetahui kedudukan harta bawaan yang diperoleh dari usaha bersama sebelum perkawinan berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
2. Untuk mengetahui kedudukan harta setelah putusnya perkawinan berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hakim tentang kedudukan harta bawaan yang diperoleh setelah putusnya perkawinan berdasarkan studi putusan No. 491/Pdt/2015/PT.SMG.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan memberikan teoritis maupun manfaat praktis, sebagai disiplin ilmu yang ditekuni oleh peneliti maupun praktisi seluruh lembaga dalam hal harta bersama sebagai berikut :
a. Secara Teoritis, dengan adanya penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi, referensi serta konstribusi pemikiran dan menambah wawasan.
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi
peningkatan dan pengembangan ilmu pengetahuan serta manfaat secara teoritis berupa pengetahuan dalam bidang ilmu hukum perkawinan tentang hukum harta bersama pada Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
b. Secara Praktis, penelitian ini diharapkan pula dapat bermanfaat nantinya bagi masyarakat untuk mengetahui analisis yuridis terhadap hukum perkawinan terhadap harta bersama, khususnya pihak pengadilan dalam menangani permasalahan tentang harta bersama dan dapat memudahkan pemahaman dalam hukum perkawian terhadap harta bersama di Indonesia sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
E. Keaslian Penulisan
Berdasarkan hasil penelusuran atau pemeriksaan yang telah dilakukan oleh peneliti di perpustakaan Universitas Sumatera Utara secara khusus di Pascasarjana Magister Kenotariatan, baik yang telah rampung menjadi sebuah hasil penelitian ataupun yang masih berjalan atau sedang dikerjakan, diketahui bahwa penelitian dengan judul tesis ini adalah “Kedudukan Hukum Harta Yang Diperoleh Berdasarkan Usaha Bersama Sebelum Perkawinan (Studi Putusan No. 491/ Pdt/
2015/ PT. SMG)” belum pernah dilakukan dalam pendekatan dan perumusan masalah yang sama. Namun ada tesis terdahulu dengan masalah harta bersama yaitu :
1. Ismy Syafriani Nasution (2009) dengan judul penelitian Akibat Hukum Perceraian Terhadap Harta Bersama Berdasarkan Undang-Undang No. 1
Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah :
a. Bagaimana akibat hukum penyelesaian sengketa terhadap harta bersama menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasai Hukum Islam?
b. Bagaimana Pertimbangan hakim dalam menentukan pembagian harta bersama akibat hukum perceraian?
c. Bagaimanakah akibat hukum penyelesaian sengketa yang berkaitan dengan pemeliharaan anak dari pembagian harta bersama setelah terjadinya perceraian dikaitkan dengan perjanjian perkawinan?
Pada penelitian diatas mengacu pada akibat hukum penyelesaian sengketa yang berkaitan dengan pemeliharaan anak dari pembagian harta bersama.
Perbedaannya dalam penelitian ini membahas mengenai kedudukan hukum harta yang diperoleh pada harta bersama sebelum perkawinan pada Putusan Pengadilan No. 491/ Pdt/ 2015/ PT. SMG .
2. Lydia Natalia Tanaka (2012) dengan judul penelitian Aspek Hukum Sita Material terhadap Sengketa Harta Bersama dalam Perkawinan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ( KUHPerdata) dan Undang- Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Adapun permasalahan dalam penelitian ini, adalah :
a. Bagaimana kedudukan hukum harta bersama dalam perkawinan menurut Undang-Undang Perkawinan dalam hal terjadi perceraian antara suami istri?
b. Bagaimana penerapan ketentuan hukum positif tentang sita marital dalam perkara pembagian harta bersama apabila terjadi perceraian suami istri?
c. Apakah yang menjadi dasar pengajuan sita marital oleh istri selaku penggugat dalam perkara perdata antara Felicia Juliati melawan Iwan Gunawan dahulu Tjioe Kok An dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 390 / K/ Pdt/ 2002, tanggal 26 maret 2007 serta konsekuensi hukumnya?
Pada penelitian diatas mengacu pada dasar pengajuan sita marital oleh istri selaku penggugat dalam perkara perdata Putusan Mahkamah Agung RI No. . No.
390 / K/ Pdt/ 2002, Perbedaannya didalam penelitian ini membahas mengenai menganalisis pertimbangan hakim tentang kedudukan harta bawaan yang diperoleh setelah putusnya perkawinan berdasarkan studi putusan No.
491/Pdt/2015/PT.SMG.
Demikian apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, pada rumusan permasalahan yang akan diteliti dalam penulisan tesis ini berbeda. Oleh karena itu, peneliti yakin bahwa judul tesis dan permasalahan yang akan diteliti belum pernah diteliti dan ditulis dalam bentuk karya ilmiah oleh siapapun sebelumnya di Pascasarjana Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, sehingga penulisan tesis ini adalah asli karena sesuai dengan asas-asas keilmuan yaitu jujur, rasional, obyektif, dan terbuka, sehingga penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah dan terbuka atas masukan serta saran-saran yang membangun dengan pendekatan dan perumusan masalah.
F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsepsi 1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat mengenai sesuatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan dan pegangan teoritis. Kerangka teori merupakan susunan dari beberapa anggapan, pendapat, cara, aturan, asas, dan keterangan sebagai satu kesatuan yang logis menjadi landasan, acuan, dan pedoman untuk mencapai tujuan.13
Teori juga bermanfaat untuk memberikan dukungan analisa atau topik yang sedang dikaji, serta bermanfaat sebagai pisau analisis dalam pembahasan terhadap penelitian, berupa fakta dan peristiwa hukum yang terjadi sekaligus berfungsi sebagai wacana yang memperkaya dan mempertajam argumentasi dalam memahami masalah yang menjadi objek penelitian.14
Pemikiran teori hukum tidak terlepas dari keadaan lingkungan dan latar belakang permasalahan hukum atau menggugat suatu pemikiran hukum yang dominan pada saat itu. Pemikiran tentang teori hukum adalah akumulasi keresahan maupun sebuah jawaban dari masalah kemasyarakatan yang dihadapi oleh generasi saat itu.15 Menurut Bruggink, teori hukum adalah suatu keseluruhan pernyataan yang saling berkaitan dengan sistem konseptual aturan-aturan hukum
13Muhammad Abdul Kadir, Hukum dan Penelitian Hukum, PT Citra Aditya Bakti, Bandung , 2004, h. 72-73.
14Mukti Fajar dan Yulianto, Dualisme Penelitian Hukum normative dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, h. 44.
15Satjipto Rahardjo, Pengantar Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 1986, h. 4.
dan putusan-putusan hukum dan sistem tersebut untuk sebagian yang penting dipositifkan.16
Teori hukum merefleksikan perjuangan hukum berada diantara tradisi dan kemajuan, stabilitas, dan perubahan, kepastian, dan keleluasaan. Sepanjang objek hukum adalah menciptakan ketertiban, maka penekananannya diletakkan pada kebutuhan akan stabilitas dan kepastian. Pada umumnya teori-teori hukum dan para ahli hukum cenderung untuk lebih menekankan pada stabilitas daripada perubahan.
Definisi landasan teori pada suatu penelitian merupakan dasar-dasar operasional penelitian. Landasan teori dalam suatu penelitian bersifat strategis artinya memberikan realisasi pelaksanaan penelitian.17 Dalam menjawab rumusan masalah yang ada kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penulisan ini adalah teori kepastian hukum dan teori keadilan.
a. Teori Kepastian Hukum
Teori Kepastian Hukum. Kepastian hukum merupakan perlindungan yustiabel terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti seseorang akan dapat
memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum
16J. J. H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1999, h.
159-160.
17Kaelan M. S., Metode penelitian Kualitatif Bidang Filsafat (Paradigma bagi pengembangan Penelitian Interdisipliner Bidang Filsafat, Budaya, Sosial, Semiotika, Sastra, Sanksi dan Seni). Paradigma, Yogyakarta, 2005, h. 239.
masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena bertujuan ketertiban masyarakat.18
Soerjono Soekanto menyatakan bahwa wujud kepastian hukum adalah peraturan-peraturan dari pemerintah pusat yang berlaku umum diseluruh wilayah negara.19
Teori Kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian yaitu pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputuskan.20
Bila kepastian hukum yang dijadikan sasaran, maka hukum formal adalah wujud yang dapat diambil sebagai tolak ukurnya, dengan demikian perlu mengkaji hukum formal sebagai basis menganalisis suatu kebijakan yang dapat memberikan kepastian hukum di dalam menggerakkan usaha tersebut kedepan.21
18Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum ( Suatu Pengantar). (Yogyakarta : Liberty, 1988) Hlm. 3.
19Sentosa Sembiring, Hukum Investasi. (Bandung : CV. Nuansa Aulia, 2010). Hlm.
19.
20Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum ( Jakarta : Kencana Pranada Media Group, 2008). Hlm. 158.
21Muhammad Yamin, Beberapa Dimensi Filosofis Hukum Agraria. ( Medan : Pustaka Bangsa Press, 2003). Hlm. 46.
Dalam menjamin kepastian menjadi tugas hukum, hukum berhasil menjamin sebanyak-banyaknya kepastian hukum dalam hubungan-hubungan kemasyarakatan. Tuntutan dari nilai kepastian hukum adalah hukum itu harus berjalan sesuai dengan ketentuannya didalam mengatur hubungan antara manusia dan harus diutamakan.22
Teori kepastian hukum dipandang tepat dalam menjawab rumusan masalah penelitian ini, dikarenakan pada dasarnya hukum harta bersama harus memberikan kepastian hukum kepada masing-masing pihak baik dari pihak laki- laki maupun perempuan.
b. Teori Keadilan
Menurut Radbruch, hukum sebagai gagasan kultural tidak bisa formal, tetapi harus diarahkan kepada cita-cita hukum yaitu keadilan, untuk mengisi cita keadilan itu, kita harus menoleh kepada kegunaannya sebagai unsur kedua dari cita hukum. Pengertian kegunaan hanya dapat dijawab dengan menunjukkan pada konsepsi-konsepsi yang berbeda tentang negara dan hukum. Untuk melengkapi formalitas keadilan dan relativitas kegunaan, keamanan dimasukkan sebagai unsur ketiga dari cita hukum. Kegunaan menuntut kepastian hukum. Hukum harus pasti. Tuntutan akan keadilan dan kepastian merupakan bagian-bagian yang tetap dari cita hukum, dan ada di luar pertentangan-pertentangan bagi pendapat politik.
Kegunaan memberi unsur relativitas. Tetapi tidak hanya kegunaan sendiri yang relatif, hubungan antara tiga unsur dari cita hukum itu juga relatif. Seberapa jauh
22E.Utrech, Pengantar Ilmu Hukum. (Jakarta : Balai Buku Ichtiar, 1957). Hlm. 254
kegunaan lebih kuat dari keadilan atau keamanan lebih penting dari kegunaan, merupakan masalah yang harus diputuskan oleh sistem politik.23
Aristoteles membagi keadilan menjadi tiga yakni keadilan distributif, keadilan komutatif (keadilan korektif), dan keadilan hukum (legal justice).
Pembagian ini bertujuan untuk menemukan kesamaan. Keadilan distributif menurutnya memberikan setiap orang apa yang patut didapatnya atau yang sesuai dengan prestasinya seperti jasa baik (merits) dan kecurangan/ ketercelaan (demerits), yang merupakan pekerjaan yang lebih banyak dilakukan oleh badan legislatif.24
Keadilan distributif berlaku dalam hukum publik, dan keadilan korektif yang kedua berlaku dalam hukum perdata dan pidana. Pembagian keadilan distributif dan korektif dilakukan atas dasar karena sama-sama rentan memaknai kesamaan atau kesetaraan dan hanya bisa dipahami dalam kerangkanya saja. Hal yang penting dalam keadilan distributif adalah imbalan-imbalan yang sama rata diberikan atas pencapaian yang sama rata, sedangkan pada keadilan korektif yang menjadi persoalan adalah bahwa ketidaksetaraan yang disebabkan oleh pelanggaran kesepakatan harus dikoreksi dan dihilangkan.25
Pengertian keadilan komutatif menurut Aristoteles adalah memberikan kepada setiap orang haknya atau sedekat mungkin dengan haknya (to give each one his due) tidak sama rata. Mengusahakan keadilan komutatif ini merupakan
23W. Friedman, Legal Theory, diterjemahkan oleh Muhammad Arifin, Teori dan Filsafat Hukum-Idealisme Filosofis dan Problema Keadilan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994, h. 42-45.
24Munir Fuady. Dinamika Teori Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor, 2007, h. 111.
25Carl Joachim Friedrich diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, Filsafat Hukum Perspektif Historis, Nusa Media, Bandung, 2010, h. 25.
pekerjaanya para hakim. Misalnya menjatuhkan hukuman sesuai dengan kesalahannya atau memberikan ganti rugi sesuai kerugian yang dideritanya, sehingga tidak ada orang yang mendapatkan keuntungan atas penderitaan orang lain, atau tidak ada orang yang menari-nari di atas duka lara orang lain.26
Bentuk keadilan komutatif inilah yang disebut-sebut sebagai keadilan korektif. Keadilan korektif berupaya mengoreksi keadilan distributif di pengadilan. Siapakah yang berperan penting dalam mengoreksi keadilan itu adalah para hakim pengadilan. Itu sebabnya sejalan dengan kekuasaan kehakiman diberikan kewenangan kepada para hakim untuk menemukan hukum termasuk menemukan keadilan bagi para pencari keadilan.
Keadilan korektif berfokus pada pembetulan sesuatu yang salah. Jika suatu perjanjian dilanggar atau kesalahan dilakukan, maka keadilan korektif berupaya memberikan kompensasi yang memadai bagi para pihak yang dirugikan. Jika suatu kejahatan telah dilakukan maka hukuman yang sepantasnya perlu diberikan kepada si pelaku. Jika ada pertengahan antara dua ekstrem yang mempersoalkan ketidakadilan, maka keadilan korektif lah yang berupaya mengoreksi ketidakadilan itu.27
Hukum hanya meninjau pada perbedaan yang diciptakan oleh suatu pelanggaran, dan memperlakukan setiap manusia sebagai makhluk yang setara dari sananya, di mana yang satu menciptakan kerugian dan yang lain menderita kerugian, atau seseorang berbuat dan orang lain menerima akibat dari perbuatan
26Munir Fuady, Loc.cit., h. 113.
27Carl Joachim Friedrich diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, Filsafat Hukum Perspektif Historis, Nusa Media, Bandung , 2010, h. 26.
orang tersebut. Nyatalah bahwa keadilan korektif merupakan wilayah peradilan yang tepat, sedangkan keadilan distributif merupakan bidangnya Pemerintah.28
Pengertian keadilan hukum (legal justice) menurut Aristoteles membicarakan keadilan yang telah dirumuskan oleh hukum (hak dan kewajiban) dalam undang-undang, di mana pelanggaran terhadap keadilan hukum ini akan ditegakkan melalui proses hukum, umumnya di pengadilan.29
Sebagaimana Aristoteles melihat keadilan dengan dasar yang rasional (penalaran), John Rawls juga mendasarkan pada rasionalitas untuk melihat keadilan. Sesuatu itu adil atau tidak adil menurut John Rawls harus didukung dengan penilaian-penilaian yang rasional atau penalaran. Rasionalitas merupakan dasar keadilan korektif. Setiap orang memiliki hasrat untuk bertindak sesuai dengan penilaian-penilaian dan mengharapkan hasrat sesuai dengan yang ada pada orang lain. Bahkan beliau katakan bahwa kapasitas moral sangat jelas dan kompleks.30
John Rawls mengembangkan keadilan yang dibagi-bagi oleh Aristoteles tersebut khususnya keadilan yang mesti dikembalikan oleh hukum (keadilan korektif). Menurutnya, keadilan akan diperoleh jika dilakukan maksimum penggunaan barang secara merata dengan memperhatikan kepribadian masing- masing (justice fairnes).31
28Munir Fuady, Loc.cit., h. 115.
29Ibid.
30John Rawls diterjemahkan oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, Teori Keadilan, Dasar-Dasar Filsafat Politik Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Dalam Negara, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, h. 73.
31Ibid., h. 73.
Aristoteles membuat pembedaan penting antara kesamaan numerik dan kesamaan proporsional. Kesamaan numerik mempersamakan setiap manusia sebagai satu unit. Inilah yang sekarang biasa dipahami tentang kesamaan dan dimaksudkan ketika mengatakan bahwa semua warga adalah sama di depan hukum (equality before the law). Dipandang adil menurut asas ini menghendaki setiap orang diperlakukan sama dengan memberikan hak yang sama, tidak boleh dibeda-bedakan satu sama lainnya.32 Mirip dengan kesamaan proporsional yang memberi setiap orang yang menjadi haknya sesuai dengan kemampuannya, prestasinya, dan sebagainya, walaupun pembedaan Aristoteles ini menghadirkan kontroversi seputar keadilan.33
Sedikitnya dapat dipahami gambaran tentang keadilan walaupun hanya dijelaskan dengan menggunakan teori-teori keadilan versi Aristoteles tersebut di atas, namun pandangan tentang keadilan menurut pakar yang lain seperti Socrates, Plato, Curzon, Eugene C. Gerhart, Bruce Nash, Allan Zullo, John Rawls, Jeremy Bentham, Cicero, Benjamin N. Cardozo, memiliki teori tentang keadilan dengan mengakhiri teorinya pada tujuan hukum untuk mewujudkan keadilan semata.34
Penelitian ini berusaha untuk memahami keadilan dari kedudukan harta bersama yang diperoleh. Pengaturan harta benda perkawinan diatur dalam pasal 35 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yaitu:
(1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.
32Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebagai Pengantar, Liberty, Yogyakarta, , 2009, h. 10.
33Carl Joachim Friedrich diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, Op.cit., h. 24.
34Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legispridence), Kencana, Jakarta, 2009, h. 217-221.
(2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.35
Teori keadilan sangat diperlukan untuk menjamin ketentraman dan pembahasan mengenai kedudukan hukum harta bersama pada hakekatnya tidak dapat terlepas dari hubungan dengan masalah kepastian hukum. Menjawab rumusan permasalahan yang ada kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalampenulisan ini adalah teori keadilan.
2. Kerangka Konsepsi
Kerangka konsepsi atau konsepsional perlu dirumuskan dalam penelitian sebagai pegangan ataupun konsep yang digunakan dalam penelitian. Biasanya kerangka konsepsional dirumuskan sekaligus dengan definisi-definisi tertentu, yang dapat dijadikan pedoman operasional didalam proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan kontruksi data.36 Konsep yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah konsep yang terkait langsung dengan variable penelitian dan untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap kerangka konsep yang digunakan, oleh karena itu di dalam penelitian ini di rumuskan konsep dengan menggunakan model definisi operasional, yaitu:
35Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
36Soerjono Soekanto dan Purnadi Purbacaraka, Perihal Kaedah Hukum, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1993, h. 137.
a. Perkawinan adalah ikatan lahir batin anatara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ke Tuhanan YME.37
b. Harta Bersama adalah hak milik bersama yang terikat karena perjanjian perkawinan antara suami dan istri berdasarkan Undang-Undang Perkawinan, dimana perjanjian perkawinan terjadi sejak atau sesudah dilangsungkan perkawinan.38
c. Putusan Hakim adalah pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu, diucapkan di persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak.39 Dalam perkara perdata putusan Pengadilan Tinggi No. 491/ Pdt/
2015/ PT. SMG yang telah diputus dan berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).
d. Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.40
G. Metode Penelitian
Metode adalah cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan, sedangkan cara penelitian merupakan suatu kerja ilmiah yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten. Metode penelitian hukum
37Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
38M. Marwan dan Jimmy P, Kamus hukum, Dictionary of Law Complete Edition, Reality Publisher, Surabaya, 2009, h. 249-250.
39Sudikno Mertukusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 2006, h. 210.
40 Pasal 1313 Kitan Undang-Undang Hukum Perdata.
merupakan suatu cara yang teratur (sistematis) dalam melakukan sebuah penelitian.41
Pada penelitian hukum, bahan pustaka merupakan data dasar yang dalam penelitian digolongkan sebagai data sekunder. Pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan cara studi kepustakaan. Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara menginventaris, memahami dan mempelajari bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang terkait dalam penelitian ini. Bahan hukum yang diperoleh melalui studi kepustakaan selanjutnya akan diinterpretasikan untuk memperoleh kesesuaian penerapan peraturan dihubungkan dengan permasalahan yang sedang diteliti dan disistematis sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan dalam penelitian ini.42
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, artinya bahwa penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti tentang harta bersama yang diperoleh sebelum perkawinan.
Deskriptif analistis berarti penelitian ini menggambarkan dan menganalisa suatu peraturan hukum dalam konteks teori-teori dan norma-norma hukum di bidang hukum perkawinan, terutama untuk mengetahui menganalisis pertimbangan hakim tentang kedudukan harta bawaan yang diperoleh setelah putusnya perkawinan berdasarkan studi putusan No. 491/Pdt/2015/PT.SMG.
Analisis data yang dipergunakan pada bahan-bahan hukum dalam penelitian ini akan dilakukan secara analitis kualitatif dan komprehensif terhadap
41Muhammad Abdul Kadir, Op.cit., h. 57.
42Bambang Sugono, Metode Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1994, h.
93.
data primer dan sekunder. Jenis penelitian yang dipergunakan adalah penelitian Yuridis Normatif atas studi kasus. Penelitian Normatif sendiri dapat dipahami sebagai penelitian hukum yang menggunakan sumber data sekunder atau data yang diperoleh melalui bahan-bahan pustaka dengan meneliti sumber-sumber bacaan yang relevan dengan tema penelitian, meliputi penelitian terhadap asas- asas hukum, sumber-sumber hukum, teori hukum, buku-buku, peraturan perundang-undangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisa permasalahan yang dibahas.43 Yuridis normatif berarti penelitian ini mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan khususnya yang berkaitan dengan kedudukan hukum harta bersama yang diperoleh berdasarkan usaha bersama sebelum perkawinan studi Putusan Pengadilan Tinggi No. 491/Pdt/2015/PT/SMG.
2. Sumber Data
Penelitian hukum normatif merupakan penelitian kepustakaan, yaitu penelitian terhadap data sekunder. Data sekunder dibidang hukum antara lain:
a. Bahan hukum primer
Bahan hukum primer adalah bahan-bahan hukum yang mengikat.44 Dokumen peraturan perundang-undangan yang mengikat dan ditetapan oleh pihak yang berwenang.45 Dalam Penelitian ini bahan hukum primer terdiri dari aturan hukum yang diurut berdasarkan :
43Johny Ibrahim, Teori dan Netodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media Publishing, Malang, 2008, h. 25-26.
44Soerjono Soekanto dan Srimamudji, Penelitian Hukum Normatif, IND-HILLCO, Jakarta, 2001, h. 13.
45Ibid.
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
2. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974.
3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, b. Bahan hukum sekunder,
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang menjelaskan bahan hukum primer antara lain berupa jurnal hukum, jurnal ilmiah, surat kabar, internet, makalah-makalah, tulisan tentang pakar hukum dibidang peraturan daerah yang berkaitan dengan objek penelitian.46 Pendapat para ahli yang dijadikan informasi dalam penelitian tesis ini ialah buku-buku yang berkaitan dengan hukum perkawinan terhadap harta bersama.
3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data diawali dengan kegiatan penelusuran peraturan perundang-undangan dan sumber hukum positif lain dari sistem hukum yang dianggap relevan dengan pokok persoalan hukum yang sedang dihadapi.47 Studi kepustakaan ini menghimpun data dari hasil analisa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
Pengumpulkan data dengan wawancara menggunakan instrumen pedoman wawancara sebagai data pendukung serta aktualisasi yang sedang terjadi saat ini
46Ibid.
47Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Cetakan ke-3, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, , h. 109.
terkait persoalan hukum yang dihadapi. Data tersebut akan diperoleh dari hakim di Pengadilan Negeri.
4. Analisis Data
Data yang dikumpulkan melalui pendekatan yang sesuai dengan jenis data yang diperlukan untuk bahan primer diperoleh melalui teknik wawancara secara langsung sedangkan data sekunder diperoleh melalui literatur/ dokumen.
Data yang diperoleh melalui studi lapangan maupun studi kepustakaan dikumpul dan diatur urutannya dan langkah selanjutnya melakukan pengolahan dan menganalisis data.48 Semua data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) kemudian disusun secara berurutan dan sistematis dan selanjutnya dianalisa dengan metode kualitatif sehingga diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam masalah yang akan diteliti.
Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif, yaitu cara berfikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus.49
48Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, h. 103.
49Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, h. 109.
BAB II
KEDUDUKAN HARTA BAWAAN YANG DIPEROLEH DARI USAHA BERSAMA SEBELUM PERKAWINAN BERDASARKAN TINJAUAN
UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN A. Harta Dalam Perkawinan
1. Perkawinan
Menurut Andi Tahir Hamid, dengan lahirnya Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka terjadilah suatu perubahan besar dalam pengaturan mengenai perkawinan, yang berlaku secara nasional bagi bangsa Indonesia. Dengan ketentuan tersebut, penggolongan rakyat berdasarkan rasnya dilapangan hukum perkawinan benar-benar telah dihapuskan, karena ketentuan- ketentuan baru dalam undang-undang Perkawinan itu hanya membedakan orang berdasarkan agamanya. Bila akan melaksanakan hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan dan permasalahannya, maka seseorang beragama islam ke Pengadilan Agama, sedangkan yang bukan beragama islam ke Pengadilan Umum (PN, PT, MA). Ketentuan Bugerlijk Wetboek, Peraturan perkawinan Indonesia Kristen, peraturan perkawinan campuran dan ketentuan lainnya (termasuk mengenai kompetensi) yang bertentangan dengan Undang-Undang Perkawinan, dan sekedar yang sudah ddiatur didalamnya dicabut.50
Perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk waktu lama.51 Konsep Hukum perdata barat atau Kitab Undang-undang Hukum Perdata, perkawinan hanya dipandang sebagai hubungan
50 Andri Tahir Hamid, Beberapa hal Baru tentang Peradilan Agama dan Bidangnya, Sinar Grafika, Jakarta, 1996. h. 12-13.
51 Dedi Soemardi, Pengantar Hukum Indonesia, Indonesia- Hill Co, Jakarta, 1993. h.
5. 26
keperdataan saja.52 Makna perkawinan hanya dilihat dari segi keperdataan ini adalah perkawinan yang sah hanyalah perkawinan yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.53 Dimana hal tersebut memberikan arti bahwa tidak ada campur tangan undang-undang terhadap upacara-upacara keagamaan yang melangsungkan perkawinan yang dilangsungkan dihadapan seorang pegawai catatan sipil/pegawai kantor pencatat perkawinan. Makna yang lebih luar dari segi keperdataan dalam perkawinan ini adalah kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak mempersoalkan perkawinan gereja(agama) dari upacara-upacara perkawinan, hanya mengenal perkawinan yang dilangsungkan menurut Undang-Undang atau yang dilaksanakan oleh Catatan Sipil, Faktor biologis atau kesehatan tidak menghalangi untuk melangsungkan perkawinan, bigami, poligami adalah bertentangan dengan asas- asas perkawinan menurut Undang-Undang. Pengertian perkawinan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata berbeda dengan pengertian menurut Undang- Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pengertian perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan diatur dalam pasal 1, yang menyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami – isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.54
52 Ibid, h. 6.
53 Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 1987. h. 23.
54 Republik Indonesia, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pasal 1.
Pendapat Mohd. Idris Ramulyo, atas pengertian perkawinan menurut pasal 1 UU Perkawinan adalah, perkawinan barulah ada apabila dilakukan anatara seorang pria dan seorang wanita, tidak dapat dinamakan perkawinan apabila terikat dalam perkawinan itu antara seorang pria dengan seorang pria lainnya (homo seksual) ataupun antara seorang wanita dengan seorang wanita lainnya (lesbian). Lebih lanjut dikatakannya, sekiranya ikatan lahir batin itu tidak bahagia, atau perkawinan itu tidak kekal dan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.55
Menurut K. Wanjik Saleh, Perkawinan yang bertujuan membentuk keluarga/rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-isteri. Untuk mencapai tujuan perkawinan itu tidak ada ikatan bathin, karena tanpa ikatan bathin, ikatan lahir menjadi rapuh. Ikatan bathin dapat dirasakan oleh suami isteri dalam taraf permulaan untuk mengadakan perkawinan dengan adanya kemauan yang sungguh-sungguh untuk hidup bersama. Kemudian hidup bersama dalam ikatan perkawinan, ikatan bathin itu tercermin dari adanya kerukunan, seterunya ikatan bathin akan merupakan inti ikatan lahir. Terjalinnya ikatan lahir dan ikatan bathin, merupakan fondasi dalam membentuk dan membina keluarga dengan tujuan untuk mencapai kehidupan yang kekal dan bahagia, dengan demikian dapat diartikan bahwa perkawinan itu haruslah berlangsung seumur hidup dan tidak boleh diputuskan begitu saja.56
Pasal 2 ayat 1 UU Perkawinan dinyatakan, bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya
55 Mohd Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1999.
56 K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1982, h. 14-15.
itu. 57 Penjelasan atas pasal itu menyatakan, bahwa dengan perumusan pada pasal 2 ayat (1) ini, tidak ada perkawinan diluar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indoensia Tahun 1945. Menurut Hazairin berpendapat atas penjelasan pasal 2 ayat 1 tersebut maka dengan demikian bagi orang islam, orang kristen dan bagi orang hindu atau “Hindu-Buddha” tidak ada kemungkinan untuk kawin dengan melanggar hukum agamanya sendiri. Demikian juga bagi orang kristen dan bagi orang Hindu atau Hindu-Buddha seperti yang dijumpai di Indonesia.58
Perkawinan menurut kitab Undang-Undang Hukum Perdata menganut asas monogami. Asas monogami dalam perkawinan adalah seorang pria hanya diperkenankan mengawini seorang wanita. Asas ini bersifat absolut, sehingga orang yang tunduk pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dilarang melakukan perkawinan lebih dari seorang istri (Poligami). Tujuan perkawinan dengan asas monogami ini adalah untuk menciptakan keluarga yang kekal dan bahagia. Untuk mengandung asas monogami ini Kitab Undang-Undang Hukum Perdata melarang suami istri mengakhiri perkawinan atau melakukan perceraian permufakatan suami istri.59
Pengertian perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan itu juga terlihat adanya unsur ikatan antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri, sebagaimana dinyatakan pada pasal 3 ayat (1) bahwa pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh
57 Republik Indonesia, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 2 ayat (1).
58 Hazairin, Tinjauan Mengenai UU Perkawian 1 – 1974 . Tintamas Indonesia, Jakarta, 1986. h.2.
59 Subekti, Op.Cit., h. 23.
mempunyai seorang istri dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Dimana hal ini menunjukkan bahwa Undang-undang Perkawinan tersebut pada prinsipnya menganut asas monogami.60 Asas monogami dalam UU Perkawinan tidak bersifat mutlak karena ternyata asas monogami ini dapat diterobos dengan diperbolehkannya sorang suami beristri lebih dari seorang.
Karena poligami hanyalah dimungkinkan sepanjang hukum agama yang bersangkutan mengijinkan dan itupun dibatasi oleh syarat-syarat yang ketat seperti tercantum pada pasal 4 UU Perkawinan yaitu harus mengajukan permohonan kepada Pengadilan untuk mendapatkan ijin pengadilan dan ijin tersebut hanya dapat diperoleh dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri;
b. Istri mendapatkan cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
c. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
2. Harta Bersama
Menurut M. Yahya Harahap, harta bersama adalah barang-barang yang diperoleh selama perkawinan dimana suami istri itu hidup berusaha untuk memenuhi kepentingan kebutuhan kehidupan keluarga.61 Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (atau disebut dengan UU Perkawinan) dengan istilah “harta bersama”, yaitu kekayaan yang diperoleh selama perkawinan di luar harta bawaan, hadiah dan warisan. Maksudnya, harta
60 Djaren Saragih, Hukum Perkawinan Adat dan Undang-Undang tentang Perkawinan Serta Peraturan Pelaksanaanya. Tarsito, Bandung, 1983. h, 31.
61 M. Yahya Harahap, Pembahasan Hukum Perkawinan Nasional Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 , Zahir Trading Co, Medan, 1975, h. 117.
yang di dapat atas usaha mereka atau sendiri-sendiri selama masa ikatan perkawinan.62 Karena itu, harta bersama merupakan bagian dari harta perkawinan, yakni harta (baik bergerak maupun tidak bergerak) yang diperoleh sejak terjalinnya hubungan suami istri yang sah melalui akad nikah, yang dapat dipergunakan oleh suami atau istri untuk membiayai keperluan hidup mereka beserta anak-anaknya, sebagai satu kesatuan yang utuh dalam rumah tangga.
Mengingat bahwa perkawinan adalah lembaga hukum yang merupakan bagian atas unsur pokok dari pada hukum keluarga, maka dari itulah hukum harta perkawinan sudah dapat disimpulkan adanya hubungan yang erat antara hukum harta perkawinan dengan hukum keluarga. Akibat penting dari perkawinan itu terhadap suami isteri adalah timbulnya hukum anatara suami isteri yang muncul dari hubungan kekeluargaan. Dari hubungan hukum antara suami isteri tersebut timbul hak dan kewajiban yang bersifat pribadi, yang tidak dapat dinilai dengan uang atau lebih tepat tidak mempunyai nilai ekonomis. Akibat-akibat hukum lain dari perkawinan suami isteri,yang sama sama timbul dari hubungan keluarga tetapi mempunyai ciri khusus lain, yaitu hak dan kewajiban yang mempunyai nilai uang/ekonomis. Berdasarkan ciri-ciri itu, maka akibat perkawinan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi :
a. Akibat perkawinan terhadap diri pribadi suami isteri.
b. Akibat perkawinan terhadap harta kekayaan suami isteri.
Dengan mengelompokkan akibat perkawinan pribadi dan harta kekayaan suami isteri dapat dibedakan keduanya, namun karena hubungan antara keduanya
62 Republik Indonesia, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pasal 35 ayat (1).