Bab 4 PEMBAHASAN
4.3. Kegiatan Operasional
Kegiatan utama dari PBF Tramedifa, antara lain berupa kegiatan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat kepada pelanggan. Pelaksanaan kegiatan operasional tersebut memerlukan manajemen yang baik agar proses pendistribusian maupun pengadaan produk berjalan dengan baik dan pada akhirnya dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan. Pengelolaan produk di PBF Tramedifa sedapat mungkin dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pada Pedoman CDOB.
4.3.1. Pengadaan
Pengadaan obat di PBF Tramedifa terutama berfokus pada keperluan dari pelanggan yang termasuk di dalam SFHG. Sediaan obat yang diadakan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu obat standar dan obat nonstandar. Obat standar merupakan daftar obat yang digunakan oleh dokter-dokter di fasilitas kesehatan dalam grup SFHG dan terdapat di dalam Formularium Obat SFHG. Stok obat standar harus selalu tersedia secara rutin. Obat nonstandar merupakan obat-obatan yang tidak termasuk ke dalam Formularium Obat SFHG. Pengadaannya tidak wajib, dapat disesuaikan dengan pesanan yang ada dari pelanggan.
36
Universitas Indonesia
4.3.1.1. Perencanaan dan pembelian
Perencanaan untuk pengadaan obat didasarkan pada jumlah stok minimum barang yang terdapat di dalam database. Data keseluruhan obat tergabung di dalam satu software aplikasi milik PBF Tramedifa, yaitu “Tramedifa System”.
Software ini terintegrasi ke seluruh perangkat komputer yang terdapat di kantor PBF ini, sehingga setiap unit bagian kerja dapat mengaksesnya untuk pelaksanaan seluruh kegiatan operasional di PBF. Database obat, terutama untuk keperluan instansi di dalam SFHG, disusun berdasarkan data pareto selama tiga bulan ke belakang.
Pembelian untuk obat standar dan obat yang dipesan secara rutin oleh pelanggan dilakukan dengan berpatokan pada jumlah stok minimum barang di gudang. Jumlah stok minimum dapat dicek di setiap saat adanya pesanan yang masuk. Sebelum pembuatan Surat Pemesanan Barang (SPB) di “Tramedifa System”, maka pihak PBF akan mengecek terlebih dahulu ketersediaan stok barang tersebut, sehingga pemesanan barang yang tidak tersedia atau jumlahnya di bawah stok minimum dapat langsung dilakukan kepada distributor atau subdistributor (supplier). Untuk pengadaan barang yang dibutuhkan CITO oleh pelanggan, maka di usahakan barang dapat diantarkan ke PBF di hari yang sama dengan pemesanan, sehingga dapat segera disalurkan kepada pemesan.
Supplier yang dipilih untuk pengadaan barang merupakan distributor atau subdistributor resmi. Pemilihan ini bertujuan agar proses administrasi dan penerbitan faktur nantinya jelas dan mudah. Pemesanan barang dapat dilakukan dengan langsung menggunakan Surat Pemesanan (SP) ataupun melalui telepon (Lampiran 10). Walaupun pemesanan dilakukan via telepon, pada akhirnya pihak PBF Tramedifa tetap wajib mengeluarkan SP. SP akan disetujui dan ditandatangani oleh Direktur PBF Tramedifa. SP tersebut diperlukan untuk kepentingan dokumen pembayaran oleh pihak PBF serta kelengkapan pengarsipan dokumen. SP dapat diberikan atau tidak kepada pihak supplier, tergantung pada ketentuan dari tiap-tiap supplier. Alur pemesanan barang, baik melalui telepon atau secara langsung menggunakan SP, dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2.
Pemesanan untuk sediaan psikotropika dilakukan dengan menggunakan lembar surat pesanan psikotropika yang ditandatangani oleh penanggung jawab dari divisi Pharma (Lampiran 11) dan selanjutnya surat pesanan akan diserahkan ke pihak supplier. Sementara untuk pengadaan dan penyaluran narkotika tidak dilakukan di PBF Tramedifa karena narkotika hanya dapat diadakan dan didistribusikan oleh distributor PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 199/Menkes/SK/III/1996 tentang Penunjukan PBF PT (Persero) Kimia Farma Depot Sentral sebagai Importir Tunggal Narkotika di Indonesia.
Gambar 4.1 Alur pemesanan barang dari PBF Tramedifa ke Supplier via telepon
Gambar 4.2 Alur pemesanan barang dari PBF Tramedifa ke Supplier secara langsung menggunakan SP
PBF ini memberlakukan hari tertentu untuk dapat menerima kunjungan sales dari pihak supplier. Di dalam kunjungan tersebut, sales biasanya melakukan pengenalan dan penawaran terhadap barang-barang baru yang disediakan oleh supplier yang diwakilinya. Seringkali pula mereka melakukan follow-up terhadap
38
Universitas Indonesia
produk yang sebelumnya telah ditawarkan, apakah pihak PBF akan membeli atau tidak. Pada saat kunjungan sales ini, pihak PBF juga dapat melakukan pemesanan secara langsung melalui sales tersebut.
Pembelian barang disesuaikan dengan ritme perputaran barang di PBF, apakah termasuk barang yang bergerak cepat (fast moving) atau bergerak lambat (slow moving). Barang-barang yang sering digunakan oleh pelanggan, perlu untuk selalu disediakan stoknya di gudang. Hingga saat ini, proses pembelian barang di PBF Tramedifa dapat dilakukan setiap saat sesuai dengan keperluan untuk pengisian stok minimum ataupun sesuai permintaan dari pelanggan. Namun untuk ke depannya, direncanakan agar proses pembelian dapat dilaksanakan secara lebih terjadwal yakni per dua minggu, terutama untuk obat-obat standar dan obat non-standar yang rutin diperlukan pelanggan.
4.3.1.2. Penerimaan dan pembayaran
Barang yang telah dipesan dapat diantar ke PBF pada hari itu juga atau beberapa hari setelah pemesanan, tergantung pada ketersediaan barang tersebut di tempat supplier. Pada saat barang datang, barang akan diperiksa terlebih dahulu oleh petugas gudang. Pemeriksaan yang dilakukan, meliputi kesesuaian antara jumlah, jenis, dan bentuk barang yang diantarkan dengan data pada SP dan faktur yang ada, kondisi fisik barang tersebut, tanggal kedaluarsa (expired date, ED) barang, harga, dan diskon. Jika salah satu kondisi tersebut tidak terpenuhi atau terdapat ketidaksesuaian harga dan diskon yang tertera di faktur dengan kesepakatan di awal pemesanan, maka barang akan dikembalikan kepada supplier melalui kurir yang mengantarkan barang. Barang yang tidak sesuai akan diretur atau data faktur yang tidak sesuai diminta untuk diperbaiki terlebih dahulu. Akan tetapi, jika seluruh barang yang diantar telah sesuai dengan faktur, dalam kondisi yang baik, dan belum mendekati atau mencapai ED, maka barang pesanan akan diterima. Selanjutnya, barang tersebut disimpan di gudang. Alur penerimaan barang dari supplier ke PBF Tramedifa dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Setelah barang diterima, faktur akan ditandatangani oleh petugas gudang sebagai pihak penerima. Tanggal penerimaan barang juga harus ditulis dengan jelas pada faktur tersebut. Faktur kemudian dicap dengan cap PBF Tramedifa.
Pihak PBF akan menerima lembar copy faktur dari pihak supplier. Data dari copy
faktur tersebut kemudian dicek kembali dan di-input oleh bagian resepsionis, yang meliputi data nomor faktur, nama barang pesanan, jumlah pesanan, harga, dan diskon yang diperoleh untuk pembelian barang tersebut (Lampiran 12).
Gambar 4.3 Alur penerimaan barang dari supplier di PBF Tramedifa Faktur pesanan dapat digantikan dengan Surat Jalan dari supplier apabila barang yang dipesan diperlukan CITO oleh PBF, sehingga tidak dapat menunggu hingga faktur pesanan tercetak. Isi dari Surat Jalan tersebut adalah keterangan bahwa pihak supplier mengantarkan barang pesanan dari PBF, disertai dengan data nama dan kuantitas barang yang dipesan. Pada kondisi digunakannya Surat Jalan, faktur pesanan tetap akan dibuat oleh supplier dan secara menyusul akan diberikan kepada PBF. Saat faktur pesanan akhirnya diserahkan, bukti tersebut tetap disimpan oleh pihak PBF sebagai arsip.
Data lain yang juga terdapat dalam faktur adalah tanggal jatuh tempo untuk pembayaran yang telah ditetapkan oleh pihak supplier. Lama tempo yang diberikan masing-masing penyalur berbeda-beda antara 7 hingga 60 hari dari sejak barang diantarkan ke pihak PBF. Lama tempo dengan supplier sedapat mungkin dinegosiasikan agar dapat melebihi dari waktu tempo yang diberi oleh PBF Tramedifa kepada pelanggan. Apabila sebaliknya, maka pihak PBF akan
40
Universitas Indonesia
Berdasarkan tanggal jatuh tempo yang diberikan, pihak PBF akan menyesuaikan kembali dengan hari pembayaran yang ditetapkan di PBF Tramedifa, yaitu pada hari Jumat. Apabila tanggal jatuh tempo dari supplier tidak jatuh pada hari tersebut, maka pihak PBF akan memajukan atau memundurkan tanggal jatuh tempo agar pembayaran dapat tetap dilakukan di hari yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan tentunya dengan adanya kesepakatan terlebih dahulu dengan pihak supplier. Tenggang waktu yang diberikan untuk melakukan penagihan ke PBF adalah ± 3 hari. Tanggal jatuh tempo yang telah disesuaikan oleh PBF kemudian ditulis kembali di dalam faktur yang ada.
Sebelum hari pembayaran oleh PBF, biasanya akan dilakukan tukar faktur dengan pihak sales dari supplier. Tukar faktur biasanya dilakukan satu minggu setelah barang pesanan diterima oleh pihak PBF. Jadwal tukar faktur yang ditetapkan di PBF Tramedifa adalah pada hari Senin dan Selasa. Pada proses tukar faktur ini, sales dari pihak supplier akan memberikan faktur penjualan asli kepada pihak PBF. Sebagai bukti telah dilakukan proses tukar faktur ini, terdapat tanda terima tukar faktur yang harus ditandatangani oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam proses pertukaran faktur. Selain itu, PBF juga akan menerima faktur pajak yang dikeluarkan oleh pihak penyalur. Setelah proses tukar faktur, lembar asli faktur penjualan dan lembar copy faktur penjualan yang diterima oleh bagian resepsionis selanjutnya diserahkan ke bagian keuangan, untuk kemudian dilakukan proses pembayaran. Sementara, lembar asli faktur pajak langsung disimpan secara terpisah di dalam file tersendiri. Lembar tukar faktur dan faktur pajak dapat dilihat pada lampiran 14 dan lampiran 15 .
Pembayaran dapat dilakukan secara tunai atau non-tunai. Pembayaran tunai (cash) dilakukan untuk pemesanan dengan nominal kecil, misalnya pemesanan kurang dari atau sebanyak Rp 100.000,00. Data mengenai pembayaran ini didokumentasikan dalam lembar serah terima pembayaran mingguan (Lampiran 16). Pembayaran non-tunai dapat dilakukan dengan cara giro (Lampiran 17) atau transfer, tergantung pada jumlah nominal yang akan dibayarkan. Untuk setiap pembayaran yang dilakukan, pihak keuangan akan menerbitkan Bukti Pengeluaran (lampiran 18) sebagai bukti telah dilakukannya pembayaran oleh pihak PBF Tramedifa.
4.3.2. Penyimpanan obat
Sediaan obat jadi di gudang obat disimpan di atas rak-rak yang dibeda-bedakan menurut bentuk sediaannya. Rak dengan ukuran lebar yang lebih luas digunakan untuk penyimpanan sediaan obat solid dan semisolid, sementara rak dengan ukuran lebar yang lebih kecil untuk sediaan obat cair. Penyusunan obat pada rak-rak tersebut dilakukan berdasarkan alfabetis nama generik obat yang diurutkan dari atas ke bawah. Pada rak penyimpanan sediaan obat solid dan semisolid, masing-masing tingkat ditempati obat dari dua jenis alfabet. Sementara, pada rak penyimpanan sediaan cair, masing-masing tingkat ditempati oleh obat dari dua atau tiga jenis alfabet, tergantung jumlah stok obat untuk masing-masing alfabet. Hal ini dikarenakan pada umumnya sediaan obat cair memiliki bentuk kemasan memanjang ke atas, sehingga secara luas hanya memerlukan lot yang lebih sedikit untuk penyimpanannya dibandingkan dengan sediaan obat solid atau semisolid. Selain itu, penyusunan tiap deret obat adalah berdasarkan aturan FIFO (First In First Out). Tidak ada penanda khusus untuk posisi obat dari masing-masing alfabet di rak penyimpanan, sehingga peletakan dapat dilakukan secara fleksibel sesuai dengan jumlah stok obat yang ada untuk tiap alfabet.
Penyimpanan obat yang tidak memerlukan perlakuan khusus diletakkan pada rak di gudang pada suhu antara 15o-25o C. Obat-obat yang memerlukan suhu lebih rendah, seperti vaksin, diletakkan di dalam lemari es yang suhunya diatur agar tetap berada di antara 2o-8o C. Penyimpanan obat pada tiap rak di dalam lemari es tersebut juga disusun berdasarkan urutan alfabet dari atas ke bawah dan tiap deretnya disusun secara FIFO. Suhu lemari es yang selama ini digunakan berkisar antara 3o-4o C.
Penyimpanan untuk obat-obatan yang memiliki nama, tampilan, dan ucapan yang mirip, atau sering disebut dengan look alike sound alike (LASA), tetap disimpan di dalam satu deret rak yang sama. Akan tetapi, peletakan antara masing-masing kemasan obat-obat LASA tersebut diselingi dengan peletakan produk obat yang lain. Tujuan cara peletakan seperti ini adalah agar dapat mencegah terjadinya kesalahan dalam pengambilan obat-obat tersebut.
Kartu stok obat yang memuat rekaman kejadian mutasi dan stok obat di dalam gudang tidak tersedia secara manual. Kartu stok barang hanya dibuat secara
42
Universitas Indonesia
komputerisasi di dalam software “Tramedifa System”. Pendataan kejadian mutasi dan stok barang setiap harinya hanya dilakukan menggunakan data pada laporan penerimaan atau laporan penjualan barang yang dibuat oleh bagian gudang. Setiap perubahan jumlah barang yang terjadi setelah kegiatan pengadaan dan penyaluran akan langsung dicatat pada lembar laporan tersebut, sehingga secara tidak langsung lembar laporan penerimaan atau laporan penjualan barang dapat difungsikan juga sebagai kartu stok.
Inventarisasi terhadap persediaan barang perlu selalu dilakukan secara rutin untuk mengecek kesesuaian antara kegiatan mutasi yang dilakukan dengan stok barang yang tersedia di gudang. Kegiatan ini berguna untuk mencegah terjadinya kerugian akibat kemungkinan adanya kehilangan atau kelebihan barang. Inventarisasi barang di gudang secara keseluruhan, atau yang sering disebut sebagai stok opname (SO), dilakukan setiap tiga bulan sekali. Data yang terdapat di dalam suatu laporan stok, di antaranya meliputi nama obat (sesuai urutan alfabet), bentuk sediaan, kuantiti barang, tanggal ED, dan nomor batch produk. Kegiatan SO ini umumnya dilakukan di awal bulan per tiga bulannya, yaitu antara tanggal 4 dan 5. Pada hari pelaksanaan SO, seluruh kegiatan operasional di kantor PBF akan diliburkan. Selain per tiga bulan, SO juga dilakukan di akhir tahun untuk kemudian dilaporkan sebagai laporan stok akhir.
Data yang termuat di dalam laporan stok akhir ini adalah data selama satu tahun hingga per tanggal 30 Desember. Petugas yang melakukan SO harus menandatangani laporan yang menyatakan bahwa dia telah melakukan SO dan laporan pertanggungjawaban hasil SO diberikan kepada bagian pengadaan.
4.3.3. Penyaluran
Pemesanan barang ke PBF Tramedifa dapat dilakukan secara langsung menggunakan Surat Pemesanan (SP) yang dibuat oleh pelanggan atau via telepon.
Pelanggan yang melakukan pemesanan via telepon, pada akhirnya tetap harus membuat SP. SP tersebut diserahkan kepada pihak PBF pada saat pengiriman barang oleh kurir dari PBF.
Setelah pesanan obat diterima oleh pihak PBF Tramedifa, selanjutnya dari bagian pengadaan akan dibuat Surat Permintaan Barang (SPB) melalui software
“Tramedifa System” yang berisi item-item barang yang dipesan oleh pelanggan
beserta jumlahnya. Melalui sistem tersebut, SPB yang telah dibuat akan tersambung kepada petugas di bagian gudang. Oleh petugas gudang, akan dibuatkan faktur penjualan berdasarkan SPB yang masuk. Faktur yang dibuat terdiri atas lima rangkap, yaitu lembar dengan warna putih, merah, kuning, hijau, dan biru. Tiap satu faktur dapat memuat hingga sebanyak 10 item pesanan.
Apabila pesanan lebih dari 10 item, maka harus dibuat dalam faktur baru. Selain itu, data pesanan dari SPB juga dicatat ke dalam Buku SPB sesuai dengan pesanan untuk tiap nomor SPB. Data dalam catatan tersebut nantinya juga dapat berfungsi untuk memonitor pelunasan pembayaran dari pihak pelanggan terhadap pesanannya ke PBF. Jika barang yang dibutuhkan cito oleh pelanggan dan faktur belum sempat untuk dicetak, maka PBF akan mengeluarkan Bukti serah terima sebagai dokumen sementara yang disertakan dalam pengantaran barang ke pelanggan. Lembar faktur dan lembar serah terima dapat dilihat pada lampiran 19 dan lampiran 20. Untuk penyaluran sediaan psikotropika, pihak PBF akan membuat faktur penjualan psikotropika yang terpisah dengan faktur dari produk selain psikotropika untuk pihak outlet.
Setelah faktur penjualan dicetak, pihak gudang akan mengambil obat dari persediaan di gudang sesuai dengan isi pesanan di dalam faktur. Obat-obat yang telah disiapkan kemudian diperiksa kembali kesesuaiannya dengan faktur, baru kemudian dikemas untuk pengiriman kepada pelanggan. Cara pengemasan obat pesanan harus diperhatikan dan disesuaikan dengan jenis produk yang akan diantar. Tujuannya adalah agar dapat menjaga keamanan produk dari kerusakan selama proses pengantarannya. Pengemasan obat pesanan dapat menggunakan boks karton atau plastik, disesuaikan dengan keadaan cuaca pada saat pengiriman.
Khusus untuk penyaluran vaksin, faktur pesanan dibuat khusus dan terpisah dari faktur pesanan barang lainnya. Juga terdapat tambahan data mengenai suhu pada saat vaksin dikirim dari PBF serta suhu pada saat vaksin tersebut diterima. Jarak antara kedua suhu tersebut tidak boleh menyimpang dari rentang suhu yang tertera pada kemasan vaksin. Untuk pengontrolan suhu saat pengiriman, vaksin akan disimpan di dalam boks penyimpanan khusus. Boks tersebut dilengkapi dengan alat pengatur suhu, sehingga memungkinkan produk yang dibawa tetap berada di dalam lingkungan suhu yang sesuai.
44
Universitas Indonesia
Setelah proses pengemasan, kemudian obat dapat dikeluarkan dari gudang.
Obat dan faktur pesanan kemudian diserahkan kepada kurir untuk diantarkan kepada pelanggan. Sebelum pesanan diantarkan, dilakukan crosscheck kembali oleh kurir mengenai kesesuaian obat yang akan diantarnya dengan faktur.
Pengecekan berganda ini dilakukan agar meminimalisir kemungkinan terjadinya kesalahan pengiriman produk obat.
Pesanan barang ke PBF Tramedifa dilayani setiap harinya selama jam operasional kantor PBF, yaitu dari pukul 08.30-17.00 WIB. Jadwal pengiriman obat terdiri dari dua shift kerja. Shift pertama pada pukul 08.30-17.00 WIB, sedangkan shift kedua pada pukul 10.00-18.00 WIB. Pengiriman obat yang dipesan selama jam operasional kantor PBF dapat segera diantar ke pelanggan pada hari yang sama apabila obat tersedia di gudang. Akan tetapi, apabila terdapat pemesanan di atas jadwal pengiriman dan obat tidak tersedia di gudang, maka pengiriman akan dilakukan keesokan harinya. Proses penyaluran obat dari PBF Tramedifa diatur agar sedapat mungkin pesanan diantarkan di hari yang sama dengan hari pemesanan. Meskipun demikian, produk baru yang sebelumnya tidak distok di gudang PBF memerlukan waktu yang lebih lama untuk pengirimannya.
Pesanan obat baru yang disertai dengan contoh dapat diantarkan dalam waktu 3 hari setelah pemesanan, sedangkan pesanan obat baru tanpa disertai contoh memerlukan waktu hingga 1 minggu setelah pemesanan untuk pengantarannya.
Setibanya pesanan di tempat pelanggan, pihak pelanggan melakukan pengecekan terhadap obat yang dikirim oleh PBF, sehingga apabila terjadi ketidaksesuaian pada pesanan dapat segera dilakukan pengembalian. Sementara, apabila pesanan telah sesuai dengan permintaan pelanggan, maka kurir akan memberikan faktur penjualan dari PBF Tramedifa untuk ditandatangani oleh penerima barang dari pihak pelanggan. Tiap lembar dari kelima rangkap faktur kemudian dicap dengan cap institusi pelanggan. Selanjutnya, dua lembar copy faktur (warna hijau dan biru) diserahkan kepada pelanggan, sementara ketiga rangkap lainnya (warna putih, merah, dan kuning) dibawa kembali ke kantor PBF.
Pada saat pengantaran ini pihak pelanggan juga harus menyerahkan SP kepada pihak PBF, terutama bila pemesanan via telepon. Alur proses penyaluran pesanan dari PBF Tramedifa ke pelanggan dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Setelah proses pengantaran, tiga rangkap faktur pesanan yang tersisa dibawa kembali ke kantor PBF untuk diserahkan kepada bagian gudang (lembar copy warna kuning) dan bagian keuangan (lembar warna putih dan merah). Di bagian keuangan, kedua lembar faktur tersebut digunakan untuk pengurusan dokumen tukar faktur. Proses tukar faktur dengan pelanggan dilakukan satu minggu setelah pengiriman. Dokumen yang akan disiapkan oleh PBF Tramedifa, antara lain Tanda Terima Faktur Penjualan dan Faktur Pajak (Lampiran 21 dan lampiran 15).
Gambar 4.4 Alur penyaluran barang dari PBF Tramedifa ke pelanggan Faktur Pajak dikeluarkan karena dalam hal penyaluran obat kepada pihak lain, maka PBF Tramedifa berlaku sebagai pihak yang mengeluarkan pajak untuk pelanggannya, yaitu pajak pertambahan nilai (PPN). Hal ini dikarenakan PBF ini menyalurkan obat sebagai barang kena pajak kepada pelanggan. PPN diberlakukan bagi pihak pengusaha yang dalam satu bulan mendapat penerimaan
46
Universitas Indonesia
bruto melebihi Rp 600.000.000,00 (Permenkeu Nomor 68/PMK.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai). PPN merupakan pajak yang wajib dibayarkan oleh konsumen yang mengkonsumsi barang atau jasa yang termasuk objek PPN. Pajak ini termasuk ke dalam kategori pajak tidak langsung karena beban pembayaran pajak ditanggung oleh konsumen (dalam hal ini adalah pelanggan), namun penyetoran PPN ke kas negara dibebankan kepada penjual (dalam hal ini PBF Tramedifa) (Direktorat Jenderal Pajak, 2012). Hal yang sebaliknya terjadi ketika PBF melakukan pemesanan kepada supplier, maka PBF akan mendapatkan PPN melalui faktur pajak dari pihak supplier.
Pada hari pelaksanaan tukar faktur, pihak PBF akan kembali ke tempat pelanggan dan menyerahkan lembar asli faktur penjualan, lembar copy Tanda Terima Faktur Penjualan (warna merah) yang telah diisi dan ditandatangani oleh kedua belah pihak, dan lembar asli faktur pajak. Pembayaran pesanan dari pihak pelanggan kemudian dilakukan pada tanggal jatuh tempo yang telah disepakati bersama dengan pihak PBF. Lama tempo untuk penjualan barang berkisar antara 0-30 hari.
Cara pembayaran yang diterima dari pelanggan dapat secara kredit menggunakan cek, giro, transfer, dan dapat pula secara tunai (cash). Pembayaran tunai biasanya diperuntukkan bagi pelanggan yang baru bekerja sama dengan PBF Tramedifa dan bagi outlet yang melakukan pembelian sediaan psikotropika. Pada pembayaran psikotropika diberlakukan sistem cash and carry sehingga barang
Cara pembayaran yang diterima dari pelanggan dapat secara kredit menggunakan cek, giro, transfer, dan dapat pula secara tunai (cash). Pembayaran tunai biasanya diperuntukkan bagi pelanggan yang baru bekerja sama dengan PBF Tramedifa dan bagi outlet yang melakukan pembelian sediaan psikotropika. Pada pembayaran psikotropika diberlakukan sistem cash and carry sehingga barang