• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKAWINAN A. Putusnya Perkawinan

1. Putusnya Perkawinan

Menurut Undang-undang Perkawinan, ada beberapa hal yang dapat menyebabkan putusnya hubungan perkawinan. Hal tersebut dapat dilihat dalam Pasal 38 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang berbunyi:

Perkawinan dapat putus karena : a. Kematian.

b. Perceraian.

c. Atas keputusan Pengadilan.85

Putusnya hubungan perkawinan karena kematian dari salah satu pihak ini tidak banyak menimbulkan persoalan. Sebab putusnya hubungan perkawinan tersebut bukan atas kehendak bersama ataupun kehendak dari salah satu pihak, akan tetapi karena kehendak Tuhan. Serta sudah jelas bahwa dengan meninggalnya salah seorang satu pihak sehingga dengan sendirirnya perkawinan menjadi putus. Maka akibat putusnya perkawinan karena kematian ini tidak diuraikan lebih lanjut.

Putusnya hubungan perkawinan dapat disebabkan karena kematian suami atau istri. Dengan kematian salah satu pihak, maka pihak lain berhak menjadi ahli waris atas peninggalan yang meninggal. Walaupun dengan kematian suami tidak dimungkinkan hubungan mereka disambung lagi, namun bagi istri yang ditinggal

85 Republik Indonesia, UU Perkawinan, Pasal 38.

43

mati oleh suaminya, tidak boleh melaksanakan atau melangsungkan perkawinan sebelum masa iddahnya habis atau berakhir, yakni selama 4 (empat) bulan 10 (sepuluh) hari atau 130 (seratus tiga puluh) hari (Pasal 39 ayat (1) huruf a).

apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari (Pasal 39 ayat (1) huruf b). serta apabila ketika pada saat istrinya sedang hamil, maka jangka waktu bagi istri untuk dapat kawin lagi adalah sampai dengan ia melahirkan anaknya (Pasal 39 ayat (1) huruf c) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.

Kemudian dari ketentuan-ketentuan tentang perceraian dalam Undang-undang Perkawinan dan dalam peraturan pelaksanaan, maka dapat adanya 2 (dua) macam perceraian, yaitu :

a. Cerai Talak.

Talak adalah suatu bentuk perceraian yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya di depan sidang pengadilan, yang dikenal umum dan banyak terjadi di Indonesia. Dalam hal ini, seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, yang akan menceraikan istrinya, mengajukan surat kepada Pengadilan di tempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa ia bermaksud menceraikan istrinya disertai dengan alasan-alasan serta meminta kepada Pengadilan agar diadakan sidang untuk keperluan itu (Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975).

Pengertian cerai talak diatur dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama jo. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Amandemen Undangundang Nomor 7 Tahun 1989.

b. Cerai Gugat

Cerai gugat yaitu perceraian yang diajukan oleh suami atau istri atau kuasanya. Dalam hal ini, gugatan perceraian dimaksud dapat dilakukan oleh seorang istri yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam dan oleh seorang suami atau seorang istri yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama Islam (Penjelasan Pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975).

Pengertian cerai gugat diatur dalam Pasal 73 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama jo. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Amandemen Undangundang Nomor 7 Tahun 1989. Karena walaupun perceraian itu merupakan urusan pribadi baik atas kehendak salah satu pihak atau keduanya, yang seharusnya tidak perlu adanya campur tangan dari Pemerintah, namun untuk menghindari tindakan sewenang-wenangnya terutama dari pihak suami dan juga demi kepastian hukum, maka perceraian harus melalui saluran lembaga peradilan.

Sehubungan dengan ketentuan yang mengatur bahwa perceraian harus dilakukan di depan sidang pengadilan, maka ketentuan ini berlaku juga bagi yang beragama Islam. Walaupun pada dasarnya hukum Islam tidak menentukan bahwa perceraian itu harus dilakukan di depan sidang pengadilan namun karena ketentuan ini lebih banyak mendatangkan kebaikan bagi kedua belah pihak maka

sudah sepantasnya apabila orang beragama Islam wajib mengikuti ketentuan ini.

Adapun pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan memutus tentang perceraian adalah bagi mereka yang beragama Islam di Pengadilan Agama dan bagi yang beragama lain selain Islam di Pengadilan Negeri setempat.

Putusnya hubungan perkwainan karena berdasarkan keputusan pengadilan, yaitu perceraian yang dilakukan dengan putusan Pengadilan Agama bagi menganut agama Islam ataupun dengan putusan Pengadilan Negeri bagi yang menganut selain agama Islam yangdidasarkan oleh suatu gugatan perceraian dari salah satu pihak suami atau istri.

Untuk memungkinkan terjadinya perceraian harus ada alasanalasan tertentu serta harus dilakukan di depan sidang pengadilan. Dalam Pasal 39 ayat (2) Undang-undang Perkawinan, dikatakan bahwa untuk melakukan perceraian harus terdapat cukup alasan, bahwa antara suamiistri tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami-istri.

Alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian, dijelaskan lebih lanjut dalam Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undangundang Perkawinan jo.

Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan :

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain-lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuan.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri.

f. Antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga

Mengenai 6 (enam) alasan perceraian tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Perbuatan zina adalah perbuatan yang dapat dipidana. Sedangkan menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain-lain sebagainya yang sukar disembuhkan tentulah akan merusak fisik dan/atau akhlak yang mengganggu kehidupan berumah tangga.

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lainnya selama 2 (dua) tahun tanpa izin dan alasan yang sah dapat dijadikan alasan untuk perceraian.

Akan tetapi bila hal itu terjadi tidak serta merta perceraian telah terjadi, melainkan pihak yang ditinggalkan harus melaporkannya kepada hakim di pengadilan.

c. Hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat sebagai salah satu alasan untuk dapat terjadinya perceraian adalah hukuman yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

d. Kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan, yang dilakukan oleh salah satu pihak kepada pihak lainnya adalah bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang dapat mengancam jiwa yang mendapat perlakuan kejam dan penganiayaan tersebut. Hal itu menunjukkan tidak adanya lagi kerukunan dalam hidup berumah tangga antara suami-istri, sehingga tidak mungkin untuk mencapai tujuan perkawinan yang bahagia dan kekal hingga akhir hayat.

e. Keadaan fisik yang normal dan sehat sangat membantu dalam keberlangsungan kehidupan rumah tangga, terutama dalam hubungan suami-istri. Oleh karenanya cacat badan dan penyakit yang sukar disembuhkan dan menyebabkan suami atau istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami-istri, maka dapatdijadikan alasan untuk perceraian. Namun demikian perlu ditilik penyebab cacat badan dan penyakit yang sukar untuk disembuhkan itu. Apabila istri yang cacat badan dan/atau menderita penyakit yang sukar untuk disembuhkan, sehingga tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri terhadap suaminya, yang disebabkan oleh suaminya sendiri, maka suami tidak sepantasnya menceraikan istrinya tersebut.

f. Dengan terjadinya perselisihan dan pertengkaran yang terusmenerus antara suami-istri dan sukar untuk dapat didamaikan agar rukun kembali, maka kehidupan rumah tangga tidak lagi dapat ditegakkan dan tidak ada gunanya lagi mempertahankannya. Perceraian adalah sebagai

jalan atau upaya terakhir setelah segala upaya diusahakan untuk mendamaikannya namun tidak berhasil.

Menurut KUHPerdata Pasal 199, disebutkan 4 (empat) cara pemutusan perkawinan secara limitatif, yaitu :

a. Karena kematian.

b. Karena keadaan tak hadir.

c. Karena pisah meja dan ranjang (scheiding van tafel en bed).

d. Karena perceraian.86

Putusnya perkawinan karena kematian, maksudnya sudah jelas, yaitu salah satu pihak meninggal dunia. Sedangkan putusnya perkawinan karena keadaann tidak hadir, sudah diatur sendiri dalam Bab XVIII, Buku I KUHPerdata.

Kemudian lebih lanjut mengenai perpisahan meja dan ranjang (KUHPerdata), Perpisahan antara suami dan istri yang tidak mengakhiri pernikahan. Akibat yang terpenting adalah meniadakan kewajiban bagi suami-istri untuk tinggal bersama, walaupun akibatnya di bidang hukum harta benda adalah sama dengan perceraian.87

Selanjutnya lebih lanjut mengenai ketentuan perceraian (KUHPerdata).88 Perceraian adalah pengakhiran suatu perkawinan karena sesuatu sebab dengan keputusan hakim atas tuntutan dari salah satu pihak atau kedua belah pihak dalam perkawinan. Menurut Pasal 208 KUHPerdata, perceraian atas persetujuan suami-istri tidak diperkenankan.

Dalam Pasal 209 KUHPerdata, menyebutkan 4 (empat) alasan perceraian, yaitu :

86 R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Asis Safioedin, Hukum Orang dan Keluarga, (Bandung: Alumni, 1986), h. 124.

87 C. S. T. Kansil, Modul Hukum Perdata, cet. 1, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1991), h.

109.

88 Simanjuntak, Op. Cit., h.53-55.

a. Zinah.

b. Meninggalkan pihak lain tanpa alasan yang sah dari salah satu pihak selama 5 (lima) tahun berturut-turut (Pasal 211 KUHPerdata).

c. Dihukum penjara selama 5 (lima) tahun atau lebih sesudah perkawinan terjadi.

d. Menimbulkan luka berat atau melakukan penganiayaan yang membahayakan hidup pihak lain.

Kemudian 4 (empat) alasan dalam Pasal 209 KUHPerdata ini diperluas oleh jurisprudensi Mahkamah Agung tanggal 12 Juni 1968 Nomor 105 K/Sip/1968, tentang diterimanya onheelbare tweespalt, sebagai alasan perceraian, yaitu dalam hal terjadi perselisihan atau pertengkaran antara suami-istri secara terus-menerus dan tidak mungkin didamaikan lagi.