BAB IV PENDAYAGUNAAN KAWASAN TELANTAR
B. Kegiatan Dalam Pendayagunaan Kawasan Telantar
Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 20 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penertiban dan Pendayagunaan Kawasan dan Tanah Telantar, Bagian Kesatu mengenai Tata Cara Pendayagunaan Kawasan Telantar, bahwa Pengalihan/pemberian Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha kepada pihak lain dan/atau penetapan Kawasan Telantar sebagai Aset Bank Tanah dilakukan oleh Pimpinan Instansi.
Apabila Pimpinan Instansi tidak melakukan pengalihan/pemberian Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha kepada pihak lain dan/atau penetapan Kawasan Telantar sebagai Aset Bank Tanah dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak penetapan Kawasan Telantar, maka Menteri melaporkan kepada Presiden.
Dalam rangka proses pendayagunaan meliputi Persiapan, Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan sampai dengan Pelaksanaan Pendayagunaan Kawasan, terdiri dari:
1. Peruntukan Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha/Kawasan;
a. Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha yang telah dicabut dapat dialihkan/diberikan kepada pihak lain yang harus memiliki kemampuan dan sumber daya yang memadai paling sedikit mencakup aspek ekonomi dan sumber daya manusia melalui mekanisme yang transparan dan kompetitif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan/atau
47 b. Kawasan yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Telantar dapat ditetapkan sebagai Aset Bank Tanah yang dilakukan oleh Pimpinan Instansi.
2. Pelaporan Pendayagunaan Kawasan Telantar.
Pelaporan Pendayagunaan Kawasan dilakukan oleh Pimpinan Instansi dalam rangka pelaporan calon objek penetapan peruntukan Kawasan maupun pelaporan pelaksanaan pendayagunaan Kawasan yang telah ditetapkan dalam Keputusan Penetapan Peruntukan Alokasi Kawasan.
Apabila Pimpinan Instansi tidak melakukan pengalihan/pemberian Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha dan/atau penetapan Kawasan Telantar sebagai Aset Bank Tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 20 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penertiban dan Pendayagunaan Kawasan dan Tanah Telantar, dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak penetapan Kawasan Telantar, Menteri melaporkan kepada Presiden.
Adapun alur proses Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan untuk Pihak lain dan Bank Tanah maupun proses tindak lanjut setelah ditetapkan alokasi Peruntukan Kawasan sampai didayagunakan kepada Penerima Manfaat baik badan usaha dan pemerintah sebagaimana Diagram Alir Gambar 3.
C. Tata Cara Pendayagunaan Kawasan
Berdasarkan Pasal 67 Ayat (1) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 20 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penertiban dan Pendayagunaan Kawasan Telantar, dalam rangka pendayagunaan kawasan telantar dapat dialihkan/diberikan kepada pihak lain melalui mekanisme yang transparan dan kompetitif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau dapat ditetapkan sebagai Aset Bank Tanah.
48 1. Identifikasi Objek Kawasan
Informasi mengenai objek Kawasan diperlukan agar pendayagunaan Kawasan dapat dilaksanakan dengan optimal dan mengurangi potensi kendala yang menghambat pelaksanaan pendayagunaan Kawasan.
Data dan informasi mengenai Objek Kawasan diperoleh berdasarkan hasil identifikasi terhadap objek Kawasan yang dilaksanakan oleh Instansi terkait. Adapun data dan informasi objek Kawasan adalah sebagai berikut:
a. Objek Kawasan merupakan status objek Kawasan tidak dalam:
1) sengketa fisik; dan 2) sengketa yuridis.
b. Objek Kawasan tidak dalam sengketa fisik terdiri atas:
1) Kawasan tidak terdapat penggarapan dan penguasaan oleh pihak lain; atau
2) Kawasan terdapat kelompok masyarakat penggarap lama yang sudah didata oleh Instansi dan/atau Kementerian.
c. Kepastian objek Kawasan tidak dalam sengketa yuridis terdiri atas:
1) Kawasan tidak menjadi objek gugatan di pengadilan; atau 2) Kawasan menjadi objek gugatan di pengadilan namun belum
terdapat putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang memenangkan pihak penggugat.
d. Tindakan terhadap kawasan telantar yang pada saat ditetapkan sebagai Kawasan telah terdapat kelompok masyarakat yang menggarap lokasi tersebut:
1) Dilakukan upaya pendataan para penggarap lama maupun penggarap baru.
2) Upaya pendataan dilakukan untuk rencana pengaturan peruntukan Pendayagunaan Kawasan dan untuk mencegah perluasan penguasaan baru oleh para penggarap lama maupun penggarap baru.
49 3) Upaya pendataan dilakukan dengan pembuatan surat pernyataan oleh setiap penggarap, yang menyatakan penggarap:
a) tidak akan memperluas kawasan garapan;
b) tidak akan memindah tangankan kepada pihak lain; dan c) bersedia mematuhi ketentuan persyaratan dalam
Pendayagunaan Kawasan.
Surat pernyataan penggarap sebagaimana Format Lampiran 29 e. Pembuatan Berita Acara Hasil Penelitian/Peninjauan Lapang
Objek Kawasan.
Berdasarkan kegiatan Penelitian/Peninjauan Lapang Objek Kawasan yang dilaksanakan oleh Instansi dan/atau Kementerian, dibuat Berita Acara Hasil Penelitian/Peninjauan Lapang Objek Kawasan sebagaimana Format Lampiran 30.
2. Pelaksanaan Pengamanan Kawasan
a. Pengamanan Kawasan bertujuan untuk :
1) Pengamanan administrasi dan fisik pada Instansi terkait yang dapat dilakukan sejak Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha ditetapkan sebagai Kawasan Telantar sampai tahap Pendayagunaan Kawasan;
2) Menjaga dan mencegah agar lokasi Kawasan tidak diduduki, digarap, dan/atau dikuasai oleh penggarap baru;
3) Mencegah timbulnya sengketa pada saat akan dilakukan pengalokasian dan Pendayagunaan Kawasan; dan
4) Mempermudah dan memperlancar pelaksanaan pengalokasian dan Pendayagunaan Kawasan.
b. Pengamanan administrasi objek Kawasan, meliputi :
1) Penyimpanan secara khusus dan digitalisasi warkah tentang keputusan Penetapan Kawasan Telantar dan data lainnya yang berhubungan dengan Kawasan; dan
2) Backup data pengamanan kerahasiaan data untuk mencegah manipulasi data.
50 3) Warkah tentang keputusan Penetapan Kawasan Telantar dan
data lainnya dilarang diberikan kepada pihak yang tidak berwenang.
c. Pengamanan fisik dilakukan dengan cara:
1) Pemasangan papan pengumuman mengenai penetapan menjadi kawasan yang langsung dikuasai negara di lokasi Kawasan. Adapun papan pengumuman tersebut sebagaimana Format Lampiran 28.
2) Pemeliharaan tanda batas dan data koordinatnya;
Pemeliharaan tanda batas dilakukan dengan pembuatan patok tanda batas disertai penunjuk data koordinat.
3) Melarang penggarap baru menduduki dan/atau menggarap Kawasan;
Upaya untuk mencegah terjadi perbuatan hukum di atas objek Kawasan juga dilakukan oleh instansi terkait dengan koordinasi atau memberikan surat Pemberitahuan kepada aparat Kelurahan/Desa setempat untuk tidak menerbitkan keterangan/surat/izin/keputusan mengenai dasar penguasaan apapun di atas objek Kawasan. Upaya ini dilakukan untuk memberikan kepastian yuridis terhadap objek Kawasan.
4) Mengikutsertakan pihak kepolisian Sektor Wilayah setempat, instansi terkait dan masyarakat/tokoh masyarakat sekitar untuk ikut menjaga agar lokasi Kawasan tidak ada penggarapan baru.
3. Pengusulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan dibuat oleh Instansi terkait. Usulan alokasi peruntukan Kawasan tersebut dibuat sebagai bahan dalam rangka penyusunan Pertimbangan Teknis Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan oleh Pimpinan Instansi. Usulan Alokasi Peruntukan Kawasan tersebut disusun berdasarkan data tekstual dan data spasial yang diperoleh dari Instansi terkait kepada Pimpinan Instansi
51 dalam bentuk laporan. Dalam hal tidak tersedia data tekstual dan data spasial, atau belum dilakukan penelitian lapang terhadap objek Kawasan sebagai bahan acuan dalam penyusunan Usulan Alokasi Peruntukan Kawasan oleh instasi terkait dapat melaksanakan penelitian lapang langsung dalam rangka memperoleh data tekstual dan data spasial yang dibutuhkan dalam pengusulan alokasi peruntukan Kawasan tersebut.
Data yang harus disiapkan oleh instansi terkait dalam rangka mempersiapkan Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan, adalah sebagai berikut :
a. Data Spasial, terdiri dari : 1) Peta Petunjuk Lokasi;
2) Peta Lokasi Kawasan;
3) Peta Rencana Tata Ruang Wilayah; dan 4) Peta lain yang dianggap diperlukan.
b. Data Tekstual, terdiri dari :
1) Data calon penerima Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha/Kawasan ;
2) Data yuridis.
c. Data Rencana Tata Ruang.
Informasi Rencana Tata Ruang pada lokasi objek Kawasan diperoleh dari Peta Rencana Tata Ruang Wilayah dan/atau Rencana Detil Tata Ruang yang disahkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota dan/atau Rencana Detil Tata Ruang Kabupaten/Kota.
d. Data pendukung lainnya, antara lain : 1) Data sosial ekonomi;
2) Hasil koordinasi dengan instansi dan/atau pemerintah daerah;
3) Data lain yang diperlukan.
Berdasarkan data tekstual dan data spasial objek Kawasan tersebut dengan mempertimbangkan Rencana Tata Ruang Wilayah, instansi
52 terkait mengusulkan kepada Pimpinan Instansi mengenai Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan untuk dialihkan/diberikan kepada pihak lain dan/atau Bank Tanah.
4. Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan
Setelah memperoleh Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan dari Instansi terkait, Pimpinan Instansi mengundang Instansi Terkait setempat untuk melakukan Rapat Pembahasan atau Ekspose Pendayagunaan Kawasan Telantar sebagai informasi awal bagi Pimpinan Instansi dalam penyiapan Pertimbangan Teknis Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan.
Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan Telantar juga dilakukan dalam rangka menentukan peruntukan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha/Kawasan dan memberikan gambaran terhadap penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha/Kawasan kepada Pimpinan Instansi. Adapun pada Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan Telantar tersebut, pelaksanaanya sebagai berikut :
a. Penyampaian Materi Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan oleh Instansi terkait.
Instansi terkait menyajikan/menyampaikan Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan beserta data tekstual dan data spasial yang dibutuhkan dalam bentuk paparan di hadapan Pimpinan Instansi. Data tekstual dan data spasial yang disampaikan rapat/ekspose tersebut meliputi data yang disampaikan dalam Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan, yaitu :
1) Data Spasial, terdiri dari : a) Peta Petunjuk Lokasi;
b) Peta Lokasi Kawasan;
c) Peta Rencana Tata Ruang Wilayah; dan d) Peta lain yang dianggap diperlukan.
53 2) Data Tekstual, terdiri dari :
a) Data calon penerima Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha/Kawasan;
b) Data yuridis.
3) Data Rencana Tata Ruang :
Informasi Rencana Tata Ruang pada lokasi objek Kawasan diperoleh dari Peta Rencana Tata Ruang Wilayah dan/atau Rencana Detil Tata Ruang yang disahkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota dan/atau Rencana Detil Tata Ruang Kabupaten/Kota
4) Data pendukung lainnya, antara lain : a) Data sosial ekonomi;
b) Hasil koordinasi dengan instansi dan/atau pemerintah daerah;
c) Data lain yang diperlukan.
b. Pembuatan Berita Acara Hasil Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan.
Hasil dari rapat/ekspose pendayagunaan Kawasan dituangkan dalam berita acara pelaksanaan rapat/ekspose, berisi sebagai berikut:
1) Data Objek Kawasan, berisi :
a) Riwayat Penetapan Tanah Telantar;
b) Letak dan Luas Objek Kawasan; dan c) Data lain yang dipandang diperlukan 2) Pokok-Pokok Materi Paparan Instansi terkait:
Pokok-pokok materi Paparan berisi hal-hal yang disampaikan oleh Instansi terkait dalam paparan atau penyampaian Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan.
3) Pokok-Pokok Diskusi Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan :
Pokok-pokok diskusi Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan berisi hasil diskusi, tanggapan, atau saran dari
54 peserta Ekspose maupun Pimpinan Instansi.
4) Kesimpulan Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan, berisi antara lain :
a) Dapat atau tidaknya Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan menjadi bahan penyusunan Pertimbangan Teknis Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan.
b) Dalam hal Usulan Penetapan Peruntukan Kawasan dipandang sudah mencukupi, kesimpulan memuat arahan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan untuk pihak lain dan Bank Tanah.
5) Rekomendasi Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan, berisi antara lain :
a) Rekomendasi dan tindak lanjut yang harus dilakukan dalam hal materi Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan belum mencukupi dalam rangka penyusunan Pertimbangan Teknis Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan oleh Pimpinan Instansi dan/atau Menteri;
b) Rekomendasi dan arahan alokasi peruntukan Kawasan dalam hal Usulan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan dipandang sudah mencukupi dalam rangka penyusunan Pertimbangan Teknis Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan oleh Pimpinan Instansi dan/atau Menteri.
5. Penyusunan Risalah Pengolahan Data dan Draft Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan.
Berdasarkan hasil dalam Berita Acara Pelaksanaan Rapat/Ekspose Pendayagunaan Kawasan dan Pertimbangan Teknis Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan dari Pimpinan Instansi, selanjutnya dibuat Risalah Pengolahan Data (RPD) dan Draft Keputusan Penetapan Peruntukan Kawasan oleh Pimpinan Instansi, dalam hal ini dilaksanakan pada instansi terkait. Adapun alokasi penetapan peruntukan Kawasan sesuai dengan arahan
55 penetapan peruntukan pendayagunaan Kawasan dalam Pertimbangan Teknis dimaksud, yaitu untuk Pihak lain dan/atau Bank Tanah, yang disampaikan dan dilaporkan kepada Pimpinan Instansi. Risalah Pengolahan Data (RPD) dan Draft Keputusan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan dilengkapi dengan Peta Peruntukan Pendayagunaan Kawasan.
Sebagai upaya preventif dalam memastikan objek pendayagunaan tanah telantar dapat dilaksanakan secara baik, penyiapan Risalah Pengolahan Data dan Draft Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan dibuat dengan catatan menunggu kepastian sebagai berikut :
a. Sudah berakhir masa sanggah (masa untuk mengajukan gugatan peradilan TUN) terhadap Keputusan Penetapan Kawasan Telantar, yaitu 90 (sembilan puluh hari) kalender sejak ditetapkan Keputusan Penetapan Kawasan Telantar;
b. Dalam hal terdapat tuntutan/gugatan/perkara di peradilan terhadap objek penetapan Kawasan telantar, sudah diperoleh keputusan hakim yang berkekuatan hukum tetap (inkraacht van gewijsde) yang dimenangkan oleh Instansi dan/atau Kementerian.
Format Draft Keputusan Penetapan Peruntukan Pendayagunaan Kawasan yang dilakukan oleh Pimpinan Instansi sebagaimana Format Lampiran 31.
D. Tata Cara Pelaksanaan Keputusan Penetapan Peruntukan