C. Revisi Produk
3. Keefektifan Perangkat Pembelajaran
a. Keefektifan perangkat pembelajaran ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif matematis
Keefektifan perangkat pembelajaran ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif matematis didasarkan pada kriteria keefektifan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Perangkat pembelajaran dikatakan efektif ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif matematis jika rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa lebih dari 70 dan banyaknya siswa yang mencapai nilai lebih dari 70, lebih dari 75%.
150
Berdasarkan hasil uji 1 menggunakan uji One Sample T-Test dengan bantuan IBM SPSS Statistics 21 diperoleh 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑔𝑛𝑖𝑓𝑖𝑘𝑎𝑛
2 = 0,0005 <∝= 0,05.
Dengan demikian, H0 ditolak, sehingga H1 diterima. Dengan demikian, H0 ditolak, sehingga H1 diterima. Artinya, rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa lebih dari 70.
Sedangkan, berdasarkan uji 2 menggunakan uji One Sample Binomial Test dengan bantuan IBM SPSS Statistics 21 diperoleh 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑔𝑛𝑖𝑓𝑖𝑘𝑎𝑛 = 0,500 >∝
= 0,05. Dengan demikian, H0 diterima. Artinya, banyaknya siswa yang mencapai nilai lebih dari 70, kurang dari atau sama dengan 75%. Berdasarkan uji 1 dan uji 2 maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning tidak efektif ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif matematis.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Ali Muntaha (2013) yang menunjukan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Selain itu, penelitian ini berbeda dengan penelitian Asep Nanang (2016) dengan hasil bahwa secara signifikan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis.
Hal yang diduga menjadi faktor-faktor penyebab tidak efektifnya perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning ditinjau dari kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas VII SMP Negeri 1 Imogiri antara lain karena adanya keterbatasan waktu implementasi untuk melatih kemampuan berpikir kreatif
151
matematis. Jumlah pertemuan dalam penelitian ini dirasa masih kurang untuk melatih kemampuan berpikir kreatif matematis yaitu 7 kali pertemuan dengan 5 kali pembelajaran menggunakan perangkat pembelajaran berbasis PBL, 1 kali tes dan 1 kali tes susulan (1 siswa).
Selain itu, waktu pembelajaran matematika di hari Senin hanya 1 jam pelajaran dan masih terpotong untuk upacara, sehingga guru dan siswa tergesa-gesa dalam pembelajaran serta ada beberapa materi yang belum tersampaikan atau kegiatan yang tidak terlaksana. Sedikinya waktu yang tersedia dirasa kurang untuk melatih kemampuan berpikir kreatif matematis dikarenakan siswa sudah terbiasa mengerjakan 1 soal dengan 1 cara, 1 jawaban, cara yang digunakan oleh kebanyakan siswa di kelas tersebut merupakan cara yang sama hampir oleh temannya dan soal-soal yang diujikan kepada siswa merupakan tipe soal yang memiliki 1 jawaban benar.
Selain itu, disela-sela penelitian, siswa juga banyak libur karena tryout kelas IX. Selain itu, sebelum tes kemampuan berpikir kreatif matematis, siswa tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran karena ada hari libur nasional, lomba kebersihan kelas dan dimas diajeng, libur karena diadakan kerja bakti untuk persiapan UN, libur untuk pelaksanaan UN, kerja bakti adiwiyata, lomba adiwiyata. siswa juga baru saja libur untuk ujian siswa kelas IX sehingga jarak antara pembelajaran terakhir dan tes terlalu jauh yaitu 33 hari atau mundur 13 kali pertemuan.
Selain faktor yang telah disebutkan diatas, faktor lain yang diduga sebagai penyebab tidak efektifnya perangkat pembelajaran untuk mengembangkan
152
kemampuan berpikir kreatif matematis adalah pembelajaran pada hari Rabu dilaksanakan pada siang hari di jam terakhir, sehingga siswa terlihat letih dan kurang bersemangat. Sementara itu, waktu pembelajaran matematika di hari Selasa dan Rabu yaitu 2 jam pelajaran, namun terdapat jeda waktu untuk istirahat dan sholat. Tes berpikir kreatif matematis dilaksanakan pada hari Selasa dan di hari Selasa terdapat jeda waktu untuk istirahat, agar tidak ada jeda waktu selama pelaksanaan tes, maka waktu istirahat digunakan siswa untuk mengerjakan soal tes.
Penundaan waktu istirahat menyebabkan siswa letih, kurang konsentrasi dan terburu-buru ingin istirahat.
Faktor lain yang menjadi penyebab hasil tes kemampuan berpikir kreatif beberapa siswa tidak optimal adalah salah dalam memahami konsep, salah memahami soal serta tidak teliti dalam menjawab soal tes. Sehingga walaupun mereka sudah memberikan banyak jawaban/ cara namun menyebabkan mereka tidak mendapat nilai, sehingga nilainya rendah. Sebagai contoh pengerjaan siswa pada soal tes kemampuan pemecahan masalah nomor 1 (soal dapat dilihat pada Lampiran A.11)
153
Gambar 30. Contoh Jawaban Siswa 1 Gambar 31. Contoh jawaban Siswa 2 Pada Gambar 30 terlihat bahwa siswa mengalami salah konsep dalam mengerjakan soal nomor 1 yang digunakan untuk mengukur kelancaran.
Kesalahan siswa terletak ketika menghitung keliling persegi penjang, seharusnya siswa mengalikan dua hasil dari jumlahan panjang dan lebar. Sedangkan pada Gambar 31 terlihat bahwa siswa salah memahami soal. Seharusnya panjang dan lebar yang sudah ditentukan oleh siswa, langsung saja dicari kelilingya. Namun
154
yang dilakukan siswa adalah selain mencari panjang dan lebar yang memiliki luas 240 cm2, siswa tersebut juga mencari panjang dan lebar yang memiliki keliling 240 cm. Oleh karena itu, walaupun kedua siswa tersebut sudah menjawab dengan 5 jawaban namun karena salah sehingga menyebabkan mereka tidak mendapat nilai (skor 0).
Gambar 32. Contoh Jawaban Siswa 3
Pada Gambar 32 terlihat bahwa siswa tidak teliti dalam mengerjakan soal nomor 1.
Pada awalnya siswa sudah benar menentukan panjang dan lebarnya yaitu 24cm dan 10cm. Namun ketika siswa mencari keliling, panjang persegi panjang berubah menjadi 20cm.
Selain soal nomor 1, berikut beberapa contoh kesalahan siswa dalam mengerjakan tes kemampuan berpikir kreatif. Pada Gambar 33 (pengerjaan soal 2), pada Gambar 34 (pengerjaan soal 3), pada Gambar 35 (pengerjaan soal 4). Gambar 34 dan Gambar 35 merupakan contoh kesalahan siswa tidak teliti, sehingga menyebabkan nilai tes tidak optimal. Sementara Gambar 33 merupakan contoh siswa salah konsep.
Gambar 33. Contoh Jawaban Siswa 4
155
Gambar 34. Contoh Jawaban Siswa 5
Gambar 35. Contoh Jawaban Siswa 6
Pada Gambar 33 terlihat bahwa siswa menggunakan rumus segitiga untuk menghitung luas trapesium. Pada Gambar 34 terlihat siswa hanya menggambar desain pemotongan kertas namun belum mencantumkan ukurannya. Pada Gambar 35 terlihat bahwa siswa kurang teliti dalam menghitung 20 × 4 = 40, salah menjumlahkan 72 + 48 + 48 = 188 𝑑𝑎𝑛 56 + 64 + 48 = 168 padahal jika mereka benar dalam menghitung maka akan mendapatkan tambahan nilai kelancaran dan keluwesan.
156
Dilihat dari hasil pekerjaan siswa, persentase aspek berpikir kreatif matematis yang paling rendah adalah aspek kebaruan. Walaupun persentase aspek kebaruan paling rendah, namun ada beragam jawaban yang diberikan oleh siswa dalam menyelesaikan soal tes berpikir kreatif matematis. Nomor soal yang mengukur aspek kebaruan adalah soal no 2, 3, dan 4. Berikut beberapa jawaban dari 29 siswa kelas VII G.
1) Tiga belas macam jawaban siswa terhadap soal nomor 2 tentang siswa diminta untuk menyebutkan bangun segiempat/ gabungan dari beberapa bangun segiempat beserta ukuran dan perhitungannya. Bangun tersebut harus memiliki luas yang sama dengan luas persegi panjang yang memiliki panjang 25cm dan lebar 12cm.
Jawaban 1: gabungan 3 bangun persegi
Jawaban 2: gabungan 1 bangun jajargenjang dan 1 bangun layang-layang
Jawaban 3: 1 bangun trapesium
157 Jawaban 4: gabungan 6 bangun jajargenjang
Jawaban 5: 1 bangun jajargenjang
Jawaban 6: 1 bangun persegi panjang
Jawaban 7: gabungan 1 bangun persegi panjang dan 1 bangun persegi
Jawaban 8: 1 bangun layang-layang
158
Jawaban 9: gabungan 2 bangun persegi panjang
Jawaban 10: gabungan 1 bangun jajargenjang dan 1 bangun trapesium
Jawaban 11: gabungan 2 bangun jajargenjang
Jawaban 12: 1 bangun belah ketupat
159
Jawaban 13: gabungan 5 bangun persegipanjang
Dari 13 cara, ada 4 cara yang hanya digunakan oleh masing-masing 1 siswa yaitu cara 4, 10, 11, 13. Selain mengukur aspek kebaruan, soal nomor 2 juga mengukur aspek kelancaran.
2) Lima belas macam jawaban siswa terhadap soal nomor 3 tentang siswa diminta untuk menggambarkan sketsa pemotongan kertas berukukaran 10𝑐𝑚 × 12𝑐𝑚 yang akan dibagikan kepada 4 anak, dengan syarat masing-masing anak memiliki luasan kertas yang sama.
Cara 1:
Cara 2:
Cara 3:
160 Cara 4:
Cara 5:
Cara 6:
Cara 7:
Cara 8:
Cara 9:
Cara 10:
Cara 11:
161 Cara 12:
Cara 13:
Cara 14:
Cara 15:
Dari 15 cara, ada 4 cara yang hanya digunakan oleh masing-masing 1 siswa yaitu cara 11, 13, 14, 15. Selain mengukur aspek kebaruan, soal nomor 3 juga mengukur aspek keluwesan.
3) Dua puluh empat macam jawaban siswa terhadap soal nomor 4 tentang siswa diminta menghitung suatu bangun datar dengan berbagai cara yang berbeda-beda.
Cara 1:
162 Cara 2:
Cara 3:
Cara 4:
163 Cara 5:
Cara 6:
Cara 7:
164 Cara 8:
Cara 9:
Cara 10:
165 Cara 11:
Cara 12:
Cara 13:
166 Cara 14:
Cara 15:
Cara 16:
167 Cara 17:
Cara 18:
Cara 19:
168 Cara 20:
Cara 21:
Cara 22:
169 Cara 23:
Cara 24:
Dari 24 cara, ada 6 cara yang hanya digunakan oleh masing-masing 1 siswa yaitu cara 5, 14, 17, 18, 20, 22. Selain mengukur aspek kebaruan, soal nomor 4 juga mengukur aspek keluwesan. Rekapitulasi data tes kemampuan berpikir kreatif matematis aspek kebaruan dapat dilihat secara rinci pada Lampiran B.25.
Rekapitulasi nilai tes kemampuan berpikir kreatif matematis aspek kebaruan dapat dilihat secara rinci pada Lampiran B.26. Tabulasi hasil tes kemampuan berpikir kreatif matematis aspek kebaruan dapat dilihat secara rinci pada Lampiran B.27.
170
Sementara itu, untuk rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa lebih dari 70. Hal ini diduga disebabkan karena pada tahap pembelajaran Problem Based Learning setelah siswa disajikan masalah, siswa diorganisasikan untuk meneliti masalah yaitu siswa mencari apa yang diketahui dan ditanyakan. Dari kedua langkah tersebut siswa menjadi lebih memahami masalah yang diberikan, sehingga siswa dapat dengan tepat merencanakan penyelesaian pada saat melakukan penyelidikan. Dilanjutkan dengan langkah ketiga dalam Problem Based Learning yaitu siswa melakukan penyelidikan individu ataupun kelompok. Dalam langkah ketiga ini, siswa dapat berlatih merencanakan penyelesaian masalah dengan berdiskusi kelompok. Ketika berdiskusi, pasti ada siswa yang memiliki cara berbeda dalam menyelesaikan masalah, sehingga dalam diskusi terjadi proses pertukaran pendapat yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa.
Selanjutnya pada langkah keempat, siswa mempresentasikan hasil penyelesaian masalah. Apabila hasil penyelesaian masalah yang dipresentasikan kelompok lain tidak sama dengan hasil penyelesaian masalah yang dikerjakan kelompoknya, maka siswa akan tahu beragam jawaban/ cara. Pada langkah kelima, siswa bersama dengan guru membahas hasil penyelesaian masalah dari kelompok yang sudah maju mempresentasikannya. Sebelum guru mengklarifikasi kebenaran dari hasil penyelesaian masalah kelompok yang maju, guru mempersilakan siswa yang lain untuk memberikan tanggapan, pertanyaan, kritik, atau saran kepada temannya yang presentasi, bisa terkait dengan hasil penyelesaiannya, memaparkan cara atau jawaban yang berbeda, atau yang lainnya. Pemaparan cara atau jawaban
171
yang berbeda dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematis dikarenakan siswa akan mengetahui ada jawaban-jawaban atau cara-cara lain yang dapat digunakan sebagai solusi permasalahan tersebut.
b. Keefektifan perangkat pembelajaran ditinjau dari kemandirian belajar Kriteria keefektifan perangkat pembelajaran ditinjau dari kemandirian belajar yang sudah ditetapkan sebelumnya yaitu jika rata-rata skor akhir kemandirian belajar lebih dari rata-rata skor awal kemandirian belajar dan rata-rata skor akhir kemandirian belajar minimal mencapai kategori baik, yaitu 88,38.
Berdasarkan hasil uji 1 menggunakan uji Paired Samples T-Test dengan bantuan IBM SPSS Statistics 21 diperoleh 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑔𝑛𝑖𝑓𝑖𝑘𝑎𝑛
2 = 0,000 <∝= 0,05. Dengan demikian, H0 ditolak, sehingga H1 diterima. Artinya, rata-rata skor akhir kemandirian belajar lebih besar daripada rata-rata skor awal kemandirian belajar.
Sedangkan, berdasarkan uji 2 menggunakan uji One Sample T-Test dengan bantuan IBM SPSS Statistics 21 diperoleh 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑔𝑛𝑖𝑓𝑖𝑘𝑎𝑛
2 = 0,000 <∝= 0,05.
Dengan demikian, H0 ditolak, sehingga H1 diterima. Artinya, rata-rata skor akhir kemandirian belajar lebih dari 88,38. Berdasarkan uji 1 dan uji 2 maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning efektif ditinjau dari kemandirian belajar.
Selain itu, hasil penelitian ini juga cocok dengan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Lina Dwi Astuti (2014) terhadap siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Yogyakarta yang menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan Problem Based Learning dapat meningkatkan kemandirian belajar pada pokok bahasan segiempat. Penelitian yang
172
dilakukan oleh Musyafa (2013) juga menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan model Problem Based Learning lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran ekspositori ditinjau dari kemandirian belajar matematika siswa kelas X SMK N 1 Saptosari pada materi fungsi kuadrat.
Hal yang menjadi faktor-faktor penyebab perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning dalam penelitian ini efektif ditinjau dari kemandirian belajar diduga karena dalam kegiatan inti pembelajaran terdapat langkah-langkah pembelajaran berbasis Problem Based Learning. Kegiatan pembelajaran yang menggunakan langkah-langkah pembelajaran berbasis Problem Based Learning tersebut berpotensi dapat mengembangkan kemandirian belajar siswa. Hal ini sejalan dengan teori yang disampaikan oleh Arends (2008: 408) menyampaikan bahwa PBL dapat mengembangkan keterampilan penyelidikan dan keterampilan mengatasi masalah, keterampilan untuk belajar secara mandiri, dan mempunyai perilaku dan keterampilan sosial sesuai peran orang dewasa. Delisle dalam Uzain (2015: 130) juga menyatakan bahwa Problem Based Learning membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna sehingga siswa memiliki rasa percaya diri dan mampu belajar secara mandiri.
Langkah pembelajaran pertama adalah guru memberikan orientasi tentang permasalahnnya kepada siswa. Dikarenakan dalam kegiatan ini siswa mengamati dan memahami masalah secara mandiri, hal ini diduga dapat dapat menyebabkan peningkatan kemandirian belajar pada aspek tidak bergantung pada orang lain.
Selain itu kegiatan guru mengorganisasikan siswa untuk meneliti, dimana siswa melakukan aktivitas mencari apa yang diketahui dan apa yang ditanya dalam
173
permasalahan secara mandiri juga ikut serta dalam meningkatkan aspek tidak bergantung pada orang lain.
Pada kegiatan inventigasi secara mandiri atau kelompok siswa mencoba menyelesaikan permasalahan secara mandiri terleih dahulu, hal ini diduga dapat meningkatkan aspek tidak bergantung kepada orang lain. Selain itu, siswa juga melakukan diskusi dengan kelompoknya sehingga terjadi kerjasama dalam rangka mencari solusi permasalahan, saling bertanya dan menjawab, memberikan ide, mengkritisi dan mengoreksi konsep yang muncul dalam diskusi agar diperoleh suatu kesimpulan penyelesaian masalah yang benar dan tepat. Hal tersebut diduga dapat meningkatkan inisiatif. Pada kegiatan ini siswa juga berpotensi dalam mengembangkan aspek bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam hal menyelesaikan permasalahan yang diberikan dan ikut andil dalam mencari solusi.
Hal ini sejalan dengan pendapat Arends (2008: 409) yang menyatakan bahwa PBL dapat membuat siswa menjadi pembelajar mandiri terutama dalam aspek tidak bergantung pada orang lain dan bertanggung jawab..
Selain itu dalam langkah PBL terdapat kegiatan mempresentasikan hasil penyelesaian masalah yang diduga berpotensi untuk mengembangkan kemandirian belajar siswa terutama pada aspek mempunyai inisiatif. Diduga karena pada kegiatan presentasi, siswa dilatih berpendapat atau bertanya yang memerlukan inisiatif, sikap percaya diri dan berani. Hal tersebut selaras dengan Sani (2015: 134) yang menyatakan bahwa PBL dapat menumbuhkan inisiatif dalam belajar.
Pada kegiatan mengevaluasi hasil presentasi, terjadi diskusi antar kelompok yang presentasi dengan kelompok yang tidak presentasi. Siswa/ kelompok yang
174
tidak presentasi memberikan tanggapan ataupun saran kepada kelompok yang presentasi. Selain itu juga dapat membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis. Sehingga, pada tahap terakhir ini diduga dapat mengembangkan inisiatif dalam membuat siswa lebih berani dalam menyampaikan pendapat maupun pertanyaan.
Selain itu dalam LKS terdapat proyek mandiri, proyek kelompok, dan latihan mandiri yang diduga dapat memfasilitasi kemandirian belajar. Proyek mandiri dan proyek kelompok merupakan tugas yang harus dikumpulkan oleh siswa, sehingga hal ini melatih siswa bertanggung jawab supaya mengumpulkan tugas tepat waktu. Sedangkan latihan mandiri, merupakan kumpulan soal yang dapat digunakan siswa untuk mengasah kemampuannya dalam menyelesaikan soal-soal dan memperdalam konsep. Latihan mandiri ini tidak dikumpulkan, namun digunakan sebagai pancingan bagi siswa supaya mempunyai inisiatif untuk mengerjakan soal tersebut tanpa diminta mengerjakan atau mengumpulkan. Hal ini secara tidak langsung diduga dapat memfasilitasi aspek tidak bergantung kepada orang lain.
175 E. Keterbatasan penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Waktu penelitian yang sedikit kurang tepat yakni terdapat banyak hari libur, sehingga waktu penelitian tidak dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Jarak antara pembelajaran terakhir sampai dengan waktu tes kemampuan berpikir kreatif matematis terpaut waktu lama yaitu 33 hari atau mundur 13 kali pertemuan. Hal ini dikarenakan 1 pertemuan libur karena hari libur nasional dan 1 pertemuan libur karena adanya try out kelas IX, lomba kebersihan kelas dan dimas diajeng, kerja bakti untuk persiapan UN, libur untuk pelaksanaan UN, kerja bakti adiwiyata, lomba adiwiyata.
2. Pembelajaran pada hari Rabu dilaksanakan pada siang hari di jam terakhir, sehingga siswa terlihat letih dan kurang bersemangat ketika pembelajaran matematika.
3. Waktu pembelajaran matematika di hari Senin hanya 1 jam pelajaran dan masih terpotong untuk upacara. Sementara itu, waktu pembelajaran matematika di hari Selasa dan Rabu yaitu 2 jam pelajaran, namun terdapat jeda waktu untuk istirahat dan sholat.
4. Tes berpikir kreatif matematis dilaksanakan pada hari Selasa. Waktu pembelajaran matematika di hari Selasa terdapat jeda waktu untuk istirahat, agar tidak ada jeda waktu selama pelaksanaan tes, maka waktu istirahat digunakan siswa untuk mengerjakan soal tes.