K
omnas Perempuan mulai memantau dan mencatat kekerasan terhadap perempuan berbasis siber dalam CATAHU 2016. Seiring perkembangan teknologi dan informasi, kekerasan terhadap perempuan terjadi pada lintas ruang dan berlapis. Di Indonesia, kebijakan yang ada tentang kejahatan siber adalah UU ITE, yang lebih banyak mengatur kejahatan yang bersifat materi seperti transaksi elektronik dan dapat berakibat korban dikriminalisasi dengan tuduhan penyebaran informasi bohong, pornografi atau pencemaran nama baik. Sampai saat ini, belum ada kebijakan yang secara khusus mendefinisikan dan menemu-kenali bentuk-bentuk kejahatan siber yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan.Berikut kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan berbasis siber yang diadukan ke Komnas Perempuan:
Anak Korban KDRT dan TPPO Dijerat UU Pornografi
Agustus 2019, beredar video beberapa orang terlibat dalam aktivitas hubungan seksual dengan seorang perempuan bernama PA secara berturut-turut atau pada masa yang sama. Dalam video tersebut, seorang perempuan dan tiga orang laki-laki yang kemudian diketahui salah satunya bernama Asep Kusmawan, suami perempuan tersebut. Sedangkan dua lainnya pengguna jasa layanan seksual yang memberikan bayaran kepada Asep. Untuk menjalankan bisnisnya ini, Asep merekam seluruh hubungan seksualnya dengan PA atau PA dengan laki-laki lain untuk kemudian ditayangkan di twitter dan media
sosial lainnya. Asep kemudian menawarkan jasa layanan seksual dengan menetapkan sejumlah tarif. Asep menikahi PA secara siri saat PA berumur 16 tahun, dan ia sendiri berusia 28 tahun dan telah menikah beberapa kali. Bagi PA hubungan seksual yang direkam bukanlah sesuatu yang baru. Sejak malam pertama, Asep merekam hubungan seksual dengan PA dengan alasan untuk koleksi pribadi. PA juga tidak kuasa menolak keinginan Asep untuk berhubungan seksual setiap hari bahkan saat PA sedang menstruasi. Asep sering menonton video porno dan mempraktikkannya kepada PA dan meminta berbagai variasi seks dengan gaya dan posisi berbeda-beda serta menggunakan alat-alat seperti sisir, deodorant dan boneka silikon. Alasannya, agar rumah tangga tidak bosan dan harmonis. Bila PA menolak, Asep tidak segan mengancam dan bertindak kasar.
Selanjutnya, Asep mulai memaksa PA untuk melakukan hubungan seksual dengan beberapa laki-laki lain dengan alasan untuk mendapatkan sensasi. Asep mengatur pertemuan, perekaman, dan seluruh adegan. Asep memegang kamera dan meminta PA untuk melihat ke arah kamera/ke dirinya untuk membayangkan sedang menikmati hubungan seksual dengan suaminya. Seusainya, Asep menerima sejumlah uang dan memberikan uang tersebut kepada PA. Dalam berbagai kesempatan Asep menyebut uang pemberiannya itu sebagai nafkah.
Saat ini, kasus sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Garut. PA didakwa dengan pasal 4 dan 8 UU RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi yakni memproduksi dan menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi. Sementara Asep meninggal dunia saat proses hukum berlangsung.
63
KOMNAS PEREMPUAN
Catatan tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2019 KOMNAS PEREMPUANKOMNAS PEREMPUANKOMNAS PEREMPUAN
63 63 63
Menanggapi kasus ini, sejak awal Komnas Perempuan mengajak APH untuk memperhatikan posisi rentan PA sebagai anak korban TPPO dan KDRT, serta latar belakang perempuan, situasi dan kondisi perkawinan, relasi kuasa dalam perkawinan yang mengakibatkan PA tidak berdaya, dan riwayat kekerasan dari suaminya.Ancaman Ketubuhan Perempuan dalam Kasus Pinjaman Daring
S, Z, dan H bersama sekitar 10 perempuan lainnya adalah korban kasus pinjaman daring (online).
Awalnya, korban mendapat pesan singkat berisi tawaran pinjaman daring. Korban pun menerima tawaran itu karena terdesak dan butuh uang, dan langsung mengisi data secara daring. Para korban mengajukan pinjaman namun yang dipinjamkan oleh pelaku (perusahaan kreditur pinjaman daring) lebih kecil dari pengajuan. Korban juga diberi tempo 7 hari dari tanggal pengajuan pinjaman untuk segera melakukan pelunasan beserta bunganya. Tempo waktu yang ditentukan terlalu cepat, dan tagihan beserta bunga pinjaman yang telah ditetapkan terus bertambah. Akibatnya, korban semakin kesulitan membayar, dan pelaku melakukan upaya intimidasi serta ancaman kepada korban. Ancaman tersebut berupa pesan digital yang menyatakan korban akan dibunuh dan berisi kalimat “untuk bayar tagihan, kamu jual diri aja”. Selain itu, pelaku juga mengirimkan foto alat kelamin laki-laki sebagai bentuk
intimidasi kepada korban. Ancaman tersebut disampaikan melalui WA, Facebook dan SMS.
Pelaku menyasar korban perempuan dengan ancaman akan membunuh anak-anaknya. Banyak korban akhirnya takut membiarkan anaknya ke sekolah. Ancaman tersebut juga mengakibatkan korban kehilangan pekerjaan, seperti Z yang harus menutup sekolah TK miliknya karena pelaku mengancam dan memberitahu orang tua murid bahwa korban terlibat utang. Selain itu, diketahu beberapa korban melakukan upaya bunuh diri karena malu dan putus asa. Ada juga korban yang akhirnya bercerai dengan pasangannya dan dijauhi oleh lingkungannya, karena pelaku meneror orang-orang di sekitar korban. Juga banyak korban di PHK oleh tempat kerjanya karena ketahuan terlibat dalam pinjaman darimg. Peminjam laki-laki juga diancam dengan kalimat: “jika kamu tidak bisa bayar, suruh saja istrimu tidur dengan saya, biar tagihannya lunas”. Pelaku diketahui memiliki lebih dari 5 jenis aplikasi untuk
memproses pinjaman daring, terakhir tercatat ada 27 nama aplikasi. Dari keseluruhan korban, sebagian besar adalah perempuan dan ancamannya mengacu pada seksualitas perempuan yaitu disuruh menjual diri.
Pelecehan Seksual oleh Mantan Suami Melalui Akun Youtube
Pada Juni 2019, mulai viral di media sosial sebuah akun youtube yang menayangkan Galih Ginanjar,
seorang pesohor yang menyerang dan menghina seksualitas mantan istrinya FA, sesama pesohor. Galih Ginanjar juga menyudutkan FA dengan pernyataan, bahwa FA adalah perempuan yang sering berganti-ganti pasangan bahkan saat masih terikat perkawinan dengannya.
Ketika kasus ini menjadi perhatian publik, pernyataan Galih Ginanjar menuai kecaman dari banyak pihak karena dianggap mengusik nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap perempuan/istri dalam masyarakat. Sayangnya, banyak media massa menayangkan kembali ucapan-ucapan mantan suami, juga klarifikasi dari mantan suami dan berbagai pihak terkait yang justru memojokkan dan mempermalukan korban. Akibatnya, korban mengalami depresi mendalam dan rasa takut terutama
64
terhadap tumbuh kembang F (usia 7 tahun) anak dari hasil perkawinan Galih Ginanjar dan FA. Pasca keduanya bercerai tahun 2014, FA menjalankan hak asuh atas F tanpa dukungan yang konsisten dari Galih Ginanjar. Atas kekerasan yang dialaminya ini, korban FA telah melaporkan mantan suami Galih Ginanjar dan pemilik akun Youtube kepada Kepolisian Daerah Metro Jaya No. LP/3914/VII/2019/ PMJ/Dit. Reskrimsus tanggal 1 Juli 2019.
65
KOMNAS PEREMPUAN
Catatan tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2019 KOMNAS PEREMPUANKOMNAS PEREMPUANKOMNAS PEREMPUAN