BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.8. Lokasi PenelitianKelurahanGunungBaringin
2.8.3. Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah keharusan bagi kehidupan manusia, sebab melalui pendidikan manusia dapat mencapai tujuan hidup yang lebih baik. Sebagaimana dinyatakan Rusli Karim(1980) dalam bukunya seluk beluk perubahan sosial, tentang tujuan pendidikan yaitu“ Tujuan pendidikan dapat dikatakan sebagai kesadaran dan kemerdekaan manusia baik mental maupun fisik untuk dapat mengandalkan dirinya sendiri, pengertian akan orang lain dan dimana mereka hidup”. Dari pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa pendidikan memiliki makna yang sangat besar bagi kehidupan manusia sehingga dengan demikian sampai kapan pun manusia tetap membutuhkannya.
2.15.Gambar Sekolah Dasar dan SMP Desa Gunung Baringin
Tingkat pendidikan di Kelurahan Bunung Baringin tidak lah jauh dengan Desa Parmompang karena masyarakat di sini juga rata-rata hanya lulusan SD dan SMP akan tetapi untuk jumlah tamatan SMA lebih banyak dan di perguruan tinggi juga karena jumlah masyarakat Gunung Baringin lebih banyak dari pada masyarakat Parmompang dan juga angka pendidikan lebih tinggi di Desa Gunung Baringin.
2.8.4. Agama dan Tradisi
Negara Republik Indonesia adalah Negara yang dikenal sebagai bangsa yang religius, yaitu Negara yang tidak membenarkan tanpa penganut agama ataukepercayaan. Hal ini tercantum dalam undang-undangdasar 1945 Pasal 29, sebagai mana dikutip oleh Departemen Agama RI dalam bukunya berjudul pembinaan kerukunan hidup beragama, yaitu:
1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang MahaEsa
2. Negara menjamin kebebasan penduduk untuk memeluk agama dan Beribadat menurut agama dan kepercayaannya.
Beragama merupakan suatu kecenderungan bagi manusia yang didorong sifatnya untuk mempercayai dan meyakini akan adanya suatu kekuatan yang menguasai alam dan melebihi kekuatan manusia, walaupun demikian, kecenderungan beragama itu sudah lama tertanam dalam diri setiap manusia, kalau tidak ada suatu penumpukan dan dorongan terhadap diri manusia itu sendiri, maka kecenderungan tersebut tidak akan subur, bahkan bisa saja berubah dan menghilang dari diri manusia.
Agama pada prinsipnya merupakan kebutuhan manusia sebab diciptakan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk.Untuk itu agama dijadikan manusia sebagai pedoman dalam hidup dan kehidupan. Oleh karena itu agama mempunyai nilai esensial yang menjadi dasarnya, yaitu doktrin, yang membedakan antara kenyataan dan khayalan, dan metode untuk mendekatkan diri kepada yang nyata dan mutlak serta hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Seperti dalam buku Sidi Gazalba yang berjudul “Ilmudan Islam” menyatakan bahwa islam adalah pandangan hidup (way of life) bagimanusia.
Agama merupakan penghubung manusia dengan Tuhan-Nya dan hubungan sosial kemasyarakatan diantara manusia karena dengan agama tersebut manusia dapat menjamin kehidupan yang berupa mematuhi perintah-Nya.Agama dan adat-istiadat merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, masyarakat Kelurahan Gunung Baringin adalah masyarakat yang majemuk dari segi sukudan adat-istiadat.Totalitas masyarakat Kelurahan Gunung Baringin beragama Islam, tidak ada penganut agama lain di Kelurahan Gunung Baringin.
Kemudian mengenai adat istiadat Kelurahan Gunung Baringin dapat dilihat dari suku etnis yang ada disana.Masyarakat Kelurahan GunungBaringin mayoritas berpenduduk asli Mandailing.Keberadaan adat-istiadat tersebut memberikan bukti bahwa mereka hidup rukun, semua itu berkat kesadaran yang tinggi dari masyarakat perlunya saling harga menghargai dan hormat-menghormati walaupun berbeda dalam adat dan budaya.
2.8.5. Sarana ibadah
Untuk sarana ibadah di Kelurahan Gunung Baringin ada berupa masjid dan mushalla juga ada akan tetapi untuk mushalla tidak terlalu banyak hanya memiliki sekitar 5 mushalla dan memiliki 1 masjid utama.Bagi masyarakat masjid merupakan bagian masyarakat dalam melakukan berbagai kegiatan baik seperti tempat menunaikan shalat dan juga tempat melakukan kegiatan ceramah.
2.16. Gambar: Masjid Diyaul Islam Kel. Gunung Baringin
BAB III
MARARIRAYO
3.1. Tradisi Mararirayo
Tradisi Mararirayo merupakan kegiatan-kegiatan masyarakat dalam proses menyambut puasa, saat berpuasa, dan menyambut lebaran dan juga berlebaran dimana dalam kegiatan ini mendiskripsikan kegiatan yang di lakukan masyarakat dalam menyambut puasa, saat puasa, menyambut lebaran dab berlebaran dan juga mendiskripsikan perubahan yang terjadi pada kegiatan didalam masyarakat itu sendiri.
Mararirayo sebenarnya di artikan dengan berlebaran, untuk berlebaran disini pasti semua kalangan mau pun berbagai suku di indonesia melakukan lebaran akan tetapi kegiatan yang di lakukan masyarakat yang berada di Kecamatan Panyabungan Timur itu melakukan kegiatan yang tidak sebagian masyarakat lain melakukannya.
Berelebaran pada umumnya hanyalah shalat idul fitri kemudian bersalam-salaman dan juga ziarah. Di dalam bersalam-salaman sendiri bukan hanya bersalam-salaman yang terjadi akan tetapi akan ada jamuan-jamuan dimana sudah menjadi tradisi ketika proses bersalam-salaman di lakukan di rumah yang di kunjungi pastilah akan di jamu dengan makanan. Masyarakat Mandailing biasanya menyuguhkan makanan-makanan
yang terbaiknya sehingga sebelum datangnya lebaran ini masyarakat Mandailing memiliki beberapa kegiatan dalam rangka antusias masyarakat menyambut lebaran.
Dalam mararirayo juga timbul solidaritas dimana yang menurut Durkheim yaitu dimana waktu masyarakat bersalaman dengan di tandai dengan saling mengunjungi rumah kerabat yang dimana dalam masyarakat ketika lebaran pastilah mengunjungi rumah kerabat tertua atau rumah nenek jika memang masih hidup dimana dalam masyarakat Mandailing kerabat tertua itu adalah orang yang di tuakan dan dianggap sebagai orang tua sehingga dalam mararirayo ini timbul silaturahmi antar masyarakat.
Mararirayo juga diartikan sebagai hari libur bagi mayarakat dimana ketika mararirayo masyarakat tidak ada sama sekali melakukan aktivitas bekerja. Aktivitas bekerja disini tidak semua juga masyarakat tinggalkan kerena sebagian masyarakat yang bekerja sebagai tukang becak maupun supir angkot memanfaatkan momentum ini untuk mencari rezeky seperti masyarakat yang ingin bersilaturahi ke rumah family yang berada di luar desa.
Dalam kategori mararirayo ini ada 2 lebaran yaitu idul fitri dan lebaran Haji.
Untuk kegiatan idul fitri sendiri ada 4 kategori kegiatan, adapun akan di deskripsikan sebagai berikutini :
3.2. TRADISI DALAM HARI RAYA IDUL FITRI
3.2.1. KegiatanMenyambut Puasa
1. Membersihkan kuburan
Dalam menyambut bulan Ramadhan, biasanya banyak hal yang dilakukan masayarakat.Salah satunya adalah berziarah kubur. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat khususnya kelurahan Gunung Baringin dan Desa Parmompang, setiap menjelang datangnya bulan Ramadhan lokasi kuburan umum padatoleh peziarah, biasanya dilakukan masyarakat seminggu sebelum Ramadhan itu tiba. Pemakaman umum masyarakat Parmompang sendiri memiliki 2 lokasi pemakaman dan Gunung Baringin memiliki 3 lokasi
Banyaknya masyarakat yang datang untuk berziarah, membuat kunjungan ke tempat pemakaman meningkat. Jika pada hari biasanya tempat pemakaman tampak sepi dari peziarah, kini justru padat oleh peziarah yang datang tidak hanya dari dalam kota, namun juga dari luar kota.Sebelum masyarakat melakukan ziarah biasanya kuburan ini sudah di bersihkan oleh Napos Nauli Bulungsetempat dimana sudah menjadi kegiatan penting bagi mereka untuk membersihkan kuburan,mulai dari memotong pohon yang menggangu kuburan membersihkan pekarangan kuburan dan juga merapikan kuburan yang terlihat berantakan akan susunan batu. Mereka beramai-ramai membersihkan kuburan sebelum waktu berziarah di mulai mereka melakukan nya secara gotong royong.Naposo Nauli bulung sendiri merupakan
sekumpulan remaja laki-laki dan perempuan yang belum menikah dalam masyarakat Mandailing terutama di masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin
Naposo Nauli Bulung ini sendiri membersihkan kuburan ini dikarenakan merupakan kegiatan sosial mereka sebagai naposo nauli bulung setempat, dimana mereka membersihkan areal kuburan tanpa melihat kuburan kerabat maupun saudara akan tetapi mereka membersihkan semua areal kuburan. Naposo Nauli Bulung setelah membersihkan kuburan biasanya hanya menikmati roti dan minuman teh dan kopi yang di beli dari uang kas Naposo Nauli Bulung
Masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin melakukan ziarah sebelum puasa karena masyarakat percaya bahwa di waktu itu merupakan waktu yang pas menziarahi kuburan para keluarga mereka yang terlebih dahulu meninggalkan mereka karena akan datang nya hari raya, dimana mereka tidak bisa lagi berkumpul sehingga menjadi waktu yang pas untuk mengirim doa. Dalam berziarah ini juga masyarakat sekalian membesihkan rumput-rumput dan juga memperjelas tanda kuburan para keluarga mereka agar ketika lebaran nanti keluarga yang datang dari rantau ketika berziarah akan mudah mengenali kuburan keluarganya
2. Membayar nazar pada masyarakat Parmompang
Selanjutnya ada tradisi membayar nazar.Membayar nazar sendiri memiliki tujuan agar kampung itu dihindarkan dari hal yang buruk. Tradisi tersebut memiliki peran penting dalam proses pelaksanaannya, sehingga masyarakat percaya dengan
kegiatan tersebut sehingga menjadi sebuah tradisi yang terus menerus dilakukan oleh masyarakat, salah satunya yang dilakukan oleh masayarakat Desa Parmompang dan Gunung Baringin.
Membayar nazar pada masyarakat Parmompang berbeda dengan masyarakat Gunung Baringin karena masyarakat Gunung Baringin melakukan nya ketika bulan haji. Membayar nazar pada masyarakat Parmompang ialah dengancara individu dan kelompok membayar nazar indvidu disini ialah individu antar perkepala rumah tangga yaitu dengan memotong ayam lalu memasaknya seperti rendang dan tambahan nasi kunyit, kemudian di bawa ke masjid dan memberinya kepada keluarga lain dan ini dilakukan setiap kepala rumah tangga.
Membayar nazar disini termasuk kedalam suatu upacara seperti yang di sebutkan oleh Koentjaraningrat (2009) karena disini masyarakat melakukan membayar nazar ini dilakukan di masjid, masyarakat melakukan ini di masjid dengan membawa ayam terus berdoa yaitu dengan berdoa agar hal-hal yang tidak di inginkan sambil memanjatkan doa dan lantunan ayat suci Alqur’an, dan ketika selesai berdoa akan kembali berniat untuk tahun selanjutnya sehingga ini terus berlanjut tahun ketahun, kemudian saat pembayaran nazar ini dilakukan ketika memasuki puasa, dan benda-benda nya yaitu ayam yang di potong beserta nasi kunyit atau pulut kuning, dan ini dilakukan oleh setiap kepala keluarga dengan di pimpin oleh para hatobangon.
Ketika proses saling tukar menukar ini timbul hubungan timbal balik ketika proses membayar nazar (excange reciprocity) yaitu timbal balik antar warga yang
saling saling bertukar nazar. Tujuan nya mereka saling bertukar ialah agar bisa saling menambah silahturahmi antar tetangga ataupun masyarakat yang ada disekitar dengan cara menikmati pemberian dari pemberi nazar.
Selanjutnya membayar nazar dengan kelompok ialah masyarakat Parmompang mngumpulkan duit sebesar Rp.5000 per kepala keluarga yang di kumpul oleh kahanggi.Kahanggi merupakan perkumpulan dalam desa dimana barisan orang yang semarga dam seperwarisan unsurnya termasuk saama saina, marangka maranggi, saama saompu,saparamaan,saparpompuan,sabonasaha saturunan, akan tetapi dalam kahanggi bisa juga terdapat yang tidak ada dalam unsur tersebut. Setelah di kumpul oleh kahanggi kemudian di beli lah kambing, kambing ini bisa di pelihara oleh pihak kampung bisa juga di jual kembali dan uang hasil penjualan akan di buat ke dalam kas masjid. Dan ini dilakukan oleh tiap-tiap kahanggi di desa Parmompang
3. Marpangir
Marpangir merupakan tradisi masyarakat mandailing yang sudah lama di laksanakan masyarakat ketika menyambut bulan puasa.Marapangir ialah kegiatan masyarakat dengan mandi aneka ramuan seperti daun pandan, asam limau dan lain sebagainya, sehingga ketika mandi tubuh akan terasa segar dan wangi.Masyarakat melakukan marpangir ini di tempat pemandian umum seperti pemandian di masjid dan juga beberapa surau yang ada di sungai, dan ada juga masyarakat melakukan ini di tempat pemandia wisata.
Marpangir sendiri dilakukan ketika akan menyambut bulan puasa dengan tujuan agar terlihat bersih dan wangi dan masyarakat mengartikan agar terlihat suci karena di bulan puasa ialah bulan suci. Masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin sudah lama melakukan kegiatan ini dan prosesmarpangir sendiri sama halnya dengan proses marpangirmasyarakat Mandailing lainnya, akan tetapi marpangir sendiri sudah banyak berubah dalam pelaksanaannya dimana, ketika tahun 1960 an masyarakat sudah tidak lagi melakukan marpangir dikarenakan pandangan para ustad-ustad maupun alim ulama yang mengatakan kegiatan ini tidak bagus, dikarenakan ketika pelaksanaan marpangir ini banyak para pemuda dan pemudi melakukan nya secara bersama-sama baik di tempat mandi wisata maupun di sungai, sehinggan menimbulkan pandangan yang tidak bagus
3.2.2. Kegiatanpelaksanaan Puasa
1. Sajian buka puasa
Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam di seluruh dunia , yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan rutinitas ibadah yang tidak bisa ditinggalkan setiap tahunnya karena hukumnya yang wajib yang dilaksanakan dari mulai fajar dan terbenam matahari. Dibulan Ramadhan inilah seluruh umat islam diwajibkan berpuasa jika tidak mampu maka diharuskan untuk mengganti puasa tersebut pada hari yang lain .
Sebelum keesokan harinya melaksanakan puasa , pada malam hari sudah melaksanakan sholat terawih dimasjid terdekat , masyarakat sangat antusias dalam menjalankan ibadah terawih pada malam pertama puasa. Untuk sahur pertama sangat terasa menyenangkan karena masyarakat sahur dengan memakan lauk pauk dari hasil membayar nazar dan biasanya lauk pauk pada sahur pertama bermacam-macam karena sudah menjadi tradisi di masyarakat ini menjelang puasa pertama untuk memasak aneka makanan sesuai selera masing-masing dan makanan wajib mereka adalah hewan yang di potong ketika membayar nazar untuk dimakan bersama keluarga pada sahur pertama .
Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa karena didalam bulan ini banyak sekali kegiatan yang dilakukan didalam bulan Ramadhan yangtidak dilakukan dibulan lainnya, saat ramadhan tiba pasti bulan istimewa ini ditandai dengan euforia para masyarakat yang berpuasa untuk berburu takjil dan makanan lainnya. Contohnya saja di Kelurahan Gunung Baringin Dan Parmompang banyak sekali yang berjualan jenis-jenis minuman, jenis-jenis makanan dan serba serbi kolak, olahan buka puasa lainnya untuk berbuka puasa yang berbeda dan tidak ditemukan pada bulan lainnya, masyarakat Parmompang itu sendiri merasakan keistimewaan bulan ramadhan .
Keistimewaan lainnya bulan ramadhan adalah dengan hadirnya Toge Panyabungan.Toge Panyabungan adalah panganan khas yang berasal dari kota Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Dimana-mana yang namanya toge indentik dengan sayuran kecambah dari kacang hijau yang sering di buat jadi sayuran,
padahal togePanyabungan adalah nama minuman khas Panyabungan yang terbuat dari tepung pulut, toge Panyabungan mirip dengan cendol pada umumnya dengan tambahan kuah santan gula merah
Toge Panyabungan ini semua pakai pulut atau ketan , minuman ini merupakan salah satu makanan favorit kebanyakan masyarakat mandailing khususnya desa Parmompang dan Gunung Baringin yang selalu menjadikan Toge Panyabungan sebagai menu berbuka yang wajib saat bulan Ramadhan. Didalam satu porsi Toge Panyabungan, biasanya terdapat pulut hitam,candil,tape pulut yang dicampur gula merah dan santan..
Terkadang masyarakat membuat sendiri menu berbuka puasa dengan alasan selalu lebih nikmat buatan sendiri daripada yang dijual-jual dijalan. Alasan mengapa Toge Panyabungan pilihan ketika berbuka puasa karena rasanya yang manis serta sangat lemak, cocok sekali untuk menghilangkan rasa dahaga selama satu harian penuh menahan haus dan lapar ketika berpuasa . Menu makanan yang satu ini sudah banyak yang mengenalnya karena khas didaerah mereka sendiri , jadi tidak heran lagi kalau bulan Ramadhan banyak yang menjual menu ini.
Selain itu juga menu yang dalam makanan ketika berbuka puasa ialah pusuk otang atau bahasa indonesianya pucuk rotan dimana pucuk rotan yang muda di ambil dan kemudian di bakar.pucuk rotan ini menjadi lalapan ketika berbuk puasa dan sudah menjadi salah satu olahan khas yang menjadi cirri khas orang mandailing.
Biasanya pucuk rotan dimakan dengan tambahan lasiak bawang atau cabe giling yang di campur dengan irisan bawang merah dan ditambah parutan asam(jeruk nipis) dan
bisa juga dengan kecap asin karena orang mandailing menikmati makan tidak lengkap tanpa kecap asin
Masyarakat desa Parmompang ini juga selalu menyiapkan menu makanan nasi putih dengan gule bulung gadung, dalam Bahasa Indonesia bulung gadung artinya daun singkong, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama daun ubi tumbuk, disini cara pengolahannya adalah daun singkong ditumbuk hingga halus dengan bahan-bahan bumbu yaitu selanjutnya memakai santan sambal dimakan bersama ikan teri dan kacang selalu menjadi menu andalan disetiap makanan berbuka, masyarakat juga sering membuat menu gulai ikan sale yang menjadi khas dari makanan ini adalah dari ikan limbad sejenis ikan seperti lele. ikan yang digunakan pada umumnya adalah ikan sungai yang terlebih dahulu diasapin hingga kering dan kentang makanan ini selalu menjadi makanan favorit masyarakat Mandailing khususnya di desa Parmompang dan Gunung Baringin .
Menu makanan yang lain menjadi ciri khas masyarakat tersebut adalah gule asam pade, gule ini terbuat dari ikan sungai yang dimasak dengan bumbu-bumbu khas masyarakat desa yang dipadu dengan belimbing asam, potongan bawang merah dan cabe giling dan tidak menggunakan santan melainkan dimasak dengan menggunakan air biasa, rasa pedas dan asam merupakan ciri khas gule ini sehingga menjadi menu andalan sewaktu buka puasa .
Maraknya usaha kuliner ketika bulan ramadhan, sebagian masyarakat desa Parmompang menjual aneka minuman ataupun makanan di pinggir jalan, tentu tidak asing lagi bagi masyarakat di kelurahan Gunung Baringin dan Parmompang ketika
bulan ramadhan tiba, banyak sekali masyarakat menjual kuliner dipinggir jalan tentunya hasil keuntungan juga lumayan dari penjualan kuliner ini , minuman yang selalu dicari saat bulan puasa mulai dari es campur, jus,susu,yang menyegarkan dahaga sewaktu berbuka puasa.
Dalam berjualan es masyarakat parmompang dan Gunung baringin biasa menjajakan es ya dengan berkeliling kampung dan yang menjualnya biasanya anak-anak kecil, dan kadang juga sebagian dari mereka duduk di pinggir jalan, biasanya peminat es ini juga anak-kecil yang masi baru ikut melakukan puasa dan bisanya para penjual es di gaji dngan kisaran gaji Rp 10.000 perhari dan mereka menjual es dari jam 2 sampai dengan waktu berbuka puasa
Selanjutnya makan yang wajib bagi masyarakat ketika berbuka ialah pecal.Di desa parmompang dan gunung Baringin banyak di jumpain penjual pecal ada sebagian penjual memang berjual ketika pas puasa dan ada juga memang berjualan setiap hari.Pecal menjadi salah satu makan pembuka ketika berbuka puasa selain toge, biasanya penjual pecal disini memulai jualan dari jam 3 hingga buka puasa.Biasanya para pembeli sudah memesan jauh sebelum waktu berbuka dan para penjual sudah memiliki langgana sendiri.
2. Membeli baju
Setiap daerah tentu mempunyai tradisi yang berbeda-beda dalam menyambut dan merayakan lebaran .Hari Raya lebaran selalu identik dengan berbagai hal yang menyenangkan. Ragam budaya Indonesia selalu memberikan keunikan adat istiadat di setiap daerah yang berbeda-beda khususnya masyarakat di desa Parmompang dan
Gunung Baringin memiliki ciri khas membeli baju, tradisi ini telah begitu melekat didalam kehidupan mayarakat yang pada umumnya di daerah lain juga melakukan hal yang sama meski dengan nama yang berbeda-beda disetiap daerah.
Belanja pakaian menjelang lebaran sudah tidak asing lagi di desa Parmompang membeli baju sudah seperti keharusan bagi masyarakat ketika menjelang lebaran, mulai dari anak-anak selalu menuntut orang tuanya agar dibelikan baju lebaran sebagai imbalan karena telah berpuasa, orang dewasa juga sangat mementingkan beli baju untuk dipakai saat lebaran tiba seperti ada yang kurang jika lebaran tidak memakai pakaian yang baru. Tradisi menggunakan baju baru ketika lebaran sudah begitu lekat dan selalu dijalankan oleh banyak orang di desa Parmompang
Setiap bulan ramadhan dan menjelang lebaran pasar Panyabungan sesak dipenuhi pengunjung khususnya masyarakat di desa Parmompang yang selalu memilih untuk berbelanja di pasar Panyabungan dan juga Pasar Gunung Baringin karena dekat dari sekitar dan juga harganya tidak terlalu mahal buat mereka . Mereka juga berpendapat bahwa memakai baju baru di lebaran merupakan simbol dari hari lebaran itu sendiri karena kembalinya ke fitri dan suci seperti bayi yang baru lahir, jadi memang keharusan membeli baju saat menjelang lebaran .
Membeli baju lebaran tidak semua masyarakat langsung turun ke pasar karena sebagian masyarakat membeli baju kepda warga yang memang penjual baju, jadi penjual baju disini berbelanja semua kebutuhan masyarakat yang sudah mentitipkan kepadanya setiap hari kamis karena di panyabungan pasar tersebut ramai di hari
kamis dan biasanya orang menyebutnya poken kamis, dan masayarakat biasanya malam jumat rumah penjual rame dengan masyarakat yang ingin melihat baju titipan nya. Dalam hal ini pihak penjual dan pembeli masih di beri keringanan dalam hal pembayarannya karena disini masi bisa hutang sehingga para pembeli masi bisa mencicil tanpa ada urutan waktu dalam membayarnya sehingga tidak memberatkan kepada masyarakat yang ekonomi rendah.
Pada pelaksaan membeli baju dilakukan ketika saat puasa atau ketika waktu
Pada pelaksaan membeli baju dilakukan ketika saat puasa atau ketika waktu