• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

1.1 Deskriptif karakteristik responden

Responden pada penelitian ini adalah lansia Suku Batak yang telah kehilangan pasangan hidupnya yang bertempat tinggal di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai dengan jumlah responden sebanyak 41 orang. Karakteristik responden yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, dan lama hidup menjanda/duda.

Hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa dari 41 orang responden yang diteliti, mayoritas responden termasuk kedalam kelompok usia setengah baya (elderly) yaitu usia 60-74 tahun, dengan jumlah 34 orang responden (82.9%) dan hanya sebagian kecil yang termasuk kedalam kelompok usia tua (old) yaitu usia 75-90 tahun sebanyak 7 orang (17.1%). Mayoritas responden lansia berjenis kelamin perempuan sebanyak 36 orang (87.8%), seluruh responden beragama

Kristen Protestan sebanyak 41 orang (100%), pendidikan terakhir SD sebanyak 28 orang (68.3%), pekerjaan sebagai buruh/bertani sebanyak 35 orang (85.4%), dan lamanya responden telah kehilangan pasangan hidup yaitu 6-10 tahun sebanyak 17 orang (41.4%). Hasil penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik demografi responden yaitu lansia Suku Batak di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai (n=41)

No. Karakteristik Responden Frekuensi (f) Persentase (%) 1. Usia

Setengah baya (60-74 tahun) Tua (75-90 tahun) Sangat tua (diatas 90 tahun)

34 7 - 82.9 17.1 - 2. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 5 36 12.2 87.8 3. Agama Islam Kristen protestan Kristen Katolik Hindu Budha - 41 - - - - 100 - - - 4. Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMU DIII Sarjana 9 28 3 1 - - 22.0 68.3 7.3 2.4 - - 5. Pekerjaan Tidak bekerja Buruh/ bertani Pensiunan Wiraswasta Lain-lain. 5 35 - 1 - 12.2 85.4 - 2.4 - 6. Lama hidup menjanda/ duda

6-11 bulan 1-5 tahun 6-10 tahun >10 tahun - 15 17 9 - 36.6 41.4 22.0

1.2 Spiritualitas lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai

Spiritualitas lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup dikategorikan tinggi dan rendah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapat bahwa mayoritas lansia memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi sebanyak 27 orang (65.9%), jauh lebih sedikit dengan yang memiliki spiritualitas rendah sebanyak 14 orang (34.1%). Spiritualitas lansia suku batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2 Distribusi frekuensi dan persentase spiritualitas lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai (n=41)

No. Spiritualitas Frekuensi (f) Persentase (%)

1. Tinggi 27 65.9

2. Rendah 14 34.1

1.2.1 Dimensi spiritualitas: hubungan dengan Tuhan pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas lansia memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan Tuhan rendah yaitu sebanyak 24 orang responden (58.5%), jauh lebih sedikit dengan yang memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan Tuhan tinggi yaitu sebanyak 17 responden (41.5%). Dimensi

spiritualitas: hubungan dengan Tuhan pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup dapat dilihat pada Tabel 5.3.

Tabel 5.3 Distribusi frekuensi dan persentase dimensi spiritualitas: hubungan dengan Tuhan lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai (n=41)

No. Spiritualitas Frekuensi (f) Persentase (%)

1. Tinggi 17 41.5

2. Rendah 24 58.5

1.2.2 Dimensi spiritualitas: hubungan dengan diri sendiri pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas lansia memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan diri sendiri tinggi yaitu sebanyak 27 orang responden (65.9%), jauh lebih sedikit dengan yang memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan diri sendiri rendah yaitu 14 orang (34.1%). Dimensi spiritualitas: hubungan dengan diri sendiri pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup dapat dilihat pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4 Distribusi frekuensi dan persentase dimensi spiritualitas: hubungan dengan diri sendiri lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai (n=41)

No. Spiritualitas Frekuensi (f) Persentase (%)

1. Tinggi 27 65.9

2. Rendah 14 34.1

1.2.3 Dimensi spiritualitas: hubungan dengan orang lain pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas lansia memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan orang lain tinggi yaitu sebanyak 31 orang (75.6%), jauh lebih sedikit dengan yang memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan orang lain rendah yaitu 10 orang (24.4%). Dimensi spiritualitas: hubungan dengan orang lain pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup dapat dilihat pada Tabel 5.5.

Tabel 5.5 Distribusi frekuensi dan persentase dimensi spiritualitas: hubungan dengan Orang lain lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai (n=41)

No. Spiritualitas Frekuensi (f) Persentase (%)

1. Tinggi 31 75.6

1.2.4 Dimensi spiritualitas: hubungan dengan lingkungan/alam pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan lingkungan/alam tinggi yaitu sebanyak 32 orang (78%), jauh lebih sedikit dengan yang memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan lingkungan/alam rendah yaitu 9 responden (22%). Dimensi spiritualitas: hubungan dengan lingkungan/alam pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup dapat dilihat pada Tabel 5.6.

Tabel5.6 Distribusi frekuensi dan persentase dimensi spiritualitas: hubungan dengan Lingkungan/alam lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai (n=41)

No. Spiritualitas Frekuensi (f) Persentase (%)

1. Tinggi 32 78

2. Pembahasan

Pembahasan pada penelitian ini menjelaskan tentang makna hasil penelitian dan membandingkannya dengan penelitian sebelumnya atau dengan literatur yang ada. Pembahasan hasil penelitian menjelaskan tentang karakteristik demografi dan spiritualitas lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa Pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai.

2.1 Spiritualitas lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup

Berdasarkan hasil penelitian, secara umum didapatkan bahwa spiritualitas lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup di Desa pagar Manik Kecamatan Silinda Kabupaten Serdang Bedagai sebanyak 27 orang lansia (65.9%) berada pada tingkat spiritualitas tinggi. Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Ebersole & Hess (1997) dalam Young & Koopsen (2007) yang menyatakan bahwa spiritualitas merupakan faktor terpenting bagi lansia untuk beradaptasi karena kehilangan orang tercinta, dan menurut Kozier, Erb, Blaiss & Wilkinson (1995) dimana perkembangan spiritualitas lansia yang matang akan membantu lansia dalam menghadapi kenyataan hidupnya. Peneliti juga berasumsi bahwa para lansia pada umumnya tinggal dan dirawat dengan baik oleh anak dan keluarga yang lain setelah kehilangan pasangan hidupnya, sehingga para lansia ini masih merasa berharga dan tidak akan merasa kesepian. Hal ini juga yang memberikan dampak positif terhadap spiritualitas para lansia Suku Batak yang telah kehilangan pasangan hidup, dengan sistem kekerabatan dan nilai agama yang dianut dengan baik oleh masyarakat Suku Batak.

Berdasarkan penelitian didapatkan juga bahwa mayoritas lansia tergolong kedalam kelompok usia setengah baya (elderly) yaitu usia 60-74 tahun, dengan jumlah 34 orang responden (82.9%), hal ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Taylor, et, all (1997) bahwa perkembangan spiritualitas pada tahap ini sudah lebih matang, berpartisipasi dalam aktifitas sosial dan keagamaan, sehingga membuat individu lebih mampu untuk mengatasi masalah. Pertumbuhan spiritualitas pada lansia menunjukkan perkembangan perasaan identitas, penciptaan, dan pemeliharaan relasi yang bermakna dengan orang lain, dengan Tuhan, mampu menghargai alam, dan mengembangkan suatu kesadaran transendental (Young dan Koopsen, 2007).

Berdasarkan penelitian juga didapatkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 36 orang (87.8%), hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Fatimah (2010) bahwa umur harapan hidup pada wanita 79.3 tahun dan umur harapan hidup pada laki-laki 72.7 tahun, dilanjutkan dengan pernyataan Suardiman (2011) bahwa angka harapan hidup pada wanita 4-7 tahun lebih panjang daripada laki-laki sehingga menyebabkan jumlah janda lebih banyak daripada jumlah duda, dan menyatakan bahwa para wanita lebih mampu mengatasi kondisi menjadi janda, karena memiliki hubungan persahabatan yang erat dan mendalam dengan orang lain, dan umumnya sudah terbiasa memiliki hubungan sosial yang luas dibanding dengan para duda.

Berdasarkan lamanya hidup menjanda/duda , lansia yang sudah menjanda/duda selama 6-10 tahun sebanyak 17 orang (41.4%). Lamanya proses berduka yang dialami seseorang sangat individual dan dapat sampai beberapa

tahun lamanya. Reaksi kesedihan yang terus menerus biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut 3-5 tahun setelah pengalaman kehilangan orang terdekat (Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 2004). Kemungkinan para lanjut usia merasa dapat menerima untuk mengenali kesedihan karena kehilangan pasangan hidup. Lansia sering mengalami banyak kepuasaan hidup yaitu kegunaan dan kenikmatan hidup berakhir pada usia tua, semakin lama seseorang hidup maka akan semakin banyak membentuk ikatan cinta (Rando, 1986, Kastenbaum, 1991 dalam Potter & Perry, 2005). Peneliti berasumsi bahwa lamanya waktu hidup sebagai seorang janda/duda bagi seorang lansia menyebabkan lansia tersebut sudah dapat menyesuaikan dirinya kembali.

Kebutuhan spiritualitas pada lansia umumnya dilakukan dengan mengisi waktu untuk beribadah, karena dengan beribadah para lansia mendapatkan ketenangan jiwa dan kedamaian (Setiti, 2007). Sedangkan berdasarkan latar belakang budaya, seluruh responden bersuku Batak. Suku Batak memiliki tuntunan agama dan nilai luhur yang menempatkan lanjut usia sebagai seorang yang harus dihormati, dihargai, dan dibahagiakan dalam kehidupan keluarga (Situmeang, 2007). Para lansia yang sudah janda/duda akan dirawat dengan baik oleh keluarganya dan senantiasa terlibat dalam setiap aktivitas hubungan antar manusia, hal ini akan membuat para lansia tersebut tidak merasa kesepian, dan hal ini juga didukung dengan sistem kepercayaan masyarakat Batak yang meyakini adanya Tuhan yang Maha Tinggi yang disebut dengan Mula Jadi Nabolon dan senantiasa berserah kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan (Harahap, 1940).

Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui bahwa sebanyak 14 orang lansia (34.1%) memiliki tingkat spiritualitas yang rendah akibat kehilangan pasangan hidupnya. Hal ini bisa terjadi karena dampak kehilangan pada lansia khususnya kehilangan karena kematian pasangan hidup dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup orang yang ditinggalkan (Hidayat, 2009), khususnya bagi seorang duda yang kurang terlibat dalam kegiatan keagamaan yang merupakan suatu sumber dukungan sosial dan kekuatan dari Tuhan (Berk, 2007; 619 dalam Young dan Koopsen, 2007). Peneliti juga berasumsi bahwa spiritualitas seorang juga dipengaruhi oleh pengalaman hidup, dimana pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu kehilangan pasangan hidup dianggap sebagai suatu cobaan dan mempengaruhi spiritualitas lansia. Krisis dan perubahan juga sangat mempengaruhi spiritualitas seorang lansia, proses penuaan dan kehilangan yang dialami oleh lansia dapat menghilangkan spiritualitas seseorang dan bersifat sangat emosional ( Craven & Hirnle, 1996). Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Hidayat (2004) bahwa kondisi kehilangan pasangan hidup karena kematian akan mengakibatkan gangguan emosional dimana lansia akan merasa sedih akibat kehilangan orang yang dicintainya. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan bahwa lansia yang tidak matur dalam spiritualitas akan menunjukkan kelemahan fisik, merasa putus asa, dan berkurangnya minat dalam pekerjaan ataupun komunitas sosial (Kozier, et all, 1995).

2.1.1 Dimensi spiritualitas: hubungan dengan Tuhan pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup

Hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan Tuhan rendah yaitu sebanyak 24 orang responden (58.5%). Hasil penelitian ini bertentangan dengan pernyataan Hamid (2000) bahwa seiring bertambahnya usia seseorang keikutsertaan dalam upacara keagamaan akan meningkat karena kelompok usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiatan agama dan berusaha lebih mengerti nilai-nilai agama yang diyakini oleh generasi muda. Meskipun demikian hasil ini didukung dengan nilai Budaya Batak yang menjadikan prioritas nilai budaya yang pertama adalah kekerabatan dan yang kedua adalah religi, kedua nilai prioritas ini menjadi ciri dan identitas bersama orang Batak (Harahap, 1940). Nilai religi mencakup kehidupan keagamaan yang kemudian mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta yang posisinya berada lebih rendah dibandingkan dengan nilai kekerabatan atau keakraban pada masyarakat batak (Situmeang, 2007).

Tingkat spiritualitas yang berhubungan dengan Tuhan rendah disebabkan oleh sebagian besar lansia jarang membaca kitab suci/buku-buku rohani yaitu 27 orang (65.9%), dan juga jarang bernyanyi lagu-lagu rohani setelah kematian suami/istrinya yaitu 22 orang (53.7%), dan masih banyak juga para lansia yang jarang mengikuti kegiatan kelompok-kelompok keagamaan di lingkungannya yaitu 24 orang (58.5%). Peneliti berasumsi bahwa para lansia pada penelitian ini umumnya memiliki keterbatasan kemampuan dalam membaca dan menulis karena

memang sebagian besar lansia memiliki pendidikan yang rendah yaitu SD sebanyak 28 orang (68.3%), ditambah lagi dengan penurunan penglihatan yang dialami lansia yang mempersulit lansia dalam melakukan ritual ibadah seperti membaca kitab suci yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Penuruan kesehatan fisik para lansia seperti penurunan penglihatan pada umumnya, sehingga menyebabkan para lansia ini tidak mampu melihat ataupun membaca dengan baik, dan kurang aktif dalam kegiatan sosial. Hal ini didukung oleh pernyataan Hardywinoto dan Setiabudhi (2012), dimana kondisi fisik lansia akan mengalami perubahan yang tidak dapat dihindari, perubahan akan terlihat pada jaringan dan organ tubuh, seperti kulit berkeriput, penglihatan semakin menurun, pendengaran juga berkurang, tulang keropos dan mudah patah, otot jantung bekerja tidak efisien, dan otak menyusut sehingga reaksi menjadi lambat. Perubahan-perubahan tersebut mengarah pada kemunduran psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial lansia.

Hasil diatas juga didukung dengan pernyataan Setijani dan Tri (1998 dalam Agus & Novia, 2008) menyatakan bahwa masalah umum yang dihadapi para lansia dalam beribadah biasanya dikarenakan keadaan kesehatan yang mulai menurun, sehingga pada umumnya kesempatan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan ibadat di masyarakat (pengajian, misa gereja, dll) serta kegiatan-kegiatan ibadah secara pribadi ( Sholat untuk yang beragam islam, bernyanyi, membaca Kitab Suci) mulai berkurang juga. Lansia yang pengetahuan dan pendalaman tentang agama yang diyakininya kurang mendalam, maka mereka tidak akan dapat melakukan kegiatan ibadah dengan baik.

Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui bahwa 17 orang responden (41.5%) memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan Tuhan tinggi. Kebutuhan spiritualitas yang berhubungan dengan Tuhan dapat diwujudkan dengan doa dan ritual agama. Doa dan ritual agama merupakan hal yang penting bagi setiap individu dan dapat memberikan ketenangan pada individu yang melakukannya (Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995).

2.1.2 Dimensi spiritualitas: hubungan dengan diri sendiri pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa 27 orang responden (65.9%) memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan diri sendiri yang tinggi. Hal ini menujukkan bahwa para lansia Suku Batak yang telah kehilangan pasangan hidupnya tetap mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, juga masih memiliki harapan karena didukung juga oleh para keluarga lansia tersebut. Hasil ini juga didukung oleh pernyataan Potter & Perry (2005), bahwa orang tua atau lansia sering mengarah pada hubungan yang penting dan menyediakan diri mereka bagi orang lain sebagai tugas spiritual, sejalan dengan makin dewasanya seseorang mereka sering introspeksi untuk memperkaya nilai yang telah lama dianutnya. Kesehatan spiritualitas yang sehat pada lansia adalah sesuatu yang memberikan kedamaian dan penerimaan tentang diri sendiri. Hasil penelitian ini juga didukung dengan tuntunan nilai Budaya Batak bahwa lansia Suku Batak menyadari bahwa waktunya hidup didunia sudah tidak lama lagi sehingga para lansia ini akan mengusahakan hidupnya sendiri dengan berbuat baik dan benar kepada keluarga maupun semua orang yang dikenalnya (Situmeang, 2007).

Berdasarkan hasil penelitian juga ditemukan sebanyak 14 orang (34.1%) lansia yang memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan diri sendiri yang rendah. Ketika seorang individu tidak mempunyai hubungan yang baik dengan dirinya sendiri seperti kepercayaan, makna kehidupan, khusunya harapan maka individu tersebut akan merasa hampa, letih/lesu, tidak bersemangat, dan terasa mati (Kozier, et all (1995). Hubungan yang rendah dengan diri sendiri juga bisa terjadi ketika para lansia ini tidak mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri yang sebelumnya dilakukan oleh pasangan hidupnya, seperti yang didukung oleh pernyataan Young dan Koopsen (2007) bahwa seorang janda/duda akan mengalami pergantian peran yang sebelumnya dikuasai oleh pasangannya, juga di dukung oleh Suardiman (2011) yang menyatakan bahwa laki-laki yang sudah duda akan mengalami kesulitan dalam hal hubungan sosial, tugas rumah tangga, dan merasa kurang bebas mengekspresikan emosinya.

2.1.3 Dimensi spiritualitas: hubungan dengan orang lain pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden sebanyak 31 orang (75.6%) memiliki dimensi spiritualitas: hubungan dengan orang lain yang tinggi. Persahabatan adalah hubungan yang dimiliki seseorang dengan orang lain, termasuk keluarga, teman akrab, rekan ditempat kerja, amggota komunitas masyarakat, dan lingkungan tetangga. Persahabatan mencakup komunitas yang mempunyai kepercayaan yang sama dan menciptakan ikatan yang kuat dengan orang lain sehingga menjadi sumber harapan bagi individu tersebut (Farran, et al, 1989 dalam Potter & Perry 2005). Hubungan yang harmonis dengan orang lain

seperti cinta kasih, dukungan sosial, perhatian pada anak-anak/orang sakit, menunjungi orang yang meninggal, dapat memberikan hubungan yang positif dan memberikan bantuan dan dukungan terhadap masalah yang dihadapi seseorang (Kozier, et all, 1995).

Hasil penelitian ini juga didukung dengan orientasi nilai Budaya Batak yang memiliki hubungan dengan intensitas yang tinggi terhadap sesamanya. Kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat membuat kadar partisipasi yang kuat untuk senantiasa terlibat dalam setiap aktivitas hubungan antar manusia, dan apabila ada salah seorang anggota masyarakat yang berduka maka para masyarakat akan melakukan hak dan kewajibannya pada orang tersebut, khususnya bagi para lansia yang sudah janda ataupun duda akan dirawat dengan baik oleh keluarganya (Harahap, 1940). Hal ini juga sesuai dengan nilai Budaya Batak yaitu masyarakat Suku Batak akan melakukan penghiburan kepada orang yang sedang berduka termasuk para lansia yang kehilangan pasangan hidupnya untuk melakukan penghiburan dan memberikan kata-kata nasihat kepada yang berduka agar lebih berserah kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan (Sinaga, 2010).

2.1.4 Dimensi spiritualitas: hubungan dengan lingkungan/alam pada lansia Suku Batak akibat kehilangan pasangan hidup

Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa sebanyak 32 responden (78%) memiliki hubungan yang tinggi dengan lingkungan/alam. Hubungan dengan alam/lingkungan meliputi mengetahui tentang tanaman, rekreasi (menonton TV, mendengar musik, berolah raga,dll), dan kedamaian akan membuat seseorang

dapat menyelaraskan hubungan antara jasmani dan rohani sehingga timbul perasaan kesenangan dan kepuasan dalam kebutuhan spiritualnya (Puchalski, 2004), hal ini terlihat dari hasil penelitian mayoritas lansia 21 orang (51.2%) sangat sering bercocok tanam walaupun telah kematian pasangan hidup. Sebagian lansia sering berjalan-jalan saat tidak memiliki kegiatan yaitu 23 orang (56.1%), dan terdapat 19 orang (46.3%) sering menonton TV ataupun mendengarkan musik di rumah jika merasa sendiri.

Hasil penelitian ini juga didukung dengan orientasi nilai Budaya Batak yang mengatur hakekat hubungan manusia dengan alam yang pada awalnya membangun suatu perkampungan atau desa yang disebut dengan huta sehingga memiliki hubungan yang akrab dengan alam, karena alam dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Harahap, 1940), hal ini didukung dengan hasil penelitian bahwa mayoritas pekerjaan responden sebanyak 35 orang (85.4%) adalah sebagai seorang petani.

BAB 6

Dokumen terkait