Iklan adalah segala bentuk pesan tentang suatu produk atau jasa yang disampaikan melalui media, baik media elektronik ataupun cetak yang ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Iklan dapat dilukiskan sebagai komunikasi antara produsen dan pasaran, antara penjual dan calon pembeli. Dalam proses komunikasi itu iklan menyampaikan suatu “pesan”, dengan demikian menimbulkan kesan bahwa periklanan bermaksud memberikan informasi yang tujuan terpentingnya adalah memperkenalkan sebuah produk atau jasa.
Menurut Pasal 1457 KUH Perdata, jual beli adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Jual beli tidak hanya dapat dilakukan secara berhadapan langsung antara penjual dengan pembeli, tetapi juga dapat dilakukan secara terpisah antara penjual dan pembeli, sehingga mereka tidak berhadapan langsung, melainkan transaksi dilakukan melalui media internet/secara elektronik. Dalam kontrak jual beli para pelaku yang terkait didalamnya yaitu penjual atau pelaku usaha dan pembeli yang berkedudukan sebagai konsumen memiliki hak dan kewajiban yang berbeda-beda. Sebelum masuk kepada penyusunan sebuah kontrak, dikenal satu tahapan dimana para pihak dapat membuat suatu nota kesepahaman atau juga biasa disebut
107 http://sonny-tobelo.blogspot.co.id/2009/10/kedudukan-perjanjian-pengikatan-jual.html?m=1, diakses pada tanggal 02 November 2016, Pukul 12:29 WIB.
dengan MoU (Memorandum of Understanding) atau bisa juga disebut pra-kontraktual. MoU ini pada dasarnya tidak dikenal dalam hukum konvensional di Indonesia. Akan tetapi dalam praktiknya, khususnya bidang komersial, MoU sering digunakan oleh pihak-pihak yang berkaitan.
MoU merupakan suatu perbuatan hukum dari salah satu pihak (subjek hukum) untuk menyatakan maksudnya kepada pihak lainnya akan sesuatu yang ditawarkannya ataupun yang dimilikinya. Dengan kata lain, MoU pada dasarnya merupakan perjanjian pendahuluan, yang mengatur dan memberikan kesempatan kepada para pihak untuk mengadakan studi kelayakan terlebih dahulu sebelum membuat perjanjian yang lebih terperinci dan mengikat para pihak pada
nantinya.108
MoU didefinisikan dalam Black’s Law Dictionary sebagai bentuk Letter of
Intent. Adapun Letter of Intent didefinisikan:109
“A written statement detailing the preliminary understanding of
parties who plan to enter into a contract or some other agreement; a noncommittal writing preliminary to acontract. A letter of intent is not meant to be binding and does not hinder the parties from bargaining with a third party. Business people typically mean not to be bound by a letter of intent, and courts ordinarily do not enforce one, but courts occasionally find that a
commitment has been made...”
Dengan terjemahan bebasnya:
“Suatu pernyataan tertulis yang menjabarkan pemahaman awal pihak yang berencana untuk masuk ke dalam kontrak atau
perjanjian lainnya, suatu tulisan tanpa komitmen/tidak
menjanjikan suatu apapun sebagai awal untuk kesepakatan.
108 Perbedaan antara Perjanjian dengan MoU,
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt514689463d4b2/perbedaan-antara-perjanjian-dengan-mou, diakses pada tanggal 16 Desember 2016, Pukul 10:38 WIB.
Suatu Letter of Intent tidak dimaksudkan untuk mengikat dan tidak menghalangi pihak dari tawar-menawar dengan pihak ketiga. Pebisnis biasanya berarti tidak terikat dengan Letter of Intent, dan pengadilan biasanya tidak menerapkan salah satu, tapi pengadilan kadang-kadang menemukan bahwa komitmen telah dibuat/disepakati...”
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa MoU melingkupi hal-hal sebagai berikut:
1. MoU merupakan pendahuluan perikatan (landasan kepastian);
2. Content/isi materi dari MoU hanya memuat hal-hal yang pokok-pokok saja;
3. Dalam MoU memilki tenggang waktu, dengan kata lain bersifat sementara;
4. MoU pada kebiasaannya tidak dibuat secara formal serta tidak ada kewajiban
yang memaksa untuk dibuatnya kontrak atau perjanjian terperinci; dan
5. Karena masih terdapatnya keraguan dari salah satu pihak kepada pihak
lainnya, MoU dibuat untuk menghindari kesulitan dalam pembatalan.
Dalam jual beli apartemen, terdapat suatu sarana periklanan yang
digunakan oleh pelaku usaha (developer) dalam mempromosikan apartemen yakni
dapat berupa brosur dan lain sebagainya. Kedudukan iklan ini dipandang sebagai
suatu nota kesepahaman atau biasa disebut MoU antara pelaku usaha (developer)
dengan konsumen. Kedudukan iklan ini dipandang sebagai dasar bagi konsumen
untuk membeli produk apartemen yang ditawarkan oleh pelaku usaha (developer).
Periklanan dalam jual beli apartemen juga diatur dalam dalam Pasal 42 UURS, yang pada pokoknya menyatakan bahwa pelaku usaha dapat melakukan pemasaran produk apartemennya sebelum pembangunan apartemen tersebut dilaksanakan, akan tetapi pelaku usaha wajib memiliki kepastian peruntukan ruang, kepastian hak atas tanah, kepastian status penguasaan rumah susun,
perizinan pembangunan rumah susun dan jaminan atas pembangunan rumah susun dari lembaga penjamin. Selain itu ditegaskan pula bahwa segala sesuatu yang
dijanjikan oleh pelaku usaha (developer) dan/atau agen pemasaran sebelum
apartemen dibangun, akan mengikat sebagai perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) bagi para pihak.
Keberadaan iklan sendiri juga dapat menjadi pedoman bagi konsumen untuk menempuh jalur hukum apabila setelah dilakukan jual beli ternyata produk yang dibeli atau apartemen yang dibeli tersebut tidak sesuai dengan apa yang ditawarkan dalam sarana yang digunakan oleh pelaku usaha dalam memasarkan produknya, misalnya brosur dan lain sebagainya. Dalam Pasal 8 Undang-Undang Perlindungan Konsumen diatur pula mengenai beberapa perbuatan yang dilarang dilakukan oleh pelaku usaha/penjual, antara lain pelaku usaha/penjual dilarang
memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yangtidak sesuai
dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut. Hal inilah yang dapat menjadi dasar bagi konsumen dalam memperjuangkan haknya baik secara litigasi maupun non litigasi.
BAB IV
PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APARTEMEN TERHADAP