Bab V Fondasi Keberhasilan Pendidikan
5.4. Lingkungan belajar yang lebih luas: keluarga
Bagi anak-anak, beberapa hubungan dalam kehidupan mereka memiliki arti penting dan terasa abadi seperti hubungan mereka dengan orang tua atau orang dewasa yang mengasuhnya. Sifat dan jangkauan dukungan keluarga dan masyarakat di berbagai negara-berbeda-beda; namun keluarga –baik keluarga kecil, keluarga inti, maupun keluarga besar– selalu menjadi unit sosial pertama tempat anak-anak belajar dan berkembang. Selain itu, meski pengasuhan anak yang baik bisa berbeda-beda wujudnya dan dibentuk oleh beragam pengaruh sosial dan budaya, namun di dalamnya pasti ada pemberian dukungan, perhatian, kasih sayang, bimbingan, dan perlindungan bagi anak yang menentukan kondisi-kondisi bagi perkembangan fisik, mental, dan sosial yang sehat.
Kuesioner PISA 2018 meminta para kepala sekolah untuk menjawab mengenai berapa banyak orang tua yang turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sekolah seperti membahas kemajuan anak atau berpartisipasi dalam organisasi sekolah (wakil orang tua atau komite sekolah). Kotak 5.3 merinci pengukuran dukungan keluarga dan masyarakat yang digunakan di dalam laporan ini.
Kotak 5.3. Pengukuran partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah
yang digunakan dalam laporan ini
PISA meminta para kepala sekolah untuk menjawab berapa proporsi dalam persentase, orang tua siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sekolah berikut ini:
• Pembahasan kemajuan anak mereka dengan guru atas inisiatif orang tua. • Pembahasan kemajuan anak mereka atas prakarsa salah satu guru anak
171
• Berpartisipasi dalam organisasi sekolah, misalnya wakil orang tua atau komite sekolah.
• Menjadi relawan untuk aktivitas fisik atau ekstra kurikuler, misalnya pemeliharaan gedung, peralatan meja dan kursi, pemeliharaan kebun, drama sekolah, olah raga, kunjungan lapangan.
Keempat pertanyaan tersebut digabungkan ke dalam sebuah indeks partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah. Nilai nol pada indeks artinya kepala sekolah memilih “nol persen” untuk keempat pertanyaan, dan nilai 100 artinya kepala sekolah memilih “100 persen” untuk keempat pertanyaan.
5.4.1. Penelitian mengenai dampak dukungan keluarga dan masyarakat
Literatur menyatakan adanya hubungan positif antara beragam kegiatan orang tua di rumah dan di sekolah terkait pendidikan anak dengan prestasi pendidikan anak. Hubungan positif ini selalu ada dalam berbagai disiplin, kelompok etnis berbeda-beda, gender, dan berbagai masa (Bogenschneider, 1997; Catsambis, 2001; Fan & Williams, 2010; Kaplan Toren & Seginer, 2015; Keith et al., 1998; Shumow & Lomax, 2002). Bentuk keterlibatan orang tua yang paling efektif adalah peran orang tua sesuai usia anak. Setelah anak beranjak remaja, biasanya peran tersebut tidak melibatkan bantuan atau perintah langsung, melainkan lebih bergantung pada keteladanan perilaku positif, seperti pantang menyerah saat menghadapi kesulitan, dan perhatian yang secara khusus ditunjukkan melalui obrolan terkait minat orang tua terhadap belajar anak.
Data PISA 2015 juga menunjukkan bahwa kegiatan orang tua yang secara umum menunjukkan karakteristik lingkungan keluarga yang peduli dan secara khusus ”menghabiskan waktu untuk sekadar mengobrol” dan “makan bersama” dengan anak memiliki keterkaitan positif dengan prestasi akademik danberbagai area lain dalam kehidupan anak, seperti kepuasan atas hidup mereka (OECD, 2017).
Keterlibatan orang tua memberikan dukungan tambahan kepada belajar anak dapat mengantarkan tanggung jawab lebih besar kepada sistem pendidikan. Dalam praktiknya, sejauh mana keterlibatan orang tua memberikan hasil positif masih diperdebatkan (Banerjee et al., 2010). Dalam beberapa kasus, inisiatif akuntabilitas yang meningkatkan keterlibatan orang tua di sekolah tampak menjadi pengarah dampak sumber daya sekolah. Misalnya keberadaan orang tua di dalam dewan sekolah dapat memastikan sumber daya sekolah lebih dipergunakan untuk kepentingan anak-anak daripada untuk kepentingan pegawai sekolah (Duflo, Dupas & Kremer, 2015). Namun, di banyak kasus, inisiatif pemantauan oleh anggota masyarakat yang meningkatkan informasi mengenai kualitas layanan yang diberikan oleh
172
sekolah, sepertimis. ketidakhadiran guru, tidak menghasilkan perbaikan yang berarti (Glewwe & Muralidharan, 2016) .
5.4.2. Keterlibatan orang tua di sekolah
Rata-rata tingkat partisipasi orang tua siswa dalam kegiatan sekolah di Indonesia adalah 49%. Sekitar 37% kepala sekolah menyatakan lebih dari separuh orang tua wali berpartisipasi dalam kegiatan siswa. Sekitar 1 dari 3 siswa usia 15 tahun di Indonesia menuntut ilmu di sekolah dengan angka parsitipasi orang tua siswa lebih dari 50%. Kepala sekolah juga menginformasikan, rata-rata 41% orang tua siswa di Indonesia berinisiatif membahas kemajuan pendidikan anaknya dengan guru. Satu dari 3 siswa berusia 15 tahun belajar di 40% sekolah, yang kepala sekolahnya melaporkan mayoritas orang tua membahas kemajuan anak dengan guru atas inisiatif mereka sendiri.
Gambar 5.12 menunjukkan persentase siswa di sekolah yang memiliki persentase keterlibatan dukungan orang tua lebih dari 50%. Lebih dari 30% siswa usia 15 tahun di Indonesia bersekolah di sekolah dengan dukungan tinggi orang tua. Dukungan tinggi orang tua tersebut berupa salah satu dari tiga bentuk partisipasi, yaitu terlibat dalam organisasi sekolah; membahas perkembangan belajar atas inisiatif orang tua; membahas perkembangan belajar atas inisiatif guru; atau menjadi relawan pada kegiatan sekolah. Sebanyak 20% siswa bersekolah di sekolah yang keterlibatan orang tuanya tinggi dalam tiga bentuk partisipasi. Hanya 12% siswa Indonesia yang bersekolah di sekolah dengan tingkat partisipasi orang tua sebagai relawan kegiatan sekolah di atas 50%.
173
Gambar 5.13 Peran serta orang tua dalam perkembangan pendidikan di IndonesiaGambar 5.13 menunjukkan peran serta orang tua dalam perkembangan pendidikan di Indonesia berdasarkan karakteristik sekolah. Tampak bahwa sekolah-sekolah di kota besar dan desa, sekolah negeri, serta sekolah dengan siswa bersosial ekonomi berada di kategori 25–50% terendah memiliki partisipasi wali siswa rendah dan insiatif orang tua yang rendah pula untuk menanyakan perkembangan belajar anaknya kepada guru. Sekolah-sekolah di ibu kota provinsi memiliki persentase tinggi dalam partisipasi wali siswa dalam organisasi sekolah dan insiatif orang tua dalam memantau perkembangan belajar anaknya.
Jarak poin partisipasi wali siswa dan inisiatif orang tua di sekolah negeri dan sekolah swasta relatif dekat menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara dua kelompok karakteristik sekolah. Demikian pula tidak terdapat perbedaan signifikan antara sekolah berdasarkan jenjang pendidikan. Perbedaan signifikan terjadi antara sekolah berdasarkan lokasinya. Perbedaan tingkat partisipasi wali siswa antara sekolah di desa, kota kecamatan, kota kabupaten, ibu kota provinsi, dan kota besar memiliki nilai F(4,294)=2,5 (p<0,05). Demikian dalam hal inisiatif orang tua, nilai F(4,300)=2,5 (p< 0,05).
Selain itu terdapat perbedaan signifikan terkait dengan partisipasi orang tua dalam organisasi sekolah dan insiatif orang tua memantau perkembangan belajar anaknya, dengan nilai F(3,294)=3,6 (p<0,05) untuk partisipasi orang tua dalam organisasi sekolah dan nilai F=7,9, (p< 0,01) untuk inisiatif orang tua membahas kemajuan belajar.
174
Selain dukungan orang tua terkait dengan peran aktif dalam organisasi sekolah dan inisiatif dalam memantau perkembangan belajar anak, PISA juga menanyakan dukungan emosional yang diberikan orang tua. OECD menyajikanya dalam bentuk skala dukungan emosional (EMOSUPS). Untuk memudahkan keterbacaan, skala dukungan emosional tersebut dikonversi ke dalam nilai 0–10. Nilai rendah mengindikasikan persepsi siswa akan rendahnya dukungan emosional dari orang tua; nilai tinggi mengindikasikan persepsi siswa akan tingginya dukungan emosional dari orang tua; dan nilai 5 sebagai nilai tengah. Rata-rata dukungan emosional untuk Indonesia adalah 7 (SD=2,9), artinya siswa Indonesia berumur 15 tahun relatif merasa bahwa mereka memiliki dukungan emosional yang bagus dari orang tua.
Berdasarkan jenis kelamin (laki-laki atau perempuan) dan bahasa sehari-hari (bahasa nasional atau bahasa daerah), jenjang pendidikan, dan lokasi sekolah, perbedaan indeks dukungan emosional sangat kecil, sekitar 0 hingga 0,5. Kenaikan satu tingkat dalam indek sosial ekonomi setara dengan kenaikan 0,1 poin dukungan emosional orang tua. Nilai ini sangat kecil meski secara statistik signifikan. Keterkaitan dukungan orang tua dengan prestasi siswa memiliki hubungan yang lemah, bahkan ketika indeks sosial ekonomi siswa dan sekolah menjadi pertimbangan.
Meski berpartisipasi dalam kegiatan sekolah merupakan hal yang sulit sekaligus menghabiskan waktu bagi para pegawai sekolah dan orang tua, terkadang melibatkan orang tua adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah perilaku yang serius di sekolah. Keterlibatan orang tua yang bersifat konstruktif dapat menciptakan lingkungan positif bagi belajar siswa (Avvisati et al., 2014; Hill & Taylor, 2004; McNeal, 1999). Beberapa studi juga berpendapat bahwa rendahnya keterlibatan orang tua mencerminkan kepercayaan orang tua terhadap guru (Addi-Raccah & Arviv-Elyashiv, 2008), atau merupakan model organisasi sekolah berdasarkan pemahaman bahwa guru mengendalikan proses pengajaran dan orang tua memberikan dukungan atau sekadar menyerahkan tanggung jawab akademik mereka (Bauch & Goldring, 1998).