BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA
F. Alur Pelayanan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan
Gambar 3. 3
Standar Operasional Prosedur Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan
Anak Kabupaten Bekasi
Sumber: Arsip data DP3A Kabupaten Bekasi 2021 Penelepon menghubungi Call Centre Tesa Kabupaten Bekasi.
57
Operator Call Centre Tesa menerima telepon dan mengidentifikasi data, masalah dan kategori layanan.
Konselor TESA menindaklanjuti sesuai masalah dan kategori layanan.
a. Apabila jenis layanan berupa permintaan informasi maka konselor memberikan informasi sesuai dengan informasi yang tersedia di DP3A Kabupaten Bekasi.
b. Apabila masalah dianggap krisis maka konselor melakukan komunikasi yang empatik (konseling dasar) sampai penelpon tenang.
Selanjutnya memberikan rujukan untuk mendapatkan konseling lanjutan dan penanganan yang lain.
c. Apabila jenis layanan berupa pengaduan konselor melakukan identifikasi, mencatat dan memberikan rujukan proses selanjutnya.
58
DP3A menindaklanjuti sesuai hasil identifikasi dan memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
a. Layanan Psikologis yang dilakukan oleh Psikolog.
b. Layanan Medis olen tenaga kesehatan atau dokter.
c. Layanan Hukum oleh ahli hukum.
d. Mendampingi korban apabila melakukan pelaporan ke PPA Polres.
DP3A melakukan pencatatan dan pelaporan.
Selain melaporkan kasus kekerasan terhadap anak melalu TESA (Telepon Sahabat Anak), pelaporan kasus kekerasan anak bisa dilakukan secara langsung dengan mendatangi tempat-tempat yang telah disediakan seperti PPA Desa, P2TP2A Tingkat Kecamatan maupun datang langsung ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
masyarakat bisa memilih tempat untuk melaporkan terkait kasus kekerasan anak ditempat-tempat yang berjarakat tidak jauh dari tempat tinggal.
59
BAB IV
DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Pada bab ini peneliti akan memaparkan data dan temuan yang telah peneliti kumpulkan melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Dari data dan temuan yang diperoleh maka peneliti mengelompokkan temuan berdasarkan dengan rumusan masalah peneliti yang berkaitan dengan Peran Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam melakukan penanganan kasus kekerasan anak di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan data dan temuan maka peneliti akan memaparkan hasil temuan sebagai berikut:
A. Peran Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bekasi
Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan salah satu instansi pemerintahan Kabupaten Bekasi. Kegiatan yang dilakukan salah satunya adalah memberikan pendampingan serta perlindungan bagi anak yang menjadi korban dari tindakan kekerasan, yang bertujuan untuk memberikan hak pada anak perihal keselamatan dan keamanan. Dengan demikian dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memiliki peranan yang penting dalam menjalankan
60
peranannya di masyarakat. Seperti halnya dengan yang disampaikan oleh Ibu Hj Titin sebagai berikut:
“Melakukan sosialisasi dan advokasi terkait pencegahan, pendampingan dan penanganan kekerasan terhadap anak. membentuk lembaga-lembaga terkait pencegahan, pendampingan dan penanganan kekerasan terhadap anak seperti TESA, KPAD, layanan PPA, P2TP2A, satgas PPA dan UPTD PPA.”(Ibu Hj. Titin, 30 Maret 2021).
Pernyataan yang samapun di sampaikan oleh Ibu Hj.
Ranilsah sebagai berikut:
“Peranan yang kami lakukan dalam melakukan penanganan kekerasan anak salah satunya membentuk satgas penanganan kekerasan anak yang bertugas langsung dari proses penerimaan laporan, penanganan sampai penyelesaian. Terus membentuk P2TP2A tingkat Kecamatan sama Satgas PPA tingkat Desa tujuannya supaya masyarakat yang lokasinya jauh dari pemda Kabupaten Bekasi terus ingin melapor bisa dilakukan melalui pihak Desa maupun Kecamatan”.(Ibu Hj. Ranilsah, 30 Maret 2021).
Dari pemaparan yang telah disampaikan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa peranan yang dilakukan dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak telah menjalankan peranannya di
61
masyarakat sebagaimana semestinya. Seperti yang peneliti paparkan dari hasil temuan wawancara di atas bahwa dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak telah menjalankan peranannya seperti halnya dalam melakukan pencegahan kekerasan terhadap anak dengan melakukan sosialisasi terkait bahaya yang ditimbulkan dari kekerasan anak melalui pihak-pihak satgas dilapangan melalui P2TP2A tingkat Kecamatan dan PPA tingkat Desa.
Selain sosialisasi yang dilakukan dalam upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak, dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak juga menjalankan perannya sebagai pendamping dan advokasi kepada korban dari tindakan kekerasan.
Pendampingan yang dilakukan dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sendiri berupa pendampingan dalam hal membantu menyelesaikan permasalahan dan memfasilitasi korban kekerasan yang membutuhkan penanganan psikolog, perawatan, maupun pendampingan hukum. Selain itu guna untuk mempermudah dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Bekasi dalam melakukan penanganan kasus kekerasan anak, dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak membentuk lembaga-lembaga terkait dalam tingkatan
62
Kecamatan maupun Desa seperti P2TP2A Kecamatan, PPA Desa dan TESA (Telepon Sahabat Anak) yang memiliki tujuan untuk mempermudah dalam melaporkan kasus kekerasan terhadap anak yang ada di Kabupaten Bekasi.
B. Kasus Kekerasan Anak di Kabupaten Bekasi Anak sering kali menjadi korban dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa maupun teman sebaya. Menurut data yang dikeluarkan komisi perlindungan anak daerah Kabupaten Bekasi menunjukan bahwa dalam setiap tahun kasus kekerasan anak di Kabupaten Bekasi mengalami kenaikan. Seperti halnya yang disampaikan oleh Ibu Hj. Titin sebagai berikut:
“Kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Bekasi sendiri terus mengalami peningkatan kasusnya, kenaikan kasus ini bisa dilihat di antara tahun 2018, 2019, dan 2020 yang mengalami kenaikan setiap tahunnya”.(Ibu Hj.
Titin, 30 Maret 2021).
Pernyataan yang samapun disampaikan oleh Ibu Hj.
Ranilsah sebagai berikut:
“Dari data yang kami minta, menunjukkan kalo dari tahun sebelum dengan tahun sekarang mengalami peningkatan ditambah situasi pandemi yang menyebabkan kasus kekerasan mengalami peningkatan yang signifikan”.(Ibu Hj. Ranilsah, 30 Maret 2021).
63
Dalam hal ini peneliti melakukan studi kasus terhadap dua informan yaitu orangtua yang anaknya menjadi korban dari tindakan kekerasan seksual dan fisik. Dari informasi yang di dapatkan peneliti melalui wawancara dengan orangtua korban. Ibu S menyampaikan sebagai berikut:
”Jadi kalo saya lagi pergi kerja, anak saya P di rumah sendiri biasanya si ada yang jagain kalo emng saya lagi pergi kerja gitu, cuman hari itu emng lagi engga ada yang jagain.
Posisi saya juga lagi kerja, anak saya P juga kalo main bareng-bareng gitu sama temennya yang laen jadi ya kaya biasa aja gitu. Dihari itu anak saya sama temen-temennya tuh pas lagi main dipanggil sama pelaku suruh ke dalem rumah dia. Kejadiannya tuh di rumah dia pas dipanggil sama pelaku anak saya P dipegang-pegang sama pelaku di bagian-bagian tertentu mas. Saya tau kejadian itu karna anak saya ngomong sendiri ke saya pas saya abis pulang kerja kalo dia tadi dipegang-pegang sama pelaku tetangga saya mas”.(Ibu S, 8 April 2021).
Sama halnya dengan yang disampaikan oleh dari Pak D sebagai berikut:
“Pertama saya ngeliat bekas luka gitu mas ditangan gitu, terus saya tanyain dia A kenapa awalnya ya ga mau ngomong, terus saya paksa akhirnya ngomong kalo dia sering dipukul atau cubit itu juga katanya ga sekali dua kali. Jadi istri saya tuh sering emosian kalo liat anak saya A yang katanya nakal jadi dicubit dia
64
ngelakuin itu tuh kalo saya lagi engga ada di rumah posisi saya lagi kerja. Terus anak saya A di rumah sama istri saya sering dipukul sama dicubit”.(Pak D, 5 April 2021).
Dari pemaparan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa kasus kekerasan anak yang terjadi di Kabupaten Bekasi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Meningkatnya kasus biasanya disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadi penyebab angka kekerasan mengalami peningkatan.
Kekerasan sendiri dibagi dalam beberapa jenis kasus kekerasan seperti fisik, seksual, psikis, dan ekonomi. Dalam hal ini kasus kekerasan anak yang terjadi di Kabupaten Bekasi beragam jenis kasus kekerasan anak. Seperti kekerasan fisik, seksual, penelantaran anak maupun psikis. Hal ini diperkuat oleh pernyataan yang disampaikan Ibu Hj, Titin sebagai berikut:
“Jenis kasus kekerasan anak yang mendominasi sendiri seperti kasus pelecehan seksual pada anak, pemerkosaan, dll itu data di tahun 2019 sama 2020”.(Ibu Hj. Titin, 30 Maret 2021).
Sama halnya seperti yang disampaikan oleh ibu Hj.
Ranilsah sebagai berikut:
“Untuk jenis kasusnya dari data KPAD tuh menunjukan beberapa kasus yang terjadi seperti kasus pelecehan seksual, kekerasan
65
fisik, penelantaran anak, sampai pemerkosaan”.(Ibu Hj. Ranilsah, 30 Maret 2021).
Seperti halnya salah satu kasus yang di dapat peneliti melalui informan orangtua dari anak korban kekerasan anak menyampaikan sebagai berikut:
“Iya, jadi dari pengakuan anak saya P. Dia ngomong ke saya kalo dia tuh dipegang-pegang bagian tertentunya mas”.(Ibu S, 8 April 2021).
Gambar 4. 1 Body Mapping
66
Hal yang serupapun disampaikan oleh Pak D sebagai berikut:
”Jadi anak saya A sering dipukul, dicubit tuh biasanya kalo saya diluar. Cerita dari anak saya”.(Pak D, 5 April 2021).
Gambar 4. 2 Body Mapping
Beragamnya jenis kasus kekerasan yang terjadi di Kabupaten Bekasi menunjukan bahwa anak masih seringkali menjadi korban dari perlakuan tindakan kekerasan yang dilakukan orang dewasa maupun teman sebaya. Jenis kasus kekerasan terhadap anak seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual yang telah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa kekerasan bisa terjadi kepada siapapun. Hal ini sama seperti pelaku
67
tindakan kekerasan, yang bisa dilakukan oleh siapapun baik dari orang-orang terdekat maupun orang luar.
Kekerasan terhadap anak didorong oleh beberapa faktor yang menjadi penyebab utama dalam timbulnya suatu tindakan kekerasan yang ditujukan kepada seseorang tertentu untuk bertujuan melukai korban dengan sengaja. Dalam hal ini faktor-faktor yang menjadi penyebab utama kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Bekasi sebagai berikut:
“Faktor utama penyebab kekerasan anak salah satunya anak melakukan kenakalan sehingga menyebabkan kekerasan fisik. Selain itu banyak yang disebabkan oleh orang-orang terdekat dalam melakukan kekerasan seperti halnya kasus pelecehan seksual”.(Ibu Hj. Titin, 30 Maret 2021).
Hal yang samapun disampaikan oleh Ibu Hj.
Ranilsah sebagai berikut:
“Kekerasan anak selain faktor ekonomi banyak juga disebabkan faktor pola asuh yang salah dari orangtua, seperti halnya orangtua mungkin lepas kontrol disaat membantu anaknya dalam proses belajar di rumah, namun anak yang tidak bisa menangkap apa yang diberikan orangtua, sehingga menyebabkan orangtua lepas kontrol yang menyebabkan kekerasan pada anak. dalam hal ini untuk melihat tindakan itu termasuk ke dalam bentuk kekerasan atau bukan maka perlu adanya pembuktian dengan melakukan
68
visum, jadi tujuan visum ialah tidak semata-mata saat melihat orangtua memukul menimbulkan kekerasan, bisa saja dia memukul pada bagian-bagian yang tidak membahayakan. Serta menurut saya kekerasan terhadap anak di Kabupaten Bekasi sendiri sangat variatif dari psikis, fisik, seksual dll semuahnya ada di Kabupaten Bekasi”. (Ibu Hj.
Ranilsah, 30 Maret 2021).
Sama seperti salah satu kasus yang di dapat peneliti melalui wawancara terhadap informan orangtua dari anak korban kekerasan anak menyampaikan sebagai berikut:
“Jadi dia tuh sering nonton film-film dewasa, itu pengakuan J ”.(Ibu S, 8 April 2021)
Hal yang samapun disampaikan Pak D sebagai berikut:
“Saya tanyain istri saya N tuh ya katanya si karna dia susah diatur sama nakal”.
(Pak D, 5 April 2021).
Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa kekerasan anak bisa terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadi penyebab kekerasan terjadi. Seperti halnya kenakalan yang dilakukan anak, orangtua yang tidak bisa mengontrol emosi, pelaku kekerasan anak yang dilakukan oleh orang-orang terdekat dan pola asuh yang salah juga bisa menjadi penyebab terjadinya kekerasan anak.
69
Selain itu kekerasan yang terjadi pada anak bisa menyebabkan dampak-dampak tertentu yang dialami pada diri anak. Seperti trauma, kehilangan nyawa, cacat pada bagian tubuh dll. Seperti halnya yang disampaikan oleh Pak Iwan sebagai berikut:
“Dampak yang didapat pada anak biasanya trauma, tidak mau bergaul dan mngurung diri.
Salah satu contohnya anak korban kekerasan seksual, anak akan mengalami ketakutan luar biasa ketika bertemu atau melihat laki-laki dikarnakan memiliki trauma pada laki-laki”.(Pak Iwan, 30 Maret 2021).
Sama halnya dengan salah satu kasus yang di dapat peneliti melalui wawancara terhadap informan orangtua dari anak korban kekerasan anak menyampaikan sebagai berikut:
“Anak saya P jadi trauma setelah kejadian itu.
Sering nangis juga semenjak kejadian itu”.(Ibu S, 8 April 2021).
Hal ini pun sama seperti yang disampaikan Pak D sebagai berikut:
“Pasti pertama trauma terus ya bekas luka di badan anak saya A”.(Pak D, 5 April 2021).
Dapat disimpulkan bahwa anak korban dari tindakan kekerasan akan mengalami trauma baik tingkat ringan maupun berat. Selain itu dampak yang di dapatkan dari tindakan kekerasan, korban bisa
70
mengalami cacat pada bagian tubuh maupun sampai hal yang terburuk bisa menjadi kematian.
Pelaku bagi tindakan kekerasan terhadap anak memiliki hukum yang mengatur untuk mencerat para pelaku tindakan kekerasan. Hal inipun disampaikan oleh Pak Iwan sebagai berikut:
“ Ya untuk pasal yang mengatur terkait pelaku tindakan kekerasan terterang pada pasal 76C UU 35/2014 kalo untuk pelaku penganiayaan ditentukan pada pasal 80 UU 35/2014 yang mengatur hukuman bagi para pelaku kejahatan kekerasan pada anak”. (Pak Iwan, 30 Maret 2021).
Seperti halnya yang terjadi pada pelaku kekerasan dari informan yang di dapatkan melalui wawancara menyapaikan sebagai berikut:
“Kalo pelaku J udah di hukum penjara mas 15 tahun”.(Ibu S, 8 April 2021).
Sedangkan untuk penyelesaian akhir dari kasus yang satunya sama berakhir dengan hukuman penjara namun berbeda durasi kurungan. Seperti yang disampaikan sebagai berikut dalam wawancara:
“Mantan istri saya N tuh di hukum 3 tahun 6 bulan, kecewa tapi ya mau bagaimana”.(Pak D, 5 April 2021).
71
C. Pelayanan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bekasi
Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memiliki tugas salah satu tugasnya melakukan penanganan kasus tindakan kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kabupaten Bekasi, oleh karena itu dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memiliki dua metode penerimaan laporan yang ditujukan terkait kasus kekerasan anak.
seperti halnya yang disampaikan Ibu Hj. Titin sebagai berikut:
“Tahapan dalam penerimaan kasus kekerasan terhadap anak di dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sendri terdiri dari dua metode penerimaan yaitu jika secara langsung kepada dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak maka layanan dari atas ke bawah dengan berkordinasi dengan pihak P2TP2A yang di Kecamatan terkait yang menjadi lokasi kejadian atau tempat tinggal korban.
Sedangkan jika pengaduan dilakukan dari bawah maka dari pihak PPA Desa terlebih dahulu ke pihak P2TP2A Kecamatan, jika pihak P2TP2A Kecamatan tidak mampu menangani maka dirujuk ke dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. sedangkan jika bisa diselesaikan ditingkat Desa maka tidak harus sampai ke tingkat Kecamata”.(Ibu Hj. Titin, 30 Maret 2021).
72
Sama halnya dengan pernyataan yang disampaikan Ibu Hj. Ranilsah sebagai berikut:
“tahapan penerimaan kami pertama bisa melakukan laporan ke TESA(telepon sahabat anak) dengan melakukan laporan melalui TESA maka laporan akan kami identifikasi permasalahannya seperti apa. sedangkan untuk cara lainya bisa melakukan laporan melalui pihak PPA Desa maupun P2TP2A Kecamatan”.(Ibu Hj. Ranilsah, 30 Maret 2021).
Selain itu dalam melakukan tahapan penanganan terkait kasus kekerasan terhadap anak Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memiliki alur dalam setiap penanganan yang dilakukan serta bekerja sama dengan lembaga-lemabaga terkait yang telah menjalin kerja sama dalam menangani kekerasan anak di Kabupaten Bekasi.
Seperti pernyataan yang disampaikan oleh Pak Iwan sebagai berikut:
“Dalam proses penanganan kasus kekerasan terhadap anak sendiri dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak tidak hanya bergerak sendiri namun berkerjasama dengan PPA yang ada di Desa dan P2TP2A yang ada di tingkat Kecamatan. Dengan kata lain Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak berkordinasi dengan pihak-pihak lain dalam setiap penanganan. Salah satunya jika terjadi kasus kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan trauma pada diri anak, maka
73
pihak dinas akan berkordinasi dengan psikolog, sama halnya dengan anak yang berhadapan dengan hukum maka mendapatkan advokasi hukum, dan anak yang mendapatkan luka ditubuh yang diakibatkan kekerasan fisik akan mendapatkan penanganan, dengan kata lain mendapatkan rujukan untuk divisum di rumah sakit daerah”.(Pak Iwan, 30 Maret 2021).
Hal inipun sama dengan temuan data peneliti yang dilakukan melalui wawancara kepada informan orangtua dari anak yang mengalami tindakan kekerasan. Hasil dalam wawancara sebagai berikut :
“Ya selama anak saya P dapet pendampingan dari orang pemda saya terbantu, anak saya P dibantu kaya perawatan ke rumah sakit terus anak saya juga dapet penanganan dari psikolog sama saya juga dapet pendampingan hukum mas buat bantu saya karna ya saya kurang paham jadi saya minta tolong sekalian sama orang pemda”.(Ibu S, 8 April 2021).
Hal yang samapun disampaikan sebagai berikut:
“Selama saya didampingi anak saya A dapat perawat kaya dari rumah sakit gitu buat ngilangin kaya bekas cubitan gitu yang memar”.(Pak D, 5 April 2021).
Pelayanan yang diberikan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan korban. Dengan memberikan bantuan baik itu psikolog, perawatan, hukum, maupun pendampingan. Proses penanganan
74
diberikan bertujuan untuk membantu dalam mengembalikan kondisi anak korban tindakan kekerasan agar bisa kembali membaik. Seperti hasil wawancara kepada para orangtua sebagai berikut:
“Alhamdulillah anak saya P yang tadinya nangis terus sekarang jadi makin lebih baik karna ya dibantu kaya dari psikolog buat ngilangin trauma anak saya. Terus saya pribadi juga sangat berterima kasih udah di dampingi dari awal sampe akhir”.(Ibu S, 8 April 2021).
Sama halnya dengan pernyataan sebagai berikut:
“Yang pasti anak saya A makin hari ke hari semakin membaiklah”.(Pak D, 5 April 2021).
75
BAB V PEMBAHASAN
Pada bab V ini peneliti akan membahas hasil penelitian yang telah dilakukan di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kabupaten Bekasi. Temuan data hasil penelitian yang dilakukan akan dikaitkan dengan teori pada bab II, pengumpulan data yang telah dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, peneliti memproleh data serta informasi dalam kaitannya dengan “Peran Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dalam Melakukan Penanganan Kasus Kekerasan Anak di Kabupaten Bekasi. Temuan tersebut kemudian di analisis sesuai dengan teori yang ada pada bab II sabagai berikut:
A. Hasil Analisa Peran Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dalam Melakukan Penanganan Kasus Kekerasan Anak di Kabupaten Bekasi
Peran merupakan aspek dinamis kedudukan, seseorang disebut berperan jika sudah menjalankan hak dan kewajibannya. Dalam artian peran merupakan sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan individu maupun kelompok berdasarkan
76
kedudukannya di dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat Soerjono Soekanto yang mendefinisikan aspek dinamis kedudukan (status) yang dimiliki seseorang apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peran (BAB II, hal 24). Dengan demikian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabuapten Bekasi memiliki peran normatif, dalam artian memiliki kaitan yang erat dalam menjalankan peran, tugas, fungsi serta kewajibannya di dalam masyarakat.
Sedangkan advokasi merupakan suatu tindakan yang memiliki tujuan untuk membantu seseorang yang membutuhkan pelayanan. Hal ini sejalan dengan Edi yang menyatakan bahwa istilah advokasi lekat dengan pembelaan (BAB II, hal 40).
Hal tersebut sejalan dengan temuan yang telah peneliti paparkan pada BAB IV, dapat disimpulkan bahwa Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bekasi telah menjalakan perannya sebagaimana semestinya seperti halnya dalam memberikan sosialiasi, advokasi, pendampingan, penanganan dan membentuk lembaga-lembaga terkait guna untuk membantu dalam menjalankan peranannya di masyarakat seperti
77
P2TP2A, PPA, UPTD PPA, dan (TESA) layanan telepon sahabat anak (BAB IV, hal 62).
Dengan demikian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bekasi memiliki strukutur fungsional yang harus dipertahankan guna untuk mempertahankan kedudukannya di dalam masyarakat dalam hal memberikan penanganan terkait kasus kekerasan anak yang ada di Kabupaten Bekasi. Maka dari itu Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memiliki tugas seperti halnya dalam melakukan advokasi kasus yang memiliki tujuan untuk memberikan bantuan atau pelayanan kepada yang menjadi sumber haknya, memberikan penanganan terhadap anak korban tindakan kekerasan, sebagai fasilitator bagi anak yang membutuhkan perawatan medis, bantuan hukum, rumah aman, maupun penanganan psikolog.
78
B. Kasus Kekerasan Anak
Kasus kekerasan anak yang terjadi sepanjang tahun 2018 sampai 2020.
Tabel 5. 1 Pembahasan TAHUN JENIS KASUS
TERBANYAK
JUMLAH KASUS 2018 Pelecehan seksual,
Pemerkosaan, Perebutan Hak Asuh.
64
Kekerasan merupakan suatu tindakan yang ditujukan kepada seseorang baik dilakukan secara disengaja maupun tidak disengaja dengan memiliki tujuan untuk melukai atau mencederai korban.
Tindakan kekerasan biasanya berupa serangan secara fisik, verbal maupun perusakan. Hal ini sejalan dengan teori Barker (BAB II, hal 31) mendefisinikan kekerasan sebagai perilaku tidak layak yang mengakibatkan kerugian atau bahaya secara fisik maupun psikis, baik yang dialami individu maupun kelompok.
79
Kekerasan sendiri memiliki beragam jenis kekerasan seperti halnya kekerasan fisik dan seksual.
Kedua kekerasan ini bisa menyebabkan luka pada diri anak yang menjadi korban dari tindakan tersebut.
Menurut Bonner (BAB II, hal 33) kekerasan fisik diartikan sebagai perlakuan dari orangtua termasuk disiplin yang berlebihan. Pemukulan, dan bentuk
Menurut Bonner (BAB II, hal 33) kekerasan fisik diartikan sebagai perlakuan dari orangtua termasuk disiplin yang berlebihan. Pemukulan, dan bentuk