• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

4. Kehilangan Dan Berduka

4.1 Definisi Kehilangan (loss)

Kehilangan adalah suatu kondisi aktual atau potensial yang mengakibatkan sesuatu hal berubah, berpisah dalam jangka waktu yang lama, atau kehilangan karena bepergian. Kehilangan (loss) dapat dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau seluruhnya dan menyebabkan adanya perubahan dalam hidup sehingga akan timbul perasaan kehilangan.

Seseorang bisa mengalami kehilangan yang bersumber dari kehilangan bagian anggota tubuhnya sendiri, kehilangan objek eksternal seperti kehilangan uang, kehilangan lingkungan tempat tinggal atau pekerjaan, dan kehilangan salah seorang yang dicintai karena kematian. Kematian adalah pengalaman kehilangan yang sangat berarti, bagi yang mengalami kehilangan dan yang berjuang dalam mempertahankan hidupnya. Kehilangan seseorang karena kematian dapat menjadi suatu masalah yang sangat mengganggu, dan pada umumnya kelompok masyarakat Amerika menunjukkan penolakan terhadap kematian (Kozier, et all, 2004).

4.2 Berduka

Berduka (Grieving) adalah suatu respon emosional terhadap kehilangan yang dirasakan dan diwujudkan dengan berbagai cara pada masing-masing individu dan didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspetasi budaya, dan keyakinan spiritual yang diyakini individu (Hidayat, 2009).

Lamanya proses berduka yang dialami oleh seorang individu sangat individual dan dapat sampai beberapa tahun lamanya. Menurut teori Martocchio (1985) menyatakan bahwa durasi berduka atau kesedihan yang dialami individu bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Reaksi yang terus menerus dan kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut 3-5 tahun (Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 2004), sedangkan menurut Worden, 1991 dalam Lueckenotte, 2000 mengatakan bahwa respon berduka yang perlu diperhatikan pada seseorang normalnya adalah 3 bulan sampai 1 tahun setelah pengalaman kehilangan dan jika para lansia tersebut telah mengalami pengalaman kehilangan yang banyak maka akan membutuhkan waktu berduka yang lebih lama.

Respon berduka terhadap kehilangan yang paling dikenal adalah yang dikemukan oleh (Kubler-Ross dalam Potter dan Perry, 1997) yang menjelaskan bahwa terdapat lima tahap dalam proses respon seseorang terhadap dukacita, yaitu:

1. Penolakan (denial)

Reaksi awal individu terhadap kehilangan adalah tidak percaya, syok, dan mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi. Reaksi ini dapat berlangsung dalam beberapa menit hingga beberapa tahun.

2. Marah (angry)

Pada tahap ini individu yang menolak kehilangan akabn menunjukkan kemarahan yang di proyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri.

3. Tawar menawar (Bargaining)

Pada tahap ini individu sudah mulai menunda kesadaran atas terjadinya kehilangan dan membuat seolah-olah kehilangan yang dialaminya dapat dicegah. Individu mungkin berupaya melakukan tawar menawar dengan memohon kemurahan kepada Tuhan.

4. Depresi (depression)

Pada tahap ini sering ditunjukkan dengan sikap menarik diri dan menyatakan keputusasaan,tidak mau bicara, dan bisa timbul keinginan bunuh diri.

5. Penerimaan (Acceptance)

Pada tahap ini pikiran individu yang mengalami kehilanganyang selalu berpusat pada objek yang hilang akan berkurang atau hilang. Individu telah menerima kenyataan kehilangan dan sudah mulai memikirkan rencana masa depan dan mulai beralih kepada hal yang baru. Apabila individu tersebut mampu menerima kehilangan dengan perasaan damai maka dia dapat mengakhiri proses berduka serta mengatasi perasaan kehilangan secara tuntas.

4.3 Kehilangan pada lansia

Penyesuaian utama yang harus dilakukan oleh lanjut usia adalah penyesuaian yang dilakukan karena kehilangan pasangan hidup. Kehilangan pasangan hidup adalah kehilangan suami atau istri. Kehilangan tersebut dapat disebabkan oleh kematian atau penceraian (Hurlock, 1999). Kondisi ini mengakibatkan gangguan emosional dimana lanjut usia akan merasa sedih akibat

kehilangan orang yang dicintainya (Hidayat, 2004). Dampak kehilangan pada masa dewasa tua dan lansia adalah kehilangan khususnya kematian pasangan hidup dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup orang yang ditinggalkan (Hidayat, 2009).

Lansia pada umumnya telah menyadari bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan yang normal, tetapi kesadaran akan kematian tidak berarti bahwa pasangan yang ditingalkan akan menemukan penyesuaian kematian dengan mudah. Hilangnya pasangan menuntut reorganisasi fungsi keluarga secara total karena kehilangan pasangan akan mengurangi sumber emosional dan ekonomi serta diperlukan penyesuaian untuk menghadapi kehilangan tersebut (Maryam, 2008).

Lansia yang sudah janda atau duda memiliki kesadaran akan hidup sendiri yang menjadi suatu pengalaman yang menakutkan. Pasangan hidup meninggal, selain itu anak-anak meninggalkan rumah untuk membentuk keluarga sendiri. Rasa sepi pada keadaan seperti itu menimbulkan keraguan akan makna hidup atau nilai dirinya dan guna bagi masyarakat (Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, 2012).

Masalah utama yang dihadapi oleh lansia yang berstatus janda atau duda adalah masalah kesepian karena kematian pasangannya. Secara umum laki-laki lebih cenderung bermasalah bermasalah baik dalam hal kesehatan fisik maupun mental, serta memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dari pada perempuan. Hal ini karena semasa hidupnya laki-laki lebih mempercayakan segala hal kepada

istrinya seperti keterikatan sosial, tugas-tugas rumah tangga, dan memecahkan masalah dalam menghadapi stress, sehingga pada umumnya laki-laki kurang persiapan dari pada perempuan dalam menghadapi tantangan sebagi seorang duda (Suardiman, 2011). Laki-laki juga cenderung kurang terlibat dalam kegiatan keagamaan yang merupakan suatu sumber dukungan yang sangat penting untuk memperoleh dukungan sosial dan kekuatan dari Tuhan (Berk, 2007; 619 dalam Young dan Koopsen, 2007).

Berbeda dengan wanita yang lebih mampu mengatasi kondisi menjadi janda, alasannya adalah bahwa mereka memiliki hubungan persahabatan yang erat dan mendalam dengan orang lain dan umumnya sudah terbiasa memiliki hubungan sosial yang lebih luas. Para wanita juga lebih mampu mengekspresikan emosinya, sehingga dapat segera bangkit untuk menyesuaikan dirinya kembali. Sebagai janda lansia juga cenderung memiliki teman senasib atau sama-sama hidup sendiri sehingga merasa lebih siap menghadapi hidup tanpa seorang suami (Suardiman, 2011).

Kemungkinan para lanjut usia merasa dapat menerima untuk mengenali kesedihan karena kehilangan pasangan hidup. Lansia sering mengalami banyak kepuasaan hidup yaitu kegunaan dan kenikmatan hidup berakhir pada usia tua, semakin lama seseorang hidup maka akan semakin banyak membentuk ikatan cinta (Rando, 1986, Kastenbaum, 1991 dalam Potter & Perry, 2005).

BAB 3

Dokumen terkait