• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh: AHMAD DJUNAIDI M LUBIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh: AHMAD DJUNAIDI M LUBIS"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

Mararirayo: Studi Etnografi Masyarakat Mandailing Dalam Menyambut Bulan Puasa dan Lebaran di Kel. Gunung Baringin Kec. Panyabungan

Timur Kab. Mandailing Natal

SKRIPSI

Diajukan Sebagai salah Satu Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Sosial dalam Bidang Antropologi

Oleh:

AHMAD DJUNAIDI M LUBIS 140905029

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PERNYATAAN ORIGINALITAS

MARARIRAYO: Studi EtnografiMasyarakat Mandailing Dalam Menyambut Bulan Puasa dan Lebaran diKec.

PanyabunganTimurKab.Mandailing Natal

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah di tulis atau di terbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan di sebut dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan disini, saya bersedia di proses secara hukum dan siap menanggalkan kesarjanaan saya.

Medan, Oktober 2019 Penulis

Ahmad Djunaidi M Lubis

(3)

ABSTRAK

Ahmad Djunaidi M Lubis, 2019, Judul Skiripsi: Mararirayo: Studi Etnografi Masyarakat Mandailing Dalam Menyambut Bulan Puasa dan Lebaran diKel.

Gunung Baringin Kec. PanyabunganTimur Kab. Mandailing Natal: terdiri dari 5 bab, 98 halaman, 3 table dan 34 gambar

Kekayaan Indonesia tidak hanya sumber daya alamnya saja, tapi juga beragam budaya yang dimilikinya. Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki kebudayaannya masing-masing sehingga masyarakat Indonesia itu disebut masyarakat multikultural.Salah satu ciri-ciri multikultural tersebut dapat dilihat dalam adanya keberagaman budaya suku bangsa, budaya yang terkait dengan agama, maupun keberagaman budaya daerah. Demikian halnya di Mandailing Natal tepatnya di Kelurahan Gunung Baringin dan Desa Parmompang Kecamatan Panyabungan Timur dimana ada berbagai tradisi yang dilakukan masyarakat dalam menyambut bulan puasa dan lebaran. Hal yang menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian ini ialah karena dalam proses tradisi tersebut timbul kerja sama untuk melakukan berbagai tradisi tersebut sehingga memperkuat silaturahmi antar sesama masyarakat Mandailing.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam (thick description) mengenai tradisi yang dilakukan oleh etnis Mandailing di Kelurahan Gunung Baringin dan Desa Parmompang Kecamatan Panyabungan Timur dalam kegiatan Mararirayo, terutama mengenai tradisi tersebut apakah terus berlanjut atau sudah ada perubahan dalam melakukan tradisi-tradisi tersebut

Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa masyarakat Parmompang memiliki beberapa tradisi yang berbeda dan waktu yang berbeda dalam pelaksanaannya dengan masyarakat Gunung Baringin dan juga beberapa tradisi yang dilakukan sebelum puasa yang diantaranya,membayar nazar,membersihkan kuburan, dan pada saat puasa yaitu membeli baju lebaran, kemudian menjelang lebaran melakukan kegiatan mambaen kue, mudik, poken bante, dan mangalomang dan pada saat lebaran haji yaitu, marpangir, mangan manyogot, manjalang,marbecak-becak dan lubuk larang sedangkan di lebaran haji masyarakat Gunung Baringin melakukan membayar nazar dan pada masyarakat Parmompang sama seperti halnya masyarakat pada umumnya memotong qurban dan membaginya.

Kata-kata Kunci: tradisi, ritual, puasa, lebaran, Mandailing

(4)

ABSTRACT

Ahmad Djunaidi M Lubis, 2019, Title Skiesis: Mararirayo: Ethnographic Study of Mandailing Communities in Welcoming the Fasting Month and Eid in Kel. Gunung Baringin Kec. PanyabunganTimur Kab. Mandailing Christmas: consists of 5 chapters, 98 pages, 3 tables and 34 pictures

Indonesia's wealth is not only its natural resources, but also its diverse culture.

Every region in Indonesia must have its own culture so that Indonesian society is called a multicultural society. One of the multicultural characteristics can be seen in the diversity of ethnic cultures, cultures related to religion, and regional cultural diversity. Likewise in Mandailing Natal precisely in Gunung Baringin Village and Parmompang Village, East Panyabungan District where there are various traditions carried out by the community in welcoming the fasting month and Eid. The interesting thing for researchers to conduct this research is because in the process of tradition there is collaboration to carry out various traditions so as to strengthen friendship among fellow Mandailing people.

This study aims to describe in depth (thick description) about the traditions carried out by ethnic Mandailing in the Gunung Baringin Village and Parmompang Village, East Panyabungan District in Mararirayo activities, especially regarding these traditions whether they continue or have changed in carrying out these traditions.

From the results of the study obtained data that the Parmompang community has a number of different traditions and different times of implementation with the Gunung Baringin community and also some traditions carried out before fasting, including paying vows, cleaning graves, and when fasting, namely buying Eid clothes, then before Lebaran do activities making cake, going home, poken bante, and mangalomang and at the time of Eid Hajj namely, marpangir, mangan manyogot, manjalang, marbecak-becak and lubuk larangan while in hajj pilgrimage the people of Gunung Baringin do pay vows and the Parmompang community the same as as in generalpeople cut the qurban and share it.

Keywords: tradition, ritual, fasting, Eid, Mandailing

(5)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT, karenaatas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul MARARIRAYO: Studi Etnografi Masyarakat Mandailing Dalam Menyambut Bulan Puasa dan Lebaran di Kec.Panyabungan Timur Kab.Mandailing Natal. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk mencapai Sarjana S1 jurusan Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan adanya bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, tanpa bantuan dan bimbingan tersebut sangatlah sulit bagi penulis menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini yakni:

Kepada Bapak Husni Thamrin,S.Sos,MSP, selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya kepada Bapak Dr.

Fikarwin Zuska, selaku ketua Departemen Antropologi FISIP USU yang telah banyak berbagi pengetahuan dan motivasi kepada penulis untuk mendalami Ilmu Antropologi mulai dari awal perkuliahan hingga penulisan Skripsi ini. Kepada Bapak Agustrisno,MSP., selaku Sekretaris Departemen Antropologi yang selalu memberikan dukungan dan motivasi selama perkuliahan. Kepada Bapak Alm. Drs.

(6)

Hermansyah, M,Hum. yang dulu pernah menjadi Dosen Penasehat Akademik dan juga sekaligus pembimbing dalam penulisan skripsi ini dan saya mendoakan kepada beliau agar atas jasa –jasa nya selama mengajar dan membimbing menjadi amal yang terus mengalir kepada beliau Amin.

Dan selanjutnya kepada Bapak Dr.Zulkifli Lubis,MA., selaku Dosen PA dan Pembimbing penulis saat ini, terimakasih atas kesabaran, waktu dan tenaga nya selama membimbing penulis hingga bisa menyelesaikan skiripsi ini, dan juga perhatian nya, motivasi, ilmu, arahan, dan juga kritikan serta masukaan untuk penulis dari awal hingga akhir penyelesaian skripsi penulis.

Kepada seluruh staf pengajar di Departemen Antropologi FISIP USU yang telah mendidik dan membekali penulis dengan begitu banyak ilmu, wawasan serta pengetahuan baru bagi penulis selama prose belajar berlangsung. Demikian juga kepada kak Nurhayati dan Kak Sri selaku staf administrasi Departemen Antropologi yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis dama mengurus kelancaran administrasi selama perkuliahan

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada kerabat mahasiswa Antropologi stambuk 2014, kepada Deny Setyo Wiguna, Eka Febrian, Lutfi Gutawa, Dina Sibarani, Sarah Magdalena, Nuridawati yang telah memberikan bantuan dan motivasi selama pembuatan skripsi. Dan kepada Alfi Fadlan, Imam Rasyidin, Aryo Seto, Arnandha, Musliadi, Ahmad Sayadi, Putri, yang telah memberikan bantuan dorongan agar cepat menyelesaikan skripsi ini.

(7)

Terkhusus penulis ucapkan terima kasih kepada keluarga besar penulis, H.M.

Yunan dan ibu Hj. Kartini yang telah memberikan arahan,dukungan ,dan kasi sayang yang begitu besar bagi penulis dan kepada Kak Roswardah, Abang Alam, Kak Kiki, Kak Yuni, Kak nisa yang merupakan saudara kandung yang banyak memberikan semangat yang luar biasa dalam penulisan dan juga kepada Udak Buddin,Udak Suhri dan Nantulang Linni, Adik Anni. Dan kepada seluruh kelurga yang memberikan dukungan penuh terhadap penulis dalam menyelesaikan skripsi.

Kepada masyarakat Gunung Baringin dan Desa Parmompang Kecamatan.

Panyabungan Timur Kabupaten. Mandailing Natal, dan kepada seluruh pihak yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu yang memberikan rasa nyaman ketika proses penelitian semoga baik budi yang telah di berikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT.

Menyadari atas keterbatasan yang penulis miliki, maka skripsi ini atau hasil penelitian lapangan ini masih terdapat berbagai kekurangan dan kelemahan.Untuk itu penulis sangat mengharapkan koreksi dan masukan dari berbagai pihak guna penyempurnaan hasil penelitian ini.Semoga tulisan ini dapat berguna bagi pihak- pihak yang memerlukannya.

Medan Okrober 2019 Penulis

Ahmad Djunaidi M Lubis

(8)

RIWAYAT HIDUP

Ahmad Djunaidi M Lubis lahir pada tanggal 17 Juni 1996 di Desa Parmompang.

Anak ke 6 dari 6 bersaudara dari pasangan H.Muhammad Yunan denganHj.Kartini.

Menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 133 Parmompang Kec. Panyabungan Timur pada tahun 2002, sekolah menengah pertama di SMP IT Al-Husnayain Pidoli Dolok kota Panyabungan pada tahun 2008 dansekolah menengah atas di SMA 1 Panyabungan Kota tahun 2011. Kemudian pada tahun 2014 melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi di Universitas Sumatera Utara dengan spesifikasi Ilmu Antropologi Sosial. Alamat Email penulis:

[email protected].

Penulis pernah mengitu acara Temu Ramah di Parapat pada tahun 2015 oleh HMI FISIP USU. Menjadi panitia bayangan inisiasi pada tahun 2015 di Sibolangit.Kemudian pernah sebagai enumerator Survey Preferensi Politik Masyarakat Jelang Pilkada Serentak 2017 di provinsi Nangroe Aceh Darussalam pada tgl 08-30 Mei 2016. Penulis juga pernah menjadi panitia pada IAO(Indonesia Association Of Orthodenthist) di Hotel Adimulia Medan pada tgl 19-21 oktober 2017. Dan juga pernah mengikuti Training of Facilitator di Hotel Candi tahun 2016.

(9)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadiran Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skirpsi yang berjudul Tradisi Mararirayo: Studi Etnografi Masyarakat Mandailing Dalam Menyambut Bulan Puasa dan Lebaran di Kec. PanyabunganTimur Kab. Mandailing Natal dengan baik. Tidak lupa penulis mengucapkan ucapan shalawat beserta salam pada Nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan syafa’at kepada kita semua. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sosial Jurusan Antropologi Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Skripsi ini berisi kajian analisis yang didasarkan pada observasi partisipasi dan wawancara mengenai berbagai kegiatan masyarakat Mandailing yang tepatnya berada di desa Parmompang dan Gunung Baringin dalam melaksanakan puasa dan lebaran.Dari hasil penelitian dimana masyarakat melakukan berbagai macam kegiatan mulai dari melakukannya sebelum, saat, puasa dan juga ketika menjelang lebaran dan saat lebaran Idul Fitri dan pada lebaran Haji atau Idul Adha.

Dalam proses pelaksanaannya semua kalangan masyarakat terlibat dalam berbagai kegiatan tersebut mulai dari anak-anak,dewasa dan juga pada orang tua.

(10)

Kegiatan yang dilakukan oleh kedua desa sangat lah penting bagi masyarakat seperti dalam membayar nazar yang memiliki tujuan penting terhadap warga.

Dalam penulisan ini, penulis ingin menunjukkan bagaiamana tradisi tersebut dilakukan dan bagaimana perubahan yang terjadi yang dimana beberapa perubahan tersebut berhubungan terhadap hasil dari mata pencaharian masayarakat dan juga beberapa tradisi yang dilakukan sudah mulai hilang dan tidak dilaksanakan lagi dan di laksanakan di waktu yang berbeda.

Akhir kata “ tak ada gading yang tak retak” demikian juga dengan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna yang di sebabkan adanya keterbatasan kemampuan, pengalaman, dan pengetahuan penelitian penulis baik mengenai materi, tekhnik penyusunan maupun analisisnya. Oleh karena itu dengan hati terbuka penulis menerima masukan, kritik dan saran dari pembaca untuk penyempurnaan pada masa yang akan datang.

Medan, Oktober 2019 Penulis

Ahmad Djunaidi M Lubis

(11)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i

ABSTRAK ... ii

UCAPAN TERIMAKASIH... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

KATAPENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB 1 . PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Tinjauan Pustaka ... 3

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12

1.5. Metode Penelitian ... 12

1.6. Pengalaman Lapangan: Suatu Refleksi ... 16

BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1. LetakGeografisdan Keadaan Alam Kec.PanyabunganTimur ... 21

2.2. Sarana Pendidikan ... 23

2.3. Sarana Transportasi ... 24

2.4. Sarana Pasar ... 24

2.5. Sarana Kesehatan ... 25

2.6. Sarana Umum... 26

2.7. LokasiPenelitianDesaParmompang ... 27

2.7.1. Kondisi GeografisDesaParmompang ... 27

2.7.2. Pola Pemukiman Desa Parmompang ... 28

2.7.3. KondisiSosial Masyarakat ... 30

2.7.4. Tingkat pendidikan ... 31

2.7.5. Sarana Ibadah ... 32

2.8. Lokasi PenelitianKelurahanGunungBaringin ... 33

2.8.1. Kondisi Alam ... 33

2.8.2. Mata Pencaharian ... 33

2.8.3. Tingkat Pendidikan ... 34

2.8.4. AgamadanAdat-Istiadat ... 35

2.8.5. Sarana Ibadah ... 37

(12)

BAB III. MARARIYAYO

3.1 Tradisi Marariyayo... 38

3.2 Tradisi Dalam Hari Raya Idul Fitri ... 40

3.2.1 Kegiatan Menyambut Puasa ... 40

3.2.2 Kegiatan Saat Pelaksanaan Puasa ... 44

3.2.3 Kegiatan MenjelangLebaran ... 50

3.2.4 Kegiatan Saat lebaran ... 59

3.3 Tradisi Masyarakat Saat Lebaran Haji ... 67

3.3.1 Kegiatan Sebelum Lebaran Haji ... 67

3.3.2 Kegiatan Saat Lebaran Haji ... 67

BAB IV TRADISI YANG BERTAHAN DAN BERUBAH 4.1 Faktor Perubahan Kegiatan ... 70

4.2 Kegiatan yang Bertahan ... 71

4.3 Kegiatan yang Berubah ... 73

4.4 Perbedaan Kegiatan pada Masyarakat Parmompang dan Gunung Baringin... 78

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 80

5.2 Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(13)

DAFTAR TABEL

NB: semua tabel merupakan hasil dari penelitian oleh penulis.

Tabel 2.1 Sarana Pendidikan Di Kecamatan Panyabungan Timur ... 23

Tabel 3.1 Jeni-jenis ikan hasil tangkapan dalam kegiatan mangarsuk gulaen 49 Tabel 3.2. Jenis kue Tradisional Masyarakat yang di Hidangkan di Lebaran 52

(14)

DAFTAR GAMBAR

NB: Semua gambar yang ada dalam isi skripsi merupakan hasil dokumentasi pribadi kecuali gambar 2.1 yang merupakan foto dari Linni Susila Harianja.

Gambar 2.1. Wilayah Panyabungan Timur ... 21

Gambar 2.2.SMA Negeri 1 Kecamatan Panyabungan Timur ... 22

Gambar 2.3.Angkutan umum masyarakat anatra dan becak ... 24

Gambar 2.4. Pasar Gunung Baringin ... 25

Gambar 2.5. Puskesmas Kec. Panyabungan Timur ... 26

Gambar 2.6. Kantor Camat Kec. Panyabungan Timur ... 26

Gambar 2.7.BPD Desa Parmompang ... 27

Gambar 2.8. Jalan setapak di antara rumah warga ... 29

Gambar 2.9. Tempat mandi dan cuci perempuan ... 29

Gambar 2.10. Tempat mandi umum di masjid parmompang... 30

Gambar 2.11. Getah karet(gota)... 31

(15)

Gambar 2.12. Pinang yang sedang di jemur ... 31

Gambar 2.13. Sekolah Dasar dan Madrasah di desa Parmompang... 32

Gambar 2.14.Mushala perempuan di tepi sungai dan Masjid Al-Yaqub Desa Parmompang ... 32

Gambar 2.15.Gambar Sekolah Dasar dan SMP Desa Gunung Baringin ... 35

Gambar 2.16.Masjid Diyaul Islam Kel. Gunung Baringin ... 37

Gambar 3.1.Warga sedang membuat kue sopit ... 52

Gambar 3.2. Daging yang di jual di poken bante ... 56

Gambar 3.3. Tangkapan hasil Lubuk larangan di desa Gunung baringin ... 66

Gambar 3.4.Warga sedang menjala pada Lubuk larangan ... 67

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kekayaan Indonesia tidak hanya sumber daya alamnya saja, tapi juga beragam budaya yang dimilikinya. Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki kebudayaannya masing-masing sehingga masyarakat Indonesia itu disebut masyarakat multikultural.Salah satu ciri-ciri multikultural tersebut dapat dilihat dalam adanya keberagaman budaya suku bangsa, budaya yang terkait dengan agama, maupun keberagaman budaya daerah. Kebudayaan yang beragam tersebut sering sekali mengalami akulturasi maupun asimilasi. Ada kalanya tradisi tersebut lahir dari kebiasaan masyarakat dan berpadu dengan nilai-nilai keagamaan.

Setiap daerah atau suku bangsa memiliki tradisi tersendiri. Seperti halnya pada masyarakat Pariaman yang memiliki tradisi tabuik di Kota Pariaman.Tabuik pada masyarakat Pariaman dijadikan sebagai ikon wisata Kota Pariaman.Masyarakat Kota Pariaman dulu menganggap tabuik sebagai ritual dalam ajaran agama Syi’ah yang mendoakan jasadnya Husain cucu Rasulullah, namun karena rasionalitas masyarakat yang berkembang kemudian menganggap tabuik ini hanyalah tradisi adat yang harus dijaga kelestariannya. Tabuik dulu dikelola oleh masyarakat Pariaman itu sendiri, mulai dari biaya hingga kepelaksanaanya, namun sekarang tabuik dikelola oleh pemerintah setempat, karena tabuik berpotensi sabagai income pendapatan dari

(17)

pariwisata Kota Pariaman. Tabuik yang dikelola pemerintah, lebih dikonsepkan sebagai hiburan sehingga memudarlah nilai-nilai kesakralannya dalam prosesi tabuik.

Selanjutnya di Jawa ada tradisi Megengan.Kata megeng sendiri artinya menahan, maksud sebenarnya adalah bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. Megengan biasanya dilakukan menjelang minggu terakhir di bulan Sya’ban (sebelum Ramadhan). Disebut bahwa tradisi ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, dalam acara ini biasanya ada sesi untuk mendoakan para sesepuh yang telah wafat. Acara ini juga diisi dengan acara syukuran dengan membagikan makanan terutama kue apem. Kue apem dianggap sebagai simbol permintaan maaf, karena berasal dari kata afwun yang artinya meminta/memberi maaf.

Sedangkan pada masyarakat Maluku Tengah, yang memiliki tradisi pukul sapu. Tradisi pukul sapu yang sesuai dengan namanya para pemuda yang berasal dari Desa Morela dan Desa Mamala, Kabupaten Maluku Tengah saling berhadapan dengan menggunakan lidi dari pohon enau. Tradisi pukul sapu sendiri dilaksanakan secara rutin setiap tujuh hari paska lebaran.Acara tersebut dilakukan oleh pemuda dengan saling menyerang dalam waktu 30 menit. Seusai pertarungan, setiap pemuda mendapatkan pengobatan secara khusus dari desanya

Demikian halnya di Mandailing Natal tepatnya di Kelurahan Gunung Baringin dimana ada berbagai tradisi yang dilakukan masyarakat dalam menyambut bulan puasa dan lebaran. Hal yang menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian ini ialah karena dalam proses tradisi tersebut timbul kerja sama untuk melakukan

(18)

berbagai tradisi tersebut sehingga memperkuat silaturahmi antar sesama masyarakat Mandailing.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tradisi orang Mandailing menyambut bulan puasa dan lebaran dan eksistensinya. Rumusan masalah tersebut dapat diuraikan melalui beberapa pertanyaan penelitian yakni:

1. Tradisi-tradisi apa saja yangdilakukan oleh etnis Mandailing dalam proses mararirayo di Kec, Panyabungan Timur?

2. Bagaimana proses pelaksanaan tradisi-tradisi tersebut?

3. Apa fungsi dari pelaksaan tradisi-tradisi tersebut?

4. Apakah ada perubahan dalam proses tradisi tersebut?

5. Apakah tradisi-tradisi tersebut masih dilaksanakan atau tidak?

1.3.Tinjauan Pustaka

Berbagai kajian sudah pernah dilakukan tentang aktivitas sosial budaya yang menjadi ciri khas suatu masyarakat di suatu daerah. Seperti halnya kajian Gibran (2015), tentang tradisi tabuik di Kota Pariaman. Tabuik adalah suatu warisan budaya berbentuk ritual upacara yang berkembang di Pariaman sejak sekitar dua abad yang

(19)

lalu. Tabuik merupakan upacara atau perayaan mengenang kematian Husaincucu Rasulullah, tetapi kemudian berkembang menjadi pertunjukan budaya khas Pariaman.

Bagi masyarakat Pariaman upacara ini tidak menjadi akidah (kepercayaan yang menyangkut dengan ketuhanan atau yang dipuja), pelaksanaannya hanya semata-mata merupakan upacara memperingati kematian Husain.Bagian yang dianggap penting dari perayaan tabuik adalah pelaksanaan pestanya oleh masyarakat Pariaman disebut batabuik atau mahoyak tabuik. Perayaan tabuik terdiri atas ritus-ritus atau rangkaian upacara yang dimulai dari ritus maambiak tanah ke sungai, maambiak/manabang batang pisang, maatam, marandai, maarak jari-jari, maarak saroban, tabuik naiak pangkek, maoyak tabuik, hingga ditutup dengan ritus mambuang tabuik ke laut.

Sedangkankajian Lubis (2012), tentang Kearifan Lokal Masyarakat Mandailing dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sosial menjelaskan bahwa di daerah Kecamatan Kotanopan khususnya, praktik-praktik pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan sosial yang dilakukan komunitas desa di lokasi penelitian merupakan bentuk-bentuk pengelolaan yang mengandung kualitas kearifan, karena mampu bertahan selama puluhan tahun dan masih fungsional untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi problema yang dihadapi oleh warga komunitas. Proses pengelolaan yang mereka lakukan sudah memenuhi pengertian kearifan lokal karena disana sudah tercakup adanya akumulasi pengetahuan, praktik, keyakinan dan nilai-nilai luhur yang mendasari bertahannya sistem pengelolaan.Dari semua kasus pengelolaaan yang diteliti ditemukan beberapa prinsip dasar yang fungsional meneguhkan praktik kearifan lokal di level komunitas, yaitu nilai

(20)

kemanfaatan, kekompakan warga komunitas dan akuntabilitas pengelolaan; juga nilai-nilai kasih sayang dan persatuan yang menjadi bagian budaya luhur Mandailing;

serta nilai-nilai keislaman. Dengan mengelaborasi lebih jauh ketiga prinsip pokok tersebut, ditemukan sekurangnya tujuh atribut yang melekat dalam praktik-praktik penata kelolaan, yaitu pentingnya (a) Sikap mendahulukan kemanfaatan bagi orang banyak daripada kemanfaatan untuk diri sendiri atau orang perorang; (b) sikap kesediaan untuk saling bantu-membantu sesama warga agar beban berat yang dipikul bisa menjadi lebih ringan; (c) sikap keterbukaan, perilaku jujur, tindakan yang tegas dan adil serta kerelaan berkorban tanpa pamrih untuk kepentingan orang banyak; (d) bermusyawarah untuk menemukan jalan keluar terbaik bagi penyelesaian masalah yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat; (e) membangun konsensus, keteguhan komitmen dan pandangan jauh ke depan dalam merancang suatu program yang akan membutuhkan tindakan kerja sama kolektif; (f) membangun hubungan baik dalam lingkup kerabat maupun komunitas sebagai basis untuk jaminan sosial;

(g) keyakinan keagamaan sebagai pemandu tindakan agar selalu konsisten untuk menegakkan kebenaran.

Berbagai kajian tersebut berbeda dengan kajian yangingin peneliti lakukan.

Jika sebelumnya Gibran meneliti tradisi Tabuik yang berkenaan dengan mengenang kematian Husain cucu Rasulullah,kemudian, dan juga pada kajian Zulkifli Lubis menelitimengenai tata kelola sumber daya alam dan lingkungan sosial, maka kajian yang akanpeneliti lakukan adalah mengenai tradisi masyarakat lakukan sebelum,saat dan sesudah lebaran.

(21)

Berbicara tentang tradisi maka harus dipahami apa yang dimaksud dengan konsep tersebut. Tradisi yaitu berasal dari kata traditium yang berarti segala sesuatu yangdiwarisi dari masa lalu (Murgiyanto, 2004:2).Mengutip Finnegan (dalam La Sudu2012:8)menjelaskan tradisi sebagai istilah umum yang biasa digunakan dalam ujaran keseharian dan juga istilah yang digunakan oleh antropolog, peneliti folklore, dan sejarahwan lisan. Ada perbedaan-perbedaan makna mengenai tradisi itu sendiri, misalnya dimaknai sebagai kebudayaan, sebagai keseluruhan; berbagai cara melakukan sesuatu berdasar cara yang telah ditentukan; proses pewarisan praktik, ide atau nilai, produk yang diwariskan, dan sesuatu dengan konotasi lampau. Sesuatu yang disebut dengan tradisi pada umumnya menjadi kepemilikan keseluruhan komunitas dibanding individu atau kelompok tertentu.

Berdasarkan uraian di atas tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun temurun.Bagian yang paling mendasar dari tradisi adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan.

Dalam pengertian yang paling sederhana, tradisi diartikan sebagai sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan kelompok masyarakat. Dalam pengertian tradisi ini, hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Tradisi dapat dilihat dari aspek benda materialnya, yaitu benda material yang menunjukkan dan mengingatkan kaitan khususnya dengan kehidupan masa lalu.

(22)

Tradisi lahir melalui dua cara, cara yang pertama, yaitu tradisi muncul dari bawah melalui mekanisme kemunculan secara spontan dan tidak diharapkan serta melibatkan rakyat banyak. Karena suatu alasan, individu tertentu menemukan suatu historis yang menarik. Perhatian, ketakziman, kecintaan dan kekaguman yang kemudian disebarkan melalui berbagai cara dan mempengaruhi rakyat banyak. Sikap takzim dan kagum itu berubah menjadi perilaku dalam bentuk upacara, penelitiaan dan pemugaran peninggalan purbakala serta menafsir ulang keyakinan lama,semua perbuatan itu memperkokoh sikap.

Kekaguman dan tindakan individu menjadi milik bersama dan berubah menjadi fakta sosial sesungguhnya. Proses kelahiran tradisi ini sangat mirip dengan penyebaran temuan baru, hanya saja dalam kasus tradisi ini lebih berarti penemuan atau penemuan kembali yang telah ada di masa lalu ketimbang penciptaan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Cara kedua, tradisi muncul dari atas melalui mekanisme paksaan. Sesuatu yang dianggap sebagai tradisi dipilih dan dijadikan perhatian umum atau dipaksakan oleh individu yang berpengaruh atau berkuasa.

Tradisi menjadi bagian dari masa lalu yang dipertahankan sampai sekarang dan mempunyai kedudukan yang sama dengan inovasi-inovasi baru. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang.

(23)

Dalam kajian antropologi, tradisi merupakan bagian dari kebudayaan dimana kita mengenal pengertian kebudayaan secara khusus dan secara umum.Menurutpengertian khusus, kebudayaan adalah produk manusia di bidang kesenian dan adat istiadat yang unik. Sedangkan kebudayaan dalam pengertian umum adalah produk semua aspek kehidupan manusia yang meliputi: sosial, ekonomi, politik, pengetahuan filosofi, seni dan agama. Hingga kini antara pengertian kebudayaan secara khusus dan umum masih diperdebatkan di kalangan peneliti, misalnya, Taylor seorang ilmuwan Inggris, merumuskan kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, norma seni, nilai-nilai moral, hukum, tradisi, sosial, dan semua produk manusia dalam kedudukannya sebagai anggota-anggota masyarakat, termasuk dalam realitas ini adalah agama (Anshori,1994:4).

Menurut Koentjaraningrat (1984:190) pengertian upacara atau ritual atau ceremony adalah: “Sistem aktivitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan.”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1995:1008) upacara memiliki tanda-tanda kebesaran yang berkaitan dengan aturan-aturan tertentu menurut adat atau agama baik dalam bentuk perbuatan ataupun perayaan-perayaan yang dilakukan atau dilaksanakan sehubungan dengan peristiwa penting. Suatu upacara mempunyai fungsi tertentu,

(24)

Menurut Koentjaraningrat (2009:296) dalam setiap sistem upacara keagamaan mengandung lima aspek, yakni: (1) tempat upacara keagamaan dilakukan, (2) saat- saat upacara dijalankan, (3) benda-benda dan alat upacara, (4) orang yang melakukan atau memimpin jalannya upacara. Koentjaraningrat (1992:223) juga mengatakan bahwa sistem upacara dihadiri oleh masyarakat, berarti dapat memancing bangkitnya emosi keagamaan pada tiap-tiap kelompok masyarakat serta pada tiap-tiap individu yang hadir.Upacara yang diselenggarakan merupakan salah satu kegiatan yang mengungkapkan emosi keagamaan yang sudah dianut oleh masyarakat.

Tradisi yang dilakukan masyarakat Mandailing di Kecamatan Panyabungan Timur sangat erat kaitannya dengan keagamaan dimana tradisi yang dilakukan masyarakat dilakukan pada hari besar Islam. MenurutKoentjaraningrat(1980;

93)agama adalah sarana untukmemperkuatkesadaran kolektif seperti ritus-ritus agama. Orang yang terlibat dalam upacara keagamaan maka kesadaran mereka tentang collective consciousness(kesadaran kolektif) semakin bertambah kuat.Sesudah upacara keagamaan suasana keagamaan dibawa dalam kehidupan sehari-hari, kemudian lambat laun collective consciuonesstersebut semakin lemah kembali. Jadi ritual-ritual keagamaan merupakan sarana yang dianggap berperan dalam menciptakan kesadaran kolektif diantara masyarakat, atau dengan kata lain ritual agama merupakan chargebagi manusia untuk mendekatkan diri kembali kepada Tuhannya.

(25)

Bagi masyarakat Mandailing tradisi tersebut memiliki fungsi yang penting.

Menurut Spiro dalam Koentjaraningrat (2009:173) fungsi merupakan sebagai hubungan antara suatu hal dengan suatu tujuan tertentu (misalnya mobil mempunyai fungsi sebagai alat untuk mengangkat manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lain). Menurut Radcliffe Brown, memakai istilah fungsi sosial untuk menyatakan efek dari suatau keyakinan, adat atau pranata kepada solidaritas sosial dalam masyarakat tersebut.

Sedangkan menurut Malinowski (1980:162) fungsional merupakan segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri mahluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.Kebutuhan itu meliputi kebutuhan biologis maupun sekunder, kebutuhan mendasar yang muncul dari perkembangan kebudayaan itu sendiri.Berdasarkan penjelasan diatas tradisi masyarakat Mandailing berkaitan dengan teori yang dikemukakan oleh Radcliffe Brown yang memakai istilah fungsi sosial sebagai untuk menyatakan efek dari suatau keyakinan, adat atau pranata kepada solidaritas sosial dalam masyarakat tersebut.Dengan demikian, tradisi yang dilakukan masyarakat Mandailing dapat menguatkan solidaritas bagi masyarakatMandailing.

Menurut Durkheim (1994:181) solidaritassosial merupakan suatu keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.Solidaritas sosial terbagi menjadi dua yaitu solidaritas organik dan solidaritas mekanik.Solidaritas organik merupakan sebuah ikatan bersama yang

(26)

dibangun atas dasar perbedaan, mereka justru dapat bertahan dengan perbedaan yang ada didalamnya karena pada kenyataan bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Sedangkan solidaritas mekanik pada umumnya terdapat pada masyarakat primitive, solidaritas mekanik karena mereka terlibat dalam aktivitas yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama dan memerlukan keterlibatan secara fisik. Solidaritas tersebut mempunyai kekuatan sangat besar dalam membangun kehidupan harmonis antara sesama, sehingga solidaritas tersebut lebih bersifat lama dan tidak temporer.

Berdasarkan penjelasan diatas solidaritas yang terdapat pada masyarakat Mandailing yaitu dengan adanya tradisi tersebut hubungan antara masyarakat Mandailing semakin erat karna adanya hubungan silaturahmi yang ada dalam proses tradisi tersebut.

Penelitian ini mengkaji mengenai tradisi yang dilakukan masyarakat Mandailingdalam menyambut bulan puasa dan lebaran.Fokus dari penelitian ini adalah melihat bagaimanaperilaku keseharian atau tradisi orang Mandailing yang berkaitan dengan aktifitas keberagamaan Islam terutama dalam menyambut bulan puasa dan lebaran.Pertemuan hukum Islam dan budaya lokal Mandailing tersebut melahirkan sebuah integrasi yang sesuai dengan falsafah budaya Mandailing hombar adat dohot ibadat yang berarti adat dan ibadah saling beriringan. Penulis merasa tertarik untuk melakukan kajian ini karena terdapat keunikan dimana walaupun budaya lokal Mandailing belum diterima secara keseluruhan oleh Hukum Islam, namun ada beberapa budaya yang sudah terintegrasi oleh hukum Islam, seperti:

(27)

tradisi marpangir, mangalomang, pokenbante, mangan manyogot, mambuka lubuk larangan, dsb. Perubahan perilaku sosial keberagamaan di atas, di mata antropolog dianggap sebagai proses eksternalisasi, internalisasi, maupun objektivasi.

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam (thick description) mengenai tradisi yang dilakukan oleh etnis Mandailing di Kelurahan Gunung Baringin dan Desa Parmompng Kec. Panyabungan Timur dalam kegiatan Mararirayo, terutama mengenai tradisi tersebut apakah terus berlanjut atau sudah ada perubahan dalam melakukan tradisi-tradisi tersebut.

1.4.2. Manfaat Penelitian

Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan dalam kaitannya dengan ilmu sosial seperti antropologi yang memperkaya literatur mengenai dialektika antara Islam danbudaya lokal Mandailing. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam proses pengembangan budaya.

1.5. Metode Penelitian 1.5.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kec. Panyabungan Timur Kab. Mandailing Natal.

Dalam penelitian ini peneliti memilih 2 lokasi penelitian tersebut karena salah satu

(28)

lokasi dulu menjadi pusat kerajaan Mandailing dan juga sebagian desa mudah di jangkau oleh peneliti.Dan desa yang dipilih adalah desa Parmompang dan Kelurahan Gunung Baringin yang merupakan ibukota Kecamatan Panyabungan Timur.

15.2. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi Partisipasi

Observasi atau pengamatan dilakukan untuk melihat berbagai gejala yang tampak pada saat penelitian.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi partisipasi (pengamatan terlibat) agar peneliti dapat mengamati, mendengarkan dan mencatat gejala-gejala yang diteliti.Fokus utama peneliti adalah mengamati, mencatat dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalamtradisi masyarakat yang diteliti, sehingga data dan informasi yang didapat lebih akurat dan tanpa rekayasa.

Observasi partisipasi dilakukan bertujuan untuk mendukung data hasil wawancara.Dengan melakukan observasi partisipasi peneliti akan mendapatkan data yang benar tanpa ada rekayasa. Kemudian, hasil observasi partisipasi dituangkan ke dalam catatan lapangan. Dalam teknik ini peneliti akan melihat siapa saja yang terlibat dalam tradisi tersebut, berapa jumlah masyarakat yang terlibat, bagaimana proses kegiatan tersebut dan lain-lain. Dalam observasi ini peneliti mengobservasi berbagai kegiatan yang yang dilakukan oleh masyarakat yaitu peneliti ikut serta dalam kegiatan yang masyarakat lakukan seperti ikut dalam kegiatan lubuk larangan maupun kegiatan lainnya dan kemudian peneliti mencatat bagaimana proses kegiatan tersebut ke dalam buku catatan.

(29)

b. Teknik Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam adalah suatu kegiatan dimana terjadi percakapan yang telah terstruktur, dimana pewawancara memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang akan diwawancarai sesuai dengan aspek-aspek yang sudah diteliti. Dalam wawancara ini peneliti menggunakan tape recorderhandphone untuk merekam segala sesuatu informasi yang diungkapkan informan. Hal tersebut digunakan karena daya ingat manusia yang terbatas dan akan sulit mengingat semua yang diucapkan informan jika hanya mendengar saja. Selain itu, dengan alat ini akan mempermudah peneliti dalam melakukan wawancara serta menuangkan kembali hasil rekaman ke dalam catatan lapangan setelah wawancara berakhir.

Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah para hatobangon.Hatobangon adalah gelar yang diberikan kepada orang tua yang lebih paham adat dan istiadat masyarakat setempat kemudian inforrmannya ada juga orang-orang tua dan juga masyarakat biasa di Kelurahan Gunung Baringin dan Desa Parmompang, Kec, Panyabungan Timurterutama yang masih mengetahui dan mempraktekkan berbagai tradisi ketika menyambut bulan puasa dan lebaran karena menurut peneliti mereka adalah pelaku yang memiliki pengetahuan dalam hal tersebut.

Dalam penelitian ini, peneliti tidak mengkategorisasikan informan ke dalam kategori informan pangkal, informan biasa maupun informan kunci, karena semua orang yang memberikan informasi mengenai data-data yang peneliti butuhkan adalah sama pentingnya. Untuk dapat melakukan semua metode tersebut yang paling penting adalah membangun rapport (menjalin hubungan baik) terlebih dahulu agar

(30)

masyarakat dan yang ingin penulis wawancari merasa nyaman sehingga mereka akan memberikan informasi dan data sebagaimana yang mereka ketahui yang berguna untuk menjawab pertanyaan penelitian ini.

Dalam wawancara ini peneliti melakukan wawancara dengan memberikan pertanyaan terhadap masyarakat yang masih melakukan tradisi yaitu dengan menanyakan sejarah awal mula dilakukannya tradisi masyarakat, siapa saja masyarakat yang ikut terlibat dalam acara tradisi tersebut, apakah peran pemerintah ikut serta dalam kelangsungan acara tradisi tersebut, apa saja acara dalam tradisi tersebut, apakah ada perubahan dalam tradisi tersebutpada setiap tahunnya, apa fungsi acara tradisi tersebut, bagaimana pandangan masyarakat mengenai tradisi tersebut, bagaimana rasanya mengikuti acara tradisi tersebut.

1.5.3. Analisis Data

Analisi data dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang di peroleh dari lapangan dalam tema-tema dan kategori-kategori tertentu. Peneliti melakukan pengecekan ulang terhadap data-data yang di peroleh dari hasil wawancara dan observasi. Keseluruhan data yang di peroleh dari lapangan kemudan di olah secara sistematis kemudian di uraikan ke bagian-bagian sub judul pada bab sesuai dengan temanya masing-masing sehingga di temukan sebuah kesimpulan.

(31)

1.6 . Pengalaman Lapangan: Suatu Refleksi

Orang mengatakan teori dan praktek spekulasi dan praktek teori adalah uji nyali.Teori dan paktik memiliki ikatan yang kuat seperti halnya dengan penelitian ini dimana penulis bisa menerapkan ilmu antropologis selama mengenyam pendidikan di bangku kuliah.Dimana seni berwawancara dan menjalin keakraban dengan informan untuk menggali kebudayaan masyarakat sehingga menimbulkan sebuuah pengalaman yang berharga.

Pengalaman mengajarkan makna kehidupan dan membawa akan kedewasaan dalam berfikir sehingga merasa perlu berbagi pengalaman selama meneliti kegiatan masyarakat di Desa Parmompang dan Desa Gunung Baringin Kec. Panyabungan Timur Kab. Mandailing Natal. Mencari data penelitian sembari menerapkan ilmu yang di dapat di dalam perkuliahan

Pada tanggal 23 Mei 2019 malam saya berangkat menuju lokasi penelitian dimana lokasi penelitian merupakn kampung saya sendiri.Jarak tempuh dari Medan menuju lokasi penelitian ialah ± 520 KM dan biasanya mobil yang menuju lokasi tersebut berangkat pada malam hari. Saya sampai di lokasi penelitian sekitar jam 09.00 pagi dengan menaiki mobil L300 yang dimana orang Panyabungan bilangnya taxi, setelah sampai saya pun menyalam ayah dan ibu serta saudara saya yang berada di rumah dan kemudian saya beristirahat sejenak karena rasa capek yang terasa karena perjalanan yang jauh.

Waktu shalat shuhur telah tiba saya di bangunkan umak untuk mandi dan shalat serta menunaikan shalat, setelah selesai saya pun pergi menuju rumah kepala

(32)

desa yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah saya, saya bertemu dengan bg Misbar Nasution selaku kepala desa Parmompang dan menjelaskaan bahwa saya sedang melakukan penelitian untuk tugas akhir kuliah. Berbincang-bincang dengan beliau sama halnya dengan berbincang dengan abg saya karena masih ada ikatan keluarga dan dia pun sedikit memberitahu beberapa hal yang menjadi isi akan penelitian saya serta menunjuk beberapa masyarakat untuk saya jumpai,setelah saya selesai berbincang dengan nya saya kembali ke rumah dan menemui ibu saya, dimana ibu saya sebagian tau akan penelitian yang saya lakukan, saya pun mulai bertanya tentang tradisi masyarakat kepada ibu saya.

Keesokan harinya saya menemui hatobangon yaitu bapak Naim Lubis, saya bertanya kepadanya beberapa pertanyaan yang menyangkut akan penelitian saya dengan canda tawa nya dia bergurau sambil bercerita kepada saya, saya tidak bisa lama dengan beliau karena dia sedang buru-buru untuk ke kebun.

Dan selanjutnya saya menemui etek Ros yang merupakan salah satu penjual pecal yang selalu berjualan setiap hari kecuali hari jum’at dan juga setiap hari selama bulan puasa.Sambil bercerita saya pun memesan sebungkus pecal untuk buka puasa.

Setelah selesai dengan ibu tersebut karena dia sangat sibuk saya melanjutkan nya dengan Bg Illem yang merupakan panitia Lubuk Larangan di desa Parmompang saya bercerita dengan beliau tentang masalah lubuk larangan. Sore telah tiba saya pun mengambil pecal pesanan saya dan kemudian kembali ke rumah untuk siap-buka puasa.

(33)

Di keluarga saya sendiri kami biasa melakukan buka puasa bersama dengan hanya memakan kurma dan secangkir air putih dan memakan sedikit pecal yang di beli kemudian melakukan shalat berjama’ah di rumah setelah selesai shalat barulah kami makan bersama alasan kami melakukan shalat terlebih dahulu karena waktu maghrib yang tidak banyak ditambah apabila sudah kenyang untuk melakukan shalat pasti sudah ada rasa malas karena adanya rasa kenyang yang membuat badan terasa berat di gerakkan.

Pada hari berikutnya saya tidak melakukan wawancara akan tetapi saya hanya mengambil foto yang akan saya butuhkan untuk bahan peelitian saya serta di temani adik sepupu saya sambil membawa dia berjalan-jalan sore sambil menikmati jalan rusak yang merupakan salah satunya akses menuju desa saya. Jalan ini sebenarnya masih sekali pengaspalan dari dulu hingga sekarang dan itu di lakukan sekitar tahun 2010 dan sebelum pengaspalan hanya jalan yang di lapisi aspal ecek-ecek kata orang sini atau aspal yang kualitas rendah yang pengerjaannya sudah lebih dari 30 tahun yang lalu dan saat ini sedanng dalam proses pelebaran di karenakan dalam isu yang terdengar hal ini di lakukan karena permintaan menantu Presiden yaitu Bobby Nasution ketika melakukan pulang kampung ke Desa Gunung Baringin dan kemudian ada juga kabar karena akan di buat jalan lintas yang akan menghubungkan Mandailing Natal dengan Padang Lawas, akan tetapi saat saya dalam penelitian tidak ada lagi pengerjaan yang terlihat setelah selesai pelebaran hanya membuat jalan semakin susah dilewati karena jalan yang di tutupi tanah liat yang apabila hujan akan

(34)

membuat jalan licin dan menjadikan beberapa titik rawan longsor dan hanya membuat jalan terlihat terang saja.

Setelah beberapa hari berlalu saya menuju desa Parmompang yang memiliki waktu tempuh sekitar 5 menit menggunakan sepeda motor, saya langsung menjumpai Kepala Lurah yaitu pak Mukhlis yang juga merupakan pegawai puskesmas.saya bercerita tujuan saya kemudian dia menunjukkan salah satu rumah yang berada di banjar dolok kemudian saya pergi mencari rumah yang dimaksud akan tetapi beliau tidak berada di rumah, dan saya pun memutuskan untuk kembali kerumah dan menanyakan siapa orang yang di maksud oleh kepala desa, ibu pun mengatakan kalau orang itu merupakan guru sekolah madrasyah yang dulu mengajar di desa Parmompang ketika tahun 1980 an.

Setelah beberapa hari mencari informasi tradisi masyarakat tersebut hari raya rupanya sudah tidak lama lagi. Ketika malam saya membantu kakak saya untuk membuat kue kambang yang akan hidangkan ketika lebaran saya disini hanya membantu memasak saja tanpa ikut membantu proses pencampuran bahan dna keesokan nya membuat kue bawang.

Pada puasa ke 28 sudah mulai lah terlihat beberapa masyarakat yang mudik dari tanah perantauan yang rata-rata dari tanah jawa ada yang dari Jakarta, Bogor, dan lain lain, dan ada juga yang dari masih di pulau Sumatera seperti Medan, Pekanbaru dan Jambi. Saudara sendiri sampai di desa pada puasa ke 29 yang datang dari Jambi disini saya berjumpa saudara perempuan saya dan juga bertemu keponakan- keponakan yang lucu.

(35)

Pada buka puasa terakhir di bulan puasa suasana rumah-rumah warga begitu terasa ramai rumah-rumah warga diisi oleh para saudara maupun kerabat yang datang dari perantau alangkah senang melihat phenomena yang terjadi hanya bisa di jumpai selama sekali setahun terlihat wajah-wajah bahagia yang ada di wajah para warga .

Para lebaran pertama masyarakat menunaikan shalat idul fitri dengan khusyuk setelah selesai shalat mulai lah terdengar isak tangis rasa bahagia ketika bersalaman dengan para sesame warga dan juga dengan sanak saudara dan family. Desa terlihat ramai dengan beberapa warga yang berjualan di pinggir jalan di tambah dengan anak- anak yang siap dengan pakaian baru yang dikenakan

Pada hari ke 2 lebaran lubuk larangan desa Parmompang dibuka berbarengan dengan desa Gunung Baringin hal ini sebelum nya tidak pernah terjadi kan tetapi ini merupakan hal yang wajar dikarenakan mungkin beberapa alasan seperti waktu libur yang sedikit bagi yang pekerja, dan juga beberapa acara nikahan yang ada ketika lebaran. Disini antusias masyarakat begitu penuh gembira mulai dari menentukan lokasi tempat menjala dan tempat memasang luka.

Selama penelitian saya melihat banyaknya tradisi masyakat yang berada di Indonesia.Dalam satu suku sendiri masih memiliki peerbedaan kegiatan masyarakat yang mereka lakukan.Saya melakukan penelitian untuk memperoleh data dan informasi untuk penyusunan skripsi ini sekitar 22 hari, dan selama penelitian banyak informasi dan ilmu penegetahuan yang baru di peroleh.

(36)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1. Letak Geografis dan Keadaan Alam Kecamatan Panyabungan Timur

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Gunung Baringin dan juga Desa Parmompang Kecamatan Panyabungan Timur. Panyabungan Timur adalah salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Mandailing Natal. Daerah ini dipimpin oleh seorang Camat yang pusat pemerintahannya berkedudukan di lingkungan Kelurahan Gunung Baringin. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke pusat kecamatan ialah sekitar 13 Km dari pusat kabupaten.Kecamatan Panyabungan Timur secara geografis terletak dibagian timur Mandailing Natal dengan batas wilayah sebelah:

 Timur : Kabupaten Tapanuli Selatan

 Utara : Kecamatan Panyabungan dan Siabu

 Selatan : Kecamatan Tambangan

 Barat : Kecamatan Panyabungan

(37)

2.1. Gambar wilayah Panyabungan Timur

Kecamatan Panyabungan Timur sendiri memiliki luas wilayah 397,8740 km2 dan berada pada ketinggian 250-800 Meter di atas permukaan laut, dan terdiri dari 14 desa dan 1 kelurahan. Wilayah Kecamatan PanyabunganTimur meliputi wilayah yang dikelilingi bukit diantaranya bukit Tor Sihite, setiap desa di Panyabungan Timur berada pada pinggiran sungai Aek Pohon akan tetapi ada 3 desa yang tidak di lewatinya anatara lain desa Aek Nabara, Pagur, Tanjung Julu karena 3 desa ini berada pada pinggir sungai yang kecil dengan sebutan Rura.

Daerah Kecamatan Panyabungan Timur adalah daerah daratan, meliputi areal penduduk perkampungan, pertanian dan pekebunan. Suhu ketika siang bisa mencapai 30º dan ketika malam bisa turun menjadi 20º dan desa-desa di kelilingi oleh hutan karet dan di wilayah ini sawit tidak bisa tumbuh seperti beberapa wilayah yang ada di Sumatera Utara.

(38)

2.2. Sarana pendidikan

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi masyarakat, hal ini lah yang mendorong pemerintah untuk mendirikan sarana pendidikan yang layak bagi masyarakatnya. Ketika Indonesia sudah merdeka hanya ada satu sekolah yaitu SD saja yang ada di kecamatan ini kemudian di tahun 70 ditambah 1 SMP dan sekarang SD sudah ada tiap desa dan pada tahun 2013 di bangun 1 SMA untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel berikut

2.1. Table Sarana Pendidikan Di KecamatanPanyabunganTimur No Sarana Pendidikan Jumlah

1 TK 12

2 SD/MIN 15

3 SLTP/Tsanawiyah 2

4 SLTA/MAN 1

5 Pesantren 1

Jumlah 21

Sumber: Data Statistik Kantor Camat Kecamatan Panyabungan Timur tahun 2018.

2.2. Gambar SMA Negeri 1 Kecamatan Panyabungan Timur

(39)

2.3. Sarana Transportasi

Untuk mencapai lokasi penelitian dari pusat Kabupaten Mandailing Natal ialah dengan menaiki berupa angkutan desa dimana orang sini menyebutnya Anatra dan juga becak. Untuk mencapai lokasi penelitian memerlukan jarak sekitar 13 Km dengan Medan jalan 70% jalan rusak dengan jalan yang penuh lubang di tambah dengan jalan yang kecil dan curam. Dan untuk ke lokasi penelitian jadwal untuk angkutan nya berangkatnya pada waktu tertentu antara 45 menit sampai 1 jam karena sudah di tentukan pihak pengelola, dan untuk akses yang lain seperti becak biasanya menunggu sewa sekitar 3-4 orang supaya berangkat jika mau sendiri bisa saja akan tetapi merogoh kocek yang agak besar atau menutupi ongkos 3 orang.

2.3. Gambar angkutan umum pedesaan

2.4. Sarana Pasar

Pasar merupakan sarana umum atau publik dimana ada transaksi jual beli antar masyarakat dengan para pedagang. Untuk pasar di kecamatan hanya ada 1 pasar yang terletak di kelurahan Gunung Baringin, dimana pasar di sini di laksanakan pada

(40)

hari Rabu mulai dari pagi hingga siang, untuk pasar di sini dipengaruhi akan hari kerja masyarakat karenanya masyarakat di Panyabungan Timur menderes pada hari selasa dan Rabu sehingga ada faktor penghubung hari menderes dengan pasar. Ada juga beberapa desa di Panyabungan Tmur yang memiliki pasar kecil antara lain dimana di setiap desa memilik para penjual yang berbeda-beda dengan desa lain yaitu :

Desa Pagur : pada hari Selasa pagi

Desa Hutarimbaru : pada hari Selasa sore dan Rabu sore Desa Tebing Tinggi : pada hari Rabu sore

2.4. Gambar pasar Gunung Baringin

2.5. Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan merupakan hal penting bagi masyarakat yang jauh dari pusat kota karena hal ini bisa menghambat akan penanganan medis. Untuk sarana kesehatan di kecamatan ada posyandu dimana buka setiap hari kerja yaitu hari Senin sampai hari Sabtu dengan jam kerja dari jam 8 pagi sampai jam 15.00 sore. Dimana

(41)

para medis merupakan bidan desa dan dokter umum saja, dan untuk penunjang akses kesehatan ketika darurat ada satu ambulance.

2.5. Gambar Puskesmas Kec. Panyabungan Timur

2.6. Sarana Umum

Untuk sarana umum di kecamatan ada beberapa kantor pembantu masyarakat seperti KUA, KPU dan kantor pelayanan lainnya itu berada di Kelurahan Gunung Baringin.

2.6. Gambar Kantor Camat Kec. Panyabungan Timur

(42)

2.7. Lokasi Penelitian Desa Parmompang

2.7.1. Kondisi geografis Desa Parmompang

Desa Parmompang adalah salah satu desa yang tertua di kecamatan ini dan desa ini berada di bawah kekuasaan raja Gunung Baringin.Desa Parmompang memiliki luas wilayah sekitar dan memiliki 1230 Ha. Desa Parmompang memiliki 3 banjar yaitu banjar jae,julu dan tonga.Desa parmompang sendiri menurut para hatobangon di sebut desa parmompang karena zaman belanda masyarakat Panyabungan Timur yang hendak pergi ke kota Panyabungan pasti lah singgah di desa ini untuk istirahat dan bermalam atau disebut panumpangan (tempat menumpang) bagi masyarakat luar .

Warga yang tinggal di desa ini buka asli penduduk sini karena 40% nya masyarakat pendatang dari desa Ranto Natas salah satu desa di Kecamatan Panyabungan Timur juga.Hal ini di buktikan dengan beberapa keturunan yang ada di desa Parmompang namun ada juga yang datang dari luar kecamatan yang kemudian bekerja di desa dan menetap di desa.

2.7. Gambar BPD Desa Parmompang

(43)

Wilayah desa sendiri di kelilingi bukit atau orang sana menyebutnya Tor dan juga beberapa areal persawahan akan tetapi disini areal persawahan bukan di airi dari sungan Aek Pohon akan tetapi dari mata air yang langsung dari hutan. Akan tetapi untuk sekarang ini banyak area sawah yang sudah beralih jadi kebun karet karena kondisi air yang tidak jelas di akibatkan cuaca

2.7.2. Pola pemukiman desa Parmompang

Pola pemukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan ataupun aktivitas sehari-harinya.Pemukiman dapat di artikan sebagai suatu tempat (ruang) atau suatu daerah di mana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat, untuk bertahan, berkembang dan melangsungkan hidupnya. Pola pemukiman berupa persebaran tempat tinggal penduduk berdasarkan kondisi alam dan aktivitas penduduknya.

Secara umum pemukiman di desa Parmompang sudah tidak di katakan tradisional karena untuk rumah masyarakat sendiri sudah banyak rumah yang bangunan semen akan tetapi masih ada rumah masyarakat yang berbentuk panggung.

Di setiap rumah di di desa ini pasti memiliki jarak dengan rumah tetangga,hal ini bertujuan untuk jalan setapak antar rumah dan agar rumah tidak terlalu dempet satu dengan yang lain dan untuk jaraknya sendiri yaitu memakai batu yang disusun berjejer.

(44)

2.8. Gambar jalan setapak di antara rumah warga

Masyarakat di sini juga sekarang sudah tidak semua memakai kayu sebagai alat untuk memasak karena di sini sebenarnya masyarakat sudah modern dan kayu sendiri hanya di gunakan oleh masyarakat yang berjualan seperti, jualan gorengan mau pada warung-warung kopi dan selebihnya masyarakat sudah memakai Gas elpiji dari pemerintah. Dan untuk kamar mandi masyarakat hanya beberapa keluarga saja yang memiliki MCK di dan sumur, dulu ada beberapa sumur milik perorangan(satu keluarga) dimana para tetangga masih bisa mengambil air sendiri tanpa meminta izin artinya mereka bebas mengambil air dari sumur itu akan tetapi itu sudah tidak ada lagi karena sudah di tutup pemilik untuk pribadi, sehingga rata-rata masyarakat mandi,MCK,nyuci itu di sungai dan pada tempat pemandian yang dulu sudah ada

2.9. Gambar tempat mandi dan cuci perempuan

(45)

Untuk laki-laki sendiri memiliki beberapa tempat pemandian di antaranya di masjid dan juga mushalla di pinggiran sungai. Masyarakat pada umumnya masih menjadikan tempat mandi masjid sebagai tempat pemandian umum akan tetapi ketika air di masjid mengecil barulah masyarakat mandi ke sungai hal ini dikarenakan letak masjid yang berada persis di tengah kampung, dan pemandian masjid ramai ketika pagi dan sore hari.

2.10. Gambar tempat mandi umum di masjid parmompang 2.7.3. Kondisi Sosial masyarakat

Kondisi masyarakat Parmompang saat ini dikatakan rendah bagi masyarakat karena di sebabkan sektor harga karet yang murah di bandingkan beberapa tahun yang lewat, karena perubahan drastis tersebut para masyarakat di desa ini beralih profesi. Mata pencaharian di DesaParmompang ialah petani atau berkebun karet atau orang disini menyebutnya pangguris akan tetapi sekarang banyak para pengguris itu beralih seperti buruh bangunan,buruh angkut maupun usaha lain seperti narik becak pengambil batu di sungai. Para penderes di sini bukanlah pemilik utama akan tetapi hanya buruh saja dimana hasil dari karet tersebut masih di bagi sehingga ini lah juga penyebab masyarakat sudah banyak yang tidak melakukan ini akan tetapi bagi

(46)

masyarakat yang punya sendiri masih berharap terhadap hasil mata pencaharian tersebut

2.11. Gambar getah karet(gota)

Adapun hasil alam di desa ini sangat lah banyak seperti karet,coklat,kulit manis, minyak nilam,pinang dan beberapa hasil alam yang masih ada nilai jual dan di desa ini juga ketika musim buah merupakan salah satu desa memiliki banyak hasil buah ketika musim seperti durian, manggis, langsat, dan ketika musim ini menjadi pekerjaan ganda bagi msyarakat.

2.12. Gambar pinang yang sedang di jemur 2.7.4. Tingkat pendidikan

Untuk kategori pendidikan di Desa Parmompang masih sangat rendah karena sebagian masyarakat di sini hanya lulusan SD dan SMP dan untuk tamatan SmA tidak lah banyak apalagi yang memiliki jenjang perguruan. Hal ini disebabkan fator

(47)

ekonomi yang sulit bagi masyarakat dan juga akan keinginan yang kurang bagi masyarakat.

2.13. Gambar Sekolah Dasar dan Madrasah di Desa Parmompang 2.7.5. Sarana Ibadah

Masyarakat Parmompang memiliki saran ibadah masjid dan juga beberapa tempat surau(suro-suro) dimana di surau ada mushalla. Untuk mushalla sendiri berada pada pinggir sungai dimana merupakan tempat mandi umum masyakat.Di sini mushalla nya berjumlah 7 mushalla,untuk mushalla laki-laki ada 4 dan mushalla perempuan ada 3.

2.14. Gambar mushala perempuan di tepi sungai dan Masjid Al-Yaqub Desa Parmompang

(48)

2.8. Lokasi Penelitian Kelurahan Gunung Baringin

2.8.1. Kondisi Alam

. Kelurahan Gunung Baringin, yang merupakan ibukota kecamatan Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal. Adapun jumlah penduduk yang berdomisili di Kelurahan Gunung Baringin, Kecamatan Panyabungan Timur 2.650 jiwa, dengan jumlah laki-laki 998 jiwa, jumlah perempuan sebanyak 1662 jiwa.

Dari jumlah penduduk yang berada di Kelurahan Gunung Baringin,Kecamatan Panyabungan Timur mayoritas dari suku Mandailing dan ada juga dari suku mandailing Angkola. Untuk masyarakat di sini juga sama hal dengan masyarakat parmompang mereka juga memanfaatkan sungai untuk mandi dan untuk penggunaan kamar mandi di sini juga tidak banyak dan juga mereka memanfaatkan aliran air (bondar) besar untuk mandi,cuci piring,dan mencuci juga.

Wilayah Kelurahan Gunung Baringin sama halnya dengan Desa Parmompang yang di kelilingi oleh beberapa Tordan juga berada pada pingir sungai Aek pohon kondisi ini cocok bagi masyarakat untuk bertani dan berkebun dan juga masyarakat Kelurahan Gunung Baringin banyak memanfaatkan sungai untuk tempat mengambil pasir dan kerikil.

2.8.2. Mata Pencaharian

Warga kecamatan Panyabungan Timur pada umumnya mata pencahariannya adalah sebagai petani, hal ini dapat dilihat baik dari jumlah areal pertanian dan

(49)

perkebunan yang sudah digarap oleh warga setempat. Mata pencaharian penduduk Kelurahan Gunung Baringin kebanyakan dari hasil pertanian yang setiap tahunnya dapat menghasilkan padi yang memadai dan cukup bagi masyarakat dan juga sebagai penderes juga banyak dan biasanya jika memiliki keduanya masyarakat biasanya melakukan pekerjaan menderes antara hari Senin sampai dengan hari Kamis dan untuk ke sawah atau pada hari Sabtu dan Minggu . Di sampingitu, mata pencaharian PNS juga mendominasi di Kelurahan Gunung Baringin, dan juga sebagai tukang becak juga banyak di tekuni masyarakat Gunung Baringin.

2.8.3. Tingkat Pendidikan

Pendidikan adalah keharusan bagi kehidupan manusia, sebab melalui pendidikan manusia dapat mencapai tujuan hidup yang lebih baik. Sebagaimana dinyatakan Rusli Karim(1980) dalam bukunya seluk beluk perubahan sosial, tentang tujuan pendidikan yaitu“ Tujuan pendidikan dapat dikatakan sebagai kesadaran dan kemerdekaan manusia baik mental maupun fisik untuk dapat mengandalkan dirinya sendiri, pengertian akan orang lain dan dimana mereka hidup”. Dari pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa pendidikan memiliki makna yang sangat besar bagi kehidupan manusia sehingga dengan demikian sampai kapan pun manusia tetap membutuhkannya.

(50)

2.15.Gambar Sekolah Dasar dan SMP Desa Gunung Baringin

Tingkat pendidikan di Kelurahan Bunung Baringin tidak lah jauh dengan Desa Parmompang karena masyarakat di sini juga rata-rata hanya lulusan SD dan SMP akan tetapi untuk jumlah tamatan SMA lebih banyak dan di perguruan tinggi juga karena jumlah masyarakat Gunung Baringin lebih banyak dari pada masyarakat Parmompang dan juga angka pendidikan lebih tinggi di Desa Gunung Baringin.

2.8.4. Agama dan Tradisi

Negara Republik Indonesia adalah Negara yang dikenal sebagai bangsa yang religius, yaitu Negara yang tidak membenarkan tanpa penganut agama ataukepercayaan. Hal ini tercantum dalam undang-undangdasar 1945 Pasal 29, sebagai mana dikutip oleh Departemen Agama RI dalam bukunya berjudul pembinaan kerukunan hidup beragama, yaitu:

1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang MahaEsa

2. Negara menjamin kebebasan penduduk untuk memeluk agama dan Beribadat menurut agama dan kepercayaannya.

(51)

Beragama merupakan suatu kecenderungan bagi manusia yang didorong sifatnya untuk mempercayai dan meyakini akan adanya suatu kekuatan yang menguasai alam dan melebihi kekuatan manusia, walaupun demikian, kecenderungan beragama itu sudah lama tertanam dalam diri setiap manusia, kalau tidak ada suatu penumpukan dan dorongan terhadap diri manusia itu sendiri, maka kecenderungan tersebut tidak akan subur, bahkan bisa saja berubah dan menghilang dari diri manusia.

Agama pada prinsipnya merupakan kebutuhan manusia sebab diciptakan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk.Untuk itu agama dijadikan manusia sebagai pedoman dalam hidup dan kehidupan. Oleh karena itu agama mempunyai nilai esensial yang menjadi dasarnya, yaitu doktrin, yang membedakan antara kenyataan dan khayalan, dan metode untuk mendekatkan diri kepada yang nyata dan mutlak serta hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Seperti dalam buku Sidi Gazalba yang berjudul “Ilmudan Islam” menyatakan bahwa islam adalah pandangan hidup (way of life) bagimanusia.

Agama merupakan penghubung manusia dengan Tuhan-Nya dan hubungan sosial kemasyarakatan diantara manusia karena dengan agama tersebut manusia dapat menjamin kehidupan yang berupa mematuhi perintah-Nya.Agama dan adat-istiadat merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, masyarakat Kelurahan Gunung Baringin adalah masyarakat yang majemuk dari segi sukudan adat-istiadat.Totalitas masyarakat Kelurahan Gunung Baringin beragama Islam, tidak ada penganut agama lain di Kelurahan Gunung Baringin.

(52)

Kemudian mengenai adat istiadat Kelurahan Gunung Baringin dapat dilihat dari suku etnis yang ada disana.Masyarakat Kelurahan GunungBaringin mayoritas berpenduduk asli Mandailing.Keberadaan adat-istiadat tersebut memberikan bukti bahwa mereka hidup rukun, semua itu berkat kesadaran yang tinggi dari masyarakat perlunya saling harga menghargai dan hormat-menghormati walaupun berbeda dalam adat dan budaya.

2.8.5. Sarana ibadah

Untuk sarana ibadah di Kelurahan Gunung Baringin ada berupa masjid dan mushalla juga ada akan tetapi untuk mushalla tidak terlalu banyak hanya memiliki sekitar 5 mushalla dan memiliki 1 masjid utama.Bagi masyarakat masjid merupakan bagian masyarakat dalam melakukan berbagai kegiatan baik seperti tempat menunaikan shalat dan juga tempat melakukan kegiatan ceramah.

2.16. Gambar: Masjid Diyaul Islam Kel. Gunung Baringin

(53)

BAB III

MARARIRAYO

3.1. Tradisi Mararirayo

Tradisi Mararirayo merupakan kegiatan-kegiatan masyarakat dalam proses menyambut puasa, saat berpuasa, dan menyambut lebaran dan juga berlebaran dimana dalam kegiatan ini mendiskripsikan kegiatan yang di lakukan masyarakat dalam menyambut puasa, saat puasa, menyambut lebaran dab berlebaran dan juga mendiskripsikan perubahan yang terjadi pada kegiatan didalam masyarakat itu sendiri.

Mararirayo sebenarnya di artikan dengan berlebaran, untuk berlebaran disini pasti semua kalangan mau pun berbagai suku di indonesia melakukan lebaran akan tetapi kegiatan yang di lakukan masyarakat yang berada di Kecamatan Panyabungan Timur itu melakukan kegiatan yang tidak sebagian masyarakat lain melakukannya.

Berelebaran pada umumnya hanyalah shalat idul fitri kemudian bersalam-salaman dan juga ziarah. Di dalam bersalam-salaman sendiri bukan hanya bersalam-salaman yang terjadi akan tetapi akan ada jamuan-jamuan dimana sudah menjadi tradisi ketika proses bersalam-salaman di lakukan di rumah yang di kunjungi pastilah akan di jamu dengan makanan. Masyarakat Mandailing biasanya menyuguhkan makanan-makanan

Gambar

2.1. Gambar wilayah Panyabungan Timur
2.1. Table Sarana Pendidikan Di KecamatanPanyabunganTimur  No  Sarana Pendidikan  Jumlah
2.3. Gambar angkutan umum pedesaan
2.4. Gambar pasar Gunung Baringin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis hubungan antara sikap responden dengan upaya pencegahan penyakit malaria diperoleh bahwa ada sebanyak 72 dari 82 (87,8%) responden yang bersikap baik

Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder (secondary data) berupa data dokumentasi satuan kegiatan kerja (Satker) di lingkungan Departemen

Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan berkenaan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan metode eksperimen dalam peningkatan

Apabila supervisor akan menggunakan orientasi langsung dalam melaksanakan supervisi pengajaran, maka bentuk aplikasinya dalam proses supervisi klinik akan sebagai berikut:

The method used in this research is the development research methods models by Borg & Gall.The results of a questionnaire distributed to 30 students and 3 teachers

Hal ini tidak tampak pada otak normal, 10 sehingga Akimoto dkk membuat kesimpulan bahwa lesi tumefaktif demielinisasi memberikan gambaran khas pada MRI berupa lesi

secara berkelompok untuk menjawab pertanyaan tentang pengertian, jenis, karakteristik, lingkup usaha jasa wisata; serta hubungan antara berbagai usaha jasa wisata guna

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan volume pengembangan sebesar 60% pada suhu 95°C, penurunan suhu pembentukan pasta dari 80-85°C menjadi