• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.4. Kewaspadaan Universal

2.4.3. Kegiatan Pokok Kewaspadaan Universal

Sejak AIDS dikenal, kebijakan baru yang bernama kewaspadaan universal dikembangkan. Dalam sarana kesehatan (rumah sakit, puskesmas, praktik dokter, dan sebagainya), penerapan kewaspadaan universal harus diterapkan secara penuh oleh petugas pelayanan kesehatan.CDC Atlanta (1987) dalam Zuidah (2007) menyebutkan bahwa prinsip utama pencegahan infeksi pada pelayanan kesehatan adalah menjaga hygiene individu, hygiene ruangan, dan sterilisasi instrument.

Larson & Lusk (1985) dan Leonard (1986) dalam Zuidah (2007) juga mengemukakan kesalahan teknik mencuci tangan yang tidak tepat. Semua laporan tersebut menekankan kurangnya pelajaran teknik mencuci tangan yang adekuat. Larutan pencuci tangan kloreksidin terbukti merupakan bukti kuat bahwa tangan berperan sebagai jalur utama transmisi infeksi nosokomial.

Zuidah (2007) menyebutkan bahwa ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kewaspadaan universal, yaitu:

1. Mencuci tangan

Cuci tangan harus selalu dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat pelindung lain untuk menghilangkan/mengurangi mikroorganisme yang ada ditangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan. Cuci tangan tidak dapat digantikan dengan memakai sarung tangan.

Ada tiga cara cuci tangan yang dilaksanakan sesuai kebutuhan, yaitu:

b. Cuci tangan aseptik, sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik.

c. Cuci tangan bedah (surgical hand scrub), sebelum melakukan tindakan bedah secara aseptik dan sikat steril.

2. Sarana Cuci Tangan

Air mengalir adalah sarana utama untuk cuci tangan dengan saluran pembuangan atau bak penampung yang memadai. Dengan guyuran air mengalir tersebut atau bak yang memadai, maka mikroorganisme yang terlepas karena gesekan mikroorganisme atau kimiawi saat cuci tangan akan terhalau dan tidak menempel lagi di permukaan kulit.

Sabun dan detergen, bahan tersebut tidak membunuh mikroorganisme tetapi menghambat dan mengurangi jumlah mikroorganisme dengan jalan mengurangi tegangan permukaan sehingga mikroorganisme terlepas dari permukaan kulit dan mudah terbawa oleh air. Jumlah mikroorganisme semakin berkurang dengan meningkatnya frekuensi cuci tangan, namun dilain pihak dengan seringnya menggunakan sabun atau detergen maka lapisan lemak kulit akan menghilang dan membuat kulit menjadi kering dan pecah-pecah. Hilangnya lapisan lemak akan memberi peluang untuk timbulnya kembali mikroorganisme.

Larutan antiseptik atau disebut juga antimikroba topikal, dipakai kulit atau jaringan hidup lainnya untuk menghambat aktivitas atau membunuh mikroorganisme pada kulit. Antiseptik memiliki bahan kimia yang memungkinkan untuk digunakan pada kulit dan selaput mukosa. Antiseptik memiliki keragaman dalam hal efektivitas.

Kulit manusia tidak dapat disterilkan. Tujuan yang ingin dicapai adalah penurunan jumlah mikroorganisme pada kulit secara maksimal terutama kuman transier.

Asepwandi (2008) dalam Latifah (2010), menyebutkan bahwa beberapa jenis sabun ataupun larutan desinfektan yang sering digunakan di rumah sakit antara lain yaitu:

a. Chlorhexidine Glukonat

Merupakan jenis desinfektan yang paling sering digunakan. Larutan pencuci tangan jenis ini sangat praktis dan mudah digunakan karena tidak memerlukan air sebagai pembilas.

b. Phenolic/ Fenol

Fenol merupakan zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Fenol bersifat asam dan merupakan komponen utama pada antiseptik dagang.

c. Chloroxylenol

Merupakan komponen utama pada sabun anti bakteri seperti dettol. d. Thymol

Thymol merupakan desinfektan yang berasal dari tanaman. Thymol sedikit larut dalam air pada pH netral, tetapi sangat larut dalam alkohol. Thymol juga memiliki toksisitas yang minimal pada manusia.

e. Ethanol/ Alkohol

juga sering dijumpai jenis handsanitiser yang salah satu kandungan utamanya adalah alkohol.

3. Menggunakan Alat Pelindung

Alat pelindung tubuh digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari resiko pajanan urin dan semua jenis cairan tubuh, serta kulit yang luka, yang akan mudah terpajan dan potensial terinfeksi. Indikasi pemakaian alat pelindung disesuaikan dengan jenis pelindung tubuh yang dipakai dan tergantung pada jenis tindakan atau kegiatan yang akan dikerjakan.

4. Pengelolaan Alat Kesehatan

Kejadian infeksi yang sering di sarana kesehatan salah satu faktor resikonya adalah pengelolaan alat kesehatan atau cara dekontaminasi dan desinfeksi yang kurang tepat. Meskipun tidak semua alat kesehatan yang digunakan dalam pelayanan medis kepada pasien harus disterilkan, tetapi pengelolaannya harus dengan cara yang benar dan tepat. Dalam hal ini harus di identifikasi apakah alat perlu dicuci saja atau didesinfeksi atau perlu disterilkan.

5. Desinfeksi Lokasi tindakan

Desinfeksi adalah suatu proses untuk menghilangkan sebagian atau semua mikroorganisme dari alat kesehatan dan lokasi tindakan kecuali indesfora bakteri. 2.5. Pencegahan Infeksi Nosokomial

Dalam Tietjen (2004) menyatakan bahwa sebagian besar infeksi ini dapat dicegah dengan strategi yang telah tersedia, secara relatif murah yaitu:

1. Mentaati praktek pencegahan infeksi yang dianjurkan, terutama kesehatan dan kebersihan tangan serta pemakaian sarung tangan.

2. Memperhatikan dengan seksama proses yang telah terbukti bermanfaat untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan dan benda lain yang kotor, diikuti dengan sterilisasi atau desinfeksi tingkat tinggi

3. Meningkatkan keamanan dalam ruang operasi dan area beresiko tinggi lainnya dimana kecelakaan diperlukan yang sangat serius dan paparan pada agen penyebab infeksi sering terjadi.

4. Pencegahan standar merupakan suatu bentuk tindakan pencegahan terhadap infeksi yang umum dilakukan oleh perawat dalam setiap melakukan tindakan keperawatan kepada pasien. Pencegahan ini merupakan teknik mencuci tangan, menggunakan masker, sarung tangan (hansdscun), pakaian khusus dan penggunaan benda tajam sekali pakai (disposable).

Selain itu infeksi nosokomial dapat dicegah dengan memutuskan mata rantai terjadinya infeksi nosokomial, yaitu dengan cara:

a. Meningkatkan pengetahuan personil rumah sakit tentang infeksi nosokomial. b. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resiko infeksi nosokomial

bagi pasien yang dirawatnya.

c. Melakukan semua standar prosedur kerja dengan benar dan sempurna. d. Identifikasi penyebab infeksi nosokomial.

e. Pemberian pengobatan yang tepat dan rasional.

f. Mengikutsertakan penderita dan keluarga dengan memberikan pengetahuan praktis tentang infeksi nosokomial serta penyakit yang diderita oleh penderita.

g. Memberikan petunjuk praktis pada pengunjung tentang hal-hal yang perlu dijaga/dilakukan/dihindarkan pada waktu pengunjungan melalui papan pengumuman, kertas petunjuk dipintu dan petugas informasi diruangan.

Panjaitan (2006) dalam isolation precaution menulis tentang standar precaution yang harus dilaksanakan untuk semua pasien yang masuk kerumah sakit yaitu:

1. Cuci Tangan

a. Melakukan cuci tangan dengan menggunakan antiseptik pada cuci tangan prosedur. Melakukan cuci tangan dengan menggunakan sabun biasa pada cuci tangan rutin /sosial. Pada kondisi tertentu cuci tangan dapat dilakukan dengan menggunakan “handrubs” (menggosok tangan).

b. Cuci tangan dilakukan setelah menyentuh darah, cairan tubuh, sekresi, ekresi dan peralatan yang terkontaminasi, walaupun menggunakan sarung tangan segera setelah melepas sarung tangan, jika kontak diantara satu pasien dengan pasien lainnya, diantara prosedur berbeda pada pasien yang sama sebelum dan sesudah kontak dengan pasien, sebelum dan sesudah melakukan tindakan, setelah tiba dirumah sakit dan sebelum meninggalkan rumah sakit. 2. Sarung Tangan

a. Memakai sarung tangan bersih pada saat menyentuh darah, cairan tubuh dan peralatan yang terkontaminasi dan saat menangani peralatan yang habis dipakai.

c. Melepaskan sarung tangan segera setelah dipakai, sebelum menyentuh peralatan atau permukaan lingkungan yang tidak terkontaminasi dan sebelum kepasien berikutnya.

3. Masker, Pelindung Mata dan Wajah

a. Memakai masker selama melakukan tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terkena percikan darah atau cairan tubuh pasien.

b. Melepaskan masker setelah dipakai dan segera mencuci tangan. 4. Gaun/ Apron

a. Memakai gaun selama melakukan tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terkena percikan darah atau cairan tubuh pasien.

b. Segera melepaskan gaun dan mencuci tangan untuk mencegah berpindahnya mikroorganisme ke pasien dan lingkungan.

5. Peralatan Perawatan Pasien

a. Segera melakukan dekontaminasi peralatan yang dipakai setelah dibersihkan dahulu dari noda darah atau cairan tubuh pasien.

b. Membersihkan dan memperoses kembali peralatan yang dipakai ulang sesuai prosedur pembuangan limbah.

6. Pengendalian Lingkungan

a. Tidak melakukan “pogging” untuk tujuan menurunkan rate infeksi nosokomial pengendalian lingkungan.

b. Melakukan pembersihan dengan cairan desinfektan setiap hari atau bila perlu pada semua permukaan lingkungan seperti meja pasien, meja petugas, tempat tidur, tempat tidur pasien, standar infus, pegangan pintu.

c. Membersihkan dan mengepel dengan cairan desinfektan dua kali sehari bila perlu.

d. Membatasi jumlah pengunjung pada waktu bersamaan.

e. Membatasi jumlah personil pada waktu yang sama di ruang perawatan. 7. Linen

a. Memisahkan linen ternoda darah atau cairan tubuh dengan linen kotoran tanpa noda.

b. Memisahkan linen kotoran pasien terinfeksi dengan pasien non infeksi. c. Tidak meletakkan linen dilantai dengan mengibas-ngibaskan linen. 8. Penanganan Limbah

Pemisahan limbah sesuai jenisnya diawali sejak limbah tersebut dihasilkan. a. Limbah padat terkontaminasi dengan darah, cairan tubuh dibuang ketempat

sampah kantong plastik kuning.

b. Limbah padat tidak terkontaminasi dengan darah, cairan tubuh dibuang ketempat sampah kantong plastik hitam.

c. Limbah benda tajam atau jarum dibuang ke kontainer yang berwarna kuning tahan tusuk dan tahan air (save cup).

9. Kesehatan Karyawan dan Darah Yang Terinfeksi Pathogen Untuk mencegah luka tusuk benda tajam:

a. Berhati-hati saat menangani jarum, scapel, instrument yang tajam atau alat kesehatan lainnya dengan permukaan tajam.

b. Jangan pernah menutup kembali jarum bekas pakai atau memanipulasikannya dengan dua tangan.

c. Jangan pernah membengkokkan atau mematahkan jarum.

d. Buanglah benda tajam atau jarum bekas pakei kedalam wadah yang tahan tusuk dan air, dan tempatkan pada area yang mudah dijangkau dari area tindakan.

e. Gunakan mouthpleces, resussitasi bags atau peralatan ventilasi lain sebagai alternatif mulut ke mulut.

2.6. Fasilitas Sanitasi Rumah Sakit Berdasarkan Permenkes RI Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004