• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV Fondasi Keberhasilan Pendidikan di Indonesia:

4.1. Investasi sumber daya Pendidikan di Indonesia

4.1.3. Keterkaitan antara sumber daya pengajaran dan SDM

Penelitian Murillo and Román (2011) dan Willms and Somer (2001) berdasarkan data Latin American Laboratory for Assessment of the Quality of Education (LLECE) menunjukkan bahwa sumber daya sekolah memiliki dampak mendasar di negara-negara berpendapatan menengah dan rendah, bahkan setelah mempertimbangkan karakteristik sosial ekonomi siswa.

PISA bertanya kepada para kepala sekolah mengenai kondisi sumber daya yang ada di sekolah dan sejauh mana sumber daya tersebut berdampak kepada kegiatan belajar mengajar. Sumber daya dimaksud adalah yang terkait dengan sumber daya manusia dan sumber daya pengajaran.

Pertanyaan tentang sumber daya manusia adalah bagaimana kuantitas dan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah bersangkutan. Sementara yang terkait sumber daya pengajaran adalah bagaimana kuantitas dan kualitas materi bahan ajar dan infrastruktur di lingkungan sekolah.

Berdasarkan informasi kepala sekolah, OECD membuat indeks sumber daya manusia (STAFFSHORT), dan sumber daya pengajaran (EDUSHORT). Untuk meningkatkan keterbacaan, kedua indeks dikonversi ke dalam nilai 0–10, dengan 5 sebagai nilai tengah. Nilai tinggi mengindikasikan sekolah mempunyai cukup sumber daya. Untuk Indonesia, rata-rata SDM untuk sekolah adalah 6 dan rata-rata sumber daya pengajaran sekolah adalah 4. Hal ini menunjukkan sekolah-sekolah di Indonesia relatif memiliki SDM yang cukup, tetapi kekurangan dalam sumber daya pengajaran.

Gambar 4.4 menunjukkan pengelompokan jawaban kepala sekolah berdasarkan indeks sumber daya manusia dan indeks sumber daya pengajaran. Nilai indeks kurang dari 3 mengindikasikan sekolah sangat kekurangan sumber daya; nilai indeks antara 3–4 berarti sekolah kekurangan sumber daya, nilai indeks 4–6 mengindikasikan sekolah memiliki cukup sumber daya; nilai indeks 6–7 berarti sekolah memiliki sumber daya yang tinggi; dan nilai indeks di atas 7 mengindikasikan penguasaan sumber daya yang sangat tinggi.

121

Gambar 4.4. Persentase ketersediaan sumber daya sekolah

Sumber: Database PISA 2018

Sebanyak 8% sekolah mempunyai SDM sangat rendah dan 34% sekolah mempunyai sumber daya pengajaran sangat rendah. Ada 20% sekolah memiliki SDM sangat tinggi dan 12% sekolah memiliki sumber daya pengajaran sangat tinggi. Sekolah yang mengalami kekurangan SDM dan sumber daya pengajaran sekaligus sebanyak 11%.

Analisis korelasi antara indeks ketersediaan SDM dan indeks ketersediaan sumber daya pengajaran tersebut menunjukkan korelasi positif (r(347)=0,4, p<0,01). Itu berarti ada hubungan erat antara tingkat ketersediaan SDM dengan tingkat ketersediaan sumber daya pengajaran. Rata-rata status sosial ekonomi siswa juga berkontribusi positif terhadap indeks SDM dan sumber daya pengajaran. Kontribusi rata-rata status sosial ekonomi siswa terhadap nilai indeks SDM sebanyak 6% dan terhadap nilai indeks sumber daya pengajaran sebesar 7%. Bersama-sama dengan faktor status kepemilikan sekolah (negeri/swasta), jenjang pendidikan, dan lokasi sekolah, status sosial ekonomi berkontribusi 14% terhadap indeks SDM dan 13% terhadap indeks sumber daya pengajaran.

Untuk keperluan perbandingan nilai indeks SDM dan sumber daya pengajaran antarputaran PISA, digunakan nilai indeks orisinal dari OECD dengan arah nilai yang dibalik. Sehingga, nilai

122

rendah mengindikasikan kekurangan sumber daya dan nilai tinggi mengindikasikan kelebihan sumber daya.

Dalam 18 tahun terakhir, sumber daya sekolah di Indonesia mengalami fluktuasi. Secara umum indeks SDM tenaga pendidik di Indonesia meningkat perlahan dari putaran pertama PISA hingga PISA 2015, lalu menurunan cukup drastis pada PISA 2018. Nilai tertinggi indeks SDM Indonesia adalah 0,02 pada PISA 2015. Sedangkan tren sumber daya pengajaran Indonesia cukup fluktuatif, meningkat cukup tajam dari putaran PISA 2000 hingga PISA 2006, dengan rata-rata 1,9, menurun pada PISA 2009 hingga PISA 2015, dan stagnan pada PISA 2018. Fluktuasi ini dapat dilihat pada Gambar 4.5.

PISA juga menanyakan jumlah sumber daya teknologi informasi komunikasi (TIK) yang tersedia khusus untuk pengajaran. Berdasarkan informasi dari kepala sekolah, PISA menyusun faktor skor mengenai dukungan infrastruktur TIK dalam proses pembelajaran dan dukungan peningkatan kemampuan TIK untuk guru yang dikonversi ke dalam skala 0–10, dengan nilai 5 sebagai median. Nilai rendah merupakan indikasi kekurangan dukungan infrastruktur TIK untuk proses pembelajaran dan peningkatan kemampuan TIK guru. Rata-rata skor Indonesia adalah 6 (SD=2,6) untuk kedua ukuran ini.

Gambar 4.6 menunjukkan persentase dukungan infrastruktur TIK dan dukungan peningkatan kemampuan TIK guru. Tampak sekitar 18% sekolah di Indonesia kekurangan dukungan

123

Gambar 4.6. Persentase ketersediaan sumber daya TIK untuk mendukung proses

pembelajaran di sekolah

infrastruktur TIK untuk pembelajaran, dan 20% kekurangan dukungan peningkatan kemampuan TIK untuk guru.

Sebesar 51% sekolah di Indonesia memberikan dukungan infrastruktur TIK untuk kegiatan belajar mengajar. Sebanyak 43% sekolah masuk dalam kategori tinggi dan sangat tinggi dalam memberikan dukungan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan TIK. Terdapat sekitar 13% sekolah yang kurang memberikan dukungan infrastruktur TIK dan dukungan peningkatan kemampuan TIK untuk guru-gurunya.

Sebanyak 12% sekolah mempunyai sumber daya pengajar dengan karakteristik kurang menguasai perangkat TIK sekaligus tidak memiliki waktu untuk menyiapkan bahan pembelajaran yang terintegrasi dengan TIK; 5% sekolah memiliki guru yang menguasai TIK tetapi tidak punya cukup waktu untuk mengaplikasikan kemampuan mereka di dalam proses belajar mengajar.

PISA juga menanyakan kepada para kepala sekolah, apakah mereka menawarkan pelajaran tambahan, seperti pelajaran remedial atau pengayaan pelajaran Bahasa Indonesia. Hanya 22% sekolah yang menawarkan pelajaran tambahan Bahasa Indonesia kepada para siswanya; 12% sekolah memberikan pelajaran tambahan tersebut dengan tujuan remedial dan pengayaan. Sekolah swasta lebih banyak memberikan pelajaran tambahan (15%) dibandingkan dengan sekolah negeri (7%). Sebanyak 16% sekolah yang menawarkan pelajaran tambahan adalah

124

sekolah dari jenjang SMP/sederajat (SMP dan MTs). Berdasarkan lokasi, sekolah-sekolah yang menawarkan pelajaran tambahan sebanyak 11% ada di daerah pedesaan, 8% di kota kecamatan, dan selebihnya adalah sekolah yang berlokasi di kota kabupaten, ibu kota provinsi, dan kota besar.