BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA 2. Strategi Pasif atau Penekanan/Pengetatan Penekanan ataupun pengetatan pengeluaran merupakan strategi yang bersifat pasif yaitu dengan mengurangi pengeluaran keluarga seperti misalnya pengeluaran biaya untuk sandang, pangan, biaya sosial, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa warga miskin dijalan tirtosari ujung ini sering menekan pengeluaran agar bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Hal tersebut sesuai dengan penuturan salah satu informan, Ibu R.Silalahi (Pr, 45 tahun) yang mengatakan: “Supaya bisa cukup untuk biaya yang lain, biasanya kami beli ikan dan sayur yang murah, jadi saya beli itu waktu siang atau sorelah supaya bisa dapat ikan-ikan yang sisa dari tadi pagi jadi harganya bisa lebih murah, lumayan lah sisa uangnya bisa di pake untk jajan anak sama beli air minum.”(wawancara 14September 2014) Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu informan, Bapak P.Saragih (Lk, 42 tahun) yang mengatakan: “Untuk ngurangi pengeluaran kami, ya untuk minum kami itu cuman beli air mentah jerigenan lah supaya harganya bisa lebih murah, kalo beli air galon bisa nyampek 4000 harganya, sedangkan air jerigen paling cuman seribu perjerigennya. Untuk makan pun kami beli ikan sama sayur yang murah-murahnya, kalo beli daging mana ada duit.” (wawancara 8 September 2014) “Kalo pas lagi sakit pun, gaknya kami sampe periksa-periksa ke dokter, paling cuma beli obat-obat demam kayak mixagrip atau bodrex aja ke kede-kede dekat rumah, orang sakitnya pun paling cuman demam-demam sama flu ajanya kami seringan, kalo penyakit-penyakit yang serius untungnya belum pernah kami alami dan kalo bisa jangan sampelah soalnya mau darimana nanti uangya buat berobat.” (wawancara 8 September 2014) Hal yang sama juga diungkapkan oleh informan ibu M.Sianipar dan pak Binsar Matondang, dimana bisa dikatakan mereka adalah keluarga yang berhemat dikarenakan pendapatan mereka yang tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Seperti penuturan Ibu M.Sianipar (Pr, 42 tahun) yang mengatakan: “Supaya bisa cukup penghasilan saya ini, peralatan lisrtik kami pun cuman reskuker sama tv aja lah yang ada di rumah, listrik kami pun masih numpang ke tetangga jadi biayanya cumin 50.000 kami bayar, jajan anak pun ya seadanya lah saya kasih, yang SMP cumin 3000, yang SD 2000, kalo yang kecil 2 ini jajannya seribu-seribu lah satu hari, untuk makan pun beras yang untuk raskin itunya yang saya beli yang 7000 harganya, itu bisa nyampe 2kilo lah perharinya, kalo untuk lauknya sering saya cuman pake ikan sama tahu tempe aja. Kalo gak kayak gitu gak akan bisa tercukupi kebutuhan kami tok.”(wawancara 17 September 2014) Salah satu informan, Pak Binsar Matondang (Lk, 50 tahun) juga menambahkan dengan mengatakan: “Kalo kami sekeluarga biasanya beli barang-barang itu kayak baju sama celana beli yang bekas-bekas dari pajak monja kayak sambu, gakpapalah bekas yang penting harganya bisa lebih murah, toh bisa dipake juganya dan bagus kayak baju-baju yang masih baru. baju untuk anak pun kami beli setahun sekali ajanya untuk orang itu, cemanalah kalo beli tiap bulan kan gak mungkin, uangpun gak ada, jadi biar senang hati anak-anak saya ini, kami belilah baju untuk orang itu tiap menjelang natal sama tahun baru.”(wawancara 2 Oktober 2014) Penuturan diatas juga terjadi kepada warga lainnya seperti yang terjadi kepada keluarga salah satu informan, Bapak J.Pasaribu (Lk, 63 tahun), beliau mengatakan: “Keluarga kami ini memangnya selalu berhemat, makanya untuk makanpun kami beli ikan sama sayur yang murah-murah itunya, beraspun kami beli yang harga 7000, barang-barang kayak pakaian pun jarangnya kami beli karena uangnya dipake untuk keperluan yang lain, untuk air minum pun kami hematnya biar gak sering kali belinya.” (wawancara 8 September 2014) Dalam hal penekanan/pengetatan pengeluaran, warga miskin di jalan tirtosari ujung ini banyak melakukan penghematan dalam kebutuhan makan mereka sehari-hari, hal ini terlihat bahwa mereka mengabaikan sisi kehidupan kesehatannya dengan membeli bahan makanan seperti ikan dan sayuran yang sisa sehingga ini akan berdampak kelak pada kehidupan mereka dimana kesehatan mereka akan terganggu yang mengakibatkan aktivitas mereka dalam mencari nafkah pun nantinya juga akan menjadi terganggu. Akan tetapi, mau tidak mau hal seperti ini pasti akan terjadi karena tanpa melakukan penghematan tersebut mereka tidak akan bisa mencukupi kebutuhan lainnya seperti biaya pendidikan anak dan biaya listrik. Selain itu mereka juga melakukan penghematan dalam membeli barang-barang seperti baju dan celana. Mereka hanya membeli baju setahun sekali dan itupun ada yang membeli baju dan celana bekas. Hal ini memperlihatkan strategi penekanan pengeluaran memang diperlukan oleh keluarga miskin di jalan tirtosari ujung ini, karena dengan melakukan strategi seperti ini, kehidupan mereka bisa sedikit terbantu dimana hasil penghematan yang mereka lakukan bisa digunakan untuk keperluan hidup yang lainnya. 3. Strategi Pemanfaatan Jaringan/Jaringan Pengaman Strategi pemanfaatan jaringan merupakan salah satu upaya yang ditempuh oleh keluarga miskin di jalan tirtosari ujung dalam mengatasi masalah perekonomian keluarga mereka. Jaringan yang dimaksud adalah relasi sosial mereka, baik secara informal maupun formal dengan lingkungan sosialnya ataupun lingkungan kelembagaan. Pemanfaatan jaringan ini dapat terlihat jelas dalam upaya mereka mengatasi masalah ekonomi dengan meminjam uang kepada tetangga ataupun toke botot yang mereka kenal, mengutang ke warung terdekat, memanfaatkan program anti kemiskinan, bahkan ada yang meminjam uang ke rentenir dan sebagainya. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa mereka sering meminta kepada relasi sosialnya seperti kepada tetangga ataupun toke botot kenalan mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan dengan lingkungan sekitar seperti tetangga dekat mereka mempunyai solidaritas yang kuat dan saling percaya. Dalam hal ini mereka saling membantu jika ada tetangga lain yang memang sedang membutuhkan uang, padahal jika dilihat kondisi perkonomian mereka pasti tidak jauh berbeda satu sama lain. Tampaknya tetangga merupakan tumpuan untuk memperoleh pertolongan dan sebagai tempat pertama yang akan di tuju apabila mereka mengalami kekurangan uang. Relasi Dalam dokumen Strategi Bertahan Hidup Masyarakat Miskin (Studi pada Masyarakat di Pemukiman Kumuh Jalan Tirtosari Ujung, Kecamatan Medan Tembung) (Halaman 88-91)