• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

B. Kegiatan Belajar Mengajar

1. Pengertian Kegiatan Belajar Mengajar

Menurut Winkel (1986:36-38) belajar diartikan sebagai suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan atau pemahaman, ketrampilan dan atau sikap. Perubahan ini dapat berupa suatu hasil yang baru atau penyempurnaan terhadap hasil yang telah diperoleh. Sedangkan Slameto (1988:2) mendefinisikan belajar sebagai proses individu untuk mendapatkan suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan Gagne seperti dikutip oleh Dahar (1989:11) merumuskan belajar adalah suatu proses dimana seorang manusia berubah perilakunya sebagai akibat pengalamannya.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses interaktif antara manusia dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan tingkah laku yang baru atau penyempurnaan terhadap hasil yang telah diperoleh baik aspek pengetahuan, sikap maupun ketrampilan.

Sedangkan kegiatan mengajar dirumuskan oleh Nana Sudjana (1991:29) sebagai proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang

ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pendapat ini didukung oleh Moh. Uzer Usman (1990:3), yang mengatakan bahwa mengajar adalah suatu usaha mengorganisasi lingkungan dengan peserta didik dan bahan pelajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar mengajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses belajar adalah proses pengaturan lingkungan dengan peserta didik dan bahan pelajaran yang menimbulkan proses belajar mengajar untuk mencapai suatu tujuan. Dalam proses belajar mengajar guru bertugas menciptakan kondisi belajar mengajar yang dapat menghantarkan peserta didik untuk belajar dengan nyaman.

2. Karakteristik Pembelajaran Matematika di Kelas Matematika Keberhasilan proses belajar mengajar di kelas tidak terlepas dari peran serta guru, siswa dan berbagai sarana pendukung yang terkait dengan proses belajar mengajar.

Menurut A. Samana (1994), guru adalah ujung tombak dalam proses pembelajaran yang dituntut untuk menguasai berbagai kecakapan keguruan. Salah satu kecakapan yang harus dikuasai oleh guru adalah mampu mengelola program belajar mengajar yaitu menyusun program pembelajaran, menguasai pendekatan dan meode mengajar . Siswa yang kurang berminat terhadap matematika akan sulit belajar dan

menguasai matematika. Pemahaman guru tentang sifat matematika juga akan mempengaruhi guru dalam memilih pendekatan dalam mengajar. Guru yang memandang matematika sebagai kreasi mental manusia akan lebih menekankan konstruktivisme sebagai landasan belajar matematika. Dalam pembelajaran, setiap individu terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dalam pikiran mereka, guru berperan sebagai fasilitator (Marpaung, 1998).

Max A. Sobel mengatakan bahwa siswa akan belajar secara efektif jika mereka benar-benar tertarik terhadap pelajarannya. Kreativitas guru dalam merancang pembelajaran sangat menentukan terlaksananya proses belajar yang optimal. Penggunaan metode pembelajaran akan efektif jika menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang diharapkan atau dengan kata lain jika tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan dapat tercapai (Lisnawaty dkk.1992:80). Beberapa metode alternatif dapat dipakai guru agar pembelajaran berlangsung lebih menarik misalnya metode historis. Dengan metode ini guru dapat menampilkan sejarah suatu penemuan atau kehidupan tokoh matematika yang bekerja keras dalam usahanya untuk mencari dan menemukan konsep atau teori dalam matematika yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Inovasi lain dalam pembelajaran matematika adalah dengan memanfaatkan musik yang dapat merangsang kerja otak sehingga dapat membangkitkan minat siswa dalam belajar. Musik dapat membantu menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Memulai dan mengakhiri pelajaran dengan sesuatu yang menantang akan membantu berlangsungnya proses pembelajaran dengan lebih menarik sehingga siswa menanti-nantikan pelajaran matematika berikutnya. Misalnya dengan menyampaikan suatu pertanyaan yang menantang kepada para siswa atau dengan suatu permainan.

Lebih lanjut A. Samana mengatakan bahwa peranan guru sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru dalam menggunakan berbagai media dan alat peraga. Penggunaan alat peraga baik alat peraga benda konkret maupun tiruan akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep dalam matematika yang sifatnya abstrak. Hal ini ditekankan pula oleh Bruner bahwa cara terbaik untuk belajar konsep matematika dengan mengkonstruksikan konsep-konsep tersebut dengan benda kongkret karena mudah diingat dan dapat diaplikasikan dalam situasi yang tepat. Konsep-konsep yang abstrak dapat dimanipulasi dengan alat peraga yang dapat dibuat sendiri oleh siswa. Berbagai alat peraga matematika yang sudah tersedia di ruang kelas memudahkan guru

untuk menggunakannya. Guru juga leluasa untuk mengatur tempat duduk siswa sesuai dengan kebutuhan dan membuat siswa nyaman untuk belajar matematika.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pembelajaran Matematika di kelas matematika memberikan keleluasaan bagi guru bersama dengan siswa untuk merancang kegiatan dengan memanfaatkan berbagai media yang telah tersedia di kelas yang ada dan mengatur kelas sesuai dengan kebutuhan tanpa menggangu mata pelajaran yang lain.

3. Minat Siswa dalam Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran yang optimal dapat terjadi apabila ada interaksi pengajaran yang terjalin antara guru, siswa dan lingkungan pengajaran yang kondusif. Guru sangat berperanan dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung siswa untuk senang mengikuti proses pembelajaran khususnya di kelas. Kemampuan guru dalam mengembangkan variasi mengajar, baik dalam gaya mengajar, penggunaan media dan penguasaan materi pembelajaran maupun dalam menjalin interaksi dengan siswa mendukung tumbuhnya minat belajar bagi siswa. Minat diartikan sebagai perasaan senang yang dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan yang lebih khusus terhadap sesuatu atau keadaan. Minat siswa untuk mengikuti proses

pembelajaran di kelas dalam rangka moving class terkait dengan pembelajaran matematika di kelas matematika yang telah didesain sesuai dengan kebutuhan dalam pembelajaran matematika.

Dokumen terkait