D
ampak dari konflik SDA yang terjadi di Papua, seperti Pemberian izin HGU kepada perusahaan dan investor yang tidak disertai konsultasi dan persetujuan masyarakat adat menimbulkan konflik SDA yang melibatkan bersenjata dan perintah operasi militer untuk mencari kelompok TPN-PB/OPM yang berjuang untuk Papua. Kondisi ini menyebabkan warga memutuskan untuk mengungsi, dan membuat masyarakat sangat ketakutan. Demikian pula diskriminasi rasial berlangsung terhadap orang Papua semakin menguatkan kekerasan di tanah Papua. Berikut perkembangan kekerasan terhadap perempuan dalam konteks Papua dan upaya-upaya untuk meminimalisir kekerasan terhadap perempuan di Papua:Situasi Pemenuhan Hak Perempuan Korban Konflik Nduga Papua
Pada 26-29 Maret 2019 Komnas Perempuan melakukan pemantauan ke Wamena, Papua, tempat sebagian pengungsi dari Nduga mengungsi dan terorganisir. Kondisi pengungsi sangat memprihatinkan, mereka menempati rumah yang menampung 30 orang dalam 1 (satu) satu rumah. Sementara bantuan bagi pengungsi Nduga sangat terbatas, baik yang mengungsi di Wamena maupun yang tinggal di hutan termasuk perempuannya. Dalam pantauan tersebut Komnas Perempuan menemui Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, organisasi masyarakat dan pengungsi. Saat kunjungan, Pemda Kabupaten Jayapura melakukan langkah lebih lanjut untuk penanganan pengungsi termasuk berkoordinasi dengan Pemda Nduga, dan menyetujui pendirian sekolah darurat yang dikelola oleh relawan. Bulan Juli 2019, data yang diperolah Komnas Perempuan, mencatat 8 (delapan) perempuan pengungsi meninggal, baik yang berada di hutan maupun di pengungsian akibat kelaparan, kedinginan dan melahirkan karena ketiadaan penanganan yang memadai, serta 2 (dua) bayi perempuan yang meninggal saat lahir.
Komnas Perempuan berpandangan bahwa konflik Nduga dan sejumlah konflik lain di Papua (termasuk konflik di sejumlah kota di Papua sepanjang Agustus 2019) serta persoalan pengungsi yang terus berlangsung menunjukkan keberulangan dan ketidaksiapan pemerintah menjalankan peran perlindungan dan pemenuhan hak warganya dalam situasi konflik maupun pasca konflik. Kondisi ini akan semakin buruk bahkan terus berulang jika tidak segera dilakukan perbaikan pada alat-alat kelengkapannya, mulai aparat dari negara hingga mekanisme kerjanya.
Menindaklanjuti temuan-temuan tersebut, Komnas Perempuan pada Juli dan Oktober 2019 bersama perwakilan masyarakat sipil di Papua menyampaikann kepada sejumlah Kementerian/ Lembaga terkait melalui Kementerian Koordinasi PMK tentang kondisi dan respon segera yang dibutuhkan oleh pengungsi. Pemerintah berjanji akan melakukan sejumlah langkah untuk penanganan pengungsi, yakni Pemerintah Nduga, Pemerintah Jayawijaya, Pemerintah Papua, serta Menko PMK akan berkoordinasi dengan K/L yang ada di bawahnya. Sementara itu, Kementerian Desa menyampaikan dukungan pembangunan Nduga lewat penggunaan Dana Desa dan pemberdayaan masyarakat.
77
KOMNAS PEREMPUAN
Catatan tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2019 KOMNAS PEREMPUANKOMNAS PEREMPUANKOMNAS PEREMPUAN
77 77 77
Kerusuhan dan Kriminalisasi Akibat Penghinaan Rasial terhadap Orang Papua
Mulai pertengahan Agustus 2019 hingga akhir September 2019 rentetan kerusuhan pecah di Tanah Papua. Kerusuhan pertama kali terjadi di Manokwari, Papua Barat, pada 19 Agustus 2019. Semua berawal dari aksi protes terhadap dugaan persekusi dan rasisme yang dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) dan oknum aparat terhadap mahasiswa Papua di Malang, Surabaya dan Semarang. Demo warga yang semula damai berubah anarkis. Kerusuhan berikutnya pecah di kota-kota lain seperti Sorong, Fakfak, Timika, Deiyai dan Jayapura. Pada September, kerusuhan kembali terjadi di Jayapura dan Wamena. Pemicu kerusuhan berulang di Papua adalah kasus rasial dan hoaks yang memicu protes luas di sana. Kerusuhan tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa, korban luka-luka, dan eksodus pengungsian. Ratusan mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di berbagai daerah di luar Papua memilih pulang kampung akibat mengalami diskriminasi.
Selain kerusuhan, tindakan diskriminatif seperti penolakan kehadiran mahasiswa Papua di sejumlah daerah, penghinaan rasial juga mengakibatkan kriminalisasi perempuan pembela HAM Papua. Kasus penyerangan dan penghinaan rasis terhadap mahasiswa Papua di asrama mahasiswa di Surabaya, Jawa Timur, diadukan ke Komnas Perempuan oleh Koalisi Pembela Aktivis HAM Papua. Berdasarkan pengaduan kasus tersebut, Sidang Komisi Paripurna Komnas Perempuan bulan September 2019, memandang penting untuk melakukan pemantauan ke lapangan karena menduga telah terjadi pelanggaran HAM berupa pengabaian hak mahasiswa Papua dan perempuan pembela HAM Papua tentang kebebasan berekpresi dan kebebasan berpendapat yang harus dijamin dan dilindungi oleh negara.
Rumah Bersama Advokasi Papua
Federasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengadakan diskusi publik untuk merespon situasi Papua yang mengarah semakin tidak baik dan tanpa kepastian penegakan hukum atas berbagai kasus kejahatan HAM dan kekerasan yang terus- menerus terjadi di Papua. Peristiwa rasisme, protes orang Papua dan respon balik dari Pemerintah Indonesia adalah sejumlah masalah yang dihadapi oleh Papua. Oleh karena itu, Federasi Kontras mengundang Komnas Perempuan, Komnas HAM serta lembaga negara lain termasuk Kantor Staf Presiden untuk memikirkan secara bersama-sama tentang langkah dan rumusan strategis persoalan konflik di Papua.
Dalam diskusi tersebut, ada usulan bersama membangun “Rumah Bersama Advokasi Papua”. Rumah bersama ini merupakan upaya membangun koalisi yang terdiri dari korban, pendamping korban, Lembaga Negara Hak Asasi Manusia serta Pemerintah termasuk aparat. Tujuan dari Rumah Bersama Papua menjadi: a) ruang konsolidasi pendataan tentang kondisi dan situasi terkini di Papua; b) ruang konsolidasi untuk menentukan strategi pendekatan keamanan dan perlindungan; c) ruang konsolidasi dalam menentukan langkah advokasi; d) ruang dialog antara masyarakat sipil, korban dan pendamping korban dengan pemerintah termasuk aparat; d) ruang untuk membangun jaringan pemantauan di Papua. Komnas Perempuan menjadi lembaga yang memimpin dalam melakukan konsolidasi dengan Lembaga Negara Hak Asasi Manusia lainnya. Melalui pembagian peran ini, gagasan strategi Koalisi Rumah Bersama Advokasi Papua mungkin untuk dilakukan. Rumah Bersama Advokasi Papua ini mirip dengan gagasan strategi pembentukan Forum Pengada Layanan melalui Forum Belajar yang dilakukan
78
Komnas Perempuan. Perbedaannya, Rumah Bersama Papua lebih luas dan bertujuan advokasi serta mengurangi eskalasi kekerasan di Papua dan Papua Barat yang mengorbankan masyarakat sipil maupun aparat, termasuk perempuan dan anak-anak.
79
KOMNAS PEREMPUAN
Catatan tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2019 KOMNAS PEREMPUANKOMNAS PEREMPUANKOMNAS PEREMPUAN