• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekeringan pada Lahan Pertanian

DAYA AIR

1. Kekeringan pada Lahan Pertanian

Lima tahun sejak kehadiran perusahaan atau tepatnya sejak tahun 1999 masyarakat sekitar mulai merasakan kekeringan atau berkurangnya ketersediaan air terutama pada musim kemarau untuk pengairan maupun untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini berlangsung sampai sekarang, bahkan lebih parah, saat ini kekurangan air tidak hanya dirasakan pada musim kemarau tapi juga pada musim hujan.

Ketiadaan air untuk pengairan dijumpai di Kampung Papisangan Lio, Tongoh dan Wetan, serta Kampung Kuta. Sawah–sawah berubah fungsi menjadi kebun-kebun singkong dan menjadi padang alang-alang. Di kampung Papisangan Lio, tidak ada lagi sawah-sawah untuk menghasilkan padi, semuanya berubah menjadi tegalan, dan umumnya lahan-lahan tersebut merupakan milik perusahaan air minum dalam kemasan. Lahan milik masyarakat yang tersisa hanya tanah- tanah perumahan dan pemakaman yang berbatasan dengan tanah perusahaan. Masyarakat Papisangan Lio menggarap di lahan milik perusahaan, lahan-lahan ini dipagari, dan di beri pintu masuk terbuat dari besi yang sangat tebal.

Di Kampung Papisangan Tongoh dan Wetan, Desa Caringin masih memiliki sawah seluas 40 ha. Sawah-sawah ini pada musim kemarau tidak ditanami padi, dan dibiarkan begitu saja. Dulunya pengairan sawah ini berasal dari air nyusu dan dari kali Cigombong. Menurut masyarakat dulunya pada musim kemarau tanah-tanah sawah ini masih berair atau lembab karena banyak air yang muncul dari dalam tanah sedangkan sekarang kalau kemarau tanah sawah benar- benar gersang dan tidak bisa ditanami apapun. Masyarakat Papisangan merasakan perbedaan ini sejak kehadiran perusahaan, mereka beranggapan air-air yang ada di dalam tanah habis tersedot oleh perusahaan air minum dalam kemasan. PRA

(participatory rural appraisal) yang diadakan pada tahun 2007 memperlihat perubahan yang sangat mendasar pada luasan areal persawahan milik masyarakat dan tingkat ketersediaan air di Kampung Papisangan Lio, Wetan dan Tongoh.

Di Desa Babakan Pari kurangnya ketersediaan air untuk pengairan disebabkan karena berdirinya lokasi pabrik di lahan sawah yang memutus aliran air ke sawah-sawah lainnya. Di samping itu di Kampung Kuta sawah-sawah menjadi kering karena menghilangnya air resapan (air nyusu) di lahan-lahan sawah mereka. Sebelum kehadiran perusahaan terdapat 8 saluran air di Desa Babakan Pari. Saat ini hanya tersisa saluran air yang mengairi sawah-sawah di Kampung Sawah dan Kampung Duku, karena alirannya berasal dari sumber mata air lain (Citaman) yang terdapat di Desa Tangkil. Kurangnya ketersediaan air untuk pengairan juga terjadi di Kampung Kubang Jaya, Pojok karena sumber air untuk pertanian sudah dikuasai oleh perusahaan sehingga tidak ada lagi air yang

74

mengalir dari sumber tersebut ke sawah-sawah masyarakat yang berlokasi di sekitar sumber air tersebut.

2. Konversi Lahan

Di desa Babakan Pari, 50 hektar lebih sawah berubah fungsi menjadi lokasi pabrik, areal perumahan dan lahan konservasi. Lahan-lahan ini dulunya menurut masyarakat merupakan sawah-sawah yang subur dan sawah terbaik di kecamatan Cidahu dan Cicurug. Pada tahun 1970an di desa Babakan Pari terdapat 130 ha lahan sawah yang ditanami padi oleh petani. Saat ini lahan sawah hanya tersisa sebesar 52.200 ha. Alih fungsi lahan ini dipicu oleh kebutuhan perusahaan terhadap lahan-lahan masyarakat di desa sekitar sumber air yang dipergunakan untuk pabrik dan area konservasi/wilayah perlindungan kawasan mata air.

Namun di sisi lain, alih fungsi lahan ini didorong pula oleh faktor berkurangnya ketersediaan air untuk bercocok tanam. Lahan-lahan ini sebagian dijual oleh pemiliknya kepada pihak lain (perusahaan, pengusaha perumahan, lain-lain) dan sebagian ditanami singkong. Sementara itu sawah-sawah di sekitar lokasi sumber air yang dieksploitasi, seluas lebih kurang 10 ha dijadikan sebagai lahan konservasi/penghijauan oleh salah satu perusahaan dan ditanami dengan bambu, albasia dan tanaman kayu-kayuan lainnya.

Kekeringan dan meningkatnya kebutuhan kos-kosan di Desa Babakan Pari mendorong masyarakat untuk membangun rumah-rumah kontrakan yang disewakan kepada karyawan perusahaan AMDK dan perusahaan pabrik garmen. Selain itu tanah-tanah disekitar pabrik berubah pula menjadi pertokoan yang menyediakan kebutuhan karyawan perusahaan AMDK dan perusahaan garmen.

Kebijakan pemerintah tentang penanaman modal dalam negeri dan dilegitimasi dengan kebijakan tentang pengelolaan sumber daya air dan pemberian izin kepada perusahaan (swasta) untuk mengelola sumber daya air, telah menghilangkan hak kepemilikan masyarakat terhadap sumber daya air tersebut dan mengeklusi masyarakat dari tanah-tanah dan sumber daya air miliknya yang sebelumnya mereka manfaatkan dan usahakan baik sebagai petani maupun sebagai petani penggarap maupun sebagai masyarakat pengguna air untuk keperluan sehari-hari.

Kebutuhan perusahaan AMDK terhadap tanah dan sumber daya air di Sukabumi terus mengalami peningkatan karena terjadinya peningkatan permintaan dan peningkatan penjualan air minum dalam kemasan. Peningkatan kebutuhan ini menyebabkan perusahaan yang berorientasi keuntungan akan terus mencari sumber daya air yang untuk di eksploitasi dalam upaya memenuhi permintaan pasar tersebut. Di Kabupaten Sukabumi, berdasarkan Peraturan Daerah Perencanaan Tata Ruang dan Tata Wilayah, wilayah Kecamatan Cidahu, Cicurug dan Parung Kuda merupakan wilayah yang diperuntukkan untuk pengembangan industri yang berbasiskan air sebagai bahan baku produksinya. Walaupun sudah ada keputusan dari Bupati untuk membatasi pengambilan air tanah di Wilayah Cidahu dan Cicurug15 dan Undang-Undang yang melarang tentang alih fungsi lahan namun ketika wawancara dengan Dinas Tata Ruang Kabupaten Sukabumi, diketahui masih adanya kesempatan untuk membuka usaha

15

Wawancara dengan Ketua Forum Masyarakat Peduli Cidahu. Ketua Forum meyakini janji Bupati ke masyarakat untuk membatasi izin perusahaan yang akan mengusahakan air di wilayah Cidahu dan Cicurug.

75 air di Wilayah Cidahu, Cicurug dan Parung Kuda asalkan mendapatkan izin lingkungan dari masyarakat sekitar sebagai syarat pengajuan izin kepada Bupati.16

Kehadiran perusahaan AMDK ditengah-tengah masyarakat Cidahu dan Cicurug dengan kekuatan modal yang memberikan bantuan air dan pemberian CSR dianggap sebagai kebaikan hati perusahaan sehingga sebagian masyarakat (terutama yang berpendidikan rendah) menerima setiap perubahan dan kesulitan yang ditimbulkan dengan kehadiran perusahaan sebagai sesuatu yang alamiah dan mereka merasa sangat diuntungkan dengan keberadaan perusahaan AMDK di desa.

Dorongan untuk menjual tanah yang tinggi, ditambah dengan kekuatan yang dimiliki (modal dan lain-lain) oleh perusahaan mempercepat terjadinya pengalihan lahan dari lahan pertanian ke lahan industri, pabrik AMDK dan lain- lain. Tidak heran kenapa salah satu sebab terbesar menjual lahannya adalah karena dibutuhkan oleh perusahaan AMDK seperti digambarkan pada tabel di bawah:

Tabel 27. Alasan masyarakat menjual tanah

No Alasan menjual tanah Jumlah (%)

1 Kebutuhan Ekonomi 30.30

2 Biaya sekolah anak 3.030

3 Diiming-imingi harga tinggi 27.27

4 Diperlukan perusahaan 9.090

5 Ikut-ikutan 6.060

6 Untuk naik haji 24.24

Jumlah 100

Sumber : data lapangan (2013)

Dokumen terkait