• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Saat Lebaran Haji

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: AHMAD DJUNAIDI M LUBIS (Halaman 82-0)

BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3.3 Tradisi Masyarakat Saat Lebaran Haji

3.3.2 Kegiatan Saat Lebaran Haji

Umat islam memiliki dua hari raya besar dalam setiap tahunnya , keduanya adalah hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Pastinya waktu dari kedua hari raya ini berbeda, kalau hari raya idul Fitri dilaksanakan pada bulan syawal tepatnya satu syawal sedangkan hari raya idhul adha dilaksanakan pada 10 Dhulhijjah tepatnya

ketika umat muslim seluruh dunia sedang melakukan ibadah haji. Saat lebaran idul adha disunnahkan untuk berpuasa hingga setelah sholat eid dan sholat idul adha dianjurkan agar dilaksanakan lebih pagi sehingga dapat dilanjutkan prosesi penyembelihan hewan kurban atau masyarakat menyebutnya mangkoyok lombuyang artinya memotong lembu.

Lebaran haji ialah salah satu momen lebaran dimana dalam islam merupakan hari besar umat islam. Pada masyarakat Parmompang setelah selesai shalat danmakan pagi masyarakat melanjutkan dengan bersiap-siap memotong kurban di tanah lapang, dalam pemotongan qurban orang tua dan dewasa berperan sebagai orang yang akan menahan hewan qurban ketika hendak di sembelih dan yang menyembelih biasanya ialah pemuka agama seperti kodi, dan para pemuda nya memotong-motong hewan qurban yang sudah duluan di sembelih dan sebagian lagi membersihkan bagian dalam perut hewan di sungai disini seluruh lapisan masyarakat terlibat akan penyembelihan hewan qurban, dan biasanya di siang hari hewan qurban sudah bisa di bagi kepada seluruh lapisan masyarakat Parmompang

2. Membayar Nazar pada Masyarakat Gunung Baringin

Pada masyarakat Gunung Baringin di idul adha ialah membayar nazar kampung. Pada hari idul adha setelah melakukan shalat idul adha mereka biasanya berkumpul untuk masak lemang bersama dan ini di lakukan oleh pihak ibu-ibu dan remaja putri,sedangkan yang bapak-bapak dan remaja laki-laki memotong hewan qurban dan membersihkan hewan qurban, setelah itu mereka memasaknya secara

bersama, setelah selesai di masak barulah pihak ibi-ibu datang dengan membawa tempat nasi dan dan gulai ke tempat yang di sediakan masyarakat.

Masyarakat Gunung Baringin dan Parmompang beda waktu dalam melakukan ziarah tidak lepas akan kebiasaan masyarakat itu sendiri, dimana di Gunung baringin dulu memiliki raja yaitu Raja Sutan Kumala Luar dan juga Raja Sutan Kumala Dalam, sedangkan di desa Parmompang tidak ada dan mungkin hanya keputusan kepala adat saja bersama masyarakat dan menurut masyarakat ini merupakan cikal bakal penentuan waktu membayar zakat di karena kan orang tua dulu yang masi mengetahui sedikit banyaknya informasi ini sudah tidak ada lagi karena ini sudah berlangsung lama.

Dalam membayar nazar pada masyarakat Gunung Baringin memiliki tujuan yang sama dengan masayrakat Parmompang yaitu mengharapkan hal-hal yang baik bagi masyarakat dan tidak terjadi hal-hal yang buruk kepada masyarakat Gunung Baringin, disini hanya perbedaan pelaksanaannya yang berbeda dan waktu pelaksanaannya.

BAB IV

TRADISI YANG BERTAHAN DAN BERUBAHAN

4.1. Faktor Perubahan Kegiatan

Dalam kegiatan-kegiatan tersebut sudah masuk ke dalam tradisi dan budaya orang Mandailing, karena sudah berlaku sebagai kebiasaan secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama,walaupun mungkin terus dan selalu adasedikit tidaknya perubahan menyesuaikan diri dengan zaman. Berbagai kegiatan yang dilakukan masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin ada beberapa kegiatan yang bertahan dan berubah. Kegiatan tersebut bertahan dan berubah dikarenakan adanya perubahan pada kegiatan, dimana perubahannya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

1. Agama, setelah agama masuk ke tanah Mandailing, alhasil sangat mempengaruhi falsafah hidup orang mandailing, di ambil dari salah satu kegiatan nya yaitu marpangir, dimana dalam kegiatan tersebut masyarakat parmompang dan gunung baringin sudah tidak melakukan kegiatan tersebut dikarena kan dalam agama melarang alasan dilarang ialah dikarenakan dalam kegiatan tersebut dimana para pemuda dan pemudi mandi bersama dalam satu tempat sehingga lebih kepada hal yang negatif ditambah lagi kegiatan tersebut

dilakukan dalam menyambut bulan yang mulia dan suci. Seperti yang dikatakan oleh Haim Lubis () :

“hombar adat dohot agama”Maknanya adat dengan agama harus searah dan sejalan dan dengan kata kunci adat harus sesuai dengan agama.

2. Pengaruh lingkungan dan modernisasi, seperti ilmu pengetahuan, pemikiran, cara pandang yang mempengaruhi gaya hidup, yang akhirnya dapat mempengaruhi adat. Misalnya, dalam membeli baju masyarakat sudah tidak lagi membeli kepada agen-agen yang dikampung karena masyarakat sekitar sudah langsung membeli ke pasar dengan mengendarai kendaraan mereka sendiri.

4.2. Kegiatan yang Bertahan

Kegiatan-kegiatan tersebut setelah di pengaruhi oleh beberapa faktor perubahan maka beberapa kegiatan tersebut ada yang bertahan dan ada yang berubah dimana kegiatan yang bertahan ialah kegiatan membayar nazar dimana dalam kegiatan ini masih tetap dilakukan masyarakat dan juga pelaksanaannya mashi tetap dilakukan ketika menjelang puasa.

Kegiatan membayar nazar ini sendiri sangat lah penting bagi masyarakat karena jika tidak dilakukan maka dikhatirkan akan timbul hal-hal yang tidak bagus bagi masyarakat. Kegiatan membayar nazar ini sendiri dilakukan masyarakat

Parmompang melakukannya ketika memasuki bulan puasa dikarenakan bagi masyrakat bulan puasa itu sendiri merupakan waktu yang baik dan pas untuk melakukan nya dikarenakan arti bulan puasa itu sendiri ialah bulan yang suci dan penuh berkah, berbeda dengan masyarakat Gunung Baringin yang melakukan nya ketika bulan haji dikarenakan masyarakat Gunung Baringin melakukan nya dengan berbarengan dengan qurban karena nazar bagi masyarakat Gunung Baringin itu ialah hewan qurban itu.

Selain kegiatan membayar nazar ada juga kegiatan poken banteyang dilakukan masyarakt di hari terakhir puasa pada proses pelaksanaannya masi tetap seperti ini hanya saja sedikit di pengaruhi oleh ekonomi yang rendah dan harga yang daging yang tinggi akan tetapi bagi masyarakat itu tidak menjadi beban dikarenakan mereka juga berharap keluarga, anak, saudara yang dari perantauan yang membelinya.

Kemudian ada juga kegiatan manjalangyang masyarakat lakukan sehabis shalat Idul fitri yang dimana seperti pada umumnya bersalaman saliang bermaaf-maafan antara saudara maupun keluarga yang dimana setelah bersalaman akan di suguhkan kue lebaran sebagai santapan sambil bercerita dan juga tempat nya selalu di rumah oppungatau saudara tertua.

Pada lubuk larangan masyarakat Parmompang yang masi tetap bertahan dalam waktu pelaksanaannya dimana selalu dilakukan sehabis lebaran dan juga selalu ramai

akan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut hanya saja hari dalam pelaksanaannya yang berubah yang biasanya sekitar lebaran ke 5 atau ke 7 bisa dilakukan pada lebaran ke 3, hal ini dipengaruhi oleh datu(dukun) yang menjadi pemegang dan pengendali akan lubuk larangan dan juga dipengaruhi akan desa-desa lain yang melakukan hal serupa supaya tidak saling bertabrakan.

Kemudian pada kegiatan membayar nazar masyarakat Gunung Baringin dimana dalam kegiatan ini masyarakat Gunung Baringin masih melaksanakan di hari raya idul adha dan kegitan ini dilaksanakan seluruh oleh warga nya dimana masyarakat memiliki peran masing-masing dan kegiatan ini masih tetap bertahan hingga sekarang.

4.3. Kegiatan yang Berubah

Tradisi atau kegiatan masyarakat pada umumnya sedikit banyaknya pastilah mengalahi perubahan, baik dia perubahan yang mencolok pada kegiatan itu maupun perubahan yang hanya sedikit saja semua itu dipengaruhi akan modernisasi yang semakin kuat dan rasa mempertahankan kegiatan tersebut kurang seperti halnya beberapa kegiatan masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin yang mulai berubah.

Diantara kegiatan tersebut salah satunya yaitu kegiatan marpangir dimana kegiatan ini sudah banyak berubah yaitu masyarakat Parmompang sudah tidak

melakukannya lagi di bulan puasa melainkan hanya dilakukan ketika menjelang shalat idul fitri hal ini dikarenakan masyarakat percaya bahwa sebagian besar marpangir banyak dilakukan menyimpang dari ajaran agama contohnya biasanya marpangir dilakukan disungai secara beramai-ramai oleh para remaja laki-laki dan perempuan sehingga ditakutkan adanya penyimpangan ketikan melakukan marpangir, karena melakukan marpangir laki-laki dan perempuan saling berada dalam satu lokasi tempat pemandian.

Begitu juga dengan sajian dalam berbuka puasa, dalam sajian buka puasa di masyatakat parmompang dan Gunung Baringin sudah banyak berubah dimana sekitar tahun 2000an masi d jumpai anak-anak kecil yang berjualan es sambil berkeliling, ibu-ibu yang berjualan kolak dan bubur buatan sendiri, para penjual pecal yang rame, akan tetapi sekarang ini sudah tidak ada lagi anak-anak yang berjualan es, dimana sekarang anak-anak sibuk dengan teknologi yang semakin maju, anak-anak sudah asik dengan bermain Play station, main handphone dan juga pergi jalan-jalan dengan sepeda motor. Penjual bubur sudah tidak ada lagi adapun ialah bubur yang di beli di kota kemudian di jual lagi oleh pemilik warung. Dan penjual pecal yang semakin berkurang dikarenakan ekonomi yang menurun karena modal yang kurang, akan tetapi sekarang ini lebih kepada modern dimana memang sekarang orang lebih enak belanja buka puasa ke kota karena rata-rata warga yang sudah memiliki kendaraan bermotor

Kemudian dalam membeli baju dimana zaman sekarang kendaraan sudah banyak kita jumapi dan teknologi yang semakin cangkih dan juga cara belanja pakaian yang lebih mudah (belanja online) tidak heran sekarang si penjual baju yang berada di kampung Gunung Baringin dan Parmompang sudah tak seramai dulu, ekonomi warga ketika tahun 2012 yang naik karena harga karet yang besar, harga hasil alam yang naik juga membuat warga lebih modern dimana membeli kereta sudah bisa dan juga untuk membeli pakain ke pusat pasar sudah bisa langsung, karena lebih efektif melihat dan mencoba langsung dan menawarnya langsung.

Selanjutnya dalam membuat kue juga tidak banyak yang berubah dimana kue ini akan disuguhkann ketika lebaran hanya saja sebagian prosesnya membuatnya yang sudah modern seperti dalam membuat kue bawang yang dulu hanya memakai kayu bulat yang sudah di bersihkan dan di olesi air untuk menipiskan adonan akan tetapi sudah ada alatnya yang memudahkan pembuatan dan juga sekarang ini sudah banyak bermacam-macam jenis kue yang di dapati dalam kue lebaran ini tidak lepas dari pengetahuan masyarakat akan tetapi kue-kue tersebut biasanya di beli di pusat kota dan ada juga yang memang di bawa kerabat dari kota

Dulu ketika malam lailatul qadr masyrakat Parmompang dan Gunung Baringin sibuk membuat membuat mobilan dari papan maupun kaleng bekas susu dimana anak-anak akan berpawai-pawai dengan mobilan yang di terangi oleh lilin-lilin akan tetapi sekarang ini sudah tidak dapat di jumpai lagi tinggal anak-anak hanya memakai lilin saja dan di tambah kembang api dulu tidak ada kembang api,

dan sekarang anak-anak laki-laki lebih sibuk memainkan game dan juga duduk-duduk sambil jajan dan bahkan sudah ada yang merokok.

Jika dilihat sekarang da dahululebih kreatif anak-anak yang lahir antara tahun 1992 hinga 1996 karena banyak kegiatan yang mereka lakukan ketika bulan puasa seperti membuat mobil-mobilan dari bambu, mencari belalang di sore hari, membuat jalan di tanah kosong untuk trek-trek mobil dari papan, akan tetapi kegiatan itu sudah tidak di temukan lagi dan eksistensinya sudah hilang.

Pada kegiatan mangalomang juga sudah berubah dimana kegiatan ini selalu dilakukan ketika menjelang lebarang dimana lemang tersebut akan di sediakan ketika lebaran sebagai salah satu makanan ketika bersilahturahmi di tambah dengan kue-kue yang telah di buat sebelumnya dan mangalomang sendiri sudah menjadi tradisi yang umum bagi masyarakat mandailing ketika sudah puasa terakhir.

Mangalomang pada masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin sebenarnya tidak ada yang berubah hanya saja dalm proses mangalomang ini sebagian masyarakat sudah tidak melakukan kegiatan mangalomang di karenakan mangalomang sendiri banyak bahan yang di persiapkan sepert bambu, pucuk daun pisang, kelapa parut untuk di jadikan santan.

Kegiatan mangalomang tidak masyarakat lakukan karena terlalu banyak hal yang di persiap bagi masyarakat, di tambah di hari itu masyarakat sibuk memasak daging banteakan tetapi ada juga masyarakat yang menitipkan lemang untuk di

masak oleh masyarakat lain, sehinga dalam mangalomang sendiri ada rasa gotong royong biapun hanya sekedar memasak nya saja.

Dan juga dalam kegiatan mangalomang ini disertai dengan membuat alame (dodol) dalam kegiatam mangalame ini sendiri sudah tidak dilakukan masyarakat Parmompang karena prosesnya yang lumayan susah dan memakan waktu yang lumayan lama dan juga menguras tenaga yang banyak ketika proses pembuatan nya sehingga kegiatan ini sudh tidak di temukan dalam masyarakat Parmompang akan tetapi di desa Gunung Baringin membuat alame masi dilakukan akan tetapi hanya beberapa keluarga saja dan ini biasanya karena permintaan para kerabat di kota untuk dijadikan oleh-oleh nantinya.

Selanjutny mulak kampung, jika berbicara mulak kampung saat identik dengan hara raya, masyarakat Indonesia kental akan kebiasaan ini. Dalam masyarakat Mandailing merantau merupakan suatu kebiasaan umum pada masyarakat dulu apalagi yang tidak sekolah hingga sekarang masi banyak kita temuai banyak perantauan orang mandailing yang sebagian yang sukses di rantau dan ada juga yang belum sukses akan teapi masih bisa balik ke kampung.

Mulak kampung masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin dulu hanya bisa menggunakan kendaraan umum seperti bus yaitu busALS dan masyarakat disini rata-rata merantau ke Jakarta dan bus ALS merupakan satu-satunya bus yang memiliki akses ke kab. Manndailing Natal, dimana masyarakat ketika sudah sampai

di Panyabungan biasanya akan menaiki becak menuju kampung desa Parmompang dan Gunung Baringin.

Perbedaan mulak kampung zaman dulu ialah sebenarnya tidak banyak hanya saja sekarang ini banyak pemudik sudah mudik dengan menaiki mobil pribadi di karenakan mobil di zaman sekarang ini sudah modern sudah inovatif dan harga yang terjangkau, dan dulu sebagian perantau belum memiliki mobil sehingga banyak masyarakat dulu ketika mudik hanya bisa menggunakan akses bus saja.

Kemudian kegiatan yang berubah ialah ketika manjalang dimana masyarakat khususnya anak-anak berharap di kasih THR, dahulu anak-anak ketika manjalang dengan orang tua atau saudara yang datang dari rantau biasanya hanya meminta minuman yang jarang mereka jumpai dan juga meminta unutk dibelikan senjata mainan akan tetapi sekarang dimana anak-anak sudah lebih meminta uang dikarenakan dizaman sekarang ini THR sendiri ialah berbentuk uang dan anak-anak akan sangat antusias menjalang kepada seluruh keluarga agar mendapatkan THR

4.4.Perbedaan Kegiatan Masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin

Tradisi yang masyarakat lakukan antara dua desa ini yang memiliki wilayah yang berdekatan tidak di pungkiri akan banyak tradisi masyarakat yang sama karena masih dalam wilayah Mandailing dan juga masih di isi oleh masyarakat keturunan Mandailing akan tetapi pasti ada perbedaan di antara

keduanya seperti pada membayar nazar dimana masyarakat Parmompang melakukan ini ketika menyambut puasa dan masyarakat Gunung Baringin melakukan bayar nazar ini pada bulan hanya dari kedua desa ini memiliki perbedaan waktu dan proses yang berbeda dan juga pada kegiatan masyarakat yang ketika malam 27 yang dimana masyarakat parmmpang membuat mobil-mobilan dari papan sedangkan pada masyarakat Gunung Baringin membuat mobilan dari bahan bekas.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Melihat topic dalam penulisan skiripsi terdapat beberapa intisari dari beberapa bab yang bisa di jadikan kesimpulan pada akhir penulisan ini. Hal-hal yang di anggap penting dari keseluruhan isi tersebut akan di ringkas menjadi beberapa poin penting yaitu sebagai berikut:

1. Ada 6 urutan waktu dalam proses berbagai pelaksanaan tradisi Mararirayo yang dilakukan masyarakat desa Parmompang dan Gunung Baringin yaitu:

 Tradisi sebelum melaksanakan puasa

 Tradisi ketika menjalankan puasa

 Tradisi menjelang lebaran

 Tradisi saat lebaran

 Tradisi sebelum lebaran Haji

 Tradisi saat lebaran Haji

2. Pada tradisi sebelum melaksanakan puasa masyarakat melakukan tradisi yaitu:

 Membersihkan area kuburan yang merupakan kegiatan yang di gagaskan oleh naposo dan nauli bulung pada kedua desa.

 Membayar zakat

3. Tradisi pada pelaksanaan puasa yaitu diantaranya:

 Sajian buka puasa yang menjadi cirri khas masyarakat ketika berbuka puasa yaitu diantaranya:

 Toge panyabungan

 Pusuk ni hotang(pucuk rotan)

 Macam-macam es lilin yang di jual yang biasanya penikmat anak-anak

 Gule bulung gadung(daun ubi tumbuk)

 Gule asom pode

 Membeli baju

4. Tradisi menjelang lebaran yaitu

 Membuat kue

 Malam 27 dimana masyarakat khatam alquran di masjid

 Poken bante

 Mangalomang

5. Tradisi saat lebaran yangdilakukan oleh warga ialah

 Marpangir

 Mangan manyogot

 Manyolom

 Marbecak-becak

 Lubuk larang merupakan aliaran sungai yang tidak boleh melakukan aktifitas manangkap ikan baik dengan cara apapun dan hanya di lakukan sekali setahun.

6. Tradisi masyarakat pada lebaran Haji

 Kegiatan sebelum lebaran Haji

Kegiatan masyarakat sebelum lebaran Haji yaitu mangalomang pada masyarakat Parmompang

 Kegiatan saat lebarann Haji

Kegiatan saat lebaran Haji pada masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin yaitu mangkoyok lombu dan membayar nazar pada pada masyarakat Gunung Baringin

7. Pada lebaran haji masyarakat gunung baringin melakukan bayar nazar dengan memotong hewan qurban dan memasak lemang pada hari lebaran haji.

8. Tradisi yang berbeda antara masayarakat parmompang dan gunung baringin yaitu pada tardisi membayar zakat dimana proses nya dan waktu nya yang berbeda.

9. Tradisi-tradisi yang dilakukan masyarakat sebenarnya sudah terlihat beberapa perubahan dimana perubahan nya disebabklan oleh

 Agama

 Situasi dan kondisi

 Pengaruh lingkungan dan modernisasi

5.2. SARAN

Berdasarkan beberapa penjelasan dair bab-bab yang ada , hasil penelitian dan kesimpulan , maka penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Peran pemerintah dalam penetepan harga-harga yang menjadi komoditas masyarakat ketika dalam proses Mararirayo sangat penting menjadi pusat perhatian pemerintah di karena hal ini berpengaruh terhadapa ekonom masyarakat yang sedang turun

2. Dalam proses tradisi sangat penting masyarakat mengajarkan kepada anak-anaknya agar kegiatan-kegiatan tersebut tidak hilang akibat modernisasi yang terjadi pada era sekarang ini

DAFTAR PUSTAKA

DaftarBuku/LiteraturTertulis:

Al-Ghazali,Abu Hamid Muhammad, Rahasiapuasadan zakat (Bandung: Penerbit ITB, 2000).

Al-Syaikh,Yasin Ibrahim, Zakat, MenyempurnakanPuasaMembersihkanHarta (Bandung: PenerbitMarja. 2004).

Ali, Javed, The Blessings Of Ramadan (New Delhi: Goodward Books, 2002)

Anonim, PanduanPuasabersamaQuraishShihab (Jakarta: Republika, 2001. Cetakan V).

Aritonang, Baharuddin, Orang BatakNaik Haji ( Jakarta: KPG,2003. CetakanKedua).

Aritonang, Baharuddin, Orang BatakBerpuasa (Jakarta: KPG.2007. CetakanPertama).

Anshori, A. Isa. NetralitasBirokrasi.Yogyakarta :DisampaikanDalam Seminar DikotomiPolitik Dan Administrasi UGM, 1994.

B. Lubis, Zulkifli, Menumbuhkan (kembali)

KearifanLokalDalamPengelolaanSumberdayaAlamTapanuli Selatan.

Medan:Universitas Sumatera Utara, 2005.

Djazillah, Abbas Siregar, Sale IkanLele (Yogyakarta: Kanisius,2004).

Data Kependudukan Kelurahan Gunung Baringin Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal Pada Bulan Juli Tahun 2018

Departemen Agama RI, Proyek Pembahasan Kerukunan Hidup Berusaha, (Jakarta:Depag RI,1983),h.47

Durkheim, Emile. TeoriSolidaritas. Jakarta :Gramedia. Pustaka, 1994.

Gazalba, Sidi, Ilmudan Islam (Jakarta:Mulia,1968).

Karim,Rusli, SelukBelukPerubahanSosial( Surabaya:UsahaNasional,1980),h.206 Koesoema,DatjeRaharjoe,KamusBelanda Indonesia, Jilid I (Jakarta:Rineka

Cipta,1991),h.3662.

Koentjaraningrat, PengantarIlmuAntropologi, Jakarta : PT RinekaCipta, 2002.

Koentjaraningrat, SejarahTeoriAntropologi. Jakarta : UI Press, 1981.

Koentjaraningrat, BeberapaPokokAntropologiSosial. Jakarta : Dian Rakjat, 1967.

Latif, Djamil, PuasadanIbadahBulanPuasa. Jakarta :Ghalia Indonesia, 2001

La, Sudu, Tradisi Lisan Kabhanti Gambusu Pada Masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara, Depok :Tidak Diterbitkan

Murgiyanto, Sal, Tradisi dan Inovasi – Beberapa Masalah Tari di Indonesia, Jakarta :Wedatama Widya Sastra, 2004.

Maezan Kahlil Gibran. “Tradisi Tabuik Di Kota Pariaman”. JOM FISIP, Vol.2 No. 2, 2015

Maulitha Indahsari, Harlinvia. Tradisi Masyarakat Dalam Menyambut Ramadhan Desa Boro Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung

Sumaji, AnisdanNajmuddinZuhdi, Masalah Puasa, Solo : PT TigaSerangkai 2008 Yunus, Mahmud,Al-Adyan (Jakarta:HidakaryaAgung,1978).

Hasil Internet:

https://www.google.com/amp/s/blogkulo.com/v/s/blogkulo.com/tradisi-megengan-jawa

https://m.antaranews.com/foto/1013766/tradisi-pukul-sapu-negeri-mamala

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: AHMAD DJUNAIDI M LUBIS (Halaman 82-0)

Dokumen terkait