BAB V: kesimpulan dan saran, bab ini merupakan bab terakhir yang memuat kesimpulan dan saran atas setiap permasalahan yang
PENGATURAN SANKSI PIDANA DENDA TERHADAP PELAKU TANPA IZIN MELAKUKAN KEGIATAN INDUSTRI KECIL
B. Pengaturan Pidana Denda dalam UU No 3 Tahun 2014 Tentang Perindustrian
1. Kedudukan Sanksi Pidana dalam Hukum Administras
Hukum administarsi merupakan bagian dari sistem hukum yang juga mengatur ketertiban masyarakat. Adapun pengertian hukum administrasi menurut para ahli adalah sebagai berikut :
1. Prajudi Atmosudirjo, Hukum administrasi negara adalah hukum yang secara khas mengenai seluk beluk dari pada administrasi negara, dan terdiri dari 2 tingkatan hukum administrasi negara Heteronom, bersumber pada UUD, TAP, MPR, dan UU adalah hukum yang mengatur seluk beluk organisasi dan fungsi administrasi negara. Hukum administrasi otonom adalah hukum operasional yang dicipta oleh pemerintah dan administrasi Negara sendiri.41
40
Niniek Suparni, Op.cit hal 68.
41
2. E. Utrecht, Hukum administrasi negara adalah hukum pemerintahan yang menguji hubungan hukum istimewa yang diadakan akan memungkinkan para pejabat administrasi Negara melakukan tugas mereka yang khusus.42
3. Van Wijk Konijnenbelt dan P. de Haan, Hukum administrasi negara adalah :43
- Mengatur sarana bagi penguasa untuk mengatur dan mengendalikan masyarakat;
- Mengatur cara-cara partisipasi warga Negara dalam proses pengaturan dan pengendalian tersebut;
- Perlindungan hukum (rechtsbescherming);
- (hukum administrasi belanda) menetapkan norma-norma fundamental penguasa untuk pemerintahan yang baik (algemene beginselen van behoorlijk besture).
Seperti halnya dengan bidang hukum lainnya hukum administrasi juga dilengkapi dengan sanksi dalam upaya penegakan hukum. Sanksi-sanksi merupakan bagian yang penting dalam hukum, juga dalam hukum administrasi. Sanksi dalam hukum administrasi sangat berbeda dalam hukum pidana. Dalam hukum pidana sanksi pidana telah dirumuskan didalam undang-undang dan penjatuhan sanksinya harus melalui proses peradilan, sedangkan dalam hukum administrasi tiap-tiap undan-undang yang mencantumkan sanksi administrasi mempunyai prosedur sendiri.
Sanksi dalam hukum administrasi antara lain :44
a. Bestuursdwang (paksaan pemerintahan);
b. Penarikan kembali keputusan (ketetapan) yang menguntungkan (izin, pembayaran, subsidi);
c. Pengenaan denda administratif;
d. Pengenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom).
42
E. Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Ichtiar Baru, Jakarta, 1985, hal 9.
43
Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gajah Mada Universityu Press, Surabaya, 1994, hal 28.
44
Hukum administrasi tidak mengenal adanya prosedur tunggal untuk menetapkan sanksi administrasi. Prosedur diawali dengan prakarsa dan selanjutnya adalah langkah formal dari pejabat yang berwenang untuk menetapkan sanksi administrasi misalnya dalam pencabutan izin, maka yang berwenang adalah pejabat yang mengeluarkan izin tersebut.
Sanksi administrasi terkait tentang sistem perizinan, seseorang yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana tercantum dalam izin yang diberikan dikenakan sanksi administarasi yang diberikan oleh instansi yang berwenang memberi izin. Sanksi administrasi juga ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan yang dilanggar.
Hukum administrasi mempunyai kedudukan antara hukum pidana dan hukum privat. Hal ini bisa dilihat dari jenis-jenis sanksi yang ada dalam hukum administrasi, disatu sisi dilaksanakan oleh pemerintah dan disisi lain sifat sanksinya lebih privat dan terdapat unsur-unsur hukum publik yang lebih erat yaitu pemerintah, yang diperintahnya/yang dikenai suatu kewajiban, suatu paksaan dari pemerintah terhadap yang diperintah.
Sanksi pidana dalam undang-undang pidana didalam arti sesungguhnya yaitu undang-undang yang menurut tujuannya, bermaksud mengatur hak memberi pidana oleh negara, jaminan dari ketertiban hukum dan pengaturan hukum pidana dalam undang-undang tersendiri yaitu peraturan-peraturan yang dimaksud untuk memberi sanksi pidana terhadap aturan-aturan mengenai salah satu bidang yang
terletak diluar hukum pidana atau perundang-undangan di bidang hukum administrasi.45
Tugas pemerintah tidak terlepas dari upaya pemberian pelayanan kepada masyarakat, untuk mewujudkan suasana tertib maka berbagai program dan kebijakan pembangunan negara perlu didukung dan ditegakkan oleh seperangkat peraturan dan pola perilaku berupa larangan, kewajiban dan diberikan adanya sanksi berupa sanksi administrasi. Sanksi administrasi pada dasarnya berkaitan dengan sistem perizinan. Apabila seseorang tidak melaksanakan ketentuan yang tercantum dalam izin, akan diberikan sanksi administarsi oleh instansi yang memberikan izin.
Philipus M. Hadjon, memberikan pengertian sanksi administrasi sebagai berikut :
Sanksi dalam administrasi merupakan alat kekuasaan yang bersifat hukum publik yang digunakan oleh penguasa sebagai reaksi terhadap ketidakpatutan pada norma hukum administrasi.
Seperti halnya dalam penegakan hukum pidana dimana terdapat jenis-jenis sanksi pidana yang tertulis pada pasal 10 KUHP sebagai ancaman bila ada yang melanggar norma-norma hukum pidana, maka dalam penegakan hukum administrasi juga diperlukan sebagai alat agar norma hukum administrasi dipatuhi yaitu dengan pengenaan denda yang berupa sanksi administrasi.
Perbedaan antara sanksi administrasi dan sanksi pidana dapat dilihat dari tujuan pengenaan sanksi itu sendiri. Sanksi administrasi ditujukan kepada perbuatan pelanggarannya, sedangkan sanksi pidana ditujukan kepada si
45
pelanggar dengan memberi hukuman berupa nestapa. Sanksi administrasi dimaksudkan agar perbuatan pelanggaran itu dihentikan. Sifat sanksi administrasi adalah reparatoir artinya memulihkan pada keadaan semula. Disamping itu perbedaan sanksi pidana dengan sanksi administrasi ialah tindakan penegakan hukumnya. Sanksi administrasi diterapkan oleh pejabat tata usaha Negara tanpa harus melalui proses peradilan, sedangkan sanksi pidana hanya dapat dijatuhkan oleh hakim pidana melalui proses peradilan.46
Sanksi pidana tidak dapat dikenakan kepada pihak pelanggar dengan cara penggunaan bestuurdwang (paksaan pemerintah). Penegakan sanksi pidana dilaksanakan menurut due process of law yang telah ditentukan di dalam kaidah hukum acara pidana dan pengenaan sanksi itu hanya dapat dinyatakan dalam suatu putusan hakim pidana. Tak dapat disangkal bahwa pemberlakuan sanksi pidana turut berperan pada efektivitas penegakan dan penataan kaidah-kaidah hukum administrasi termasuk pada pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan.47
Tabel 2.Perbandingan antara Sanksi Pidana dan Sanksi Administrasi No Perbandingan Saksi Administrasi Sanksi Pidana
1 Sasaran Perbuatan Pelaku
2 Sifat Reparatoir Comdemnatoir Comdemnatoir
3 Prosedur Langsung Pengadilan
Sumber : Pengantar Hukum Administrasi, Philipus M. Hadjon, 1994.
Perwujudan sanksi pidana dapat dilihat sebagai suatu proses perwujudan kebijakan melalui tiga tahap yaitu :48
1. Tahap penetapan pidana oleh pembuat undang-undang,
46
Philipus M. Hadjon, Op. cit hal 247.
47
Ibid hal 263.
48
2. Tahap pemberian pidana atau penjatuhan pidana oleh pengadilan, dan 3. Tahap pelaksanaan pidana oleh aparat eksekusi pidana.
Tahap kebijakan pertama yang dapat pula disebut sebagai tahap kebijakan legislatif merupakan tahap yang paling strategis. Dari tahap kebijakan legislatif inilah diharapkan adanya suatu garis pedoman untuk tahap-tahap berikutnya. Tujuan dari kebijakan suatu jenis sanksi pidana tidak dapat dilepaskan dari tujuan politik kriminal dalam arti keseluruhan yaitu perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.49
Perkembangan yang menarik hamper setiap perundang-undangan dibidang administrasi selalu menggunakan sanksi pidana sehingga hukum pidana memperkuat sanksi yang sudaha ada yaitu sanksi-sanksi dalam hukum administrasi sehingga timbul istilah sanksi hukum administrasi. Berkaitan dengan penetapan sanksi pidana dalam hukum administrasi, Muladi menyatakan :
Akhir-akhir ini banyak sekali perundang-undangan dalam hukum administrasi menentukan sanksi pidana untuk memperkuat sanksi administrasi. Logikanya adalah hendaknya sanksi pidana tersebut didayagunakan apabila sanksi administrasi sudah tidak mempan. Namun demikian juga langkah-langkah yang bersifat shock theraphy misalnya dalam bidang lingkungan hidup, perpajakan, hak cipta dan lain-lain. Kadang-kadang perlu dilakukan , khususnya berkaitan dengan pelaku tindak pidana yang sudah keterlaluan dan menimbulkan kerugian yang besar. Penggunaan pendekatan moral harus dilakukan terlebih dahulu menyusul langkah hukum administrasi . apabila belum mempan langkah- langkah hukum perdata dapat gigunakan sepanjang memungkinkan dan penggunaan hukum pidana dipertimbangkan sebagai upaya terakhir.50
49
Ibid hal 91.
50
Muladi, Kapita Selekta Hukum Pidana, Badan Penerbit UNDIP, Semarang, 1995, hal 42.
Sanksi yang paling penting bagi administrasi maupun bagi masyarakat yang bersangkutan adalah sanksi eksekusi riil (reele executie) yakni :51
1. Terhadap kelalaian memenuhi suatu keterikatan atau kewajiban yang ditetapkan dalam tindak hukum administrasi, dengan perkataan lain : pelanggaran dari suatu atau beberapa ketentuan yang memuat surat izin, dan;
2. Terhadap pelanggaran daripada suatu ketentuan undang-undang, yaitu tegasnya : melakukan sesuatu tanpa izin sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang.
Sanksi eksekusi riil dilakukan dengan berbagai jalan, misalnya :52
a. Mencabut, mengambil atau menghilangkan apa yang merupakan pelanggaran,
b. Mencegah untuk melakukan apa yang merupakan larangan dan pelanggaran,
c. Mengoper pekerjaan yang tidak boleh dilakukan oleh siapa pun kecuali pejabat administrasi yang bersangkutan yang berwenang khusus untuk itu menurut undang-undang,
d. Memulihkan kembali keadaan sesuatu yang diubah tanpa izin yang sah, misalnya : ditambahkan, dibuat, disetel, dijalankan, tidak dijalankan, dirusak, dan dihilangkan.
Hukum administrasi sangat luas cakupannya, karena hukum administrasi merupakan pijakan hukum bagi pemerintah dalam upaya melaksanakan berbagai kebijakan seperti bidang perumahan, lingkungan, tata ruang, perekonomian, perbankan, perindustrian dan sebagainya, maka semakin banyak pula hukum pidana digunakan dalam memperkuat perundang-undangan administrasi.