Bab V Fondasi Keberhasilan Pendidikan
5.2. Jam pelajaran
5.2.2. Kehilangan jam pelajaran di Indonesia: ketidakhadiran,
Dalam dua minggu sebelum pelaksaan PISA, 20% siswa Indonesia menyatakan pernah membolos sekolah setidaknya satu hari; 25% siswa pernah membolos kelas sekurang-kurangnya sekali; dan 49% pernah tiba terlambat di sekolah sekurang-sekurang-kurangnya sekali; dan 12% siswa melakukan ketiganya, baik membolos sekolah, bolos kelas, maupun tiba terlambat. Perilaku membolos berdampak pada prestasi akademik karena mengurangi jam belajar siswa. Hal ini terbukti oleh kemampuan membaca siswa yang membolos sekolah lebih rendah 33 poin (t(11.781)=8,6, p< 0,01) dibandingkan dengan siswa yang tidak membolos. Perbedaan nilai kemampuan ini setara dengan satu tahun akademik. Begitu pula kemampuan membaca siswa yang membolos kelas lebih rendah 20 poin (t(11.753)=6,1, p< 0,01) dibandingkan dengan siswa yang tidak membolos, setara dengan lebih dari satu semester akademik. Berbeda dengan membolos, siswa yang terlambat tiba di sekolah memiliki kompetensi membaca yang tidak berbeda (t(11.730)=1, p=0,3) dengan siswa yang tidak terlambat. Besarnya perbedaan kemampuan membaca antara siswa yang membolos sekolah dan membolos kelas dengan siswa yang selalu masuk kelas membuktikan bahwa perilaku membolos merupakan masalah serius yang perlu mendapat penanganan para pemangku kepentingan.
Sebanyak 27% sekolah di Indonesia melaporkan mengalami mengalami kendala proses belajar mengajar karena siswa membolos sekolah; 20% karena siswa membolos kelas; dan 9% karena ketidakhadiran guru. Sekitar 5% sekolah di Indonesia melaporkan kendala proses belajar mengajarnya karena mengalami ketiga hal tersebut.
158
Sekitar 11% kepala sekolah kurang peka terhadap masalah membolos sekolah, dan sekitar 7% kepala sekolah kurang peka terhadap masalah membolos kelas yang terjadi di sekolahnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang melaporkan membolos sekolah atau membolos kelas tetapi kepala sekolah merasa hal tersebut bukan masalah yang mengganggu proses belajar mengajar.
Gambar 5.7 menunjukkan karakter siswa yang rentan membolos sekolah, membolos kelas, dan terlambat. Perilaku membolos sekolah cenderung dilakukan oleh siswa SMP, sekolah swasta, laki-laki, berstatus sosial ekonomi rendah, sering dirundung, memiliki kepuasan hidup rendah, dan memiliki indeks rasa-memiliki rendah. Secara bersama-sama, faktor-faktor tersebut meningkatkan kemungkinan siswa membolos sebesar 66%. Sebaliknya, siswa dengan karakteristik siswa SMA, sekolah negeri, perempuan, berstatus sosial ekonomi tinggi, jarang dirundung, memiliki kepuasan hidup tinggi, dan memiliki indeks rasa-memiliki tinggi hanya berkemungkinan 6% untuk membolos.
Karakteristik siswa yang memiliki kemungkinan membolos kelas tinggi hampir sama dengan karakteristik siswa yang suka membolos sekolah, kecuali dalam hal indeks sosial ekonomi. Indeks sosial ekonomi berpengaruh terbalik antara perilaku membolos sekolah dan membolos kelas. Siswa berlatar belakang sosial ekonomi tinggi memiliki kemungkinan membolos kelas lebih tinggi dibandingkan dengan siswa berlatar belakang sosial ekonomi rendah. Secara bersama-sama, karakteristik yang meningkatkan kemungkinan siswa membolos kelas adalah siswa laki-laki, berlatar belakang sosial ekonomi mampu, duduk di jenjang SMP, sekolah swasta, sering mengalami perundungan, memiliki kepuasan hidup rendah, dan memiliki indeks rasa-memiliki rendah. Kemungkinan membolos siswa dengan karakteristik seperti ini adalah 55%. Siswa dengan karakteristik sebaliknya berkemungkinan membolos kelas 9%.
Faktor perundungan dan indeks rasa-memiliki merupakan faktor penting yang mempengaruhi perilaku membolos. Siswa yang mengalami perundungan dan memiliki indeks rasa-memiliki rendah berkemungkinan membolos sekolah 33% dan membolos kelas 41%. Sebaliknya, siswa yang tidak mengalami perundungan dan memiliki indeks rasa-memiliki tinggi hanya berkemungkinan membolos sekolah 11% dan membolos kelas 16%.
Perundungan, tingkat kepuasan hidup, jenis sekolah, gender, dan jenjang pendidikan merupakan faktor pendorong kemungkinan siswa terlambat ke sekolah. Siswa dengan karakteristik tertentu dalam faktor-faktor ini memiliki kemungkinan sering terlambat tiba di sekolah 77%, sedangkan siswa dengan karakteristik yang bertentangan dengan ini hanya berkemungkinan 34% sering terlambat tiba di sekolah.
Gambar 5.7 menampilkan hubungan antara faktor-faktor karakteristik siswa dengan perilaku membolos sekolah, membolos kelas, dan terlambat tiba di sekolah. Hubungan tersebut tidak bersifat kausalitas sebab sering kali perilaku membolos dan kebiasaan terlambat merupakan gejala dari isu lain dan berasal dari lingkungan di luar sekolah. Meski demikian, pemangku
159
kepentingan atau pihak sekolah dapat mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam meningkatkan kewaspadaan mengenai fenomena siswa membolos atau terlambat.
Membolos sekolah, membolos kelas, atau terlambat tiba di sekolah merupakan perilaku yang tampaknya lebih terpusat pada tipe-tipe sekolah tertentu. Ada 15% sekolah di Indonesia yang persentase siswa usia 15 tahun membolos sekolahnya lebih dari 50%. Jumlah siswa usia 15 tahun di 15% sekolah ini setara 6% populasi PISA di Indonesia. Ada 65% populasi PISA di Indonesia yang mengenyam pendidikan di sekolah dengan persentase siswa terlambat lebih dari 50%. Selain itu, terdapat sekitar 8% siswa Indonesia mengenyam pendidikan di sekolah yang memiliki permasalahan ketidakhadiran guru.
Di mayoritas negara peserta PISA 2018, membolos sekolah seharian lebih umum ditemukan di sekolah-sekolah kurang mampu. Tingkat siswa membolos sekolah seharian sama antara sekolah di desa dan di kota. Sementara siswa sekolah negeri berkemungkinan lebih besar membolos sekolah dibandingkan dengan siswa sekolah swasta.
Kemungkinan membolos sekolah
160
Kemungkinan terlambat sekolah
Di Indonesia, karakter sekolah dengan rata-rata siswa membolos sekolah tinggi ditunjukkan pada gambar 5.8. Sekolah swasta umum yang memiliki siswa dengan rasa-memiliki sekolah rendah memiliki kemungkinan membolos 69%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah madrasah negeri yang memiliki siswa dengan rasa-memiliki sekolah tinggi, yang tingkat kemungkinan membolosnya hanya 1%. Hal ini karena biasanya sekolah swasta umum adalah sekolah pilihan kedua bagi siswa maupun bagi wali siswa setelah tidak dapat tempat di sekolah negeri
Sekolah dengan rata-rata indeks rasa-memiliki rendah siswa-siswanya lebih cenderung membolos kelas, sebesar 27%. Dalam hal ketidakhadiran guru, sekolah swasta memiliki kemungkinan lebih besar, 16%, dibandingkan di sekolah negeri yang hanya 3%.
Gambar 5.7. Karakter siswa Indonesia yang rentan untuk membolos sekolah, membolos kelas, dan terlambat masuk sekolahkelas, dan terlambat masuk sekolah
161
Gambar 5.8. Karakteristik demografi sekolah dengan tingkat membolos sekolah pada siswatinggi