BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA 4.3. Profil Informan 4.4.4. Kehidupan Ekonomi dan Pembagian Penghasilan Perekonomian Penghasilan merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap orang dalam bertahan hidup, tanpa penghasilan sudah pasti seseorang ataupun sekelompok orang akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Penghasilan yang didapatkan setiap orang berbeda-beda sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan dan pembagian penghasilan yang mereka dapatkan tentunya juga berbeda-beda tergantung dari kebutuhan yang mereka perlukan dan untuk siapa saja kebutuhan tersebut. Pembagian penghasilan tersebut bisa berupa untuk kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, maupun perumahan. Berikut ini merupakan hasil wawancara dengan masyarakat miskin di jalan tirtosari ujung mengenai kecukupan penghasilan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari petikan hasil wawancara dapat kita lihat bahwa meskipun masyarakat miskin tersebut telah memiliki penghasilan, akan tetapi penghasilan mereka tersebut tidak mencukupi dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka setiap harinya. Seperti yang dialami oleh salah satu warga yang bernama Tiur Simatupang, penghasilan yang didapatkan oleh keluarga ibu ini tidak sebanding dengan pengeluaran yang mereka lakukan. Penghasilan keluarga ibu ini dari memulung bisa mencapai Rp.800.000,- setiap bulannya sedangkan dari pekerjaan suaminya sebagai buruh bangunan mereka bisa mendapatkan Rp.490.000,- setiap bulannya karena suaminya memang tidak setiap hari dapat bekerja sebagai buruh bangunan. Jadi jika di total-total penghasilan mereka hanya mencapai Rp.1.300.000,- setiap bulannya. Pengeluaran mereka pun bermacam-macam yaitu untuk makan mereka bisa mengeluarkan uang Rp.60.000,- setiap harinya, sedangkan untuk air minum mereka membeli air galon isi ulang seharga Rp.4.000,- setiap hari. Biaya listrik mereka bisa mencapai Rp.110.000,- setiap bulannya. Kalo untuk biaya pendidikan anak mereka, untuk saat ini ibu tiur masih terbantu karena keempat anaknya sekarang masih bersekolah di bangku SD jadi tidak perlu membayar uang sekolah tapi untuk jajan anak-anaknya bu tiur bisa mengeluarkan uang sampai Rp.15.000,- perharinya. Untuk tempat tinggal, mereka juga masih harus membayar sewa rumah sebesar 3.500.000 setiap tahunnya. Hal tersebut sesuai dengan penuturan salah satu informan, Ibu T.Simatupang (Pr, 40 tahun) yang mengatakan: “Ya gak cukuplah penghasilan saya ini dek, cuman dapat 200.000 nya kami seminggu dari mulung kek gini, kalo suami kerjaannya tukang bangunan itupun gak setiap hari dia kerja, mau cuman seminggu aja dia dapat kerja dalam sebulan abis itu uda nganggur lagi dia. Gaji suami saya pun cuman 70.000 perhari dari tukang bagunan. Kalo pengeluaran bisa macam-macam lah, adalah untuk jajan anak, makan kami lagi, beli air galon lagi untuk minum, belum lagi untuk biaya nyewa rumah ini tiap tahun bayar 3.500.000 lah kami.” (wawancara 8 September 2014) Hal yang sama juga dialami oleh warga lainnya yaitu pak N.Purba yang bekerja sebagai pemulung. Penghasilan beliau dari memulung hanya Rp.50.000,- perhari jadi jika dirata-ratakan penghasilan keluarga mereka hanya mencapai Rp.1.500.000,- setiap bulannya. Penghasilan mereka juga sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Dalam satu hari saja untuk makan mereka bisa menghabiskan 2kg beras dimana beras yang mereka beli adalah beras yang harganya paling murah yaitu Rp.7.000,- per kilogramnya. Belum lagi untuk ikan dan sayur mereka bisa menghabiskan Rp.20.000,- setiap harinya. Jadi jika di total pengeluaran mereka itu perharinya untuk makan saja bisa mencapai sekitar Rp.35.000.-. Untuk biaya listrik, keluarga pak n.purba bisa mengeluarkan uang Rp.100.000,- setiap bulannya, sedangkan untuk air minum mereka membeli air galon isi ulang setiap 2 hari sekali dengan harga Rp.4.000,- per galonnya. Sedangkan untuk keperluan mencuci dan keperluan mandi, keluarga pak N.Purba juga menggunakan air dari sumur karena mereka pun belum mendapatkan fasilitas air bersih dari pemerintah. Belum lagi untuk biaya uang sekolah kedua orang anaknya yang masih bersekolah yaitu Megawati Purba di kelas 2 SMA yaitu sebesar Rp.180.000,- dan putrinya Melinda veronica purba yang berada di kelas 2 SMP yaitu sebesar Rp.100.000,-. Jika di total biaya sekolah untuk keduanya bisa mencapai Rp.280.000,- setiap bulannya. Untuk uang jajan anaknya yang bersekolah beliau juga mengeluarkan uang sebesar Rp.10.000,- setiap harinya. Jadi jika kita rata-ratakan pengeluaran keluarga pak N.Purba ini bisa mencapai Rp.1.700.000,- dari pendapatannya yang hanya berkisar Rp.1.500.000,- setiap bulannya. Penjelasan diatas didukung oleh penuturan salah satu informan yaitu Bapak N.Purba sendiri (Lk, 53 tahun) yang mengatakan: “Kalo penghasilan segitu (1.500.000) gak cukuplah sama kami, taulah pengeluaran pun bukan untuk makan aja. untuk anak sekolah aja yang SMA uang sekolahnya 180.000, yang SMP 100.000. belum lagi untuk makan bisalah nyampek 35.000 sehari, air kamipun belinya tiap 2 hari sekali dari air galon itu, untuk jajan orang itu lagi paling gak 10.000 tiap harinya itu, makanya kalo di hitung-hitung gak akan cukup itu sama kami.” (wawancara 17 September 2014) Hampir seluruh masyarakat miskin di jalan tirtosri ujung berpendapat bahwa penghasilan yang mereka dapatkan tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Selain itu para warga miskin di jalan tirtosari ujung ini pun ada yang masih terbantu karena tidak perlu memikirkan tempat tinggal karena mereka sudah ada yang memiliki rumah sendiri dari peninggalan orang tua ataupun mertuanya. akan tetapi ada juga dari antara mereka yang tempat tinggalnya masih menyewa sehingga itu juga semakin memberatkan mereka untuk mendapatkan uang, guna membayar uang sewa rumah tersebut. Seperti yang terjadi pada bapak R.Hutabarat yang bekerja sebagai buruh bangunan, Penghasilan beliau dari bekerja sebagai buruh bangunan hanya Rp.70.000,- setiap harinya. Pak Robert mengatakan rumah yang ditinggalinya saat ini masih disewanya. Beliau menyewa rumah tersebut seharga Rp.4.000.000,- per tahunnnya dan alasan pak Robert mengapa tinggal disini karena beliau tidak memiliki uang lebih untuk tinggal di tempat lain. Meskipun demikian pengeluaran untuk biaya sewa rumah ini pasti juga membebani pak R.Hutabarat karena pengeluaran beliau bukan hanya untuk biaya sewa rumah saja tapi ada untuk keperluan lainnya juga. Pak Robert juga menambahkan kalau penghasilannya yang sebesar Rp.70.000,- perhari itu tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dia dan keluarganya, karena pengeluarannya lebih banyak dari penghasilan yang dia dapatkan tiap harinya dan pekerjaan sebagai buruh bangunan pun tidak setiap hari penuh dalam setahun bisa dia lakukan. Beliau mengatakan pengeluarannya bisa mencapai Rp.1.500.000,- setiap bulannya. Memang dari penghasilannya dia masih bisa menabung sekitar Rp.200.000, - Rp.400.000,- setiap bulannya, akan tetapi uang tabungannya itu juga sering habis jika seandainya dia lagi tidak bekerja karena di pakai untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-harinya dan juga dipakai untuk membayar uang sewa rumah mereka. Penjelasan diatas sesuai dengan penuturan salah satu informan, Pak R.Hutabarat (Lk, 48 tahun) yang mengatakan: “Kalo penghasilan saya bisa dibilang gak mencukupilah untuk kami sekeluarga, ditambah lagi biaya sewa rumah kami ini, tambah juga lah pengeluaran kami tiap tahunnya, untuk biaya sewa rumah ini biasanya saya kumpul-kumpullah 300.000 tiap bulannya, kalo masih kurang terpaksalah minjam dari tetangga.” (wawancara 2 Oktober 2014) Hal yang sama juga dikemukakan oleh ibu R.Silalahi dan ibu T.Simatupang, mereka juga masih terbebani dengan biaya tempat tinggal mereka yang masih mengontrak. Berikut penuturan salah satu informan, Ibu R.Silalahi (Pr, 45 tahun) yang mengatakan: “Kalo rumah ini masih ngontraknya kami, 4000.000 lah kami sewa ini pertahun, dari jualan kaporit ini lah ku sisihkan buat bayarnya, cemanalah untuk kebutuhan sehari-hari aja udah susah di tambah lagi biaya sewa rumah ini, kalo mau beli gak mungkin, dari mana uang.” (wawancara 14 September 2014) Hal ini juga ditambahkan oleh penuturan Ibu T.Simatupang (Pr, 40 tahun) yang mengatakan: “Kalo untuk biaya sewa rumah ini ya pasti terbebani lah dek, harus pande-pandelah gimana nyariknya untuk bayar sewa rumah ini, kalo gak di suruh pindahlah kami, sementara biaya bukan cuman untuk rumah aja, untuk biaya makan, listrik, jajan anak pun juga adakan.” (wawancara 8 September 2014) Namun ada juga warga miskin di jalan tirtosari ujung ini yang tidak perlu lagi memikirkan tempat tinggal mereka dikarenakan mereka memiliki rumah sendiri dimana rumah yang mereka tinggali adalah peninggalan milik orang tua mereka ataupun mertua mereka, akan tetapi hal yang menjadi kekhawatiran mereka adalah jika seandainya mereka digusur dari tanah milik PJKA ini. Seperti yang diutarakan salah satu informan, Bapak L.panjaitan (Lk, 40 tahun) yang mengatakan: “Rumah saya ini dulunya punya orang tua saya, disini lah saya dari kecil sampe besar. Bapak saya udah lama meninggal, kalo ibu baru beberapa bulan kemaren, jadinya saya sama keluarga sayalah yang tinggal disini sekarang makanya saya gak terlalu pusing mikirin masalah tempat tinggal. Tapi ini yang jadi masalah, katanya rel kereta api ini mau di buat jadi 2 jalur. saya dengar-dengar ada wacana penggusuran kayak gitu, itulah yang saya takutkan sekarang. Kalo sempat kena gusur mau kemana lagi kami pindah.” (wawancara 17 September 2014) Selain untuk biaya perumahan, warga miskin di jalan tirtosari ujung juga membagi penghasilan mereka untuk berbagai macam keperluan lainnya. Salah satunya adalah keperluan sandang yang menjadi kebutuhan penting bagi mereka. Seperti yang terjadi kepada ibu m.sianipar yang bekerja sebagai pemulung, Untuk makan saja dia dan keempat orang anaknya bisa menghabiskan 2 kg beras dan hanya mampu membeli beras yang harganya Rp.7.000,-/kg nya. sedangkan untuk lauk pauknya, bu sianipar hanya bisa membeli lauk berupa ikan ataupun tahu seharga Rp.20.000,-, jadi untuk makan pengeluaran mereka bisa mencapai Rp.35.000,- setiap harinya dengan beras yang murah dan lauk pauk yang seadanya agar kebutuhan makan mereka bisa tercukupi. Seperti penuturan salah satu informan, Ibu M.Sianipar (Pr, 42 tahun) yang mengatakan: “Kalo untuk makan ya seadanya ajalah kami tok, yang penting bisa makan. Beras pun beli yang harganya paling murah aja yang 7000 sekilo. Kalo untuk lauk cuman pake ikan sama tahu lah kami, gk pernah kami makan daging. Kalo gak kek gitu mana mungkin tercukupi.” (wawancara 17 September 2014) Hal yang sama juga terjadi kepada keluarga ibu R.Silalahi yang mana pengeluaran mereka untuk keperluan makan bisa mencapai Rp.40.000,- setiap harinya. Bu silalahi juga mengatakan agar bisa membeli bahan makanan yang lebih murah dia sengaja membeli lauk-pauk seperti ikan dan sayuran pada siang hari dimana barang-barang yang di jual adalah barang-barang sisa. Hal tersebut sesuai dengan penuturan Bu Silalahi (Pr, 45 tahun) yang mengatakan: “Untuk biaya makan kami sekeluarga 40.000 lah sehari biasanya, itupun lauknya saya beli waktu siang biar harganya murah supaya bisa cukup untuk beli keperluan yang lain.”(wawancara 14 September 2014) Selain itu mereka juga menggunakan penghasilannya untuk biaya listrik dan air minum yang harus mereka keluarkan setiap bulannya. Seperti penuturan salah satu informan, Pak Binsar Matondang (Lk, 50 tahun) yang mengatakan: “Listrik kami gak tentu, biasanya 80.000 tapi pernah juga sampek 100.000 sebulan, kalo untuk air minum belinya kami dari air galon yang 4000 itu. Biasanya 2 hari sekali lah kami belinya itu, maklumlah air belum masuk kesini.”(wawancara 2 Oktober 2014) Salah satu informan, Bapak P.Saragih (Lk, 52 tahun) juga menambahkan dengan mengatakan: “Air pam disini memang belum masuk, jadi untuk minum kami beli air mentah per jerigen dari depan, harganya 1000 perjerigen, kami beli tiap satu hari sekalilah itu, listrik kami pun gak tentu tapi bisalah tiap bulan itu nyampek 100.000.”(wawancara 8 September 2014) Warga miskin dijalan tirtosari ujung ini juga tidak terlepas dari pengeluaran untuk pendidikan anak mereka. Dari hasil wawancara yang saya lakukan kebanyakan dari warga disini memang sanggup menyekolahkan anaknya sampai tingkat SMA karena menurut mereka memang pendidikan anak itu sangat penting untuk mengubah kehidupan mereka kelak ataupun kehidupan anak-anak mereka kelak. Jadi apapun akan mereka lakukan yang penting anak mereka bisa bersekolah. Hal tersebut didukung juga oleh penuturan salah satu informan, Ibu R.Silalahi (Pr, 45 tahun) yang mengatakan: “Anak saya memang masih sekolah dua-duanya, yang satu SMA, yang satu lagi SMP. Untuk uang sekolah orang itu dua aja bisa nyampek 280.000 tiap bulannya belum lagi jajan orang itu 12.000 setiap hari. Tapi Cemana lah kalo gak sekolah kan gak mungkin, mau jadi apa orang itu nanti, makanya dipala-palailah yang penting ada untuk sekolah anak.” (wawancara 14 September 2014) Dari hasil wawancara diatas kita dapat melihat berbagai macam bentuk pengeluaran yang terjadi pada warga miskin dijalan tirtosari ujung ini sangat membebani mereka. Dan pada umumnya pengeluaran-pengeluaran yang terjadi ini adalah pengeluaran yang tidak bisa dihindari oleh mereka seperti biaya sandang, pangan dan papan, biaya pendidikan anak, dan biaya perumahan mereka bagi yang masih menyewa. Pengeluaran mereka pun melebihi pendapatan yang mereka dapatkan disebabkan pekerjaan mereka yang hanya sebagai pemulung ataupun buruh bangunan sehingga mereka harus berpikir keras untuk memikirkan cara agar pendapatan mereka tersebut bisa mencukupi kebutuhan pengeluaran mereka sehari-hari. Untuk itulah mereka memerlukan strategi-strategi agar mereka bisa terus bertahan hidup dari kondisi keterbatasan dan kekurangan penghasilan yang mereka alami. 4.5. Strategi Bertahan Masyarakat Miskin di Jalan Tirtosari Ujung Dalam Mengatasi Kondisi Keterbatasan Ekonomi Yang Mereka Alami. Manusia sama seperti mahluk hidup lainnya, mempunyai naluri untuk mempertahankan hidupnya dan untuk hidup lebih lama. Usaha ini dikendalikan pula oleh aturan pokok dari hidup yaitu, hidup dalam situasi apapun dengan lebih berkualitas daripada sebelumnya. Ini adalah ide dasar dari bertahan hidup. Bagaimanapun, untuk meraih tujuan ini seseorang harus menerapkan banyak taktik untuk hidup serta dimanifestasikan dalam satu kesatuan sistematis. Untuk memahami apa itu strategi bertahan hidup, seseorang harus memahami terlebih dahulu konsep dari strategi. Berdasarkan analisis kebijakan sosial, strategi adalah satu set pilihan dari alternatif-alternatif yang ada. Strategi bertahan hidup sebenarnya dibangun pada level individu, akan tetapi pada tujuan akhirnya adalah untuk memperoleh ketahanan dan stabilitas bertahan hidup pada rumah tangga. Bertahan hidup bisa dipandang sebagai pemasukan dalam bentuk uang ataupun sumber-sumber kehidupan agar seseorang dapat melanjutkan eksistensinya. Selain itu bertahan hidup juga bisa dipandang sebagai perpaduan antara kegiatan sosial dan ekonomi yang bertujuan menjaga eksistensi manusia tersebut. Termasuk di dalamnya segala usaha yang dipersiapkan oleh individu tersebut untuk menghadapi situasi-situasi penting dan bertahan dalam keadaan sulit. Kegiatan strategi individu tidak benar-benar terpisahkan dari pengaruh aturan-aturan yang kuat dan organisasi-organisasi dimana anggota masyarakat harus menurutinya. Suatu kegiatan dapat dikatakan strategi bertahan hidup ketika kegiatan tersebut diarahkan pada kebutuhan-kebutuhan penting yang diperlukan sekali untuk mempertahankan dan melanjutkan eksistensi. Snel dan Staring dalam Resmi Setia (2005:6) mengemukakan bahwa strategi bertahan hidup adalah sebagai rangkaian tindakan yang dipilih secara standar oleh individu dan rumah tangga yang miskin secara sosial ekonomi. Melalui strategi ini seseorang bisa berusaha untuk menambah penghasilan lewat pemanfaatan sumber-sumber lain ataupun mengurangi pengeluaran lewat pengurangan kuantitas dan kualitas barang dan jasa. Cara-cara individu menyusun strategi dipengaruhi oleh posisi individu atau kelompok dalam struktur masyarakat, sistem kepercayaan dan jaringan sosial yang dipilih, termasuk keahlian dalam memobilisasi sumber daya yang ada, tingkat keterampilan, kepemilikan asset, jenis pekerjaan, status gender dan motivasi pribadi. Nampak bahwa jaringan sosial dan kemampuan memobilisasi sumber daya yang ada termasuk didalamnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain membantu individu dalam menyusun strategi bertahan hidup. Dalam menyusun strategi, individu tidak hanya menjalankan satu jenis strategi saja, sehingga kemudian muncul istilah multiple survival strategies atau strategi bertahan jamak. Selanjutnya snel dan staring mengartikan hal ini sebagai kecenderungan pelaku-pelaku atau rumah tangga untuk memiliki pemasukan dari berbagai sumber daya yang berbeda, karena pemasukan tunggal terbukti tidak memadai untuk menyokong kebutuhan hidupnya. Strategi yang berbeda-beda ini dijalankan secara bersamaan dan akan saling membantu ketika ada strategi yang tidak bisa berjalan dengan baik. (dalam jurnal nur hidayah, halaman 3-4). Strategi keluarga miskin di jalan tirtosari ujung dalam menghadapi permasalahan perekonomian keluarga, merupakan salah satu indikator variabel potensi mereka. Dalam konteks ini kemiskinan tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang statis, tetapi juga mempunyai dinamika yang sesuai dengan tantangan dan perubahan sosial. Dalam tata kehidupan dan penghidupan masyarakat, setiap keluarga tidak akan terlepas dari permasalahan (goncangan dan tekanan). Permasalahan yang dimaksud disini dapat berupa permasalahan ekonomi maupun sosial seperti yang dialami keluarga miskin dijalan tirtosari ujung ini. Keluarga miskin dijalan tirtosari ujung ini mempunyai potensi untuk survive dalam berbagai kondisi yang mereka alami dan dalam rangka menghadapi goncangan dan tekanan (shock and stress), pada dasarnya mereka mempunyai beberapa strategi yang cukup handal guna kelangsungan hidup mereka. Berdasarkan dari data yang terhimpun melalui penelitian ini terungkap cukup banyak strategi yang dipergunakan keluarga miskin dijalan tirtosari ujung ini dalam menghadapi permasalahan ekonominya. Bentuk-bentuk strategi yang dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut: Dalam dokumen Strategi Bertahan Hidup Masyarakat Miskin (Studi pada Masyarakat di Pemukiman Kumuh Jalan Tirtosari Ujung, Kecamatan Medan Tembung) (Halaman 73-84)